Arsip Harian: Oct 12, 2015

Lee Kanghyun: Tetap Optimistis dengan Bisnis Samsung di Indonesia

Lee Kanghyun (VP Corporate Business Samsung Indonesia). [Foto: Abdul Aziz]
Lee Kanghyun (VP Corporate Business Samsung Indonesia). [Foto: Abdul Aziz]
Berbincang dengan Lee Kanghyun akan membuat rasa nasionalisme meningkat. Setidaknya itulah yang kami rasakan saat berkesempatan mewawancarai pria asal Korea Selatan yang selama dua puluh tahun bekerja di Indonesia tersebut.

“Ini negara yang benar-benar fantastis,” sebut Lee dengan bahasa Indonesia yang fasih. Ketika bertemu sesama warga negara Korea Selatan, Lee selalu mengatakan betapa beruntungnya mereka pernah datang ke Indonesia.

Kecintaan Lee terhadap Indonesia bahkan terbentuk jauh sebelum ia bekerja di Samsung. Semua berawal kala Lee masih kuliah, ketika ia mendapat surat dari seseorang di Indonesia. “Dia mengirimkan surat dan mengatakan ingin berteman dengan orang Korea,” cerita Lee.

Mereka pun akhirnya rajin berkorespondensi sampai akhirnya Lee memberanikan diri datang ke Jakarta. Tinggal selama seminggu di tengah keluarga sahabat penanya itu membuat Lee jatuh cinta kepada kehangatan keluarga tersebut—dan juga keramahan bangsa ini.

Keakraban Lee dengan Indonesia inilah yang mungkin menjelaskan mengapa di tahun 1994 Samsung menugaskan Lee untuk menjadi manajer pabrik Samsung di Cikarang.

Penugasan Lee pun sebenarnya di luar kebiasaan. Samsung sangat berhati-hati memilih karyawan yang menjadi “wajah” Samsung di negara asing, sehingga mereka biasanya memilih karyawan yang berpengalaman di atas sepuluh tahun. Namun Lee mendapat kepercayaan itu saat ia belum genap dua tahun bekerja di Samsung “Waktu itu semua juga pada kaget,” kenang Lee sambil tertawa.

Setelah lima tahun di Cikarang, Lee kemudian pindah ke kantor pusat Samsung di Jakarta untuk memimpin penjualan ponsel dan monitor. Di tahun pertamanya, Lee sukses membawa monitor Samsung menjadi nomor satu dan ponsel Samsung menjadi nomor dua di Indonesia. Kesuksesan lebih besar diraih di tahun 2004, ketika Samsung dipercaya menangani infrastuktur CDMA Telkom dan Mobile8 (sekarang Smartfren) senilai US$500 juta.

Lee pun dianugerahi Samsung Chairman Award dan dipercaya memegang penjualan AC di tingkat global. Namun di tahun 2012, Lee kembali ditempatkan di Indonesia.

Serius di Enterprise

Lee saat ini menjabat Vice President Corporate Business Samsung Indonesia yang mengurus bisnis di bidang B2B, government relationship, serta CSR. Salah satu fokus Lee saat ini adalah memasarkan solusi Samsung di segmen enterprise yang telah dimulai sejak dua tahun lalu. “Jadi Samsung tidak cuma perusahaan B2C saja, namun juga B2B dan B2G,” kata Lee.

Luasnya rentang produk Samsung adalah kekuatan yang ingin ditonjolkan Samsung. “Yang paling penting adalah konvergensi karena Samsung memiliki semua produk,” ungkap Lee.

Contohnya adalah bagaimana pengguna bisa langsung mencetak atau mengatur pendingin udara lewat smartphone. Contoh lain adalah kelas pintar ketika guru memberikan materi pelajaran lewat media televisi dan para murid mengaksesnya menggunakan komputer tablet. “Cuma Samsung yang bisa konvergensi semua produk tersebut,” klaim Lee.

Namun Lee mengaku, tantangan terbesar yang harus dihadapi saat ini adalah mengubah mindset konsumen. “Banyak customer yang menganggap produk Samsung terbatas di consumer product,” ujar Lee. Untuk menjawab tantangan tersebut, Lee mengaku telah mempelajari cara kerja perusahaan enterprise yang telah mapan. Samsung juga terus memperkuat sisi R&D agar dapat menghasilkan solusi yang inovatif.

Dengan semua strategi itu, Lee yakin Samsung akan menjadi pemain penting di dunia enterprise. “Saya pikir 3 – 5 tahun mendatang Samsung akan menjadi ranking lima secara global,” tukas pria yang menikahi wanita asal Indonesia dan telah dikaruniai tiga putra tersebut.

Masa Berat

Selama bekerja di Indonesia, Lee mengalami banyak kenangan yang tak terlupakan. Contohnya pada tahun 2000, ketika penyelundupan barang elektronika begitu marak di Indonesia. Lee, yang kala itu menjabat wakil ketua Gabungan Perusahaan Industri Elektronika Indonesia, dengan lantang menyuarakan penegakan hukum yang lebih serius terhadap barang selundupan.

“Walaupun sekarang industri consumer electronic dan IT turun, handphone tetap stabil. Jadi Samsung mendingan dibanding perusahaan elektronika lain,” ungkap Lee.
“Walaupun sekarang industri consumer electronic dan IT turun, handphone tetap stabil. Jadi Samsung mendingan dibanding perusahaan elektronika lain,” ungkap Lee.

“Saat itu saya tiap hari masuk koran,” Lee mengenang. Suara vokal Lee menimbulkan konsekuensi munculnya tekanan berat dari para mafia penyelundupan. Untungnya perjuangan Lee berhasil, sehingga kini penyelundupan barang elektronik relatif kecil.

Namun jika ditanya pengalaman paling berharga, Lee menunjuk tahun 1997. Kala itu, krisis ekonomi yang melanda Indonesia mengharuskan Samsung merumahkan hingga enam ratus karyawannya. Lee, yang sudah menganggap karyawannya sebagai keluarga besar, mengaku sangat sedih. “Mungkin selama tiga bulan, tiap hari saya menangis,” Lee mengakui.

Pengalaman pahit itu kembali membayang di tengah perekonomian Indonesia yang masih lesu. Samsung memang masih bisa bertahan, namun tidak untuk perusahaan elektronika lain. Melonjaknya harga dolar dan menurunnya daya beli masyarakat membuat ekonomi Indonesia di awal tahun ini sangat lesu.

“Elektronik kira-kira turun 30 – 40%,” ungkap Lee menggambarkan susahnya kondisi saat ini. Beberapa perusahaan elektronika bahkan sudah menghentikan produksi, sehingga Lee memperkirakan banyak karyawan yang dirumahkan sehabis Lebaran ini.

Lee mengaku beruntung Samsung tidak perlu melakukan langkah pahit itu itu. Bisnis Samsung sangat terbantu pasar smartphone di Indonesia yang masih stabil meskipun berada di situasi ekonomi seperti sekarang. “Walaupun sekarang industri consumer electronic dan IT turun, handphone tetap stabil. Jadi Samsung mendingan dibanding perusahaan elektronika lain,” ungkap Lee dengan blak-blakan.

Tetap Optimistis

Namun pengalaman lama di Indonesia membuat Lee optimistis kondisi akan membaik. “Meskipun ada krisis, Indonesia selalu tetap maju,” Lee mengungkapkan keyakinannya.

Keoptimisan itu juga didasari profil jumlah penduduk Indonesia yang besar dan mayoritas berada di usia produktif. Yang terpenting di situasi sulit seperti sekarang adalah berusaha bertahan sampai kondisi membaik. “Jika sampai hengkang atau melupakan pasar Indonesia, itu rugi besar,” imbuh Lee. Keoptimisan itu selalu Lee dengungkan di komunitas pengusaha Korea Selatan di Indonesia.

Lee, yang kini menjabat President of Korean Chamber Commerce yang beranggotakan dua ribu pengusaha, juga selalu mengingatkan besarnya sumbangan Indonesia terhadap pengusaha Korea Selatan selama ini. “Tidak cuma secara bisnis, namun juga kehidupan sehari-hari,” kata pria yang dalam waktu dekat akan menunaikan ibadah haji tersebut.

Menurut Lee, keakraban dan persahabatan yang diberikan masyarakat Indonesia selama ini seharusnya menjadi alasan untuk pengusaha terus bertahan, termasuk di situasi sulit seperti sekarang.

Satu yang pasti, Lee akan terus bertahan. Ia secara khusus telah meminta kantor pusat Samsung untuk selamanya menempatkannya di Indonesia. Apalagi, Lee telah memiliki banyak keluarga di Indonesia. Selain keluarga inti, Lee memiliki keluarga dari sahabat pena, keluarga dari ayah angkat asal Aceh, bahkan keluarga dari mantan calon istrinya sebelumnya. “Kami gagal [menikah] tapi saya akrab dengan orangtuanya,” tukasnya sambil tertawa lepas.

Lee bahkan tidak menutup kemungkinan pindah menjadi warga negara Indonesia. “Sudah kepikiran, kita lihat saja nanti,” pungkasnya.

Mahasiswa Malang Menangkan Microsoft CityApp Appathon

Tim Thor tampil sebagai pemenang Microsoft CityApp  Appathon yang diumumkan pada Jumat (9/10) lalu.
Tim Thor tampil sebagai pemenang Microsoft CityApp Appathon yang diumumkan pada Jumat (9/10) lalu.

Microsoft Indonesia bekerja sama dengan pemerintah kota Sidoarjo, Jawa Timur mengadakan CityApp Appathon. Kompetisi pembuatan aplikasi yang merupakan bagian dari Microsoft CityNext ini pun menjadi bagian dari inisiatif global yang berusaha untuk mengubah dan melakukan modernisasi terhadap pelaksaan operasional dan infrastruktur di berbagai kota.

Indonesia patut berbangga, karena bagian dari Microsoft CityNext ini memilih Sidoarjo sebagai salah satu kota di dunia untuk dimodifikasi menjadi lebih baik. Beberapa kota lain selain Indonesia adalah Changcun di Tiongkok, Makassar di Indonesia, dan Kathmandu di Nepal.

“Microsoft CityNext menggunakan pendekatan yang berpusat pada masyarakat untuk membantu kota-kota di Asia dalam mewujudkan visi ini. Kami sangat senang membantu masyarakat muda Sidoarjo untuk bergerak maju dengan proyek kemenangan mereka dan membuatnya menjadi kenyataan,” ujar Stefan Sjöström (Vice President Public Sector, Microsoft Asia).

Setelah bertarung selama dua hari, walhasil Microsoft mengumumkan tim Thor dari Universitas Kanjuruhan Malang (UNIKAMA) sebagai pemenang dari Microsoft CityApp Appathon. Tim Thor Tim Thor yang terdiri dari Taruna Yoga Pratama (22 tahun), Fathur Rohim (21 tahun), Mohammad Nurul Hakiki (20 tahun) dan Rico Tetuku Santoso (20 tahun) dengan pelatih Muhammad Ahsan menunjukkan keunggulannya dibanding peserta lain dengan proyek Road Report (ROAR).

Aplikasi ROAR yang mereka kerjakan memungkinkan warga untuk menandakan dan mengirim laporan kondisi jalanan yang buruk dengan menggunakan GPS (Global Positioning System) pada smartphone kepada otoritas lokal untuk mendapat tanggapan yang cepat.

Dalam pelaksanaannya kompetisi ini diselenggarakan oleh Microsoft dan CITYNET (Jaringan Regional Otoritas Lokal Pengelolaan Cipta Karya) di Sidoarjo dengan didukung oleh Universitas Muhammadiyah Sidoarjo.

Selain tim Thor, dua tim lainnya juga muncul sebagai pemenang. Di juara ke-2, tim Santoso Gaming dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) juga mengembangkan aplikasi yang dapat melaporkan kondisi jalan buruk. Aplikasi mereka menggunakan feature smartphone yang mendeteksi getaran dan akselerasi sebagai indikator. Pengguna kemudian melapor dengan mengambil foto dan menandai lokasi dengan GPS.

Di posisi ke-3, tim Capil Pantau dari Universitas Muhammadiyah Sidoarjo mengembangkan aplikasi yang memungkinkan warga untuk melacak layanan yang tengah diproses oleh Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Sidoarjo. Aplikasi ini bertujuan untuk menciptakan transparansi dan akuntabilitas pemerintah.

Secara keseluruhan, lebih dari 150 pemuda dan pelajar Jawa Timur telah berpartisipasi di Appathon yang berfokus pada teknologi komputasi awan dan mobile. Mereka ditantang untuk membuat solusi modern atas enam isu strategis yang dihadapi oleh kabupaten Sidoarjo, yakni populasi/administrasi demografis, pelayanan air bersih, infrastruktur jalan, keluhan pelayanan publik, pajak bumi dan bangunan, serta pelayanan lisensi.

SAP: Tantangan di Industri Perbankan Meningkat

Falk Rieker (Global Vice President and Global Head of Industry Business Unit Banking, SAP)
Falk Rieker (Global Vice President and Global Head of Industry Business Unit Banking, SAP)

SINGAPURA, InfoKomputer – Sampai tahun 2020, akan ada 200 miliar perangkat yang terkoneksi dalam Internet of Things. Sementara pada tahun 2025, hampir separuh perusahaan dengan pendapatan lebih dari satu juta dolar Amerika Serikat akan berkantor pusat di emerging market. Tiongkok diperkirakan akan memiliki perusahaan semacam ini lebih banyak daripada yang dimiliki oleh Amerika Serikat dan Eropa.

Demikian pembuka yang disampaikan oleh Falk Rieker (Global Vice President and Global Head of Industry Business Unit Banking, SAP) dalam acara SAP Media Day hari ini (12/10) di Singapura.

Falk Rieker melanjutkan bahwa industri perbankan akan menghadapi tantangan yang makin meningkat di era digital ini. “Ini karena meningkatnya globalisasi, meningkatnya kompetisi, adanya siklus inovasi yang lebih cepat (yang membutuhkan kapabilitas, kanal, dan model yang baru), serta makin banyaknya berbagai risiko yang diakibatkan oleh krisis fnansial dan geopolitik,” ujarnya.

Selain itu, Falk Rieker menambahkan bahwa faktor lain seperti kompleksnya industri perbankan dan layanan keuangan serta perubahan dalam regulasi-regulasi di tiap negara merupakan tantangan lain yang juga harus diperhatikan oleh industri perbankan.

Untuk menghadapi aneka tantangan ini, Falk Rieker menyatakan bahwa SAP memiliki aneka solusi untuk menyederhanakan industri perbankan. “Solusi SAP bersifat automation, real time, fleksibel, mengurangi biaya, menekankan regulasi, serta mengutamakan simplifikasi,” katanya lagi. Semuanya ini menurut Rieker merupakan basis bagi keberadaan industri perbankan digital, yang akan memainkan peran di masa mendatang.

Falk Rieker menambahkan bahwa jaringan bisnis perusahaan akan mendorong perusahaan meraih mitra keuangan secara terintegrasi. Industri keuangan dan perbankan juga akan menjadi pendukung rantai pasokan digital (digital supply chain).

“SAP memainkan peran penting dalam industri perbankan. Misalnya, SAP menghubungkan lebih dari 1,5 juta perusahaan di 190 negara dalam jaringan Ariba Network. Ariba Network sendiri merupakan jaringan business-to-business terbesar di dunia,” katanya lagi.

SAP: Simplifikasi, Masa Depan Industri Perbankan

info
Scott Russell (Chief Operations Officer, SAP Asia Pacific Japan)

SINGAPURA, InfoKomputer – Di masa depan, dunia perbankan dan industri finansial dituntut untuk bisa bergerak cepat mengikuti teknologi dan kebutuhan nasabah.

Selain menerapkan aneka solusi dan bersikap inovatif serta menggunakan platform digital yang aman, dunia perbankan harus memiliki sifat personalized dengan lingkungan dan pengalaman yang konsisten di semua kanal. Yang lebih penting, industri perbankan di masa depan membutuhkan simplikasi.

Itulah penekanan yang diuraikan oleh Scott Russell (Chief Operations Officer, SAP Asia Pacific Japan) dalam presentasinya di acara SAP Media Day di Singapura, hari ini (12/10).

Menurut Scott, industri perbankan dan keuangan saat ini memiliki beberapa tantangan, antara lain kompleksitas, kurangnya personalisasi nasabah atau konsumen, serta persyaratan dari regulator yang berubah sesuai perkembangan zaman.

Scott menambahkan bahwa saat ini, perbankan memasuki ekonomi digital yang bersifat hyperconnected. “Saat ini, terdapat sekitar 50 juta perangkat yang terhubung ke internet di Asia Pasifik. Revolusi digital telah menjalar termasuk ke industri perbankan, dan perbankan serta industri finansial harus memiliki model operasi alternatif untuk tetap bisa bertahan di era ini,” ujarnya.

Scott menambahkan bahwa industri perbankan dan keuangan saat ini harus melakuka tindakan untuk mengantisipasi era digital ini. Caranya melakukan beberapa hal antara lain, mengubah model penyajian layanan yang sudah ketinggalan zaman, memfokuskan diri pada nasabah sebagai strategi bisnis inti, memperkuat keunggulan saat ini, serta memberi nilai tambah baru terhadap klien yang sudah ada.

Selain itu, Scott menyatakan bahwa bank juga harus memiliki platform yang aman dan bisa dipercaya. Ini penting agar nasabah bisa merasakan kenyamanan dalam penggunaan perbankan di era digital saat ini di mana kejahatan perbankan makin marak terjadi.

Selain itu, dengan dukungan solusi SAP HANA Cloud Platform, pengolahan data nasabah serta aneka kegiatan perbankan lainnya akan bisa dilakukan dengan lebih baik dan cepat.

Inilah Cara Memastikan Data Center Anda Andal dan Efisien

Apakah data center saya efisien? Pertanyaan itu seharusnya menjadi pertanyaan wajib setiap perusahaan yang memiliki data center. Ketika teknologi informasi menjadi nadi bagi banyak perusahaan, memiliki data center yang andal adalah keharusan. Namun membangun data centeryang andal bukan berarti melupakan faktor efisiensi. Di tengah isu keterbatasan dan peningkatan harga energi, memiliki data center yang andal harus memasukkan faktor efisiensi ke dalamnya.

Hal itulah yang mendorong Schneider Electric membuat sebuah program yang disebut Energy Tiered Efficiency Program atau disingkat EnergySTEP1. Ini adalah sebuah program yang mengevaluasi efisiensi sebuah data center melalui serangkaian evaluasi mendalam. Tim ahli dari Schneider Electric akan datang dan mengevaluasi infrastruktur data center Anda, utamanya komponen yang memiliki konsumsi daya tertinggi.

Sebagai perusahaan global yang telah berpengalaman selama 170 tahun, Schneider Electric telah memiliki pengalaman panjang serta pemahaman mendalam mengenai manajemen kelistrikan. Schneider juga memiliki tim penilai yang yang berisi orang-orang terbaik di bidangnya, sehingga menjamin proses audit yang mendalam, transparan, dan dapat dipercaya.

Ada dua tahapan yang akan dilakukan Schnider Electric untuk mengevaluasi data center Anda. Tahap pertama adalah datang ke lokasi dan menggunakan software canggih untuk menganalisa komponen, tata letak, operational setting, dan proses yang mungkin menyebabkan inefisiensi atau mengancam system availability. Termasuk di dalam evaluasi adalah melihat konfigurasi rak, kapasitas UPS dan baterai, serta distribusi udara dalam data center.

Tahapan kedua evaluasi adalah menganalisa hasil data tersebut yang dilakukan oleh tim ahli dari Schneider Electric. Dari data yang ada, mereka akan menyusun sebuah scorecard yang menilai performa data center di sisi tata letak dan distribusi udara, pendingin udara ruangan data center, serta kapasitas dan efisiensi setiap rak, UPS, dan baterai. Scorecard tersebut akan menunjukkan bagaimana performa data center Anda jika dibandingkan rata-rata data center yang ada saat ini.

Selain penilaian, tim ahli tersebut juga akan memberikan rekomendasi apa yang harus perusahaan lakukan saat terjadi inefisiensi. Rekomendasi itu disajikan dalam bentuk prioritas sehingga perusahaan bisa mengetahui tindakan apa yang paling cepat dan efektif dalam meningkatkan efisiensi.

Tertarik mengikuti program ini? Daftarkan diri Anda di SEReply.com dan masukkan kode: 58163P. Syaratnya data center Anda harus terdiri dari minimum 10 rak server dan sudah berdiri lebih dari 5 tahun. Schneider Electric akan memilih 5 data center pertama yang didaftarkan dan memenuhi syarat untuk mendapatkan layanan gratis EnergyStep1 Assessment tersebut.

Amelia Siap Menggantikan Pekerjaan Anda

amelia

Prediksi Gartner mengenai robot yang akan menggantikan pekerjaan manusia dan bahkan menjadi bos dari karyawan manusia tentu bukanlah isapan jempol. Salah satu produk asisten virtual bernama Amelia sedikit banyak sudah membuktikan prediksi tersebut.

Siapa Amelia? Kalau Siri dari Apple dan Cortana dari Microsoft tentu sudah banyak yang kenal, tetapi Amelia yang “lahir” sejak tahun lalu, belum banyak yang mengenalnya. Amelia boleh dikata mirip dengan Siri dan Cortana, tetapi lebih “manusiawi”. Amelia lebih cerdas dan memahami perasaan lawan bicaranya.

Dirancang untuk mengotomatisasi customer support, Amelia 2.0 diluncurkan minggu lalu di event Symposium IT/xpo yang diselenggarakan Gartner. Menurut pembuatnya, IPsoft, Amelia 2.0 sudah mendekati lulus uji Turing. Persyaratan kelulusan uji Turing adalah bila orang sudah tidak dapat membedakan antara mesin dan manusia.

Secara fisik, Amelia dirupakan sebagai sosok wanita, yang kabarnya adalah foto dari mahasiswi University of Southern California. Ia merupakan avatar yang berekspresi sehingga customer merasa betah dengannya.

Pada versi 2.0, Amelia sudah memiliki kemampuan pemahaman yang lebih baik dan keterlibatan emosi karena perbaikan pada memorinya. Ia memiliki pemahaman secara kontekstual dan memberikan respon secara emosional.

Menurut IPsoft, Amelia sudah memiliki kecerdasan emosi. Selain itu, memori Amelia sekarang sudah mirip dengan pengorganisasian memori manusia sehingga percakapan bisa berlangsung secara natural. Ia juga memiliki mood dan vektor kepribadian yang kaya sehingga dapat memberikan pelayanan yang bersifat pribadi kepada pelanggannya.

Bisa dibayangkan dengan kemampuannya itu, Amelia akan menjadi “sosok” yang cerdas dengan daya ingat yang luar biasa, memiliki respons secara emosional, dan dapat memahami ekspresi lawan bicaranya melalui kamera. Ia akan menjadi customer service teladan dengan kemampuan bicara dalam 20 bahasa!

Pekerjaan Amelia bukanlah customer service biasa. Ia juga bukanlah sekretaris biasa seperti Siri. Amelia lebih cenderung untuk pekerjaan problem solving. Semakin banyak berhadapan dengan pelanggan, semakin pintar ia menangani masalah. Pekerjaan seperti pemrosesan hipotek, pemrosesan pengajuan pinjaman, melayani pengajuan asuransi, dan lain-lain.

Pekerjaan-pekerjaan pelayanan yang bersadasarkan SOP (standard operating procedure) dapat dilaksanakan oleh “agen” seperti Amelia. Bahkan ia dapat melaksanakannya lebih baik daripada manusia, kata pihak IPsoft.

Kalau sudah begitu, ada peluang kerja yang siap diambil oleh “bangsa” robot seperti Amelia. Tetapi IPsoft mengakui, Amelia tidak diserahi pekerjaan yang membutuhkan IQ. Sebab, IQ ada unsur proses pemikiran kreatif. Amelia tidak dapat melakukannya dengan baik di area ini. Tetapi untuk bidang-bidang yang telah ia pelajari, akan dieksekusinya tanpa cacat.

Game PC Masih Mendominasi Bisnis Game Digital

game rev

Di tengah maraknya game mobile, game berbasis komputer PC masih akan mendominasi bisnis game digital secara keseluruhan. Sementara itu, aneka teknologi baru akan memberi suntikan tenaga baru untuk game konsol yang diramalkan segera tamat riwayatnya.

Menurut data terbaru Juniper Research, bisnis game digital diprediksi akan menyumbang pendapatan sebesar lebih dari USD 80 triliun tahun ini, dan USD 104 triliun di tahun 2018.

Kontribusi terbesar akan datang dari game berbasis komputer PC. Tahun ini saja, pendapatan dari game komputer PC menguasai 42% dari total pendapatan bisnis game digital.

Seperti diperkirakan, game berbasis platform mobile terus memperlihatkan peningkatan pendapatan. Tahun 2020 sektor ini akan berkontribusi sekitar 35%, dengan pangsa pasar mendekati angka 32%. Pertumbuhan tersebut tak lepas dari popularitas game berkategori freemium yang memungkinkan user melakukan in-app purchase di beberapa game, seperti Clash of Clans, Candy Crush dan Game of War.

Bagaimana nasib game konsol? Umur game konsol diramalkan tidak lama lagi, tapi ternyata jenis permainan ini masih meraih pandapatan sebesar USD 21 triliun tahun ini dan USD 27 triliun di tahun 2018 nanti.

Melalui riset berjudul Worldwide Digital Games Market 2015-2020, Juniper menebarkan optimisme bahwa game konsol masih akan berevolusi, padahal platformnya sendiri sudah memasuki generasi ke-8.

Menurut penulis riset Juniper, Lauren Foye, “Seiring meningkatnya pembelian game secara digital oleh konsumen, penjualan konsol generasi saat ini masih akan terdorong penjualannya. Teknologi baru seperti Virtual Reality akan mendorong adopsi game konsol oleh konsumen, dan game konsol terus berevolusi menjadi bagian utama dari home entertainment centre.

Integrasi lintas platform juga akan menjadi jalan bagi game konsol untuk terus eksis. Microsoft akan membenamkan Windows 10 di Xbox One bulan November ini sehingga pengguna dapat memainkan game di PC maupun konsol.

Review Smartphone