Arsip Harian: Oct 13, 2015

LINE Lindungi Pesan Pengguna dengan Enkripsi Letter Sealing

line enkripsi letter sealing

Sebagai salah satu aplikasi chatting paling populer di dunia, LINE berkepentingan untuk memberi rasa aman bagi para penggunanya dalam berkirim pesan.

Oleh karena itu, langkah penting mereka umumkan hari ini (13/10) dengan merilis Letter Sealing, feature untuk melindungi pesan-pesan pengguna dari pihak yang tidak berwenang untuk mengaksesnya. Feature ini diterapkan untuk seluruh pertukaran pesan melalui aplikasi LINE di smartphone maupun PC Windows/Mac OS X.

Letter Sealing memungkinkan LINE untuk melakukan enkripsi sistem komunikasi secara menyeluruh (end-to-end encryption/E2EE). Metode ini mengacak konten percakapan pengguna serta melindunginya dengan sebuah kunci yang tersimpan hanya di perangkat pengguna, bukan di server pusat. Dengan demikian, tidak mungkin secara teknis untuk membongkar isi percakapan di server kepada pihak ketiga.

Pada awalnya, feature ini akan digunakan untuk melindungi percakapan individual satu ke satu orang dan berbagi lokasi (location-sharing). Selanjutnya akan diperluas untuk mencakup berbagai feature dan perangkat yang berbeda di masa datang.

Saat ini, Letter Sealing tersedia untuk pengguna aplikasi LINE versi 5.3.0 ke atas. Untuk Android, feature ini akan aktif secara default, sedangkan untuk iOS, bisa diaktifkan secara manual di bagian Settings > Chats & Voice Calls > Letter Sealing.

Sebelumnya, LINE telah menawarkan fasilitas keamanan bagi pengguna, meliputi hidden chat, pembatasan waktu berbalas pesan (time limited feature), dan penguncian aplikasi dengan passcode.

Dengan feature Letter Sealing, LINE menjadi penyedia aplikasi perpesanan (messaging) pertama yang menawarkan tingkat keamanan yang begitu canggih di seluruh platform dan perangkat berbeda.

Bank Commonwealth Indonesia Pakai Oracle FLEXCUBE untuk Tingkatkan Layanan Pelanggan

commbank_branch

Bank Commonwealth Indonesia meresmikan penggunaan solusi Oracle FLEXCUBE di jaringan perbankannya, dengan tujuan memberi layanan perbankan yang lebih cepat untuk sektor UKM dan retail melalui saluran perbankan modern, seperti perangkat mobile dan internet.

Ragam solusi yang saat ini sudah diterapkan yaitu Oracle FLEXCUBE Universal Banking, Oracle FLEXCUBE Investor Servicing, dan Oracle FLEXCUBE Direct Banking.

Arsitektur Oracle FLEXCUBE yang berpusat pada proses memungkinkan Bank Commonwealth untuk memberikan pengalaman pelanggan yang mulus dan sudah ditingkatkan, dengan menyediakan pandangan yang seragam serta konsisten mengenai hubungan pelanggan, dari saluran mana pun.

“Sejalan dengan visi kami untuk unggul dalam mengamankan dan meningatkan keuangan individu, bisnis dan komunitas, kami bertekad untuk selalu menempatkan pelanggan sebagai prioritas utama. Kami berkomitmen untuk memberikan pengalaman pelanggan terbaik di setiap interaksi,” kata Paul Setiawan Hasjim (Direktur Operasi dan Teknologi Informasi, Bank Commonwealth Indonesia).

“Dengan memilih Oracle FLEXCUBE, kami memiliki platform untuk membantu mencapai tujuan ini, sementara memberikan kemampuan pada kami untuk terus meningkatkan efisensi operasional, secara cepat menyediakan produk yang berdaya saing, serta secara konsisten menyediakan layanan yang didorong oleh wawasan pelanggan,” Paul melanjutkan.

Bank Commonwealth Indonesia memilih Oracle FLEXCUBE karena beberapa pertimbangan. Salah satunya karena arsitektur terintegrasinya yang mampu memenuhi kebutuhan bisnis bank tersebut. Selain itu, serta tersedianya fleksibilitas dan kemampuan untuk memperluas bisnis.

Dengan menerapkan Oracle FLEXCUBE, Bank Commonwealth Indonesia telah merampingkan operasional bisnisnya dan mengurangi keputusan yang berdasarkan dokumen, sementara mampu menawarkan layanan perbankan on-demand 24 jam di seluruh Indonesia.

“Oracle FLEXCUBE adalah pilihan pas untuk bank-bank seperti Bank Commonwealth yang fokus untuk memperluas keberadaannya di Indonesia dan berada di pasar dengan tuntutan tinggi,” kata Chet Kamat (Senior Vice President, Oracle).

Freelancer asal Indonesia Jadi Juara Kompetisi Desain NASA

nasa freelancer contest

Kabar membanggakan datang dari kompetisi desain model CAD (Computer-Aided Design) yang diadakan NASA bekerjasama dengan situs Freelancer.com. Tiga desainer paruh waktu asal Indonesia berhasil meraih juara di tiga kategori lomba, yaitu Ricky dari Cikarang, Haryo Priyonggo dari Banjarbaru, dan Gede Putu Suwastika Putra dari Bali.

Kehormatan paling tinggi diperoleh Gede Putu Suwastika yang berhasil mendapatkan juara pertama untuk kategori desain Soft Goods Task Panel dan Haryo Priyonggo yang memenangkan kategori desain Sheathed Hose. Sedangkan Ricky menempatkan dua desainnya sebagai juara ketiga di dua kategori, yakni desain Flashlight dan desain Drill Battery.

“Karena Indonesia merupakan salah satu dari lima negara dengan pertumbuhan pengguna tercepat di dunia dalam platform Freelancer.com dengan lebih dari 550.000 pengguna lokal, kami percaya bahwa kompetisi ini akan membuat para freelancer Indonesia dapat menunjukkan bakat mereka kepada dunia,” kata Helma Kusuma (Indonesia Country Manager, Freelancer.com).

“Kesempatan dari NASA ini merupakan sebuah cara untuk menunjukkan keahlian dari para profesional Indonesia yang kami koneksikan secara aktif dengan pebisnis dari berbagai belahan dunia. Kami mengharapkan lebih banyak lagi freelancer Indonesia berpartisipasi dalam kontes-kontes NASA berikutnya di platform kami,”  lanjut Helma.

Selama lebih dari dua bulan terakhir, NASA Tournament Lab (NTL) telah menyelenggarakan kontes berseri di Freelancer.com (https://www.freelancer.co.id/contest/challenges/nasa) untuk meng-crowdsource-kan sejumlah pekerjaan dan masalah yang dihadapi oleh NASA karena mereka sedang membangun kemampuan bagi eksplorasi luar angkasa.

Lebih dari seribu desainer di bidang UX, grafik, dan industri dari seluruh dunia memutuskan ambil bagian dalam tantangan tersebut dan membantu NASA mendorong batas imajinasi dan inovasi.

“Kami merasa terhormat menyambut NASA ke dalam komunitas 16,7 juta pengguna kami di dunia, membantu menciptakan teknologi-teknologi dan ide-ide yang dapat digunakan bagi eksplorasi luar angkasa sekarang dan di masa depan,” ujar Matt Barrie (Founder & CEO, Freelancer.com).

Kompetisi yang dilakukan baru-baru ini adalah proyek desain bagi aplikasi smartwatch untuk para astronot, ide-ide untuk aplikasi yang menggunakan protokol Disruption Tolerant Networking (DTN) dari NASA, sejumlah model CAD dari peralatan untuk Robonaut 2 (R2), serta desain-desain lainnya untuk produk yang akan digunakan di Stasiun Luar Angkasa Internasional dan berbagai tempat lainnya.

Salah satu anggota dari tim penilai adalah Vint Cerf, Vice President Google yang dikenal juga sebagai “Bapak Internet” karena hasil kerjanya membangun koleksi protokol TCP/IP yang menjadi kekuatan inti dari jaringan internet.

HP Dukung YouTube FanFest, Pencarian Bintang Video Kreatif Indonesia

hp youtube fanfest indonesia

Dalam rangka mencari anak muda kreatif untuk menjadi bintang video YouTube terbaru asal Indonesia, Hewlett-Packard (HP) mengumumkan dukungan mereka sebagai sponsor pagelaran YouTube FanFest Indonesia yang akan berlangsung pada Jumat, 23 Oktober 2015, di Skenoo Hall Gandaria City, Jakarta.

YouTube FanFest Indonesia akan menghadirkan deretan artis YouTube internasional, contohnya Kurt Hugo Schneider, Bethany Mota, Macy Kate, Mike Tompkins, dan Sam Tsui. Sejumlah artis YouTube Indonesia juga akan memeriahkan acara tersebut, di antaranya adalah Gamaliel Audrey Cantika (GAC), Edho Zell, Jakarta Beatbox, Skinny Indonesian 24, Young Lex, Natasha Farani, dan IndoVidGram.

“HP sebagai salah satu sponsor Youtube FanFest dan sebagai perusahaan teknologi mempersembahkan produk-produk laptop dan PC terbaru yang disesuaikan dengan kebutuhan anak muda untuk berkarya. HP mendukung seluruh anak muda agar dapat sukses dalam menjalankan passion seperti misi kampanye #bendtherules yang selalu digaungkan oleh HP,” kata Subin Joseph (President Director, HP Indonesia).

Tidak hanya mendukung konser para bintang video ini, HP bersama YouTube juga akan memberikan kesempatan untuk anak muda kreatif di Indonesia untuk bergabung ke YouTube “The Academy”, sebuah workshop pelatihan pembuatan video dan konten kreatif dan inspiratif selama 6 bulan yang akan dilatih langsung oleh YouTube Stars, salah satunya Kurt Hugo Schneider.

Periode pengumpulan video tantangan YouTube “The Academy” ini telah dibuka sejak 29 September dan akan ditutup pada tanggal 18 Oktober 2015. Dari video-video tersebut, HP akan memilih 20 finalis perorangan atau grup yang penilaiannya didasarkan pada 50% dari jumlah likes di akun YouTube peserta dan 50% berdasarkan keputusan tim internal HP.

Setiap finalis akan mendapatkan notebook hybrid HP Pavilion x2 dan akan dilatih selama 6 bulan oleh Youtube Star. Pada bulan ke-6, akan dipilih satu pemenang utama untuk mendapatkan hadiah sebesar US$2.000.

Untuk dapat mengikuti workshop ini, calon peserta akan diberikan dua tantangan langsung oleh para YouTube Stars internasional maupun nasional untuk membuat video sesuai dengan tema yang diberikan. Calon peserta diharuskan untuk mengirimkan konten kreatif dan inspiratif beserta dengan deskripsinya. Konten yang dikirimkan dapat berupa video dan diunggah ke situs hpshopping.id/youtubefanfest.

Selain menggelar “The Academy”, HP juga memberikan apresiasi kepada para fans YouTube dengan mengadakan kontes di Twitter melalui akun @hanyaHPuntukku untuk mendapatkan 100 tiket konser HP YouTube FanFest Indonesia.

Bagaimana Nasib Federasi EMC di Bawah Dell?

EMC2

Saat berdiri di tahun 1979, EMC memulai bisnis dengan memproduksi memory board. Di pertengahan 1980-an, EMC mulai memproduksi produk network storage, yang salah satunya adalah Simmetrix. Simmetrix inilah yang kemudian sukses besar, mengantarkan EMC menjadi perusahaan bernilai miliaran juta dolar.

Seperti perusahaan teknologi pada umumnya, EMC kemudian melakukan akuisisi untuk terus mengembangkan bisnisnya. Awalnya yang diakusisi adalah perusahaan storage seperti Data General, Softworks, FilePool, dan Allocity. Namun pada tahun 2004, EMC mengambil langkah besar dengan mengakuisisi VMware, perusahaan yang bergerak di bidang virtualisasi dengan nilai US$625 juta.

Setelah itu, EMC terus melakukan akuisisi di luar industri storage, seperti RSA (security), Pivotal (data analytics), dan VCE (infrastructure appliances). Karena memiliki perusahaan di berbagai sektor, EMC pun kemudian membuat perusahaan induk sendiri bernama EMC2. Sedangkan EMC “asli” yang bergerak di bidang storage berubah menjadi EMC II (Information Infrastructure).

Yang menarik, meski satu perusahaan, tiap perusahaan di bawah EMC2 tetap menjadi entitas tersendiri tanpa harus bergabung satu sama lain. Konsep ini oleh EMC disebut dengan The Federation. Menurut EMC, konsep Federation ini memiliki banyak keuntungan.

Saat menjadi perusahaan sendiri, masing-masing perusahaan bisa bekerjasama dengan perusahaan lain yang notabene adalah pesaing EMC (seperti VMware yang bisa bekerjasama dengan NetApp, perusahaan storage pesaing EMC). Namun pada kondisi tertentu, perusahaan di EMC2 juga bisa berkolaborasi untuk menawarkan solusi yang dibutuhkan pelanggan. Contohnya Enterprise Hybrid Cloud yang mengkombinasikan solusi dari EMC, VMware, dan VCE.

Akan tetapi, konsep Federation ini belakangan menimbulkan masalah. Karena tiap perusahaan bebas bermanuver, friksi antar perusahaan di bawah EMC2 pun tak terhindarkan. Contohnya VMware yang kini melebarkan konsep virtualisasinya ke bidang storage—yang merupakan domain EMC II. EMC II pun kini menawarkan solusi di bidang cloud computing, yang juga berbenturan dengan konsep One Cloud dari VMware.

Karena itulah pada Agustus kemarin, muncul wacana untuk mengintegrasikan perusahaan di bawah EMC2 menjadi satu kesatuan. Pilihannya antara EMC membeli saham VMware secara keseluruhan (saat ini masih 80%) atau VMware membeli induk perusahaannya. Muncul pula rumor yang menyebut EMC2 akan dibeli oleh Cisco atau HP.

Akan tetapi, akuisisi oleh Dell ini memupus semua spekulasi tersebut. Namun, yang masih jadi pertanyaan besar adalah bagaimana nasib Federation di bawah Dell?

Berjalan Seperti Biasa

Berdasarkan pengakuan Joe Tucci (CEO, EMC) pada blog resminya, EMC II sebagai perusahaan terbesar di Federation akan bergabung dengan divisi Enterprise System Business milik Dell. Lokasi kantor pusat mereka akan tetap berada di Hopkinton, Massachusetts (dahulu kantor pusat EMC). Bisnis ini akan mengelola server, storage, converged infrastructure, dan perangkat keras lainnya, dengan total pendapatan saat ini lebih dari US$30 miliar.

VMware tetap akan beroperasi sebagai perusahaan terbuka di bawah pimpinan CEO Pat Gelsinger. Kolaborasi antara Dell dan VMware diharapkan bisa menambah reputasi VMware di area seperti software-defined data center, hybrid cloud, dan cloud computing, dengan proyeksi pemasukan di atas US$1 miliar dalam beberapa tahun mendatang.

Pivotal masih akan berjalan seperti biasa di bawah pimpinan CEO Rob Mee dan Executive Chairman Paul Maritz. Perusahaan cloud-based analytics ini diperkirakan mampu menjadi perusahaan terbuka dalam waktu dekat.

Virtustream, perusahaan cloud yang baru diakuisisi EMC senilai US$1,2 miliar pada Mei 2015, dipertahankan sebagai penyedia managed cloud service untuk aplikasi-aplikasi mission critical bagi pelanggan enterprise. Ditambah solusi vCloud Air dari VMware yang unggul dalam hybrid cloud, gabungan kekuatan ini diharapkan bisa membuka kesempatan untuk melayani pelanggan dari sektor pemerintah, kesehatan, dan UKM yang menjadi kekuatan utama Dell.

Bisnis converged infrastructure yang dilakoni VCE akan dihubungkan dengan aneka produk dan layanan Dell untuk tumbuh lebih cepat dan memberi dampak lebih besar pada industri. Sedangkan solusi keamanan dari RSA bakal membentuk bagian penting bersama Secure Works dalam strategi keamanan Dell di masa depan.

Akuisisi EMC, Dell Makin Mantap di Bisnis Cloud dan Enterprise

Joe Tucci (kiri) dan Michael Dell (kanan) berjabat tangan untuk meresmikan akuisisi Dell terhadap EMC.
Joe Tucci (kiri) dan Michael Dell (kanan) berjabat tangan untuk meresmikan akuisisi Dell terhadap EMC.

Langkah Dell mengakuisisi EMC dengan nilai US$67 miliar dipandang sebagai keputusan yang diambil demi memantapkan transformasi Dell dari label “PC company” menuju perusahaan teknologi yang punya solusi enterprise.

Di industri PC, Dell memang masih berada di posisi yang cukup kuat. Laporan IDC untuk kuartal ketiga 2015 menempatkan Dell di peringkat ketiga, dengan pangsa pasar 14,3%, di bawah Lenovo dan HP. Tapi, dari sisi kuantitas, harus diakui bahwa penjualan PC dari tahun ke tahun terus memburuk. Bisa dilihat dari total pengapalan PC pada kuartal ini yang turun 10,8% daripada kuartal yang sama tahun lalu.

Oleh karena itu, dalam beberapa tahun terakhir ini, Dell terlihat agresif dalam membeli perusahaan-perusahaan teknologi yang berkaitan dengan solusi enterprise, cloud, dan security.

Hal ini tecermin dari empat akuisisi terbesar Dell dalam empat tahun belakangan, seperti Quest Software (US$2,4 miliar, Juli 2012), Compellent (US$960 juta, Desember 2010), Force10 (US$700 juta, Juli 2011), dan SecureWorks (US$612 juta, Januari 2011).

Belum termasuk sejumlah akuisisi dengan nilai yang tidak diungkapkan, contohnya Boomi (cloud integration vendor, November 2010), Wyse Technology (cloud technology, April 2012), dan SonicWALL, Inc. (software security, April 2012).

Pada kesempatan conference call dengan analis pada Senin (12/10), Joe Tucci (CEO, EMC) menyebutkan bahwa dengan bergabungnya EMC ke Dell, artinya kedua perusahaan ini akan memiliki portofolio bisnis lengkap yang mencakup sistem dan hardware, virtualisasi, security, dan cloud computing.

Sementara itu, Michael Dell (CEO, Dell) mengungkapkan optimisme terhadap kemampuan perusahaan untuk melayani pelanggan di bisnis enterprise dan cloud. Akuisisi ini bakal menjadikan Dell sebagai pemimpin di pasar hybrid cloud, converged infrastructure, dan software-defined data center yang menjadi bidang keahlian VMware (anak perusahaan EMC).

Kolaborasi ini juga akan memperkuat posisi Dell-EMC di bisnis cloud computing dan mempermudah transisi perusahaan ke era mobile-cloud.

Dell Resmi Membeli EMC, Akuisisi Teknologi Terbesar Sepanjang Masa

EMC

Dell secara resmi membeli EMC dengan nilai US$67 miliar atau sekitar Rp900 trilIun pada hari Senin (12/10) waktu setempat. Pembelian ini merupakan akuisisi perusahaan teknologi terbesar sepanjang sejarah, mengalahkan pembelian Compaq oleh HP maupun WhatsApp oleh Facebook.

Saat mengumumkan pembelian tersebut, Michael Dell (CEO sekaligus pendiri Dell) mengungkapkan pembelian ini sebagai wujud keseriusan Dell menggarap segmen enterprise. “Kombinasi Dell dan EMC menciptakan kekuatan besar di solusi untuk enterprise. Perusahaan baru kami akan memiliki posisi sangat bagus dalam area generasi baru TI yang paling strategis,” tukas Michael Dell.

Dell belakangan ini memang terlihat serius di segmen enterprise. Dalam tiga tahun terakhir, Dell telah mengakuisisi berbagai perusahaan enterprise, seperti Quest (security software), Enstratus Network (cloud management software), atau StatSoft (statistical software).

Sedangkan EMC sendiri adalah perusahaan yang awalnya bergerak di bidang storage. Namun kemudian EMC banyak melakukan akuisisi terhadap perusahaan lain di luar storage, seperti VMware, Pivotal, dan RSA Security. Semua perusahaan tersebut bergabung dalam konsep Federation yang memungkinkan tiap perusahaan bebas bergerak tanpa harus konsolidasi ke dalam satu organisasi.

 

 

Untuk mendanai pembelian ini, Dell kabarnya harus melakukan peminjaman sebesar US$40 miliar. Dell juga mendapat suntikan dana dari perusahaan investasi Silver Lake (AS) dan Temasek (Singapura) sebesar US$3,5 miliar.

Namun Michael Dell mengklaim perusahaannya mampu melakukan percepatan pembayaran utang sejak Dell menjadi perusahaan tertutup di tahun 2013. Berdasarkan keberhasilan itu, Dell optimistis mereka mampu melakukan percepatan pembayaran utang ini ketika secara resmi memiliki EMC.

Akan tetapi, jika berkaca dari pengalaman, butuh waktu cukup lama untuk melakukan konsolidasi dari proses akuisisi sebesar ini. HP misalnya, membutuhkan waktu tahunan untuk memetik keuntungan dari proses akuisisi Compaq. Karena itu, menarik untuk melihat bagaimana Dell dan EMC menjalani proses ini.

Membuat Sendiri Internet of Things untuk Pemula, Khususnya di Indonesia

iot

Penulis: Onno W. Purbo

Sepertinya, saat ini sedang ramai dibicarakan topik Internet of Things (IoT). Sebelum kita membahas lebih dalam, ada baiknya kita melihar definisi Internet of Things (IoT) yang merujuk pada Wikipedia. Terjemahan bebasnya kira-kira sebagai berikut:

“Internet of Things (IOT) adalah jaringan benda-benda fisik atau ‘things’ yang tertanam (embedded) dalam perangkat elektronik, perangkat lunak, sensor, dan konektivitas untuk memungkinkannya mencapai nilai dan layanan yang lebih besar, dengan cara bertukar data dengan produsen, operator dan/atau perangkat lain yang terhubung. Setiap objek dalam IoT bukan saja bisa diidentifikasi secara unik via sistem komputasi tertanamnya (embedded) tetapi juga mampu beroperasi dalam infrastruktur internet yang ada.”

Istilah “Internet of Things” pertama kali diperkenalkan oleh seorang Inggris, Kevin Ashton, pada tahun 1999. Biasanya, IoT diharapkan menawarkan konektivitas canggih perangkat, sistem, dan jasa yang melampaui mesin-ke-mesin komunikasi (M2M) dan mencakup berbagai protokol, domain, dan aplikasi. Interkoneksi perangkat embedded ini (termasuk perangkat-perangkat pintar) diharapkan dapat mengantarkan otomatisasi dalam hampir semua bidang, selain memungkinkan penerapan canggih seperti Smart Grid.

“Things”, di IoT, merujuk ke berbagai perangkat seperti pencangkokan pemantau jantung, transponder biochip pada hewan ternak, kerang listrik di perairan pantai, mobil dengan sensor built-in, atau perangkat operasi lapangan yang membantu petugas pemadam kebakaran dalam aktivitas pencarian dan penyelamatan.

Perangkat ini mengumpulkan data yang berguna dengan bantuan berbagai teknologi yang ada dan kemudian secara mandiri mengalirkan data antara perangkat lain. Contoh pasar saat ini mencakup sistem cerdas termostat dan mesin cuci/pengering yang memanfaatkan Wi-Fi untuk pemantauan jarak jauh.

Selain memiliki sejumlah penerapan yang bisa diperluas, IoT juga diperkirakan akan menghasilkan sejumlah besar data dari lokasi yang beragam yang dikumpulkan dengan sangat cepat, sehingga meningkatkan kebutuhan aktivitas pengindeksan, penyimpanan, dan pengolahan data tersebut secara lebih baik.

IoT untuk Pemula

Secara sederhana Internet of Things dapat dilihat sebagai (1) peralatan microcontroller/embedded, yang (2) tersambung ke berbagai sensor, yang (3) memiliki sambungan jaringan Internet ke (4) sebuah server/database yang akan mengumpulkan data-data dari sensor. Jadi secara umum kita akan melihat empat komponen dari sebuah IoT.

Seperti dijelaskan di atas, kita dapat menggunakan IoT ini untuk melakukan pengumpulan data, misalnya, memantau jantung yang dicangkokan, mengukur suhu/cuaca, mengukur listrik PLN (SmartGrid), dan masih banyak lagi.

Kita yang masih pemula juga dapat mendalami dunia IoT ini. Kita dapat menggunakan komponen embedded untuk merealisasikan IoT ini. Beberapa peralatan embedded yang mungkin digunakan dengan mudah bagi pemula adalah Arduino, Raspberry Pi dan Intel Galileo.

Arduino merupakan sistem yang cukup familiar bagi yang sering melakukan ekseperimen di dunia otomasi dan robot. Arduino memiliki kemampuan untuk menerima sensor analog maupun switch. Arduino memiliki fasilitas tambahan untuk disambungkan ke jaringan internet. Harga Arduino learning kit sendiri sekitar 500 ribuan rupiah.

Sementara Raspberry Pi awalnya dirancang untuk edukasi komputer anak-anak SD. Raspberry Pi lebih mudah dioperasikan, dan bisa dihubungkan ke jaringan bahkan bisa berfungsi sebagai server. Pasalnya, produk ini dilengkapi dengan fasilitas LAN dan port USB. Pilihan sistem operasi berbasis Linux untuk Raspberry Pi cukup banyak tersedia di internet dan dapat diambil secara gratis.

Bagi yang ingin menggabungkan Arduino dan Raspberry Pi, hal tersebut dapat dilakukan menggunakan kabel header antara Arduino dan Raspberry Pi. Harga Raspberry Pi sendiri sekitar 500 ribuan rupiah.

Terakhir adalah Intel Galileo yang merupakan “turunan” Arduino akan tetapi menggunakan prosesor Intel Pentium sehingga sebetulnya merupakan komputer untuk aplikasi embedded. Di motherboard-nya, terdapat sambungan untuk sensor analog maupun switch digital, lengkap dengan colokan LAN untuk tersambung ke internet. Akibatnya Intel Galileo menjadi sebuah platform yang sangat powerful (mungkin terlalu powerful) untuk sensor aplikasi IoT. Harganya sendiri sedikit di atas satu juta rupiah.

Untuk “merasakan” kondisi di luar microcontroller ini, kita perlu menambahkan berbagai sensor. Saat ini cukup banyak situs lokal di Indonesia yang menawarkan berbagai sensor ini, seperti Famosastudio, Jualarduinomurah, Geraicerdas, Iseerobot, Jack-electronics, selain yang melalui jalur konvensional seperti OK di Glodok Lindeteves Jakarta .

Yang menjadi masalah adalah sambungan ke internet dari peralatan microcontroller/komputer embedded ini. Jika kita beruntung, ada kabel LAN agak lumayan. Hal ini dibutuhkan jika sensor ini ingin diletakkan di luar tanpa sambungan internet. Alternatifnya, kita terpaksa harus mengakali agar USB 3G modem dapat disambungkan ke peralatan ini. Untuk Raspberry Pi, hal ini cukup mudah dilakukan karena kita pada dasarnya menggunakan sistem operasi Linux di Raspberry Pi tersebut.

Terakhir, server yang menerima aneka data masukan dari IoT melalui internet, pada dasarnya harus dapat mem-parsing message yang masuk dari IoT tersebut dan memasukannya ke data base, biasanya menggunakan MySQL/Percona atau SQL server lainnya. Lalu, hasil pengolahan ini kemudian dipanggil/diproses untuk bisa ditampilkan ke layar web menggunakan PHP atau bahasa pemrograman lainnya.

Contoh Pemanfaatan IoT

Dengan kemampuan yang demikian unik, khususnya untuk di Indonesia, Internet of Things menjadi menarik untuk melakukan pemantauan pada saat terjadinya bencana alam, memantau keamanan rumah/apartemen/kompleks perkantoran, dan lain-lain.

Contoh yang menarik dari Internet of Things (walaupun tidak sepernuhnya menggunakan Internet) adalah teknologi Amatir Packet Reporting System (APRS) yang dikembangkan oleh para anggota ORARI. Sebagian dari sambungan yang digunakan menggunakan sambungan radio seperti walkie talkie.

Kita bisa melihat dari dekat aktivitas teman-teman radio amatir ini di situs http://aprs.fi. Jika kita mengeklik situs tersebut, akan tampil peta Jakarta dan node radio amatir yang ada di Jakarta yang tersambung ke APRS. Sebagian hanya menampilkan posisi GPS saja, sebagian akan menampilkan kondisi cuaca (suhu, arah, kecepatan angin, dan curah hujan), dan sebagian lagi membawa peralatan APRS ini di mobil mereka sehingga kita bisa melihat posisinya.

Salah satu “biang kerok” APRS di Indonesia adalah DR. Suryono Adisoemarta YD0NXX yang pernah menjadi profesor di Austin, Texas.

Mudah-mudahan tulisan singkat ini dapat menggugah teman-teman untuk berkiprah di dunia Internet of Things.

Microsoft Rilis Windows 10 Insider Preview Build 10565

win10

Microsoft telah merilis Windows 10 Insider Preview Build 10565 kemarin (12/10) untuk para penguji (Windows Insiders) yang termasuk dalam Fast ring. Untuk para Windows Insiders di Rusia dan Turki harus menunggu minggu depan.

Apa saja yang baru dalam Build 10565 ini? Berikut di antaranya.

  • Aplikasi Skype messaging, calling, video conferencing, diintegrasikan. Integrasi ini juga akan segera dilakukan untuk Windows 10 Mobile Insider Preview. Aplikasi tersebut menurut Microsoft mempercepat dan mempermudah calling dan messaging gratis ke pengguna Skype antar- smartphone, ke tablet 3G/4G dan Wi-Fi, serta ke PC Wi-Fi.
  • Di browser Microsoft Edge pengguna dapat melihat preview dari website dengan melewatkan kursor mouse pada tab-nya.
  • Sinkronisasi item Favorites dan Reading List di Edge.
  • Cortana sekarang mengerti catatan tulisan tangan pengguna – misalnya membuat reminder berdasarkan lokasi, waktu, dan angka, yang dia pahami dari tulisan tangan pengguna.
  • Perbaikan pada interface, seperti yang terlihat di title bar; penyempurnaan pada menu konteks di Start; dan ikon baru pada peranti seperti Device Manager.
  • Perbaikan untuk aktivasi peranti.

Selain itu, Microsoft juga melakukan perbaikan-perbaikan atas berbagai isu yang telah ditemukan oleh pengguna pada Build sebelumnya.  Sebelum Build 10565 ini, Microsoft merilis Build 10547 pada 18 September lalu.

Review Smartphone