Arsip Harian: Oct 8, 2015

Oppo R1x: Mewah di Kelas Menengah

oppo-1a

Oppo tampaknya membuat desain premium menjadi salah satu gen dasar dalam menghadirkan smartphone di seri R. Ya, setelah menguji smartphone Oppo R5 yang tampil dengan desain mewah dan dimensi yang sangat tipis di beberapa edisi lalu, kini kami kembali kedatangan smartphone kelas atas Oppo, yaitu R1x.

Dari sisi desain, smartphone Oppo R1x hadir dengan tampilan yang hampir serupa dengan pendahulunya, Oppo R5. Smartphone ini tampil dengan desain premium yang terlihat sangat mewah berkat penggunaan frame berbahan metal di sekeliling smartphone ini. Penggunaan frame metal ini juga membuat smartphone ini terasa cukup kokoh walaupun memiliki ukuran yang terbilang tipis. Ketipisannya memang masih kalah jika dibandingkan dengan R5, yaitu 0,68 cm berbanding 0,49 cm (Oppo R5). Ukuran keseluruhannya adalah sekitar 14 x 7,01 x 0,68 cm, masih lebih ramping jika dibandingkan dengan smartphone lain di kelasnya. Bobotnya yang sekitar 130 gram masih terasa cukup ringan dan nyaman untuk digunakan.

Bagian depan Oppo R1x diisi dengan kamera depan yang diletakkan di bagian atas layar lima incinya, bersebelahan dengan sensor proximity. Di bagian bawah layar terdapat tiga buah tombol soft touch yang masing-masing berfungsi sebagai tombol menu, home, dan back. Tombol menu dan home masing-masing juga bisa berfungsi sebagai tombol task switch dan search apabila ditekan selama beberapa detik. Sayangnya, ketiga tombol ini tak dilengkapi dengan backlight sehingga akan sedikit menyulitkan saat digunakan di tempat gelap. Resolusi layarnya yang hanya 720 x 1280 pixel memang tertinggal jika dibandingkan smartphone lain di kelasnya yang umumnya telah memiliki resolusi full HD.

Di bagian belakangnya, Oppo menggunakan material kaca safir yang membuatnya terlihat makin mewah. Apalagi bagian belakangnya ini juga memunyai corak menyerupai berlian yang didapat dari teknik 3D. Hasilnya, bagian belakangnya terlihat sangat elegan dan pola berliannya mampu membuat efek pantulan cahaya yang unik. Namun, material kaca ini juga membuat Oppo R1x ini jadi rentan kotor dan licin karena bekas sentuhan jari.

Chip 64 bit Qualcomm Snapdragon 615 menjadi otak utama smartphone Oppo R1x ini. Chip ini memiliki prosesor delapan inti dengan konfigurasi prosesor empat inti Cortex A53 1,7 GHz dan empat inti sisanya bekerja pada kecepatan 1 GHz. Kombinasi prosesor ini akan bekerja secara bergantian, sesuai dengan kebutuhan dan beban aplikasi yang dijalankan. Sementara dalam hal multitasking, Oppo R1x ini terbilang cukup gesit menjalankan beberapa aplikasi sekaligus dan berpindah dari satu aplikasi ke aplikasi lainnya berkat kapasitas RAM sebesar 2 GB. Oppo juga menyediakan penyimpanan internal sebesar 16 GB dengan tambahan sebuah selot memori eksternal microSD yang mendukung kapasitas sampai 128 GB.

Oppo memiliki teknologi yang disebut VOOC untuk mengisi baterai dengan cepat. Sayangnya, Oppo R1x ini tidak kompatibel dengan teknologi tersebut. Charger yang diberikan dalam paketnya pun hanya charger biasa.

Kamera belakang milik Oppo R1x memiliki resolusi tiga belas MP dengan dukungan video hingga full HD (1920 x 1080 pixel). Tersedia juga beberapa fungsi seperti slow shutter, night mode, ultra HD mode (untuk mengambil foto dengan resolusi besar), dan juga expert mode dengan pengaturan manual yang lengkap untuk mengatur white balance, shutter speed, ISO, hingga titik fokus. Kamera depannya memiliki resolusi lima megapixel.

Elegan: Bagian belakangnya didesain khusus dengan efek 3D yang membuatnya sangat elegan.
Elegan: Bagian belakangnya didesain khusus dengan efek 3D yang membuatnya sangat elegan.
MicroSD: Selot nano SIM di SIM 2 berfungsi ganda sebagai tempat untuk kartu microSD.
MicroSD: Selot nano SIM di SIM 2 berfungsi ganda sebagai tempat untuk kartu microSD.
Manajemen: Security Center menyediakan sejumlah fungsi untuk mengamankan smartphone Anda sekaligus melakukan beberapa pengaturan lain.
Manajemen: Security Center menyediakan sejumlah fungsi untuk mengamankan smartphone Anda sekaligus melakukan beberapa pengaturan lain.
Fungsi Manual: Aplikasi kamera Oppo R1x memiliki fungsi manual yang terbilang lengkap jika Anda termasuk penyuka fotografi.
Fungsi Manual: Aplikasi kamera Oppo R1x memiliki fungsi manual yang terbilang lengkap jika Anda termasuk penyuka fotografi.
Warna-warni: Bosan dengan theme standar? Jika ya, ganti saja sesuai dengan keinginan Anda.
Warna-warni: Bosan dengan theme standar? Jika ya, ganti saja sesuai dengan keinginan Anda.

Hasil uji

PengujianOppo R1x
Antutu Benchmark 5.630247
PCMark – Work Performance Score3434
3Dmark - Ice Storm9138
3Dmark - Ice Storm Extreme5711
3Dmark - Ice Storm Unlimited8804
GeekBench 3 - Single Core617
GeekBench 3 - Multi Core2035

Plus: Desain ramping, kinerja responsif, SIM ganda, ada selot kartu memori eksternal.

Minus: Tombol soft touch tanpa backlight, rawan kotor, baterai tak bisa dilepas, resolusi layar belum full HD, tanpa NFC, kapasitas baterai kurang besar.

SpesifikasiOppo R1x
ProsesorQualcomm MSM8939 Snapdragon 615
RAM2 GB
Chip grafisAdreno 405
Jaringan selulerHSDPA 850/900/1.700/1.800/1.900/2.100, LTE 1.800/2.100/2.600
Kapasitas penyimpan internal16 GB
Dukungan sambungan nirkabelUSB (mendukung OTG), Wi-Fi 802.11 b/g/n, Bluetooth 4.0, GPS
Kamera13 megapixel (belakang), 5 megapixel (depan)
Layar5 inci 720 x 1280
Kapasitas baterai2.420 mAh
Bobot /dimensi130 gram/140,6 x 70,1 x 6,8 mm
Sistem operasiAndroid 4.4.4 (KitKat) dengan antarmuka Color OS 2.1
Situs Webwww.oppomobile.co.id
Garansi1 tahun
Harga (kisaran)Rp4.299.000

Inilah Strategi Microsoft Cloud untuk Bersaing dengan AWS dan Google

Anthonius Henricus (tengah) mengungkapkan strategi Microsoft dalam bersaing dengan Amazon  untuk memasarkan teknologi cloud computing.
Anthonius Henricus (tengah) mengungkapkan strategi Microsoft dalam bersaing dengan Amazon untuk memasarkan teknologi cloud computing.

Di bawah kepemimpinan Satya Nadella, Microsoft terlihat sangat serius dalam memasarkan solusi cloud computing-nya, seperti Azure dan Office 365. Namun, di arena ini, mereka harus menghadapi persaingan ketat dengan Amazon Web Services (AWS) dan Google.

Tergambar dari Gartner Magic Quadrant untuk kategori Infrastructure-as-a-Service (IaaS) Provider pada tahun 2015, posisi Microsoft masih berada di bawah Amazon, meski sama-sama menduduki kuadran Leaders.

Lantas, bagaimana strategi raksasa asal Redmond itu dalam menjalani kompetisi ini?

“Kami mengakui bahwa kami terlambat masuk ke pasar cloud [daripada Amazon]. Tapi, dalam waktu singkat ini, kami sudah berhasil memiliki berbagai feature yang lengkap untuk bersaing dengan AWS. Apalagi, kami punya keunggulan sebagai penyedia true hybrid solutions,” papar Anthonius Henricus (Developer Experience and Evangelism Director, Microsoft Indonesia) di tengah konferensi pers Microsoft Tech Days 2015.

Seperti diketahui, Amazon sampai saat ini memang masih sangat berfokus pada solusi public cloud, sementara kompetitor lainnya, seperti Microsoft dan VMware, terang-terangan lebih mendukung lingkungan hybrid cloud. Hal ini menguntungkan bagi mereka, khususnya dalam mendekati perusahaan-perusahaan enterprise yang masih enggan memindahkan seluruh sumber daya mereka ke public cloud.

“Selain melengkapi feature, strategi Microsoft adalah meningkatkan tingkat adopsi cloud ke segala segmen. Bukan hanya perusahaan, melainkan juga startup company dan incubator,” ujar Anthonius.

“Kami telah menggelar program BizSpark yang memberikan fasilitas Azure gratis kepada startup potensial senilai US$750/bulan selama tiga tahun. Kalau bisnisnya sukses, mereka bisa bergabung dengan BizSpark Plus yang memberi Azure gratis senilai US$120 ribu,” lanjutnya.

Selain itu, Microsoft juga aktif memperkenalkan teknologi cloud ke berbagai kampus serta menyelenggarakan hackathon (lomba pembuatan aplikasi) di daerah-daerah. Anak-anak muda ini akan dibimbing dari sisi teknis, kewirausahaan, dan pengetahuan bisnis.

Lebih Efisien dan Kompetitif

“Kami melihat bahwa penggunaan cloud di kalangan perusahaan terus bertumbuh, tapi justru di kalangan startup yang jauh lebih meningkat,” tukas Anthonius.

Pernyataan Anthonius tersebut diperkuat oleh Alfonsus Bram (CEO, ViBiCloud). Sebagai Gold Partner Microsoft dalam menyediakan teknologi cloud, ViBiCloud selama ini aktif mendorong para pelanggannya untuk pindah ke awan.

“Teknologi cloud memang memungkinkan UKM untuk menjadi lebih efisien dan menumbuhkan bisnis mereka ke level enterprise,” kata dia.

Sementara itu, Sjafril Effendi (Presiden Direktur, PT Mitra Integrasi Informatika) mengungkapkan bahwa semakin banyak perusahaan enterprise yang mau mencoba solusi cloud Microsoft. Sektor industrinya pun beragam, dari perbankan, FMCG (Fast Moving Consumer Goods), sampai maskapai penerbangan.

“Mereka paham bahwa solusi cloud lebih kompetitif daripada on-premise,” tuturnya.

Microsoft Dukung Keterbukaan Platform di TechDays 2015

microsoft tech days windows 10

Menyadari selera dan kebutuhan konsumen yang bervariasi, Microsoft tidak lagi keukeuh mengusung platform tunggal dan tertutup di dalam ekosistem Windows. Inisiatif keterbukaan yang sebenarnya sudah cukup lama mereka bawa, kembali ditegaskan melalui acara TechDays 2015 di Jakarta.

Microsoft telah memperkenalkan berbagai solusi teknologi terbaru, baik yang baru saja diluncurkan maupun yang masih dalam tahap uji publik, yang memungkinkan para pengembang dan profesional TI untuk semakin mudah melakukan kolaborasi antara aplikasi berbasis teknologi non-Microsoft dengan teknologi Microsoft.

”Di era yang semakin mobile-first, cloud first saat ini, Microsoft percaya bahwa teknologi harus semakin inklusif. Strategi openness merupakan kunci untuk meningkatkan kolaborasi serta produktivitas bagi para penggunanya, baik developer dan profesional TI, bisnis, maupun pengguna secara umum,” ujar Anthonius Henricus (Developer Experience and Evangelism Director, Microsoft Indonesia).

Dalam TechDays tahun ini, Microsoft memperkenalkan solusi teknologi Microsoft yang semakin terbuka dengan platform non-Microsoft lainnya. Contohnya membahas strategi kombinasi teknologi Microsoft dengan open source seperti Git dan Linux, cara mudah membuat aplikasi yang dapat berjalan di berbagai platform, dan cara memindahkan aplikasi Android serta iOS ke platform Windows 10.

“Pengembang Android bisa mengubah aplikasi Android-nya ke Windows 10 dengan Project Astoria (nama kode untuk Windows Bridge for Android), sedangkan pengembang iOS bisa menggunakan Project Islandwood (nama kode untuk Windows Bridge for iOS),” kata Anthonius.

Kevin Systrom: Menyatukan Fotografi dan Teknologi di Instagram

Kevin Systrom (Pendiri dan CEO, Instagram).
“Jika Anda mendapat ide, lakukan sekarang. Tidak ada waktu yang lebih baik untuk memulai dibanding sekarang,” kata Kevin Systrom (Pendiri dan CEO, Instagram). [sumber: CNBC]
Resmi berusia lima tahun pada 5 Oktober 2015 lalu, Instagram berhasil menyandang status sebagai aplikasi berbagi foto paling populer di dunia.

Melalui Instagram, para pengguna bisa melihat beragam foto-foto dan juga video yang memukau. Para pengguna juga bisa saling berinteraksi atau mengomentari sebuah foto dan video.

Instagram kini memiliki 300 juta pengguna dengan 70 juta foto diunggah setiap harinya. Para selebriti dan tokoh-tokoh dunia menggunakan Instagram untuk menjangkau para penggemar di berbagai belahan dunia. Ada Taylor Swift, Kim Kardashian, atau Justin Bieber yang masing-masing memiliki lebih dari 20 juta pengikut. Apa yang mereka unggah di Instagram selalu memunculkan kehebohan di ranah jagad maya.

Instagram lahir dari tangan Kevin Systrom, seorang anak muda yang terobsesi pada dunia teknologi dan fotografi. Obsesinya pada sesuatu yang menarik minat itulah yang mendorong Systrom menangguk sukses dari startup-nya.

Mengejar Obsesi

Systrom lahir di Holliston, Massachusetts, pada 30 Desember 1983. Ayahnya seorang vice president SDM dari perusahaan peralatan rumah tangga East Coast. Ibunya, Diane merupakan veteran teknologi yang pernah bekerja di Monster.com, pada masa awal booming startup.

“Ibu saya sudah bekerja di startup bahkan sebelum startup menjadi terkenal,” kata Systrom dalam wawancaranya dengan Telegraph.

Pekerjaan ibunyalah yang membawa kecintaan Systrom pada dunia teknologi. Ia mulai mengotak-atik program komputer sejak remaja yakni membuat program yang bisa meretas dan menjahili akuntan AOL Instant Messenger milik temannya.

Namun, pekerjaan pertama Systrom justru sama sekali tidak berhubungan dengan teknologi. Ketika remaja, ia begitu terobsesi untuk bekerja di sebuah toko kaset rekaman di Newburry Street. “Saya terobsesi menjadi DJ,” katanya kepada Fortune.

Setiap hari, Systrom mengirim surat elektronik kepada toko tersebut untuk mendapatkan pekerjaan. Hingga akhirnya toko tersebut menerimanya dan Systrom bekerja beberapa jam dalam seminggu.

Berkat pengalamannya di Boston Beat, Systrom segera membuka klub DJ di Boston. Namun, Systrom harus dibantu seorang temannya yang lebih tua karena ketika itu ia belum berusia delapan belas tahun. Pekerjaan ini menyadarkan Systrom bagaimana obsesi terus mendorongnya untuk mewujudkan keinginannya.

“Satu hal tentang latar belakang saya adalah saya sangat terobsesi dengan sesuatu,” ujarnya.

Systrom kemudian melanjutkan pendidikannya di Stanford. Awalnya, ia ingin belajar ilmu komputer sesuai dengan minatnya selama ini. Namun, jurusan tersebut ternyata lebih banyak teori ketimbang praktik. Systro memutuskan pindah jurusan ke program management science dan engineering yang dianggapnya lebih banyak praktik ketimbang teori.

Selama waktu luangnya, Systrom mengotak-atik sejumlah situs. Salah satunya adalah situs fotografi yang dibangunnya bersama-sama teman perkumpulan persaudaraan kampus untuk berbagi foto secara internal. Situs itu membuatnya tersadar bahwa dirinya sangat tertarik pada dunia teknologi.

Menjelang tahun akhir kuliahnya, Systrom sempat mengambil progam magang di Odeo, sebuah startup podcast yang diciptakan Evan Williams, salah satu pendiri Twitter. Di Odeo itu, Systrom juga berkenalan dengan pendiri Twitter lainnya, Jack Dorsey. Dorsey sangat berperan bagi perkembangan Instagram di kemudian hari.

Systrom kemudian mendapatkan kesempatan untuk bekerja di sejumlah perusahaan teknologi termasuk Microsoft, Google, dan berakhir di Nextstop. Di Nextstop inilah ia mendapatkan peluang yang selalu diimpikannya yakni menulis kode dan menciptakan program apps untuk website, termasuk permainan untuk foto-foto.

Foto pertama yang diunggah Kevin Systrom ke Instagram. [sumber: Mashable]
Foto pertama yang diunggah Kevin Systrom ke Instagram. [sumber: Mashable]
Terinspirasi Kekasih

Pekerjaannya di Nextstop memicu gairah Systrom untuk membuat aplikasi berbagi foto. Ia berhasil menciptakan Burbn yakni sebuah purwarupa (prototype) aplikasi berbagi foto berbasis lokasi. Burbn berhasil menarik venture capitalist dari San Fransisco hingga US$500 ribu.  Systrom akhirnya memutuskan berhenti dari Nextstop dan berfokus mengembangkan Burbn.

Ketika mulai mengembangkan Burbn, Systrom menyadari banyak startup yang sukses karena dikerjakan secara berpasangan. Ia pun menawarkan kerja sama kepada yuniornya di Stanford, Mike Krieger. Sayangnya, Burbn tidak berkembang pesat karena aplikasinya dianggap terlalu rumit. Sebuah titik balik ditemukan Systrom dari pacar yang kini menjadi tunangannya, Nicole Schuetz.

Saat itu, mereka berdua sedang berjalan di pantai. Kepada Nicole, Systrom menyatakan harus melakukan sesuatu agar perusahaannya bertahan. Di situlah muncul ide untuk membuat filter untuk membuat hasil foto menjadi sangat menawan. Systrom kemudian membuat filter foto bernama X-Pro II. Bentuk awal aplikasi tersebut masih ada hingga kini. Foto pertama yang diunggah pada 16 Juli 2010 adalah kaki Nicole dan seekor anjing yang tersasar.

“Kalau tahu ini akan menjadi foto pertama di Instagram, saya akan mencoba lebih keras,” kelakar Systrom.

Pada 6 Oktober 2010, Burbn secara resmi berubah menjadi Instagram. Lebih dari 25 ribu orang mengunduhnya dalam waktu kurang dari 24 jam. Respons cepat ini disebabkan karena Dorsey mencoba Instagram dan mengunggahnya pada situs jejaring sosialnya. Pengguna Instagram melonjak dan dalam kurun waktu sekitar tiga bulan sejak peluncurannya sudah menembus 1 juta pengguna.

Instagram digemari karena kemudahannya dalam berbagi foto dan video. Pengguna juga bisa saling bertukar pesan, berkomentar, dan mendapatkan efek foto yang menawan.

Kurang dari dua tahun berjalan, Instagram menarik minat pendiri Facebook, Mark Zuckerberg. Pada April 2012,  Facebook membeli Instagram senilai US$1 miliar. Systrom mengantongi US$400 juta dari penjualan itu dan tetap menjadi CEO. Mark Zuckerberg juga membolehkan Sytrom untuk menjalankan Instagram secara independen, sedangkan Krieger memimpin tim teknis.

Zuckerberg sempat diledek karena mau membayar 1 miliar dolar untuk sebuah perusahaan tanpa situs. Nyatanya, Instagram tetap merupakan sebuah produk yang sukses. Setahun setelah akuisisi oleh Facebook, nilai Instagram ditaksir oleh analis mencapai US$35 miliar.

Pangeran Arab ini Kalahkan CEO Twitter

pangeran arabSeorang Pangeran Arab telah meningkatkan kepemilikannya di Twitter, walhasil ia pun menjadi pemegang saham terbesar kedua di perusahaan yang berbasis di San Francisco ini.

Pada 2011 lalu, Pangeran Alwaleed Bin Talal Bin Abdulaziz Alsaud menginvestasikan sebesar US$300 juta, namun kini jumlah itu meningkat menjadi 34.900.000 juta saham Twitter.

Secara persentase, Alwaleed menguasai saham sebesar 5,2%, lebih besar dari saham Co-founder Twitter sekaligus CEO Twitter yang baru, Jack Dorsey sebesar 3,2% atau 21.860.000. Sementara itu pendiri Twitter, Ev Williams tetap bertengger sebagai pemegang saham terbesar perusahaan, sebesar 46.560.000 atau 6,9%.

Investasi ini seperti sebuah janji yang diucapkan Alwaleed pada Juni lalu yang mengatakan akan mendukung Twitter jika Dorsey mengambil peran sebagai CEO. Alwaleed meyakini, Dorsey adalah orang baik yang akan membawa Twitter kepada masa kejayaan.

Alwaleed saat ini menjabat sebagai pemilik mayoritas dan ketua Kingdom Holding Company, ia juga merupakan investor yang signifikan dalam News Corp, Citigroup, dan Four Seasons Hotels and Resorts.

Meski menjadi investor terbesar di Twitter, namun Pangeran Arab ini tidak begitu aktif menggunakan akunnya. Alwaleed memiliki 3 juta follower dan baru melakukan tweet sekitar 171 kali sejak bergabung dengan jejaring sosial tersebut pada 2013.

Wah, Facebook Akan Pancarkan Internet Lewat Satelit

facebook internet satelit amos-6

Sebagai bagian dari menyukseskan program Internet.org yang diusungnya, Facebook berencana menyediakan akses internet melalui bantuan satelit. Tujuannya adalah memperluas akses internet kepada daerah-daerah yang sulit dijangkau, dalam hal ini sebagian besar wilayah Gurun Sahara di Afrika.

Rencana ini diungkapkan Mark Zuckerberg (CEO, Facebook) dalam sebuah post di akun Facebook pribadinya.

“Kami berkolaborasi dengan Eutelsat untuk meluncurkan sebuah satelit yang akan menghubungkan jutaan orang di dunia. Satelit bernama AMOS-6 ini akan diluncurkan pada tahun 2016 menuju orbit geostasioner yang akan menjangkau sebagian besar Afrika bagian Barat, Timur, dan Selatan,” jelas Zuckerberg.

“Kami akan bekerjasama dengan partner lokal di wilayah-wilayah ini untuk membantu komunitas memperoleh akses internet yang disediakan lewat satelit ini,” lanjutnya.

Proyek peluncuran satelit AMOS-6 ini menyusul inisiatif lainnya yang digagas Facebook pada akhir Juli lalu, yakni menerbangkan drone bernama Aquila, dengan tujuan yang sama: memperluas akses internet di daerah terpencil.

Aquila adalah pesawat tanpa awak dengan bodi 42 meter (selebar Boeing 737) dan memiliki bobot 400 kg. Pesawat ini akan terbang di ketinggian antara 60 dan 90 ribu kaki (20 – 30 km), di atas ketinggian yang biasa dilalui pesawat komersial, sehingga terbebas dari hambatan cuaca.

Dengan menerbangkan Aquila, Facebook berharap bisa menjangkau 10% populasi di dunia yang saat ini belum mendapatkan akses ke internet.

IT Leadership Forum 2015: Saatnya Meningkatkan Pelayanan Masyarakat

Untuk memberikan penyegaran informasi kepada aparat penyelenggara negara, InfoKomputer mengadakan acara IT Leadership Forum 2015 di Legian, Bali.

Pada acara bertema Smart Public Services ini, puluhan peserta yang berasal dari divisi TI berbagai departemen dan lembaga negara mendengarkan penjelasan mengenai tren teknologi saat ini yang bisa meningkatkan pelayanan kepada masyarakat.

Saat membuka acara, Wisnu Nugroho (Editor in Chief, InfoKomputer) memaparkan beberapa contoh penerapan teknologi yang telah membantu banyak pemerintah di berbagai negara.

“Contohnya di kota Santander, Spanyol, yang menanamkan 22 ribu sensor untuk menangkap dinamika kota,” ungkap Wisnu. Sensor tersebut digunakan untuk memonitor ketersediaan lahan parkir, penerangan jalan, sampai volume tempat sampah. Semua sensor tersebut memungkinkan pemerintah kota Santander melayani warganya secara efektif.

Jika sensor masih terasa mahal, pemerintah kota sebenarnya bisa melibatkan “sensor manusia”, yaitu laporan masyarakat. “Hal inilah yang dilakukan Pemprov DKI melalui aplikasi QLUE,” tambah Wisnu. Dengan melibatkan partisipasi masyarakat, informasi berkualitas pun kini dimiliki pemerintah kota.

Dalam acara tersebut, hadir pula VMware yang menyajikan informasi mengenai pentingnya inovasi. “Saat ini kita berada di era liquid world,” ungkap Adi Rusli (Country Manager VMware Indonesia) merujuk banyaknya startup baru di berbagai industri yang menggusur eksistensi perusahaan mapan. “Artinya, kita harus selalu melakukan inovasi untuk bisa bersaing,” tambahnya.

Dalam konteks pelayanan publik, inovasi bisa dilakukan dengan memanfaatkan teknologi secara cepat, efisien, dan rendah biaya.

Partner lain yang hadir di acara ini adalah EMC yang menyajikan informasi mengenai strategi menyukseskan transformasi. “Contohnya saat ini kita bisa memilih antara infrastruktur on-premise dan cloud,“ ungkap Rekiardi Soenario (Advisory Specialist System Engineer, EMC).

Variasi teknologi ini berefek positif bagi pengguna karena memungkinkan kita memilih kombinasi teknologi yang paling sesuai kebutuhan. Namun di sisi lain, banyaknya pilihan juga harus dibarengi dengan kemudahan pengelolaan agar sisi operasional bisa maksimal.

Transformasi TI di BUMN

Agar peserta mendapatkan gambaran lebih jelas mengenai keefektifan inisiatif teknologi, acara tersebut juga menghadirkan narasumber dari PT Kereta Api Indonesia (KAI) dan Asuransi Kredit Indonesia (Askrindo).

Eris Imron (PT KAI) menceritakan kisah transformasi KAI yang dimulai dengan membenahi sistem tiket. Sistem tiket yang selama ini disebar di berbagai stasiun dikonsolidasi ke satu titik sehingga lebih mudah dikelola. “Rencana KAI ke depan adalah membangun DRC yang active-active,” imbuh Eris.

Sedangkan Petrus Benyamin dari Askrindo berbagi kisah konsolidasi dan virtualisasi yang dilakukan perusahaan BUMN tersebut. “Dulu kami memiliki 42 server fisik di berbagai cabang,” cerita Petrus. Namun server sebanyak itu juga tidak mampu menjawab kebutuhan dan kecepatan layanan yang dibutuhkan Askrindo.

Akhirnya Askrindo mengambil inisiatif melakukan konsolidasi server mereka ke satu titik lalu melakukan virtualisasi. “Baru 10 server yang kami virtualisasi, namun efeknya sudah sangat terasa,” ujarnya.

InfoKomputer berharap, acara ini dapat memberi pencerahan bagi penyelenggara pemerintahan untuk memanfaatkan teknologi. Dengan begitu, masyarakat Indonesia pun akan mendapatkan pelayanan terbaik dari aparat negara.

Prediksi Gartner: Bersiaplah Dipimpin oleh Robo-Boss

Cyber operator

Robot akan semakin berkembang dan sedikit demi sedikit akan menggantikan pekerjaan manusia. Bahkan menurut Gartner, akan ada robot yang menjadi bos di perusahaan. Maka bersiaplah!

Itu salah satu prediksi Gartner dari sepuluh lainnya. Setiap tahun Gartner menyampaikan prediksinya mengenai perkembangan teknologi dan dampaknya pada tahun-tahun mendatang. Inilah prediksinya tahun ini yang disampaikan pada Symposium Itxpo 2015 di Orlando, yang berlangsung pada 4 – 8 Oktober 2015.

  1. Penulis sudah mulai digantikan oleh robot. Menurut Gartner, pada 2018, 20% konten bisnis, yaitu sekitar satu dari lima dokumen, akan ditulis oleh mesin. Kini laporan anggaran, berita olah raga, dan laporan bisnis sudah ditulis oleh komputer. Keunggulannya, penulis robot lebih jujur, tidak bias.
  2. Enam miliar connected things butuh support pada tahun 2018. Di era digital business, perusahaan perlu mulai memandang things sebagai customer yang perlu dilayani. Connected things seperti customer butuh layanan dan data.
  3. Agen software otomatis yang tidak perlu pengawasan dan campur tangan manusia pada tahun 2020 akan berpartisipasi sebesar 5% pada transaksi ekonomi. Agen software semacam itu kini sudah mulai melaksanakan transaksi tanpa butuh bantuan manusia.
  4. Robot akan menjadi bos manusia, pada tahun 2018 sudah lebih dari 3 juta pekerja disupervisi oleh bos robot! Kini, robot “sudah mulai bisa” mengambil keputusan, selain itu pengukuran kinerja karyawan berdasarkan hasil juga sudah dikomputerisasi.
  5. Sampai akhir tahun 2018, 20% smart building akan mengalami digital vandalism. Tidak hanya gedung perkantoran, tetapi juga rumah pintar, akan semakin rentan terhadap gangguan tangan-tangan jahil dengan semakin tergantungnya pada sistem dan semakin terkoneksinya ke sistem luar.
  6. Pada tahun 2018, 45% perusahaan akan memiliki lebih sedikit karyawan dan menggunakan mesin pintar (smart machine). Kecepatan, penghematan biaya, peningkatan produktivitas, dan skalabilitas dari mesin pintar untuk pekerjaan tertentu jauh lebih bagus dan menguntungkan ketimbang merekrut dan kemudian melatih pegawai.
  7. Pada tahun 2018, digital assistant akan mengenali muka dan suara orang. Teknologi biometrik sudah sejak lama ada, dan sekarang sudah berkembang jauh lebih bagus.
  8. Pada tahun 2018, 2 juta karyawan diharuskan mengenakan peranti pengawasan kesehatan dan kebugaran. Ini dibutuhkan untuk melihat apakah seorang karyawan masih cocok dengan pekerjaan yang ditanganinya. Pekerjaan tertentu, seperti petugas keselamatan dan keamanan umum, menuntut kondisi badan yang sehat dan bugar.
  9. Sampai tahun 2020, smart agent akan memfasilitasi 40% interaksi mobile, hal ini bersamaan dengan mulainya era post-app. Virtual personal assistant yang antara lain dapat memprediksi kebutuhan penggunanya seperti Apple Siri akan semakin pintar.
  10. Hingga 2020, 95% kebocoran sekuriti cloud merupakan kesalahan customer-nya.

Review Smartphone