29 | November | 2016 | InfoKomputer Online

Arsip Harian: Nov 29, 2016

Onkyo DP-X1: Dukung Audio Resolusi Tinggi

onkyo-dp-x1

Mendengarkan audio resolusi tinggi di perjalanan dimungkinkan oleh Onkyo DP-X1. Pemutar audio portabel ini bisa memainkan audio dengan resolusi yang lebih tinggi dari 16 bit 44,1 kHz yang umum digunakan pada CD-DA. Onkyo DP-X1 mendukung resolusi sampai 24 bit 384 kHz. Ia bahkan mendukung DSD dengan sampling frequency 11,2 MHz. Sekadar informasi, DSD adalah teknologi yang yang digunakan pada SACD. Selain menggunakan kabel, perangkat ini juga mendukung koneksi menggunakan Bluetooth, termasuk menggunakan codec aptX. Untuk menyimpan berbagai file audio yang diinginkan, Onkyo DP-X1 menyediakan media simpan sebesar 32 GB. Ruang simpan ini bisa ditambah melalui dua selot micro-SD yang disediakan. Format file yang didukung antara lain adalah WAV, FLAC, ALAC, dan AIFF. Baterainya sendiri bisa bertahan sampai enam belas jam.

Informasi
Harga: ±US$ 780
Situs: www.onkyousa.com

Optoma ML750ST: Proyektor Short Throw Ringkas

optoma-ml750st

Optoma ML750ST adalah proyektor yang berukuran ringkas. Dimensinya hanya 10,4 x 3,8 x 10,7 cm dan bobotnya tidak sampai 0,5 kg. Hal ini membuatnya mudah untuk dibawa-bawa, misalnya untuk melakukan presentasi di berbagai tempat. Selain itu, Optoma ML750ST juga merupakan proyektor short throw. Optoma mengklaim penggunanya bisa mendapatkan tampilan berukuran 32 inci dari jarak 25 inci. Untuk koneksinya, proyektor dengan resolusi 1.280 x 800 pixel ini menyediakan antara lain HDMI plus MHL, D-Sub 15 pin, keluaran audio, dan USB. Yang terakhir ini mendukung USB wireless dongle. Tersedia juga speaker 1,5 W. Lampu yang digunakan adalah LED yang diklaim mampu membuat proyektor ini memiliki kecerahan tujuh ratus lumen.

Informasi:
Harga: US$549
Situs: www.optomausa.com

WinZip Universal

winzipuniversal
Jika Anda menggunakan Windows sejak dulu, kemungkinan besar tidak asing dengan aplikasi yang disebut dengan WinZip. Nah untuk Windows 10, ada varian yang disebut dengan WinZip Universal. Aplikasi ini bisa dicoba selama dua puluh hari secara gratis. Untuk versi penuhnya, Anda bisa membayar sebesar US$7,99.

WinZip Universal adalah aplikasi untuk melakukan kompresi terhadap berbagai file maupun melakukan dekompresi file yang terkompresi. Format default yang didukungnya tentu saja adalah Zip dan Zipx. Namun, WinZip Universal mengklaim dirinya mampu membuka lebih dari 22 format lain. Beberapa di antaranya adalah RAR, 7z, TGZ, LHZ, dan TBZ.

Selain bisa melakukan kompresi biasa, aplikasi ini juga mendukung kompresi dengan enkripsi. Anda bisa memilih tingkat enkripsi yang digunakan, misalnya AES 128 dan AES 256. Begitu pula dengan format yang digunakan, apakah Zip atau Zipx.

Jika Anda merasa fitur yang ditawarkan oleh WinZip Universal ini masih kurang, tentunya tersedia versi desktop yang menawarkan fitur lebih lengkap. Namun, harganya memang lebih tinggi.

BenQ VZ2470H: Bezel Tipis

benq-vz2470h

Jika ingin menggunakan dua atau tiga monitor sekaligus untuk membentuk suatu tampilan yang lebih besar, monitor dengan bezel yang tipis adalah pilihan yang lebih tepat. BenQ VZ2470H adalah salah satu monitor seperti itu. Selain bezel yang tipis, monitor ini juga memiliki contrast ratio yang tinggi, yakni 3.000:1, secara native. Ini diperoleh karena black level yang rendah melalui panel VA yang digunakan. BenQ pun mengklaim VZ2470H mampu mengurangi emisi sinar biru sampai tujuh puluh persen. Sinar biru yang dihasilkan oleh kebanyakan monitor dipercaya BenQ membuat mata cepat lelah. Dengan teknologi Low Blue Light, pengguna bisa produktif lebih lama di depan monitor 24 inci dengan resolui 1.920 x 1.080 pixel ini.

Informasi:
Harga: $209
Situs: www.benq.us

Network

network-1 network-2

Jaringan 4G LTE mulai dapat dinikmati oleh pengguna smartphone di Indonesia, khususnya yang berada di kota besar. Namun ada sebagian pengguna tertentu yang berada di area “perbatasan” antara 3G dan 4G, sesekali sinyal yang ditangkap adalah 4G, namun pada kesempatan lain adalah 3G.

Salah satu trik yang bisa digunakan agar sinyal yang ditangkap selalu 4G adalah mengunci jaringan smartphone pada posisi 4G. Umumnya hal tersebut bisa dilakukan dengan mengakses menu tersembunyi yang dapat dimunculkan dengan memanggil (dial) kode *#*#4636#*#* di smartphone Android.

Masalahnya, tidak semua produsen smartphone Android membuka akses terhadap menu tersembunyi tersebut. Untunglah tersedia aplikasi bernama Network yang bisa membuka fungsi tersembunyi itu tanpa harus memanggil kode *#*#4636#*#*.

Aplikasi Network memiliki antarmuka yang sangat sederhana, hanya berisi berbagai informasi tertentu terkait smartphone yang digunakan yakni IMEI, operator yang dimanfaatkan, paket data yang dikirim/diterima, dan sejenisnya.

Selain itu ada pula beberapa setting yang bisa diubah, salah satunya adalah jenis jaringan yang diinginkan, misalnya GSM only, WCDMA only, LTE only, atau kombinasi. Jika ingin mengunci jaringan pada posisi 4G, pilih opsi LTE only.

Lintasarta Umumkan Tiga Startup Pemenang di Ajang Appcelerate 2016

lintasarta-appcelerate

Tiga bisnis rintisan (startup) terbaik telah terpilih sebagai pemenang di ajang Lintasarta Appcelerete yang diselenggarakan oleh PT. Aplikanusa Lintasarta (Lintasarta) bekerja sama dengan Lembaga Pengembangan Inovasi dan Kewirausahaan Institut Teknologi Bandung (LPIK ITB).

Ketiga pemenang tersebut adalah CHARM (Customer Handling, Analytic and Relationship Management) yang membantu perusahaan untuk dapat mendengarkan dan memahami pelanggan melalui analisis percakapan pelanggan di media sosial, BIOPS merupakan aplikasi precision farming yang menawarkan monitoring dan controlling untuk para petani green house, serta WINAFI aplikasi sembako mart yang menawarkan kemudahan berbelanja kebutuhan sehari-hari yang mengintergrasikan antara toko kelontong lokal dengan konsumen di sekelilingnya.

Arya Damar, Presiden Director Lintasarta mengatakan, “Lintasarta dan LPIK ITB menelurkan 3 startup dari 3 kategori yang berbeda. Mereka semua bagus, semua terbaik. Karena saya yakin bahwa anak-anak Indonesia dapat bertarung di dunia untuk application”.

Selain mengumumkan tiga pemenang,  Lintasarta juga akan menawarkan kerja sama kepada 10 startup inkubasi sebagai mitra sehingga aplikasi yang mereka buat dapat dipergunakan oleh kalangan industri.

Menurut para dewan juri, dari 10 startup yang telah memasuki masa inkubasi selama 3 bulan (Juli, Agustus, September 2016), para pemenang merupakan startup yang mendapat penilaian terbaik dengan merupakan problem solving dan usefulness, serta memiliki nilai commercial dan value business. Para dewan juri terdiri dari jajaran direksi, General Manager Lintasarta dan LPIK ITB.

Selama masa inkubasi para startup tersebut telah mendapat mentoring, pengembangan dan peningkatan komersial melalui berbagai program yang yang diberikan.

Suhono Harso Supangkat, Kepala LPiK ITB mengatakan, “Saya apresiasi ke Lintasarta yang telah menyelenggarakan ajang Appcelerate ini. Appcelerate adalah suatu kegiatan untuk membangun ekosistem pembangunan startup di Indonesia. Tujuannya mulia, semaksimal mungkin startup yg terbentuk dipunyai oleh warga Indonesia, dengan kualitas dan jangkauannya internasional. ITB akan terus bermitra  membangun startup Indonesia.”

Lintasarta Appcelerate, yang merupakan realisasi Program Corporate Social Responsibility Lintasarta bekerja sama dengan ITB Bandung, adalah ajang membuat rencana bisnis dalam bentuk inovasi produk atau aplikasi digital, seperti mobile application, yang memiliki nilai bisnis dan dapat diterapkan untuk mendukung berbagai sektor industri seperti banking, financial, oil & gas, plantation, manufacture, e-health, logistic, transportation, maritim dan tourism. Ajang ini telah dimulai sejak April 2016 lalu.

Grab Luncurkan Layanan Non-Tunai GrabPay Credits

(Kiri ke Kanan) Bernard Hosanna, Country Product Manager Grab Indonesia, Ridzki Kramadibrata, Managing Director Grab Indonesia, dan Mediko Azwar, Marketing Director Grab Indonesia berfoto pada acara Media Briefing GrabPay Credits.
(Kiri ke Kanan) Bernard Hosanna, Country Product Manager Grab Indonesia, Ridzki Kramadibrata, Managing Director Grab Indonesia, dan Mediko Azwar, Marketing Director Grab Indonesia berfoto pada acara Media Briefing GrabPay Credits.

Grab meluncurkan GrabPay Credits sebagai opsi pembayaran non-tunai terbaru yang memungkinkan pengguna melakukan top-up melalui beragam jaringan top-up lokal yang tersedia secara luas. Layanan GrabPay Credits itu memungkinkan seluruh pengguna di Asia Tenggara menikmati kenyamanan dari penggunaan metode pembayaran non-tunai dengan mudah.

Hooi Ling Tan (Co-founder Grab) mengatakan Grab ingin menciptakan ketersediaan layanan transportasi yang aman dan terjangkau bagi setiap orang. Layanan GrabPay Credits akan memberikan akses pembayaran non-tunai yang lebih besar untuk kebutuhan transportasi bagi seluruh pengguna di berbagai negara.

“Kami percaya bahwa penguasaan metode pembayaran non-tunai merupakan hal yang sangat krusial untuk mencapai misi kami,” katanya dalam siaran persnya, Selasa.

Saat ini Asia Tenggara masih didominasi dengan transaksi berbasis uang tunai, bahkan sebanyak 620 juta penduduk Asia Tenggara belum memiliki rekening bank. World Bank mencatat hanya 27 persen dari jumlah penduduknya yang memiliki rekening bank dan baru sembilan persen orang dewasa yang telah memiliki kartu kredit.

“Anda tinggal melakukan top-up saldo di berbagai mitra bank lokal, ATM, dan jaringan top-up lainnya. GrabPay Credits yang pertama kali diperkenalkan di Indonesia dan Singapura akan segera tersedia di negara-negara Asia Tenggara lainnya dalam beberapa minggu ke depan,” ujarnya.

Sejak peluncuran GrabPay pada 2016, kata Ling Tan, kenyamanan perjalanan non-tunai telah menarik minat lebih banyak pengguna yang ditandai dengan pertumbuhan dua digit kami yang berkelanjutan dari bulan ke bulan. Grab ingin menjadi platform pembayaran terdepan di kawasan Asia Tenggara dan Grab merupakan salah satu mobile platform dengan frekuensi penggunaan terbesar dengan 1,5 juta pemesanan setiap harinya. S

“GrabPay Credits memungkinkan setiap orang, dimana pun untuk menikmati kenyamanan pembayaran non-tunai untuk perjalanan yang lebih mulus,” ungkapnya.

Ridzki Kramadibrata, Managing Director, Grab Indonesia mengatakan GrabPay Credits memungkinkan Grab meningkatkan aspek keamanan dan kenyamanan dari pembayaran non-tunai baik. Penumpang tidak lagi harus menggunakan uang tunai untuk memperoleh uang kembalian ketika perjalanan berakhir

“Para pengemudi juga dapat mengurangi jumlah uang tunai yang dibawanya dan tidak perlu khawatir akan jumlah uang kembalian sehingga dapat lebih fokus dalam memberikan pengalaman berkendara terbaik bagi para penumpang kami,” ucapnya.

Pengguna dapat melakukan top-up GrabPay Credits secara online atau secara offline di ribuan lokasi melalui beberapa opsi berikut Jaringan ATM lokal, mencakup ATM Alto, ATM Bersama, ATM Prima, BCA, BNI, BRI, CIMB Niaga, Bank Permata. Transfer bank secara online dari Bank BCA, BNI, BRI, CIMB Niaga, dan Bank Permata. Rekening e-Money ternama, seperti Doku Wallet. Tempat belanja, meliputi Alfamart, Dan+Dan, serta Lawsons dan Kartu kredit dan debit, mencakup Visa dan MasterCard.

Saldo GrabPay Credits tersedia dalam pecahan tetap Rp 50.000, Rp 100.000, dan Rp 200.000 atau jumlah mulai dari Rp 50.0000 – Rp 999.999. Dengan alasan keamanan dan kepatuhan terhadap peraturan yang berlaku, GrabPay Credits hanya dapat digunakan untuk perjalanan dengan Grab di negara tempat pembelian saldo.

Caranya, Para penumpang dapat melakukan top-up dan menggunakan GrabPay Credits sebagai metode pembayarannya dengan mengikuti langkah-langkah berikut:

1. Pilih “Top-up Credits” pada menu GrabPay.

2. Pada halaman Credits, tentukan nilai top-up dan metode pembayaran yang diinginkan yang akan menampilkan daftar opsi yang tersedia.

3. Ikuti instruksi untuk metode pembayaran tertentu yang dipilih.

4. Pop-up screen akan muncul dengan rincian transaksi ketika proses top-up berhasil.

5. Layar Credits menampilkan saldo total yang baru.

Cara Citilink Membangun Data Culture di Industri Penerbangan

Achmad Royhan (Vice President of Information Technology, Citilink). [Foto: Abdul Aziz/InfoKomputer]
Achmad Royhan (Vice President of Information Technology, Citilink). [Foto: Abdul Aziz/InfoKomputer]
Sektor transportasi udara Indonesia terus berbenah. Tahun ini saja, Pemerintah RI menargetkan pembangunan 15 bandara baru, perpanjangan landasan pacu di 27 lokasi, serta rehabilitasi 13 bandara yang telah ada. Seluruh pembangunan ini adalah bagian dari usaha Pemerintah mendongkrak pertumbuhan ekonomi serta pemerataan pembangunan di seluruh Indonesia.

Aksi cepat Pemerintah itu tentu saja berefek positif bagi industri penerbangan di Indonesia. Mengutip data International Air Transport Association (IATA), pada tahun 2034 Indonesia akan menjadi pasar keenam terbesar di dunia dalam hal transportasi udara. Jumlah penumpang diperkirakan akan mencapai 270 juta per tahun, atau tiga kali lipat dari jumlah penumpang saat ini.

Lalu, bagaimana maskapai penerbangan Indonesia memanfaatkan peluang emas ini? Bagi Citilink, caranya adalah dengan menjadi organisasi yang memanfaatkan teknologi.

Migrasi ke Cloud

Menurut Achmad Royhan (Vice President of Information Technology Citilink), pemikiran itu didasarkan pada pemahaman bahwa industri penerbangan adalah industri yang sangat kompetitif dan setiap maskapai harus memiliki unique value proporsition.

“Karena sekarang eranya digital business, setiap perusahaan, apalagi airline, dituntut untuk bisa memanfaatkan teknologi,” ungkap pria yang telah bergabung dengan Citilink sejak tahun 2008 ini. Apalagi, sejak awal Citilink sudah memosisikan diri sebagai IT-based company. “Semua proses menggunakan sistem dan aplikasi sehingga data sudah tersimpan,” tambah Achmad.

Akan tetapi dengan positioning sebagai low-cost airline, Citilink tetap harus menjaga struktur biayanya agar tetap langsing dan efisien. Paradigma ini juga berlaku bagi tim TI Citilink.

Saat ini, tim TI di bawah Royhan jumlahnya tak lebih dari lima belas orang. “Dari awal kami memang tidak ingin banyak orang TI,” tambah Royhan. Tim kecil ini difokuskan untuk mendukung inovasi dan pengembangan TI yang langsung mendukung bisnis Citilink. “Karena core business kami ‘kan airline, bukan IT,” tambah Royhan menekankan.

Hal ini juga yang menjelaskan mengapa Citilink mulai memindahkan infrastruktur TI-nya ke cloud setelah sebelumnya mengambil pendekatan on-premise. Pemikiran pindah ke cloud sebenarnya sudah dipikirkan sejak lama, namun sebuah peristiwa membuat Royhan bertekad pindah ke cloud.

“Waktu itu ketika akan peak season dan kami ingin menaikkan kapasitas, kami langsung disodori kontrak sewa selama enam bulan,” kenang Royhan. Padahal, Citilink kala itu cuma butuh 1-2 bulan. Belajar dari pengalaman itu, Royhan melihat teknologi cloud adalah jawaban tepat bagi perusahaan dengan kebutuhan TI yang dinamis seperti Citilink.

Proses migrasi ke cloud ini dimulai sejak tahun 2011. Pada tahun 2014, semua infrastruktur Citilink sudah berada di cloud. Royhan dan tim pun kini mengaku tenang menghadapi berbagai situasi, termasuk saat peak season seperti Lebaran kemarin. “Kita tinggal set ketika CPU level sekian, memory level sekian, otomatis langsung scale-out,” tambah Royhan. Sebaliknya ketika beban menurun, infrastruktur tersebut otomatis juga langsung scale-down.

Ilustrasi pesawat Citilink.
Ilustrasi pesawat Citilink.

Citilink sendiri menggunakan layanan beberapa cloud provider, namun mayoritas berada di Microsoft Azure. “Karena dari infrastructure performance sampai reliability-nya bagus,” ungkap Royhan mengungkapkan alasannya. Alasan lain yang membuat Citilink nyaman menggunakan Azure adalah karena Microsoft memiliki partner lokal yang bisa diajak berdiskusi, di luar tim Microsoft pusat sendiri yang siap membantu.

Selain memanfaatkan Azure sebagai infrastruktur, Citilink juga menggunakan beberapa fitur di atas Azure seperti SQL Database dan PowerBI untuk pengolahan data.

Pemanfaatan Data

Ketika sistem dan infrastruktur di Citilink sudah mapan, langkah selanjutnya yang ingin diwujudkan adalah membangun data culture alias budaya yang memanfaatkan data saat mengambil keputusan. “Jadi kita harus berpikir bagaimana caranya memanfaatkan data yang ada untuk mendukung keputusan dari semua unit,” ungkap pria lulusan Stikom Surabaya ini.

Membangun budaya berbasis data sendiri sudah Royhan rintis sejak tahun 2013. Strategi yang dilakukan Royhan kala itu adalah membuat laporan berdasarkan analisis tingkat keterlambatan pesawat Citilink di berbagai titik. “Saya buat laporan itu berdasarkan pemahaman di kepala saya, tanpa mereka minta,” kenang Royhan sambil tertawa.

Dari analisis tersebut, terkuak fakta bahwa penyebab keterlambatan tersebut lebih bersifat eksternal, yaitu keterbatasan infrastruktur di bandara. “Karena runway-nya sedikit, akhirnya terjadi antrian panjang,” ungkap Royhan.

Belajar dari laporan tersebut, pihak manajemen pun makin menyadari pentingnya pemanfaatan data. Instruksi untuk memanfaatkan data pun ditularkan ke semua business unit. Namun itu juga berarti tugas Royhan dan tim TI-nya kian krusial. Awalnya mereka harus menyakinkan setiap business unit untuk menggunakan aplikasi yang ada sehingga data bisa terkumpul. “Jadi kita harus menyakinkan user daripada menggunakan spreadsheet Excel biasa, lebih baik menggunakan aplikasi di dalam sistem,” ungkap Royhan mencontohkan.

Setelah itu, tim TI juga akan membantu unit untuk bisa mencari insight dari data yang sudah terkumpul. “Karena tim TI butuh masukan dari semua unit untuk merancang pola data seperti apa yang bisa ‘bunyi’,” tambah Royhan. Pada tahap ini, strategi yang dilakukan Citilink adalah membentuk tim data analyst yang akan membantu key user di tiap unit. Berdasarkan data-data itulah, Citilink berhasil mendapatkan insight menarik yang kemudian digunakan untuk mengatur strategi di masa mendatang.

 sejak awal Citilink sudah memposisikan diri sebagai IT-based company. “Semua proses menggunakan sistem dan aplikasi sehingga data sudah tersimpan,” tambah Achmad.
Sejak awal Citilink memosisikan diri sebagai IT-based company. “Semua proses menggunakan sistem dan aplikasi sehingga data sudah tersimpan,” tukas Achmad.

Pada industri penerbangan sendiri, dua sektor yang krusial dalam memanfaatkan data adalah operasional dan penjualan. Pada sisi operasional, data bisa digunakan untuk meningkatkan ketepatan waktu serta efisiensi pengaturan pesawat dan kru.

Sementara di sisi penjualan, data dari tingkat keterisian dan ASK (average seat per kilometer) bisa digunakan untuk memberikan tarif paling optimal dari setiap rute penerbangan. Data pembelian dari OTA (online travel agent) yang kini menjadi kanal favorit konsumen pun pun bisa memberikan insight menarik.

“Kita bisa siapa tahu siapa customer kita, atau channel payment apa yang paling banyak digunakan,” tambah pria yang baru berusia 32 tahun ini. Data kota mana saja yang OTA-nya belum kuat pun bisa digunakan sebagai basis strategi pengembangan agen penjualan.

Pendek kata, ada banyak insight yang kini bisa Citilink ketahui setelah mengadopsi pendekatan data culture. Namun langkah Citilink mewujudkan data culture tidak akan berhenti sampai di sini. Salah satu impian yang Royhan coba wujudkan adalah merancang sistem berbasis machine learning.

“Saat ini kita kuatkan fondasinya dulu, nanti ujungnya kami harap bisa memiliki sistem [berbasis machine learning] yang memberikan suggestion untuk pengembangan bisnis Citilink,” tambah ayah dua putri ini.

Semua kerja keras itu adalah bagian dari mimpi besar Citilink untuk menjadi pemimpin regional di bidang low-cost airlines. “Tidak cuma dari sisi market, namun juga inovasi dan teknologi,” ungkap Royhan.

Grab dan Bukalapak Berbagi Rahasia Sukses Mengembangkan Startup di Seminar IndonesiaX

IndonesiaX sebagai platform belajar online berkonsep Massive Open Online Course (MOOC) mencoba mengangkat topik tersebut dalam seminar "The Art of Startup" yang digelar hari ini, Selasa (29/11), di Mercantile Athletic Club, Jakarta.
IndonesiaX sebagai platform belajar online berkonsep Massive Open Online Course (MOOC) menggelar seminar “The Art of Startup” pada hari ini, Selasa (29/11), di Mercantile Athletic Club, Jakarta. [Foto: Abdul Aziz/InfoKomputer]
Menjadi entrepreneur atau seorang wirausahawan dan membangun bisnis startup sendiri sedang populer menjadi pilihan karier generasi muda saat ini, terutama mereka yang baru lulus kuliah. Tetapi, apa saja yang dibutuhkan agar bisnis rintisan itu dapat tumbuh dan berkembang secara pesat?

IndonesiaX sebagai platform belajar online berkonsep Massive Open Online Course (MOOC) mencoba mengangkat topik tersebut dalam seminar “The Art of Startup” yang digelar hari ini, Selasa (29/11), di Mercantile Athletic Club, Jakarta.

Hadir selaku pembicara utama yakni Ridzki Kramadibrata (Managing Director, Grab Indonesia) dan M. Fajrin Rasyid (Co-Founder & Chief Strategy and Financial Officer, Bukalapak) yang berbagi resep sukses mengembangkan startup di Indonesia.

Menurut Ridzki, agar startup bisa tumbuh dan berkembang dengan sukses, para pendiri startup harus membuat mission statement atau pernyataan misi yang jelas. Faktor inilah yang akan memacu semangat setiap orang yang bekerja di startup itu, setiap bangun tidur di pagi hari, untuk berusaha keras mewujudkan misi tersebut.

Grab sendiri sejak awal didirikan sudah mengusung tiga misi utama, yaitu menyediakan sarana transportasi yang aman, menawarkan sarana transportasi yang bisa diakses semua orang, serta meningkatkan kualitas hidup dari para mitra pengemudinya.

“Indonesia dengan 250 juta penduduk adalah pasar yang sangat luas dan menarik bagi bisnis. Tetapi, masalahnya adalah bagaimana menyentuh 250 juta orang itu?” kata Ridzki.

Ridzki Kramadibrata (Managing Director, Grab Indonesia).
Ridzki Kramadibrata (Managing Director, Grab Indonesia).

Untuk itu, Grab berusaha menawarkan solusi terhadap masalah yang dihadapi sehari-hari oleh masyarakat di kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia, yaitu kebutuhan terhadap moda transportasi yang aman dan nyaman.

Grab juga mempergunakan data-driven approach untuk mengelola antara pasokan (supply) dan permintaan (demand). Misalnya, untuk meningkatkan permintaan dari konsumen, Grab rajin menggelar kampanye dan promosi. Di sisi lain, Grab membantu mitra pengemudi dalam melayani konsumen lewat heat map atau pemetaan daerah-daerah yang tingkat permintaannya tinggi.

“Grab juga bekerjasama dengan Kementerian Koperasi dan UKM untuk mendorong terbentuknya koperasi bagi mitra pengemudi dan pemilik kendaraan rental. Dengan demikian, Grab bisa membantu penetrasi smartphone dan mobile banking kepada mereka yang awalnya belum tersentuh teknologi,” ungkap pria yang sebelumnya pernah bekerja di maskapai penerbangan AirAsia itu.

Teori Network Effect

Sementara itu, salah satu startup lokal yang terbukti bersinar dalam beberapa tahun terakhir ini adalah Bukalapak.

Sepanjang tahun 2015 silam saja, Bukalapak sudah mengalami pertumbuhan jumlah penjual sebesar tiga kali lipat. Sedangkan jumlah penjualan yang dirasakan para pelapak (istilah untuk penjual di Bukalapak. red) meningkat dua setengah kali lipat.

“Industri e-commerce di Indonesia memang terlihat besar saat ini. Tapi, akan lebih besar lagi di masa depan,” ujar Fajrin Rasyid. “Jumlah orang yang pernah belanja online di Indonesia baru 15 juta, padahal jumlah pengguna internet sudah mencapai lebih dari 100 juta,” lanjutnya untuk memberi gambaran potensi besar e-commerce lokal.

Mengapa bisnis e-commerce bisa tumbuh demikian cepat? Fajrin menyebut sebuah teori yang disebut network effect. Artinya, semakin banyak pengguna suatu aplikasi, biasanya akan semakin besar pula dorongan bagi orang lain untuk menggunakan aplikasi yang sama.

Begitu halnya dengan e-commerce. Kian banyak orang yang berjualan di online marketplace seperti Bukalapak, artinya kompetisi antarpenjual meningkat dan harga barang akan turun. Harga murah ini yang menjadi magnet bagi para pembeli untuk berbelanja di Bukalapak. Makin banyak pembeli, jumlah orang yang ingin berjualan pun bertambah, dan siklus ini terus berputar.

M. Fajrin Rasyid (Co-Founder & Chief Strategy and Financial Officer, Bukalapak).
M. Fajrin Rasyid (Co-Founder & Chief Strategy and Financial Officer, Bukalapak).

Fajrin juga membuka rahasia dapur Bukalapak sehingga dapat tumbuh pesat dalam dua tahun terakhir.

“Pertama, kami memanfaatkan data scientist. Contohnya, statistik kunjungan Bukalapak biasanya meningkat pada pukul 11.00 – 13.00 atau sekitar jam makan siang. Sehingga kami mengirimkan e-mail promosi kepada pelanggan sebelum jam makan siang. Harapannya agar mereka bisa tertarik berbelanja online setelah makan dan sebelum mulai bekerja kembali,” paparnya.

“Kedua, faktor sosial, yaitu membangun komunitas pelapak yang rutin bertemu dan berbagi pengalaman secara offline. Saat ini kami memiliki komunitas pelapak di lebih dari 50 kota di Indonesia,” pungkas Fajrin.

Berbagai Gaya dan Karakter Kepemimpinan Digital di Uni Eropa

leadership

Oxford Economics dan SAP mengungkapkan bahwa para pemimpin perusahaan di Eropa mulai menyambut transformasi digital dengan tingkat adopsi yang berbeda-beda di setiap negara.

SAP telah meneliti karakteristik-karakteristik perusahaan yang berhasil dalam ekonomi digital di negara Jerman, Spanyol, Prancis, Rusia, dan Inggris.

“Digitalisasi dunia telah membawa perubahan besar-besaran terhadap tenaga kerja dan tempat kerja serta pertumbuhan bisnis cepat berubah,” kata Mike Ettling (Presiden, SAP SuccessFactors) dalam siaran persnya, Selasa (29/11).

Oxford Economics dan SAP mengidentifikasi sekelompok organisasi yang tengah mendapatkan manfaat dari ekonomi digital adalah Digital Winners. Kepemimpinan digital bervariasi secara luas menurut masing-masing negara. Jerman (41 persen) dan Spanyol (22 persen) melampaui rata-rata global, Perancis (15 persen), Rusia (3 persen), dan Inggris (1 persen).

Ettling mengatakan para pemimpin di seluruh Eropa memiliki kesempatan besar untuk menjadi lebih digital dan terhubung secara digital. Digital tidak hanya tentang mengadopsi teknologi melainkan juga tentang menciptakan budaya inovasi.

“Sebagai pemimpin, kita harus menciptakan lingkungan dimana orang berkembang dan memungkinkan mereka untuk membuat keputusan secara cepat, mengurangi kompleksitas dan birokrasi, dan merangkul keragaman dan inklusi,” ujarnya.

Rata-rata, sebanyak 39 persen dari Digital Winner di seluruh dunia melaporkan adanya program keberagaman yang efektif, dibandingkan dengan 36 persen dari semua perusahaan di Prancis, 33 persen di Rusia, 32 persen di Jerman, 30 persen di Inggris, dan 23 persen di Spanyol.

Proporsi Eksekutif Millennial

Hampir semua perusahaan Eropa melaporkan proporsi eksekutif millennial yang lebih kecil dibandingkan dengan rata-rata global kecuali Rusia melaporkan persentase kaum millennial yang lebih besar di posisi kepemimpinan (33 persen vs 17 persen secara global), Jerman (16 persen), Spanyol (6 persen), Inggris (5 persen) dan Perancis (1 persen) harus memprioritaskan menarik dan mengembangkan pemimpin millennial.

Di seluruh dunia, pemimpin millennial lebih pesimistis dibandingkan eksekutif lainnya tentang kesiapan digital dari organisasi mereka. Para eksekutif millennial memberikan peringkat atas keterampilan kepemimpinan organisasi antara 15 dan 23 persen lebih rendah dari eksekutif millennial.

Sementara Inggris (91 persen) dan Jerman (87 persen) memiliki tingkat kepuasan tertinggi di seluruh dunia, di mana 87 persen karyawan puas atau sangat puas di tempat kerja, Prancis (76 persen), Spanyol (64 persen), dan Rusia (32 persen) menempati urutan ketiga, keempat, dan kelima.

Selanjutnya, Inggris (80 persen) dan Jerman (77 persen) kembali mengalahkan Digital Winners di seluruh dunia, di mana 75 persen karyawan akan memilih tidak pergi jika ditawari pekerjaan lain, Perancis (72 persen), Spanyol (56 persen), dan Rusia (32 persen) diyakini akan mendapatkan hasil yang lebih baik bila kemampuan kepemimpinan digital lebih tinggi.

Review Smartphone