02 | September | 2016 | InfoKomputer Online

Arsip Harian: Sep 2, 2016

ISCF 2016: Bandung Hibahkan Aplikasi Smart City Kepada 22 Kota dan Kabupaten

mou iscf 2016 bandung
Penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) berupa hibah aplikasi smart city milik Pemerintah Kota Bandung kepada 22 pemerintah kota dan kabupaten dalam acara ISCF 2016, Jumat (2/9).

Seperti ditegaskan oleh Ridwan Kamil (Walikota Bandung) dalam pembukaan acara Indonesia Smart City Forum (ISCF) 2016 @Bandung, para pemimpin daerah diharapkan terbuka untuk berkolaborasi dan mengurangi keinginan untuk berkompetisi.

Mengusung semangat itu, salah satu momen paling penting dalam acara ISCF 2016 @Bandung adalah penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) berupa hibah aplikasi smart city milik Pemerintah Kota Bandung kepada 22 pemerintah kota dan kabupaten di Indonesia, Jumat (2/9).

Pemerintah kota dan kabupaten itu meliputi: Kota Palu, Kota Sungai Penuh, Kota Depok, Kota Solok, Kota Bontang, Kota Kotamobagu, Kota Banda Aceh, Kota Bitung, Kota Tegal, Kota Palopo, Kota Batam, Kota Tangerang, Kota Ternate, Kota Langsa, Kota Sabang, Kota Jambi, Kabupaten Pandeglang, Kabupaten Balangan, Kabupaten Penajam Pasir Utara, Kabupaten Mandailing Natal, Kabupaten Musi Banyuasin, dan Kabupaten Bangka Selatan.

“Harapan saya, para pemimpin daerah bisa membawa oleh-oleh [dari acara ini] berbentuk ilmu, kerja sama antardaerah, dan bisa juga kegiatan [smart city] yang bisa dilaksanakan langsung di daerah masing-masing,” tukas walikota yang akrab disapa Emil itu.

Sementara itu, Airin Rachmi Diany (Ketua APEKSI) menyatakan bahwa acara ini diharapkan bisa menjembatani hal-hal terkait smart city yang sudah berhasil di satu daerah sehingga bisa berhasil dibawa ke daerah lainnya. Dengan demikian, tujuan utama pemerintahan yakni peningkatan pelayanan masyarakat dapat tercapai.

“Beberapa kriteria kesuksesan smart city antara lain kualitas pelayanan lebih baik, mudah, murah, dan cepat; ada kepastian hukum; indeks pembangunan masyarakat meningkat; dan kondisi masyarakat yang lebih aman dan nyaman,” ujar Airin.

Walikota Tangerang Selatan itu percaya bahwa teknologi akan memudahkan para pemimpin daerah dalam bekerja dan menjalankan amanahnya. “Siapa yang paling menguasai teknologi, dia yang akan memberikan pelayanan paling baik,” tukasnya.

Pada kesempatan yang sama, Asman Abnur (Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi/Menteri PAN-RB) menyampaikan apresiasi kepada Pemkot Bandung dan Ridwan Kamil khususnya yang telah menginisiasi ajang berkumpulnya para pemimpin daerah untuk berbagi pengalaman tentang smart city.

Event ini saya rasa setiap tahun harus ada.. karena ini forum belajar yang paling praktis. Nggak perlu mikir, nggak perlu penelitian, nggak perlu studi banding lagi. Tinggal copy paste, studi tiru dan dicontoh oleh daerah lain,” paparnya.

Bahkan Asman menjanjikan, sepulangnya dari acara ini, ia akan segera merancang Surat Keputusan Menteri PAN-RB tentang kelanjutan Indonesia Smart City Forum pada tahun-tahun berikutnya dan mewajibkan semua pemimpin daerah datang.

ISCF 2016: Pentingnya Identifikasi Masalah dan Roadmap dalam Membangun Smart City

Pembukaan Indonesia Smart City Forum (ISCF) 2016 @Bandung.
Pembukaan Indonesia Smart City Forum (ISCF) 2016 @Bandung.

Jika ada pertanyaan, “Apakah membangun smart city tergolong sebagai keinginan atau kebutuhan?”, rasanya para pemimpin daerah se-Indonesia akan menjawab opsi nomor dua.

Tidak bisa dimungkiri lagi bahwa smart city atau kota cerdas yang berbasis teknologi dan digitalisasi akan dapat membantu terlaksananya tata kelola pemerintahan daerah yang lebih baik, bersih, dan transparan. Ridwan Kamil (Walikota Bandung) dalam pidatonya saat membuka gelaran ISCF 2016 @Bandung, Jumat (2/9), pun menyatakan bahwa inisiatif smart city di Kota Kembang berangkat dari kebutuhan, bukan sekadar gaya-gayaan.

Namun, dalam membangun smart city, pemerintah kota dan kabupaten kerap dihadapkan dengan kebingungan, mau memulai dari mana?

“Kami mengusulkan strategi, pertama-tama menyiapkan smart city blueprint. Apa sih misi utamanya? Kita akan mencari masalah dan kebutuhan di setiap kota, pasti berbeda-beda. Lalu, bikin roadmap-nya, sesuai dengan prioritas dan keadaan anggaran. Misalnya, tahap 1 visibility [terhadap data] dulu, tahap 2 soal transportasi, dan seterusnya,” papar Herfini Heryono (Director and Chief Wholesale & Enterprise Officer, Indosat Ooredoo).

“Kemudian, lakukan kemitraan dan kolaborasi dengan developer aplikasi. Pastikan juga platform yang dibangun open dan agile, sehingga bisa interconnect dengan pemerintah pusat. Terakhir, pastikan warga harus aktif berpartisipasi,” sambung Herfini.

Nada serupa juga dilontarkan oleh Ery Putra Hendraswara (Deputy Executive GM Digital Services, Telkom Indonesia).

“Pemerintah daerah harus mampu mengidentifikasi most painful problem, masalah yang paling sulit dihadapi, sebagai starting point-nya,” kata Ery.

Dari situ, pemerintah daerah dapat melalui tiga tahapan, yakni Collect (mengumpulkan data dan informasi tentang masalah itu), Communicate (menghubungkan data melalui jaringan), dan Crunching (menganalisis data historis dan real-time untuk melakukan predictive analytics dan memprediksi langkah penanganan yang tepat).

Ery juga menekankan bahwa ada empat poin utama dalam smart city, yakni sustainable (programnya berkelanjutan), efficiency (meningkatkan efisiensi di pemerintah dan masyarakat), safe & secure (meningkatkan rasa aman), dan pleasant (memberikan kenyamanan bagi warga).

Tawaran Solusi

Bagi pemerintah kota dan kabupaten yang berniat membangun smart city, Indosat Ooredoo bekerjasama dengan Lintasarta untuk menyediakan solusi City-care yang berbasis cloud.

Arsitektur solusi ini sudah lengkap, meliputi lapisan infrastruktur seperti jaringan dan data center, lapisan data dengan pemodelan data yang dikenal umum (open data), dan lapisan API (Application Program Interface) yang bisa dibuka kepada para pengembang aplikasi. Di atasnya, ada lapisan aplikasi-aplikasi yang dibuat oleh pihak ketiga dengan memanfaatkan data-data milik pemerintah.

“Solusi ini bisa ditambahkan dengan data analytics untuk mengetahui perilaku warga,” imbuh Herfini.

Panel diskusi ISCF 2016 @Bandung yang menghadirkan perwakilan dari Telkom Indonesia, Indosat Ooredoo, dan Lintasarta.
Panel diskusi ISCF 2016 @Bandung yang menghadirkan perwakilan dari Telkom Indonesia, Indosat Ooredoo, dan Lintasarta.

Sementara itu, Telkom Indonesia telah membentuk Satgas (Satuan Tugas) Smart City Nusantara yang bertujuan untuk membantu pemerintah daerah dalam membuat kerangka berpikir pengembangan smart city. Kerangka ini harus berangkat dari kebutuhan kota/kabupaten, disesuaikan dengan local wisdom atau kebiasaan daerah setempat, dan disusun berdasarkan prioritas pengembangan daerah masing-masing.

“Infrastruktur jaringan Telkom sudah tersebar di seluruh Indonesia. Kami siap membantu daerah membuat Masterplan TIK sesuai Keppres No. 3/2006. Kami juga siap membangun command center, dari yang nilainya ratusan juta sampai miliaran rupiah. Kami pun menyediakan fasilitas data center, colocation, dan cloud,” jelas Wahyudi (Ketua Satgas Smart City Nusantara, Telkom Indonesia).

Beberapa solusi smart city yang siap ditawarkan Telkom dan rata-rata sudah diimplementasikan atau sedang diujicoba di Kota Bandung antara lain: smart water distribution (mengecek kebocoran pipa, saluran, dan kandungan air PDAM), smart flood system (memprediksi cuaca, potensi banjir, dan early warning system), smart lighting (memonitor lampu penerangan jalan umum dan mengetahui pemakaian listriknya), serta smart waste management (memonitor mobil sampah, aplikasi bank sampah).

Selain itu, ada pula software yang dapat membantu kinerja pemerintah daerah, seperti e-Pemerintahan, e-Pelaporan, dan e-Puskesmas.

“Kami juga mengundang para pemimpin daerah untuk berkunjung ke Living Lab Smart City Nusantara di Bandung untuk berdiskusi mengenai solusi smart city bagi setiap daerah,” tutup Wahyudi.

Kriteria Pemimpin Digital yang Ideal

Digital Leaders

Hanya satu dari lima eksekutif bisnis bisa disebut sebagai Pemimpin Digital atau Digital Leader. Fakta tersebut dikemukakan dalam studi terbaru dari Oxford Economics yang disponsori oleh SAP.

Fakta lain adalah sekelompok pemimpin baru yang muncul dan berpikir secara digital mampu menunjukkan kinerja bisnis yang lebih baik. Hasil studi tersebut diumumkan di ajang SuccessConnect®, yang berlangsung tanggal 29-31 Agustus lalu di Las Vegas, AS.

Studi bertajuk Leaders 2020 itu juga mengidentifikasi karakter organisasi yang sukses di era ekonomi digital saat ini. Lebih dari 4000 eksekutif dan karyawan yang tersebar di 21 negara berpartisipasi dalam studi berbasis survei tersebut.

Beberapa hal penting dapat disarikan dari studi tersebut, terutama alasan pentingnya menjadi atau memiliki pemimipin yang berorientasi digital.

  1. Kinerja finansial yang lebih baik: 76 persen dari eksekutif yang dikategorikan sebagai Pemimpin Digital memperlihatkan pertumbuhan pendapatan maupun keuntungan yang lebih baik dibandingkan 55 persen eksekutif lainnya yang turut disurvei.
  2. Karyawan yang puas dan merasa dilibatkan: Pemimpin Digital memiliki karyawan yang cenderung merasa puas dalam bekerja (87%) dibandingkan dengan 63 persen responden lainnya.
  3. Budaya inklusif dan sistem kepemimpinan yang kuat: Pemimpin Digital Memiliki karyawan cenderung menetap pada pekerjaan mereka bahkan jika ada kesempatan untuk pindah sekalipun, 21 persen lebih tinggi dari semua responden lainnya.

“Sudah jelas, dibutuhkan gaya kepemimpinan yang berbeda untuk meraih kesuksesan dalam perekonomian yang berbasis digital,” Mike Ettling (Presiden SAP SuccessFactors) menandaskan.

“Orang-orang, terutama millenials dan generasi sesudahnya, mengharapkan pemimpin yang lebih inklusif dan mudah berbaur, lebih beragam di level kepemimpinan, dan hirarki berkurang. Teknologi berperan dalam memberikan kita, sebagai pemimpin, akses ke wawasan yang diperlukan untuk membuat keputusan dengan cepat, dan untuk menarik dan mengembangkan generasi pemimpin berikutnya,” imbuh Ettling.

Masih berdasarkan penelitian Oxford Economics, Pemimpin Digital masa kini akan:

Menyederhanakan proses pengambilan keputusan: empat dari lima (80 persen) Pemimpin Digital mengambil keputusan berdasarkan data, dibandingkan 55 persen lainnya; dan dua dari tiga (63 persen) responden melaporkan bahwa organisasinya mampu mengambil keputusan secara real time, dibandingkan dengan 46 persen responden lainnya. Digital Leaders cenderung lebih transparan dan akan mendistribusikan pengambilan keputusan di seluruh bagian organisasi.

Memprioritaskan keragaman dan inklusi: organisasi yang ada di posisi terdepan dalam ekonomi digital memperlihatkan keragaman karyawan di jajaran tengah manajemennya, dan memiliki proporsi karyawan perempuan lebih tinggi. Perusahaan-perusahaan ini akan lebih banyak memiliki program terkait keragaman (46 persen vs 38 persen), memahami dampak positif keragaman pada budaya (66 persen vs 37 persen), dan menyamakan peningkatan keragaman dan kinerja keuangan (37 persen vs 29 persen).

Kendati beberapa organisasi mengalahkan organisasi lainnya di kategori ini, studi tersebut melihat adanya perbaikan di semua tingkat kepemimpinan. Hanya 39 persen karyawan meyakini bahwa perusahaannya memiliki program keragaman yang efektif. Sementara kurang dari separuh (49 persen) eksekutif percaya bahwa pemimpin mereka mengakui pentingnya keragaman dan telah mengambil langkah-langkah untuk mengembangkannya.

Mendengarkan eksekutif muda: studi tersebut menemukan bahwa generasi millenial dapat dengan cepat menduduki posisi pemimpin di perusahaan, karena 17 persen dari senior executive yang disurvei termasuk kategori millenial. Pemimpin millennial cenderung lebih pesimis daripada eksekutif lainnya mengenai kesiapan digital perusahaan. Para eksekutif muda ini memeringkat leadership skill organisasinya antara 15 dan 23 persen poin lebih rendah daripada eksekutif non-millenial, dalam berbagai atribut, seperti memfasilitasi kolaborasi, mengelola keragaman, memberi feedback, dan mengurangi birokrasi.

Generasi millennial akan segera menduduki 50 persen dari angkatan kerja saat ini, dan mereka akan memiliki kendali untuk mengubah budaya korporasi. Apa yang mereka katakan adalah penting, dan mereka berkata: waktunya untuk berubah.

“Penemuan ini harus menjadi peringatan bagi para pemimpin bisnis,” kata Edward Cone (Deputy Director Thought Leadership di Oxford Economics) yang mengawasi program penelitian yang didukung SAP itu.

“Karyawan, eksekutif muda dan hasil keuangan Anda mengirimkan pesan yang jelas tentang pentingnya memperbarui dan meningkatkan keterampilan kepemimpinan untuk era digital. Inilah waktunya untuk mendengarkan dan memimpin—atau Anda tersingkir,” tegasnya.

ISCF 2016: Strategi Membangun Infrastruktur untuk Smart City

“Buat sistem perijinan yang cepat dan mudah sehingga time to market bagi operator semakin cepat” ungkap Dr. Ir. Ismail MT, Direktur Pengembangan Pita Lebar Kementerian Komunikasi dan Informasi
“Buat sistem perijinan yang cepat dan mudah sehingga time to market bagi operator semakin cepat” ungkap Dr. Ir. Ismail MT, Direktur Pengembangan Pita Lebar Kementerian Komunikasi dan Informasi

Pembangunan infrastruktur telekomunikasi menjadi bagian penting pengembangan smart city. Akan tetapi, infrastruktur yang belum merata di Indonesia menjadi tantangan tersendiri bagi banyak pemerintah daerah.

Hal ini tidak lepas dari perbedaan karakter antara pembangunan infrastruktur fisik dan telekomunikasi. Pembangunan fisik menjadi tanggung jawab penuh pemerintah, “Sementara untuk infrastruktur telekomunikasi, default-nya dibangun oleh operator [telekomunikasi] seperti Telkom, Indosat, XL, dan lain-lain,” ungkap Dr. Ir. Ismail, MT (Direktur Pengembangan Pita Lebar, Kementerian Komunikasi dan Informasi).

Namun sebagai pelaku bisnis, operator telekomunikasi lebih memilih membangun infrastruktur di daerah yang memiliki potensi bisnis yang tinggi. Sementara daerah yang dianggap belum menjanjikan, operator cenderung menahan diri sehingga pemerintah daerah pun terpaksa gigit jari.

Agar keseimbangan infrastruktur terwujud, pemerintah pun melakukan beberapa terobosan. Salah satunya adalah melalui program Palapa Ring yang bertujuan menghubungkan 57 kabupaten yang belum dilirik oleh operator. Akan tetapi, terobosan ini belum menjawab semua persoalan.

Karena itulah Ismail, yang menjadi salah satu pembicara di acara Indonesia Smart City Forum 2016@Bandung, mendorong pemerintah daerah untuk mengubah mindset terkait pembangunan infrastruktur telekomunikasi. Pihak pemda harus melihat infrastruktur telekomunikasi sama krusialnya dengan infrastruktur fisik.

Jika pola pikir itu terwujud, pemda pun akan memberi kemudahan operator untuk membangun infrastruktur di daerahnya masing-masing. Cara paling mendasar adalah dengan mempermudah perijinan. “Buat sistem perizinan yang cepat dan mudah sehingga time to market bagi operator semakin cepat,” tambah Ismail.

Selain itu, pemerintah daerah juga bisa “menggoda” operator dengan berinisiatif membangun infrastruktur pasif seperti menara telekomunikasi atau sistem ducting (selokan). “Jadi operator tinggal memasang sistem elektroniknya saja,” tambah Ismail.

Dalam konteks pembangunan infrastruktur pasif, pemerintah pusat sebenarnya juga sudah memberikan beberapa sumbangan. Contohnya yang dilakukan Kementerian Pekerjaan Umum dalam pembangungan tol Lintas Sumatera yang kini sedang dikerjakan.

“Kami membangun jalan selebar 100 meter, dengan 20 meter di sisi kirinya ditujukan untuk sistem ducting,” ungkap Hermanto Dardak (Kepala Badan Pengembangan Infrastruktur Wilayah, Kementerian Pekerjaan Umum). Harapannya, infrastruktur pasif ini bisa menjadi tulang punggung jaringan telekomunikasi untuk daerah yang dilalui jalan tol baru itu.

Pendek kata, pembangunan infrastruktur telekomunikasi harus dilihat sebagai kebutuhan strategis untuk masa depan. Adalah tugas semua pihak, mulai dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan operator, untuk mewujudkannya demi Indonesia yang lebih baik.

Cara Akamai Tingkatkan Kecepatan Akses Internet di Indonesia

 Michael Affergan (Senior Vice President, Products, Asia Pacific & Japan, Akamai Technologies, Inc) dan Ali Hakim (Country Manager Akamai Indonesia) memberikan pemaparan tentang kecepatan Internet dan strategi Akamai di Indonesia.
Michael Affergan (Senior Vice President, Products, Asia Pacific & Japan, Akamai Technologies, Inc) dan Ali Hakim (Country Manager Akamai Indonesia) memberikan pemaparan tentang kecepatan Internet dan strategi Akamai di Indonesia.

Akamai melaporkan kecepatan Internet Indonesia sangat cepat atau mencapai 110 Mbps, melampaui Korea Selatan yang hanya 103 Mbps. Bahkan, Indonesia berada di peringkat ketiga sebagai negara dengan Internet tercepat di bawah Singapura dan Hong Kong.

Sayangnya, akses Internet yang cepat hanya bisa dirasakan oleh masyarakat yang tinggal di kota-kota besar dan kurang merata ke seluruh kota.

“Kecepatan akses Internet di Indonesia sangat cepat, tapi kebanyakan hanya di kota-kota besar. Sehingga, penetrasinya masih kalah jauh kalau dibanding negara lainnya,” kata Ali Hakim (Country Manager Akamai Indonesia) dalam siaran persnya, Jumat (2/9).

“Tantangannya sekarang adalah bagaimana caranya memberikan koneksi yang optimal di atas infrastruktur yang belum benar-benar stabil di cukup banyak daerah,” ujarnya.

Karena itu, Akamai menjalin kerja sama dengan operator telekomunikasi lokal untuk memberikan sambungan Internet yang optimal walau dalam kondisi infrastruktur yang belum sepenuhnya stabil. Dalam kerja samanya, Akamai menempatkan server optimasi di banyak penyedia layanan internet di dunia, termasuk Indonesia.

Kemudian, server-server yang tersebar secara global itu akan saling terhubung untuk membentuk jaringan yang disebutnya optimal. Selanjutnya, jaringan tersebut akan dimanfaatkan Akamai untuk memberikan sambungan tercepat dan bandwidth terbesar untuk setiap koneksi yang melewatinya.

“Tiap pengguna yang melalui jalur Akamai akan dicarikan jalur tercepat dan bandwidth terbesar sehingga koneksinya optimal. Di Indonesia, server Akamai sudah ada di banyak ISP,” ucapnya.

Ali mengatakan Akamai mencoba memecahkan masalah kemacetan lalu lintas data di Internet sehingga data di Internet bisa diakses dengan lebih cepat, lebih reliable dan aman. Akamai sudah punya server yang tersebar di berbagai perusahaan operator ternama dan penyedia layanan Internet serta 7 kota besar di Indonesia.

“Indonesia adalah mobile first country maka sinyal nirkabel (3G/4G) akan lebih tidak stabil dibanding koneksi yang terhubung kabel. Dalam hal ini, Akamai membantu pelaku e-commerce di Indonesia memecahkan tantangan kecepatan tersebut dan membantu mereka bertumbuh,” jelasnya.

Sementara itu Michael Affergan (Senior Vice President, Products, Asia Pacific & Japan, Akamai Technologies, Inc) mengatakan serangan keamanan terus meningkat, dan menjadi ancaman bisnis. Dulunya, gangguan sistem keamanan hanya menjadi kekhawatiran perbankan, tapi lama-lama menyasar e-commerce, perusahaan media, dan hiburan.

Hacker tidak akan memilih menyerang perusahaan besar karena sistem keamanannya berlapis dan sulit ditembus. Sekarang, mereka menyerang perusahaan kecil dan menengah yang biasanya mengabaikan keamanan,” ujarnya.

Michael melanjutkan Akamai melihat adanya banyak sekali serangan DDOS (Distributed Denial of Service) dengan berbagai modus operandi seperti hacker membanjiri situs dengan trafik atau memanfaatkan bug dalam server/web application, kemudian mengunci server-nya, dan meminta tebusan.

“Akamai membuat perbatasan yang melindungi pelanggan Akamai dari serangan tersebut, sehingga serangan tidak mencapai server asalnya,” pungkasnya.

Xiaomi Luncurkan Smartwatch Murah Amazfit

Xiaomi Amazfit 1
Xiaomi Amazfit 1

Akhirnya, Xiaomi meluncurkan smartwatch pertamanya. Amazfit, dengan banderol terjangkau dan desain yang menarik dan sporty. Xiaomi mendesain tali strap seperti terlihat berlapis dan warnanya terlihat lebih sporty.

Amazfit menawarkan desain bulat dengan layar 1,34 inci beresolusi 300 x 300 pixel. Amazfit mengusung prosesor dual core 1,2 GHz, RAM 512 MB dan memori internalnya berkapasits 4 GB. Xiaomi membekali Amazfit dengan sensor detak jantung dan GPS dengan fabrikasi 28 nm.

Xiaomi Amazfit memiliki kapasitas baterai 280 mAh yang sanggup bertahan hingga 5 hari dalam sekali pengisian. Namun, jika GPS aktif, baterainya dapat bertahan hingga 30 jam. Xiaomi Amazfit sudah mengusung sertifikasi IP67 sehingga tahan air dan debu.

Xiaomi Amazfit 2
Xiaomi Amazfit 2

Xiaomi membenamkan OS sendiri untuk Amazfit dan tidak menggunakan OS Android. Namun, pengguna masih bisa menghubungkannya ke perangkat Android lainnya lewat aplikasi Mi Fit yang diunduh lewat pasar aplikasi seperti dilansir GSM Arena.

Xiaomi Amazfit mendukung konektivitas Bluetooth 4 LE, Wi-Fi, dan GPS serta mendukung layanan pembayaran mobile Alibaba, Alipay.

Menariknya, Xiaomi Amazfit dibanderol US$120 atau sekitar Rp1,6 juta. Sangat murah untuk ukurang smartwatch.

Zona WiFi GO! Tawarkan Kemudahan Berbagi Hotspot WiFi

Zona WiFi Go!
Zona WiFi Go!

Saat ini internet sudah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat modern, seiring perkembangan jaringan telekomunikasi yang semakin baik dan pertumbuhan smartphone yang besar.

Sayangnya, Indonesia yang termasuk ke dalam 10 besar negara dengan jumlah pengguna internet terbanyak di dunia, masih berada di peringkat 146 dalam hal persentase dari total jumlah penduduk.

“Internet merupakan pintu gerbang ke berbagai hal yang dapat membantu masyarakat mempunyai akses ke berbagai informasi. Sayangnya, ketidakmerataan ketersediaan internet dan infrastruktur di Indonesia membuat masyarakat Indonesia gagal mencari berbagai macam informasi dari internet,” kata Norman Ganto (Co-Founder and Head of Business, Zona WiFi GO!) di Jakarta, Kamis (1/9).

Norman mengatakan teknologi disruptif Zona WiFi GO! memberikan kemudahan berbagi hotspot WiFi sehingga masyarakat dapat mengakses Internet lewat koneksi WiFi gratis, kapan dan di mana pun mereka berada.

“Pengguna Zona WiFi GO! tidak akan lagi mengalami kesulitan berkomunikasi akibat koneksi terputus dan akan saling berbagi informasi melalui akses WiFi,” ujarnya.

Setiap fitur aplikasi Zona WiFi GO! memiliki nilai poin yang dapat dikumpulkan untuk mendapatkan beragam hadiah menarik. Fitur-fitur tersebut antara lain Cari Wifi Gratis, Bagi Password Wifi, dan Pengumpulan Poin.

Aplikasi Zona WiFi Go! dapat diunduh secara gratis di Play Store untuk Android dan akan segera diunduh di App Store untuk iOS.

Corning Gorilla Glass SR+, Kaca Pelindung Smartwatch Sekuat Safir

Corning Gorilla Glass SR+
Corning Gorilla Glass SR+

Perusahaan pembuat kaca Gorilla Glass, Corning meluncurkan kaca pelindung baru Gorilla Glas SR+ untuk smartwatch dan perangkat wearable lainnya. Corning sangat terkenal sebagai pembuat kaca pelindung untuk smartphone.

Scott Forester (Director of Innovation Products Gorilla Glass) mengatakan Corning akan memperluas dominasinya ke lini smartwatch dan perangkat wearable dengan kaca Gorilla Glass SR+.

“Gorilla Glass SR+ memiliki kekuatan yang setara dan bisa mengganti kaca safir,” katanya seperti dilansir GSMArena.

Corning mengklaim bahwa SR+ memiliki resistensi kerusakan 70 persen lebih baik dan 25 persen lebih baik jika dibandingkan bahan alternatif yang sama. Selain itu, kinerja optik juga akan membantu meningkatkan kemampuan baca layar di ruang terbuka.

Saat ini Samsung telah menggunakan layar Gorilla Glass SR+ untuk jam pintar terbarunya Samsung Gear S3 Frontier dan Samsung Gear S3 Classic.

Bos Facebook Beberkan Kehebatan Asisten Digital Pribadi ala ‘Jarvis’ di Iron Man

zuckerberg say hi

Saat ini pabrikan teknologi sedang berlomba-lomba menggarap teknologi kecedasar buatan (AI) yang dapat membantu dan mempermudah pekerjaan manusia.

Mark Zuckeberg (CEO Facebook) mengatakan Facebook sedang mengerjakan proyek kecerdasan buatan yang kecanggihannya setara dengan asisten digital Tony Stark, Jarvis, seperti dalam film “Iron Man”. Teknologi itu dapat menyesuaikan keadaan rumahnya, mulai dari temperatur hingga lampu dan juga menjadi asisten pribadinya.

Zuckerberg juga memasukan proyek pengembangan kecerdasan buatan sebagai resolusinya pada tahun ini. Nantinya, teknologi kecerdasan buatan Facebook itu bisa menjalankan berbagai pekerjaan rumah.

“Saya berharap bisa memiliki mendemokan (kecerdasan buatan) ini pada bulan depan. Kecerdasan buatan kami dapat menyaingi kemampuan manusia,” katanya seperti dikutip laman The Verge.

“Saya sudah bisa mengendalikan lampu, gerbang dan suhu ruangan kecuali istri. Dia tidak bisa mengendalikannya karena program AI ini hanya bisa merespon suara saya,” ujarnya.

Zuckerberg menceritakan ia sangat antusias dengan teknologi tersebut karena ia bisa berinteraksi dengan para teknisi Facebook yang menekuni berbagai bidang, mulai dari pengenalan suara hingga pengenalan wajah. Saya tidak perlu memasukkan kode atau kunci untuk membukanya,” kata Zuckerberg.

“Ia bisa mengenali wajah saya dan membiarkan saya masuk. Sejauh ini, pengalaman yang saya sungguh menarik dan tidak sabar memamerkannya pada bulan depan,” pungkasnya.

Review Smartphone