Arsip Harian: Apr 8, 2015

Zebra Technologies Rilis Trio Access Point 802.11ac

Zebra-Harrisma

Pesatnya penggunaan Internet di tanah air dimanfaatkan Zebra Technologies dengan menghadirkan tiga access point pendukung koneksi internet nirkabel yang memanfaatkan standar koneksi baru 802.11ac yang lebih ngebut.

Pelaku bisnis yang memerlukan koneksi internet secara wireless biasanya membutuhkan access point atau router WiFi yang memiliki daya tahan tinggi (penggunaan 24 jam terus-menerus), tapi juga mampu menyajikan kecepatan menghantar data yang optimal.

Kebutuhan ini dijawab Zebra Technologies, perusahaan yang terkenal dengan solusi cetakan barcode, RFID, mobile computing, dan network, dengan menghadirkan tiga access point terbaru yang sudah mendukung standar koneksi 802.11ac.

IEEE 802.11ac merupakan generasi ke-5 standar 802.11 yang mampu mengirimkan kecepatan data 3 kali lebih cepat daripada standar 802.11n sebelumnya. Di tahun 2015 ini, diperkirakan semua produk WiFi akan mengadopsi teknologi ini agar bisa memenuhi kebutuhan koneksi cepat ala Big Data.

“Zebra Technologies meluncurkan produk WiFi terbaru model AP7502, AP7522, dan AP7532 yang sudah menggunakan teknologi 802.11ac agar menghadirkan solusi lebih baik bagi para pengguna Internet. Kami juga ditunjuk mereka untuk melakukan pendistribusiannya di tanah air,” jelas Riandy Shane, Senior Business Manager Harrisma Informatika Jaya.

Harrisma yang berdiri sejak tahun 1986 juga dikenal sebagai mitra bisnis HP, Fuji Xerox , Lenovo, Apple, Brother, dan kini Zebra (Motorola Solutions Enterprise).

Zebra Technologies sendiri di Oktober 2014 lalu mengakusisi bisnis enterprise dari Motorola Solutions untuk lebih meningkatkan kemampuan mereka di bidang ini. Di kuartal kedua 2015 ini, mereka juga memperkenalkan brand dan logo baru berbentuk kepala Zebra yang terlihat lebih tegas.

MoviMax Orion: Modem Lokal 4G untuk Jaringan Bolt

MoviMax-Bolt

Untuk memperluas penggunaan jaringan 4G, PT Sentra Primer Solusindo dan PT Parastar Echorindo memperkenalkan modem MoviMax MV1 atau seri Orion. Inilah modem lokal 4G perdana khusus untuk Bolt.

Modem Mobile WiFi (MiFi) yang diluncurkan Rabu ini (8/April/2015) merupakan perangkat yang telah memenuhi ketentuan tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) dan telah diproduksi oleh PT Panggung Electric Citrabuana di Sidoarjo – Jawa Timur. Dalam hal ini, tentunya proses perakitan yang lebih banyak diterapkan melalui dua line jalur pembuatan mobile WiFi dengan kapasitas produksi sekitar 4000 hingga 6000 unit per hari.

Walau begitu, komponen utama seperti chipset Marvell PXA 1802 tetap merupakan komponen impor. Marvell sendiri merupakan perusahaan yang didirikan oleh Sehat Sutardja, warga Indonesia yang banyak menimba ilmu di Amerika, jadi bisa dibilang modem ini memiliki cita rasa lokal yang kuat.

“Selain mendukung penggunaan produk lokal, kualitas modem 4G MoviMax Orion tidak kalah dengan produk dari luar negeri mengingat produksinya didukung peralatan berstandar internasional,” jelas Dwi Lingga Jaya, Vice President Parastar Group. Kehadiran Orion akan menambah pilihan modem 4G dari Bolt yang sebelumnya diproduksi oleh ZTE dan Huawei.

MoviMax Orion memang diciptakan khusus bagi layanan Bolt! Super 4G-LTE yang memakai konektivitas 4G LTE TDD kategori 4 di frekuensi 2300 MHz berkecepatan download hingga 100Mbps dan upload mencapai 10Mbps.

Desainnya mirip dengan MiFi Bolt dari Huawei dimana ia memiliki layar OLED 0,96 inci namun dengan ukuran lebih besar (dimensi 10,6×6,4×1,5 cm dan bobot 123 gram) karena mengusung baterai berdaya 2000mAh yang bertahan dalam mode standby selama 150 jam dan sanggup melakukan streaming hingga 6 jam.

Modem yang dibundel dengan kartu perdana Bolt berbonus kuota 8GB untuk 45 hari ini bisa diperoleh di Jabodetabek (Medan akan menyusul) dengan harga Rp 399.000.

Kondisi standar modem MoviMax ini tentu saja terkunci (locked) hanya untuk kartu 4G dari Bolt, namun di luar distribusi resmi, telah beredar juga modem versi tak terkunci (unlocked) yang bisa pula menerima berbagai kartu GSM untuk koneksi 3G.

Mi Fan Festival 2015 Laris, 40 Ribu Redmi 2 Terjual Habis di Indonesia

redmi-2-sold-out-lazada

Seperti telah diumumkan sebelumnya, hari ini (Kamis, 9 April) menjadi hari penjualan perdana dua produk unggulan Xiaomi, Redmi 2 dan Mi Pad, di Indonesia sebagai bagian dari “Mi Fan Festival 2015” yang dilangsungkan di beberapa negara di Asia.

Open sale yang dimulai pukul 11.00 tadi siang di situs Lazada Indonesia langsung diserbu pembeli. Hasilnya, 40 ribu unit Redmi 2 terjual habis dalam waktu sekitar 50 menit, seperti dikicaukan oleh Hugo Barra (VP Global Business, Xiaomi) di akun Twitter-nya.

Selain Redmi 2 yang dipatok dengan harga Rp1.599.000, Xiaomi juga memasarkan Mi Pad secara pre-order dengan harga Rp2.999.000. Tapi, Barra tidak menyebutkan angka penjualan komputer tablet yang dikatakan sebagai alternatif iPad tersebut.

Berdasarkan pengamatan kami, open sale yang digelar hari ini tergolong lancar. Meskipun situs Lazada sempat mengalami down pada awal-awal pembukaan open sale, selanjutnya proses penjualan dapat berjalan normal. Tampaknya, di samping jumlah stok yang memadai sehingga pembeli tidak perlu berebutan seperti halnya open sale Redmi 1S beberapa waktu lalu, tim TI Lazada pun sudah lebih siap menghadapi animo konsumen.

Bagi konsumen yang belum berhasil membeli Redmi 2 pada open sale kali ini, Lazada memberikan kesempatan selanjutnya minggu depan pada hari Kamis, 16 April 2015.

Yang menarik, selain dua gadget andalannya, Xiaomi juga mulai memasarkan aksesoris elektronik yang meliputi Mi Power Bank mulai harga Rp149 ribu, Mi In-Ear Headphone mulai harga Rp219 ribu, dan Mi LED Light dengan harga R57 ribu.

Secara umum, gelaran “Mi Fan Festival 2015” yang diadakan hari ini di negara-negara seperti Tiongkok, India, Singapura, Malaysia, dan Indonesia, dianggap Hugo Barra sebagai sebuah kesuksesan. Sedikitnya 1,5 juta unit smartphone berhasil terjual dalam satu hari ini dan sekaligus memecahkan rekor penjualan yang terjadi tahun lalu pada ajang “Mi Fan Festival 2014”.

Dian Siswarini, Nakhoda Baru XL Axiata yang Khatam di Teknik dan Fasih di Bisnis

Dian Siswarini, Presiden Direktur PT XL Axiata Tbk. Foto: Alphons Mardjono
Dian Siswarini, Presiden Direktur PT XL Axiata Tbk. Foto: Alphons Mardjono

Sejak Rabu (1/4), seusai Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) PT XL Axiata Tbk., Dian Siswarini resmi diangkat sebagai Presiden Direktur perusahaan telekomunikasi tersebut, menggantikan Hasnul Suhaimi yang telah memasuki masa pensiun.

InfoKomputer mengenal sosok Kartini di bidang teknologi ini sejak dua tahun lalu, saat ia masih menduduki posisi Chief Technology, Content & New Business. Bagaimana ia melihat perubahan dan tantangan di bisnis telekomunikasi saat ini?

Inilah obrolan kami dengan Dian Siswarini saat itu yang pernah kami muat di majalah InfoKomputer edisi Juni 2012:

Beralih peran dari teknis ke bisnis terbilang jamak di masa kini. Adalah tidak biasa ketika Dian Siswarini diserahi mengurusi bisnis yang bahkan orang bisnisnya pun, ketika itu, masih ragu.

Kalau soal keteknikan, kemampuan Dian jelas tak perlu diragukan. Enam belas tahun lebih dihabiskan Dian untuk mengurusi jaringan telekomunikasi dan teknologi informasi di lingkungan XL. “Ibaratnya, saya ini sudah ‘jagoan’ dan sudah khatam,” ujarnya berkelakar tanpa bermaksud menyombongkan diri.

Alhasil, ketika pucuk pimpinan menawari sebuah peran untuk mengelola Content dan New Business, perempuan berdarah Jawa dan Sunda ini pun tak menampiknya. Hitung-hitung memperluas wawasan sembari menambah “flavor” baru dalam pengalaman karier, begitulah yang ada di benak Dian Siswarini di penghujung tahun 2010 lalu.

“Mungkin, kalau saya tetap di (divisi) jaringan, cara berpikir saya akan kurang kaya, mungkin juga saya jadi sok tahu dan nggak mau dengar (kata orang lain),” imbuh Dian mensyukuri kesempatan yang diperolehnya itu.

Prinsip teamwork yang dianut Board of Directors PT XL Axiata sebenarnya telah membiasakan sarjana Teknik Elektro ITB ini dengan tugas-tugas di luar jaringan dan teknologi informasi. Namun, embel-embel “new” di depan kata “business” itu benar-benar merefleksikan sebuah bisnis yang belum pernah disentuh XL, dan peran Dian Siswarini pun jadi tak biasa.

Bisnis telco konvensional sangat berorientasi pada proses dan terpaku pada hal-hal, seperti governance, kejelasan struktur dan return, serta kemantapan business plan, sebelum mengeksekusi sesuatu. Sementara New Business terbilang sesuatu yang baru di lingkungan bisnis telekomunikasi. “Tidak mudah di-crack, semuanya masih serba ‘gelap’. Kami berpegang hanya pada imajinasi, kreativitas, dan inovasi,” ungkap Dian seraya menambahkan tidak seperti di departemen teknis, kini dirinya bukan lagi orang yang paling tahu.

Tantangan terberat bagi perempuan yang lahir di tengah keluarga insinyur ini adalah menyelaraskan cara berpikir dan cara bekerja yang dapat menyokong pengembangan bisnis baru ini. “Kalau di telco, we invest something, we get something,” ujarnya. Namun untuk New Business, Dian memperkirakan perusahaan harus investasi dan investasi dalam 3 – 4 tahun pertama. Setelah ada tipping point, ia memperkirakan, pertumbuhan baru akan terlihat.

“Pertumbuhannya memang bisa eksponensial! Tapi, bagaimana kami menjustifikasi itu? Tidak ada. Kami hanya memiliki keyakinan bahwa this business will be big someday,” tandas Dian. Dan menurutnya, orang telco umumnya sulit sekali memercayai keyakinan itu.

Alasan itu pula, menurut Dian, yang mungkin mendorong para petinggi XL memercayakan pengelolaan New Business di tangannya. “Kalau tugas ini diberikan kepada orang Marketing yang sekarang disibukkan dengan core business kami, mungkin mereka tidak akan fokus ke sini. Kenapa? Karena belum ada revenue-nya. Jualan voice, SMS dan sebagainya sudah jelas. Ada paket, ada uang,” jelas ibu satu putri dan dua putra ini.

Lantas, apa kiat Dian untuk menaklukkan “jalan terjal” yang membentang di hadapannya itu? “Untuk melakukan transformasi, kita harus membangun relevansi,” tandasnya. Lagi-lagi, ini bukan tugas yang gampang juga. Dalam lima tahun terakhir ini bisnis XL termasuk bagus, sehingga secara logika tidak ada alasan bagi XL dan seluruh jajarannya untuk bertransformasi.

“Kami harus membawa teman-teman ke perspektif yang berbeda, bahwa kita tidak hidup untuk hari ini saja dan harus melihat long term horizon. Yang harus kita pikirkan adalah sustainability dari bisnis perusahaan,” jelas perempuan yang tertarik dengan bidang telekomunikasi karena melihat clock speed-nya yang sangat cepat.

Selain mengubah mindset secara korporasi, tugas Dian Siswarini adalah menyiapkan tataran yang kokoh bagi pengembangan New Business, atau disebutnya sebagai fase menyemai benih. “Fokus kami saat ini adalah membuat strategi bisnis, mengembangkan ekosistem, dan membangun pondasi bisnis,” tuturnya.

Yang paling sulit? Tentu saja mengubah mindset. “Nggak gampang. Saya sendiri merasa sudah punya mindset ke sana (New Business. red), tapi begitu melihat proses decision making yang saya lakukan, lho kok telco banget ya?” ujar Dian tertawa.

Meski begitu, Dian Siswarini yakin ia dan timnya dapat melewati fase transformasi ini. “Saya sudah melewati berbagai fase di XL,” ucap penyuka olahraga golf ini. Dan itu membekalinya dengan learning (pembelajaran) dan strength (kekuatan) yang cukup untuk membawa perusahaan pada kehidupan baru.

Lenovo IdeaCentre Flex 20: PC Desktop 2 in 1

Foto: Dok.Lenovo
Foto: Dok.Lenovo

Bukan hanya perangkat mobile yang bisa bersifat 2 in 1, tetapi PC desktop pun ada yang menjadi 2 in 1 seperti halnya Lenovo IdeaCentre Flex 20 yang mampir ke InfoKomputer ini. Lenovo IdeaCentre Flex 20 merupakan PC All in One yang menawarkan mode penggunaan lain di luar mode penggunaan biasa (disebut mode Table oleh produsennya).

Pada mode Table (alias meja) yang menjadi andalan ini, Lenovo IdeaCentre Flex 20 ditidurkan mendatar pada meja maupun permukaan horizontal lain yang rata. Lenovo menyediakan interface khusus yang disebut Aura. Terdapat sejumlah permainan tabletop yang memang optimal dalam mode Table ini untuk dimainkan bersama anak atau teman seperti Air Hockey dan Fish Hunting. Anda bisa menggunakan jari untuk memainkannya berhubung layarnya sentuh. Namun paket yang diterima InfoKomputer dilengkapi satu pasang joystick dan satu pasang striker. Gunakan alat bantu ini agar permainan menjadi lebih asyik. Tentunya tidak melulu permainan yang disediakan. Terdapat juga sejumlah aplikasi untuk edukasi, hiburan, membuat musik, dan lainnya.

Selain Aura, Lenovo IdeaCentre Flex 20 menyediakan antara lain Lenovo Solution Center yang bisa memonitor kondisi sistem dan menawarkan masukan, Lenovo Rescue System untuk backup dan recovery, Lenovo Assistant untuk bersih-bersih dan kemudahan konfigurasi, Lenovo Cloud Storage untuk penyimpanan di awan, serta Cyberlink YouCam yang bisa memberikan efek secara langsung (real time) pada hasil tangkapan webcam. Berbagai feature ini tentunya lebih ditujukan untuk digunakan pada mode Stand alias model penggunaan PC All in One biasa.

ProductReview2-Gbr2-minSelain mode Table, PC desktop 2 in 1 ini juga memiliki kelebihan lain berupa digunakannya baterai isi ulang. Jadi Anda bisa memindahkan perangkat ini ke lokasi lain tatkala bermain game tanpa perlu mematikannya terlebih dahulu. Jika tidak digunakan untuk waktu yang lama di lokasi baru, catu daya pun bisa tidak dibawa. Dari percobaan yang dilakukan, Lenovo IdeaCentre Flex 20 bisa bertahan lebih dari dua jam saat digunakan menonton film Full HD.

Untuk yang membutuhkan Microsoft Office, PC All in One ini hanya menyediakan versi trial-nya. Begitu pula halnya dengan aplikasi keamanan McAfee Internet Security. Selain bisa membeli versi penuhnya, Anda bisa mencari versi alternatifnya yang gratis dan menjadikan Lenovo IdeaCentre Flex 20 sebagai pusat berkomputer di rumah.

Satu kekurangan yang segera menarik perhatian InfoKomputer adalah resolusi layarnya yang hanya 1600 x 900 pixel. Dengan layar berukuran 19,5″, resolusi yang belum Full HD ini membuat pixel yang ada terlihat cukup jelas. Untungnya, layar yang digunakan adalah IPS sehingga mampu menawarkan sudut pandang dan warna yang oke, meski hitamnya terlihat kurang pekat.

Meski “hanya” menggunakan resolusi 1600 x 900 pixel, Lenovo IdeaCentre Flex 20 tetap kurang mampu untuk diajak bermain game 3D masa kini dengan detail yang tinggi. Ini wajar, mengingat kartu grafis yang digunakan hanya Intel HD Graphics 4400 milik Intel Core i5-4200U. Sebenarnya ada beberapa spesifikasi Lenovo IdeaCentre Flex 20, namun tidak ada yang dilengkapi kartu grafis tambahan.

Dari sisi kinerja, untuk berbagai keperluan sehari-hari yang umum termasuk untuk bersosial ria seperti melalui Aura, PC All in One ini bisa meladeninya dengan baik. Namun, berhubung masih menggunakan hard disk, kinerjanya tidak seresponsif bila menggunakan SSD, misalnya saat boot dan membuka aplikasi.

Satu lagi kekurangan Lenovo IdeaCentre Flex 20 adalah hanya tersedianya dua port USB 3.0 (menggunakan keyboard dan mouse cordless yang disertakan akan menyisakan hanya satu port) serta tidak adanya card reader/writer dan port RJ45. CODEC HD Audio yang digunakan pun hanya stereo, begitu pula dengan jack keluarannya. Untungnya, tombol pengaturan volume, pengunci orientasi layar, dan tombol Windows disediakan.

USB Sedikit: Terbatasnya jumlah port USB bisa menyulitkan pengguna Lenovo IdeaCentre Flex 20.
USB Sedikit: Terbatasnya jumlah port USB bisa menyulitkan pengguna Lenovo IdeaCentre Flex 20.
Joystick tambahan: Disertakannya alat bantu seperti joystick bisa menambah keasyikan dalam bermain game tertentu.
Joystick tambahan: Disertakannya alat bantu seperti joystick bisa menambah keasyikan dalam bermain game tertentu.

Hasil Uji

Kinerja Lenovo IdeaCentre Flex 20 memang tertinggal bila dibandingkan Asus Transformer P1801-B202K yang memiliki spesifikasi lebih tinggi. Namun, harga Lenovo IdeaCentre Flex 20 lebih terjangkau serta dilengkapi Aura dan bisa menggunakan baterai (hanya bagian komputer tablet Asus Transformer P1801-B202K yang memiliki baterai).

PengujianLenovo IdeaCentre Flex 20Asus Transformer P1801-B202K
SYSmark 2014 1.0.1.21 Rating846-
SiSoftware Sandra 2014.SP3e Aggregate Arithmetic36,91 GOPS-
SiSoftware Sandra 2014.SP3e Aggregate Multi-Media86,47 Mpixel/s-
SiSoftware Sandra 2014.SP3e Aggregate Memory9,94 GB/s-
PCMark 8 Professional Edition 2.2.282 Home Score (accelerated)2538-
PCMark 8 Professional Edition 2.2.282 Creative Score (accelerated)2916-
PCMark 8 Professional Edition 2.2.282 Work Score (accelerated)3450-
Cinebench R15 CPU231 cb436 cb
Encoding Video*24 menit 52 detik11 menit 37 detik
Encoding Audio*1 menit 30 detik1 menit 15 detik
3DMark Professional Edition 1.4.778 Fire Strike Score507-
S.T.A.L.K.E.R.: Call of Pripyat Benchmark 1.6.0014,26 fps35,73 fps
AvP D3D11 Benchmark 1.038,63 fps17,3 fps
LuxMark 2.0281.000 samples/s101.000 samples/s
Memutar Video Full HD*2 jam 22 menit 37 detik-
Battery Eater 05 Pro Version 2.70*3 jam 44 menit 57 detik-

* lebih cepat lebih baik

PLUS: Ada mode Table plus Aura dan alat bantu, dilengkapi baterai isi ulang, tersedia sejumlah feature khas Lenovo.

MINUS: Belum Full HD, I/O terbatas, kinerja grafis kurang bertenaga, harga agak tinggi.

SpesifikasiLenovo IdeaCentre Flex 20
ProsesorIntel Core i5-4200U 1,6 GHz (Turbo 2,6 GHz)
ChipsetIntel Lynx Point-LP
Memori utama4 GB DDR3-1600
Media simpanHDD 500 GB 5400 RPM SATA 3 Gbps
Kartu grafisIntel HD Graphics 4400
Kartu suaraRealtek ALC283 (HD)
Layar19,5″, 1600 x 900 pixel, sentuh sepuluh titik
FasilitasWi-Fi 802.11b/g/n, Bluetooth 4.0, 2 USB 3.0, webcam HD, speaker stereo, microphone, audio (combo), ambient light sensor
Baterai46 Wh
Bobot3,5 kg
Dimensi50,9 x 31,2 x 2,1 cm
Sistem operasiWindows 8.1 64 bit
Situs Webwww.lenovo.com
Garansi1 tahun
HargaRp13.699.000,-

ZTE, Penyedia Teknologi Jaringan Terbaik di Indonesia

network-societyJakarta, InfoKomputer – ZTE Corporation (ZTE), penyedia telekomunikasi, enterprise, dan solusi berhasil meraih penghargaan sebagai “Best Network Technology” di ajang SELULAR Award 2015.

Ajang tahunan yang diselenggarakan kemarin malam (7/4) di Balai Kartini, Jakarta ini bertujuan untuk memberikan apresiasi dan penghargaan kepada para pelaku industri telekomunikasi mobile di Tanah Air.

“Kami bangga dan senang karena kerja keras kami dalam menghadirkan inovasi teknologi jaringan terbaik di Indonesia mendapat pengakuan di industri melalui ajang Selular Award ini,” kata Mei Zhong Hua (President Director PT ZTE Indonesia) selaku penerima penghargaan tersebut diterima langsung.

Mei Zhong Hua menambahkan pihaknya akan terus berdedikasi untuk berinovasi dan mengembangkan teknologi yang berkualitas serta teruji demi memajukan industri telekomunikasi di dunia, khususnya di Indonesia.

Sementara itu, Edi Kurniawan (Managing Director majalah SELULAR) menilai, ZTE telah mengembangkan dan menghadirkan inovasi teknologi jaringan pada era mobile broadband di Indonesia.

“ZTE merupakan perusahaan terdepan yang berhasil menciptakan berbagai paten teknologi, dan itu turut memperkuat posisi ZTE sebagai penyedia teknologi jaringan terbaik di Indonesia,” ujar Edi Kurniawan selaku penyelenggara acara penghargaan ini.

Berdasarkan laporan tahunan terbaru yang diterbitkan oleh WIPO (World Intellectual Property Organization) bulan Maret lalu, ZTE menduduki peringkat ketiga dunia dalam pengajuan hak paten di bawah PCT (Patent Cooperation Treaty).

Lebih dari 90% paten milik ZTE dihasilkan dari penemuan orisinil. Untuk membentuk masa depan jaringan generasi selanjutnya, ZTE sedang melakukan berbagai penelitian dan uji coba untuk mengembangkan teknologi dan standar 5G.

Biznet Wifi Melakukan Ekspansi Bisnis Agresif dengan Hadir di 22 Kota

biznet-min

Setelah resmi meluncurkan layanan Biznet Wifi di Jakarta, Cirebon dan Indramayu pada tanggal 14 Februari 2015 yang lalu, Biznet Networks kembali mengumumkan hadirnya layanan Biznet Wifi di lebih banyak lokasi dan kota di Indonesia seperti Jakarta, Badung (Kuta), Bandung, Batang, Bekasi, Bogor, Brebes, Cikampek, Cirebon, Comal, Depok, Indramayu, Karawang, Kendal, Palembang, Pekalongan, Pemalang, Salatiga, Semarang, Tegal, Ungaran dan Yogyakarta.

“Setelah diluncurkan di Jakarta, Cirebon dan Indramayu pada bulan Februari lalu, kami melihat bahwa respons dari masyarakat sangat positif terhadap layanan Biznet Wifi. Kami juga melihat bahwa saat ini semakin banyak masyarakat yang membutuhkan jaringan internet yang lebih cepat untuk kebutuhan pekerjaan maupun hiburan. Untuk mengakomodasi kebutuhan tersebut, kami menghadirkan Biznet Wifi yang kini memperluas jaringannya secara agresif di banyak kota di Indonesia,” ujar Adi Kusma, President Director Biznet Networks.

Biznet Wifi merupakan layanan Wi-Fi prabayar yang sesuai untuk menjawab kebutuhan para profesional muda, mahasiswa, turis, serta pelaku industri kreatif yang gemar bekerja mobile. Layanan ini dapat dinikmati di area-area pusat kota, seperti alun-alun yang menjadi lokasi bagi masyarakat beraktivitas dan berinteraksi dengan teman maupun keluarga.

Untuk segmen turis, Biznet Wifi hadir di wilayah Kuta dan Legian di Bali untuk membantu turis lokal maupun internasional dalam mencari informasi dan berhubungan dengan kerabat dan keluarga mereka.

“Biznet Wifi dapat dinikmati oleh siapa pun yang menginginkan koneksi internet cepat hanya dengan menggunakan gadget yang dimiliki. Cukup dengan melakukan registrasi online tanpa diperlukan adanya perangkat tambahan,” tambah Adi.

Biznet Wifi hadir dengan empat keunggulan:
1. Jaringan Turbo Wi-Fi 100 Mbps yang memungkinkan pengguna menjalankan aplikasi apa pun dengan lebih cepat.
2. Penggunaan yang sangat mudah tanpa perangkat tambahan dengan hanya menggunakan fitur Wi-Fi yang ada di dalam gadget para pengguna, baik smartphone maupun tablet.
3. Harga paling murah, mulai dari Rp30.000 untuk penggunaan data 2 GB yang berlaku selama 30 hari.
4. Fitur 2-in-1; setiap nomor akun yang terdaftar dapat digunakan untuk dua gadget yang berbeda secara bersamaan.

Biznet Wifi menawarkan tiga jenis paket yang dapat dipilih sesuai kebutuhan:
– Biznet Wifi 30,000 – Kuota 2 GB, Rp 30,000 untuk 30 hari
– Biznet Wifi 60,000 – Kuota 5 GB, Rp 60,000 untuk 60 hari
– Biznet Wifi 90,000 – Kuota 10 GB, Rp 90,000 untuk 90 hari

Ke depannya, layanan Biznet Wifi akan hadir di lebih banyak kota di Pulau Jawa, Bali dan Sumatera yang telah terhubungkan dengan jaringan Biznet Fiber yang sudah ada lebih dari 12.000 kilometer.

Review Smartphone