03 | September | 2016 | InfoKomputer Online

Arsip Harian: Sep 3, 2016

Bos Apple Semprot Keputusan Pajak Uni Eropa Sebagai ‘Omong Kosong Politis’

CEO Apple Tim Cook
CEO Apple Tim Cook

Akhirnya, Tim Cook (CEO, Apple) angkat bicara terkait keputusan Komisi Usaha Uni Eropa yang menyebut Apple menggelapkan pajak di Irlandia. Uni Eropa meminta Apple untuk melunasi tunggakan pajak senilai 13 miliar euro atau US$14,5 miliar.

Cook melihat ada indikasi sentimen negatif terhadap perusahaan multinasional dari AS dan menyebut tagihan pajak tersebut sebagai “omong kosong politik” serta menuduh Uni Eropa keterlaluan dalam upaya mengubah undang-undang pajak di seluruh Eropa.

“Saya kira mereka (Uni Eropa) mengincar Apple dan ada indikasi sentimen anti-AS. Ini adalah omong kosong politis,” kata Cook.

“Baik Apple maupun Irlandia tidak melakukan kesalahan dan kita perlu bersatu,” ujar Cook kepada Irish Independent.

Cook pun menolak tuduhan dari Margrethe Vestager (Komisioner Kompetisi Uni Eropa) bahwa Apple hanya membayar pajak 0,005 persen di Irlandia pada 2014 dan Apple telah membayar lebih dari $400 juta pajak pada tahun lalu dan membuat Apel sebagai pembayar pajak tertinggi di Irlandia.

“Mereka (Uni Eropa) entah mendapatkan angkat dari mana. Kami menyisikan 26 persen dari keuntungan global untuk membayar pajak setiap tahunnya,” ujarnya seperti dilansir CNET.

Cook bertekad membela Irlandia untuk melawan putusan itu karena “tidak berdasar pada hukum atau fakta”. Cook menegaskan komitmen Apple untuk terus mengoprasikan bisnisnya di negara tersebut dan mengungkapkan Apple memiliki rencana besar untuk mendirikan pusat data di Irlandia di masa mendatang.

“Saya pikir kami akan bekerjasama dengan Irlandia karena memiliki motivasi sama. Tidak ada yang melakukan kesalahan dan kami harus bersatu. Irlandia dikorbankan dan ini tidak dapat diterima,” ucap Cook.

Michael Noonan (Menteri Keuangan Irlandia) berjanji ia akan melawan Komisi Eropa terkait keputusannya menuntut Apple. “Regulasi pajak perusahaan merupakan pilar utama dari regulasi ekonomi Irlandia. Peraturan inilah yang menarik Google, Apple, dan Facebook untuk datang ke Irlandia,” pungkasnya.

Nvidia dan Baidu Kembangkan Mobil Autonomous Berteknologi Kecerdasan Buatan

Mobil Autonomous Baidu 1
Mobil Autonomous Baidu 1

Perusahaan teknologi raksasa asal Tiongkok, Baidu, dan Nvidia akan mengembangkan mobil autonomous atau swakemudi Drive PX 2 dengan platform kecerdasan buatan (AI).

Jen-Hsun Huang (CEO, Nvidia) mengatakan Nvidia dan Baidu akan menggabungkan kemampuan teknik untuk menciptakan mobil swakemudi. “Kami akan memindahkan cloud ke dalam mobil dan mengujinya sebagai taksi autonomous di Tiongkok,” katanya seperti dikutip Digital Trends.

Baidu dan Nvidia akan mengembangkan platform AI secara bersama-sama, termasuk pembuatan peranti lunak yang bisa dijual ke pabrikan lainnya. Nvidia sudah memiliki ide untuk mobil autonomous-nya. Nvidia akan membenamkan super komputer Drive PX sebagai prosesor mobil autonomous, termasuk sensor, peta 3D berbasis cloud, dan sistem operasi AI.

Baidu sedang berupaya keras mewujudkan mimpinya tersebut dan berencana menguji Drive PX 2 pada akhir 2018. Baidu dan Nvidia akan memproduksi mobil autonomous-nya di pasar pada lima tahun lagi.

Baidu pun sudah mendapatkan izin dari otoritas California untuk menguji mobil autonomous di jalanan publik. Sebelumnya, Google juga sedang mengembangkan mobil autonomous di jalanan California.

“Kami akan segera menguji teknologi autonomous di California,” kata Jing Wang (Kepala Divisi Program Autonomous, Baidu).

Jing Wang mengatakan Baidu telah memiliki tim pengembangan yang kuat di Silicon Valley. Baidu pun akan merekrut lebih banyak insinyur dan terus mengembangan mobil autonomous di Tiongkok. Selain itu, Baidu juga tertarik mengembangan bus autonomous.

Tahun lalu, Baidu telah menyelesaikan prototipe mobil autonomous berdasarkan BMW Seri 3. Mobil itu sukses menempuh jarak 30 km atau 18 mil dan mencapai kecepatan 100 kpj.

Baidu melaporkan mobil BMW autonomous-nya itu bisa belok kiri, kanan, putar balik, menyalip, dan berbaur dengan kemacetan.

Google Hentikan Pengambangan Smartphone Modular Project Ara

Smartphone Ara 2
Smartphone Ara 2

Google menghentikan Project Ara yang membuat smartphone modular dengan komponen-komponen interchangeable (tergantikan) atau bongkar-pasang.

Project Ara merupakan proyek ambisius Google untuk membuat smartphone yang komponennya bisa dibongkar pasang. Misal, pengguna bisa mengganti kamera, baterai, speaker, hingga layar sesuai dengan kebutuhan dan keinginannya.

Sumber Internal Google menyebutkan, Google menghentikan Project Ara karena adanya perubahan strategi perusahaan, mengingat Google sedang mengurangi proyek yang terkait dengan pembuatan dan pengembangan hardware.

Google tidak akan merilis ponselnya Project Ara-nya sendiri, melainkan menggandeng mitra lain samahalnya pengembangan Google Nexus. “Perangkat-perangkat ini sulit dibawa ke pasar karena bagian-bagian interchangeable-nya sangat mahal,” kata Bob O’Donnell (Pengamat TECHnalysis Research) seperti dilansir Reuters.

Google memang sangat lambat mengembangkan Project Ara walaupun Google sudah memamerkan prototipenya.

Project Ara adalah salah satu dari kreasi bagian Advanced Technology and Projects milik Google. Google ingin meminta tim tersebut untuk menggarap perangkat yang kali ini berkaitan Internet of Things (IoT).

Samsung Indonesia Batalkan Pre-order Galaxy Note 7

Samsung Indonesia Luncurkan Galaxy Note 7
Samsung Indonesia Luncurkan Galaxy Note 7

Samsung Electronics Indonesia mengambil langkah taktis dengan membatalkan preorder Samsung Galaxy Note 7 di Indonesia, menyusul keputusan Samsung global yang melakukan penarikan kembali Galaxy Note 7 di seluruh dunia lantaran insiden baterai meledak.

Padahal, pelanggan yang memesan Samsung Galaxy Note 7 sudah mencapai puluhan ribu unit di Indonesia. Samsung Indonesia meminta maaf atas insiden tersebut dan akan mengembalikan dana pembelian secara utuh kepada konsumen Indonesia yang telah melakukan preorder.

“Samsung Electronics Indonesia memohon maaf atas ketidaknyamanan yang terjadi dan menghargai kesabaran konsumen yang telah melakukan preorder Samsung Galaxy Note 7. Sebagai rasa tanggung jawab Samsung Electronics Indonesia akan melakukan pengembalian dana pembelian secara utuh kepada konsumen Indonesia yang telah melakukan pre-order,” tulis Samsung dalam keterangan resminya.

“Sebagai apresiasi kepada konsumen setia, kami akan memberikan kompensasi. Samsung akan memberikan informasi lebih lanjut kepada konsumen,” lanjut pernyataan itu.

Di Indonesia, Samsung sudah membuka pre-order Samsung Galaxy Note 7 sejak awal Agustus lalu dan menjanjikan unitnya bisa diterima pada 1 September. Dua hari menjelang pengiriman produk, Samsung mengumumkan penundaan hingga 17 September.

Selain pengembalian dana, pemesan awal Samsung Galaxy Note 7 akan mendapatkan kompensasi khusus. Detail kompensasi yang diberikan akan diinformasikan Samsung langsung ke konsumen.

Konsumen yang memiliki pertanyaan soal Galaxy Note 7 bisa menghubungi call center Samsung Indonesia di nomor toll free 0-800-112-8888 atau (021) 5699-7777. Bisa juga melalui layanan live chat di situs Samsung Indonesia.

Keputusan pengembalian dana ini hanya berselisih singkat dari pengumuman recall (penarikan kembali) yang dilakukan oleh Samsung di seluruh dunia terhadap Note 7. Hal itu dilakukan setelah beberapa handset premium terbarunya itu dilaporkan mengalami overheat (panas berlebih) saat sedang diisi ulang.

Samsung Tarik Kembali Galaxy Note 7 Akibat Insiden Baterai Meledak

Samsung Galaxy Note 7
Samsung Galaxy Note 7

Samsung resmi mengumumkan akan me-recall atau menarik kembali Samsung Galaxy Note 7 di seluruh dunia sekaligus menghentikan sementara pengiriman phablet premiumnya tersebut. Hal itu lantaran laporan baterai handset premiumnya meledak saat sedang diisi ulang dan sudah ada lima orang yang melaporkan insiden tersebut.

Samsung pun telah menghentikan pengiriman produk Samsung Galaxy Note 7 ke tiga operator besar di Korea Selatan yaitu SK Telecom, KT dan, LG Uplus, seperti dikutip Yonhap News.

Koh Dong Jin (Head of Handset Business Division Samsung) mengatakan Samsung meminta maaf atas insiden tersebut dan Samsung akan segera menggantikan handset baru bagi seluruh pembeli Note 7.

“Sampai 1 September, ada total 35 klaim yang didaftarkan ke pusat servis Samsung di Korea Selatan maupun mancanegara. Hanya 24 unit dari 1 juta yang terimbas masalah baterai tersebut,” katanya.

Koh Dong Jin melanjutkan Samsung tidak mau mengambil risiko. Demi kepuasan dan kenyamanan pelanggan, Samsung akan mengganti semua handset Note 7 yang sudah terjual dengan yang baru kapanpun tanggal pembeliannya.

“Prioritas utama kami adalah keamanan konsumen, kami memutuskan menghentikan penjualan Note 7 dan menawarkan penggantian handset baru ke seluruh konsumen,” paparnya.

Sejak peluncuran perdananya pada 19 Agustus 2016, Samsung Galaxy Note 7 sudah terjual lebih dari 400.000 unit di Korea Selatan. Samsung juga telah menjual sebanyak 2,5 juta unit Galaxy Note 7 di sepuluh negara.

“Samsung akan menarik seluruh stok Galaxy Note 7 dari toko retail dan gudang pengiriman,” ucapnya.

Samsung Galaxy Note 7 Meledak
Samsung Galaxy Note 7 Meledak

Sebelumnya, seorang pelanggan Samsung dari Tiongkok mengunggah foto phablet-nya hangus terbakar setelah di-charge. Foto itu menjadi viral dan menyita perhatian netizen. Pada foto yang ia unggah, kita bisa melihat bekas ledakan di bagian tepi kiri GalaxyNote 7.

Menurut analisis, ledakan itu terjadi akibat pengisian baterai Galaxy Note 7 menggunakan adapter Micro USB dari pihak ketiga yang disambungkan ke USB Type-C.

“Kabel yang digunakan bisa jadi aksesoris dari pihak ketiga. Adapter yang digunakan seharusnya berwarna putih. Sementara, di foto ia menggunakan kabel dengan warna hitam,” tulis BGR.

Sebaiknya, Anda menggunakan aksesoris asli dari pihak Samsung agar dapat menghindari kejadian yang tidak diinginkan.

VMworld 2016: Workspace ONE Hilangkan Pemisah Antara Pengguna dan TI

VMworld-beT-2a
Sanjay Poonen (GM, End-User Computing dan Head of Global Marketing, VMware) saat memberikan penjelasan mengenai Workspace ONE di WMworld 2016 yang berlangsung di Las Vegas 28 Agustus sampai 1 September 2016 lalu.

Las Vegas, InfoKomputer – Di zaman BYOD (bring your own device) ini, pengguna alias pekerja menginginkan kebebasan akan perangkat apa saja yang ingin digunakannya untuk bekerja, sedangkan perusahaan menginginkan agar data perusahaan tetap aman. Untuk hal seperti itu, VMware menawarkan Workspace ONE. Hal ini pun kembali ditegaskan pada VMworld 2016 yang berlangsung dari tanggal 28 Agustus sampai 1 September 2016 lalu.

“Apa yang hendak kami cari dengan membawa ini semua menjadi satu, adalah untuk mengambil component spaces seperti VDI, dan manajemen perangkat mobile dan mobility end, manajemen identitas, dan membawa mereka bersama-sama ke dalam sebuah keutuhan yang holistik. Dan kekuatan dari melakukan hal ini sekarang adalah Anda bisa membawa pemisah antara pengguna dan TI menjadi satu. Yang mana pengguna, Anda tahu mereka mau pilihan. TI, mereka mau kontrol. Pengguna, mereka mau kemudahan, TI mau keamanan,” ujar Sanjay Poonen (GM, End-User Computing dan Head of Global Marketing, VMware) saat menjelaskan Workspace ONE.

Workspace ONE sendiri dibagi ke dalam tiga lapisan, yakni Identity, Application and Desktop Virtualization, dan Management.

Identity adalah bagian yang memastikan agar setiap pengguna yang sah bisa mendapatkan akses ke aplikasi yang telah disetujui untuknya, baik itu aplikasi Windows, aplikasi cloud, maupun lainnya. Produknya disebut dengan VMware Identitiy Manager yang tentunya telah mendukung single sign-on.

Application and Desktop Virtualization adalah bagian yang memvirtualisasikan aplikasi untuk membuat mereka lebih mobile, mengirimkan mereka ke berbagai perangkat. Adapun produknya adalah VMware Horizon.

Management bertujuan untuk mengatur dan mengamankan. Komponen yang ketiga ini memastikan agar yang berjalan di berbagai perangkat itu misalnya sudah di-patch dengan benar, juga memastikan policy keamanannya sudah tepat. Untuk komponen ketiga ini produknya memiliki nama VMware AirWatch.

Workspace ONE yang memungkinkan any device dan any application ini melengkapi visi dari VMware, yakni Any Device, Any Application, dan Any Cloud. Pengguna bisa dengan mudah “membawa” workspace digitalnya di perangkat apa saja, kapan saja, secara aman.

Ada tiga versi Workspace ONE, yakni Standard, Advanced, dan Enterprise. Versi Standard menawarkan hanya Identity, versi Advanced menambahkan Management, dan versi Enterprise menawarkan ketiga lapisan secara utuh.

Meskipun begitu, perusahaan tentu tetap bisa membeli setiap produk secara terpisah. Misalnya hanya membeli VMware Horizon.

Fitur Terkini

Beberapa fitur terkini yang menjadi andalan Workspace ONE adalah tak perlunya menggunakan token, dukungan untuk provision dan de-provision Office 365 yang lebih baik, dan tersedianya opsi untuk menambahkan TrustPoint. Untuk yang terakhir ini sifatnya tambahan yang dibeli secara terpisah.

Workspace One tak perlu menggunakan token untuk two factor authentication-nya berhubung bisa memanfaatkan perangkat, misalnya smartphone, yang hampir selalu dibawa dan digunakan pengguna sebagai “token”. Saat mengakses perangkat tertentu, Workspace One dengan mobile push authentication-nya akan mengirimkan pesan maupun notifikasi. Tak perlu lagi membawa token terpisah ke mana-mana. Perusahaan pun bisa lebih hemat karena tak lagi perlu menyediakan token untuk para pegawainya.

Dengan dukungan provision dan de-provision Office 365 yang baru, yang diumumkan di acara yang mengambil tema be_TOMORROW ini, bila ada pengguna yang berhenti bekerja, Workspace One memungkinkan untuk menghentikan akses pengguna tersebut terhadap bagian cloud dari Office 365 secara langsung, tidak lagi dalam hitungan jam atau hari seperti sebelumnya. Sebaliknya, jika ada pengguna baru, akses pun bisa diberikan secara lebih mudah dengan mobile push authentication.

Sementara, TrustPoint memungkinkan manajemen dan sekuriti yang lebih mudah berhubung bisa digunakan layaknya mesin pencari Google, Yahoo, Bing, dan sejenisnya. Departemen TI bisa memasukkan kata kunci dalam bahasa Inggris dan TrustPoint akan menampilkan hasilnya. Selanjutnya tindakan pun bisa diambil.

Ongki Kurniawan, Bos Baru Line Indonesia

Ongki Kurniawan, Managing Director Line Indonesia
Ongki Kurniawan, Managing Director Line Indonesia

Akhirnya, aplikasi pesan instan Line Indonesia memperkenalkan Ongki Kurniawan sebagai Managing Director pertamanya terhitung sejak 1 Juni 2016 lalu. Sebelumnya, Ongki bekerja di XL Axiata selama tujuh tahun dan terakhir menjabat sebagai Chief Digital Services Officer.

“Saya bergabung dengan Line sejak 1 Juni 2016. Namun, karena waktu itu Line sedang IPO, jadi fokusnya ke IPO dulu, dan baru resmi ada perkenalan (saya) sekarang,” kata Ongki di Crematology, Jakarta, Jumat.

Ongki berambisi membawa Line Indonesia menjadi smart portal nomor wahid di Indonesia dengan menjembatani para pengguna untuk saling terhubung dan memberikan akses informasi beragam dan servis dimanapun dan kapanpun.

“Saya melihat Line memiliki peluang yang besar di industri dan Line punya komitmen kuat. Saya yakin Line akan memberikan dampak yang luar biasa besar kepada Indonesia,” ucapnya.

Kini Line memiliki pengguna aktif bulanan mencapai 220 juta. Pada 2013, Line masuk ke Indonesia. Sejak 2014, pengguna Line di Indonesia naik 200 persen dengan jumlah pengguna lebih dari 90 juta.

Ongki mengatakan Line memiliki misi baru “Closing the Distance” yaitu mendekatkan jarak kepada pelanggan dengan perbanyak konten dan informasi yang bisa jadi peluang.

“Indonesia masuk ke top 4 Line secara global. Kita terus geber agar Indonesia masuk ke top 2 setelah Jepang. Pengguna Line akan terus tumbuh seiring dengan penetrasi smartphone di Indonesia,” pungkasnya.

Selain itu, Line juga mengembangkan ekosistem digital, mulai dari agregator berita dengan LINE Today hingga tempat belanja yaitu LINE Shopping. LINE bahkan menyediakan komik digital dalam bentuk Webtoon.

Webtoon memiliki pengguna secara global sebanyak 35 juta orang. Sebanyak 6 juta di antaranya berasal dari Indonesia. Tidak hanya dari segi pembaca, Webtoon juga memiliki komik-komik buatan lokal.

“Saat ini Webtoon Indonesia memiliki 88 judul dan sebanyak 36 judul merupakan buatan lokal,” ucapnya.

Sebelum bergabung di Line, Ongki memulai karier di Citibank dengan posisi terakhir sebagai Assistant Vice President. Setelah itu, ia melanjutkan karier sebagai principal untuk The Boston Consulting Group (BCG), dengan pengalaman memimpin sejumlah proyek konsultasi strategis di bidang telekomunikasi di sejumlah negara Asia dan Eropa.

Perjalanan pria lulusan Sarjana Teknik ITB itu kemudian berlabuh di PT XL Axiata Tbk (XL) selama tujuh tahun. Kiprah Ongki di XL dimulai sebagai Senior Vice President Corporate Strategy dan Business Development. Kemudian di penghujung karirnya di XL, Ongki mengisi kursi Direksi/Chief Digital Services XL.

Selain itu, pria lulusan University of California ini juga merupakan Noaed Member untuk Adknowledge Asia Pasifik dan Elevenia.

Review Smartphone