Profil IT Executive Rachmat Gunawan: Strategi Serangan Balik ala CTI Group

Rachmat Gunawan: Strategi Serangan Balik ala CTI Group

Rachmat Gunawan CTI Group

Rachmat Gunawan (Director, ICT Group). [foto: InfoKomputer]

Di antara perusahaan-perusahaan TI lokal, CTI Group tergolong salah satu yang berusia paling muda. Berdiri sejak 2003, CTI sejak awal memang berfokus pada enterprise market. Padahal, pada saat itu lebih banyak pemain yang bergerak di produk-produk retail seperti PC dan ponsel. “Kami memosisikan diri sebagai IT infrastructure solution partner,” ujar Rachmat Gunawan (Director, CTI Group).

Bukan hal mudah memulai bisnis IT enterprise pada masa-masa itu karena ekonomi Indonesia masih terkena imbas krisis moneter. Tapi, Rachmat meyakini potensi besar yang dimiliki Indonesia dengan besarnya populasi dan pertumbuhan kelas menengah.

Pada tahun 2013, CTI Group menangani sedikitnya 22 brand. Itu terbagi ke dalam enam anak usaha, yaitu Blue Power Technology yang fokus ke produk-produk IBM; Central Data Technology berfokus ke Oracle; Virtus yang lebih “gado-gado” dengan mengageni antara lain EMC, VMware, Google, dan Huawei; XDC yang bergerak di retail Lenovo, Brother, dan Eaton; Niaga Prima Paramitra yang bergerak di mobile apps dan analytical; serta Xsis Mitra Utama dengan keahlian di bidang IT outsourcing.

“Keputusan untuk memecah bisnis menjadi enam perusahaan itu merupakan keputusan terpenting dalam sejarah CTI. Tujuannya agar lebih fokus sesuai dengan jumlah principal yang semakin bertambah,” kata Rachmat.

Pertumbuhan positif yang dialami CTI tidak hanya dari segi jumlah brand yang dipegang. Dari sisi sumber daya manusia, pada tahun 2013,  mereka mempunyai 400-an karyawan, bertambah pesat dari hanya 26 orang pada 2003. Dari sisi pendapatan pun, CTI telah memperoleh peningkatan hingga 16 kali lipat sejak awal berdirinya.

Lalu, apa saja kendala yang ditemui Rachmat selama menakhodai CTI? “Berbisnis enterprise tidak bisa sembarangan. Kita harus membangun kompetensi teknis karena pelanggan menginginkan proof of concept. Itu butuh technical skill yang menunjang,” papar Rachmat.

Oleh karena itu, CTI selalu berusaha memimpin dalam pemahaman dan kompetensi terhadap teknologi baru yang dirilis principal. Di samping itu, mereka mewajibkan para karyawan untuk mengambil sertifikasi internasional, apa pun posisinya, mulai dari engineer sampai sales. Tujuannya agar mereka dapat merumuskan solusi yang tepat terhadap setiap mitra bisnis alias menjamin service excellence.

Demi memberikan layanan terbaik bagi pelanggan pula, CTI berinvestasi lebih dari US$2 – 3 juta untuk menyediakan CTI Technology Center di kantor pusat mereka. Di sini, terdapat unit demo dari produk-produk yang mereka distribusikan. Engineer pun dapat melakukan simulasi masalah yang dihadapi pelanggan di tempat ini. “Ini salah satu competitive advantage kami yang tidak dipunyai perusahaan lain,” tukasnya.

Kendala lainnya yakni sulitnya memperoleh sumber daya manusia yang benar-benar mengerti dan bisa belajar dengan cepat untuk solusi enterprise. “Padahal universitas begitu banyak, tapi kok nggak ada yang siap?” keluh Rachmat.

Itulah sebabnya CTI membuka CTI Education untuk menjembatani skill antara fresh graduate dan kebutuhan yang ada di pasar enterprise. Wujudnya berupa pelatihan bersertifikasi internasional dan ditujukan untuk siapa saja, baik fresh graduate maupun staf TI yang ingin menambah keahliannya. “Kami pun sedang menawarkan program ini kepada universitas,” tambahnya.

Menanggapi persaingan yang kian sulit di tengah invasi perusahaan asing, CTI Group mengambil langkah yang terbilang berani, yaitu go regional.

Rachmat yakin bahwa CTI Group telah memiliki pondasi yang kuat di Indonesia dan siap untuk melakukan serangan balik dengan melebarkan sayap ke Asia Tenggara mulai tahun 2013. Keyakinannya bertambah kuat karena CTI pernah memperoleh penghargaan level regional dari beberapa principal. “Pasar kita diserang asing, kenapa kita nggak menyerang ke luar juga?” tukasnya.

Comments

comments

NO COMMENTS

Leave a Reply