Arsip Harian: Nov 15, 2016

Powerbank, Pulsa, dan Popok Bayi Jadi Barang Terlaris di Lazada Online Revolution

Lazada Online Revolution Sambut Harbolnas 2016
Lazada Online Revolution Sambut Harbolnas 2016

Mengadopsi momen tanggal 11.11 yang dipilih sebagai hari belanja online di Tiongkok, Lazada Indonesia turut menggelar acara belanja Online Revolution pada hari Jumat (11/11) lalu.

Hasilnya, Lazada Indonesia mencatat rekor transaksi dengan menjual 674.227 barang selama 24 jam. Tidak disebutkan informasi tentang nilai transaksi dalam jumlah rupiah, tetapi situs Lazada dikunjungi 7,4 juta orang pada hari tersebut, yang bisa disimpulkan bahwa tingkat konversi (rasio jumlah transaksi dengan jumlah pengunjung) masih di bawah 10%.

Secara umum, lima kategori produk yang paling banyak dibeli adalah jam tangan & aksesoris, fashion, handphone dan tablet, kesehatan & kecantikan, dan peralatan rumah tangga. Sedangkan bila dilihat lebih rinci, jenis produk yang paling laris pada tanggal 11 November lalu adalah jam tangan, tas selempang, powerbank, pulsa, dan popok bayi.

Kegiatan festival belanja online yang berlangsung selama satu hari penuh itu juga membuat 1.259 karyawan Lazada Indonesia bekerja secara bergiliran untuk memenuhi kebutuhan konsumen.

jumlah-barang-yang-dipesan

“Kami sangat antusias dengan hasil kampanye 11.11 ini, terlihat bahwa e-commerce telah menjadi pilihan utama berbelanja,” ungkap Florian Holm (Co-CEO Lazada Indonesia) dalam keterangan pers.

“Kami juga sangat senang dan bangga karena dapat mendukung para UKM untuk tumbuh lebih besar dalam waktu yang cepat. Untuk tanggal 11 November saja, sebagian dari penjual kami mampu memperoleh kenaikan tingkat penjualan hingga 16 kali dari biasanya,” tambahnya.

11 November (11.11) ini merupakan awal dari rangkaian bulan megadiskon besar-besaran di Indonesia menjelang Hari Belanja Online Nasional pada 12 – 14 Desember nanti.

barang-yang-paling-banyak-terjual

Selama empat minggu ke depan, setiap minggunya Lazada akan menghadirkan berbagai tema, seperti “Tampil Memukau” bagi penggemar produk kecantikan; “Terbaik untuk Keluarga” yang menghadirkan berbagai peralatan rumah tangga; “Tercanggih Hari Ini” untuk penggemar gadget dan elektronik; dan “Tampil Maksimal” bagi para pencinta mode.

Lazada juga memiliki sejumlah promosi eksklusif lain, seperti Beauty Revolution Box dari L’Oréal; rangkaian produk 501 dari Levi’s; dan penawaran flash sale terbatas, seperti TV LED LG 32” yang ditawarkan hanya Rp2.289.000, dan pulsa Indosat hanya Rp212.000 dari harga asli Rp250.000.

PT Delapan Sebelas Indonesia (i-811): Pengolah Big Data Asli Indonesia

Benni Adham (CEO, i811). [Foto: Abdul Aziz/InfoKomputer]
Benni Adham (CEO, i811). [Foto: Abdul Aziz/InfoKomputer]
Semua berawal dari rasa tertantang. Ketika mencari aplikasi untuk mengolah data dari software deep pocket inspection buatannya, Benni Adham menemui jalan buntu. Ia sempat bertemu beberapa penyedia solusi pengolahan big data, namun semua solusi yang ditawarkan tidak memuaskannya. “Saya ingin data [yang akan diolah] itu tidak harus di-prepare, namun langsung dicemplungin saja,” cerita Benni. Namun bukannya mendapat solusi, pemikiran Benni itu justru dianggap “aneh”.

Benni pun tertantang untuk membuat sendiri solusi pengolahan big data seperti yang ia inginkan. Ia habiskan waktu sekitar enam bulan untuk mempelajari map reduce dan ilmu lain seputar big data. Ia kumpulkan rekan-rekannya yang berprofesi sebagai data scientist untuk mendata berbagai permasalahan yang biasa mereka hadapi. Setelah itu, Benni mendesain dan menggarap coding sampai akhirnya lahirlah Paques (dibaca Pakis).

Nama Paques sendiri adalah singkatan dari Parallel Query System. Melalui Paques ini, Benni mendapatkan sistem pengolahan data seperti yang ia impikan, yaitu mengolah data tanpa perlu mempersiapkan data itu terlebih dahulu. “Sama sekali belum ada,” jawab Benni, ketika kami tanya apakah ada solusi di luar sana yang mirip seperti Paques.

Tanpa Persiapan

Kemampuan Benni Adham membuat software inovatif itu memang bukannya tanpa sebab. Pada tahun 2000, ketika masih duduk di bangku kuliah di jurusan computer science UI, ia sudah mendapat pekerjaan di Orange Telecom, Inggris. Di sana, ia membuat media gateway yang mengubah telephony network menjadi VoIP. Setelah itu, ia bekerja di Interoute yang menangani data berbagai perusahaan telekomunikasi di Eropa. Sederet pengalaman inilah yang melatarbelakangi ketertarikan pria ini terhadap big data.

Ketika kembali ke Indonesia, Benni bersama rekan-rekannya mendirikan PT Delapan Sebelas Indonesia (i-811) yang berfokus menggarap big data. Berbekal pengalaman selama ini, Benni mengambil rute berbeda saat mendesain Paques. “Backend kami itu sebenarnya search engine, bukan database,” ujar Benni. Mirip seperti search engine Google, Paques akan menyisir data secara on-the-fly ketika mendapat perintah/query. “Jadi definisinya ditentukan saat itu juga, seperti ini nama manufaktur, ini tahun produksi, dan sebagainya,” jelas Benni.

Karena mendefinisikan data secara on-the-fly, sistem kerja seperti Paques membutuhkan tenaga komputasi yang besar. Namun hal itu diantisipasi dengan membuat algoritma yang membuat semua proses itu dikerjakan oleh semua tenaga komputasi yang tersedia. “Jadi mirip seperti peer-to-peer,” tambah Benni. Tidak mengherankan jika Benni menyebut algoritma Paques pada dasarnya adalah mendistribusikan proses itu secara paralel dan asynchronous (tidak perlu menunggu proses lain selesai sebelum proses selanjutnya dikerjakan).

Konfigurasi berbasis cluster ini juga membuat Paques memiliki scalability yang tinggi. “Kita bisa mulai dari dua server, lalu tambah menjadi empat atau delapan server jika data yang diolah semakin besar,” jelas Benni. Konfigurasi ini juga bersifat master-less cluster karena setiap node bisa berfungsi sebagai master. Dengan kata lain, ketika salah satu server mati, sistem tetap bisa berjalan di server yang aktif.

Benni pun menceritakan kisah di sebuah perusahaan untuk menggambarkan keefektifan Paques. Perusahaan tersebut memiliki data dengan empat format yang berbeda, yaitu database, XML, Excel, dan teks. Biasanya, dibutuhkan waktu 12 – 15 jam untuk mengolah sebelum data itu siap disajikan. “Karena data itu harus dikonversi dulu, kemudian di-cleansing, di-upload ke database, dan sebagainya,” cerita Benni.

Durasi menjadi panjang karena seluruh proses harus dilakukan secara berurutan dan setiap proses melibatkan aktivitas baca-tulis. Ketika menggunakan Paques, perusahaan tersebut bisa mendapatkan data siap saji hanya dalam waktu tiga puluh menit.

Untuk bisa mengolah data itu menjadi dashboard atau BI, data analyst cukup memasukkan query. “Kami mendesain query sendiri yang kami sebut Parallel Query Language,” ujar Benni. Benni mengklaim query tersebut mudah dipelajari, sehingga yang penting adalah data analyst mengetahui dengan persis data seperti apa yang diinginkan. “Karena mereka yang paham data tersebut,” tambah Benni.

Meneruskan Momentum

Benni berkeyakinan, i-811 sudah berada di jalur yang tepat dengan fokus di dunia big data. “Karena dunia big data ini adalah sesuatu yang baru, sehingga kami dan perusahaan luar negeri pun sebenarnya sama-sama baru,” ungkap Benni.
Benni berkeyakinan, i-811 sudah berada di jalur yang tepat dengan fokus di dunia big data. “Karena dunia big data ini adalah sesuatu yang baru, sehingga kami dan perusahaan luar negeri pun sebenarnya sama-sama baru,” ungkapnya.

Saat ini Paques sendiri sudah dipakai oleh beberapa perusahaan besar Indonesia, seperti Telkom dan beberapa institusi negara. Mengingat semua perusahaan kini membutuhkan tool untuk mengolah data yang kian membesar, Benni mengaku optimis akan masa depan Paques.

Akan tetapi, tantangan memang selalu ada. “Brand kami memang kurang dikenal orang,” ujar Benni mengakui. Tantangan lain adalah, Paques adalah solusi berbasis vertikal alias ditujukan ke semua industri. Hal ini berbeda dengan kebiasaan pengembang lokal yang biasanya berbasis horizontal dan langsung bisa digunakan business user. Ketika menyasar sebuah industri tertentu, dibutuhkan sedikit kustomisasi dari GUI yang telah ada.

Hal itulah yang membuat i-811 membuat Pamedi atau Paques Media Intelligent. Pamedi diposisikan sebagai showcase bagaimana big data bisa diimplementasikan di industri media.

Pamedi bekerja dengan cara menganalisis ulasan dari berbagai situs berita terkemuka di Indonesia. Dari data yang diperoleh, Pamedi akan menampilkan dashboard berisi tren berita yang terjadi saat ini, termasuk apakah berita tersebut bersentimen positif maupun negatif. “Ini adalah cara kami menunjukkan Paques bisa dimanfaatkan di industri media,” tambah Benni.

Perusahaan i-811 sendiri saat ini memiliki karyawan 28 orang, dengan empat orang di antaranya adalah programmer yang terus menyempurnakan engine Paques ini. Benni berkeyakinan, i-811 sudah berada di jalur yang tepat dengan fokus di dunia big data. “Karena dunia big data ini adalah sesuatu yang baru, sehingga kami dan perusahaan luar negeri pun sebenarnya sama-sama baru,” ungkapnya.

Benni juga berharap, Paques akan menjadi awal momentum lahirnya berbagai platform teknologi asal Indonesia. “Karena aplikasi horizontal membutuhkan platform seperti ini,” ungkap ayah dari tiga anak ini. Menurutnya, jika perhatian pengembang aplikasi lokal hanya berada di seputar aplikasi horizontal alias berbasis industri, kita akan sulit keluar dari ketergantungan terhadap aplikasi vertikal atau platform bangsa lain.

Untuk mewujudkan hal itu, Benni kini aktif membekali timnya kemampuan mengembangkan semua platform. Ia bahkan telah membuat silabus berdurasi enam bulan berisi teori computer science yang dikombinasikan dengan kenyataan di lapangan. Bahkan ketika ditanya soal mimpi, Benni ingin mencetak sebanyak-banyaknya orang yang bisa menciptakan platform. ”Saya ingin punya excellence center untuk membangun engine untuk platform seperti ini,” tambah Benni.

Benni berkeyakinan, mimpi itu akan terwujud karena banyak orang pintar di Indonesia. Ia pun mencontohkan NLP (Natural Language Processing) Bahasa Indonesia di Paques yang sebenarnya adalah algoritma buatan dosennya dulu. “Tapi apakah kita mau bersusah payah ‘menjahitnya’ untuk menjadi sesuatu yang powerful?” ungkap Benni secara retorik.

Hal ini tentu menjadi tantangan tersendiri. Namun bagi seorang Benni Adham, menjawab tantangan adalah sebuah obsesi tersendiri.

Mark Zuckerberg Berkomitmen Berantas Berita Hoax di Facebook

 

Pendiri dan CEO Facebook Mark Zuckerberg membuka acara Facebook F8 di San Francisco, AS
Pendiri dan CEO Facebook Mark Zuckerberg membuka acara Facebook F8 di San Francisco, AS

Banyak pihak menuduh Facebook berperan besar dalam memenangkan Donald Trump pada Pemilihan Presiden AS 2016. Meskipun sebetulnya Facebook bersikap netral dalam pemilihan kali ini dan tidak memihak ke salah satu pasangan.

Hanya saja, algoritma News Feed Facebook membantu menaikkan pamor Trump secara tidak langsung karena algoritma News Feed itu berusaha menemukan artikel yang memiliki interaksi tinggi, tanpa menyaring apakah berita itu benar atau keliru.

Sebuah studi menunjukan berita palsu (hoax) lebih cepat menyebar di internet dan membuat netizen langsung mempercayainya serta menjadikannya viral. Ironisnya, berita klarifikasi tidak menjadi viral dan kurang menarik perhatian netizen.

Mark Zuckerberg (CEO, Facebook) membantah bahwa Facebook mendukung Donald Trump dan menegaskan berita-berita yang ada di News Feed sebanyak 99 persen memaparkan fakta dan hanya ada satu persen berita hoax.

“Kami akan terus memperbaiki performa News Feed dan memerangi berita hoax. Kami tak mau ada berita hoax di Facebook dan memberikan konten berita yang bermakna dan akurat,” katanya seperti dilansir Refinery29.

Zuckerberg mengatakan Facebook sedang mendalami formula untuk memberantas penyebaran berita palsu yang berseliweran di jejaring sosialnya. “Kami pun telah merilis fitur flag yang memungkinkan pengguna melaporkan berita palsu atau hoax. Kami akan terus menemukan banyak cara untuk memberikan konten kredibel,” ujarnya.

Dalam penelitian Pew Research Center, Facebook telah menjadi sumber berita bagi hampir setengah warga AS sekaligus menunjukan adanya pergeseran sumber berita masyarakat AS yang dulu didominasi oleh surat kabar.

Tiongkok Ancam Trump Jika Berani Lancarkan Perang Perdagangan dengan Tiongkok

Trump Siap Perang Perdagangan dengan Ahok
Trump Siap Perang Perdagangan dengan Ahok

Selama kampanye, Presiden Amerika Serikat (AS) ke-45 Donald Trump mendeklarasikan perang kebijakan perdagangan antara AS dan Tiongkok. Bahkan Trump akan memaksa pabrikan teknologi atau otomotif asal AS seperti Apple untuk memindahkan basis produksinya ke AS.

Trump berjanji akan menerapkan pajak bea cukai sebesar 45 persen untuk semua produk Tiongkok yang masuk ke Amerika Serikat. Koran milik pemerintah Tiongkok Global Times pun mengatakan pemerintah Tiongkok akan membalas Trump jika melancarkan perang perdagangan dengan Tiongkok.

“Penjualan iPhone dan mobil produksi AS akan dipukul mundur. Sangat naif bagi Trump untuk merealisasikan ‘janji’ masa kampanyenya untuk menerapkan tarif 45 persen pada ekspor Tiongkok ke AS,” kata koran tersebut seperti dikutip TechCrunch.

Selama kampanye, Trump berulang kali menjadikan Tiongkok sebagai sasaran tembak terkait kebijakan perdagangan untuk menghidupkan kembali industri manufaktur di AS. Bahkan, Trump juga pernah menyindir Tiongkok sebagai manipulator mata uang.

“Tiongkok akan membatalkan dan mengganti pesanan Boeing dengan Airbus. Tiongkok pun akan memperlambat penjualan produk otomotif asal AS dan iPhone. Tiongkok akan menghentikan impor jagung dan kedelai dari AS. Tiongkok pun akan membatasi jumlah mahasiswa asal Tiongkok yang sekolah di AS,” tulis Global Times.

Xi Jinping (Presiden Tiongkok) pun angkat bicara dan mengingatkan Donald Trump untuk bersikap kooperatif. “Tiongkok dan AS harus bekerjasama dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih baik untuk kedua negara,” ujarnya.

Jinping dan Trump sepakat untuk bertemu dalam waktu dekat dan membahas hubungan kedua negara di bidang perdagangan dan keamanan. Sementara itu, Jack Ma (CEO, Alibaba) menanggapi ancaman Trump dengan diplomatis.

“Ketika Anda menjadi Presiden. Anda menanggung beban yang berat dan permasalahan tidak sesederhana yang Anda pikirkan. Trump tidak akan mengabaikan hubungan di antara Tiongkok dan AS,” pungkasnya.

Bocoran Terbaru, iPhone 8 Usung Layar OLED Berukuran Jumbo

Ilustrasi iPhone 8
Ilustrasi iPhone 8

Belum usai euforia penjualan iPhone 7 di pasar, kini sudah beredar bocoran terbaru spesifikasi iPhone 8 yang akan hadir tahun depan. Apple berencana akan mengusung layar yang lebih besar pada iPhone 8, mengingat bentuk fisik iPhone tidak berubah sejak iPhone 6 muncul tiga tahun lalu hingga iPhone 7 terkini.

Bocoran terbaru, iPhone 8 dan iPhone 8 Plus akan mengusung layar jumbo dan tanpa bingkai atau bezel-less serta melengkung di sisi-sisinya, mirip Galaxy S7 Edge. Apple pun akan menggunakan teknologi layar OLED untuk iPhone 8 Plus. Sedangkan iPhone 8 masih akan mengusung layar LCD.

“Layar iPhone 8 akan menjadi 5 inci dari sebelumnya 4,7 inci dan layar iPhone 8 Plus menjadi 5,8 inci dari sebelumnya 5,5 inci,” kata Christopher Hemmelgarn (Analis Barclays Research Blayne Curtis) seperti dilansir Business Insider.

Tentunya, layar OLED menawarkan tingkat ketajaman dan kecerahan yang lebih tinggi tetapi hemat daya dibanding layar LCD. Apple Insider melaporkan Apple bakal berinvestasi cukup besar untuk mencari pasokan layar OLED.

Apple pun sudah memiliki pilihan mitra yang akan membuat layar OLED yaitu Samsung dan LG, dan Sharp yang dimiliki oleh Foxconn.

Hal senada dikatakan oleh Ming-Chi Kuo (analis KGI Securities). “iPhone 8 varian 5,8 inch memiliki layar OLED dengan tepian yang melengkung,” ujarnya.

Apple sendiri baru menggunakan layar OLED untuk produk Apple Watch dan touch bar pada MacBook Pro terbarunya.

APJII Menghelat Pameran Internet Terbesar di Indonesia, IIXS 2016

APJII menggelar IIXS 2016.
APJII menggelar IIXS 2016.

Berdiri sejak 15 Mei 1996, Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) merupakan pihak yang selama ini mengakomodasi pelaku jasa dan stakeholder internet di Indonesia. APJII memfasilitasi anggotanya dengan menyediakan jasa berbasis teknologi internet yang berkualitas bagi masyarakat dan membantu memasyarakatkan internet dalam menunjang pengembangan sumber daya manusia di Indonesia.

Dalam rangka memperingati usianya yang ke-20 tahun, APJII akan menyelenggarakan pameran tahunan khusus untuk industri internet yang pertama diadakan di Indonesia, yaitu Indonesia Internet Expo & Summit (IIXS) 2016 yang akan diadakan pada 22 – 24 November 2016 di Kartika Expo Center, Balai Kartini, Jakarta, pukul 10.00 – 21.00 WIB.

Acara ini akan menghadirkan berbagai pelaku di bidang telekomunikasi dan TI serta menyajikan pameran, konferensi, peluncuran produk, dan demonstrasi produk. Selain membuka kesempatan bagi para pengunjung dan pelaku industri untuk bertemu dan menjalin network baru, acara ini juga ditujukan sebagai wadah untuk para pelaku bisnis telekomunikasi dan digital untuk meningkatkan performa serta memperluas ranah business to business (B2B) dan business to consumer (B2C).

Pameran akan diikuti oleh anggota dan nonanggota APJII, yang keseluruhannya terdiri dari Internet Service Provider (ISP), perusahaan penyedia teknologi (vendor), application development, cloud service, connectivity modules, data center, data analytics, mobile solutions, M2M systems & platforms, system integration network management, platform solutions, banking (mobile banking and payment gateway), perusahaan telekomunikasi, dan yang lainnya.

Berbagai forum dan gathering yang berkaitan dengan industri internet juga akan dilaksanakan bersamaan dengan event IIXS pada bulan November 2016.

Pengunjung juga dapat mengikuti dan menyaksikan sejumlah workshop dan sharing session dari komunitas pembuat film, game developer, makerspace, IoT/robotik, Liga Digital, Hackathon (apps & software developers), dan para startup digital serta panggung hiburan dari para artis yang besar melalui internet.

Selain kegiatan di atas, IIXS 2016 yang diorganisasi oleh Sumconvex ini juga menghadirkan IT/Telco Career Day, acara perekrutan tenaga kerja khusus di bidang IT dan telekomunikasi. Tidak ketinggalan, APJII menggelar pemilihan Miss Internet Indonesia 2017 dengan tema “Pesona, Kecerdasan, dan Merah Putih di Dunia Internetku”.

Informasi lebih lengkap mengenai IIXS 2016 bisa diketahui di situs resmi www.iixs.id serta melalui media sosial resmi IIXS 2016 di Facebook IIXS 2016, Twitter @iixs_apjii, dan Instagram @iixs.apjii.

Poster resmi IIXS 2016.
Poster resmi IIXS 2016.

Teknologi Azure Dukung Pengolahan Jurnalisme Data bagi Industri Media

power-bi

Perkembangan teknologi yang semakin pesat ditandai dengan meningkatnya jumlah pengguna internet di dunia. Hingga akhir tahun 2015 lalu, laporan State of Connectivity 2015: A Report on Global Internet Access mengungkapkan jumlah pengguna internet di dunia telah mencapai angka 3,2 miliar.

Di era big data, penetrasi internet yang tinggi bersamaan dengan datangnya informasi data yang melimpah, menimbulkan tantangan baru bagi berbagai industri, salah satunya industri media yang kerap mengalami terpaan arus informasi secara berlebih atau information overload.

Big data merupakan kumpulan data yang muncul dengan jumlah sangat besar dan dapat diolah untuk kemudian dianalisis sesuai dengan keperluan tertentu seperti melakukan prediksi, membuat keputusan, membaca sebuah tren, melihat tingkah laku konsumen, dan lain sebagainya.

Pada industri media, penulisan jurnalistik akan terlihat lebih rinci, menarik, dan kredibel, apabila disertai dengan penggunaan dan analisis data yang mendalam.

Salah satu organisasi yang fokus dalam mengolah data menjadi solusi adalah Provetic Indonesia. Melalui pendekatan sains dan teknologi, data bisa memberikan insight yang fungsional, baik bagi industri media maupun industri lainnya.

Walaupun tren big data tengah berkembang pesat di Indonesia, tren jurnalisme data di Indonesia masih belum terlalu terdengar. Padahal, jurnalisme data merupakan salah satu bentuk pemanfaatan big data yang dapat dilakukan oleh industri media dan menjadi kebutuhan yang seolah tak bisa dipisahkan dari proses penulisan berita oleh para jurnalis. Selain melalui wawancara dan investigasi, penggunaan data yang valid dapat menjadi fakta kuat dalam sebuah berita.

Adapun tantangan terbesar dalam hal pemanfaatan data saat ini adalah masih minimnya tools pengolah data yang mudah digunakan, terutama bagi para jurnalis yang memilki kesibukan tinggi dengan tenggat waktu yang sempit.

Tony Seno Hartono (National Technology Officer, Microsoft Indonesia).
Tony Seno Hartono (National Technology Officer, Microsoft Indonesia).

Menjawab tantangan jurnalisme data tersebut, Microsoft Indonesia menekankan pentingnya Azure sebagai solusi pengolahan data yang mudah digunakan melalui pendekatan data yang lebih intensif dan terukur.

Oleh karena itu, mulai dari penyimpanan data untuk bahan penulisan hingga kegiatan operasi sehari-hari serta manajemen data perusahaan, media dapat memanfaatkan Microsoft Azure. Tidak hanya dapat membantu jurnalis untuk mengolah data, Azure juga memungkinkan media sebagai perusahaan untuk mengefisiensikan biaya operasional karena pengguna cukup membayar sesuai dengan jenis pengolahan data yang diinginkan (pay-as-you-go).

“Saat ini, data menjadi aset berharga baik bagi organisasi maupun individu sehingga keberadaannya sangat signifikan di era transformasi digital ini,” ujar Tony Seno Hartono (National Technology Officer, Microsoft Indonesia).

Layanan Microsoft Azure pun telah tersertifikasi ISO 27001 yang menjamin bahwa data aman, serta ISO 27018 yang membuat pemilik data nyaman karena akses terhadap data tersebut terjamin.

Tidak hanya melalui Azure, Microsoft juga membantu jurnalisme data dengan Microsoft Power BI yang mampu mengubah data menjadi jauh lebih menarik secara visual.

Teddy Yusup: Mengawal Transformasi Digital di MNC Bank

teddy-y-mnc
“Dengan masuk ke konsep digital banking, kami bisa lebih berkompetisi di area inovatif di sisi teknologi,” jelas Teddy Yusup, Information Technology Group Head, MNC Bank

Transformasi digital tengah marak dibicarakan maupun dilakukan berbagai sektor industri di Indonesia, termasuk perbankan, tak terkecuali MNC Bank. Bagaimana Teddy Yusup mengawal perjalanan perusahaannya menuju era digital banking?

Seandainya astronot boleh berkacamata, Teddy Yusup mungkin sekarang tengah asyik menyingkap rahasia jagat raya. Namun takdir berkata lain, saat ini Information Technology Group Head MNC Bank ini sedang melakukan hal yang tak kalah asyiknya, yaitu mengeksplorasi jagat digital, terutama di bidang perbankan.

Mengadopsi konsep bank digital diakui Teddy sebagai sebuah agenda wajib bagi bank yang baru berumur sekitar dua tahun itu. “Dengan masuk ke konsep digital banking, kami bisa lebih berkompetisi di area inovatif di sisi teknologi,” jelas pria yang sudah lebih dari sepuluh tahun menekuni teknologi informasi perbankan itu. Digital banking, menurut Teddy, akan memampukan MNC Bank berkompetisi tanpa harus mengandalkan banyaknya jumlah kantor cabang atau mesin ATM.

Proses transformasi digital tentu bukan pekerjaan semalam, dan Teddy Yusup harus memulainya dengan mengubah cara pandang tentang teknologi informasi (TI). “Kami memosisikan TI sebagai pemberdaya atau enabler, dan juga sebagai business partner,” papar bapak dua anak ini.

TI bukan sekadar pengikut dan pendukung tetapi sebagai mitra berdiskusi dan bertukar pikiran bagi bisnis. “Sekarang ini bisnis dan teknologi tidak lagi bisa dipisahkan. Kalau kita ingin bisnis semakin maju, kita harus andalkan teknologi. Sementara teknologi sendiri harus ada arahnya. Arahnya apa? Ya perkembangan bisnis [perusahaan] itu sendiri,” tegas Teddy.

Khususnya di era digital ini, divisi TI perbankan, menurut Teddy,  seharusnya menjalankan peran “change the bank”, bukan hanya “run the bank”. Untuk menjalankan peran change the bank dari sisi teknologi, Teddy menyiapkan satu tim baru di bawah divisi TI, yakni IT Business Partner.

“Jadi memang harus ada peran [dari group TI] yang benar-benar mendukung dari sisi transformasi itu sendiri,” jelas profesional TI yang pernah melabuhkan karier di BCA, Citibank, ABN Amro, RBS, dan ANZ ini.

Tim yang baru dibentuk pada tahun lalu itu diharapkan dapat mengkombinasikan dan mengintegrasikan kebutuhan atau keinginan dari departemen bisnis ke dalam satu sistem atau aplikasi, dan teknologi sehingga dapat melakukan penetrasi pasar yang lebih luas.

Digitalisasi, Ruang Tanpa Batas

Membenahi manajemen teknologi informasi adalah langkah lain yang ditempuh Teddy Yusup untuk bertransformasi menuju digital banking. Bagi Teddy, digitalisasi menciptakan lingkungan yang tanpa batas. “Kita sendiri yang harus men-set batasan-batasan itu. Dan kami men-set ada sepuluh manajemen risiko TI untuk kami terapkan. Salah satunya adalah information security management,” ungkap pria kelahiran Cirebon itu.

Sementara itu dari sisi infrastruktur, bank konvesional saja sudah mensyaratkan infrastruktur yang harus always on. Apalagi ketika bank bergerak ke arah digital. “Kami harus bisa mengantisipasi pertumbuhan transaksi dan meningkatkan response time. Selain itu kami juga harus memastikan data center up 24 x 7 dan DRC (disaster recovery center) selalu standby serta [dalam kondisi] teruji,” papar Teddy.

Setiap bank mungkin memiliki konsep yang berbeda tentang digital banking. Bagi MNC Bank, menurut Teddy, digital banking berarti mengintegrasikan seluruh electronic channel yang ada, memperkaya dan mengintegrasikannya dengan media baru, semisal social media, dan memperbanyak aplikasi mobile atau mobile apps.

Oleh karena itu aplikasi yang tengah dibangun timnya pun kebanyakan mengarah ke platform mobile applications. Hal ini tentu tak lepas dari target market yang ingin disasar MNC Bank, di mana salah satunya adalah Gen Y yang sangat akrab dengan teknologi mobile.

Maraknya bisnis dan layanan perbankan yang ditawarkan oleh startup berkonsep fintech (financial technology) tidak membuat Teddy Yusup merasa terancam. Menurutnya, justru kemunculan fintech startup membuatnya makin sadar bahwa di masa depan, perbankan tidak bisa hanya mengandalkan layanan konvensional.

Layanan perbankan terintegrasi yang kemudian dihantarkan melalui kanal-kanal jenis baru, misalnya kanal berbasis mobile, akan menjadi satu keunggulan perbankan atas fintech. Dan bukan suatu hal yang mustahil untuk melakukan sinergi juga dengan fintech.

Antara Astronot, TI, dan Bisnis

Pernah bercita-cita menjadi astronot di masa kecil, Teddy Yusup mantap berkarier di bidang teknologi informasi. Alasannya karena ia melihat kekuatan teknologi yang dapat mengubah berbagai hal, antara lain cara manusia berinteraksi dan bersosialisasi. Ia juga banyak belajar bagaimana teknologi dapat memberi manfaat, atau justru merusak.

Padahal di sisi lain, sebagai orang TI, ia seolah tidak memiliki jam kerja. “Harus standby setiap saat,” ujar pria yang hobi membaca ini. Satu pelajaran yang ia petik dari pengalaman yang sudah belasan tahun adalah orang TI harus dapat menyelesaikan masalah dengan baik dalam waktu singkat.

Meskipun terlahir di tengah lima bersaudara yang sebagian besar adalah wirausahawan, sarjana teknik informatika lulusan Universitas Bina Nusantara ini mengaku ragu apakah dirinya memiliki jiwa bisnis. Kalau pun ada, ia cenderung menyalurkannya sebagai pemberi jasa konsultasi di bidang teknologi informasi karena masih banyak perusahaan yang belum memanfaatkan teknologi untuk mendorong pertumbuhan bisnisnya.

Aktivitas ini sempat dilakoninya beberapa saat tapi lantas ia tinggalkan untuk sementara waktu. “Untuk sementara saya nggak fokuskan ke sana karena  mengingat sisi pekerjaan dan profesionalitas yang harus saya pertanggung jawabkan [di MNC Bank],” jawab Teddy. Dan untuk saat ini, profesionalitas mengawal MNC Bank ke era digital itulah yang harus ia tunjukkan.

Aplikasi Google Play Music Terbaru Bisa Rekomendasikan Lagu Sesuai Lokasi Anda

Google Play Music
Google Play Music

Google menambahkan pembaruan pada aplikasi Google Play Music untuk Android, iOS, dan web. Kini aplikasi Google Play Music bisa merekomendasikan musik berdasarkan lokasi dan apa yang sedang pengguna lakukan. Selain itu, antarmuka aplikasi terlihat lebih segar.

Google mengklaim bahwa layananstreaming musik itu akan lebih cerdas ketimbang aplikasi musik jenis lainnya dan tentunya lebih mudah digunakan. Sejauh ini belum ada aplikasi music streaming lainnya yang menyediakan fitur seperti ini.

Google Play Music bisa mencari tahu jenis musik apa yang pengguna sukai dan terkoneksi ke sinyal jaringan, seperti lokasi, kegiatan, dan cuaca, bersama playlist favorite kapan pun dan di mana pun jika ingin mendengarkan lagu. Misalnya, jika pengguna sedang duduk di kantor, Google akan menyarankan musik yang sesuai dengan situasi tersebut.

“Ketika langit sudah merah dan terlihat senja, maka aplikasi ini bisa merekomendasikan lagu tentang sunset,” kata Elias Roman (Google Play Music Lead Product Manager).

Meskipun demikian, Google tidak sepenuhnya bergantung kepada algoritma untuk menyarankan musik seperti dikutip Venture Beat.

Google juga bisa memberikan rekomendasi lagu berdasarkan bantuan sistem pembelajaran mesin yang dirancang oleh tim ahli kurator Google. Tak hanya itu, Google juga telah memperkenalkan playlist offline yang merujuk pada playlist lagu-lagu yang telah pengguna dengarkan.

Perpustakaan Google Play Music memiliki 35 juta lagu, tetapi Google tidak mengungkapkan jumlah penggunanya.

Garap Pasar Connected Car, Samsung Akuisisi Perusahaan Audio Harman Senilai Rp106 Triliun

Samsung Beli Harman senilai Rp106 Trliun
Samsung Beli Harman senilai Rp106 Trliun

Samsung akan membeli perusahaan audio terkenal Harman International Industries senilai US$8 miliar atau sekitar Rp106,9 triliun dan membuka peluang Samsung untuk terjun ke pasar elektronik otomotif.

Saat ini ada lebih dari 30 juta mobil yang terkoneksi (connected car) dengan sistem audio Harman dan sekitar 65 persen kontribusi penjualan Harman berasal dari bidang otomotif. Mercedes-Benz adalah salah satu pabrikan otomotif yang mengusung teknologi Harman. Pendapatan Harman dari sektor otomotif saja mencapai US$7 miliar atau sekitar Rp 94 triliun pada tahun lalu.

“Harman akan semakin melengkapi platform Samsung dalam hal teknologi, produk, dan solusi serta membuka peluang kamu untuk masuk ke pasar otomotif,” kata Oh Hyun Kwon (CEO, Samsung Electronics) seperti dilansir IBTimes.

Saat ini Harman memiliki beberapa merek terkemuka di bisnis audio seperti AKG, Harman Kardon, JBL, Mark Levinson, Lexicon, Infinity, dan Revel. Harman juga memegang lisensi merek Bowers & Wilkins dan Bang & Olufsen untuk otomotif.

“Samsung adalah partner ideal buat Harman dan transaksi ini akan memberikan manfaat luar biasa untuk konsumen otomotif dan konsumer di seluruh dunia,” kata Dinesh Paliwal (CEO, Harman).

Samsung akan membayar Harman dengan US$112,00 per saham atau di atas harga saham Harman saat ini senilai US$87,65. Pada musim panas lalu, Samsung juga menginvestasikan US$450 juta kepada pembuat mobil listrik asal Tiongkok, BYD, yang melibatkan perusahaan Warren Buffett, Berkshire Hathaway Inc, sebagai salah satu investornya.

Laporan lain menyatakan perusahaan raksasa Korea itu juga sedang mempertimbangkan sebuah tawaran untuk Magnetti Marelli, anak perusahaan Fiat Chrysler.

Jika pembelian itu berhasil, Samsung bisa mengombinasikan kelebihannya dalam pengembangan perangkat-perangkat mobile dan teknologi semikonduktor dengan keunggulan Harman dalam bidang komponen otomotif berteknologi tinggi.

Samsung berharap bisa merampungkan kesepakatan jual beli itu pada kuartal ketiga tahun depan, setelah mendapatkan persetujuan dari para pemegang saham Harman dan badan regulator.

Review Smartphone