Profil IT Leader Danny Natalies: Membenahi Sistem TI di Atma Jaya untuk Penuhi Panggilan Hati

Danny Natalies: Membenahi Sistem TI di Atma Jaya untuk Penuhi Panggilan Hati

Danny Natalies (IT Head, Atma Jaya). [Foto: Abdul Aziz/InfoKomputer]

Ketika tawaran tersebut datang, Danny Natalies tak kuasa menolak. Meski sedang meniti karier di salah satu perusahaan ternama, Danny memutuskan untuk menerima tawaran kembali ke almamaternya.

Dosen dan Rektor Unika Atma Jaya pada saat itu secara khusus memanggil Danny kembali ke kampus untuk memperbaiki dan implementasi sistem TI di Atma Jaya. “Waktu kuliah, kebetulan saya sudah membantu sebagai asisten mahasiswa di kampus,” kenang Danny.

Sempat ada keraguan di awal, namun Danny memutuskan untuk menerima tawaran tersebut. Ia merasa pengalamannya membantu beberapa perusahaan melakukan modernisasi sistem TI akan menjadi bekal berharga untuk membantu almamaternya.

Akan tetapi, sejak awal Danny wanti-wanti kepada manajemen untuk tidak berharap banyak di awal periode kerjanya. “Karena saya harus mempelajari tiap domain dan proses di dalam lingkungan kerja ini,” Danny mengungkapkan alasannya.

Apalagi tanggung jawab Danny dalam hal TI menyangkut seluruh unit, proses dan banyak orang. “Tim TI kami melayani seluruh unit di Atma Jaya dan beberapa fungsi bahkan harus diberikan pelayanan hingga lintas unit bisnis, baik universitas, rumah sakit, dan kantor yayasan itu sendiri,” jelas Danny.

Lokasinya pun saat ini tersebar di tiga lokasi yang berbeda yaitu Semanggi (kampus utama), Pluit (Fakultas Kedokteran dan Rumah Sakit) dan BSD, Serpong (kampus baru Atma Jaya).

Menyusun Quick Win

Tahun pertama sebagai IT Head Atma Jaya pun Danny gunakan untuk melihat permasalahan TI yang ada di organisasi. Ternyata permasalahan yang muncul cukup banyak, mulai dari infrastruktur jaringan, sistem akademik, HR, finansial, sampai digital library.

Melihat hal itu, Danny pun menetapkan prioritas. Sistem pertama yang diperbaiki adalah sistem akademik. “Karena sistem ini menyentuh banyak orang,” sebutnya. Pembenahan sistem akademik akan menjadi quick win yang diharapkan dapat membuat tiap orang di organisasi percaya akan keefektifan pembenahan di sistem TI.

Sistem akademik Atma Jaya kala itu memang banyak masalah. Saat awal semester, misalnya, mahasiswa akan kesulitan mengisi KRS (Kartu Rencana Studi) karena sistem sering down. Sistem akademik tersebut juga dibangun menggunakan open source yang kini sudah ditinggalkan pengguna. Belum lagi platform database yang digunakan sudah tertinggal jauh versinya dan sudah tidak ada dukungan layanan purnajual dari prinsipal pemilik produk.

Danny dan tim pun mulai membenahi satu per satu masalah tersebut. Untuk mengetahui jumlah concurrent user sesungguhnya, Danny menggunakan pendekatan nonteknis. “Saya gunakan sistem antrean untuk mendistribusikan beban,” kata dia.

Dari pendekatan ini, didapat jumlah concurrent user yang kemudian digunakan untuk memprediksi kebutuhan dari sisi hardware. Danny melihat, saat itu solusi tercepat meningkatkan kapasitas transaksi adalah dengan meningkatkan computing power.

Sedangkan untuk pembenahan software, Atma Jaya saat ini memperbarui kembali sistem akademik ke solusi yang sudah jadi, yaitu Oracle. “Inisiasinya akhir tahun lalu [2015. red] dan bulan Juni kemarin [2016. red] sudah berjalan,” ungkap Danny.

Beberapa persoalan memang muncul, namun transformasi besar yang dilakukan Atma Jaya itu terbilang berjalan mulus. Tidak heran jika kini kepercayaan manajemen terhadap tim IT Atma Jaya membumbung tinggi. Tahun ini, ada tujuh inisiatif di bidang TI yang harus diselesaikan Danny dan tim. “Saya sampai turun berat badan 23 kilogram,” ucap Danny sambil tertawa lebar.

Menghemat Pengeluaran

Seluruh pembenahan ini tentu saja membutuhkan investasi. Namun mengingat Atma Jaya adalah institusi di bawah naungan keuskupan, Danny merasa memiliki tanggung jawab moral untuk berhati-hati saat melakukan investasi TI. Itulah sebabnya mengapa untuk hardware, ia memilih infrastruktur TI jenis hyperconverged. “Pertimbangan utama adalah kebutuhan kami terpenuhi, harga masuk akal, serta layanan purna jual yang jelas,” ungkap Danny.

Hyperconverged adalah jenis infrastruktur TI yang telah mengintegrasikan server, storage, dan network ke dalam satu kesatuan. Karena datang dalam satu boks siap pakai, hyperconverged bisa langsung digunakan perusahaan tanpa harus melakukan pengujian kompatibilitas seperti ketika perusahaan menggunakan infrastruktur tradisional.

“Jika saya bisa punya satu gadget yang bisa buat telekomunikasi, bekerja, dan menonton film, buat apa saya beli telepon sendiri, komputer sendiri, atau home theater sendiri?” Danny memberi analogi.

Hyperconverged juga membuat kebutuhan SDM lebih sederhana. “Sebelumnya saya harus cari satu orang yang mengerti server, satu orang yang mengerti storage, satu orang yang mengerti network,” cerita Danny menggambarkan kerumitan di infrastruktur tradisional. Dengan hyperconverged, kebutuhan SDM praktis cuma satu. “Orang ini memang harus serba-bisa, namun tidak perlu sedalam orang-orang spesialis ini,” tukasnya.

Yang tak kalah penting, hyperconverged juga sangat efisien dari sisi harga. Danny menggambarkan, pemilihan hyperconverged dapat menekan biaya hingga 50 – 60% dibanding mengadopsi teknologi infrastruktur konvensional. Selain itu, seluruh lisensi penggunaan teknologi di dalam hyperconverged sudah disatukan, sehingga tidak perlu lagi membeli satu per satu.

Meski lebih terjangkau, solusi hyperconverged tetap menawarkan performa yang dibutuhkan. “Kami sudah melakukan PoC (Proof of Concept. red) dengan case study yang menyerupai kondisi sebenarnya,” cerita Danny.

Contohnya adalah bagaimana sistem harus bisa melayani 3.000 concurrent transaction atau bagaimana sistem memproses transaksi penjurnalan 10 ribu per hari dengan waktu tunggu entry tak lebih dari 2 detik. “Dan hasilnya tidak ada drop performance-nya,” ujar Danny.

“Tim TI kami melayani seluruh unit di Atma Jaya dan beberapa fungsi bahkan harus diberikan pelayanan hingga lintas unit bisnis, baik universitas, rumah sakit, dan kantor yayasan itu sendiri,” jelas Danny.

Antara HC dan Cloud

Untuk solusi hyperconverged ini, Danny memilih produk dari Dell EMC VXRail. “Kami melakukan beauty contest ke empat produk dan akhirnya kami memilih VXRail,” ungkapnya. Salah satu alasannya adalah disertakannya vSphere ke dalam paket. “Padahal vSphere itu ‘kan lumayan mahal,” kata Danny. Sebagai informasi, vSphere adalah aplikasi milik VMware yang berfungsi mengelola virtual machine dan biasanya dibandrol dengan harga US$3500 per CPU.

Pertimbangan lain adalah VXRail merupakan produk dari perusahaan sebesar EMC (yang kini menjadi bagian dari Dell). “Sebagai customer, saya merasa lebih secure dengan nama-nama besar ini,” tambah Danny. Perusahaan sebesar Dell dan EMC pasti akan memiliki komitmen penuh terhadap produknya, termasuk memberikan layanan purna jual yang lebih terjamin.

Setelah merasakan keunggulan hyperconverged, Danny mengaku akan terus mengadopsi solusi ini ke depannya. “Apalagi hyperconverged mendukung thin provisioning, jadi ketika ingin menambah compute power, misalnya, ke depannya bisa mudah ditambahkan,” kata Danny. Sistem hyperconverged ini akan dipadukan dengan cloud computing, seperti rencana Danny menempatkan DRC Atma Jaya di cloud.

Setelah selesai membenahi sistem akademik dan ERP, sederet tugas besar sudah berjajar di hadapan Danny dan tim IT-nya. Contohnya implementasi smart identity management, workflow automation, sampai integrasi tiga kampus.

Namun Danny memiliki strategi tersendiri untuk menjawab sederet tantangan ini. “Kami selalu libatkan business user sejak awal rencana kegiatan tersebut diinisiasi,” tuturnya. Tujuannya untuk meningkatkan rasa memiliki business user terhadap project tersebut, yang berujung pada kesuksesan implementasi.

Mewujudkan Data Center Modern

Kisah Atma Jaya yang mengadopsi hyperconverged ternyata selaras dengan tren di dunia belakangan ini. Lembaga riset Gartner memperkirakan, pasar hyperconverged akan meningkat 79% dan mencapai angka US$2 miliar di tahun 2016 ini.

VXRail sebagai solusi milik EMC praktis memiliki posisi strategis di segmen ini. Pasalnya hyperconverged sangat erat kaitannya dengan virtualisasi, sementara VMware adalah sister company dari EMC dan sama-sama berada di naungan Dell. “Kami memiliki tim bersama untuk pengembangan dan pengujian yang menjamin solusi VXRail fully compatible dengan aplikasi VMware,” ungkap Herry Yanto (Senior Sytems Engineer, EMC Indonesia).

Solusi VXRail juga dirancang untuk memudahkan implementasi hybrid cloud. EMC telah menyertakan software khusus yang sudah dibundel ke dalam solusi VXRail. “Software ini memungkinkan hyperconvered ini ‘berbicara’ langsung ke cloud,” tambah Herry. Artinya, perusahaan bisa dengan mudah memindahkan sebagian beban dari hyperconverged ke cloud.

Dan hal ini tidak terbatas pada solusi vCloud Air milik VMware. “Bisa juga untuk AWS, Microsoft Azure, atau Google Cloud,” pungkasnya.

Comments

comments

NO COMMENTS

Leave a Reply