Profil Anto Satriyo Nugroho: Meninggalkan Karier Cemerlang untuk Membangun Indonesia

Anto Satriyo Nugroho: Meninggalkan Karier Cemerlang untuk Membangun Indonesia

anto satriyo

“Mengapa mau balik ke Indonesia?” Sejak pulang ke Indonesia di tahun 2007, Anto Satriyo Nugroho sering mendapat pertanyaan seperti itu. Maklum, kariernya sebelum kembali ke Indonesia sudah cemerlang.

Keahliannya di bidang bioinformatika membuat pria asal Solo ini mendapat kepercayaan menjadi dosen tamu di Chukyo University, Jepang. Sambil mengajar, ia juga memperoleh dukungan untuk melakukan riset teknologi di bidang artificial intellegence.

Anto memiliki beberapa jawaban untuk pertanyaan itu. “Kalau yang bertanya mahasiswa saya, saya akan menjawab: supaya saya bisa bertemu kalian semua,” ungkap Anto dengan nada bercanda. Namun jawaban sebenarnya adalah, Anto merasa memiliki kewajiban moral untuk turut membangun negeri ini. “Karena saya kuliah didanai negara dengan utang yang dibayar oleh rakyat,” tambah Anto.

Anto adalah satu dari enam puluhan remaja potensial Indonesia yang mendapatkan beasiswa STMDP (Science and Technology Man Power Development Program) di tahun 1990. Melalui program yang digagas BJ. Habibie (kala itu menjabat Kepala BPPT), Anto muda dikirim ke Electrical and Computer Engineering, Institut Teknologi Nagoya, Jepang. Lima tahun kemudian, Anto berhasil lulus dengan penelitian di bidang kompresi data EKG.

Sempat balik ke Indonesia dan bekerja di BPPT, tahun 2000 Anto kembali ke Nagoya melanjutkan kuliah S2 dan S3 berbekal beasiswa dari Pemerintah Jepang. Spesialisasi Anto tetap di bidang komputer, utamanya di bidang pengenalan pola (pattern recognition). “Misalnya ketika ada data sidik jari, ini sidik jari siapa,” Anto mencontohkan. Keahlian Anto di bidang pola tersebut bahkan mengantarkannya menjadi juara Fog Forecasting Contest yang diselenggarakan The Institute of Electronics, Information and Communication Engineers, Jepang.

Namun seperti cerita di atas, tahun 2007 Anto memutuskan kembali ke Jakarta dan bekerja di BPPT. Dan awal 2015, ia dipercaya menjadi Direktur Program Intelligent Computing Labotary BPPT yang berkantor di kawasan Puspitek, Serpong. Di posisi ini, Anto memegang lingkup penelitian di tiga bidang: pemrosesan bahasa, identifikasi biometrik, dan solusi teknologi untuk penyakit tropis.

Hingga Ratusan Tahun

anto

Menjadi peneliti di negara seperti Indonesia memang memiliki tantangan tersendiri. Dukungan terhadap peneliti minim, sementara hasil penelitian kurang mendapat apresiasi. Namun Anto memiliki strategi untuk mengatasi semua keterbatasan tersebut.

“Peneliti harus mencari tema yang ‘laku’ di Indonesia dan relevan dalam waktu lama,” ungkap Anto. Jika sudah menemukan tema seperti itu, peneliti tinggal membuat roadmap untuk memerinci langkah yang akan dilakukan.

Itulah yang menjelaskan mengapa salah satu fokus penelitian Anto saat ini adalah di bidang penyakit tropis. “Karena penyakit tropis telah menjadi masalah sejak seratus tahun lalu dan mungkin seratus tahun ke depan,” ujar Anto. Khusus penyakit tropis ini, Anto dan tim sedang menggarap sistem yang membantu petugas kesehatan mendiagnosis pasien penyakit malaria.

Penelitian tersebut berangkat dari masalah klasik yang dihadapi petugas kesehatan. Untuk mengetahui seseorang mengidap malaria atau tidak, petugas kesehatan harus menemukan virus di sampel darah pasien menggunakan mikroskop. Kedengarannya sederhana, namun praktiknya sangat menyita waktu dan tenaga.

Untuk menemukan virus tersebut, petugas harus memeriksa setiap titik dari sampel darah. Caranya dengan menggeser sedikit demi sedikit sampel darah di bawah mikroskop. “Sampai ratusan kali geser,”Anto menjelaskan kesulitan mendiagnosa malaria. Tidak heran ketika Anto mengunjungi sebuah puskesmas di NTB, ia menemukan tumpukan sampel darah yang belum sempat diperiksa petugas kesehatan.

Terinspirasi dari kasus tersebut, Anto dan tim pun membuat sistem pemeriksaan berbasis teknologi. Caranya dengan menggunakan robot yang akan menggeser sampel darah di bawah mikroskop secara otomatis. Lalu, gambar yang ditangkap mikroskop diolah sebuah software yang akan memeriksa apakah terdeteksi virus malaria. Jika menemukan indikasi virus, software tersebut menyampaikan semacam alert kepada petugas. Petugas kesehatan pun hanya perlu mengecek ulang hasil analisis software tersebut, sehingga proses bisa berlangsung lebih cepat dan efisien.

Teknologi Anak Bangsa

Penelitian lain yang sedang dilakukan Anto adalah soal identifikasi biometrik yang dikaitkan dengan penerapan eKTP. Seperti kita tahu, pemerintah menggagas eKTP sebagai alat identifikasi tiap warga negara, sekaligus membuat database tunggal dari seluruh rakyat Indonesia. Untuk itu, pemerintah melakukan pengumpulan data biometrik berupa retina mata dan sidik jari sebagai basis proses identifikasi.

Sebelum masuk ke database, sistem eKTP harus melakukan proses deduplikasi untuk menjamin keunikan data dari tiap individu. Tujuan deduplikasi adalah menjamin data biometrik A harus benar-benar unik; tidak ada orang lain di Indonesia yang memiliki data biometrik seperti A. Karena jika (misalnya) data A dan B sama, B bisa berpura-pura sebagai A dan begitu pula sebaliknya.

Di sinilah tantangan terbesarnya: bagaimana memastikan keunikan data dari tiap 172 juta pemilik KTP di Indonesia. Sidik jari tiap orang memang berbeda, namun membuat sistem yang secara akurat membedakan ratusan juta sidik jari juga bukan perkara mudah. Anto pun menjelaskan teknis indetifikasi sidik jari yang melibatkan tiga level pengecekan.

“Level informasi pertama adalah melihat pola global sidik jari, apakah right loop atau left loop,” jelas Anto. Namun hanya ada 6-7 pola pembeda di level ini, sehingga tidak mungkin membedakan sidik jari jutaan orang. Karena itu dibutuhkan level identifikasi kedua, yaitu melihat garis-garis sidik jari yang bisa berhenti atau bercabang. Di level ini ada 60-70 pola pembeda; cukup banyak namun belum memadai.

Karena itu dibutuhkan informasi lanjutan, yaitu koordinat dari pola-pola tersebut. Dengan menggabungkan tiga level informasi tersebut, identifikasi sidik jari seseorang pun bisa sangat akurat.

Sayangnya, Indonesia belum memiliki software identifikasi sidik jari seperti itu. Software yang digunakan saat ini di eKTP masih menggunakan aplikasi buatan luar negeri. Fakta inilah yang menjadi motivasi Anto. “Kami ingin eKTP menggunakan teknologi pengenalan sidik jari buatan anak bangsa,” ujar Anto bersemangat.

Software pengembangan sidik jari buatan tim BPPT saat ini baru dalam tahap uji coba, salah satunya di sebuah rumah sakit di Solo

Software pengembangan sidik jari buatan tim BPPT saat ini baru dalam tahap uji coba, salah satunya di sebuah rumah sakit di Solo

Langkah ke sana memang panjang. “Saat berdiskusi dengan principal (pembuat software identifikasi sidik jari-red), mereka mengaku sudah mengembangkan teknologinya selama 30 tahun,” ungkap Anto. Sedangkan di Indonesia, penelitian di bidang ini relatif tidak ada. Anto pun mengaku, software pembaca sidik jari yang ia kembangkan bersama timnya masih jauh dari akurat. “Namun kami berharap semakin lama akurasi software kami semakin mendekati milik mereka,” klaim Anto.

Keyakinan Anto tersebut juga didasari fakta saat ini timnya berisi anak-anak muda yang cerdas dan memiliki dedikasi di bidang penelitian. Anto pun kini mendapat akses ke tenaga kerja potensial dengan menjadi dosen tamu di SGU Serpong dan UNS Solo.

“Salah satu bentuk kerja sama [antara BPPT dan universitas] adalah pihak universitas mendorong mahasiswanya membantu pekerjaan kami,” ucap Anto. Yang semakin membuat Anto girang, mahasiswa yang ia ajar sangat antusias menyerap ilmu darinya. “Terkadang saya sampai kewalahan menjawab pertanyaan mereka,” kata Anto sambil tertawa.

Tiap dua minggu, Anto pun pulang ke kampung halamannya di Solo. Selain untuk mengajar di UNS, kepulangannya ke Solo juga untuk menemui anak dan istri yang masih tinggal di sana. Ketika kami tanya reaksi keluarga saat tinggal berjauhan seperti itu, Anto sambil tersenyum menjawab, “Ya anak saya sering protes sih.”

Namun bagi orang seperti Anto, pengorbanan adalah hal yang biasa. Ia rela melakukannya demi kemajuan bangsa ini.

Comments

comments