Arsip Harian: Apr 14, 2015

Ini Alasan Implementasikan Komputer Tablet di Perusahaan

tabletfeb

Beberapa tahun belakangan ini, pasar consumer begitu menggebu menyambut kehadiran komputer tablet atau tablet PC. Namun tidak demikian halnya di lingkungan bisnis, khususnya enterprise. Padahal tak sedikit perusahaan yang mulai mengakomodasi permintaan bring your own device (BYOD) dari karyawannya.

IDC memprediksi pertumbuhan dua digit adopsi komputer tablet di perusahaan berskala enterprise akan meningka tahun 2014-2015. Peningkatan yang signifikan akan terjadi tahun ini. Menurut IDC, peningkatan itu akan didorong antara lain oleh inovasi, harga, dan peluncuran Windows 10.

Adopsi komputer tablet oleh segmen enterprise akan meningkat, jika perangkat tersebut dapat memenuhi kebutuhan perusahaan dalam hal kinerja, keamanan, fungsi, dan kemudahan pengelolaan. Hasil penelitian oleh Forrester Research tahun 2013 memperlihatkan indikasi bahwa komputer tablet—terutama yang memiliki feature lengkap dan enterprise-ready—dapat meningkatkan produktivitas pekerja di aneka industri vertikal, seperti ritel, kesehatan, dan sales.

Seperti halnya solusi teknologi informasi lainnya, untuk berinvestasi pada komputer tablet tentu harus didukung argumentasi kuat, terutama di sisi manfaat secara finansial. Ditambah lagi argumentasi tentang bagaimana proses bisnis dapat ditingkatkan melalui pemanfaatan komputer tablet.

Salah satu manfaat finansial yang secara langsung akan dirasakan organisasi adalah penghematan Capex (capital expenditure) bila dibandingkan dengan membeli komputer desktop, bahkan mungkin notebook. Tak dapat dimungkiri bahwa kebanyakan komputer tablet enterprise-ready harganya pasti jauh lebih mahal daripada perangkat untuk consumer. Tetapi efisiensi dapat diraih dari bundling sistem operasi dan productivity suite.

Selain itu, kecanggihan teknologi yang dibenamkan vendor ke dalam komputer tablet kelas enterprise masa kini akan mengurangi kerepotan departemen TI dalam hal pembaruan teknologi. Perangkat-perangkat terbaru umumnya sudah datang dengan flash storage teranyar, konektivitas WiFi, dan layar resolusi tinggi. Komputer tablet untuk enterprise umumnya juga sudah dibekali feature pengelolaan sistem, sehingga departemen TI tidak akan direpotkan dengan tugas-tugas administratif.

Manfaat tablet lainnya, yang sudah kerap kita dengar, adalah mobilitas dan perbaikan produktivitas pekerja. Desain tablet yang ultra ringan akan memampukan para pekerja profesional melakukan “computing on the go”. Mereka dapat bekerja di mana saja dan kapan saja. Tidak hanya orang kantoran, pekerja di lapangan, orang sales, pekerja di bidang kesehatan juga akan menikmati hal yang sama. Belum lagi penerapan mobilitas di area-area yang mungkin dulu tidak terpikirkan, seperti mobile point of sales (POS) di toko-toko ritel, bioskop, atau cafe.

Argumentasi lain yang boleh diketengahkan para CIO kepada jajaran manajemen adalah kemampuan integrasi perangkat ke systems management framework yang sudah ada. Pengelolaan komputer tablet di jaringan perusahaan dapat dilakukan secara terotomatisasi, termasuk penerapan aturannya, dengan bantuan solusi enterprise mobility management (EMM). Komputer tablet juga memudahkan adopsi metode akses berbasis virtualisasi dan browser, misalnya VDI dan cloud computing.

Komputer tablet masa kini juga sudah memenuhi persyaratan utama perangkat komputasi di lingkungan enterprise: keamanan dan keandalan. Selain sistem enkripsi canggih, perangkat masa kini juga dilindungi sistem lockdown fisik, feature keamanan jaringan, dan mendukung software data protection maupun data backup.

Satu hal yang harus diperhatikan ketika memilih dan mengevaluasi komputer tablet untuk penggunaan di lingkungan perusahaan, yaitu use case-nya. Siapa penggunanya, tahapan penggunaan, sistem yang akan terhubung dengan perangkat, apa tujuan yang ingin dicapai dengan perangkat tersebut. Pada umumnya, tablet masa kini sudah memiliki kinerja, fasilitas keamanan, dan keandalan yang cukup untuk menangani berbagai beban kerja (workload), seperti VDI, customer service, kolaborasi, desktop replacement, remote office/telecommuting, dan VPN.

Menurut panduan “Building the Business Case for Tablets in the Enterprise” dari TechTarget, perusahaan sebaiknya memerhatikan feature-feature berikut ketika akan memanfaatkan tablet untuk menangani berbagai workload dan penggunaan yang bersifat mobile-centric:

  1. Form factor : slate, laptop, dan desktop replacement.
  2. Layar lebar dan mendukung fungsionalitaas layar sentuh.
  3. Prosesor dengan kecepatan pemrosesan tinggi dan memiliki memori yang cukup besar untuk menangani aplikasi enterprise.
  4. Ragam pilihan asesoris untuk berbagai lingkungan dan penggunaan, misalnya mobile payment terminal, keyboard dan mouse nirkabel, docking station, peralatan input, dan storage eksternal.
  5. Ekosistem aplikasi dan mitra pengembang yang cukup luas.
  6. Perangkat keamanan/security tool yang mendukung integrasi dengan network security framework yang ada.
  7. Dukungan enterprise mobility management untuk meringankan kerja departemen TI.
  8. On-board WiFi dengan kecepatan yang sesuai kebutuhan perusahaan.

Advan Pasarkan Smartphone 4,5 inci Harga Rp600 Ribuan di Carrefour

Advan-C4

Dikenal dengan produk bervariasi yang terjangkau, jelang akhir minggu ini Advan akan kembali membuat kejutan dengan menghadirkan smartphone ukuran 4,5 inci termurah di gerai Carrefour.

Setelah sukses menjalin kerja sama dengan berbagai pihak, Advan makin agresif memasuki jaringan retail komoditas rumah tangga dengan bekerjasama dengan pasar modern Trans Hello Carrefour. Kerja sama ini dalam rangka memasarkan produk terbaru Advan yang diperkirakan menjadi smartphone quad-core termurah di kelas layar 4,5 inci.

“Cakupan wilayah dari Trans Hello Carrefour begitu luas. Hingga saat ini, jaringan toko Carrefour telah menyebar ke 13 provinsi di tanah air. Kekuatan ini memungkinkan produk yang dipasarkan bisa langsung menyentuh lapisan konsumen lebih luas,” kata Tjandra Lianto, Marketing Director Advan.

Ia juga menambahkan bahwa kolaborasi ini diharapkan mampu memperluas peluang masyarakat menikmati keunggulan teknologi dari brand lokal populer tersebut.

Keberadaan Advan pada bisnis retail komoditas rumah tangga kali ini juga berpotensi mendorong laju pertumbuhan industri teknologi komunikasi Indonesia. Secara bisnis, peluangnya sangat menguntungkan mengingat kebutuhan masyarakat dibidang teknologi cukup besar.

Sebelumnya masyarakat tidak pernah menjadikan smartphone sebagai bagian dari daftar keranjang belanja utama mereka. Kini smartphone justru masuk dalam kebutuhan utama yang tak terelakkan.

Khusus untuk kehadiran smartphone barunya ini, Advan akan menghadirkan harga spesial hanya Rp600ribuan. Promo tersebut bakal digelar secara serentak di seluruh jaringan gerai Carrefour pada tanggal 17 – 18 April 2015 nanti.

Jajal Langsung Smartphone ZTE di User Experience Spot

ZTE-UES-Indonesia

Demi menyosialisasikan keunggulan yang dimiliki jajaran produk smartphone-nya, ZTE membuka UES (User Experience Spot) di beberapa kota di Indonesia untuk meningkatkan pengalaman pelanggan dalam menggunakan produk ZTE.

UES ZTE sejauh ini sudah tersedia di ITC Cempaka Mas dan ITC Roxy Mas Jakarta, Plaza Simpang Lima Semarang, Bogor Trade Mall, Bandung Electronic Center, WTC Surabaya, MTC Karebosi Makassar, dan Ramai Mall Yogyakarta. Untuk ke depannya, ZTE berencana untuk membuka 20 UES lainnya di berbagai kota.

UES menampilkan produk-produk ZTE dari seri Nubia hingga seri Blade, sehingga pelanggan dapat merasakan langsung produk ZTE di tangan mereka sebelum melakukan transaksi pembelian.

“Indonesia adalah pasar yang penting, dengan populasi yang besar dan tersebar di berbagai kota. Pembukaan UES adalah salah satu dari cara kami untuk menjangkau pelanggan di seluruh Indonesia, sehingga mereka dapat merasakan smartphone ZTE dalam genggaman mereka dan menggunakannya secara langsung,” kata Jason (Marketing Communication Director, ZTE Indonesia).

Produk smartphone ZTE sendiri telah mengalami pembaruan fokus sejak tahun 2014; dari model bisnis yang berorientasi pada operator menjadi bisnis yang fokus pada pelanggan. Strategi ini memungkinkan pelanggan memberi masukan sebagai bagian dari perencanaan, pengembangan, dan desain produk. Hasilnya dapat terlihat dari feature yang tersedia dismartphone mereka, seperti kamera, antarmuka, dan data-sharing yang canggih.

Fungsi kamera yang khas dan beragam tersedia di seri Nubia. Mode Pro kamera tersebut membawa fungsi utama kamera profesional SLR ke dalam sebuah ponsel. Selanjutnya, teknologi antarmuka khas ZTE, MiFavor, berhasil memberikan kenyamanan bagi pengguna dengan feature personalisasi. Sementara itu, aplikasi AliveShare milik ZTE memungkinkan pengguna untuk berbagi data antar perangkat dengan cepat, tanpa harus bergantung pada koneksi internet atau paket data.

Segala feature tersebut dapat dicoba oleh pelanggan di spot-spot UES ZTE. Tim ZTE turut siaga di spot tersebut untuk memberikan panduan dan menjawab pertanyaan konsumen mengenai produk smartphone ZTE.

Cloud Analytics dan Visual Analytics Dorong Pertumbuhan SAS

SAS Visual Analytics
SAS Visual Analytics

Dalam beberapa tahun terakhir, kepahaman pelaku enterprise mengenai pentingnya analytics semakin meningkat. Hal ini berdampak positif terhadap pertumbuhan bisnis SAS yang dikenal sebagai pemimpin dalam layanan analytics.

Pada tahun 2014 lalu, SAS mencetak rekor pendapatan US$3,09 miliar atau naik 5,1% dibandingkan tahun 2013. Kontribusi besar diberikan oleh dua layanan unggulan, SAS Cloud Analytics dan SAS Visual Analytics, yang pendapatannya meningkat dengan persentase dua digit.

Pendapatan SAS Cloud Analytics meningkat 24% pada 2014 dengan lebih dari 400 pengguna di 70 negara menginginkan teknologi cloud untuk akses cepat pada solusi analytics. Sedangkan adopsi SAS Visual Analytics sekarang telah digunakan pada hampir 3.400 lokasi pelanggan dan meningkatkan pendapatan sebesar 12%.

“SAS adalah pemimpin pasar dalam bidang analytics dan kami berencana untuk tetap menjadi pemimpin di industri ini,” ujar Jim Goodnight (CEO, SAS). “SAS Cloud Analytics memungkinkan pengguna untuk mengambil keunggulan cloud, dan kami memiliki rekam jejak yang baik dengan big data. Ke depannya kami berharap menjadi penyedia analytics nomor satu untuk Hadoop. Kami juga menawarkan software visualisasi data terkuat di pasar saat ini.”

Jika dipandang dari sektor industri, perbankan masih menyumbang kontribusi pemasukan paling besar dengan 26%, disusul 15% dari organisasi pemerintah (naik 23% dibanding tahun lalu), 11% dari perusahaan penyedia layanan, serta 10% dari perusahaan asuransi.

Sementara itu, jika dilihat dari wilayah, Amerika masih menjadi pelanggan dominan dengan menyumbang 48% pendapatan, disusul Eropa, Timur Tengah, dan Afrika dengan 39%, dan terakhir Asia Pasifik dengan 13%.

Pertumbuhan pendapatan SAS lebih banyak disumbang dari pelanggan di Amerika.
Pertumbuhan pendapatan SAS lebih banyak disumbang dari pelanggan di Amerika.

Pada tahun 2014, SAS menginvestasikan kembali 23% dari total pendapatan untuk kepentingan litbang (penelitian dan pengembangan). SAS mulai agresif masuk ke pasar advanced analytics yang menyasar pada meningkatnya penggunaan Hadoop sebagai framework untuk big data. Inovasi berbasis pada Hadoop ini telah mendatangkan 2.045 pelanggan baru untuk SAS, meningkatkan jumlah pelanggan baru menjadi lebih dari 75.000 lokasi.

Saat ini, SAS memimpin pangsa pasar business analytics (berdasarkan IDC) dan merupakan pemimpin dalam business intelligence berdasarkan Forrester, dan diperkirakan akan tetap pada posisi teratas dalam analytics, dengan kemampuannya dalam mendengarkan dan beradaptasi dengan kebutuhan pengguna.

Tahun ini, SAS telah mengantisipasi pertumbuhan yang berkelanjutan pada solusi cloud analytics, Business Inteligence/visualisasi data, data management dan Hadoop, customer intelligence, security intelligence/fraud solutions, dan risk management.

Untuk mengatasi kesenjangan keterampilan analytics, perusahaan telah meluncurkan SAS Analytics U, suatu inisiatif bidang akademik di lingkup global yang berisi software SAS secara gratis, kemitraan dengan universitas, dan melakukan pendekatan melalui komunitas pengguna untuk mendukung generasi pengguna SAS selanjutnya.

Infomedia Terapkan Platform Layanan Pelanggan NICE Engage

nice-engage

NICE Systems mengumumkan telah selesainya implementasi platform NICE Engage di PT Infomedia Nusantara, perusahaan terbesar di Indonesia dalam bidang manajemen proses bisnis yang merupakan salah satu anak perusahaan dari PT Telkom Indonesia.

Penerapan NICE Engage oleh Infomedia adalah contoh pertama di Asia Pasifik setelah sebelumnya sukses dipakai oleh sejumlah perusahaan di kawasan lainnya. Proses implementasi ini dibantu oleh PT Selindo Alpha selaku system implementor.

Sebagai informasi, NICE Engage adalah platform layanan pelanggan (customer service) yang dapat membantu menciptakan pengalaman pelanggan yang berkesan serta mampu meningkatkan kepuasan dan kesetiaan pelanggan.

Caranya melalui analisis seluruh data percakapan antara pelanggan dan petugas layanan pelanggan secara simultan dan instan. Analisis ini menghasilkan insight dan arahan bagi petugas untuk menawarkan produk dan layanan yang sesuai dengan kebutuhan pelanggan secara real-time.

Gambaran platform NICE Engage membantu interaksi antara petugas layanan pelanggan dan pelanggan yang menelepon.
Gambaran platform NICE Engage membantu interaksi antara petugas layanan pelanggan dan pelanggan yang menelepon.

Ilustrasi proses tersebut bisa digambarkan dalam infografis yang tertera pada artikel ini.

“Dengan menerapkan teknologi tercanggih dari NICE, kami dapat meningkatkan kepuasan pelanggan dengan menyederhanakan infrastruktur melalui teknologi masa depan yang telah teruji. Teknologi terbaru ini juga memiliki lingkup serta skalabilitas tinggi yang membantu kami mengembangkan bisnis dalam beberapa tahun ke depan,” kata Joni Santoso (President and Director, PT Infomedia Nusantara).

Platform NICE Engage generasi lanjut ini sudah mendukung perekaman suara, video, dan layar, termasuk pengarsipan dan penayangan ulang secara langsung menggunakan server tunggal.

Terlebih lagi, fitur Advance Interaction Recorder (AIR) dapat mendukung lebih dari 5.000 saluran per server, yang mampu menurunkan total cost of ownership (TCO) secara signifikan bagi Infomedia dan menjadi landasan yang kuat untuk pertumbuhan usaha di masa depan.

Platform ini juga memberikan skalabilitas yang tinggi dan membuat perusahaan lebih fleksibel sehingga mampu berpindah dari platform satu ke yang lainnya, tanpa memerlukan downtime selama ekspansi lisensi.

“Setelah kesuksesan pertama di pasar Indonesia ini, kami percaya bahwa di tahun 2015 dan seterusnya akan ada lebih banyak perusahaan yang bisa kami bantu untuk meningkatkan kepuasan pelanggan dan meningkatkan pendapatan mereka. Kami juga akan terus berkolaborasi dengan Selindo dalam mempromosikan solusi-solusi NICE di Indonesia,” tukas Raghav Sahgal (President, NICE APAC).

Review Smartphone