25 | September | 2016 | InfoKomputer Online

Arsip Harian: Sep 25, 2016

Banyak Perangkat IoT Jadi Target Serangan Penjahat Siber, Tujuannya?

Internet-of-Things

Symantec mengungkapkan penelitian baru yang menunjukkan cara jaringan penjahat siber mengambil keuntungan dari celah keamanan perangkat IoT untuk menyebarkan malware dan menciptakan jaringan zombie, atau botnet, tanpa sepengetahuan pemilik perangkat tersebut.

Tim Symantec Security Response telah menemukan bahwa penjahat dunia maya membajak jaringan rumah dan perangkat konsumen yang terhubung setiap harinya untuk membantu melakukan serangan DDoS pada target yang lebih menguntungkan, seperti perusahaan besar.

Agar berhasil, mereka membutuhkan bandwidth yang murah dan mendapatkannya dengan cara menyatukan jaringan besar perangkat konsumen yang mudah diserang karena tidak memiliki keamanan yang canggih.

Lebih dari separuh dari total serangan IoT berasal dari Tiongkok dan Amerika Serikat, berdasarkan lokasi alamat IP untuk memulai serangan malware. Jumlah serangan yang tinggi juga berasal dari Jerman, Belanda, Rusia, Ukraina, dan Vietnam. Dalam beberapa kasus, alamat IP dapat memiliki proxy yang digunakan oleh penyerang untuk menyembunyikan lokasi mereka yang sebenarnya.

Kebanyakan target IoT malware adalah perangkat non-PC yang tertanam seperti server web, router, modem, perangkat NAS, sistem CCTV, dan sistem kontrol industri. Sebagian besar dari perangkat tersebut dapat diakses internet, tetapi karena sistem operasi dan keterbatasan daya, mereka mungkin tidak memiliki fitur keamanan yang canggih.

Kelemahan Password

Penyerang saat ini sangat menyadari bahwa banyak perangkat IoT yang tidak memiliki keamanan yang cukup. Walhasil, banyak penyerang memprogram malware mereka dengan password default yang umum digunakan yang memungkinkan mereka untuk membajak perangkat IoT dengan mudah.

Keamanan yang buruk pada sebagian besar perangkat IoT menjadikan mereka sasaran empuk. Bahayanya, seringkali korban pun tidak tahu bahwa mereka telah dibajak.

Temuan lain dari penelitian Symantec meliputi:

  • Tahun 2015 merupakan tahun rekor untuk serangan IoT, dengan banyak spekulasi tentang kemungkinan pembajakan rumah dan perangkat keamanan rumah. Namun, serangan sampai saat ini menunjukkan bahwa penyerang cenderung kurang tertarik pada korban dan mayoritas ingin membajak perangkat tersebut untuk menambahkannya ke botnet, yang sebagian besar digunakan untuk serangan DDoS.
  • Perangkat IoT adalah target utama karena mereka dirancang untuk dipasang dan dilupakan setelah pemasangan dasar.
  • Password yang paling banyak digunakan IoT malware untuk login ke perangkat, tidak lain adalah kombinasi dari “root” dan “admin” yang menunjukan bahwa password default seringkali tidak pernah berubah.
  • Serangan yang berasal dari berbagai platform IoT secara bersamaan akan lebih sering ditemukan di masa depan, sebagai jumlah perangkat tertanam terhubung ke meningkatnya internet.

Avanci, Online Marketplace Pertama untuk Berbagi Lisensi Teknologi Nirkabel dan IoT

avanci-marketplace-iot

Avanci meluncurkan online marketplace pertama di dunia sebagai wahana para vendor teknologi untuk berbagi lisensi teknologi nirkabel yang telah dipatenkan untuk kebutuhan Internet of Things (IoT).

Avanci membawa berbagai paten nirkabel yang sesuai standar dari pemimpin industri, membuatnya tersedia hanya dengan satu lisensi bagi manufaktur IoT yang ingin memperluas konektivitas dalam rangkaian produknya.

Perusahaan akan mendapatkan harga flat-price yang transparan untuk tiap perangkat yang akan bervariasi sesuai dengan nilai teknologi yang dibawa ke perangkat tersebut.

“Sejak dimulai April lalu, kami telah menerima banyak sekali respons positif, baik dari manufatur perangkat IoT maupun pemilik paten, terhadap solusi lisensi terpadu ini. Avanci juga akan segera menambah jumlah perusahaan dalam marketplace ini beberapa bulan ke depan,” kata Kasim Alfalahi (Founder and Chief Executive Officer Avanci).

“Dengan Avanci, sesuatu yang membutuhkan waktu dan tenaga untuk bernegosiasi dengan banyak pemilik teknologi dapat dilakukan di satu tempat dengan satu izin. Hal ini kemudian memberikan akses ke teknologi nirkabel terkini untuk perusahaan manufaktur IoT di dunia sehingga mereka dapat fokus untuk menciptakan produk-produk baru ke pasar,” sambung Alfalahi.

Didukung Banyak Inovator Teknologi Nirkabel

Avanci akan mengawali langkah dengan memfokuskan upaya lisensi untuk teknologi seluler 2G, 3G, dan 4G untuk mobil yang terhubung (connected cars) serta smart meter dengan rencana untuk segera memperluas jangkauan produk IoT.

Lisensi Avanci untuk industri IoT menyediakan keseluruhan akses paten standar ke seluruh inovator teknologi nirkabel, termasuk Ericsson, Qualcomm, InterDigital, KPN, dan ZTE, begitu juga dengan paten yang mereka kembangkan atau dapatkan selama waktu lisensi.

“Platform lisensi dari Avanci memungkinkan adopsi teknologi nirkabel kami oleh manufaktur perangkat IoT, mempercepat pengembangan dari Internet of Things dan penyerapan LTE secara global untuk IoT,” kata ujar Gustav Bismark (Chief Intellectual Property, Ericsson).

“Di Qualcomm, kami telah mengembangkan teknologi nirkabel kami lebih dari sekadar mobile ke berbagai industri baru dalam ranah IoT. Solusi teknologi kami membantu penyedia IoT di berbagai segmen pasar, mulai dari rumah ke mobil, kota ke wearable, dan menjadikan berbagai hal itu mungkin,” kata Alex Rogers (President, Qualcomm Technology Licensing).

Michael Arrington: Kaya Raya Berkat Blog Teknologi

michael-arrington-2
Nama Michael Arrington berkibar saat dia mendirikan TechCrunch pada tahun 2005. Kini bisa dikatakan TechCrunch adalah “blog resmi” Silicon Valley.

Surutnya masa jaya media cetak sedang banyak dibicarakan. Pro dan kontra selalu mewarnai diskusi apakah memang hal tersebut bakal segera terjadi dalam beberapa tahun mendatang, termasuk diskusi tentang model alternatif pengganti media cetak.

Di luar perdebatan yang masih berlangsung, sebenarnya banyak pihak yang telah bersiap untuk terjun mempersiapkan alternatif, salah satunya dalam bentuk media online atau blog. Malah ada juga yang mencoba memanfaatkan peluang dengan turut mendirikan media online meski tidak memiliki pengalaman dalam media cetak. Banyak yang berhasil namun tak sedikit pula yang gugur.

Salah satu yang dapat dikatakan berhasil, malah sangat berhasil, adalah TechCrunch, sebuah media online yang mengupas berbagai berita terbaru tentang teknologi informasi. Adalah Michael Arrington yang menjadi arsitek di balik suksesnya TechCrunch tersebut.

[BACA: Inilah 8 Blogger Terkaya di Dunia]

Meskipun sukses dengan media berisi berita teknologi informasi, Michael Arrington sejatinya tidak memiliki latar belakang pendidikan jurnalistik maupun teknologi. Tapi, memang curriculum vitae sebagai pengusaha yang dimiliki oleh Arrington cukup mentereng. Inilah yang membuatnya memiliki semangat pantang menyerah. Sikap uletnya juga diyakini menjadi salah satu faktor yang melambungkan TechCrunch.

Bukan Berlatar Belakang Teknologi

Michael Arrington terlahir pada tanggal 13 Maret 1970 di Huntington Beach, California, dengan nama J. Michael Arrington. Hingga detik ini, hampir tidak ada media yang berhasil mengorek kepanjangan inisial J tersebut.

Latar belakang pendidikan tinggi yang ditempuh Arrington sangat jauh dari dunia teknologi informasi. Dia mengambil jurusan ekonomi di Claremont McKenna College dan berhasil meraih gelar sarjananya di tahun 1992. Setahun kemudian, Arrington melanjutkan lagi pendidikannya di Sekolah Hukum Stanford hingga akhirnya lulus di tahun 1995.

Berbekal pendidikannya di Stanford, Arrington kemudian bekerja di dua firma hukum sekaligus, yaitu O’Melveny & Myers dan Wilson Sonsini Goodrich & Rosati. Di sinilah Arrington mulai banyak bertemu dengan perusahaan besar yang bergerak di bidang teknologi.

Pemimpin firma tersebut, Larry Sonsini, dikenal sebagai pengacara dan konsultan hukum untuk perusahaan besar teknologi informasi, sebut saja Google, Amazon, Twitter, Autodesk, Hewlett-Packard, LinkedIn, Netflix, dan lain-lain. Sementara nama-nama besar teknologi yang langsung menjadi klien Arrington adalah Netscape, Pixar, Apple, dan Idealab. Di samping itu dia juga menangani beberapa startup, perusahaan ventura, dan bank investasi.

Di penghujung abad ke-20, khususnya di Silicon Valley, Arrington makin banyak menangani urusan IPO (initial public offering atau penawaran perdana saham perusahaan ke khalayak umum), dana ventura, dan merger antarperusahaan.

Terjun Menjadi Pengusaha

Bertemu dengan banyak perusahaan besar teknologi dan menjadi konsultan hukum bagi mereka dari sisi pendanaan barangkali membangkitkan kembali gairah jiwa ekonomi Arrington. Jadi ketika sudah merasa puas menjadi praktisi hukum, Arrington mulai banyak mencurahkan waktunya untuk menjadi seorang pengusaha.

Petualangannya menjadi pengusaha diawali dengan belajar menjadi karyawan terlebih dahulu. Pada tahun 1999, Arrington meninggalkan Wilson Sonsini Goodrich & Rosati untuk bergabung dengan sebuah startup bernama RealName. Di RealName, Arrington menjabat sebagai wakil presiden urusan pengembangan bisnis. Sayang sekali awal kisahnya sebagai calon pengusaha tidak berakhir dengan sukses karena RealName dinyatakan bangkrut.

Namun ciri seorang (calon) pengusaha sukses adalah tidak mudah menyerah. Pada tahun 2000, bersama dengan Keval Desai, Arrington mendirikan Achex, sebuah perusahaan pembayaran online. Kali ini Arrington cukup sukses karena pada awalnya Achex mendapatkan investasi sebesar hampir 20 juta dollar AS. Dan setahun kemudian, perusahaannya ini dijual kepada First Data Corp sebesar 32 juta dollar AS. Achex kini bahkan menjadi tulang punggung infrastruktur Western Union online.

Ada satu perkataan menarik yang meluncur dari mulut Arrington pasca-pembelian Achex oleh First Data Corp, yaitu “Saya telah menghasilkan uang yang cukup untuk membeli sebuah Porsche. Tak lebih.” Kalimat ini barangkali bisa dimaknai sebagai sebuah lecutan untuk dirinya sendiri bahwa apa yang dilakukannya selama ini baru menghasilkan sebuah Porsche saja dan belum apa-apa bila dibandingkan dengan raksasa teknologi informasi lainnya.

Mendirikan Banyak Perusahaan

Setelah “membidani” Achex, Arrington memegang jabatan operasional pada sebuah startup yang didanai oleh Carlyle, yang berlokasi di London. Pada saat bersamaan, dia juga menjadi konsultan VeriSign. Jiwa pengusahanya tetap diasah dengan menjadi co-founder dua perusahaan di Kanada yaitu Zip.ca dan Pool.com.

Daftar panjang curriculum vitae Michael Arrington tidak berhenti sampai di situ. Masih ada lagi perusahaan yang didirikannya seperti Edgeio. Perusahaan lain yang sempat merasakan tangan dingin kepemimpinannya, antara lain Foldera (sebagai direktur) dan Razorgator (sebagai COO atau chief operating officer).

Nama Michael Arrington baru benar-benar berkibar saat dia mendirikan TechCrunch pada tahun 2005. TechCrunch adalah sebuah penerbitan online, secara sederhana barangkali bisa juga disebut sebuah blog. TechCrunch menjadi luar biasa karena mengangkat berita-berita terbaru tentang perkembangan teknologi, khususnya dari Silicon Valley, serta memberikan analisis yang cukup rinci. Malahan kini bisa dikatakan TechCrunch adalah “blog resmi” Silicon Valley.

Arrington benar-benar mencurahkan segenap kehidupannya demi kesuksesan TechCrunch. Saat mengawali blog tersebut, dalam satu hari Arrington bisa menulis beberapa artikel dan benar-benar bekerja keras hingga tertidur karena kelelahan. Teramat sering dia tertidur di atas keyboard-nya. Setelah terbangun, siklus kerja keras tersebut diulanginya lagi hingga dia tertidur lagi.

Kerja kerasnya memang terbayar dengan kesuksesannya saat ini. Namun di balik itu, Arrington sempat bermasalah dengan kesehatannya karena pola tidur dan makannya yang tidak teratur. Bahkan berat badannya sempat naik sekitar 22,7 kg dalam waktu lima tahun.

michael-arrington-3Kunci Kesuksesan

Walaupun demikian, kesuksesan TechCrunch tidak semata ditentukan oleh kerja keras Arrington. Keputusannya yang tepat dalam merekrut orang-orang untuk mengisi konten TechCrunch tentu juga memiliki andil.

Pengisi konten TechCrunch di antaranya adalah jurnalis-jurnalis yang cukup ternama serta orang-orang dengan kompetensi di bidang tertentu, seperti Chris Dixon dan Semil Shah yang bergerak di bidang dana ventura, serta pengusaha bernama Kevin Rose.

Sukses TechCrunch tidak lantas membuat Arrington berhenti berkarya. Konsekuensi logis dari suksesnya TechCrunch membawanya memiliki uang yang tentunya bukan hanya sekadar cukup untuk membeli sebuah Porsche, namun bisa membeli perusahaan lain.

Dengan dana yang dimilikinya, dia mendirikan CrunchFund pada tahun 2011 bersama dengan dua rekannya, M.G. Siegler dan Patrick Gallagher. CrunchFund banyak mendanai perusahaan-perusahaan startup dan bahkan membelinya bila dinilai memiliki prospek bagus.

Pada tanggal 20 September 2010, pada konferensi TechCrunch Disrupt di San Fransisco, AOL mengumumkan akan mengakuisisi TechCrunch, dengan nilai transaksi diperkirakan berkisar antara 25 juta hingga 40 juta dollar AS.

Meskipun memiliki watak pekerja keras yang patut dicontoh, Michael Arrington tetaplah manusia biasa yang memiliki kelemahan. Arrington sayangnya memiliki sifat temperamental dan sering memaki rekan kerjanya dengan kata-kata kasar. Mungkin itu pula yang sempat menimbulkan misteri mundurnya Arrington dari TechCrunch pada bulan September 2011.

Rumornya, dia direkrut oleh AOL Venture. Namun hanya dalam hitungan hari, dikabarkan Arrington tidak lagi berada di AOL Venture. Malah pada bulan Oktober 2012, Arrington diberitakan kembali lagi ke TechCrunch.

Inilah 8 Blogger Terkaya di Dunia

Ilustrasi blogger terkaya. [Kredit: genhq.com]
Ilustrasi blogger terkaya. [Kredit: genhq.com]
Dengan makin berkembangnya internet, profesi blogger makin menjanjikan dan bisa membuat orang menjadi terkenal dan bahkan kaya-raya.

Dahulu mayoritas blog digunakan untuk media diskusi, sharing atau sekadar menjadi wadah jurnal. Namun kini, blog bisa dijadikan sumber penghasilan dan bisnis yang efektif. Siapa sangka jika kegiatan menulis artikel tersebut bisa menjadi mata pencaharian.

Saat ini sudah banyak orang yang sukses dengan hanya menjadi seorang blogger. Namun untuk mencapai itu semua, diperlukan skill serta kedisiplinan yang tinggi. Berikut kami tampilkan beberapa blogger yang cukup terkenal dan memiliki penghasilan cukup besar.

Gina Trapani [Dok. Lifehacker].
Gina Trapani [Dok. Lifehacker].
Gina Trapani

Perempuan asal New York ini merupakan pendiri sekaligus CEO dari Lifehacker yang menjadi satu-satunya wanita produktif berpenghasilan tinggi dari blog. Blog Lifehacker yang dirilis pada 31 Januari 2005 berisi berbagai konten untuk memberikan petunjuk cara mengerjakan sesuatu dengan mudah dan lebih baik. Gina juga dikenal sebagai sosok yang aktif di media sosial. Baru-baru ini, ia juga gencar mengembangkan ThinkUp yaitu agregasi media sosial terbuka, dan menjadi analis tool di Experts Labs. Untuk pendapatannya sendiri, ia memperoleh sekitar 110 ribu dollar atau sekitar 1,5 miliar rupiah per bulan.

Collis Ta'eed [Dok. Envato],
Collis Ta’eed [Dok. Envato],
Collis Ta’eed

Collis Ta’eed dikenal sebagai Co-founder Envato, perusahaan yang memegang kendali atas delapan online marketplace. Namun selain itu, ia juga memiliki blog TutsPlus yang mendapatkan penghasilan besar yaitu sekitar 55 ribu – 120 ribu dolar AS atau sekitar 742,5 juta – 1,62 miliar rupiah setiap bulannya. TutsPlus adalah situs informasi untuk membangun keterampilan yang mengkompilasi tutorial, tips, dan banyak metode pengajaran lainnya. Isinya lebih banyak menginformasikan pembaca tentang perangkat lunak atau aplikasi apa saja yang dibutuhkan dan alat-alat yang digunakan untuk merancang blog.

Jake Dobkin. [Foto: internetmarketingblog101.com]
Jake Dobkin. [Foto: internetmarketingblog101.com]
Jake Dobkin

Jake Dobkin adalah pencipta gothamist.com yang menyediakan informasi seputar jenis-jenis makanan, kesenian dan berbagai acara. Dari sini ia menghasilkan pendapatan sekitar US$80 ribu sampai US$110 ribu atau sekitar 1,08 miliar – 1,5 miliar rupiah per bulan. Pada mulanya, Gothamist hanya berisi artikel tentang kehidupan kota di New York. Beberapa tahun belakangan, Gothamist telah memperluas jangkauannya ke tiga belas kota di seluruh dunia, termasuk Chicago, Los Angeles, London, New York, Shanghai, San Fransisco, Washington DC, dan Toronto.

Timothy Sykes.
Timothy Sykes.

Timothy Sykes

Timothy Skykes memiliki penghasilan sebesar US$180 ribu per bulan dari keahliannya dalam mengelola blog bikinannya yaitu TimothySykes.com. Selain sebagai blogger, Timothy juga seorang pebisnis dan juga pemain saham. Sebagai entrepreneur muda, Timothy memang ahli di bidang saham dan pasar modal. Dan blog yang ia kelola itu hanyalah pekerjaan sampingan bagi dirinya. Tidak mengherankan jika blog-nya banyak berisi konten yang berhubungan dengan dua hal tersebut. Alumni Universitas Tulane ini juga dikenal aktif sebagai pengajar dan aktivis finansial, yang sudah memiliki ribuan siswa di enam puluh negara.

Vitaly Friedman [foto: responsivedesign.io]
Vitaly Friedman [foto: responsivedesign.is]
Vitaly Friedman

Vitaly Friedman adalah pendiri Smashing Magazine. Blog ini cukup populer dan sangat terkenal dalam dunia desain web dan pengembangannya. Jika Anda ingin menguasai bidang ini, Anda bisa membaca beberapa ulasan di Smashing Magazine. Situs ini menyajikan tip terbaru berserta panduan dan tutorial berkualitas tinggi. Penghasilan blognya lebih banyak dihasilkan dari banner iklan dan tidak termasuk pendapatan afiliasi. Vitaly bisa menghasilkan uang sebesar 150 – 190 ribu dolar AS atau sekitar 2,03 – 2,6 miliar rupiah.

Perez Hilton [kredit: ijr.com]
Perez Hilton [kredit: ijr.com]
Perez Hilton

Perez Hilton yang memiliki nama asli Mario Armando Lavanderia, Jr. dikenal sebagai blogger serta pekerja televisi asal AS. Dengan jiwa sebagai jurnalis yang lihai dalam menulis berita, pada tahun 2005, ia mendirikan blog yang diberi nama PerezHilton.com. Situs tersebut mengkhususkan pada berita-berita selebriti, skandal, dan sejenisnya. Jadi jangan heran jika berkunjung ke blog ini, ada banyak berita bombastis dari kalangan selebriti dunia. Banyak sekali pengunjung yang menjadi pelanggan blog gosip ini. Ia sendiri bisa meraih 200 – 400 ribu dolar AS atau sekitar 2,7 – 5,4 miliar rupiah per bulan.

Pete Cashmore [foto: freefeast.info].
Pete Cashmore [foto: freefeast.info].
Pete Cashmore

Berawal dari sebuah kamar kecil di kawasan Skotlandia, Pete Cashmore membuat blog pertamanya saat berusia sembilan belas tahun. Siapa sangka kini Pete Cashmore menjadi salah satu blogger terkaya dengan penghasilan rata-rata US$560 ribu– US$600 ribu per bulannya. Pete adalah pencipta blog Mashable yang banyak mengupas segala hal terkait bisnis, teknologi, gaya hidup, dan dunia hiburan. Sebagai pendiri dan CEO Mashable, Pete tidak hanya menulis artikel di blog tersebut, tetapi juga rutin menulis kolom teknologi dan media sosial di CNN. Menurut Sunday Times, Cashmore tercatat memiliki kekayaan sejumlah 230 juta dolar AS atau 3,12 triliun rupiah di tahun 2015.

Michael Arrington [ foto: thewire.com].
Michael Arrington [ foto: thewire.com].
Michael Arrington

Dengan penghasilan sebesar US$500 ribu– US$800 ribu per bulan, pria kelahiran tahun 1970 yang juga mendapat julukan sebagai “Nabi Silicon Valley” ini merupakan salah satu blogger terkaya. Sebagai seorang sarjana ekonomi, ia mulai terjun ke dunia internet sejak tahun 2005 dan mendirikan TechCrunch. Melalui TechCrunch, ia pun banyak menulis artikel mengenai segala hal yang berhubungan dengan masalah teknologi. Kini TechCrunch telah menjadi acuan bagi yang ingin mendapatkan perkembangan industri teknologi dan bisnis startup digital terbaru.

Kolaborasi dengan Fintech, Cara Perbankan Songsong Transformasi Digital

mobile-banking-fintech-growth

Dalam rangka melakukan transformasi digital, sebagian besar pelaku perbankan menyatakan siap menjalin kolaborasi dengan perusahaan startup di bidang fintech atau financial technology.

Hal ini terkuak dari survei yang dicantumkan IDC dalam e-book berjudul “The Future-Proof Digital Bank”. IDC menyurvei 365 bank retail dan korporat di 24 negara untuk mengetahui persiapan perbankan dalam menyongsong transformasi digital.

Hasilnya, 6 dari 10 bank global siap bekerjasama dengan fintech, baik berwujud kolaborasi maupun rencana akuisisi.

Data tersebut menunjukkan bahwa hubungan antara bank dan fintech kian membaik. Terlihat pula bahwa sesungguhnya antara bank dan fintech, keduanya sama-sama saling membutuhkan.

“Bank kini berada di tengah-tengah transformasi digital, mencari cara untuk mempercepat waktu mereka ke pasar dan memberikan nilai baru atau jasa kepada pelanggan. Startup di sisi lain memiliki karakter yang mobile, lincah, dan dibangun semata-mata untuk pelanggan, namun mereka tidak memiliki peraturan, pengetahuan, dan keyakinan pelanggan seperti yang dimiliki bank besar berskala global,” papar Rob Hetherington (Kepala Global Layanan Keuangan, SAP).

“Keduanya memiliki sesuatu yang diinginkan satu sama lain, dan saya berharap bahwa kita akan menyaksikan kolaborasi, integrasi yang jauh lebih besar, atau bahkan dalam beberapa kasus, akuisisi yang terjadi di tahun depan,” lanjut Hetherington.

SAP juga menyatakan bahwa bank masih perlu berbuat lebih banyak dalam menerapkan pelajaran penting dari fintech untuk mencapai transformasi digital menyeluruh. Pasalnya, sebagian bank ditemukan masih melakukan transformasi digital yang terpisah-pisah (silo) ke dalam “pulau-pulau inovasi”.

Jerry Silva (Direktur Riset, IDC Financial Insights) menambahkan, “Transformasi digital di bank mana pun selalu dimulai dengan evaluasi diri jujur yang melibatkan banyak pertanyaan yang menyentuh permintaan pelanggan yang terus bertumbuh, kekuatan, kelemahan, dan lanskap pesaing.”

“Dari sana, bank harus kemudian berinvestasi dalam transformasi digital menyeluruh dengan membangun keterlibatan direksi, membangun struktur kepemimpinan untuk transformasi organisasi secara penuh, dan akhirnya membangun infrastruktur yang mendukung kerja sama bisnis,” tutup Silva.

SAP Bantu Perguruan Tinggi di Indonesia Lahirkan Lulusan Perempuan Kelas Internasional

SAP Indonesia bekerjasama dengan Universitas Indonesia dan Prasetiya Mulya Business School meluncurkan program "Women Mentoring Program".
SAP Indonesia bekerjasama dengan Universitas Indonesia dan Prasetiya Mulya Business School meluncurkan program “Women Mentoring Program”.

SAP Indonesia bekerjasama dengan Universitas Indonesia dan Prasetiya Mulya Business School meluncurkan program “Women Mentoring Program”. Tujuannya untuk membantu perguruan tinggi di Indonesia menghasilkan lulusan perempuan yang berkelas internasional dan siap terjun di dunia kerja.

Program berdurasi satu tahun ini berada di bawah naungan SAP University Alliance, aktivitas nonprofit SAP di bidang pendidikan tinggi, serta SAP Business Women’s Network Indonesia, jaringan yang digerakkan oleh para karyawan SAP untuk berbagi wawasan profesional mereka dan membantu perempuan secara luas.

SAP Business Women’s Network menyelenggarakan sesi sosialisasi secara regular dengan para petinggi SAP tingkat atas dan sesi pelatihan karier. Selain itu, para anggota juga memiliki kesempatan untuk mewakili SAP di acara-acara eksternal, memberikan masukan kepada SAP seputar masalah keberagaman, dan ambil bagian dalam program penjangkauan masyarakat.

Megawaty Khie (Vice President dan Managing Director, SAP Indonesia), mengatakan, “SAP Indonesia Women Mentorship Program adalah wujud dari komitmen berkelanjutan kami terhadap kesetaraan gender, kesejahteraan perempuan, dan masa depan perempuan Indonesia. Kami berharap akan ada lebih banyak institusi pendidikan tinggi yang berpartisipasi dalam program ini ke depannya.”

Anita Hardjapamekas (Chapter Lead dari SAP Indonesia Women Mentoring Program) menegaskan bahwa program ini memberikan kesempatan istimewa bagi para mahasiswi untuk belajar banyak ilmu dari karyawan unggulan SAP dan juga bagi karyawan SAP agar mendapatkan pemahaman yang lebih baik mengenai harapan generasi milenial saat ini.

Dalam program ini, mahasiswi terpilih akan dapat belajar langsung dari mentor yang akan memberikan bimbingan dalam memahami seluk-beluk dunia kerja; membagi pengetahuan seputar dunia industri, profesi, dan networking, sebelum mereka terjun ke dalam industri yang mereka pilih setelah lulus. Mentor juga akan memberikan wawasan dan bimbingan pada potensi pilihan dan strategi karier masa depan.

“Sebagai pendukung kesetaraan gender di semua tingkat universitas, kami ingin memberikan penyelenggaraan pembinaan dan dukungan karier terbaik bagi semua mahasiswi kami. Program Women Mentoring SAP Indonesia ini menyajikan platform pembelajaran terbaik.. dengan kombinasi pembinaan kelas dan pengalaman praktis yang merupakan kunci utama menuju keberhasilan di dunia kerja,” pungkas Mirna Adriani (Dekan Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Indonesia).

Review Smartphone