17 | March | 2017 | InfoKomputer Online

Arsip Harian: Mar 17, 2017

Mahasiswa UNIKOM, ITB, IPB, dan AMIKOM Jadi Finalis Imagine Cup 2017 Indonesia

Suasana semifinal Microsoft Imagine Cup 2017 Indonesia.

Microsoft Indonesia telah memilih lima tim dari sejumlah perguruan tinggi di Indonesia untuk mengikuti ajang final Imagine Cup 2017 tingkat nasional di Jakarta, 6 April 2017.

Kelima tim tersebut berasal dari Universitas Komputer Indonesia (UNIKOM) Bandung (dua tim), Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Pertanian Bogor (IPB), dan Universitas AMIKOM Yogyakarta. Mereka terpilih dari hasil penjurian yang dilakukan Microsoft Indonesia pada Kamis (16/3) terhadap 15 semifinalis.

Kelima finalis nasional tersebut akan berkompetisi pada babak final tanggal 6 April 2017 untuk mempresentasikan hasil final dari aplikasi yang mereka kembangkan. Pemenang babak final tingkat nasional nantinya akan diberangkatkan ke Manila, Filipina, untuk berkompetisi dengan para pemenang se-Asia Tenggara serta memperebutkan tiket ke World Final Imagine Cup 2017 di Seattle, AS, bulan Juli mendatang.

Pemenang Imagine Cup 2017 tingkat dunia berpeluang memperoleh hadiah utama uang tunai sebesar US$100.000 dan layanan Microsoft Azure senilai US$120.000.

Pada pendaftaran Imagine Cup 2017 tingkat nasional yang telah dibuka sejak Desember 2016, sebanyak 521 tim dari berbagai daerah di Indonesia telah mendaftarkan diri. Angka ini meningkat 10% dari Imagine Cup 2016, menunjukkan semakin besarnya antusiasme pelajar Indonesia untuk menjadi developer dan digital entrepreneur.

“Seluruh tim yang berpartisipasi menunjukkan kreativitas mereka. Kami, tim seleksi yang terdiri dari pegawai dan mantan pegawai Microsoft Indonesia di bidang teknologi, sempat melalui proses diskusi yang panjang sebelum akhirnya sepakat memilih 10 submission terbaik,” ujar Irving Hutagalung (Audience Evangelism Manager, Microsoft Indonesia) dalam keterangan pers.

Sebanyak 50% dari proses penilaian berfokus pada pemanfaatan teknologi dalam pengembangan aplikasi, khususnya teknologi komputasi awan Azure. Selanjutnya, 10 submission terpilih digabungkan dengan lima penerima wild card yang merupakan juara kompetisi GEMASTIK dan Indosat Ooredoo Wireless Innovation Contest (IWIC) sehingga berjumlah total 15 semifinalis.

“Berbeda dari Imagine Cup tahun-tahun sebelumnya, tahun ini kami tidak mengklasifikasikan Imagine Cup ke dalam kategori InnovationGames, dan World Citizenship, sehingga membebaskan kreativitas para peserta dalam berinovasi,” lanjut Irving.

Berikut adalah kelima tim yang lolos ke babak final Imagine Cup 2017 Indonesia:

  1. Tim CaTour (UNIKOM Bandung) dengan proyek “CaTour (Child Adventure)”
  2. Tim CIMOL (ITB) dengan proyek “Hoax Analyzer”
  3. Tim FRIYO (IPB) dengan proyek “FashionSense”
  4. GaBlind Team (Universitas AMIKOM Yogyakarta) dengan proyek “GaBlind (Glasses and Shoes for Blind)”
  5. Tim Miracle Studio (UNIKOM Bandung) dengan proyek “Tanah Airku”

Bos Grab Indonesia: Revisi Aturan “Ride-Sharing” Adalah Langkah Mundur Industri Transportasi

Ridzki Kramadibrata (Managing Director, Grab Indonesia) memberikan pernyataan dalam konferensi pers terkait revisi Permenhub No. 32/2016 di Jakarta, Jumat (17/3).

Menyusul surat tanggapan resmi dari Go-Jek, Grab, dan Uber terkait revisi Permenhub No. 32/2016 yang mengatur usaha transportasi berbasis aplikasi, bos Grab Indonesia mengeluarkan pernyataan terpisah.

Dalam keterangan pers yang diterima InfoKomputer, Ridzki Kramadibrata (Managing Director, Grab Indonesia) pada dasarnya menyambut baik niat Pemerintah untuk mengatur industri ride-hailing. Tetapi, ia menganggap bahwa beberapa poin dalam revisi Permenhub No. 32/2016 berpotensi membawa bangsa ini melangkah mundur.

“Kami melihat adanya kecenderungan bahwa beberapa poin revisi tidak berpihak pada kepentingan para pengguna layanan, masyarakat, dan ratusan ribu mitra pengemudi yang tergabung dalam platform kami serta keluarga yang harus mereka hidupi,” ujarnya.

“Revisi peraturan tersebut seharusnya mengakomodasi layanan yang inovatif, namun poin-poin perubahan yang diumumkan minggu ini sangat bernuansa proteksionis, tidak pro-konsumen, dan membuka jalan untuk membawa seluruh industri transportasi kembali ke cara-cara lama yang sudah ketinggalan zaman. Kita semua sebagai bagian dari masyarakat Indonesia akan sangat dirugikan dalam jangka panjang,” papar Ridzki.

Tiga Poin Meresahkan

Lebih lanjut, Ridzki memaparkan tiga poin yang paling meresahkan dalam revisi Permenhub No. 32/2016. Isinya kurang lebih sama dengan argumen yang disampaikan dalam surat pernyataan bersama Go-Jek, Grab, dan Uber.

Poin pertama terkait penetapan tarif atas dan tarif bawah. “Kami percaya bahwa mekanisme penetapan tarif yang fleksibel yang berdasarkan pada kebutuhan pasar merupakan pendekatan yang paling efisien,” tukas Ridzki.

“Usaha pemerintah untuk mengintervensi mekanisme penetapan harga akan menyebabkan konsumen membayar lebih dari yang mereka butuhkan. Jika pembatasan tarif dilakukan, banyak orang yang menggunakan Grab saat ini menjadi tidak mampu lagi menikmati layanan transportasi yang aman untuk sampai ke tujuan. Di sisi lain, ketika terjadi keterbatasan suplai, mitra pengemudi kami tidak mendapatkan kompensasi yang adil atas jasa mereka. Dengan begitu, semakin sedikit mitra pengemudi yang akan mengambil pesanan,” Ridzki menjelaskan.

Poin kedua terkait pembatasan kuota kendaraan di daerah. “Pembatasan tersebut akan berdampak pada terbatasnya akses masyarakat untuk menikmati layanan seperti layanan Grab. Dan secara tidak langsung akan menguntungkan pelaku usaha transportasi konvensional,” ujar Ridzki.

“Ini berarti kompetisi akan dimatikan. Kemajuan akan dihambat. Pembenahan layanan tidak akan terjadi. Dan dampak-dampak lain yang tidak diinginkan seperti penumpukan perizinan, kualitas layanan yang stagnan, dan praktik maksimalisasi keuntungan melalui kegiatan monopoli pun tak dapat dihindari,” lanjutnya.

Poin ketiga terkait kewajiban balik nama STNK milik pengemudi menjadi atas nama badan hukum. Ridzki bahkan mengklaim poin ini sebagai kekhawatiran yang paling besar.

“Hadirnya poin ini sangat mengecewakan bagi mitra pengemudi Grab. Merampas kesempatan mereka untuk memiliki mobil sendiri dan memberikan hak atas aset pribadi mereka ke pihak koperasi sangat tidak adil bagi mereka. Dan ini sangat bertentangan dengan prinsip koperasi itu sendiri. Yang juga bertentangan dengan prinsip-prinsip ekonomi kerakyatan,” Ridzki berargumen.

Di ujung pernyataan, Ridzki menyebut Permenhub No. 32/2016 akan mendefinisikan sikap pemerintah terhadap teknologi modern yang terbukti meningkatkan kualitas hidup rakyat Indonesia. Ia mengklaim bahwa revisi peraturan yang diusulkan sekarang hanya akan menumbuhkan lagi praktik-praktik usang dari para pelaku usaha transportasi konvensional.

“Kami meminta dengan sangat kepada pemerintah untuk memperpanjang masa tenggang diberlakukannya Permenhub No. 32/2016 sampai dampaknya kepada konsumen dan mitra pengemudi benar-benar dipertimbangkan,” tutupnya.

Go-Jek, Grab, dan Uber Kompak Tanggapi Revisi Aturan “Ride-Sharing”

Tiga penyedia layanan transportasi ride-sharing berbasis aplikasi, Go-Jek, Grab, dan Uber, menerbitkan surat pernyataan bersama untuk menanggapi rencana revisi Peraturan Menhub No. 32 Tahun 2016 yang mengatur layanan transportasi online.

Dalam surat yang dikirimkan kepada awak media hari Jumat (17/3), ketiga perusahaan tersebut mengaku menyambut baik revisi peraturan tersebut dan siap menaati regulasi yang ada. Namun, mereka juga menyatakan keberatan terhadap sejumlah poin hasil revisi.

Menyetujui Uji KIR

“Kami menyepakati rencana peraturan tanda uji berkala kendaraan bermotor (KIR) dengan pemberian pelat ber-emboss. Kami memandang peraturan ini merupakan salah satu upaya yang baik untuk memastikan kenyamanan dan keselamatan berkendara, baik bagi mitra-pengemudi maupun konsumen,” tulis mereka.

Dalam menjalankan kewajiban uji KIR, ketiga pihak berharap Pemerintah dapat membantu kelancaran proses ini dengan menyediakan fasilitas uji KIR yang akomodatif, termasuk penyediaan antrean khusus bagi mitra-pengemudi Go-Jek, Grab, dan Uber dan mempercepat pengurusan uji KIR, bekerjasama dengan Agen Pemegang Merek (APM) atau pihak swasta.

Ketiga pihak pun siap memberi subsidi biaya uji KIR melalui mitra perusahaan/koperasi pengemudi agar tidak membebani mitra-pengemudi.

Tiga Poin yang Ditolak

“Terkait dengan rencana penetapan kuota jumlah kendaraan, kami berpendapat hal itu tidak sejalan dengan semangat ekonomi kerakyatan berbasis teknologi,” ujar mereka.

“Kami percaya kuota jumlah kendaraan, baik pengguna aplikasi mobilitas maupun konvensional, tidak perlu dibatasi karena berpotensi menghadirkan iklim bisnis yang tidak kompetitif,” sambungnya.

Go-Jek, Grab, dan Uber menganggap rencana pembatasan kuota jumlah kendaraan akan merugikan konsumen karena mempersempit pilihan transportasi yang andal dan juga membatasi kesempatan pemilik kendaraan untuk menjadi micro-entrepreneur di bidang transportasi.

Sementara itu, terkait dengan penetapan batas biaya perjalanan oleh Pemerintah Daerah, ketiga pihak menganggap hal itu akan menghalangi masyarakat untuk mendapatkan layanan transportasi dengan harga terjangkau.

Mereka beralasan bahwa teknologi telah memungkinkan penghitungan harga yang akurat, sesuai kondisi permintaan dan ketersediaan, untuk memastikan harga yang dibayarkan konsumen sepadan nilainya.

Ilustrasi perhitungan tarif Go-Jek, Grab, dan Uber di Google Maps.

Poin terakhir yang ditolak oleh Go-Jek, Grab, dan Uber adalah kewajiban bagi mitra-pengemudi untuk mendaftarkan kendaraan atas nama badan hukum/koperasi.

“Kewajiban ini pada kenyataannya tidak berhubungan sama sekali dengan masalah keselamatan. Kewajiban ini tidak diamanatkan oleh undang-undang dan ketidakpatuhannya tidak menyebabkan dijatuhkannya sanksi,” tukas mereka.

“Sebaliknya, kewajiban ini bertentangan dengan prinsip ekonomi kerakyatan yang menjiwai badan hukum/koperasi yang menaungi pengemudi dalam mencari nafkah. Pada akhirnya, kewajiban ini bertentangan dengan Undang-Undang Dasar 1945,” pungkasnya.

Meminta Masa Tenggang

Sebagai penutup, Go-Jek, Grab, dan Uber meminta Pemerintah untuk memberikan masa tenggang selama sembilan bulan bagi penyedia jasa transportasi berbasis aplikasi, terhitung sejak revisi Permenhub No. 32/2016 efektif diberlakukan.

Surat ini ditandatangani oleh Andre Soelistyo (President, Go-Jek), Ridzki Kramadibrata (Managing Director, Grab Indonesia), dan Mike Brown (Regional General Manager, APAC, Uber).

Sebagai informasi, revisi Permenhub No. 32/2016 terkait Penyelenggaraan Angkutan Orang dengan Kendaraan Bermotor Umum Tidak dalam Trayek rencananya akan diberlakukan mulai tanggal 1 April 2017. Pemerintah beralasan revisi peraturan itu bertujuan menyetarakan antara taksi konvensional dan online.

Sebelum disahkan, revisi Permenhub itu sudah melalui tahap uji publik di dua kota besar, Medan dan Makassar, pada bulan Februari 2017.

Ada 11 poin pembahasan dalam revisi Permenhub No. 32/2016 ini, meliputi 1) jenis angkutan sewa; 2) kapasitas silinder mesin kendaraan; 3) Batas Tarif Angkutan Sewa Khusus; 4) kuota jumlah angkutan sewa khusus; 5) kewajiban STNK berbadan hukum; 6) pengujian berkala/ KIR; 7) Pool; 8) Bengkel; 9) Pajak; 10) Akses Digital Dashboard; dan 11) Sanksi. Penjelasan lengkapnya bisa dilihat di situs resmi Kemenhub.

Bapak Internet: Kita Semua Bertanggung Jawab Berantas Berita Hoax

Perkembangan teknologi sangat cepat dari biasanya. Dampaknya, pemikiran radikal dan berita hoax tumbuh subur di internet dan menyebar di media sosial seperti Facebook dan Twitter, terlebih ketika memasuki waktu pemilihan umum.

“Ini masalah sosiologi. Teknologi kita memberikan konsekuensi sosial,” kata Vint Cerf, pionir teknologi internet yang kerap dijuluki “Bapak Internet”, dalam ajang SXSW 2017 di Austin, Texas, seperti dikutip CNET.

Cerf yang sekarang bekerja di Google sebagai Wakil Presiden dan Chief Internet Evangelist merasakan tekanan sosial ketika berhadapan dengan perilaku internet yang buruk.

“Salah satu solusinya adalah dari hati nurani, ‘jangan lakukan ini, secara moral salah’,” ujarnya. “Gravitasi memiliki gaya tarik yang lemah, tetapi ketika Anda memiliki massa yang berat, tarikannya sangat kuat,” imbuhnya.

Di saat yang sama, para insinyur harus memikirkan apakah inovasi teknologinya bisa berguna atau tidak. “Kita tidak bisa mengantisipasi segala kemungkinan yang akan terjadi di internet,” ujarnya.

Cara lainnya untuk mengatasi berita hoax adalah menanamkan teknologi di dalam sistem yang akan menghalangi perilaku buruk di internet, seperti hukum dan regulasi terkait perilaku buruk.

Pada November 2016, Twitter memperkenalkan kebijakan dan tool untuk memerangi hate speech. Facebook juga sejak tahun lalu telah mengambil langkah untuk meredam penyebaran berita hoax di platformnya.

Lacak Kebiasaan Seksual Pelanggan, Pabrikan Vibrator Pintar Ini Didenda Rp53 Miliar

Ilustrasi We-Vibe

Pabrikan alat bantu seks We-Vibe tersangkut kasus hukum lantaran menjual vibrator pintar yang bisa melacak perilaku seksual pengguna tanpa sepengetahuan mereka.

Dalam persidangan di Illinois, AS, perusahaan induk We-Vibe yaitu Standard Innovation harus membayar denda dengan total senilai US$3,7 juta atau Rp53 miliar.

Perangkat We-Vibe adalah vibrator yang dapat terkoneksi dengan bluetooth dan dikendalikan melalui aplikasi mobile We-Connect. Aplikasi bawaan We-Vibe itu bisa dipakai untuk menyalakan dan mematikan vibrator dari jarak jauh.

Tetapi, aplikasi tersebut memiliki beberapa kerentanan privasi dan keamanan. Data yang terkumpul dari vibrator akan dikirimkan ke Standard Innovation tanpa sepengetahuan pengguna. Data itu digunakan perusahaan untuk mengetahui tentang suhu perangkat, intensitas getaran, serta beberapa informasi tentang aktivitas seksual pengguna.

Dalam pernyataan resminya, Standard Innovation menyatakan akan menjaga privasi pelanggan dan keamanan data secara serius. “Kami terus meningkatkan peringatan privasi, keamanan aplikasi, dan menyediakan pilihan yang lebih luas bagi pengguna untuk berbagi data yang mereka inginkan,” ujar mereka, seperti dilansir The Guardian.

Menindaklanjuti kasus ini, Standard Innovation juga setuju untuk menghapus seluruh data pengguna yang sudah dimiliki dan berhenti mengumpulkan alamat e-mail dan informasi pribadi pengguna.

Sekitar 300 ribu orang telah membeli perangkat We-Vibe serta 100 ribu di antaranya mengunduh dan menggunakan aplikasi We-Connect. Setiap pengguna We-Vibe yang terdampak kasus ini bisa memperoleh ganti rugi dari US$199 sampai US$10.000, bergantung apakah mereka pernah memakai aplikasi We-Connect atau belum.

Bapak World Wide Web “Curhat” Soal Peredaran Hoax dan Pencurian Data di Internet

Tim Berners Lee

Tim Berners-Lee (Penemu dan “Bapak World Wide Web”) resah melihat peredaran berita palsu alias hoax di dunia maya. Para pengguna media sosial dan mesin pencari kerap memunculkan berita palsu untuk menarik orang agar mengeklik berita tersebut.

[BACA: Profil Tim Berners-Lee, “Bapak” World Wide Web]

Bagaimana cara mengatasi peredaran hoax? Berners-Lee meyakini bahwa perusahaan media sosial dan mesin pencari seperti Facebook dan Google mampu menangani penyebaran berita palsu sembari menolak ide adanya lembaga terpusat yang berhak menentukan kebenaran sebuah berita.

Berners-Lee juga mengajak pemilik media sosial dan mesin pencari untuk menyajikan keterbukaan algoritma yang mereka gunakan dalam menampilkan berita-berita yang dilihat setiap orang.

Selain itu, Berners-Lee mendorong pemerintah agar memperjelas aturan kampanye politik di internet. “Melalui penggunaan data science dan bot, orang-orang dengan niat buruk bisa memainkan sistem untuk menyebarkan informasi yang salah untuk keuntungan finansial atau politik,” sebutnya.

Berners-Lee mencontohkan masa pemilu presiden 2016 di AS, setiap harinya bisa terdapat 50.000 variasi iklan politik yang beredar di Facebook saja. Sialnya, banyak iklan itu mengarahkan para penerimanya ke situs berita palsu untuk memengaruhi persepsi mereka lewat cerita fiktif.

Kemudian, Berners-Lee mengkritisi banyak situs yang menawarkan jasa gratis dengan persyaratan penyerahan data pribadi. Setelah itu, penyedia jasa online itu menyimpan data pribadi secara tertutup dan membagikannya dengan pihak lain.

“Kebanyakan pengguna internet cenderung malas membaca dokumen terms and conditions yang disodorkan perusahaan internet. Mereka percaya begitu saja atau tidak keberatan memberi data asalkan mendapat layanan online gratis,” ujar Berners-Lee dalam surat terbuka di situs Web Foundation, seperti dilansir CNET.

“Masalah-masalah ini kompleks dan solusinya tidak akan sederhana,” kata Berners-Lee.

Sistem manajemen informasi yang diusulkan Tim Berners-Lee pada tahun 1989 yang menjadi cikal-bakal World Wide Web (WWW).

Tim Berners Lee merupakan pendiri Web Foundation dan penemu World Wide Web (WWW), model pembagian informasi di internet yang memakai protokol Hypertext Transfer Protocol (HTTP). Laman-laman web di seluruh dunia bisa dijelajahi dengan mengetikkan alamat Uniform Resource Locator (URL) di kolom peramban.

Pada hari Rabu (15/3) lalu, World Wide Web merayakan ulang tahun ke-28. Pada tanggal itulah, 28 tahun yang lalu, Tim Berners-Lee untuk pertama kalinya mengirim proposal sistem manajemen informasi ke CERN (Organisasi Riset Nuklir Eropa) yang menjadi cikal-bakal lahirnya WWW.

YUU, Chatbot Lucu yang Bisa Jadi Teman “Ngobrol” Baru

Aplikasi chatbot YUU di LINE.

Teknologi chatbot memang sedang marak digunakan akhir-akhir ini. Sejumlah pebisnis, misalnya BNI, Indosat Ooredoo, dan Pizza Hut, sudah memakai chatbot untuk mengganti peran customer service atau melayani pembelian produk.

Berbeda dengan YUU, aplikasi chatbot karya anak bangsa yang baru saja diluncurkan. YUU hadir sebagai alternatif teman baru bagi para pengguna smartphone di Indonesia yang gemar mengobrol lewat aplikasi mobile. Karena itu, YUU dilengkapi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) yang mampu mengenali Bahasa Indonesia dan merespons kalimat-kalimat yang dilontarkan penggunanya.

“Dilengkapi dengan kecerdasan buatan, natural language processing, dan juga database kosakata yang luas, YUU hadir dalam karakter perempuan berusia 18 tahun yang dapat diajak ngobrol, bercanda, dan bahkan ngambek apabila YUU merasa tersinggung,” ungkap Arie Nasution (CEO, YUU).

“Tak hanya itu, YUU juga dapat memberikan informasi seperti berita terbaru, ramalan cuaca, ramalan zodiak, dan masih banyak lagi agar bermanfaat bagi pengguna,” lanjut Arie.

Bagaimana cara mengobrol dengan YUU? Mudah saja, asalkan pengguna memiliki aplikasi LINE di perangkatnya. Cukup tambahkan YUU sebagai teman lewat ID akun resminya: @helloyuu. Setelah YUU menjadi teman, pengguna bisa langsung mengajak YUU bercakap-cakap sambil mencoba kemampuan-kemampuan YUU.

Sebagai informasi, YUU memiliki arti “teman” dalam Bahasa Jepang.

Mengapa YUU dihadirkan di dalam aplikasi LINE, bukan aplikasi tersendiri? Untuk menjawab pertanyaan ini, Arie mengutip penelitian Business Insider yang mengatakan bahwa jumlah pengguna aplikasi messaging di dunia sudah melampaui pengguna aplikasi media sosial.

Oleh karena itu, YUU hadir sebagai chatbot yang terintegrasi ke dalam salah satu aplikasi messaging terpopuler di Indonesia.

Namun, Arie berjanji ke depannya akan mengembangkan YUU di aplikasi messaging lainnya, seperti Telegram dan Facebook Messenger.

Arie Nasution sendiri pada tahun 2015 pernah mendirikan startup bernama BULP yang menawarkan aplikasi customer relationship management (CRM) untuk sarana penyampaian aspirasi konsumen kepada perusahaan.

Video demonstrasi chatbot YUU di LINE:

https://www.youtube.com/watch?v=XNSIXLCB5fo

Inilah Daftar Rata-rata Gaji Karyawan TI di Indonesia

Suasana kantor Kudo.

Aneka profesi di bidang TI memang tengah naik daun. Pasalnya, peran TI kian penting dirasakan oleh setiap perusahaan, apa pun vertikal industrinya. Oleh karena itu, karier di bidang TI kerap dipandang bergengsi dan dianggap menjanjikan gaji tinggi.

Bagaimana dengan kenyataannya?

Hasil survei yang dilakukan Jobplanet sepanjang Januari 2016 – Februari 2017 mengungkapkan bahwa gaji rata-rata karyawan TI di Indonesia berkisar dari Rp3,6 jutaan/bulan untuk level staf sampai Rp11 jutaan/bulan untuk level manajer.

[BACA: Perempuan Mulai Mendominasi Lapangan Kerja TI Indonesia]

Jobplanet mendata 19 profesi atau bidang keahlian TI, seperti Application Developer, Computer Engineering, Data Analyst, Database Adminsitrator, dan Web Developer.

Profesi-profesi di atas memiliki rentang gaji yang cukup lebar. Sebagai contoh, rentang gaji Staf Application Developer ada di kisaran Rp1.200.000 – Rp27.000.000, rentang gaji Staf Project Management adalah Rp1.300.000 – Rp30.000.000, dan rentang gaji Staf System Engineer dimulai dari Rp1.000.000 sampai Rp26.500.000.

Sedangkan pada level manajer, rentang gaji yang ada lebih besar lagi. Gaji Manajer UI/UX, misalnya, dimulai dari Rp3.000.000 sampai Rp30.000.000. Rentang gaji Manajer Information System adalah Rp2.500.000 – Rp50.000.000 dan rentang gaji Manajer IT Quality Assurance sebesar Rp3.500.000 – Rp50.000.000.

Tentunya setiap perusahaan memiliki standar pengupahan karyawan yang berbeda-beda, bergantung pada kemampuan perusahaan, lokasi dan jenis perusahaan, serta kualifikasi dan kompetensi karyawan.

“Jobplanet berharap hasil riset ini dapat menjadi acuan bagi para pencari kerja di bidang TI dalam mengukur potensi mereka serta membantu mereka dalam menggapai karier terbaik sesuai dengan kompetensi mereka,” ujar Kemas Antonius (Chief Product Officer, Jobplanet Indonesia) dalam keterangan pers.

Sekadar catatan, survei Jobplanet ini diikuti oleh 7.500 responden dengan komposisi 79% bekerja pada level staf dan 21% bekerja pada level manajer.

Di bawah ini adalah tabel rata-rata gaji karyawan TI di Indonesia, dari level staf dan manajer. Nilai yang tertera merupakan rata-rata gaji bersih yang diterima karyawan setiap bulan, belum termasuk dengan bonus dan tunjangan. Anda juga bisa membandingkan dengan gaji rata-rata karyawan TI yang dirilis Jobplanet tahun lalu di sini.

Tabel rata-rata gaji karyawan TI di Indonesia tahun 2017 versi Jobplanet.

Perempuan Mulai Mendominasi Lapangan Kerja TI di Indonesia

Suasana kerja di kantor Bukalapak. [Kredit: Dok. Bukalapak]
Persepsi mengenai industri TI yang selama ini lebih identik dengan laki-laki ternyata sudah bergeser. Karyawan TI dari kalangan perempuan justru mulai mendominasi lapangan kerja TI, khususnya di beberapa keahlian tertentu.

Baru-baru ini, Jobplanet, platform informasi karier online, merilis hasil survei tentang lapangan kerja TI di Indonesia. Survei ini digelar sejak Januari 2016 hingga Februari 2017 dan melibatkan 7.500 orang responden karyawan TI.

Hasilnya cukup menarik karena dari 7.500 orang responden karyawan TI yang ikut serta dalam survei ini, sebanyak 64% di antaranya adalah perempuan dan sisanya, yakni 36%, adalah laki-laki. Hal ini bisa jadi menunjukkan bahwa jumlah perempuan yang bekerja di bidang TI di Indonesia mulai lebih banyak daripada jumlah laki-laki.

“Jika menilik lebih dalam lagi informasi yang terkumpul di Jobplanet, responden karyawan wanita mendominasi beberapa bidang keahlian TI, yakni Graphic Design, Digital Content, Project Management, Data Analysis, dan IT Quality Assurance,” ungkap Kemas Antonius (Chief Product Officer, Jobplanet Indonesia) dalam rilis persnya.

Sebagai gambaran, perbandingan jumlah karyawan wanita dan pria yang bekerja di bidang Graphic Design dalam survei Jobplanet adalah sebesar 65:35, Digital Content sebesar 63:37, Project Management sebesar 62:38, Data Analyst sebesar 59:41, dan IT Quality Assurance sebesar 55:45.

“Hal ini menunjukkan bahwa banyak perusahaan sudah memberikan kesempatan dan kepercayaan kepada karyawan wanita untuk mengisi posisi-posisi penting di bidang TI,” tukas Kemas.

Danny Natalies: Membenahi Sistem TI di Atma Jaya untuk Penuhi Panggilan Hati

Danny Natalies (IT Head, Atma Jaya). [Foto: Abdul Aziz/InfoKomputer]
Ketika tawaran tersebut datang, Danny Natalies tak kuasa menolak. Meski sedang meniti karier di salah satu perusahaan ternama, Danny memutuskan untuk menerima tawaran kembali ke almamaternya.

Dosen dan Rektor Unika Atma Jaya pada saat itu secara khusus memanggil Danny kembali ke kampus untuk memperbaiki dan implementasi sistem TI di Atma Jaya. “Waktu kuliah, kebetulan saya sudah membantu sebagai asisten mahasiswa di kampus,” kenang Danny.

Sempat ada keraguan di awal, namun Danny memutuskan untuk menerima tawaran tersebut. Ia merasa pengalamannya membantu beberapa perusahaan melakukan modernisasi sistem TI akan menjadi bekal berharga untuk membantu almamaternya.

Akan tetapi, sejak awal Danny wanti-wanti kepada manajemen untuk tidak berharap banyak di awal periode kerjanya. “Karena saya harus mempelajari tiap domain dan proses di dalam lingkungan kerja ini,” Danny mengungkapkan alasannya.

Apalagi tanggung jawab Danny dalam hal TI menyangkut seluruh unit, proses dan banyak orang. “Tim TI kami melayani seluruh unit di Atma Jaya dan beberapa fungsi bahkan harus diberikan pelayanan hingga lintas unit bisnis, baik universitas, rumah sakit, dan kantor yayasan itu sendiri,” jelas Danny.

Lokasinya pun saat ini tersebar di tiga lokasi yang berbeda yaitu Semanggi (kampus utama), Pluit (Fakultas Kedokteran dan Rumah Sakit) dan BSD, Serpong (kampus baru Atma Jaya).

Menyusun Quick Win

Tahun pertama sebagai IT Head Atma Jaya pun Danny gunakan untuk melihat permasalahan TI yang ada di organisasi. Ternyata permasalahan yang muncul cukup banyak, mulai dari infrastruktur jaringan, sistem akademik, HR, finansial, sampai digital library.

Melihat hal itu, Danny pun menetapkan prioritas. Sistem pertama yang diperbaiki adalah sistem akademik. “Karena sistem ini menyentuh banyak orang,” sebutnya. Pembenahan sistem akademik akan menjadi quick win yang diharapkan dapat membuat tiap orang di organisasi percaya akan keefektifan pembenahan di sistem TI.

Sistem akademik Atma Jaya kala itu memang banyak masalah. Saat awal semester, misalnya, mahasiswa akan kesulitan mengisi KRS (Kartu Rencana Studi) karena sistem sering down. Sistem akademik tersebut juga dibangun menggunakan open source yang kini sudah ditinggalkan pengguna. Belum lagi platform database yang digunakan sudah tertinggal jauh versinya dan sudah tidak ada dukungan layanan purnajual dari prinsipal pemilik produk.

Danny dan tim pun mulai membenahi satu per satu masalah tersebut. Untuk mengetahui jumlah concurrent user sesungguhnya, Danny menggunakan pendekatan nonteknis. “Saya gunakan sistem antrean untuk mendistribusikan beban,” kata dia.

Dari pendekatan ini, didapat jumlah concurrent user yang kemudian digunakan untuk memprediksi kebutuhan dari sisi hardware. Danny melihat, saat itu solusi tercepat meningkatkan kapasitas transaksi adalah dengan meningkatkan computing power.

Sedangkan untuk pembenahan software, Atma Jaya saat ini memperbarui kembali sistem akademik ke solusi yang sudah jadi, yaitu Oracle. “Inisiasinya akhir tahun lalu [2015. red] dan bulan Juni kemarin [2016. red] sudah berjalan,” ungkap Danny.

Beberapa persoalan memang muncul, namun transformasi besar yang dilakukan Atma Jaya itu terbilang berjalan mulus. Tidak heran jika kini kepercayaan manajemen terhadap tim IT Atma Jaya membumbung tinggi. Tahun ini, ada tujuh inisiatif di bidang TI yang harus diselesaikan Danny dan tim. “Saya sampai turun berat badan 23 kilogram,” ucap Danny sambil tertawa lebar.

Menghemat Pengeluaran

Seluruh pembenahan ini tentu saja membutuhkan investasi. Namun mengingat Atma Jaya adalah institusi di bawah naungan keuskupan, Danny merasa memiliki tanggung jawab moral untuk berhati-hati saat melakukan investasi TI. Itulah sebabnya mengapa untuk hardware, ia memilih infrastruktur TI jenis hyperconverged. “Pertimbangan utama adalah kebutuhan kami terpenuhi, harga masuk akal, serta layanan purna jual yang jelas,” ungkap Danny.

Hyperconverged adalah jenis infrastruktur TI yang telah mengintegrasikan server, storage, dan network ke dalam satu kesatuan. Karena datang dalam satu boks siap pakai, hyperconverged bisa langsung digunakan perusahaan tanpa harus melakukan pengujian kompatibilitas seperti ketika perusahaan menggunakan infrastruktur tradisional.

“Jika saya bisa punya satu gadget yang bisa buat telekomunikasi, bekerja, dan menonton film, buat apa saya beli telepon sendiri, komputer sendiri, atau home theater sendiri?” Danny memberi analogi.

Hyperconverged juga membuat kebutuhan SDM lebih sederhana. “Sebelumnya saya harus cari satu orang yang mengerti server, satu orang yang mengerti storage, satu orang yang mengerti network,” cerita Danny menggambarkan kerumitan di infrastruktur tradisional. Dengan hyperconverged, kebutuhan SDM praktis cuma satu. “Orang ini memang harus serba-bisa, namun tidak perlu sedalam orang-orang spesialis ini,” tukasnya.

Yang tak kalah penting, hyperconverged juga sangat efisien dari sisi harga. Danny menggambarkan, pemilihan hyperconverged dapat menekan biaya hingga 50 – 60% dibanding mengadopsi teknologi infrastruktur konvensional. Selain itu, seluruh lisensi penggunaan teknologi di dalam hyperconverged sudah disatukan, sehingga tidak perlu lagi membeli satu per satu.

Meski lebih terjangkau, solusi hyperconverged tetap menawarkan performa yang dibutuhkan. “Kami sudah melakukan PoC (Proof of Concept. red) dengan case study yang menyerupai kondisi sebenarnya,” cerita Danny.

Contohnya adalah bagaimana sistem harus bisa melayani 3.000 concurrent transaction atau bagaimana sistem memproses transaksi penjurnalan 10 ribu per hari dengan waktu tunggu entry tak lebih dari 2 detik. “Dan hasilnya tidak ada drop performance-nya,” ujar Danny.

“Tim TI kami melayani seluruh unit di Atma Jaya dan beberapa fungsi bahkan harus diberikan pelayanan hingga lintas unit bisnis, baik universitas, rumah sakit, dan kantor yayasan itu sendiri,” jelas Danny.

Antara HC dan Cloud

Untuk solusi hyperconverged ini, Danny memilih produk dari Dell EMC VXRail. “Kami melakukan beauty contest ke empat produk dan akhirnya kami memilih VXRail,” ungkapnya. Salah satu alasannya adalah disertakannya vSphere ke dalam paket. “Padahal vSphere itu ‘kan lumayan mahal,” kata Danny. Sebagai informasi, vSphere adalah aplikasi milik VMware yang berfungsi mengelola virtual machine dan biasanya dibandrol dengan harga US$3500 per CPU.

Pertimbangan lain adalah VXRail merupakan produk dari perusahaan sebesar EMC (yang kini menjadi bagian dari Dell). “Sebagai customer, saya merasa lebih secure dengan nama-nama besar ini,” tambah Danny. Perusahaan sebesar Dell dan EMC pasti akan memiliki komitmen penuh terhadap produknya, termasuk memberikan layanan purna jual yang lebih terjamin.

Setelah merasakan keunggulan hyperconverged, Danny mengaku akan terus mengadopsi solusi ini ke depannya. “Apalagi hyperconverged mendukung thin provisioning, jadi ketika ingin menambah compute power, misalnya, ke depannya bisa mudah ditambahkan,” kata Danny. Sistem hyperconverged ini akan dipadukan dengan cloud computing, seperti rencana Danny menempatkan DRC Atma Jaya di cloud.

Setelah selesai membenahi sistem akademik dan ERP, sederet tugas besar sudah berjajar di hadapan Danny dan tim IT-nya. Contohnya implementasi smart identity management, workflow automation, sampai integrasi tiga kampus.

Namun Danny memiliki strategi tersendiri untuk menjawab sederet tantangan ini. “Kami selalu libatkan business user sejak awal rencana kegiatan tersebut diinisiasi,” tuturnya. Tujuannya untuk meningkatkan rasa memiliki business user terhadap project tersebut, yang berujung pada kesuksesan implementasi.

Mewujudkan Data Center Modern

Kisah Atma Jaya yang mengadopsi hyperconverged ternyata selaras dengan tren di dunia belakangan ini. Lembaga riset Gartner memperkirakan, pasar hyperconverged akan meningkat 79% dan mencapai angka US$2 miliar di tahun 2016 ini.

VXRail sebagai solusi milik EMC praktis memiliki posisi strategis di segmen ini. Pasalnya hyperconverged sangat erat kaitannya dengan virtualisasi, sementara VMware adalah sister company dari EMC dan sama-sama berada di naungan Dell. “Kami memiliki tim bersama untuk pengembangan dan pengujian yang menjamin solusi VXRail fully compatible dengan aplikasi VMware,” ungkap Herry Yanto (Senior Sytems Engineer, EMC Indonesia).

Solusi VXRail juga dirancang untuk memudahkan implementasi hybrid cloud. EMC telah menyertakan software khusus yang sudah dibundel ke dalam solusi VXRail. “Software ini memungkinkan hyperconvered ini ‘berbicara’ langsung ke cloud,” tambah Herry. Artinya, perusahaan bisa dengan mudah memindahkan sebagian beban dari hyperconverged ke cloud.

Dan hal ini tidak terbatas pada solusi vCloud Air milik VMware. “Bisa juga untuk AWS, Microsoft Azure, atau Google Cloud,” pungkasnya.

Review Smartphone