Berita Bos idEA: Jangan Takut! Alibaba dan Amazon Hanya Jago Kandang

Bos idEA: Jangan Takut! Alibaba dan Amazon Hanya Jago Kandang

Jeff Bezos (CEO Amazon) dan Jack Ma (CEO Alibaba) ki-ka

Indonesia adalah negara yang seksi dan menarik bagi semua negara untuk datang dan berinvestasi di Indonesia. Jumlah populasi penduduk Indonesia yang banyak, tingginya daya beli masyarakatnya dan pengguna internet yang tembus 100 juta pengguna menjadi daya tarik tersendiri bagi para investor, khususnya dari sektor teknologi.

Tak kecuali perusahaan raksasa dunia Alibaba dan Amazaon yang ingin mencicipi manisnya pasar e-commerce di Indonesia. Tentunya, kehadiran dua raksasa e-commerce dunia mendatangkan kekhawatiran bagi pemain e-commerce lokal di Indonesia.

Maklum, Alibaba dan Amazon memiliki sistem manajemen yang sudah matang, dana pemasaran berlimpah, kekuatan logistik, dan kualitas SDM yang unggul.

Aulia E. Marinto (Ketua Umum Asosiasi E-Commerce Indonesia/idEA) mengakui Indonesia adalah pasar yang menarik bagi banyak investor dari belahan dunia dan tidak hanya dari e-commerce saja. Namun, sangatlah wajar jika perusahaan asing seperti Alibaba dan Amazon ingin mencicipi pasar Indonesia.

“Kita tidak bisa menolak masuknya perusahaan asing seperti Alibaba dan Amazon ke Indonesia karena mereka akan berinvestasi disini. Sebaliknya, jika ada salah satu perusahaan e-commerce di Indonesia, misal blanja.com ingin berinvestasi di Afrika. Apakah negara bersangkutan (Afrika) terganggu dan melarang kita? Tentunya tidak” katanya dalam ajang jumpa media Indonesia E-Commerce Summit & Expo (IESE) di Jakarta, Kamis (26/1).

Aulia mengatakan perusahaan e-commerce lokal siap bersaing dengan Amazon dan Alibaba yang ingin masuk ke Indonesia. Para pemain e-commerce lokal sudah memiliki kekuatan berupa dukungan pemerintah, jaringan, pengalaman, dan pelanggan sehingga lebih mengenal budaya dan persaingan e-commerce di Indonesia.

“Meskipun mereka (Alibaba dan Amazon) punya nama besar, apakah mereka akan langsung sukses dan besar di Indonesia dan membuat e-commerce lokal gulung tikar?” ujarnya.

“Tentu tidak! Jangan dikira mudah menjual barang, merintis, dan mengembangkan e-commerce di Indonesia. Alibaba itu cuma jago kandang dan besar di Tiongkok saja. Tidak jauh berbeda dengan Amazon yang perkasa di Amerika Serikat,” tegas Aulia.

Aulia melihat Amazon sangat perkasa karena memiliki gudang yang besar untuk menyimpan barang-barang pelanggan sehingga  menunjang faktor logistik. Amazon pun memiliki sistem pengiriman barang yang unik dengan mengantarkan barang dengan drone kepada pelanggannya.

“Indonesia adalah negara kepulauan dan tidak mudah berbicara distribusi logistik di Indonesia. Apakah mungkin Amazon akan mengirimkan barang dari Aceh ke Papua pakai drone? Jelas tidak mungkin,” ujarnya.

Persiapan dan Peran Pemerintah

Karena itu, kata Aulia, pemerintah dan para pemain e-commerce harus bersinergi untuk meningkatkan dan memajukan e-commerce lokal terlebih dahulu serta diiringi oleh akselerasi peningkatan penerimaan pajak dan pembangunan infrastruktur yang merata di Indonesia.

“Kesuksesan e-commerce sebuah negara ditunjang oleh faktor logistik. Kunci kesuksesan logistik terletak pada ketersediaan sarana dan prasarana infrastruktur. Disinilah, tugas pemerintah untuk meningkatkan pembangunan infrastruktur di Indonesia,” ucapnya.

“Kenapa Amazon sukses? Karena distribusi logistiknya sudah kuat. Terlebih Amerika bukan negara kepulauan, cukup dengan kereta, semua barang terkirim. Berbeda dengan Indonesia yang negara kepulauan. Untuk menghubungkan satu pulau dan pulau lainnya membutuhkan pembangunan infrastruktur yang lebih,” pungkasnya.

Hal senada diutarakan Triawan Munaf (Kepala Badan Ekonomi Kreatif/Bekraf). Triawan mengatakan pemerintah memiliki faktor yang penting untuk memajukan dan meningkatkan pasar e-commerce lokal di Indonesia.

Bekraf meminta pemerintah untuk membantu dan mendanai start-up lokal yang masih baru, mengingat mereka susah dalam faktor pendanaan. Kemudian, Bekraf mengatakan pemerintah harus membuat regulasi yang pro terhadap pemain e-commerce dan startup lokal.

“Untuk mengantisipasi pemain e-commerce asing yang mau masuk ke Indonesia, pemerintah harus mendanai modal startup rintisan karena mereka (startup rintisan) sangat sulit mencari modal untuk berkembang,” ucapnya.

“Bekraf pun bertugas untuk menyiapkan dan membimbing calon startup. Kami selalu menekankan para startup rintisan  harus mencari solusi atau produk yang dibutuhkan pasar Indonesia dan membuat produk spesifik yang mengangkat kearifan lokal,” kata dia.

Bekraf pun meminta pemerintah harus tegas kepada pemain asing yang beroperasi di Indonesia terutama dalam penerimaan pajak karena banyak pemain asing di Indonesia seperti Google yang tidak bayar pajak di Indonesia.

“Pemerintah harus memaksa mereka membayar pajak. Kalau tidak, kasihan dengan perusahaan lokal yang sudah membayar pajak,” pungkas Triawan.

Potensi dan Peta Jalan E-Commerce

Aulia menjelaskan pembicaraan dan diskusi peta jalan e-commerce di Indonesia terus berlangsung dan komunikasi terus dilakukan antar lembaga negara dengan Presiden RI.

“Dalam roadmap itu, ada sekitar 31 inisiatif dan tidak mungkin semua insiatifnya kelar dalam sebulan,” ujarnya.

Aulia melihat Indonesia masih memiliki potensi e-commerce yang luar biasa dan besar di Indonesia dan idEA memprediksi pertumbuhan e-commerce Indonesia bisa mencapai 30 – 50 persen pada tahun ini.

“Saat ini pengguna internet di Indonesia tembus 100 juta pengguna dan pengguna yang online shopper masih dibawah 10 juta. Jadi potensi pertumbuhan e-commerce masih sangat besar,” ujarnya.

Comments

comments