Arsip Harian: Nov 16, 2016

Pemain E-Commerce Sambut Positif Kebijakan Peta Jalan E-Commerce di Indonesia

Presiden Joko Widodo membuka konferensi e-commerce IESE 2016 di BSD City, Serpong, Rabu (27/4). [Foto: Erry FP]
Presiden Joko Widodo membuka konferensi e-commerce IESE 2016 di BSD City, Serpong, Rabu (27/4). [Foto: Erry FP]
Presiden Joko Widodo mendukung visi Indonesia sebagai sumber energi baru di bidang ekonomi digital di kawasan Asia melalui pengumuman Paket Kebijakan Ekonomi XIV.

Paket Kebijakan Ekonomi XIV ini berisi delapan aspek regulasi yang mengatur industri e-commerce di Indonesia. Paket itu merupakan pendahulu sebelum diterbitkannya Peraturan Presiden tentang Peta Jalan e-Commerce di Indonesia dalam waktu dekat.

Andi Boediman (Managing Partner, Ideosource) mengatakan industri menyambut baik dan optimistis terkait kebijakan peta jalan atau roadmap e-commerce di Indonesia karena pemerintah sudah semakin fokus dan melihat pentingnya pasar e-commerce di Indonesia.

“Kami sangat senang. Ini berarti pemerintah sudah mendengarkan industri terkait pentingnya e-commerce di Indonesia. Apalagi pemerintah mengeluarkan program 1.000 startup, sangat bagus untuk membangun pondasi startup di Indonesia,” katanya di sela-sela acara Tech in Asia 2016 di Jakarta, Rabu (16/11).

Sayangnya, paket itu baru bisa diimplementasikan dua tahun lagi karena sekarang masih berbentuk roadmap atau guidance. “Baru bisa dirasakan sekitar dua tahun lagi ya karena paket itu belum jadi policy,” ucapnya.

Sementara itu, Chris Feng (CEO, Shopee) menyambut baik kebijakan pemerintah yang menggulirkan Paket Kebijakan Ekonomi ke-14 terkait roadmap e-commerce karena akan berdampak positif terhadap pertumbuhan e-commerce di Indonesia.

“Kami berpikir positif dan kami selalui mematuhi segala regulasi apalagi paket kebijakan ekonomi yang meningkatkan pasar e-commerce di Indonesia,” ujarnya.

Plern Tee Suraphongchai (Venturra Capital) mengatakan meski regulasi “menggempur” industri teknologi, para pemain tetap harus memenuhinya karena regulasi menjadi salah satu cara pemerintah untuk melihat seperti apa perkembangan industri teknologi.

“Mereka (pemerintah) sejatinya mau melihat perkembangan yang ada, namun mereka juga tidak ingin menghalangi pertumbuhan teknologi. Karena itu hal terbaik yang bisa dilakukan sebelum merancang aturan adalah berdialog dan diskusi secara rutin dengan mereka,” ujarnya di tempat yang sama.

Sebelumnya, Pemerintah menargetkan nilai bisnis e-commerce di Indonesia mampu mencapai US$130 miliar pada tahun 2020. Pemerintah juga mendorong terciptanya 1.000 technopreneur dengan valuasi bisnis sebesar US$10 miliar lewat gerakan 1,000 Startup Digital.

Keberadaan Peraturan Presiden tentang Peta Jalan E-Commerce diharapkan bisa mendorong perluasan dan peningkatan kegiatan ekonomi masyarakat di seluruh Indonesia secara efisien dan terkoneksi secara global. Peta jalan e-commerce ini sekaligus dapat mendorong kreasi, inovasi, dan penemuan kegiatan ekonomi baru di kalangan generasi muda.

Tantangan Startup 2017: Merger E-Commerce dan Banjir Regulasi

Tech in Asia 2016
Tech in Asia 2016

Indonesia adalah pasar yang seksi untuk e-commerce, mengingat jumlah populasi penduduk Indonesia dan jumpa pengguna aktif internet serta media sosial banyak. Tak heran banyak startup dan e-commerce tumbuh subur di Indonesia.

Namanya bisnis, persaingan e-commerce akan semakin besar pada tahun depan terutama untuk mengambil hati pelanggan di Indonesia. Tidak mengagetkan jika banyak e-commerce dan startup yang gulung tikar di Indonesia karena kerasnya persaingan tersebut.

Andi Boediman (Managing Partner, Ideosource) mengatakan startup dan e-commerce sangat menjanjikan bagi dunia investasi pada tahun depan. Ada tiga sektor yang akan menjadi pemain penting pada 2017 yaitu e-commerce, fintech, dan travel.

“Pemain-pemain besar e-commerce, fintech, dan travel akan memegang peranan penting pada tahun depan,” katanya dalam seminar Tech in Asia 2016 di Balai Kartini, Jakarta, Rabu (16/11).

Merger

Tentunya, persaingan e-commerce akan semakin sengit pada tahun depan dan membuat para pemain e-commerce yang ada untuk melakukan merger satu sama lainnya.

Investor lebih melirik dan mengguyur investasi kepada pemain-pemain besar yang sudah memiliki pelanggan dan pasar di Indonesia. Hal itu menyisakan celah besar di tengah, khususnya untuk pemain startup atau e-commerce baru yang belum memiliki bentuk di pasar e-commerce di Indonesia.

“Tahun depan, akan banyak merger dan akuisisi di kalangan e-commerce dan startup karena lebih mudah menarik investor. Investor akan melihat pangsa pasarnya terlebih dahulu. Misal, jika ada tiga e-commerce dengan pangsa pasarnya masing-masing 5 persen. Investor akan malas memberikan suntikan investasinya,” ujar Andi.

“Namun, apabila ketiga e-commerce itu bergabung atau merger menjadi kekuatan baru dengan pangsa pasar yang besar sekitar 15-20 persen, maka investor akan mengucurkan dananya karena pangsa pasarnya besar,” ucapnya.

“Sebuah pendiri starup harus berpikir pragmatis sekarang untuk menyatukan pangsa pasarnya dengan yang lain karena kalau bersikeras dengan produk yang ada dan pasar yang kecil. Maka akan sangat susah,” pungkasnya.

Andi mengatakan para startup juga harus memutar otak mencari produk yang benar-benar baru dan bisa menyelesaikan masalah pengguna. “Produknya harus baru. Kalau Anda menawarkan jasa transportasi yang head-to-head dengan Go-Jek, buat apa?” ucapnya.

Hal senada diutarakan oleh Willix Halim (COO, Bukalapak). Willix mengatakan para pemain e-commerce akan bersaing ketat di tahun depan dan meningkatkan kekuatannya.

“Bisa jadi tahun depan, banyak e-commerce yang tutup karena ketatnya persaingan. Nantinya, pemain e-commerce di Indonesia sama seperti di Amerika Serikat (AS) dan Australia yang didominasi 1 atau 2 pemain e-commerce saja. Kalau di AS sudah jelas Amazon,” katanya.

Saat ini banyak sekali pemain e-commerce di Indonesia seperti Bukalapak, Tokopedia, Lazada, MatahariMall, Blibli, Bhinneka, dan lain-lain. “Untungnya, banyak pemain e-commerce di Indonesia yang lebih mature dan Bukalapak memiliki posisi yang bagus di Indonesia,” ujarnya.

Willix mengatakan Bukalapak akan terus meningkatkan personalisasi dan fitur-fitur terbaru pada tahun depan untuk meningkatkan kepuasannya pada pelanggan. “Kami akan terus menghadirkan produk-produk yang bagus, jadi tidak hanya diskon saja. semua barang harus tersedia di Bukalapak,” ucapnya.

Regulasi

Sementara itu Eddi Danusaputro (CEO Mandiri Capital Indonesia) mengatakan tantangan e-commerce lainnya yaitu pemain e-commerce dan fintech harus bersiap menghadapi banyaknya regulasi-regulasi dari pemerintah. Karena ada empat lembaga yang memiliki peran dalam mengeluarkan regulasi e-commerce yaitu Kementerian Perdagangan, Kementerian Komunikasi dan Informatika, Kementerian Keuangan melalui Badan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia.

“Para pemain startup dan fintech tentunya harus bersiap, pada 2017 kalian akan dihadapkan pada banyak regulasi. Empat pilar pemerintah seperti Kominfo, Kemendag, OJK, dan Bank Indonesia siap bersinergi untuk mengatur industri teknologi masa depan,” ucap Eddi.

Menurutnya, regulasi tersebut nantinya akan meliputi aturan untuk startup, suntikan modal, hingga sistem pembayaran. Eddi juga berpendapat, akan lebih baik apabila pemerintah juga fokus dan lebih spesifik terhadap tiap jenis bisnis–startup, fintech, hingga ride-sharing yang akan diregulasi.

Lewat vForum 2016, VMware Hadirkan Solusi Cross-Cloud Architecture di Indonesia

adi-rusli-vmware-vforum-2016

Dalam mengadopsi teknologi cloud computing, perusahaan kerap dihadapkan dengan dua pilihan, apakah memilih private cloud atau public cloud?

Sebagai jalan tengah, perusahaan dapat mengadopsi hybrid cloud yang menggabungkan kekuatan dari dua jenis cloud itu, yaitu privasi dan kontrol khas private cloud dan fleksibilitas ala public cloud. Namun, pengelolaan hybrid cloud bisa membawa tantangan tersendiri, terlebih jika platform yang digunakan berbeda.

Untuk memecahkan masalah itu, VMware menawarkan solusi Cross-Cloud Architecture. Solusi ini pertama kali diumumkan dalam gelaran VMworld 2016 di Las Vegas, AS, akhir Agustus lalu, dan hari ini (16/11) dihadirkan di Indonesia melalui acara vForum 2016 di Hotel Ritz Carlton Pacific Place, Jakarta.

Cross-Cloud Architecture lahir dari hasil riset VMware yang menyatakan bahwa dalam tiga tahun terakhir, terjadi peningkatan sebesar 80% dalam hal desentralisasi TI atau dikenal juga dengan istilah shadow IT. Maksudnya, di dalam sebuah perusahaan, semakin banyak divisi atau unit bisnis yang memanfaatkan layanan cloud tanpa melalui perantara divisi TI.

Di satu sisi, para karyawan mendambakan fleksibilitas dan kegesitan dalam memperoleh layanan-layanan baru yang bisa memudahkan kerja mereka. Dari hasil survei VMware, divisi yang paling banyak mengadopsi layanan TI sendiri adalah marketing, keuangan, dan komunikasi.

Sayangnya, di sisi lain, shadow IT ini membuat divisi TI mulai kehilangan kendali atas layanan-layanan TI di perusahaan. Otomatis, celah keamanan kian terbuka karena sistem dan layanan yang digunakan di tiap divisi berbeda-beda. Selain itu, investasi TI pun semakin besar karena pengeluarannya tersebar ke banyak lini bisnis, tidak lagi terpusat di divisi TI.

“Lahirlah dilema antara freedom vs control, kebebasan melawan pengendalian. Untuk itu, VMware bisa memberi solusi yang menggabungkan kedua-duanya dengan Cross-Cloud Architecture,” kata Adi Rusli (Senior Director & Country Manager, VMware Indonesia).

Komponen terpenting dalam Cross-Cloud Architecture adalah VMware Cloud Foundation. Solusi ini membundel tiga layanan virtualisasi utama VMware, yaitu virtualisasi server vSphere, virtualisasi storage vSAN, dan virtualisasi jaringan NSX, ditambah SDDC Manager–software otomatisasi untuk mengelola lifecycle cloud VMware.

“Dengan solusi terintegrasi Cloud Foundation, pelanggan bisa langsung jump start untuk mengadopsi private cloud, tanpa harus melalui langkah demi langkah virtualisasi yang prosesnya memakan waktu,” Adi berkata.

Namun, VMware juga tetap menyediakan layanan-layanan virtualisasi tersebut secara terpisah bagi pelanggan yang membutuhkan. Apalagi, Adi mengungkapkan bahwa tingkat penetrasi virtualisasi server saja di Indonesia masih rendah, di angka 14% sehingga peluangnya masih sangat besar.

Sedangkan bagi pelanggan yang masih lebih menyukai infrastruktur yang sifatnya on-premise, ada pula solusi hyper-converged appliance yang disediakan VMware bersama partner seperti Dell, Fujitsu, Lenovo, dan HP Enterprise.

dennis-moreau-vmware-vforum-2016
Cross Cloud Demo dari Dennis Moreau (Senior Engineering Architect, VMware) yang disampaikan di acara vForum 2016 Indonesia.

Nah, bagi pelanggan yang sudah memiliki private cloud berbasis VMware Cloud Foundation, mereka dapat memperluas lingkungan cloud ke public cloud apa saja.

Sebelumnya, private cloud VMware hanya kompatibel dengan public cloud VMware juga, yakni vCloud Air dan vCloud Air Network. Tapi, sekarang VMware telah bekerjasama dengan public cloud lainnya, seperti IBM Softlayer dan Amazon Web Services (AWS). Bahkan, di waktu mendatang juga akan ditambahkan Microsoft Azure dan Google Cloud Platform.

“Dengan Cross-Cloud Architecture, kami tidak mau lagi berkompetisi head-to-head dengan AWS, Azure, dan Google. Sekarang strategi kami adalah kerja sama dan makin memberi pilihan kepada pelanggan,” tukas Adi.

“Namun, kami tetap memiliki keunggulan yang tidak dimiliki penyedia cloud lainnya, yaitu single dashboard untuk mengelola private dan public cloud,” imbuhnya.

vForum 2016 Memecahkan Rekor

Selain meresmikan kehadiran solusi Cross-Cloud Architecture dan Cloud Foundation di Indonesia, VMware juga meluncurkan Workspace One, solusi terintegrasi yang menggabungkan layanan enterprise mobility, identity management, dan virtual desktop dari VMware.

Solusi ini ditujukan untuk melayani budaya kerja mobile yang banyak dianut oleh pekerja masa kini, khususnya generasi millennial. Hasilnya, karyawan akan memiliki satu user interface dalam menyelesaikan pekerjaan mereka, saat bekerja lewat perangkat apa pun dan dari lokasi mana pun.

Acara vForum 2016 di Jakarta berhasil memecahkan rekor jumlah peserta setelah mengalami peningkatan dari angka 1.200 peserta tahun lalu menjadi sekitar 1.400 peserta pada tahun ini.

Hadir selaku pembicara utama pada vForum 2016 ialah Paul Strong (Corporate CTO, VMware), Dennis Moreau (Senior Engineering Architect, VMware), Sanjay Desmukh (Vice President, End-User Computing, VMware APJ), dan Himawan Setiadi (IT Director, Alfamart).

InfoKomputer CIO Storage Summit: Meningkatkan Kinerja Bisnis Berbasis Analisis Data

infokomputerciostoragesummit2016-1

Perusahaan masa kini telah menyadari pentingnya memanfaatkan data demi memajukan bisnisnya. Namun ada beragam cara berbeda untuk melakukannya. Hal ini terlihat pada InfoKomputer CIO Storage Summit yang berlangsung di Jakarta beberapa waktu lalu.

Pada acara yang merupakan bagian dari InfoKomputer CIO Forum dan mengambil tema “Accelerating Data Driven Business” itu, berbagai perusahaan yang turut serta telah menggunakan data untuk menunjang bisnisnya, hanya saja caranya berbeda-beda.

Kondisi perusahaan yang tak sama sedikit banyak mempengaruhi tindakan yang dilakukan perusahaan dalam mengakselerasi pemanfaatan data tersebut. Perusahaan yang lahir di era digital ini tentu berbeda pendekatannya dengan perusahaan yang telah hadir sejak dulu. Begitu pula dengan industri yang berbeda.

GO-JEK, yang merupakan salah satu penelis bersama MatahariMall.com, Bank Mandiri, SaveMax, dan Hewlett Packard Enterprise, misalnya memiliki pengalaman tersendiri dalam memanfaatkan data yang berujung pada inovasi.

Yang kala itu mendasari GO-JEK melakukan inovasi adalah keinginan untuk mengatasi masalah skalabilitas. Di awal meluncurkan GO-RIDE, sistem GO-JEK tidak mampu menangani banyaknya pesanan yang ada sehingga sempat down. GO-JEK pun harus melakukan inovasi. Juga dari pengalaman, terdapat beragam hal yang memancing dilakukannya inovasi, seperti untuk menambah jumlah konsumen, menambah layanan baru, maupun mengatasi kompetisi.

Ada tiga langkah yang sebaiknya diikuti dalam melakukan inovasi, yakni berdasarkan data, membuat roadmap sendiri, dan melakukan validasi. Yang unik di GO-JEK roadmap-nya hanya sampai rilis berikutnya.

“Itulah budaya yang kami miliki di GO-JEK, yakni, Anda tahu, kami hanya fokus pada rilis berikutnya, sungguh. Dan kemudian, maksimal, kemungkinan sebuah rilis sesudahnya. Kami tidak memiliki sebuah roadmap enam bulan, satu tahun,” ujar Rama Notowidigdo (Chief of Products, GO-JEK Indonesia).

Budaya Terlebih Dahulu

Meski MatahariMall.com adalah e-commerce yang lahir di era digital ini, namun ia berada di bawah Lippo Group yang hadir sejak lama dan memiliki para pemimipin dengan intuisi yang bagus. Oleh karena itu, langkah awal dalam mengakselerasi pemanfaatan data untuk memajukan bisnis adalah dengan menghadirkan budaya berdasarkan data terlebih dahulu. Namun, hal ini bukan berarti intuisi sama sekali ditinggalkan. Intusi dan data digunakan secara bersama untuk saling mendukung.

Data driven culture tersebut disuntikkan oleh MatahariMall.com secara top to bottom, dicontohkan lebih dulu oleh para pemimpin dan diharapkan akhirnya diikuti oleh seluruh pihak. Kini di MatahariMall.com tidak ada lagi kebiasaan untuk selalu mengikuti pendapat orang dengan bayaran tertinggi di ruangan ketika hendak menetapkan suatu keputusan bisnis. Hasilnya? Pertumbuhan dua digit.

“Ketika ada meeting misalnya, jadi meskipun saya sebagai CTO, saya bisa meng-enforce decision, tapi bawahan saya juga bisa challenge saya, decision saya apakah sudah benar atau tidak. Jadi pada dasarnya, setiap orang butuh data untuk mendukung pendapat mereka sendiri,” jelas Komang Arthayasa (Chief Technology Officer, MatahariMall.com).

Sementara, SaveMax fokus pada efisiensi di infrastruktur TI-nya. SaveMax mencontohkan penggunaan application portal. Dengan application portal dan bukannya aplikasi yang terpasang secara tradisional di PC desktop, bila hendak melakukan upgrade terhadap aplikasi yang digunakan, cukup dilakukan di server.

“Jadi pada end user kami, tidak akan ada lagi PC atau desktop tradisional. Semua data akan bermukim di data center. Jadi inilah startegi kami untuk meletakkan data management di perusahaan kami,” kata Dedy Iskandar (Head of IT Infrastructure, SaveMax).

Tentunya tidak hanya masalah efisiensi yang dilakukan oleh SaveMax. Wholesaler ini juga menggunakan planogram yang memanfaatkan aneka data dalam menentukan posisi berbagai produk yang ditawarkan saat dipajang di tokonya. Tujuannya tentu saja agar penjualan menjadi lebih efektif.

Konvergensi

Berbeda dengan perusahaan yang lahir di era digital semacam GO-JEK yang sudah sangat memanfaatkan aneka teknologi digital, perbankkan baru bangkit dalam dua tahun terakhir ini untuk memanfaatkan berbagai teknologi digital.

“Dalam mengejar bisnis digital atau dalam era digital saat ini ini, memang challenge-nya luar biasa. Kita jauh ketinggalan dengan financial technology,” sebut Mohammad Guntur (Senior Vice President, Enterprise Data Management Group, Bank Mandiri). Oleh karena itu, saat ini fokus Bank Mandiri pada sisi teknologi, lebih kepada kesiapan untuk mendukung bisnis digital tersebut.

Data management yang ada sekarang lebih ditujukan untuk pelaporan ke regulator dan MIS. Pada sumber data misalnya, belum mengakomodasi unstructured data seperti media sosial. Begitu pula berbagai masalah lain seperti terdapatnya aneka silo data mart dan belum menyeluruhnya data governance. Di masa depan, melalui Enterprise Data Management-nya, Bank Mandiri akan mengubah data management-nya itu agar berbagai masalah yang ada tadi bisa diatasi.

Telah digunakannya data pada berbagai perusahaan ini menunjukkan bahwa perusahaan kini sudah menyadari pentingnya data dalam strategi bisnisnya. Hewlett Packard Enterprise pun melihat bahwa perusahaan masa sekarang, seperti Bank Mandiri, mulai melakukan konvergensi terhadap data dari berbagai departemen yang dimiliki. Tujuannya untuk mendapatkan pengaruh terhadap bisnis yang lebih signifikan. Tidak lagi data departemen yang satu hanya tersedia dan dimengerti oleh departemen bersangkutan.

“Data itu selalu ada di sana dan data tersebut akan selalu terus menerus berada di sana, tetapi bagaimana organisasi mulai untuk me-leverage, itulah yang apa sebenarnya berubah, dan Anda perlu untuk membangun semacam model cross competencies ini yang berjalan across setiap orang di dalam organisasi,” ucap Jean Paul Bovaird (Chief Technology Officer, Storage Division, South East Asia, Taiwan & Hong Kong, Hewlett Packard Enterprise).

Selain itu, perusahaan juga harus mengerti gap yang ada antara posisi perusahaan saat ini dengan posisi yang diinginkan di masa depan sebagai data driven organization, serta mengambil keputusan yang realistis dalam perjalanan mencapai tujuan tersebut.

Kacamata Pintar Apple Akan Hadir pada Tahun 2018

Ilustrasi Kacamta Pintar Apple
Ilustrasi Kacamta Pintar Apple

Kacamata pintar akan menjadi tren wearable gadget terbaru di pasar smartphone. Bahkan, kacamata Snap. Inc Spectacles sudah ludes diborong pelanggan karena desainnya yang unik dan penjualannya yang kreatif melalui vending machine.

Apple pun berencana membuat kacamata pintar terbaru mirip Google Glass dan Spectacles sekaligus memperkuat koleksi wearable gadget-nya.

Alasan lainnya, Tim Cook (CEO, Apple) meminta timnya untuk mengembangkan kacamata pintar karena penjualan kacamata pintar bisa membantu Apple mendongkrak penjualan, mengingat penjualan iPhone yang lesu sekaligus merambah ranah wearable device.

Nantinya, kacamata pintar Apple dapat terkoneksi dengan iPhone secara wireless dan menampilkan gambar dan informasi lain pada layarnya. Kemungkinan, Apple akan membenamkan teknologi augmented reality (AR) pada kacamata pintar tersebut.

Apalagi, Apple telah melakukan beberapa akuisisi terhadap perusahaan yang bergerak di bidang AR, seperti Prime Sense, Metaio Inc, dan Flyby Media Inc. Rencananya, Apple baru akan memperkenalkan produk kacamata pintarnya itu ke publik pada awal 2018, seperti dikutip dari The Next Web.

Menurut sumber, Apple sudah berbicara dengan sejumlah pemasok komponen mengenai proyek kacamata pintar tersebut dan Apple mulai memesannya dalam jumlah terbatas untuk sebatas prototipe terlebih dahulu. Tentunya, Apple belum memiliki keinginan untuk memesan komponen dalam jumlah besar untuk produksi massal.

Di pihak lain, Google telah memutuskan untuk menghentikan produksi kacamata pintarnya Google Glass. Padahal, Google yang memelopori kacamata pintar. Kini, Microsoft pun memiliki HoloLens. Terakhir, Snap Inc. (Snapchat) mengimplementasikan konsep yang mirip tapi lebih terbatas dengan kacamata berkamera Spectacles.

Kini Anda Bisa Gunakan Skype Tanpa Harus Punya Akun

Ilustrasi Skype
Ilustrasi Skype

Jika ingin menggunakan layanan online, biasanya Anda harus mendaftarkan akun baru terlebih dahulu sebelum bisa menikmati layanan online tersebut. Kabar bagusnya, Microsoft baru saja mengumumkan update signifikan untuk Skype for Web: Guest Accounts.

Kini pengguna baru Skype dapat membuat panggilan tanpa harus berurusan dengan kerumitan membuat akun di Microsoft. Caranya, pengguna perlu mengunjungi situs Skype dan bergabung sebagai Tamu atau Guest.

Setelah itu, pengguna harus memilih nama untuk mereka sendiri dan langsung bisa mengakses semua fitur Skype seperti panggilan suara, pesan, video call, video instant, berbagi layar dan dokumen.

Hal itu sangat praktis karena Anda tidak perlu lagi repot-repot mengingat username dan password, seperti dilansir The Verge.

Kelompok pesan instan juga dapat mencakup hingga 300 orang dan kelompok video call dapat mencakup hingga 25 orang. Jika Anda masuk sebagai tamu, percakapan hanya akan bertahan selama 24 jam. Jika ingin mempertahankan riwayat obrolan, Anda harus menemukan beberapa cara untuk men-download log secara manual.

Setelah waktu itu habis, Anda harus mendaftar akun Skype secara gratis jika sewaktu-waktu ingin kembali ke percakapan.

Jika Anda ingin menggunakan fitur-fitur lainnya seperti melanjutkan percakapan lebih lama, memanggil nomor telefon, atau menerjemahkan percakapan secara real-time dengan Skype Translator, pengguna harus login atau memiliki akun Skype terlebih dulu.

Akhirnya, WhatsApp Luncurkan Fitur Video Call

whatsapp video call beta

WhatsApp akan segera meluncurkan fitur video call untuk pengguna iOS, Android, dan Windows Phone. Sebelumnya, beberapa pengguna Windows Phone dan Android sudah bisa melakukan panggilan video melalui WhatsApp, tetapi masih versi beta sehingga masih banyak kekurangan.

“Dalam beberapa hari ke depan, lebih dari satu miliar pengguna WhatsApp dari 180 negara pada hari yang sama dapat menggunakan fitur panggilan video di perangkat Android, iPhone dan Windows,” tulis pihak WhatsApp di blog resminya seperti dilansir Digital Trends.

“Kami sangat senang menghubungkan banyak orang melalui panggilan video (video call) di WhatsApp,” ucapnya.

WhatsApp memperkenalkan fitur itu karena pesan suara dan teks tidaklah cukup untuk memberikan kenyamanan kepada pengguna.

“Tidak ada yang mampu menggantikan momen saat Anda menyaksikan cucu Anda berjalan untuk pertama kalinya, atau melihat wajah putri Anda saat ia menempuh pendidikan di luar negeri,” ujarnya.

“Selama bertahun-tahun, kami menerima banyak permintaan dari pengguna WhatsApp untuk menghadirkan fitur panggilan video. Akhirnya, kami berbahagia dapat menyediakan fitur ini di seluruh dunia,” tutup WhatsApp.

Layanan ini sangat penting bagi WhatsApp, mengingat LINE dan BlackBerry Messenger sudah menawarkan fitur serupa. Dengan begitu, pengguna WhatsApp bisa berkomunikasi secara langsung (real time) dan bisa melihat lawan bicaranya melalui gambar video.

Fitur video call akan tersedia di pembaruan WhatsApp untuk platform minimal iOS 8, Android 4.1, dan Windows 10 Mobile serta Windows Phone 8.1.

Untuk mengaktifkan fitur video calling, pengguna cukup masuk ke menu chat dan pilih ikon telepon. Setelah itu, pengguna akan mendapatkan opsi untuk melakukan panggilan, baik suara maupun video.

WhatsApp pun sudah menambahkan enkripsi pada fitur video call-nya sehingga dapat meningkatkan privasi dan keamanan.

Sekadar informasi, pengguna WhatsApp lebih dari satu miliar pengguna di dunia. Jumlah pengguna aplikasi milik Facebook tersebut bahkan telah melampaui jumlah pengguna Messenger yang tak lain merupakan layanan berbagi pesan lewat Facebook.

WhatsApp mengungkapkan setiap hari terdapat 42 miliar pesan dan 250 juta video dikirim lewat layanannya.

Inilah Calon “Pembisik” Donald Trump di Bidang Teknologi yang Jadi “Musuh Bersama” di Silicon Valley

peter-thiel-nbc-news
Peter Thiel. [Kredit: NBC News]

Tidak sia-sia dana US$1,25 juta yang dikeluarkan Peter Thiel untuk mendukung kampanye Donald Trump dalam Pemilu Presiden AS tahun 2016. Selain Trump sukses menjadi Presiden AS terpilih ke-45, Thiel juga dipercaya untuk bergabung ke dalam komite eksekutif tim transisi kepresidenan Trump.

Daftar anggota tim transisi kepresidenan ini diumumkan Trump pada hari Jumat (11/11) lalu. Peter Thiel, konglomerat teknologi yang mendirikan PayPal bersama Elon Musk, masuk dalam daftar bersama nama-nama lainnya, seperti tiga anak Trump (Ivanka, Trump Jr., dan Eric) dan Steve Bannon (pemimpin redaksi situs konservatif Breitbart).

“Satu lembar halaman baru dalam buku sejarah sudah terbuka dan kita bisa memikirkan beberapa masalah yang kita [Amerika Serikat] hadapi dari perspektif baru. Saya akan mencoba membantu Presiden [Trump] dengan cara apa pun yang saya bisa,” ujar Thiel dalam wawancara dengan The New York Times.

Sejauh ini, Thiel menyatakan dirinya tidak akan pindah ke Washington dan bergabung sebagai pejabat formal dalam kabinet kepresidenan Trump. Namun, ia siap memberikan saran kepada Trump kalau dibutuhkan.

Selama masa kampanye, Thiel selalu berterus-terang bahwa ia mendukung Donald Trump, sebuah pilihan yang sangat tidak populer di kalangan para pelaku industri teknologi yang mayoritas pro-Hillary Clinton.

Akibat pilihannya ini, Thiel dipandang sebagai “musuh bersama” di Silicon Valley. Sejumlah pihak malah menuntutnya untuk turun dari posisinya sebagai anggota Dewan Facebook dan penasihat paruh-waktu di akselerator startup Y Combinator.

Akan tetapi, Thiel mengungkap bahwa tidak semua orang di Silicon Valley anti terhadap Trump. “Saya makan malam bersama seorang pemodal ventura papan atas minggu lalu dan dia berkata, ‘Saya memilih Trump, tapi saya harus berbohong dan bilang kepada orang lain kalau saya memilih Gary Johnson [kandidat Presiden AS dari Partai Libertarian. red],’,” Thiel bercerita.

peter-thiel-paypal-elon-musk
Peter Thiel (kiri) dan Elon Musk, kedua pendiri PayPal.

Sekarang Donald Trump telah terpilih menjadi Presiden AS ke-45 dan akan mulai menunaikan tugasnya pada Januari 2017, Thiel mengajak seluruh pihak, termasuk komunitas teknologi yang bekerja di Silicon Valley, untuk mendukung kepemimpinan Trump.

“Sungguh gila kalau kita menghabiskan empat tahun ke depan untuk mengirim tweet sumpah serapah [terhadap Trump] di Twitter. Untuk satu atau dua hari, boleh saja. Tapi, saya berharap Silicon Valley akan lebih produktif daripada itu,” ujar pria berusia 49 tahun itu.

Menurutnya, kekayaan yang dihasilkan dari industri teknologi belum terdistribusi dengan baik ke seluruh wilayah di AS dan masih terpusat di Pantai Barat (West Coast). Inilah yang ia yakini bisa diperbaiki lewat kebijakan-kebijakan politik dan ekonomi Presiden Trump.

Melongok Budaya Kerja di Perusahaan Startup Asal Australia

Suasana kantor startup Jora di Australia.
Suasana kantor startup Jora di Australia.

Bekerja di perusahaan startup sepertinya mulai menjadi tren di kalangan generasi millennial. Dengan iming-iming kultur kerja yang lebih fleksibel, tidak kaku, dan imbalan menarik, cukup banyak mahasiswa yang baru lulus atau masih kuliah sekalipun tertarik untuk bergabung dengan perusahaan yang baru berusia kurang dari lima tahun.

Hal yang juga menarik dari perusahaan startup adalah kesempatan yang terbuka lebar untuk merekrut talenta berbakat asal daerah atau negara mana pun. Tidak jarang kita temui karyawan sebuah startup lokal yang berasal dari Malaysia, Singapura, India, dan sebagainya. Sebaliknya, banyak perusahaan startup asing pun membuka pintunya bagi sumber daya manusia asal Indonesia.

Salah satunya Jora, perusahaan startup yang bermarkas di Australia. Startup ini menyediakan informasi lowongan kerja di 17 negara yang dapat diakses gratis dan tersedia di App Store maupun Google Play. Mereka sudah meluncurkan situs dalam Bahasa Indonesia pada bulan Januari 2016.

Untuk mengepalai operasional di Indonesia ini, Jora merekrut Rizka Maydita Tsalasi sebagai Country Manager Indonesia di Jora.

Dalam surel yang diterima InfoKomputer, Rizka mengisahkan pengalaman kerjanya di perusahaan startup di Australia itu, sekaligus menjelaskan budaya kerja di startup yang ada di Negeri Kanguru itu.

Jam Kerja Fleksibel

Menurut Rizka, karyawan di Jora bebas bekerja di mana saja, selama ada koneksi internet dan bisa ikut rapat dengan menggunakan Skype. “Jadi kalau kita sudah memiliki keluarga, keuntungan kerja di startup adalah bisa bekerja dari rumah sehingga lebih mudah mengatur waktu dengan keluarga,” ujarnya.

Secara resmi, lamanya jam kerja memang terbilang standar, delapan jam sehari. Namun, karyawan tidak perlu berada di kantor selama delapan jam. Karyawan bisa datang lebih awal, misalnya pukul 7 pagi dan pulang pukul 3 sore. Dengan demikian, mereka bisa menghidari kemacetan yang padat di pagi hari dan jam pulang kerja.

“Karyawan memiliki otonomi besar, tetapi harus bisa menyelesaikan pekerjaan sesuai waktu yang ditentukan,” Rizka mengingatkan.

Suasana kantor startup Jora di Australia.
Suasana kantor startup Jora di Australia.

Keuntungan dari semakin banyaknya startup di Australia adalah bermunculannya lowongan kerja yang mencari kandidat dengan kemampuan bahasa tertentu, seperti Mandarin, Spanyol, Portugis, Perancis, Indonesia, dan semacamnya.

Artinya, semakin banyak peluang untuk mendapatkan pekerjaan di Australia bagi kaum pendatang atau imigran dengan memanfaatkan kemampuan bahasa.

Yang menarik, perusahaan berbasis teknologi biasanya menyediakan sponsor bagi karyawan yang tidak memiliki izin kerja di Australia. Sejumlah developer Ruby di Jora misalnya, berasal dari Tiongkok dan Korea Selatan. Mereka disponsori Jora untuk bekerja di Australia.

Memanjakan Karyawan

Suasana multikultur terlihat kental di Jora yang saat ini memiliki 18 karyawan yang berasal dari negara berbeda. Karena itu, sejumlah acara bertema budaya kerap digelar, seperti potluck (berbagi makanan) dari negara masing-masing.

Perusahaan juga memberi perhatian khusus kepada mereka yang menggunakan transportasi sepeda ke kantor. Di kantor Jora, tersedia fasilitas parkir khusus sepeda dan juga shower untuk menyegarkan diri setelah bersepeda. Hal ini guna mendukung anjuran pemerintah Australia untuk menjaga kebugaran serta mengurangi polusi.

Suasana kantor startup Jora di Australia.
Suasana kantor startup Jora di Australia.

Untuk memanjakan karyawan, makanan pokok seperti roti, sereal, teh, dan kopi gratis selalu tersedia kapan saja. Sementara itu, buah segar tersedia dua kali dalam seminggu.

Jora juga membebaskan karyawan untuk mengambil cuti sakit tanpa batas. Ini adalah budaya yang mulai banyak diterapkan perusahaan teknologi di negara maju seperti Amerika dan Australia.

“Fasilitas seperti otonomi dan fleksibilitas kerja sangat penting bagi perusahaan yang ingin terus berinovasi. Tentu hal ini hanya bisa dilakukan jika ada rasa saling percaya bahwa karyawan akan melakukan hal yang benar dan selalu dapat menyelesaikan pekerjaannya,” tutup alumnus UGM Yogyakarta itu.

Review Smartphone