Arsip Harian: Nov 23, 2016

Selamat Tinggal Android Gingerbread dan Honeycomb

Ilustrasi Gingerbread
Ilustrasi Gingerbread

Google akan segera menghentikan dukungan Android 2.3 Gingerbread dan 3.0 Honeycomb pada 2017, mengingat umur sistem operasi tersebut sudah menginjak tahun ke 5 dan 6. Google pun akan lebih fokus mengembangkan dan mendukung platform sistem operasi Android yang lebih baru.

“Platform Gingerbread sudah hampir enam tahun. Banyak developer Android yang sudah menghentikan dukungan aplikasinya terhadap Gingerbread sehingga membantu para developer untuk membangun aplikasi yang lebih baik dan baru,” tulis Google seperti dilansir Ubergizmo.

Tentunya, Google akan menghentikan dukungan terhadap kedua sistem operasi itu di toko aplikasinya, Play Store. Android Gingerbread adalah sistem operasi Android legendaris sepanjang masa, mengingat Google menghadirkan banyak perubahan signifikan terutama dukungan terhadap kamera depan untuk selfie.

Bahkan, antarmuka Gingerbread sangat simpel dan elegan serta bertahan lama ketika Google sudah menghadirkan Android Jelly Bean (4.1 dan 4.3) pada 2012. Google telah mendistribusikan Gingerbread 1,3 persen pada perangkat Android.

Sementara itu, Honeycomb memang kerap dinobatkan sebagai produk gagal, mengingat kiprah Honeycomb yang menyasar perangkat tablet cepat tergantikan Android 4.0 Ice Cream Sandwich di tahun yang sama. Honeycomb memang sudah hampir punah pada pertengahan 2014.

Perkuat Norton, Symantec Akuisisi LifeLock Rp30 Triliun

Symantec Akuisisi LifeLock
Symantec Akuisisi LifeLock

Symantec akan mengakuisisi perusahaan pembuat software keamanan LifeLock senilai 2,3 miliar dollar AS atau sekitar Rp30,9 triliun untuk memperkuat layanan-layanan keamanannya seperti Norton, seiring semakin canggihnya kejahatan siber.

Sebelumnya, Symantec juga mengakuisisi Blue Coat Inc yang bergerak dalam bidang keamanan siber senilai USD4.65 miliar atau sekitar Rp62,2 triliun pada Agustus lalu.

LifeLock sendiri sebagai penyedia platform keamanan digital terbesar di dunia untuk pasar konsumer. LifeLock pun sudah menghadirkan aplikasinya di perangkat mobile Android dan iOS, berguna melindungi data identitas pribadi. Saat pengguna LifeLock sekitar lebih dari 4 juta orang di dunia.

“LifeLock sebagai penyedia layanan proteksi identitas dan penipuan, memiliki 4,4 juta pelanggan dan akan terus berkembang. Kami akan memadukan LifeLock dengan Norton sehingga konsumen bisa mendapat pertahanan siber yang komplit,” kata Greg Clark (CEO Symantec) seperti dikutip ZDnet.

“Symantec memang telah bermain dalam pasar keamanan identitas online, tapi tidak memiliki jangkauan seluas LifeLock, yang memiliki pengguna 4,4 juta orang,” kata Fran Rosch (Executive Vice Presdient of Norton Business Unit).

Selama ini, Norton kebanyakan dibundling dengan perangkat PC. Sedangkan, penjualan PC terus menurun dan berdampak kepada penjualan software Symantec. Proses akuisisi itu sekaligus menandai transformasi Symantec ke ranah Digital Safety.

“Penjualan Norton ikut menurun seiring dengan menurunnya market share PC. Akuisisi ini akan membawa pemasukan senilai USD660 juta dari bisnis konsumer dan membawanya ke pertumbuhan yang berkelanjutan,” ujarnya.

Kedua dewan komisaris kedua perusahaan mengharapkan proses akuisisi itu rampung pada kuartal pertama 2017. Jika digabungkan, pendapatam kedua perusahaan mencapai 2,3 miliar dollar AS pada akhir tahun fiskal yang lalu

LifeLock menjadi perusahaan publik pada Oktober 2012 dan harga sahamnya naik 40 persen pada tahun ini. Market kapital LifeLock diperkirakan mencapai 1,95 miliar dollar AS.

LifeLock yang bermarkas di Tempe, Arizone, AS, memiliki 855 karyawan perakhir Oktober 2016 lalu. Selain itu, LifeLock juga memiliki kantor di San Diego, San Francisco, dan Mountain View, California. LifeLock pun menjadi partner berbagai lembaga pemerintahan, penjualan, dan kreditor untuk membantu penyelesaian masalah akibat pencurian identitas.

HTC Hentikan dan Jual Divisi Smartphone-nya Tahun Depan?

HTC One M-10 Hadir minggu depan di AS
HTC One M-10 Hadir minggu depan di AS

Persaingan pasar smartphone sangat keras, tak heran banyak pabrikan smartphone yang sudah memiliki nama besar harus mundur dan menyerah dari persaingan seperti Nokia, Motorola dan BlackBerry.

Satu lagi rumor yang beredar bahwa HTC akan berhenti memproduksi smartphone dan menjual divisi smartphone-nya pada tahun depan, setelah merugi selama beberapa tahun ke belakang. Penjualan smartphone HTC terbaru yaitu HTC 10 kurang memuaskan di pasar.

Cher Wang (Bos HTC) sudah mengirimkan pesan ke sejumlah rekan terdekatnya mengenai penjualan bisnis smartphone HTC pada musim semi 2017, seperti dilansir Ubergizmo.

Sejumlah media di Taiwan menyebut HTC sudah menepis rumor ini, namun analis mengklaim hal ini sudah bisa ditebak, karena biasanya hal ini juga dilakukan perusahaan-perusahaan lain sebelum menandatangani perjanjian penjualan.

Sumber yang sama juga menyebut ada empat perusahaan yang tertarik membeli bisnis HTC tetapi tidak terungkap perusahaan mana saja yang disebut dalam rumor ini. Google menjadi kandidat terkuat yang akan membeli divisi mobile HTC, mengingat Google akan terus menjual smartphone seri Pixel terbaru di masa mendatang.

Sayangnya, kini banyak konsumen HTC yang beralih ke smartphone besutan vendor lain, mulai dari Xiaomi, Huawei, Meizu, hingga vendor sekaliber Apple dan Samsung.

Masih ada VR

Untungnya, HTC memiliki model bisnis lainnya yaitu teknologi Virtual Reality (VR). HTC pun telah memperkenalkan perangkat VR HTC Vive X tanpa dukungan konten VR yang memadai. Karena itu, HTC pun akan menggelontorkan dana investasi sekitar US$100 juta atau sekitar Rp1,32 triliun untuk membuat program konten VR tersebut.

Program VR HTC itu akan membuat konten untuk memperkaya pengalaman VR dan membentuk sebuah akselerator bagi startup yang bergerak di bidang VR.

Review Smartphone