Berita Tahun 2020, Pekerja Freelance Diprediksi “Lebih Laku” Ketimbang Pekerja Tetap

Tahun 2020, Pekerja Freelance Diprediksi “Lebih Laku” Ketimbang Pekerja Tetap

freelancer

Freelancer.com menggelar #FreelancerJakartaMeetup bertema: “The Future of Work: Life Inside the Gig Economy” yang diadakan Sabtu ( 1/10) lalu di Jakarta.

Tren terhadap “gig” atau “shared” economy telah dimulai. Hal ini dapat terlihat dari posisi temporer serta kontrak-kontrak on-demand dengan para pekerja independen. Ditandai pula dengan hadirnya layanan seperti Uber, Airbnb, dan Freelancer.com.

Tahun 2010 silam, perusahaan riset global Intuit memprediksi bahwa sebelum tahun 2020, cara bekerja konvensional tidak akan lagi menjadi norma/standar. Pegawai permanen akan banyak tergantikan oleh pekerja proyek seperti freelancer dan pekerja paruh waktu.

Tren jangka panjang untuk mempekerjakan pekerja per proyek pun diprediksi akan terus meningkat seiring dengan lebih dari 80% dari korporasi-korporasi besar akan mulai meningkatkan penggunaan tenaga kerja yang lebih fleksibel.

Lebih banyak lagi bisnis dan profesional dari berbagai belahan dunia akan melompat masuk ke dunia gig ini yang memungkinkan seperangkat opsi bekerja yang baru. Menyewakan ruang kamar di Airbnb misalnya dapat menyubsidi biaya pendidikan yang dibutuhkan seseorang demi kemajuan kariernya.

Freelancer.com, layanan yang berkecimpung di ranah freelancing dan crowdsourcing juga melihat peluang tersebut. Jika melihat dari jumlah pengguna dan proyek yang diposkan, kehidupan para penggunanya bisa secara garis besar mendeskripsikan energi di dalam ekonomi gig, terutama yang berkaitan dengan freelancing secara online.

Indonesia Pasar Besar untuk Freelancer

Helma Kusuma (Country Manager Freelancer.com untuk Indonesia, Malaysia, India, Pakistan & Bangladesh) mengungkapkan, posisi Indonesia merupakan negara ke-3 di dunia dan ke-2 di Asia dengan pertumbuhan pengguna tercepat. Posisi ini lebih lanjut mendorong Freelancer.com mengakui potensi Indonesia untuk menjadi pusat  industri freelancing dan crowdsourcing terdepan di wilayah Asia Tenggara.

“Dari total 1 juta pengguna kami dari Indonesia, sekitar 900.000-nya terdaftar sebagai freelancer di Freelancer.com. Sisanya merupakan para pemberi proyek dan pebisnis kecil yang telah mengirim proyek freelance di marketplace ini,” sebut Helma.

Bagi banyak orang, gig economy merupakan sektor yang berperan besar terhadap transisi menuju ekonomi abad ke-21. Bagi beberapa orang lainnya, ekonomi ini mewakili kesempatan satu-satunya yang mereka miliki dalam mendapatkan pekerjaan. Sisanya masih melihat hal ini sebagai sektor ekonomi di tahap masih bayi/awal.

Freelancer.com sendiri baru-baru ini menggelar acara #FreelancerJakartaMeetup bertema “The Future of Work: Life Inside the Gig Economy” yang diadakan Sabtu (1/10) lalu di Jakarta.

Acara ini berkolaborasi dengan Sekolah Koding (platform video tutorial untuk belajar web development dan programming dalam bahasa Indonesia), serta Kolega (co-working space di Jakarta yang diperuntukkan bagi para freelancer dan startup).

Hadir sebagai pembicara di acara tersebut, beberapa pekerja paruh waktu yang sudah memiliki reputasi baik di Freelancer.com, antara lain Daniel G. Pratidya (Ketua Indonesia Freelancers Association/IFA), Galih Prameswara (freelancer di bidang Excel dan Visual Basic), Dian Achong (freelancer desain grafis), dan Hilman Ramadhan (Pendiri Sekolah Koding).

Comments

comments