07 | March | 2017 | InfoKomputer Online

Arsip Harian: Mar 7, 2017

Bagaimana Machine Learning Membantu Industri Transportasi Online?

Teknologi telah mengubah wajah banyak sektor industri. Salah satunya industri transportasi.

Kemunculan berbagai startup yang menghadirkan layanan pemesanan kendaraan lewat aplikasi online mampu mengguncang model bisnis perusahaan transportasi yang sudah lebih lama berdiri. Dengan aneka kemudahan dan daya saing yang ditawarkan, penyedia aplikasi transportasi online ternyata lebih disukai masyarakat, khususnya di era digital sekarang.

Salah satu pemain terbesar di industri transportasi online di kawasan Asia Tenggara adalah Grab, perusahaan rintisan yang “baru” berdiri pada tahun 2012. Grab lahir dari keresahan Anthony Tan, yang menemukan banyak keluhan tentang buruknya kondisi taksi di Malaysia, negara kelahirannya.

Anthony Tan pun berinisiatif membuat aplikasi pemesanan taksi yang lebih cepat, aman, dan nyaman, serta menguntungkan bagi penumpang dan pengemudi yang diberi nama MyTeksi. Aplikasi yang kemudian berganti nama menjadi Grab (dahulu GrabTaxi) ini pun sukses besar di Malaysia.

Dalam waktu lima tahun, Grab pun terus melebarkan sayap ke negara-negara lainnya di Asia Tenggara, seperti Indonesia, Singapura, Filipina, Thailand, dan Vietnam, serta menambah jenis layanan, antara lain GrabBike (ojek motor), GrabCar (pemesanan mobil sewaan), GrabExpress (jasa kurir), GrabFood (jasa pengantaran makanan), dan GrabHitch (jasa tumpangan/nebeng).

Saat ini Grab memiliki lebih dari 630 ribu pengemudi di enam negara dan melayani lebih dari 1,5 miliar pemesanan setiap hari.

Adopsi Teknologi Demi Kepuasan Pengguna

Aplikasi Grab pada dasarnya berfungsi untuk mempertemukan antara pengguna (calon penumpang) dan pengemudi kendaraan (mobil, ojek, taksi) untuk pergi ke tempat tujuan.

Seiring pertumbuhan jumlah pengguna dan pengemudi, Grab menghadapi tantangan dalam menyajikan pengalaman pengguna (user experience) yang cepat, andal, dan memuaskan. Grab harus dapat “menjodohkan” calon penumpang dan pengemudi secara cerdas agar calon penumpang bisa mendapat kendaraan hanya dalam hitungan detik sejak ia menekan tombol “Order”. Grab juga harus dapat memformulasikan biaya perjalanan yang tepat secara real-time.

Untuk itulah, Grab memanfaatkan teknologi machine learning yang mampu mempelajari bermacam parameter, mulai dari profil dan kebiasaan penumpang/pengemudi, waktu pemesanan, kondisi cuaca dan lalu lintas, metode pembayaran (tunai/kartu kredit), sampai banyaknya permintaan dibanding ketersediaan pengemudi.

Di awal-awal operasionalnya, Grab masih menggunakan metode penentuan tarif secara konvensional. “Kami mematok tarif yang sudah ditentukan sebelumnya dan penumpang bisa menambahkan tips kepada pengemudi [jika bersedia]. Akibatnya, pengemudi hanya mau mengambil pesanan yang ditambahi tips,” ujar Ditesh Gathani (Director of Engineering, Grab) seperti dilansir Mashable. “Ini membuat para penumpang kesal,” imbuhnya.

Berbekal machine learning, Grab dapat menentukan tarif secara lebih cerdas dan memuaskan bagi kedua pihak, penumpang dan pengemudi. Sistem bisa mengetahui lokasi setiap pengemudi di sebuah area, mengukur kedekatan jarak dan waktu tempuh dengan calon penumpang, dan memperkirakan seberapa besar kemungkinan pengemudi menerima suatu pesanan.

Selain itu, sistem juga bisa mengenali siapa saja pengguna dan pengemudi yang paling sering membatalkan pesanan. Sebagai konsekuensi, sistem akan memberi “hukuman” dengan cara memperkecil kemungkinan mereka memperoleh kendaraan atau pesanan. “Pembatalan [pesanan] berdampak sangat negatif pada ekosistem,” Gathani beralasan.

Dengan demikian, sistem Grab mampu menawarkan suatu pesanan kepada sekelompok kecil pengemudi tertentu yang paling mungkin menerima pesanan tersebut. Hasilnya, pesanan lebih cepat dilayani, tingkat pembatalan pesanan makin rendah, dan kepuasan pelanggan kian meningkat.

Ingin tahu lebih lanjut mengenai cara Grab memanfaatkan machine learning dalam bisnisnya? Jangan lewatkan paparan dari Ridzki Kramadibrata (Managing Director, Grab Indonesia) dan pembicara-pembicara ahli lainnya dalam acara CTI IT Infrastructure Summit 2017, Rabu, 8 Maret 2017. Segera daftarkan diri Anda lewat alamat ini.

TomTom Touch: Ukur Persentase Lemak Tubuh

TomTom Touch adalah fitness tracker yang tak hanya bisa mengukur dan mencatat denyut jantung serta pergerakan Anda seperti jumlah langkah dan jarak yang ditempuh, melainkan bisa pula mengukur persentase lemak tubuh dan persentase massa otot. Tujuannya adalah untuk mengetahui apakah olah raga yang dilakukan memiliki efek yang diinginkan terhadap lemak tubuh dan massa otot.

Dengan TomTom Touch, Anda misalnya bisa mengetahui seefektif apa olah raga yang telah dilakukan secara rutin tiga bulan terakhir dalam mengurangi lemak di tubuh. Seperti fitness tracker masa kini pada umumnya, berbagai aktivitas Anda yang diukur itu bisa dipelajari lebih lanjut pada smartphone menggunakan aplikasi TomTom MySports. Begitu pula sebaliknya. TomTom Touch yang memiliki layar sentuh ini bisa menampilkan notifikasi bila ada telepon atau pesan yang masuk ke smartphone.

Informasi:
Harga: US$249
Situs: www.tomtom.com

Autoruns

Autoruns adalah aplikasi untuk melihat berbagai item yang dijalankan secara otomatis saat Windows 10 melakukan startup. Autoruns ini menawarkan hasil yang lebih terperinci dibandingkan menggunakan System Configuration yang disertakan oleh Windows 10.

Aplikasi yang bisa diunduh di https://goo.gl/r4QSC4 ini akan mengelompokkan temuannya ke dalam berbagai kategori dalam bentuk tab. Ada dua puluh tab yang secara default dihadirkan, mulai dari Logon, Explorer, Services, Drivers, KnownDLL, sampai Office. Jika ingin melihat seluruh temuan secara sekaligus, tersedia tab Everything. Namun, bila temuannya banyak, isi dari tab Everything ini akan sangat ramai. Jika sudah begitu, lebih baik melihat per kategori.

Untuk setiap item yang ditemukan, Autoruns memberikan informasi mengenai lokasi file bersangkutan dan informasi lainnya seperti entry pada Windows Registry maupun pada Task Scheduler. Anda pun bisa langsung masuk ke Windows Registry maupun pada Task Scheduler itu. Jika ada item yang ingin diketahui informasinya lebih lanjut, tersedia pula opsi untuk mencarinya di internet.

Tidak sekadar melihat item yang dijalankan secara otomatis, melalui aplikasi gratis ini Anda juga bisa membuat item tersebut untuk tidak lagi dijalankan secara otomatis. Namun, ada baiknya Anda berhati-hati memilih item yang hendak dinonaktifkan. Jangan sampai Windows 10 yang digunakan menjadi terganggu.

Belkin F7U004bt04-BLK: Tawarkan Daya 27 W

Selain untuk mentransfer data, USB Type-C digunakan pula oleh sebagian perangkat untuk mengisi ulang daya baterai yang dimilikinya. Berbagai catu daya untuk keperluan ini juga telah bermunculan. Salah satunya adalah Belkin F7U004bt04-BLK yang merupakan adapter yang dirancang untuk digunakan di mobil.

Mengambil daya dari baterai mobil melalui colokan pemantik api rokok (cigarette lighter receptacle), Belkin F7U004bt04-BLK dengan USB Power Delivery-nya mampu menyediakan daya sampai sebesar 27 W. Hal ini membuatnya bisa mengisi ulang daya baterai perangkat yang membutuhkan daya lebih besar seperti notebook tertentu. Untuk perangkat yang hanya mendukung tegangan 5 V, berhubung arus maksimalnya adalah 3 A, daya maksimal yang bisa diberikannya adalah 15 W.

Catu daya ini dilengkapi dengan kabel USB Type-C terpisah, yang selain bisa digunakan untuk mengisi ulang daya baterai, juga mendukung transfer data walau hanya sebatas USB 2.0.

Informasi:
Harga: US$44,99
Situs: www.belkin.com

Alto – Organize your email

Aplikasi e-mail client yang satu ini hadir dari perusahaan senior di ranah internet, yakni AOL. Alto menawarkan janji untuk memberikan kemudahan dalam mengelola e-mail. Selain itu, ia tersedia gratis. Untuk sistem operasinya sendiri, aplikasi ini membutuhkan iOS 9 ke atas.

Anda bisa mengelola e-mail dari berbagai layanan e-mail (Gmail, Outlook, Yahoo!, AOL Mail, iCloud, Hotmail, dan lainnya) dalam satu tempat. Tampilan yang dihadirkan mencoba menawarkan kemudahan dalam mengelola e-mail. Anda akan menemukan beberapa fitur seperti agregasi e-mail dari berbagai layanan dalam satu tempat, pemisahan daftar e-mail berdasarkan konten dari pesan yang masuk, dan ada pula tampilan kartu yang memudahkan membaca informasi tanpa membuka e-mail (misalnya jadwal penerbangan).

Untuk mengakses semua kartu dari informasi e-mail bisa dilakukan di dashboard. Kartu yang paling relevan akan muncul pertama. Hal ini memudahkan Anda untuk tetap terhubung dengan hal penting terlebih dahulu sebelum yang lainnya.

Aplikasi Alto ini semacam kelahiran baru dari aplikasi dengan nama yang sama yang sebelumnya bisa diakses lewat web. Aplikasi ini tentunya bisa menjadi pilihan tambahan bagi mereka yang masih mencari dan ingin menemukan aplikasi e-mail yang tepat untuk mendukung produktivitas mereka.

Huawei dan Pantone Hadirkan Smartphone dengan Tampilan Warna Mengagumkan

Sebagai upaya untuk menyatukan dunia teknologi dan warna, Huawei Consumer Business Group dan The Pantone Color Institute mengumumkan kemitraannya untuk menampilkan tren warna-warna terbaru dalam produk-produk Huawei mendatang yang diluncurkan dalam waktu dekat.

Dengan menggabungkan keahlian teknis dan keterampilan yang terdepan di industri dari Huawei dengan wawasan dan kepempimpinan perihal warna dari The Pantone Color Institute, para pelanggan dapat menantikan produk-produk baru yang secara mulus menggabungkan inovasi ground-breaking dengan keindahan yang mengaggumkan.

Sebagai produsen smartphone ketiga terbesar di dunia, Huawei CBG pertama kali masuk dalam daftar Interbrand Best Global Brands pada tahun 2014 dan naik ke peringkat 72 pada tahun 2016. Kemitraan dengan The Pantone Color Institute ini diyakini akan melanjutkan kesuksesan dari perangkat-perangkat sebelumnya, termasuk Huawei P9 dan P9 Plus dengan lebih dari 10 juta unit yang telah dikapalkan ke seluruh dunia.

The Pantone Color Institute berkolaborasi dengan berbagai brand di seluruh dunia untuk membantu mereka memanfaatkan kekuatan, psikologis, dan emosi dari warna dalam membangun strategi desain produk mereka. Sebagai destinasi unik dari warna, The Pantone Color Institute memproyeksikan arah tren warna di masa depan, mengungkapkan bagaimana warna dapat mempengaruhi emosi manusia melalui proyeksi-proyeksi tren musiman, kreasi warna yang unik dan pemaparannya, termasuk koleksi PANTONE Colour of the Year.

Melalui kemitraan bersama dengan Huawei, The Pantone Color Institute akan terus menelisik bahasa warna untuk dapat menghadirkan kombinasi warna yang paling istimewa dan fashionable dalam genggaman para pelanggan Huawei.

Richard Yu, CEO dari Huawei Consumer Business Group, mengatakan, “Sebagai ahli warna terdepan di dunia, kami sangat senang sekali dapat bekerja sama dengan The Pantone Color Institute dalam mengembangkan jajaran produk kami, untuk dapat menghadirkan tren paling terbaru bagi para pelanggan kami. Di Huawei, kami sangat percaya dengan kekuatan dari wawasan kolektif dan kolaborasi, dan kemitraan ini akan memungkinkan pelanggan kami untuk dapat mengekspresikan dirinya dengan lebih hidup melalui bahasa yang universal, yaitu warna.”

Kalahkan Apple Music, Pelanggan Berbayar Spotify Capai 50 Juta Pelanggan

Ilustrasi Spotify di iOS

Layanan streaming music Spotify mengumumkan jumlah pelanggan berbayarnya telah mencapai lebih dari 50 juta pelanggan, meningkat 25 persen dalam enam bulan terakhir. Tahun lalu, jumlah pelanggan berbayar Spotify sebanyak 40 juta pengguna.

“Terima kasih kepada 50 juta subscribers kami,” tulis mereka di akun @spotify seperti dikutip CNET.

Pada Juni tahun lalu, Spotify mengklaim bahwa keseluruhan jumlah pelanggan mereka, baik yang membayar maupun gratis, sudah 100 juta orang. Meski belum mendapatkan laporan terbaru, kemungkinan angka itu sudah bertambah lagi saat ini.

Selain layanan premium berbayar bulanan, Spotify juga memiliki layanan gratis yang didukung oleh iklan. Spotify juga memiliki layanan premium yang diberikan secara gratis selama tiga bulan, setelah itu dikenakan biaya bulanan US$ 9,99 jika ingin terus menjadi pengguna premium.

Pelanggan berbayar akan mendapatkan keuntungan yaitu bisa mendengar musik secara offline tanpa terganggu oleh iklan. Spotify juga memiliki layanan keluarga yang menawarkan enam akun seharga US$ 14,99 atau Rp 79 ribu perbulan.

Saat ini, perusahaan yang berdiri 2008 itu memiliki 1.000 karyawan baru, menyusul kepindahannya dari Midtown Manhattan ke World Trade Center. Perusahaan yang berbasis di Stockholm, Swedia itu sedang mempertimbangkan untuk melakukan penawaran saham perdana atau Initial Public Offering (IPO) pada tahun ini.

Mendatang, Spotify akan menggaet lebih banyak pelanggan dengan menawarkan streaming lossless CD-quality audio dengan tambahan biaya sebesar 5 dollar AS perbulan.

Spotify sudah melakukan ekspansi hingga ke 60 pasar dengan total katalog lagu lebih dari 30 juta lagu secara on dan off. Saat ini jumlah pengguna layanan streaming Apple Music sebanyak 20 juta pelanggan berbayar hingga akhir 2016.

MEE audio X7 Plus: Dengan Memory Wire

Menggunakan headset sambil berolah raga kadang bisa membuat headset tersebut terlepas akibat banyaknya gerakan. MEE audio berusaha mengatasi hal itu dengan menyertakan semacam pengikat yang disebut memory wire pada headset-nya yang diberi nama X7 Plus. Pengguna bisa mengatur agar MEE audio X7 Plus senantiasa duduk dengan baik di telinga berhubung “ditahan” oleh memory wire ini.

Selain itu, MEE audio juga mengklaim X7 Plus tahan terhadap keringat. Koneksinya ke smartphone maupun perangkat lain menggunakan Bluetooth 4.1. Headset ini telah pula mendukung codec aptX dan AAC selain tentunya SBC. Driver yang digunakan berukuran enam milimeter dan memiliki frequency response dari 20 Hz sampai 20 kHz. Baterainya sendiri bisa bertahan sampai 7,5 jam tatkala digunakan untuk mendengarkan musik. Selain microphone, MEE audio X7 Plus juga dilengkapi dengan tombol kontrol, antara lain untuk mengatur volume.

Informasi:
Harga: US$99,99
Situs: www.meeaudio.com

Raih Investasi 18 Miliar Rupiah, Printerous Ingin Menangkan Pasar Percetakan Indonesia

Kevin Osmond, co-founder dan CEO Printerous.

Printerous, perusahaan percetakan online berbasis Indonesia, mengumumkan bahwa mereka telah memperoleh investasi sebesar 18 miliar rupiah (1,4 juta dollar AS) pra-seri A yang dipimpin oleh Golden Gate Ventures dari Singapura, yang diikuti oleh Sovereign’s Capital asal Amerika Serikat dan grup bisnis Gunung Sewu Kencana dari Indonesia. Perusahaan akan menggunakan investasi baru ini untuk akuisisi dan retensi pengguna, hal ini dilakukan dengan meningkatkan seluruh aspek bisnis agar bisa menjadi pemimpin pasar percetakan di Indonesia.

“Kami sangat berterima kasih atas kepercayaan dan dukungan dari berbagai investor lokal dan internasional,” ujar Kevin Osmond, co-founder dan CEO Printerous. “Bukan hanya investasi, kami juga diperkaya dengan penasehat-penasehat, values, serta jaringan usaha yang luas.”

Ini pertama kalinya Gunung Sewu Kencana menyentuh ranah usaha teknologi di tanah air. Dengan pengalaman usaha lebih dari 60 tahun, sinergi dengan tim Gunung Sewu Kencana menjadi aset yang sangat berharga bagi Printerous.

Sebelumnya, Printerous sudah mendapatkan investasi dari RMKB Ventures dan anggota keluarga Tahir. Semenjak itu, Printerous mulai menjalankan model usaha business-to-business (B2B) dengan tujuan menjadi penyedia layanan percetakan utama bagi perusahaan-perusahaan di Indonesia. Startup ini juga mendapatkan pendanaan dari beberapa investor yang cukup terkenal seperti Steve Christian, CEO dari KapanLagi Network.

Investasi ini hadir tepat di saat perusahaan kecil menengah di Indonesia mulai terbuka terhadap teknologi untuk mengefisiensikan operasi usaha. Banyak usaha lokal yang telah menggunakan platform SaaS (Software as a Service) untuk menerima penjualan, mengatur tenaga kerja sampai keuangan.

Printerous menyediakan berbagai macam layanan percetakan bagi perusahaan, mulai dari kartu nama, alat tulis kantor, materi pemasaran, baju, pengemasan, dan pernak-pernik. Untuk layanan individual, Printerous menawarkan sejumlah layanan percetakan seperti foto album, dekorasi dinding, casing ponsel, dan bantal guling.

Didirikan sejak 2012, kini Printerous sudah melayani lebih dari 22.000 pelanggan dan 1.100 perusahaan. Sang startup memiliki lebih dari 40 anggota tim di dua kota besar Indonesia, Jakarta untuk sales dan marketing, serta Yogyakarta untuk desain dan teknologi. Setelah memenangkan pasar percetakan online di Indonesia, Printerous berencana mengepakkan sayapnya ke seluruh Asia Tenggara.

Lima Alasan Perusahaan E-Commerce Global Harus Masuk ke Pasar Indonesia

Seperti kita ketahui, dalam satu dekade terakhir Indonesia menjadi incaran perusahaan-perusahaan e-commerce dan pemodal ventura (venture capital) global. Perusahaan-perusahaan itu masuk melalui berbagai model bisnis, antara lain modal ventura, akuisisi, patungan (joint venture), perwakilan, dan lain sebagainya.

Pertanyaannya, mengapa Indonesia menjadi incaran mereka? Spire Research and Consulting, perusahaan riset dan konsultasi bisnis global yang berbasis di Singapura, bekerja sama dengan perusahaan riset dan media bisnis teknologi terkemuka TechnoBusiness Indonesia, memetakan ada lima alasan kuat mengapa perusahaan-perusahaan e-commerce global harus masuk ke pasar Indonesia.

1. Pasar Potensial
Jumlah penduduk Indonesia yang menurut Badan Pusat Statistik mencapai 254,9 juta jiwa jelas merupakan pasar yang besar. Tidak hanya besar, penduduk Indonesia juga tergolong konsumtif alias doyan belanja. Nilai penjualan ritel e-commerce dunia yang mencapai US$1.336 triliun pada 2014 dan melesat menjadi US$2.050 pada 2016, sebagian besar disumbangkan dari Asia Pasifik, termasuk Indonesia. Pada 2016, seperti disebutkan eMarketer, Asia Pasifik menyumbangkan transaksi e-commerce sebesar US$1.152,21 triliun dan Indonesia US$5,29 triliun. Pasar e-commerce Indonesia tersebut meningkat dari US$1,94 miliar pada 2014 dan diperkirakan bakal tumbuh menjadi US$8,21 miliar tahun ini atau US$13,16 miliar pada 2019.

2. Dunia Baru
Bagi pasar Indonesia, e-commerce merupakan “barang baru”. Kehadirannya 10 tahun lebih lambat daripada di negara-negara maju seperti Amerika Serikat dan Jepang serta negara-negara di Eropa. Sehingga wajar jika sampai saat ini masih banyak masyarakat yang ragu untuk berbelanja online. “Tetapi, karena baru itulah justru menjadi peluang besar bagi pemain-pemain e-commerce global untuk menanamkan investasinya di Indonesia sedini mungkin melalui berbagai cara,” kata Jeffrey Bahar, Deputy CEO Spire Research and Consulting Group.

3. Karakteristik Wilayah
Indonesia amat luas dan terbagi dalam ribuan pulau. Atas dasar itu, logistik barang-barang menjadi kendala. Harga barang di kawasan Indonesia Timur bisa 2-3 kali lipat lebih mahal ketimbang di Indonesia Barat. Dengan adanya e-commerce yang menawarkan satu harga dari mana saja, apalagi ditambah promo bebas biaya pengiriman (free delivery), masyarakat amat diuntungkan sehingga mudah beralih ke belanja online. Artinya, karakteristik pasar yang demikian sangat mendukung sistem e-commerce tumbuh pesat.

4. Kemampuan Pendanaan
Pemain-pemain e-commerce lokal biasanya menghadapi banyak kendala, terutama pendanaan. Model bisnis yang masih baru membuat pendiri (founder) kesulitan mendapatkan modal untuk mengembangkan e-commerce hasil inovasinya. Para pemilik uang dan perusahaan-perusahaan dalam negeri masih berpikiran kolot dengan mempertanyakan: “Apakah bisa balik modal?” “Karena itu, e-commerce-e-commerce lokal bisa menjadi „sasaran empuk‟ e-commerce global melalui proses pendanaan atau akuisisi demi menguasai ceruk pasar yang ada,” jelas Jeffrey.

5. Kecanggihan Teknologi
Karena rata-rata memiliki dana terbatas, maka secara otomatis e-commerce lokal juga kesulitan mengembangkan teknologinya. Padahal, teknologi menjadi tumpuan utama dalam berbisnis e-commerce. Sebagai contoh, berkat kecanggihan teknologi, sistem pembayaran tunai keras (cash) bisa diubah menjadi cicilan hingga 24 kali menggunakan kartu kredit selayaknya berbelanja offline. Teknologi pembayaran online (online payment gateway) yang memungkinkan bertransaksi secara aman juga amat diperlukan. “Siapa yang menguasai teknologi-teknologi e-commerce itu? Ya, raksasa e-commerce global,” ungkap Purjono Agus Suhendro, pengamat e-commerce yang juga CEO TechnoBusiness Indonesia.

Review Smartphone