Arsip Harian: Apr 9, 2015

Mau Nonton YouTube Tanpa Diganggu Iklan? Silakan Bayar

youtube-advertising1

Apakah Anda sering merasa terganggu dengan iklan-iklan yang sering tampil mendahului video yang ingin ditonton di YouTube? Dalam waktu dekat, Anda bisa menonton video di YouTube tanpa iklan. Syaratnya, bayarlah biaya berlangganan bulanan.

Baru-baru ini, Google mengirimkan e-mail kepada seluruh pembuat konten di YouTube yang berisi pemberitahuan tentang rencana mereka untuk menerapkan layanan berbayar kepada pengunjung YouTube. Tanpa menyebutkan besaran resmi biaya langganan yang harus dibayarkan, Google menyebut bahwa layanan ini akan memberi fasilitas bagi pengunjung untuk menonton YouTube tanpa diganggu iklan.

Sedangkan bagi para pembuat konten yang selama ini bisa menikmati penghasilan dari iklan yang ditampilkan di video yang mereka unggah, Google memberi kompensasi berupa 55% dari total penghasilan yang diperoleh dari biaya berlangganan ini. Jumlah yang diterima setiap pembuat konten akan bervariasi, sesuai dengan persentase jumlah view atau watchtime video itu terhadap keseluruhan view atau watchtime dari seluruh video yang berpartisipasi.

Dengan layanan berbayar ini, Google berusaha untuk menciptakan sumber penghasilan baru di YouTube selain dari pemasangan iklan. Diharapkan, para pengguna YouTube, terutama yang biasa mengakses dari perangkat mobile dengan ukuran layar terbatas, akan tertarik untuk menggunakan layanan ini demi menghindari tampilan iklan yang dianggap mengganggu.

Tidak disebutkan secara pasti kapan layanan YouTube berbayar ini bakal diluncurkan. Tapi, seorang sumber menyatakan kepada Bloomberg bahwa layanan tersebut akan dimulai pada akhir tahun ini.

Pada Oktober 2014, Google telah lebih dulu mengujicoba YouTube Music Key kepada pengguna-pengguna terpilih. Layanan dengan biaya US$9,99 per bulan ini menawarkan fasilitas untuk menonton video musik tanpa iklan, mendengarkan lagu (tanpa video), dan akses offline.

Ivan Sangkereng: Peran TI dalam Menjadikan Binus Sebagai Universitas Kelas Dunia

bina nusantara anggrek

Mendengar nama Universitas Bina Nusantara (Binus), yang langsung terbayang di pikiran kita biasanya sebuah kampus swasta unggulan yang aktivitas perkuliahannya akrab dengan teknologi informasi (TI).

Meskipun program studi yang ditawarkan Binus tidak terbatas pada hal-hal yang berkaitan dengan TI, tetapi “ruh” teknologi tetap mewarnai pada setiap kegiatan yang dilakukan mahasiswa dan mahasiswinya. Mulai dari infrastruktur, kurikulum, fasilitas, sampai kegiatan belajar-mengajar, tidak terlepas dari sentuhan TI.

Orang yang bertanggungjawab menangani seluk-beluk TI dan inovasinya di Universitas Binus adalah Ivan Sangkereng. Ia menjabat selaku IT Director di Bina Nusantara sejak tahun 2012. Tak hanya di skala universitas, Ivan pun bertugas untuk melakukan supervisi dan implementasi TI di lingkungan sekolah, lembaga pendidikan, dan unit bisnis lain yang dikelola Binus Group.

Menuju World Class University

“Melihat visi Binus untuk menjadi world class university, TI mengambil peran penting dalam berbagai aspek pengukurannya, misalnya research quality, teaching quality, innovation, facility, dan internationalization,” tukas Ivan.

Di bidang riset, contohnya, Binus mempergunakan teknologi cloud computing untuk menyimpan hasil penelitian, sehingga produk riset bisa lebih mudah diakses serta membuka kesempatan untuk kolaborasi dengan peneliti internasional. Sedangkan untuk fasilitas, seluruh kampus Binus telah terintegrasi dengan jaringan internet yang memadai guna memampukan dosen dan mahasiswa untuk menambah pengetahuan secara online.

Dari sisi inovasi dan kualitas pengajaran, Binus berkolaborasi dengan komunitas akademis dan pelaku industri untuk melakukan FGD (Focus Group Discussion) yang membahas tren-tren teknologi terbaru. Hasilnya bisa dimasukkan ke dalam kurikulum atau metode pengajaran yang pada akhirnya akan meningkatkan kualitas lulusan Binus.

Hal penting lainnya adalah status Binus sebagai kampus internasional yang siap menyambut mahasiswa-mahasiswa asing. “Terjadi peningkatan drastis dalam jumlah mahasiswa asing dari tahun ke tahun. Untuk itu, kami sudah menyiapkan environment yang lebih baik, termasuk kurikulum, content, dan facility, agar mahasiswa asing tidak merasakan perbedaan drastis dengan kampus di negara asalnya dan merasa nyaman belajar di Binus,” papar Ivan.

Dalam kegiatan belajar-mengajar, TI berperan untuk mewujudkan metode pembelajaran elektronik atau e-learning melalui sebuah Learning Management System (LMS) yang disebut Binus Maya. Di sini, dosen dan mahasiswa dapat melakukan proses belajar lewat internet, baik di desktop maupun mobile.

Binus juga sudah menerapkan blended learning yang memungkinkan mahasiswa mengambil mata kuliah tertentu di luar kurikulum program studinya. Dengan demikian, diharapkan tiap mahasiswa memiliki kesempatan untuk memperluas wawasan mereka.

Ivan Sangkereng (IT Director, Bina Nusantara Group)
Ivan Sangkereng (IT Director, Bina Nusantara Group)

Memenuhi Kebutuhan Industri

Satu hal yang sering dikeluhkan oleh para CIO atau pemimpin TI di perusahaan Indonesia saat ini adalah kurangnya talenta di dunia TI yang siap bekerja dan sesuai dengan kebutuhan industri. Bagaimana Binus menghadapi tantangan ini?

“Kami melakukan beberapa hal. Salah satunya melalui riset internal maupun eksternal untuk mendapatkan masukan tentang kualitas pembelajaran seperti apa yang ingin disampaikan kepada mahasiswa. Masukan ini kemudian dimasukkan untuk membenahi kurikulum,” jawab Ivan.

“Cara lainnya dengan melakukan diskusi, duduk bersama dengan mahasiswa dan pelaku industri, sehingga kami bisa melihat gap yang terjadi antara dunia kerja dan apa yang di-deliver dalam dunia akademik. Kami berusaha untuk mengeliminasi atau memperkecil gap ini,” sambungnya.

Di samping itu, Binus juga memunyai knowledge management system yang berperan sangat penting dalam mengelola seluruh aktivitas yang dilakukan di internal dan pengajar-pengajar Binus, sehingga bisa dikombinasikan dan dieskalasi menjadi suatu value baru yang dapat dimasukkan ke dalam kurikulum dan konten yang akan diberikan kepada mahasiswa.

Komunikasi dengan Komunitas

Bagi sesama pemimpin TI di dunia pendidikan, khususnya perguruan tinggi, Ivan berharap agar mereka lebih menyadari terhadap perubahan yang terjadi serta peduli untuk mengaplikasikan TI di dalam value chain atau aktivitas di perguruan tinggi tersebut.

Ivan menganggap perlunya media komunikasi dan kolaborasi yang intensif di antara pemimpin TI dari seluruh perguruan tinggi. Harapannya, mereka dapat bertukar pengalaman dan praktik nyata dalam penerapan TI di tempatnya, baik yang berhasil maupun gagal.

Untuk komunitas lain di luar perguruan tinggi, Ivan menyebutkan nama iCIO Community yang cukup aktif dalam menjalin kerja sama dengan beberapa universitas, termasuk dengan Binus. Program yang sudah dijalankan dan akan berlanjut dengan komunitas tersebut antara lain mengundang pakar, praktisi, dan CIO untuk datang ke Binus guna memperkaya pengetahuan mahasiswa dan para pengajar. Program lainnya yaitu menyelenggarakan award bagi mahasiswa yang berprestasi di bidang TI.

“Di dalam iCIO Community ini, saya ingin berpartisipasi aktif dalam diskusi serta bertukar pengalaman mengenai bagaimana melakukan pengayaan terhadap pengetahuan karyawan,” ujar Ivan.

“Kami juga bisa bekerjasama dalam case study, misalnya menganalisis seberapa efektif teknologi berperan nyata dalam industri. Karena di Binus, kami punya resource yang memadai untuk mengambil data dan analisis, lalu menyosialisasikan kepada masyarakat, bagaimana industri mendapatkan lompatan breakthrough melalui teknologi,” pungkasnya.

Mengapa Saya Memerlukan Harddisk NAS Seagate? (Bagian-1)

HAS Hardisk Seagate

Beberapa waktu lalu, Seagate dan InfoKomputer mengadakan lomba tentang kisah menarik seputar produk harddisk dan NAS Seagate. Berikut adalah satu dari tiga kisah yang terpilih menjadi pemenang lomba tersebut.

Penulis cerita : Bpk Jimmy Kokong

Perkenalkan nama saya Jimmy, saya adalah seorang pegawai di perusahaan BUMN di Jakarta. Saya bukan orang bagian IT dan memang bukan kepandaian saya dalam bidang IT, namun karena kebutuhan—dan kebutuhan yang mendasar—membuat saya pelan-pelan harus bisa mengetahui dunia IT.

Saya bekerja di bagian logistik, khususnya mengolah dan mereview data-data pembelian barang di kantor, baik itu berupa barang ataupun jasa. Terkadang malah saya yang memilih barang yang terbaik untuk perusahaan saya, jika tim ahli tidak ada.

Suatu hari di tahun 2012 yang lalu, saya ditugaskan membeli salah satu server bekas dari luar negeri. Dari merk tersebut sudah pasti diketahui bahwa harganya mahal. Walaupun produk bekas, namun karena merk terkenal atasan saya memlilih server tersebut tanpa bertanya-tanya lagi.

2 hari setelah PO datanglah server tersebut dengan spesfikasi: Intel Xeon E3-2430, 1x 4GB DDR3-1333 ECC RDIMM, 2x160GB HDD SAS, DVD±RW, 2 x GbE NIC, Rackmount 1U Case. Rencananya server tersebut nanti akan dipakai menyimpan database untuk 4 lantai.

Setelah 3 bulan terjadi musibah: server down. Aplikasi ERP kami tidak berfungsi, yang setelah diselidiki, teryata karena database kami over limit. Rupanya salah satu harddisk NAS bawaan rusak. Akhirnya diputuskan untuk membeli harddisk yang baru.

Di sinilah peran saya dimulai, saya mencari referensi harddisk NAS terbaik untuk server di kantor saya. Saya harus berhati-hati, karena merk terkenal saja 3 bulan rusak karena pemakaiannya sering overtime dan overlimit. Hampir saja saya frustasi, karena server itu tidak kompatible dengan beberapa merk harddisk NAS. Namun, solusi ditemukan setelah salah satu teman saya yang menyarankan saya untuk membeli harddisk NAS merek Seagate.

Akhirnya sama membeli harddisk NAS dengan kapasitas 1TB, 2 x 500GB, ST500Mn.002. Beberapa hal yang membuat saya yakin memilih produk ini adalah:

  • Paket opsional +Rescue Data Recovery Service selama 3 tahun melindungi kehilangan data karena virus, masalah perangkat lunak, atau kerusakan mekanik dan listrik dalam lingkungan NAS atau RAID
  • Dibuat dan diuji untuk memberikan kinerja yang terdepan di industri untuk aplikasi NAS 24×7
  • Seagate NASWorks meningkatkan keandalan hard disk dengan kontrol pemulihan kesalahan yang dibuat khusus, pengaturan daya, dan toleransi getaran
  • Memungkinkan kapasitas tertinggi untuk sistem 1 hingga 8 ruang—hingga 4 TB per hard disk atau 32 TB dalam NAS 8 ruang

Akhirnya saya membeli hardisk tersebut dan sampai sekarang, haddisk Seagate tersebut tetap terpakai.

Intel Compute Stick, Komputer Mini yang Bisa Mengubah TV Jadi PC

intel compute stick

Jika kita berbicara mengenai komputer dalam ukuran mini, Intel adalah jagonya. Mereka yang menelurkan konsep mini-PC dengan Intel NUC (Next Unit of Computing) serta Intel Curie (modul komputasi sebesar kancing untuk perangkat wearable).

Kali ini, mereka mulai memasarkan Intel Compute Stick, komputer mini dalam bentuk dongle HDMI yang siap dicolokkan ke layar televisi atau monitor untuk mengubah fungsinya menjadi PC.

Dengan ukuran sebesar modem portabel atau dongle pada umumnya, Intel Compute Stick tersedia dalam dua varian, Linux dan Windows, dan sudah mulai bisa dipesan di situs Newegg.

Varian pertama memuat prosesor Intel Atom quad-core 64-bit, RAM 1GB, dan storage 8GB dengan sistem operasi Linux; dijual dengan harga US$109,99. Varian kedua mengemas prosesor Intel Atom quad-core 64-bit, RAM 2GB, dan storage 32GB dengan sistem operasi Windows 8.1; dijual dengan harga US$149,99. Tapi, varian kedua ini sudah habis dipesan.

Pertama kali dipamerkan pada ajang CES 2015, Compute Stick cukup ditancapkan ke porta HDMI di layar televisi atau monitor apa saja, lalu dihubungkan dengan keyboard dan mouse lewat sambungan Bluetooth, untuk menjadikannya PC berkekuatan penuh. Karena segala data disimpan di dalam dongle, pengguna dapat dengan mudah berpindah-pindah ke tempat lain untuk bekerja, selama tersedia layar monitor.

Compute Stick akan bersaing dengan Asus Chromebit, perangkat yang juga mengemas komputer mini di dalam dongle, tapi berisi Google Chrome OS. Chromebit telah dipasarkan mulai bulan lalu dengan harga di bawah US$100.

Freelancer.com Capai 15 Juta Anggota dengan Pertumbuhan Cepat dari Indonesia

freelancer-com-15-juta

Bekerja paruh waktu sepertinya semakin digemari oleh para pekerja di seluruh dunia. Hal ini dibuktikan oleh pencapaian Freelancer.com, situs marketplace freelancing dan crowdsourcing terbesar di dunia, yang telah mencatatkan 15 juta anggota pada kuartal pertama tahun 2015 ini.

“Tahun 2015 menjadi tahun bersejarah bagi Freelancer.com dengan capaian 15 juta anggota dan lebih dari 7,4 juta proyek yang dikirimkan dengan nilai proyek lebih dari US$2,2 miliar,” kata Matt Barrie (CEO, Freelancer.com) dalam keterangan persnya.

Dari angka 15 juta itu, sedikitnya 500 ribu anggota berasal dari Indonesia. Walaupun persentasenya masih terbilang kecil (3,3%), jumlah anggota asal Indonesia ini diakui sebagai salah satu dari empat negara dengan pertumbuhan tercepat di Freelancer.com. Coba saja bandingkan dengan tahun 2012, ketika anggota Freelancer.com asal Indonesia baru berjumlah 60 ribu orang.

“Dengan perubahan gaya hidup, kerja paruh waktu atau freelancing sekarang menjadi opsi yang terlihat dapat mengakomodasi kebutuhan para profesional. Di lain pihak, Freelancer.co.id membuat para startup dapat mencari para freelancer yang bisa diandalkan dan berkualitas tinggi yang bisa membantu mereka membangun bisnis mereka sendiri. Hal ini menghemat waktu dan menghasilkan keuntungan bagi semua pihak,” tukas Helma Kusuma (Indonesia Country Manager, Freelancer.com).

Sebagai negara dengan perekonomian ke-16 terbesar di dunia dengan 55 juta pekerja profesional, Indonesia dipandang memiliki potensi untuk menjadi negara dengan perekonomian ke-7 terbesar di dunia pada tahun 2030 dengan estimasi diperlukan 113 juta pekerja profesional saat itu.

Saat ini, terdapat 93 juta pengguna internet di Indonesia yang diperkirakan akan mencapai 123 juta pengguna pada tahun 2018. Dengan kebanyakan di antara pengguna internet adalah usia aktif secara ekonomi (15 – 64 tahun), artinya masih terbuka lebar kesempatan bagi mereka untuk mencari pekerjaan secara paruh waktu.

Sebagai latar belakang, 25% dari para pengguna Freelancer.com adalah pemilik bisnis perorangan, 21% mengidentifikasi diri mereka sebagai pekerja freelance profesional, 19% sebagai mahasiswa, dan 22% sebagai pegawai penuh waktu. Sebanyak 45% dari para profesional di platform ini memegang ijazah S1 (graduate), sementara 21% lulus tingkat S2 (post-graduate).

Review Smartphone