Arsip Harian: Apr 6, 2015

Lei Jun: Bos Xiaomi yang Siap Melebihi Steve Jobs

Lei Jun (CEO Xiaomi) saat memperkenalkan Mi3. Perhatikan penampilan dan cara memegang smartphone yang mirip Steve Jobs
Lei Jun (CEO Xiaomi) saat memperkenalkan Mi3 (Foto: www.technologijos.lt)

Ia berdiri di depan panggung sambil menunjukkan smartphone terbaru. Penampilannya terlihat khas: kaos hitam, celana jins, dan sepatu kets. Ia mengklaim smartphone yang ia pegang akan mengguncang dunia; dan itulah yang biasanya terjadi.

Jika gambaran di atas mengingatkan Anda kepada Steve Jobs, Anda tidak salah. Namun gambaran itu kini juga bisa digunakan untuk mendeskripsikan Lei Jun, CEO Xiaomi Tech. Kemiripan semakin lekat jika kita melihat jejak kesuksesan Lei Jun yang berhasil menjadikan Xiaomi produsen smartphone nomor tiga di dunia—hanya lima tahun setelah mendirikan Xiaomi.

Tidak salah jika publik sering menyebutnya “Steve Jobs dari Tiongkok”.

Sejarah Xiaomi

Nama Lei sebenarnya belum lama terdengar meski ia sudah bertahun-tahun merintis bisnis di bidang teknologi. Ispirasinya untuk masuk ke dunia teknologi datang dari buku “Fire in the Valley” yang dibacanya ketika menimba ilmu di Wuhan University. Buku itu menginspirasinya untuk mengikuti jejak kesuksesan perusahaan-perusahaan di Silicon Valley, termasuk Steve Jobs.

“Saya banyak dipengaruhi oleh buku itu dan ingin membangun sebuah perusahaan kelas satu. Jadi, saya membuat rencana untuk bisa lulus kuliah dengan cepat,” kata Lei dalam wawancaranya dengan New York Times.

Lepas dari Wuhan, Lei memulai kariernya di Kingsoft, perusahaan software Tiongkok dengan produk aplikasi penyunting dokumen seperti Microsoft Office. Dikenal sebagai sosok pekerja keras, dalam tempo lima tahun Lei berhasil menduduki posisi chief executive. Pencapaian terbesar Lei saat itu adalah keberhasilannya membawa Kingsoft terdaftar di Bursa Hong Kong setelah empat kali upaya yang sama mengalami kegagalan. Setelah itu, Lei memutuskan untuk keluar dengan alasan “kelelahan”.

Lei kemudian menanamkan investasi ke beberapa startup Tiongkok seperti UCWeb yang kemudian dibeli Alibaba. Lei juga ikut membangun Joyo.com, sebuah toko buku online dan e-commerce yang kemudian dijual ke Amazon.com senilai USD 75 juta pada tahun 2004.

Langkah besar Lei dimulai ketika mendirikan Xiaomi pada April 2010 bersama dengan mantan eksekutif Google, Lin Bin. Produk pertamanya adalah MIUI (dibaca Me You I), firmware Android yang memiliki tampilan mirip iOS dan Samsung Wiz. Baru pada Agustus 2011, Xiaomi merilis smartphone pertamanya dengan nama Xiaomi M1.

Kesuksesan langsung menghampiri Xiaomi. Konsumen terpikat karena smartphone Xiaomi memiliki spesifikasi hardware yang jempolan namun dengan harga yang terjangkau. Xiaomi M3, misalnya, sempat menjadi smartphone tercepat menurut software uji Antutu, namun dibanderol di harga Rp3 jutaan saja.

Kualitas yang disajikan Xiaomi tidak kalah dengan pesaingnya. Lei mendorong teknisi Xiaomi untuk selalu berbicara secara langsung dengan konsumen, mengumpulkan masukan-masukan untuk kemudian melakukan perbaikan. Prosesnya sangat cepat: Xiaomi memperbarui MIUI setiap Jumat.

Selain karena kualitas produk, kesuksesan Xiaomi juga tidak lepas dari strategi jitu dari Lei. Contohnya adalah siklus produk 18 bulan sekali, tidak tiap 6 bulan seperti yang produsen lain. Dengan mematok harga yang sama selama 18 bulan, Xiaomi mendapatkan keuntungan dari penurunan harga komponen selama periode tersebut.

Xiaomi juga menjadikan media sosial sebagai ujung tombak pemasaran tanpa harus jor-joran dalam iklan. Xiaomi bahkan tidak memiliki toko fisik. Penjualan dilakukan secara online dan flash sale (siapa cepat dia dapat). Semua efisiensi tersebut menjadikan harga jual Xiaomi tidak jauh berbeda dengan BOM (bill of material atau harga semua komponen).

Cara itu pun belakangan diikuti pesaingnya. “Dari mengejar pemain lain di industri, kita sekarang justru diikuti oleh perusahaan lainnya,” kata Lei dalam surat terbuka kepada karyawannya.

Tahun 2014, Xiaomi berhasil menjual 61,12 juta smartphone yang berarti tiga kali lipat angka penjualan di tahun 2013. Lei juga berhasil menggaet investor untuk menyuntikkan dana hingga USD 1,1 miliar, sehingga memberikan valuasi perusahaan senilai USD 45 miliar. Valuasi itu menjadikan Xiaomi sebagai perusahaan teknologi tertutup yang paling berharga. Dengan pangsa pasar hingga 14 persen, Xiaomi berhasil menggeser Apple dan Samsung di Tiongkok.

Xiaomi pun kini tidak cuma memproduksi smartphone. Mereka kini merambah produk lain seperti smart TV, gelang cerdas, sampai air purifier.

Bukan Apple

Dengan kesuksesan yang ia raih, Lei pun kini menjadi salah satu pebisnis paling berpengaruh di dunia. Majalah Forbes Asia menobatkan Lei sebagai “Businessman of The Year” pada tahun 2014. Kekayaannya ditaksir mencapai USD 9,9 miliar.

Meski sering dianggap Steve Jobs-nya Tiongkok, Lei Jun menampiknya. “Kalau disamakan dengan Steve Jobs ketika saya berusia 20 tahun, saya mungkin akan bangga. Tapi saya sudah berusia 40 tahun, dan tidak ingin disandingkan dengan siapapun,” jawabnya diplomatis, seperti dilansir dari South China Morning Post.

Lei juga menolak Xiaomi disamakan dengan Apple. “Model bisnis kami lebih mirip Amazon. Kami menjual seluruh produk secara online dan tingkat laba kotor kami sangat rendah” ungkap Lei. Ia juga menganggap Xiaomi seperti Google karena MIUI kini telah berkembang menjadi platform aplikasi bagi jutaan pengguna fanatik Xiaomi.

Jadi julukan “Steve Jobs dari Tiongkok” mungkin hanya akan bertahan sebentar. Di masa depan, Lei Jun mungkin akan menjadi gabungan sosok Steve Jobs, Jeff Bezos, dan Sergey Brin. Siapa tahu?

Artikel ini telah dimuat di InfoKomputer edisi Januari 2015. Jika ingin mendapatkan artikel inspiratif seperti ini, silakan berlangganan InfoKomputer di sini. InfoKomputer juga tersedia dalam versi digital di Scoop, Wayang Force, Scanie, dan Indobooks.

Survei Trend Micro: Konsumen Mau Ungkap Data Pribadi dengan Imbalan Tertentu

grafik-data-pribadi

Maraknya tren Internet of Things (IoT) menggambarkan masa depan yang modern. Terhubungnya sebagian besar perangkat yang kita gunakan sehari-hari, seperti komputer, ponsel, arloji, dan peralatan elektronik, dengan jaringan internet menawarkan kemudahan dalam hidup.

Namun, kekhawatiran muncul dari para ahli sekuriti yang menganggap teknologi IoT akan semakin membuka celah terhadap pencurian data pribadi konsumen. Pasalnya, segala gerak-gerik konsumen bakal bisa dipantau lewat perangkat yang mereka pakai, mulai dari data biografis, informasi kesehatan, sampai rekam jejak transaksi keuangan.

Riset terbaru yang diadakan oleh Trend Micro dan Ponemon Institute mengamini dua potensi positif dan negatif yang sudah diutarakan di atas. Riset ini melibatkan sebanyak 1.903 responden yang tersebar di berbagai negara, seperti Belgia, Denmark, Perancis, Jerman, Yunani, Irlandia, Italia, Jepang, Luksemburg, Belanda, Polandia, Rusia, Slovenia, Spanyol, Swedia, Swiss, Inggris Raya, dan Amerika Serikat.

Dalam laporan berjudul “Privacy and Security in a Connected Life: A Study of US, European and Japanese Consumers” itu, sebagian besar responden tetap meyakini bahwa tren IoT akan membawa manfaat yang jauh lebih besar dibandingkan dengan dampak terkait privasi yang ditimbulkannya. Kendati begitu, sebanyak 75% responden mengakui telah merasakan lepasnya kendali akan informasi personal mereka.

Yang mengejutkan, dalam riset itu ditemukan bahwa banyak responden yang mengatakan tidak segan untuk mengungkapkan informasi, seperti nama, jenis kelamin, kebiasaan belanja, bahkan kondisi kesehatan serta informasi terkait login, asalkan diiming-imingi bayaran dalam jumlah tertentu.

Mereka bersedia menjual informasi personal mereka dengan kompensasi biaya dalam kisaran harga US$2,90 hingga $75,80. Jika dirata-rata, para responden meyakini bahwa pada umumnya sebuah data bernilai US$19,60.

Dari hasil riset itu, berikut adalah daftar besarnya imbalan rata-rata yang membuat responden rela memberikan data pribadinya kepada pihak lain secara sadar dan atas kemauan sendiri.

Patokan imbalan yang terbilang mahal:

  • Password – $75,80
  • Kondisi kesehatan – $59,80
  • Detail pembayaran – $36
  • Riwayat kartu kredit – $29,20
  • Kebiasaan belanja – $20,60

Patokan imbalan yang terbilang murah:

  • Jenis kelamin – $2,90
  • Nama – $3,90
  • Nomor telepon – $5,90

“Hasil studi tersebut menggambarkan bahwa telah munculnya kesadaran akan privasi dan keamanan. Namun, belum menunjukkan tergeraknya konsumen untuk melakukan upaya dan tindakan dalam mengatasinya, bahkan setelah mereka mengalami sendiri kasus pencurian data. Hal ini bisa ditengarai sebagai akibat kekurangmampuan konsumen atau kurangnya kepedulian mereka dalam melindungi data personal,” ungkap Raimund Genes (CTO, Trend Micro).

Cara Teknologi “Menghidupkan” Lagi Paul Walker di Fast & Furious 7

paul walker
Salah satu adegan yang menampilkan Paul Walker (berkemeja putih) dalam film “Fast & Furious 7”.

Sudah menonton film “Fast & Furious 7” yang mulai ditayangkan di bioskop-bioskop di Indonesia sejak pekan lalu? Dalam film ini, terdapat tokoh Brian O’Conner yang diperankan oleh aktor Paul Walker yang menjadi karakter utama selain Dom Toretto (Vin Diesel).

Namun, sebagaimana diketahui, Paul Walker telah meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan mobil pada November 2013, ketika masa syuting film “Fast & Furious 7” sedang berlangsung. Sutradara James Wan dan kru di belakang layar pun berusaha keras untuk mencari cara agar karakter yang dimainkan Walker bisa tetap eksis. Di sinilah peran teknologi dan rekayasa grafis mengambil peran penting.

Dikutip dari situs The Hollywood Reporter, Universal Pictures, rumah produksi yang membuat film ini, memercayakan teknik untuk “menghidupkan” kembali Paul Walker kepada Weta Digital, perusahaan animasi dan pengolahan grafis milik Peter Jackson (sutradara film “King Kong” dan trilogi “The Lord of the Rings”).

Dua saudara laki-laki Paul, Caleb (kiri) dan Cody Walker, ikut ambil peran dalam rekayasa digital sosok Paul Walker dalam film "Fast & Furious 7".
Dua saudara laki-laki Paul, Caleb (kiri) dan Cody Walker, ikut ambil peran dalam rekayasa digital sosok Paul Walker dalam film “Fast & Furious 7”.

Dalam upaya ini, Weta Digital memanfaatkan karakteristik fisik yang dipunyai oleh dua saudara laki-laki Paul Walker, yaitu Caleb dan Cody Walker.

Caleb digunakan untuk meniru bentuk fisik dan gerak-gerik Paul, sedangkan Cody menyediakan kedua matanya. Aktor ketiga yang tidak disebutkan namanya, berguna untuk mengulang aksi-aksi berisiko semirip mungkin dengan yang biasanya dilakukan Paul.

Hasilnya adalah gambar rekaan komputer (CGI/Computer-Generated Imagery) yang menggabungkan karakter Caleb dan Cody Walker serta “aktor ketiga” untuk mewujudkan sosok Paul Walker yang seakan nyata.

Selain itu, sang sutradara juga mengambil beberapa stok adegan Paul yang belum terpakai di film-film Fast & Furious seri sebelumnya.

Weta Digital sendiri telah teruji dalam urusan produksi efek visual untuk film-film Hollywood. Mereka berhasil memenangi lima penghargaan Academy Awards untuk trilogi film “The Lord of the Rings”, “King Kong”, dan yang paling fenomenal adalah saat mereka berhasil menciptakan dunia khayal yang seperti nyata bernama Pandora dalam film “Avatar”.

Surface Pro 4 Tunggu Windows 10 Meluncur

InfoKomputer – Microsoft dikabarkan sedang mempersiapkan tablet baru penerus Surface Pro 3, Surface Pro 4. Walau pun belum ada pernyataan resmi dari Microsoft, berdasarkan rumor yang telah santer beredar, Surface Pro 4 ini rencananya akan diluncurkan pada bulan Juli 2015 nanti.

Namun, berdasarkan beberapa laporan terbaru yang beredar, tablet terbaru Microsoft tersebut malah belum akan diluncurkan pada bulan Juli. Dikutip dari Inquisitr, Microsoft dikabarkan akan meluncurkan tablet Surface terbarunya ini bersamaan dengan peluncuran sistem operasi terbarunya, Windows 10 pada bulan Oktober nanti.

Jadi hingga saat ini, terdapat dua skenario kemungkinan mengenai peluncuran Surface Pro 4 ini. Jika diluncurkan pada bulan Juli, maka tablet ini akan hadir dengan sistem operasi Windows 8.1, dan akan di-update menjadi Windows 10 pada bulan Oktober. Atau, Microsoft akan meluncurkan tablet ini di bulan Oktober dengan Windows 10 sebagai standar.

Mengenai spesifikasi, Surface Pro 4 ini dikabarkan akan memiliki spesifikasi yang tinggi. Layarnya dikabarkan akan memiliki resolusi 4K. Tablet ini kabarnya akan menggunakan prosesor Intel Core i5 dan Core i7 terbaru, serta kapasitas memori RAM hingga 16 GB. Sama seperti Surface Pro 3, Surface Pro 4 ini juga akan memiliki stylus serta keyboard tambahan. Kabarnya, Surface Pro 4 ini akan hadir dalam dua varian ukuran layar dan kapasitas penyimpanan mencapai 1 TB.

Login dan Password, Target Utama Penyebaran Malware     

Dengan mengklik tombol "Listen to Voice Message", pengguna mengunduh arsip berbahaya
Dengan mengklik tombol “Listen to Voice Message”, pengguna mengunduh arsip berbahaya

Dalam empat tahun berturut-turut program yang dirancang untuk mencuri login, password dan data rahasia lainnya milik pengguna tetap berada di atas dalam daftar malware yang paling luas didistribusikan melalui email, demikian menurut data yang dirilis Kaspersky Lab.

Email spam yang meniru e-mail dan dikirimkan dari perangkat mobile kini menjadi sangat populer. Antivirus asal Rusia ini juga menemukan e-mail seperti ini dalam beberapa bahasa. Seperti di iPad, iPhone, Samsung Galaxy dan model lainnya. Salah satu ciri pesan ini adalah memiliki satu kesamaan sangat pendek (atau tidak ada) teks dan signature “Sent from my iPhone”. Biasanya, mereka berisi link ke lampiran berbahaya.

Umumnya email spam massal meniru pemberitahuan dari aplikasi mobile yang berbeda seperti WhatsApp dan Viber. Pengguna yang akrab dengan sinkronisasi aplikasi cross-platform dan sinkronisasi data kontak antara aplikasi serta pemberitahuan yang berbeda-beda dari aplikasi ini. Akibatnya banyak pemilik perangkat mobile tidak berpikir dua kali tentang email yang mengatakan mengenai sesuatu pada mobile messenger mereka.

Maria Vergelis (Analis Spam, Kaspersky Lab) menuturkan, pemberitahuan bank palsu merupakan salah satu jenis yang paling umum dari spam berbahaya atau serangan phishing.

“Pada tahun 2014, spammer mulai menyulitkan desain pesan palsu dengan menambahkan lebih banyak link ke sumber dan jasa resmi dari organisasi yang mana mereka gunakan untuk mengirimkan pemberitahuan palsu tersebut. Jelas, para penyerang berharap bahwa email dengan beberapa link yang sah akan diakui sebagai email sah baik oleh pengguna dan filter spam. Sementara itu, email yang berisi link penipuan tunggal akan mengalihkan pengguna ke situs phishing atau mengunduh arsip berbahaya,” kata Maria Vergelis (Analis Spam di Kaspersky Lab).

Branchless Banking: Mudahkan Nasabah, Untungkan Bank

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan Muliaman D. Hadad meresmikan peluncuran logo Laku Pandai di Kantor OJK, Lobi Gedung Soemitro Jakarta, Kamis (26/3). Turut hadir dalam acara tersebut anggota Dewan Komisioner OJK dan direksi dari BRI, BCA, Mandiri, dan BTPN.
Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan, Muliaman D. Hadad, meresmikan peluncuran logo Laku Pandai di Kantor OJK, Lobi Gedung Soemitro Jakarta, Kamis (26/3). Turut hadir dalam acara tersebut anggota Dewan Komisioner OJK dan direksi dari BRI, BCA, Mandiri, dan BTPN.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) baru saja memperkenalkan program Laku Pandai atau Layanan Keuangan Tanpa Kantor Dalam Rangka Keuangan Inklusif.

Program ini memungkinkan bank merekrut pedagang warung, toko kelontong, maupun individu di pelosok daerah untuk menjadi agen Laku Pandai. Mereka akan dipinjami mesin Electronic Data Capture (EDC) yang dapat membantu warga di sekitarnya dalam melakukan berbagai transaksi lewat bank, seperti membayar tagihan, membeli pulsa telepon, dan membeli pulsa listrik.

Produk lain yang disediakan Laku Pandai adalah tabungan dengan karakteristik Basic Saving Account (BSA), kredit atau pembiayaan kepada nasabah mikro, dan produk keuangan lainnya; seperti asuransi mikro.

Ketua Dewan Komisioner OJK, Muliaman D. Hadad, mengharapkan program ini dapat semakin mendekatkan bank dengan masyarakat. Hingga kini, empat bank nasional telah menerapkan Laku Pandai, yakni BRI, BCA, BTPN, dan Bank Mandiri. Dari empat bank ini, ditargetkan akan direkrut sekitar 128.039 agen selama periode 2015. Sudah ada 17 bank lainnya yang menyatakan siap menerapkan program ini.

Program Laku Pandai ini merupakan salah satu perwujudan pelaku industri perbankan dalam menggenjot inisiatif branchless banking. Tujuannya untuk memperluas dan mempermudah akses nasabah kepada layanan perbankan. Salah satu alasannya tentu kondisi geografis negeri ini. Dengan luasnya wilayah yang harus bisa dicakup oleh bank, branchless banking dinilai sebagai salah satu cara ampuh untuk melayani nasabah.

Branchless banking ampuh mengatasi kondisi geografis karena strategi distribusi kanal layanan bank ini tidak menggantungkan diri pada eksistensi kantor cabang bank. Contoh teknologi untuk branchless banking seperti, internet, telepon seluler, automated teller machine (ATM), perangkat point of sales (POS), dan perangkat electronic funds transfer at POS (EFTPOS).

Layanan branchless ini pun akan makin terdorong ke jalur mainstream bila melihat tingkat keakraban masyarakat Indonesia (baca: nasabah) dengan perangkat mobile, semisal komputer tablet dan smartphone. Ini adalah sebuah peluang menarik bagi bank untuk meluaskan layanan-layanan branchless yang sifatnya mandiri (self-service banking), seperti mobile dan internet banking.

Sebuah simbiosis mutualisme, saat layanan branchless dan self-service banking mendatangkan manfaat bagi kedua belah pihak. Nasabah diuntungkan melalui kemudahan dan kecepatan transaksi berkat tersedianya berbagai pilihan layanan dari bank. Pihak bank pun menuai manfaat berupa pertumbuhan transaksi, kemudahan pengembangan jaringan perbankan, terdorongnya efisiensi, dan peningkatan loyalitas pelanggan.

Tambah Kanal Fisik dan Feature

Kemudahan akses bagi nasabah menjadi perhatian utama Bank Central Asia (BCA), dan branchless banking adalah salah satu jurus yang dilakukan transactional bank dengan dua belas juta nasabah ini (berdasarkan data Juni 2013).

BCA akan terus menambah jumlah kanal elektronik (electronic channel), seperti ATM dan mesin electronic data capture (EDC). “Hal ini bertujuan untuk memberikan kemudahan kepada nasabah dalam mengakses account-nya di BCA,” ujar Endra Halim, praktisi perbankan yang pernah menjabat sebagai Vice President, Core Application Head di BCA. Ia menambahkan, sarana atau fasilitas transaksi yang bersifat self-service juga terus dikembangkan.

Untuk mempermudah nasabah dalam melakukan transaksi mandiri, BCA pun akan terus menambah aneka feature yang ada pada fasilitas layanan internet banking dan mobile banking, maupun di ATM dan EDC. Sementara itu, pemanfaatan media sosial tengah dijajaki. Selain itu, kemitraan bisnis dengan agen seperti kantor pos dan merchant juga diperluas.

Mengapa menerapkan layanan branchless? Selain mempermudah nasabah bertransaksi kapan saja, di mana saja, bahkan dengan perangkat apa saja, branchless banking juga membantu perbankan mereduksi biaya.

Cost dari sisi TI pasti akan meningkat (dengan adanya layanan-layanan tersebut), tetapi jika biaya penambahan karyawan dan sewa gedung dapat ditekan, maka bisa terjadi efisiensi. Perlu diketahui bahwa transaksi di cabang, bagi pihak bank, cost-nya paling tinggi,” terang Endra.

Branchless banking bisa membantu bank mereduksi biaya. “Perlu diketahui bahwa transaksi di kantor cabang, bagi pihak bank, cost-nya paling tinggi,” terang Endra Halim.
Branchless banking bisa membantu bank mereduksi biaya. “Perlu diketahui bahwa transaksi di kantor cabang, bagi pihak bank, cost-nya paling tinggi,” terang Endra Halim.

Di samping jurus tanpa cabang, BCA tetap mengandalkan jurus konvensional untuk menjangkau nasabahnya, yakni mengembangkan kantor cabang.

Endra menjelaskan bahwa jumlah cabang BCA, yang sampai Juni 2013 mencapai 1.028 dan tersebar di seluruh Indonesia, nantinya juga akan tetap bertambah walau pertumbuhannya tidak sebesar tiga atau empat tahun lalu. Cabang yang dibangun akan disesuaikan dengan segmentasi nasabah BCA di sekitar cabang tersebut. Artinya, akan ada kantor cabang yang berkarakter konvensional dan ada pula yang dilengkapi lebih banyak peralatan hi-tech yang membantu nasabah memperoleh layanan mandiri (self-service).

Mengenai perbandingan antara penambahan kantor cabang dan fasilitas branchless/self-service banking, Endra Halim mengatakan hal itu sulit ditentukan. “Karena akan sangat bergantung pada segmentasi nasabah yang sering berkunjung ke cabang tersebut,” jelasnya. Menurutnya, ada nasabah yang belum technology-minded dan lebih nyaman jika berinteraksi langsung dengan petugas bank.

Oleh karena itu, menurut Endra lagi, tingkat keberhasilan layanan branchless akan sangat tergantung tingkat adopsi nasabah terhadap layanan tersebut. “Makanya, desain dari user interface yang baik akan sangat menentukan keberhasilan layanan semacam itu. Di samping itu, penting untuk memerhatikan faktor keamanan, baik itu keamanan fisik maupun informasi,” tambah Endra.

Berbicara mengenai tren layanan perbankan di masa depan, Endra Halim memperkirakan mobile banking akan makin semarak. “Karena ke depannya, mobile device menjadi sarana yang paling convenient [untuk bertransaksi] bagi nasabah individual. Berikutnya adalah internet, ATM, EDC, call center, dan social media,” pungkas Endra.

Jangkau Gen Y dan Unbanked People

Seperti halnya BCA, layanan branchless banking Bank Mandiri pun ditujukan untuk mempermudah nasabah bertransaksi. Namun layanan yang dapat diakses malalui telepon seluler dan agen ini sengaja dikembangkan untuk para nasabah yang tergolong unbanked (belum memiliki rekening) dan underbanked (punya rekening tapi dengan dana terbatas).

“Agen yang dapat mempermudah transaksi nasabah itu dapat berupa warung kecil di pinggir jalan sampai dengan supermarket chain yang telah bekerja sama dengan Bank Mandiri,” terang Mohammad Guntur (Senior VP, IT Strategy, Architecture & Planning, Bank Mandiri).

Nantinya, Bank Mandiri akan memperkaya kapabilitas layanan branchless banking dengan mengintegrasikannya dengan aneka feature e-channel yang sudah ada. “Dan kami juga akan menyesuaikannya dengan regulasi yang akan dikeluarkan oleh Bank Indonesia,” papar Guntur.

Sementara itu, kemudahan bertransaksi kapan saja dan di mana saja difasilitasi bank ini melalui layanan self-service banking. Layanan itu datang dalam bentuk mesin ATM, internet banking, mobile banking, dan phone banking.

Seiring tren terkini, Bank Mandiri pun tengah menimbang-nimbang pengembangan kanal distribusi melalui social media, semacam Facebook dan Twitter. “Melalui social banking, kami berharap dapat menjangkau nasabah segmen Gen Y,” ujar Guntur.

"Untuk branchless banking, peningkatan jumlah nasabah unbanked dan underbanked akan meningkatkan pendapatan bank secara langsung, baik dari sisi pengendapan dana maupun transaksi pembelian dan pembayaran,” ujar Mohammad Guntur.
“Untuk branchless banking, peningkatan jumlah nasabah unbanked dan underbanked akan meningkatkan pendapatan bank secara langsung, baik dari sisi pengendapan dana maupun transaksi pembelian dan pembayaran,” ujar Mohammad Guntur.

Menurut Guntur, tidak dapat dimungkiri bahwa faktor finansial menjadi salah satu alasan utama mengapa layanan berbasis kanal elektronik kian gencar dikembangkan. “Tapi ada competitive advantage lain, yakni semakin mudahnya upaya pengembangan jaringan perbankan dan menyajikan kemudahan bertransaksi bagi nasabah,” jelasnya.

Baik layanan branchless banking maupun self-service banking juga diyakini akan meningkatkan transaksi perbankan melalui Bank Mandiri. Selain fee-based income, ada potensi cross selling untuk beragam produk perbankan melalui self-service banking.

“Khusus untuk branchless banking, peningkatan jumlah nasabah unbanked dan underbanked akan meningkatkan pendapatan bank secara langsung, baik dari sisi pengendapan dana maupun transaksi pembelian dan pembayaran,” imbuhnya lagi.

Berbicara mengenai pengembangan layanan Bank Mandiri di masa depan, Mohammad Guntur memastikan bahwa apa pun jenis layanan yang akan digelar harus makin mendorong Mandiri untuk menjadi transactional bank. “Optimalisasi layanan berbasis e-channel akan menjadi salah satu alat utama untuk mencapai visi tersebut,” jelasnya. Untuk itu, dari sisi pengembangan infrastruktur, Mandiri mulai melirik antara lain, solusi cloud computing. Tentu saja tetap mengacu pada regulasi BI.

Salah satu layanan masa depan yang diperkirakan Guntur akan menjadi tren global adalah mobile banking. “Feature-feature mobile banking akan semakin beragam. Misalnya feature Near Field Communication (NFC) akan mampu mengubah fungsi smartphone menjadi kartu debit,” jelasnya.

Jumlah pengguna social media yang terus meningkat pesat, menurut Guntur, akan mendorong industri perbankan di Indonesia maupun di negara-negara lain untuk membuka kanal layanan melalui media sosial tersebut. “Beberapa bank di luar sudah mulai mengimplementasikan hal itu, dan akan diikuti Bank Mandiri dalam beberapa waktu ke depan,” ujar Guntur.

Review Smartphone