Arsip Harian: Oct 6, 2015

Diana, Asisten Virtual yang Siap Penuhi Permintaan Anda Lewat SMS

Screenshot halodiana

Kesibukan penduduk di kota-kota besar, khususnya ibukota seperti Jakarta, membuat mereka kekurangan waktu untuk melakukan banyak pekerjaan sekaligus. Termasuk untuk memenuhi kebutuhan seperti memesan atau membeli makanan/minuman, tiket bioskop, atau tiket pesawat.

Oleh karena itu, kehadiran aplikasi asisten pribadi virtual dianggap perlu untuk melayani orang-orang sibuk seperti ini. Ryan Gondokusumo, sebelumnya sukses mendirikan startup Sribu.com dan Sribulancer, membaca peluang itu dengan merilis Diana (Digital Assistant and Autonomous).

Dalam keterangan persnya, disebutkan bahwa Diana adalah jasa asisten pribadi virtual yang membantu pengguna dalam memenuhi kebutuhannya melalui SMS. Pengguna hanya perlu menyampaikan kebutuhannya lewat SMS, kemudian Diana akan memproses SMS tersebut dan memberikan jawaban dengan cepat.

Kegunaan Diana antara lain membantu dalam pemesanan tiket pesawat, hotel, makanan dan minuman, atau hal lainnya. Untuk menggunakan jasa Diana, pelanggan tidak dikenakan biaya apa pun, hanya tarif normal SMS.

Diana pertama kali diluncurkan dengan status beta pada akhir Agustus 2015 dan memperoleh sambutan yang sangat baik.

Ryan menyatakan, “Kebanyakan dari pengguna Diana butuh untuk dipesankan tiket, makanan, barang, sampai pemesanan mobil untuk pre-wedding. Kami menjadi solusi atas kebutuhan mereka, di mana kebutuhan mereka pasti akan kami cari dan dapatkan. Saya senang mereka merasa terbantu dengan jasa Diana.”

Untuk menggunakan Diana, pengguna hanya perlu mendaftarkan nomor mereka di www.halodiana.com. Setelah nomor mereka diproses oleh sistem dan mendapatkan SMS verifikasi dari Diana, pengguna bisa langsung menggunakan jasa Diana.

“Saat ini Diana mendapatkan sekitar 70 permintaan per hari. Saya yakin dalam dua bulan ke depan, angka permintaan dapat mencapai ratusan permintaan per hari. Sedangkan untuk jangka panjang, saya menargetkan paling tidak 50 ribu pengguna aktif dan ratusan ribu permintaan per bulannya,” ucap Ryan optimistis.

Pengelola Data Center ASEAN Hadapi Tantangan Biaya dan Teknologi

data center

Pemilik dan operator data center di kawasan ASEAN melihat peluang sekaligus tantangan di tengah meningkatnya kebutuhan terhadap kapasitas komputasi akibat ekonomi digital yang semakin menggeliat di kawasan ini.

Hal tersebut tercermin dari hasil Data Center Asia Pacific Census 2014 yang digelar oleh DCD Intelligence (DCDi). Salah satu kesimpulan yang disampaikan divisi Business Intelligence dari DatacenterDynamics (DCD) itu adalah peran dan layanan data center akan semakin dibutuhkan di kawasan yang ekonominya sedang menggeliat tersebut. Walhasil, investasi untuk pusat data di ASEAN diperkirakan akan terus meningkat.

Data Center Asia Pacific Census 2014 mengungkap fakta bahwa setiap tahun, industri data center dan pelanggannya mengharapkan kinerja pusat data yang lebih baik. Sebagian besar responden dari sensus ini memfokuskan perhatian pada teknologi dan arsitektur data center terbaru yang dapat membantu mereka mewujudkan harapan perusahaan maupun komunitas.

Sebagian besar responden tengah meningkatkan pemanfaatan cloud, implementasi virtualisasi, implementasi inovasi terbaru desain pusat data, optimalisasi komponen TI maupun sistem jaringan. Untuk itu mereka membutuhkan kapasitas, fleksibilitas, dan resiliency untuk menghadapi beban TI yang bisa tiba-tiba meningkat tanpa prediksi atau bersifat mendesak.

“Industri data center di Asia Tenggara sedang mencapai satu titik balik baru, dan setiap keputusan yang diambil terkait data center akan berdampak pada TI di salah satu kawasaan dengan pertumbuhan tertinggi di dunia saat ini,” cetus Vincent Liew (General Manager in APAC, DatacenterDynamics).

Data center, menurut Vincent, menjadi semakin penting dalam rangka menghadirkan dan memanfaatkan teknologi. “Seiring transisi ke komputasi awan, utilitas berbasis konsep software-defined, dan penggelaran inisiatif TI, keputusan-keputusan (terkait data center) ini akan luas pengaruhnya,” Vincent menambahkan. Oleh karena itu, ia menyarankan agar industri data center harus membuang jauh-jauh kerangka berpikir silo atau terkotak-kotak.

Terobosan dalam hal teknologi informasi dan kinerja data center di sebuah organisasi pengelola data center dapat dicapai hanya melalui kolaborasi antara departemen TI, pengelola faslitas, dan para ahli sekuriti di dalam organisasi tersebut. “Dengan cara ini, kita dapat berinovasi dalam mengadopsi teknologi maupun menerapkan best practice, dan meningkatkan keahlian di lingkungan organisasi,” ujar Vincent Liew melalui rilisnya.

Beralih ke Arsitektur Cloud

Untuk menghadapi isu biaya dan kapasitas, semakin banyak pelaku industri data center yang melirik arsitektur cloud, meski mereka pun masih harus mempertahankan infrastruktur on premise.

Menurut DCDi, terjadi peningkatan pada pemanfaatan infrastruktur cloud dari 15,5% di tahun 2013-14 menjadi 17,5% di tahun 2014-15. Sementara peningkatan yang cukup signifikan juga terjadi di area hybrid cloud, yakni dari 9,9% di tahun 2013-14 menjadi 14,4% di tahun 2014-15.

Adalah sebuah langkah tepat jika semakin banyak pengelola data center beralih ke hybrid cloud, menurut Stephen Orban (Head of Enterprise Strategy, Amazon Web Services). Penyedia data center dapat memetik manfaat cloud dari sisi biaya dan kapasitas, sementara kelebihan sekuriti dan kontrol berbasis on premise bisa mereka pertahankan.

“Ada satu konsep yang salah mengenai cloud publik. Public cloud dianggap sebagai satu tawaran yang harus sepenuhnya diambil atau tidak sama sekali,” kata Stephen. Padahal menurutnya, tidak sedikit perusahaan yang memulai pemanfaatan cloud dari hal yang kecil dan terus bereksperimen menempatkan beban kerja di cloud.

Perusahaan mungkin tidak bisa sepenuhnya berpindah ke cloud karena sudah berinvestasi untuk infrastruktur on premise atau mungkin memiliki motivasi dan tingkat urgensi yang berbeda.

 

 

Stockbit Membantu Investor Saham untuk Pantau dan Analisis Bursa

stockbit screenshot

Upaya peningkatan tingkat literasi keuangan (financial literacy) di Indonesia selama ini menyentuh berbagai bidang. Salah satunya mengajak masyarakat untuk mau mencoba dunia investasi, contohnya di pasar saham.

Dengan aneka peranti riset dan analisis yang dimilikinya, Stockbit hadir setelah melihat potensi itu untuk membantu masyarakat dalam membuat keputusan investasi saham yang lebih baik di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Stockbit menawarkan opsi baru kepada investor retail (mereka yang menjalankan jual beli saham sendiri, tanpa bantuan lembaga keuangan/broker saham) seperti data keuangan fundamental dengan kualitas institusi, screener saham, ringkasan kinerja perusahaan, dan aplikasi charting yang menunjukkan harga dan indikator lainnya secara real time.

Investor juga dapat berbagi analisis dan mendiskusikan sentimen pasar terbaru secara real time di platform jejaring sosial dan komunitas yang tersedia. Untuk pertama kalinya, sesama investor di Indonesia dapat berkomunikasi dan mengikuti apa yang investor lain sedang lakukan dari dalam platform.

Mendasarkan platformnya di atas teknologi cloud, Stockbit memungkinkan investor untuk memantau harga dan kinerja saham dari mana saja. Pengguna juga bisa menyimpan gambaran chart terbaru untuk dilihat atau dilanjutkan lagi di kemudian waktu.

“Pasar saham Indonesia, seperti yang terjadi di banyak negara berkembang, tidaklah efisien. Salah satu penyebabnya ialah kurangnya data yang tersedia dan teknologi yang gampang diakses,” jelas Wellson Lo (Co-Founder dan CEO Stockbit) dalam keterangan pers.

“Kami yakin bahwa dengan sebuah platform analisis online yang didukung dengan data berkualitas, pasar akan bisa berkembang lebih cepat melalui kolaborasi analisis yang lebih baik. Dengan alat dan komunitas yang mendukung, kami percaya bahwa Stockbit memiliki potensi untuk merevitalisasi industri ini dalam jangka panjang,” lanjut Wellson.

Untuk menggunakan Stockbit, investor bisa mendaftar secara gratis, tapi dengan akses feature yang terbatas. Jika ingin menikmati seluruh layanan Stockbit tanpa batas, investor akan dikenakan biaya berlangganan Rp200 ribu/bulan (paket 1 bulan), Rp180 ribu/bulan (paket 6 bulan), atau Rp150 ribu/bulan (paket 1 tahun).

Stockbit membanggakan bahwa berbagai feature premium mereka memiliki kualitas setara dengan Bloomberg Terminal dengan harga yang jauh lebih terjangkau.

Stockbit mengklaim bahwa saat ini hampir 10% dari total investor retail terdaftar di Indonesia merupakan pengguna Stockbit. Mereka rata-rata menghabiskan waktu 8 menit setiap kunjungannya. Perusahaan mencatat 15% pertumbuhan organik tiap bulan dalam hal jumlah pengguna unik.

Investasi dari Ideosource

Pada 23 September lalu, Stockbit mengumumkan perolehan investasi tahap awal dari Ideosource, perusahaan modal ventura lokal. Melalui dana yang diperoleh, Stockbit berencana untuk masuk ke ranah perangkat mobile. Mereka juga akan menggunakan dananya untuk mengembangkan produk, mendorong pemasaran, dan perekrutan.

“Stockbit cukup menarik karena mereka bisa memberikan ranah permainan yang lebih adil antara investor institusi dan retail di Indonesia,” ujar Andrias Ekoyuono (VP of Business Development, Ideosource). “Mereka juga berada di pasar yang akan berkembang pesat ke depannya. Hal ini tercermin dari target Otoritas Jasa Keuangan yang ingin menarik hingga lima juta investor retail pada tahun 2017,” lanjutnya.

Dalam waktu dekat, Stockbit akan meluncurkan aplikasi Android dan iOS. Mereka juga akan menyediakan jasa broker agar pengguna dapat berinvestasi langsung melalui Stockbit.

Semua ini sejalan dengan visi startup besutan Wellson Lo dan Johny Susanto ini, yaitu menyediakan platform terintegrasi yang lengkap agar investor di Indonesia dapat berkembang di pasar saham lokal.

Epicor Digelari ERP Terbaik untuk Industri Manufaktur di Asia

Ajang Asian Manufacturing Awards 2015 digelar di Singapura.
Ajang Asian Manufacturing Awards 2015 digelar di Singapura.

Epicor, pemimpin global di bisnis solusi perangkat lunak untuk manufaktur, distribusi, retail, dan jasa, pada 30 September lalu berhasil memperoleh penghargaan sebagai “Best ERP Systems Provider” dalam ajang Asian Manufacturing Awards 2015.

Ini adalah ketiga kalinya Epicor meraih gelar pada kategori yang sama setelah penghargaan perdana yang diterimanya pada tahun 2012.

Pada acara yang dilangsungkan di Singapura tersebut, Epicor diakui memiliki kedalaman fungsi ERP, standar kinerja yang tinggi, serta kemudahan dalam pemakaian yang ditawarkan kepada industri manufaktur di seluruh Asia.

Penghargaan ini menggarisbawahi semangat visioner, inovatif, dan teknologi yang berfokus kepada industri yang ditawarkan Epicor, selain juga dedikasinya dalam mendukung pendidikan di bidang manufaktur di wilayah Asia. Penghargaan ini juga menunjukkan kepercayaan para pelanggan di wilayah Asia akan kemampuan Epicor dalam membantu mereka untuk meraih hasil nyata dalam investasi, peningkatan produktivitas melalui produk-produk yang inovatif, serta kemajuan dalam hal kinerja dan fitur,

 

 

Dalam memberikan penghargaan tersebut, Contineo Media sebagai penyelenggara menjelaskan, “Kriteria penjurian didasarkan atas empat kategori, yakni dampak kepada pelanggan, keterlibatan, penetrasi pasar, dan inovasi. Epicor kembali membuktikan bahwa solusi ERP mereka memberi keuntungan besar bagi sektor manufaktur.”

Dibangun 100% di atas arsitektur yang berfokus pada pelayanan dan teknologi Microsoft .NET, Epicor ERP bersifat end-to-end, solusi software berspesifikasi industri yang memberikan kebebasan penuh akan pengambilan pilihan untuk pelaksanaan–mulai on-premise, hosted, hingga penyimpanan cloud sebagai solusi software as a service (SaaS).

“Dengan perkembangan teknologi terbaru seperti media sosial, penggunaan telepon seluler, dan keberadaan cloud, kami dituntut untuk selalu inovatif. Memenangkan penghargaan ini memberikan bukti bahwa kalangan manufaktur mendukung teknologi ERP Epicor untuk membantu mereka menjadi lebih gesit dan inovatif, dengan tetap memiliki sisi kompetitif yang diperlukan. Kemenangan yang ketiga kalinya ini merupakan sebuah kehormatan bagi kami,” ujar Craig Charlton (Senior Vice President, Epicor Asia Pasifik).

Jack Dorsey Kembali Pimpin Twitter, Adam Bain Jadi COO

Jack Dorsey (kiri) dan Adam Bain (kanan) menjadi dua kandidat terkuat CEO Twitter pengganti Dick Costolo. [Foto: Forbes, Recode]
Jack Dorsey (kiri) dan Adam Bain (kanan). [Foto: Forbes, Recode]
Setelah melakukan proses pencarian selama empat bulan, dewan direksi Twitter akhirnya menunjuk Jack Dorsey sebagai CEO baru untuk menggantikan Dick Costolo yang telah resmi mundur pada Juli lalu.

Ini adalah kesempatan kedua bagi Dorsey untuk memimpin Twitter setelah pertama kali menjabat CEO Twitter pada tahun 2006 – 2008. Ketika Costolo mundur pun, Dorsey-lah yang memegang posisi selaku CEO interim (sementara) sampai kemudian diangkat menjadi CEO tetap pada hari Senin (5/10).

Dengan demikian, Dorsey saat ini secara bersamaan menduduki kursi CEO untuk dua perusahaan teknologi besar, Twitter dan Square (penyedia layanan pembayaran mobile).

Guna membantu peran Dorsey selaku CEO, Twitter juga menunjuk Adam Bain sebagai COO (Chief Operating Officer). Bain sebelumnya disebut-sebut sebagai salah satu kandidat terkuat CEO karena berpengalaman menangani sales dan partnership di Twitter.

Melalui akun Twitter pribadinya, Jack Dorsey mengungkapkan rencana yang akan ia lakukan di Twitter. “Fokus saya adalah membangun tim yang bergerak cepat dan belajar lebih cepat lagi. Dalam tiga bulan terakhir, kami sudah berhasil meningkatkan kecepatan dan urgensi, baik di Twitter maupun Square.”

“Twitter adalah sarana yang mendukung kebebasan berekspresi.. alat komunikasi yang paling efektif di masa kini. Twitter bisa menunjukkan apa yang dunia bicarakan 10 – 15 menit lebih awal daripada media lain. Tugas kami adalah membuat Twitter lebih mudah dimengerti oleh siapa saja, dan memberi lebih banyak fasilitas bagi orang-orang yang sudah menggunakannya setiap hari,” sambung Dorsey.

Pada akhir tahun ini, Twitter rencananya akan meluncurkan feature baru dengan kode “Project Lightning” yang akan menampilkan aneka konten yang berkaitan dengan topik-topik pembicaraan terhangat pada waktu itu. Feature ini bisa dinikmati tanpa perlu login ke Twitter.

Konten seperti teks, foto, dan video dari Twitter, Periscope, dan Vine akan disusun oleh tim kurator berdasarkan topik yang sedang ramai dibicarakan. Pengguna dapat melihatnya di situs Twitter ataupun situs web dan aplikasi lainnya yang menyematkan (embed) informasi tersebut di halamannya.

BenQ B502: Ramping dan Terjangkau

Dok.BenQ
Dok.BenQ

Di tahun 2015 ini, BenQ mencoba menembus pasar smartphone di tanah air dengan menghadirkan BenQ B502. Mengusung konsep lifestyle smartphone bagi kaum hawa, BenQ B502 hadir dengan dua varian, yang antara lain dibedakan oleh kapasitas RAM dan memori internal. Dan kali ini, InfoKomputer berkesempatan menguji tipe berkapasitas RAM 1 GB yang dikombinasikan dengan memori internal 8 GB.

Bentuk fisik produk ini minimalis dan ramping dengan ketebalan yang hanya 6,99 mm, sehingga membuatnya merupakan salah satu smartphone tertipis di kelasnya. Namun produk ini tetap nyaman digenggam. Seluruh tombol fisik ditempatkan di sisi kanan. Hanya saja, posisi tombol volume dan power yang terlalu berdekatan membuat pengguna berjari besar agak kesulitan saat hendak mengambil gambar (screenshot) menggunakan kombinasi tombol volume down + power tersebut.

BenQ B502 menggunakan user interface dengan nama Q Home UI, yang meniadakan App Drawer. Ini membuat aplikasi yang terpasang akan ditampilkan pada layar berikutnya. Beberapa aplikasi yang disertakan tidak terlalu memberatkan kinerja produk ini. Terbukti, perpindahan layar terlihat lancar tanpa jeda. Guna meminimalkan tampilan aplikasi yang penuh sesak, pengguna bisa mengelompokkannya ke dalam folder.

Produk ini mendukung dua SIM baik via jaringan 2G maupun 3G, namun tidak mendukung 4G LTE. Uniknya, setiap selot SIM mendukung jenis kartu berbeda. Jika selot pertama untuk jenis miniSIM, selot kedua bisa digunakan pada kartu jenis microSIM. Penempatan kartunya juga agak berbeda dengan kebanyakan ponsel lainnya, yakni dengan posisi miring.

Daya tarik lainnya terdapat pada fungsi kamera depan dan belakang. Bagi penyuka selfie, mode Face Beauty bisa menjadi andalan. Pasalnya, pengguna tidak perlu menggunakan aplikasi pihak ketiga untuk memperhalus foto wajah. Hasilnya memang terlihat sedikit berbeda dibandingkan jika pengguna tidak menggunakan mode ini.

Non-removable  BenQ B502 menggunakan jenis baterai yang tidak bisa dilepas dengan kapasitas 1.800 mAh.
Non-removable
BenQ B502 menggunakan jenis baterai yang tidak bisa dilepas dengan kapasitas 1.800 mAh.
Kamera Andalan Daya tarik BenQ B502 terletak pada kamera utama dengan resolusi 13 megapixel dan kamera depan 5 megapixel. Kamera ini memiliki dukungan mode Face Beauty guna memperhalus tampilan wajah.
Kamera Andalan
Daya tarik BenQ B502 terletak pada kamera utama dengan resolusi 13 megapixel dan kamera depan 5 megapixel. Kamera ini memiliki dukungan mode Face Beauty guna memperhalus tampilan wajah.

Hasil uji

PengujianBenQ B502
Antutu Benchmark 5.618260
PCMark – Work Performance Score1993
3Dmark - Ice Storm3157
3Dmark - Ice Storm Extreme2073
3Dmark - Ice Storm Unlimited2861
GeekBench 3 - Single Core353
GeekBench 3 - Multi Core1185

PLUS: Desain ramping, kinerja baik, layar tajam, spesifikasi bagus dengan harga terjangkau, mode Face Beauty.

MINUS: Tombol volume dan power terlalu berdekatan, hasil foto kurang maksimal di kondisi gelap, belum 4G.

SpesifikasiBenQ B502
ProsesorMediaTek MT6582 Quad Core 1,3 GHz
RAM1 GB/2 GB
Chip grafisMali-400 MP
Jaringan seluler2G: GSM 850/900/1.800/1.900 MHz, 3G: HSDPA 900/2.100 MHz
Kapasitas penyimpan internal8 GB/16 GB
Dukungan sambungan nirkabelWi-Fi (802.11 b/g/n), Bluetooth 4.0
Koneksi lainMicro-USB
KameraBelakang: 13 megapixel A/F dilengkapi dengan LED flash, Depan: 5 megapixel
Layar5” IPS HD 720 x 1280 pixel @294 ppi capacitive 5 point touch
Kapasitas bateraiNon-removable 1.800 mAh
Bobot /dimensi125 gram/14,4 x 6,97 x 0,69 cm
Sistem operasiAndroid 4.4.2 (KitKat), Q Home UI
Situs Webwww.benq.co.id
Garansi1 tahun
Harga (kisaran)Rp1.799.000 (8 GB)/Rp2.199.000 (16 GB)

Strategi Keamanan Tradisional Rawan Dibobol Malware Modern

Andreas Kagawa (Country Manager Trend Micro Indonesia).
Andreas Kagawa (Country Manager Trend Micro Indonesia).

Selain gagal mengatasi serangan yang mengeksploitasi celah keamanan zero day, banyak perusahaan yang kerap tidak menyadari ketika lingkungan TI mereka tengah diterobos paksa oleh penjahat cyber.

Strategi pertahanan keamanan tradisional yang selama ini dipercaya oleh perusahaan, pada kenyataannya tidak mampu mengenali malware modern maupun metode-metode serangan mutakhir yang memang belum pernah ditemui olehnya.

Tameng keamanan standar yang diterapkan di jaringan, gateway, dan endpoint, memiliki peranan penting dalam melindungi data serta operasional di lembaga-lembaga. Namun, tameng keamanan standar tersebut memiliki banyak kelemahan dan keterbatasan dalam kemampuan untuk mendeteksi ancaman dan melakukan eksekusi secara real-time.

Bahkan, supaya dapat berfungsi dengan baik dalam melakukan upaya pendeteksian, sistem ini juga begitu bergantung pada adanya signature massal (mass signature) dan harus melakukan pembaruan reputasi dan kemampuan (reputation update) terlebih dahulu.

Oleh karena itu, mereka kerap tidak mampu melakukan pendeteksian, terlebih lagi melakukan pertahanan keamanan, terhadap adanya serangan bertarget yang dengan sengaja dibidikkan kepada mereka.

Lebih dari itu, pengelola TI di perusahaan dituntut untuk mengetahui celah-celah dan peluang yang biasa menjadi andalan bagi para penjahat cyber dalam melancarkan aksinya, seperti advanced reconnaissance, spear-phishing emails, embedded payloads, dynamic command and control, serta BYOD & remote employees.

Rekomendasi Trend Micro

Dalam rangka melawan ancaman dan aksi kejahatan cyber, lembaga bisnis dan pemerintahan sudah sepatutnya menerapkan solusi perlindungan keamanan menyeluruh yang memiliki mekanisme pertahanan bersiklus penuh, meliputi:

  • Prevent: Strategi penelaahan dan pencegahan secara proaktif terhadap potensi munculnya celah-celah keamanan di sistem sekaligus mampu menyediakan perlindungan menyeluruh di lingkup endpoint, server, maupun aplikasi.
  • Detect:  Strategi keamanan yang mampu mendeteksi adanya malware tingkat tinggi, ancaman, maupun vektor-vektor serangan, bahkan sebelum mereka berhasil mendekat.
  • Analyze:  Mampu menyelami jaringan kecerdasan keamanan guna melakukan analisis terhadap seluruh dampak yang mungkin ditimbulkan akibat adanya ancaman-ancaman keamanan tersebut, dilakukan secara real-time.
  • Respond: Memprioritaskan dilakukannya remediasi pada area-area utama yang membutuhkan, serta mampu mengimplementasikan langkah-langkah perlindungan kilat guna mencegah lebih lanjut, sebelum telanjur makin membahayakan.

“Dengan semakin tingginya intensitas serangan cyber, lembaga-lembaga perlu menyadari bahwa mereka kini rentan dan tidak mungkin dapat menyingkirkan ancaman keamanan secara sendirian. Trend Micro menyampaikan perlunya perubahan pola pikir dalam menerapkan strategi keamanan TI di lingkup perusahaan maupun pemerintahan, serta pentingnya mencari peranti maupun strategi baru yang tepat yang ampuh dalam menghalau setiap risiko keamanan,” papar Andreas Kagawa (Country Manager, Trend Micro Indonesia).

“Singkatnya, perubahan pola pikir hendaknya juga diikuti dengan penerapan pendekatan baru yang lebih strategis dalam menerapkan keamanan cyber,” sebut Andreas.

Trend Micro: Penjahat Cyber Sering Eksploitasi Celah Keamanan Zero-Day

Myla Pilao (Director, TrendLabs Research, Trend Micro).
Myla Pilao (Director, TrendLabs Research, Trend Micro).

Maraknya serangan dan kejahatan cyber terhadap organisasi swasta maupun lembaga pemerintahan di berbagai negara ternyata tidak lepas dari kelalaian objek yang diserang. Mereka gagal menemukan celah keamanan (vulnerability) yang sebagian bersifat zero-day sehingga rawan disusupi oleh para penjahat cyber.

Zero-day merupakan celah keamanan pada sistem dan aplikasi yang tidak diketahui sebelumnya oleh pengembang atau organisasi. Celah ini justru ditemukan oleh penjahat cyber yang mengakibatkan organisasi tidak punya cukup waktu untuk mengantisipasi serangan.

Dari Januari hingga akhir Juli 2015, periset Trend Micro berhasil mengungkap ditemukannya celah-celah keamanan dengan 30 persen di antaranya adalah zero-day. Dua di antaranya digunakan dalam aksi serangan canggih yang begitu menyita perhatian, yakni pada Operation Pawn Storm dan serangan yang diarahkan ke Korea dan Jepang.

Sebanyak 57 zero-day yang patut mendapat perhatian khalayak ternyata telah umum ditemui dalam aplikasi-aplikasi desktop. Delapan di antaranya ditemukan oleh periset keamanan Trend Micro.

Trend Micro juga mencatat tumbuhnya beragam vulnerability secara signifikan di sistem operasi mobile dan OS X sejak kemunculannya pada tahun 2014. Berbagai jenis serangan liar, atau yang dikenal sebagai zero-day exploit toolkit yang diciptakan oleh Hacking Team, juga menyertakan shellcode yang dirancang secara canggih untuk menyerang sistem OS X 64-bit.

“Di tengah merajalelanya serangan cyber, lembaga bisnis dan pemerintahan dituntut untuk mulai menyadari pentingnya membekali diri dalam rangka menghadapi setiap ancaman dan tantangan terkait keamanan TI serta selalu sigap untuk membarui strategi keamanan yang telah mereka terapkan,” tutur Myla Pilao (Director, TrendLabs Research, Trend Micro) di dalam acara Cybercrime 2015 di Jakarta, Kamis (1/10).

“Data merupakan aset yang begitu berharga, sehingga para penjahat begitu getol untuk membidiknya, bahkan sampai menciptakan metode-metode serangan mutakhir untuk mendukung setiap aksi mereka. Oleh karena itu, lembaga bisnis maupun pemerintahan diharapkan juga semakin giat dalam mengasah kemampuan mereka, mempersiapkan peranti, serta memperkuat infrastruktur keamanan sehingga mampu memerangi setiap ancaman yang hadir, sekaligus untuk memperkokoh pertahanan cyber yang mereka terapkan,” imbau Pilao.

 

SanDisk Bikin Memori Flash “Tahan Banting”

sandisk industrial

Peranti IoT seperti sensor, meter, atau mesin yang dioperasikan di lapangan membutuhkan komponen yang kuat, tahan terhadap suhu ekstrem dan harus lebih awet. Guna memenuhi kebutuhan itu, SanDisk membikin kartu memori yang “tahan banting”, yaitu SanDisk Industrial yang terdiri dari kartu SD, microSD, dan eMMC (embedded MultiMediaCard).

Kelebihan dari memori flash SanDisk Industrial antara lain tahan terhadap suhu ekstrem. Contohnya SanDisk Industrial XT SD Cards dan embedded flash drive XT iNAND tahan pada suhu minus 40 derajat Celcius. Bandingkan dengan kartu SD konsumer yang paling hanya tahan pada suhu -25 derajat Celcius.

SanDisk Industrial juga dirancang lebih awet. Untuk kamera video yang beroperasi jauh di lapangan misalnya, kartu memorinya harus mampu bekerja paling tidak selama 5 tahun atau menulis data hingga 128TB. Ini jauh lebih awet dari memori flash jenis consumer-grade. Sebab, bila memori sering diganti akan merepotkan dan menambah biaya untuk teknisi di lapangan.

SanDisk menerapkan densitas dan kecepatan maksimum yang dapat dicapai oleh memori flash untuk produk industri ini. Tetapi memori heavy-duty ini dibuat dengan manufacturing process 19-nanometer yang lebih lama, bukan 15-nanometer yang baru.

Selain awet dan tahan cuaca, SanDisk Industrial juga memiliki feature Enhanced Power Immunity yang mencegah hilangnya data karena daya listrik mati mendadak. Firmware di dalamnya yang akan melakukan pemulihan data ketika daya listrik terputus.

SanDisk Industrial tentu akan lebih mahal dibandingkan dengan yang consumer-grade dan tersedia hanya untuk para produsen peralatan saja. Pilihan kapasitasnya 4GB, 8GB, dan sampai 64GB.

Review Smartphone