Fitur Enterprise Ketika TI di Dalam Genggaman Kaum Millennial

Ketika TI di Dalam Genggaman Kaum Millennial

Ilustrasi generasi millennial. [Kredit: www.thebrokeagent.com]

Tidak lama lagi, pasar akan makin didominasi pelanggan dari generasi langgas yang sangat fasih teknologi dan memiliki karakter unik. Sudahkah organisasi bisnis mempersiapkan strategi untuk membidik mereka? Bagaimana teknologi akan memampukan perusahaan merebut hari pelanggan millennial ini?

Siapa Saja yang Termasuk Generasi Millennial?

Sebelum membahas lebih jauh, pertama-tama kita definisikan dulu siapa saja yang termasuk ke dalam generasi millennial. Hasil rangkuman dari berbagai sumber, generasi millennial adalah mereka yang memiliki ciri-ciri berikut:

  • Lahir dalam rentang tahun 1982 – 1995 (Strauss & Howe, 1991).
  • Terlahir dengan akses ke teknologi, bahkan tergantung dengan teknologi, selalu terkoneksi, memiliki kemampuan multitasking.
  • Sangat sosial, aktif menjadi bagian dari sebuah komunitas (berkomunikasi, berkolaborasi, berbagi, bersosialisasi setiap saat).
  • Terbuka dan senang mencoba produk dan jasa baru untuk menggantikan cara tradisional. Misal streaming film vs TV cable atau free to air TV.
  • Mendukung crowd sourcing dalam berbagai aspek, mulai dari pengumpulan dana hingga mencari outsourcing design, dan banyak lagi.

Di Amerika Serikat, generasi langgas atau generasi millennial disebut-sebut sebagai demographic cohort terbesar saat ini. US Census Bureau mencatat jumlah warga millennial (rentang usia 15-25 tahun) di Negeri Paman Sam itu mencapai 92 juta orang di tahun 2015.

Bagaimana dengan Indonesia? Generasi millennial juga merupakan aset masa depan Indonesia karena jumlahnya diprediksi akan mendominasi populasi penduduk usia produktif  di kurun waktu 5 sampai 10 tahun ke depan. Di tahun 2020, jumlah penduduk usia produktif di nusantara akan melonjak hingga 50 – 60%, dan separuh di antaranya merupakan kaum millennial.

Lonjakan yang cukup besar ini sampai-sampai membuat Yoris Sebastian dari OMG Consulting berkomentar bahwa untuk pertama kalinya sejak Indonesia merdeka, negeri ini akan memiliki jumlah penduduk usia produktif yang lebih besar daripada jumlah yang tidak produktif. Saat ini jumlah usia produktif 15 – 35 tahun sudah mencapai 40 persen dari keseluruhan populasi Indonesia.

Fakta itu diperkuat data yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) lewat data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2014 – 2015. Data BPS tersebut menyebutkan bahwa jumlah penduduk Indonesia mencapai 254,9 juta jiwa dengan jumlah angkatan kerja mencapai 128,30 juta jiwa.

Sementara lewat survei kumpulan data obrolan di Twitter yang dilakukan Provetic selama dua bulan mulai 1 Desember sampai 31 Januari 2016 terungkap bahwa, rentang usia 20 – 24 tahun menjadi usia user terbesar (45%) dari jumlah total responden sebanyak 4.670 akun.

Di tingkat regional, generasi millennial Indonesia pun akan berperan penting di Asia Tenggara. Jika dilihat dari jumlah populasi penduduk negara-negara di kawasan tersebut, Indonesia menjadi kunci jumlah penduduk usia produktif terbanyak. Menurut informasi yang kami kutip dari swa.co.id, dari sepuluh negara anggota ASEAN diperkirakan jumlah total penduduknya mencapai 625 juta dan sebanyak 23%-nya adalah generasi millennial dari Indonesia.

Cara Memikat Kaum Millennial

Dengan generasi millennial yang akan makin mendominasi pasar, organisasi bisnis tentu tidak dapat mengabaikan kehadiran mereka. Kefasihan memanfaatkan teknologi, keakraban dengan media sosial, keaktifan di komunitas, sikap tidak loyal namun efektif, dan sederet karakter millennial lainnya tentu patut diperitungkan oleh setiap organisasi bisnis yang bersentuhan dengan mereka, entah sebagai workforce maupun pelanggan.

Berbicara mengenai kaum millennial sebagai pelanggan, ada beberapa contoh perusahaan yang dianggap sukses membidik mereka. Dengan memerhatikan karakter dan perilaku generasi langgas, perusahaan-perusahaan ini menerapkan cara pemasaran atau marketing yang berbeda dari sebelumnya.

[BACA: Ini Cara BTPN Hadapi Generasi Millennial]

Netflix, sebuah perusahaan dengan bisnis video streaming, memanfaatkan platform media sosial, seperti Twitter dan Facebook untuk memikat dan berinteraksi dengan pelanggan millennial. Generasi langgas senang berbagi content dengan teman-temannya dan Netflix mengakomodasi kesenangan itu melalui setting serta fitur yang memudahkan pelanggan mengkoneksikan Netflix dengan akun media sosial. Lewat media sosial pula, Netflix mengampanyekan brand-nya untuk memikat calon pelanggan potensial.

Kampanye “Share a Coke” yang dibuat Coca Cola mungkin bisa menjadi contoh berikutnya. Pelanggan kian menyukai produk-produk yang dipersonalisasi, dan inilah yang dilakukan Coca Cola. Dalam kampanye ini, Coca Cola menuliskan 250 nama terpopuler di kalangan pelanggan usia belasan tahun dan millennial di botol Coca Cola ukuran tertentu.

Hasilnya adalah produk yang customized dan personal, serta konten yang menarik untuk dibagikan. Selain itu, Coca Cola juga membuat situs web khusus di mana pelanggan dapat menemukan hal-hal menarik seputar nama mereka, memesan botol dengan nama mereka, dan mencari tahu jadwal tur Share a Coke. Menurut Wall Street Journal, penjualan minuman ringan Coca Cola meningkat sebanyak dua persen setelah kampanye ini diluncurkan.

Ilustrasi generasi millennial. [Kredit: www.iorma.com]

“Ketergantungan generasi millennial pada teknologi dan sifat mereka yang ingin selalu berkontribusi dalam komunitas membuat millennial selalu ingin menggunakan produk dan jasa yang menggunakan teknologi,” ujar Hermawan Sutanto (kandidat Doktor Millennial & Chief Commercial Officer, Bizzy.co.id).

Cara bekerja generasi langgas pun berbeda. Hermawan menyebut, generasi ini merupakan yang paling produktif jika bisa dikelola dengan baik dan benar. Begitu pun dalam menyelesaikan pekerjaan bisa dilakukan dengan cepat berkat kemampuan multitasking dan keakraban dengan teknologi.

Tidak seperti generasi sebelumnya, generasi millenial harus terkoneksi 24 jam agar bisa “hidup”. Bagi generasi ini, batas antara waktu bekerja dan waktu personal sudah kabur karena selama mereka terkoneksi, surel mereka selalu aktif, dan mereka bisa bekerja kapan pun dan di mana pun, sesuka mereka. Mereka pun terkenal royal untuk urusan jam kerja, pun sangat haus belajar, kreatif dan ingin selalu menemukan terobosan-terobosan baru di bisnis.

Pengaruh Generasi Millennial di Industri TI

Hal tersebut juga turut memengaruhi kesiapan perusahaan atau organisasi bisnis dari sisi teknologi, dalam hal ini teknologi informasi (TI). Sejauh mana pengaruh kehadiran pelanggan dari generasi millennial terhadap enterprise IT?

Menurut Biswa Misra (CTO, AIA) seperti dikutip dari Computer Weekly ASEAN, keinginan perusahaan untuk lebih memahami pola-pola, tren, dan perilaku pelanggan, serta kebutuhan mobile gateway untuk mengakses “apa saja yang penting” akan berujung pada architectural disruption dalam perusahaan,

Lantas perubahan-perubahan apa yang telah dilakukan AIA di sisi teknologi? Misalnya jaringan distribusi AIA—agen asuransi dan bank—menggunakan mobile distribution platform untuk membuat ilustrasi dan aplikasi asuransi. Platfrom tersebut digunakan untuk menjual polis asuransi di sebagian besar pasar AIA dan sebanyak tujuh puluh persen kantor-kantor cabang AIA di beberapa negara telah mengadopsinya.

AIA juga sudah mengganti platform back-end yang berbasis mainframe dengan solusi Policy Administration System (PAS). Solusi yang mencakup keseluruhan rantai layanan asuransi tersebut tentu lebih lincah ketimbang sistem mainframe sehingga produk-produk AIA dapat lebih cepat masuk ke pasar.  

Selain itu, AIA juga mengimplentasikan content management system modern untuk meningkatkan kualitas layanan pelanggan. Sementara untuk mengakomodasi keinginan berbagi karyawan yang termasuk generasi langgas, AIA menggunakan platform kolaborasi seperti Micrsoft Office 365 dan Yammer.

Kultur bekerja seperti itu, tak ayal menuntut manajerial untuk lebih bijak dan mengerti perbedaan cara bekerja. Cara bekerja standar mau tak mau harus didobrak demi menghindari terjadinya benturan yang mampu memicu karyawan millennial keluar masuk.

Comments

comments