21 | April | 2017 | InfoKomputer Online

Arsip Harian: Apr 21, 2017

Telstra Tantang Kartini Teknologi Indonesia untuk Bertarung di Tingkat Asia

Telstra menantang para “Kartini teknologi” Indonesia untuk bertarung memperebutkan gelar Telstra Business Woman in Asia Award dalam ajang “Telstra Business Women’s Awards” yang digelar untuk kedua kalinya. Para pengusaha perempuan dari organisasi nirlaba dan perusahaan sosial yang beroperasi di Asia dapat ikut serta dalam acara ini.

“Telstra Business Woman in Asia Award merupakan peluang besar bagi para perempuan di Indonesia untuk merayakan pencapaian kinerja profesional dan inovasi mereka di kancah global,” ucap Erik Meijer (Country Managing Director Telstra untuk Indonesia). “Hal ini sejalan dengan tujuan peringatan Hari Kartini, yakni untuk mengingatkan wanita-wanita Indonesia untuk berani mewujudkan impian dan memaksimalkan potensi mereka.”

Pendaftaran untuk Telstra Business Women’s Awards akan dibuka pada Rabu, 26 April 2017 dan akan ditutup pada Kamis, 15 Juni 2017, di alamat https://www.telstrabusinesswomensawards.com/nominate/.

Pengalaman Shinta “Bubu”

Pada tahun lalu, Shinta Dhanuwardoyo (CEO dan Pendiri, Bubu.com) terpilih sebagai salah satu finalis yang mewakili Indonesia. Ia berhasil melewati tahap final dari proses seleksi serta mengungguli ratusan kandidat wanita lainnya di seluruh Asia Pasifik.

Penghargaan tersebut merupakan bentuk pengakuan terhadap kesuksesannya sebagai pemimpin salah satu perusahaan internet pertama di Indonesia.

Shinta Dhanuwardoyo. (Kredit: ID Byte]

“Saya sangat bangga dapat terpilih sebagai salah satu finalis di tahun 2016. Program ini mendorong saya untuk merenungkan kembali inovasi bisnis yang sudah dijalani dan memberikan kesempatan bagi kami untuk berbagi mengenai pencapaian kami di industri teknologi selama 21 tahun terakhir,” ujar Shinta.

Shinta juga menyatakan bahwa ajang ini telah membantu dirinya untuk memperluas jaringan bisnis dan menyediakan peluang untuk berbagi pengalaman sebagai pemimpin perempuan di industri ini.

Mengatasi Kesetaraan Gender

“Meningkatkan citra dan memperluas relasi bisnis di kalangan perempuan sukses merupakan langkah penting dalam mengatasi kesetaraan gender di dunia kerja,” ujar Cynthia Welan (Group Executive New Businesses, Telstra dan Alumni Telstra Business Women’s Awards).

Berdasarkan Laporan Women in Business yang dikeluarkan oleh Grant Thornton, meskipun terdapat sedikit peningkatan proporsi peran perempuan yang menduduki posisi penting di suatu perusahaan atau organisasi, angka tersebut hanya berkisar sekitar 25% di skala global.

Bahkan, masih banyak negara-negara di kawasan Asia yang memiliki persentase lebih rendah. Sebagai contoh, hanya 7% dan 17% perempuan di Jepang dan India yang berhasil menempati posisi senior di lingkungan kerja.

“Hal ini memperlihatkan bahwa para perempuan masih harus menempuh perjalanan yang panjang untuk mencapai kesetaraan dalam kepemimpinan bisnis di Asia dan kami berharap program penghargaan ini mampu memainkan peran penting dalam mencapai tujuan ini,” pungkas Whelan.

Hanya 4 dari 100 Sopir Uber yang Betah Bekerja Lebih dari Satu Tahun

Ilustrasi sopir Uber. [Kredit: Dallasnews.com]
Uber terus menghadapi masalah dengan para sopirnya–atau yang mereka lebih suka sebut sebagai mitra pengemudi.

Ternyata, dari perhitungan statistik, hanya 4 dari 100 sopir Uber yang betah bekerja di penyedia aplikasi pemesanan transportasi itu. The Information melaporkan bahwa hanya 4 persen orang yang mendaftar sebagai sopir Uber tercatat masih bekerja di perusahaan itu pada tahun berikutnya.

Kenapa sopir-sopir itu meninggalkan Uber? Alasan utama adalah kurangnya penghasilan yang mereka peroleh dari Uber. Banyak sopir Uber yang mengeluhkan ketidakadilan tarif untuk perjalanan jarak jauh dan tidak adanya kesempatan menerima tips dari penumpang.

Hal ini berbeda dengan Lyft, saingan utama Uber di AS, yang memungkinkan penumpang menambahkan tips kepada sopirnya. Di lingkup Indonesia, praktik serupa dilakukan oleh Go-Jek apabila penumpang memberi rating 5 bintang kepada pengemudi. Sedangkan Grab dan Uber masih memungkinkan penumpang memberi tips berupa uang tunai.

Menanggapi hal tersebut, juru bicara Uber menyatakan, “Kami memahami kebutuhan untuk memperbaiki hubungan dengan mitra pengemudi dan pengalaman mereka menggunakan Uber. Kami sedang meningkatkan produk, kebijakan, layanan pelanggan, dan cara komunikasi kami.”

Seperti dilansir CNBC, Uber sedang mempertimbangkan untuk memberi bonus yang lebih tinggi kepada sopir dan menambahkan fitur pemberian tips agar sopir-sopir mereka lebih puas dan setia terhadap Uber.

Cara Curang Uber

Pada pekan lalu, publik sempat dihebohkan dengan penemuan cara curang yang sempat dipakai Uber untuk mengelabui penumpang dan sopirnya. Uber dituduh melakukan manipulasi tarif oleh salah satu sopirnya di Los Angeles, Sophano Van.

[BACA: Begini Cara Ilegal Uber untuk Kurangi Pemasukan Sopir]

Sophano mengklaim bahwa ketika penumpang Uber memesan mobil, ia akan disuguhi tarif di muka berdasarkan rute perjalanan yang lebih jauh dan durasinya lebih lama. Di sisi lain, sopir Uber akan diberikan tarif berdasarkan rute dan durasi perjalanan yang lebih pendek dan singkat. Walhasil, tarif yang diberikan kepada penumpang akan lebih mahal daripada tarif kepada sopir, tanpa sepengetahuan kedua belah pihak.

Dengan demikian, Uber menerima pemasukan dari penumpang lebih tinggi daripada komisi yang mereka bayarkan kepada sopir. Tidak jelas ke mana Uber mengalokasikan selisih tarif ini.

Sophano pun mengklaim Uber melakukan pelanggaran kontrak, penipuan, persaingan tidak sehat, dan tindakan memperkaya diri sendiri secara ilegal.

Sering Promo Produk Terselubung, Rihanna dan Para “Selebgram” Dapat Peringatan Keras

Rihanna

Para selebritis dan influencer di AS, seperti Rihanna dan Kim Kardashian, mendapat peringatan keras dari Pemerintah AS terkait seringnya mereka mempromosikan produk orang lain (endorse) secara terselubung di Instagram.

Badan Kepuasan Pelanggan di AS telah mengirimkan surat pemberitahuan kepada 90 tokoh dan perusahaan pemasaran terkait permasalahan tersebut. Ini pertama kalinya Pemerintah mengurus masalah tersebut. Grup advokasi pun menuding Instagram menjadi agen pemasangan iklan yang “menjijikkan”.

Komisi Persaingan Usaha AS menegaskan peraturan yang menyebut bahwa siapa pun yang meng-endorse suatu merek harus “jelas dan tegas” menyebutkannya. Jika produk endorse itu berbayar atau ada hubungan dengan bisnis atau keluarga, agen pemasaran yang harus mengurusnya.

Selama ini, peraturan di AS mengharuskan promosi produk di media sosial ditandai dengan tagar #ad atau #spon (sponsored). Tetapi, masih banyak orang yang mengabaikannya, menyembunyikan tagar itu di antara tagar-tagar lainnya, atau menaruh tagar itu di ujung keterangan foto yang sangat panjang.

Grup advokasi Public Citizen telah melakukan investigasi pada tahun lalu kepada 113 artis dan “selebgram” (istilah bagi tokoh-tokoh dengan banyak follower di Instagram) yang meng-endorse merek tanpa pemberitahuan.

“Instagram melakukan pemasaran yang liar dan mengincar anak muda, terutama perempuan,” kata grup advokasi tersebut, seperti dikutip BBC.

“Belum jelas apakah pengguna Instagram harus membayar ketika mem-posting sebuah produk endorsement. Karena itu, sebuah merek sering menggunakan influencer pemasaran untuk merangkul pelanggan muda,” ucap mereka.

Bagaimana di Indonesia?

Menariknya, kasus teguran Pemerintah AS ini juga pernah terjadi di Indonesia. Tetapi, masalahnya lebih terkait pada pajak penghasilan para “selebgram”.

Dikutip dari Kompas.com, Direktorat Jenderal Pajak ingin mengejar pajak bagi pengguna akun yang menjual jasa atau barang di media sosial. Salah satunya ialah selebriti yang menggunakan akun Instagram-nya untuk mempromosikan suatu produk.

Contoh selebgram Indonesia. [Kredit: Kompas.com]
“Kalau ada keuntungan, ya kena pajak, gitu aja. Tarifnya normal. Pajak penghasilan sesuai keuntungan,” ujar Dirjen Pajak Ken Dwijugiasteadi (Direktur Jenderal Pajak) di Jakarta, Rabu (12/10/2016).

Ditjen Pajak sudah melakukan berbagai langkah untuk mengejar pajak dari hasil menjual jasa atau barang di Instagram. Salah satunya dengan mengecek alamat selebriti tersebut. Setelah itu, Ditjen Pajak akan mengecek nomor pokok wajib pajak (NPWP) selebriti itu dan akan mengirimkan surat ke alamat yang tertera.

“Ini otomatis dan ini link ke database Ditjen Pajak,” kata Ken. Selain Instagram, Ditjen Pajak juga akan mengejar pajak di Facebook dan forum jual beli Kaskus.

Sebelumnya, Yon Arsal (Direktur Potensi Kepatuhan dan Penerimaan Pajak, Kemenkeu) mengatakan, pemerintah kemungkinan bisa mendapatkan pemasukan hingga 1,2 miliar dolar AS atau setara Rp 15,6 triliun jika bisa menarik pajak dari kegiatan di media sosial.

Apple Makin Ramah Lingkungan dengan Daur Ulang iPhone Bekas

Liam, robot daur ulang Apple.

Apple dikenal sebagai salah satu perusahaan teknologi yang paling ramah lingkungan.

Berdasarkan 2017 Environmental Responsibility Report yang baru diterbitkan, Apple mengklaim bahwa mereka berhasil mengurangi jejak karbon sebesar 23 persen dari tahun 2015 serta menggunakan penggunaan energi terbarukan di 96 persen bangunan miliknya.

Di masa depan, Apple bahkan menargetkan untuk membuat produk-produknya dari 100 persen material daur ulang produk-produk bekas, seperti iPhone, iPad, dan Mac. Tujuannya agar Apple tidak perlu lagi menambang bahan-bahan logam mentah, seperti aluminium, timah, dan tembaga, dan membuang produk-produk tak terpakai.

Apple menyebut upaya ini sebagai “closed-loop supply chain” atau rantai pasokan putaran tertutup. “Terdengar gila, tetapi kami sedang bekerja mewujudkannya,” tulis Apple dalam laporannya.

“Kami akan terus berinvestasi untuk mendaurulang material dari produk bekas–seperti yang dilakukan Liam, lini robot daur ulang kami–dan mendorong pelanggan untuk mengembalikan produk bekas lewat program Apple Renew,” lanjut mereka.

Closed-loop supply chain versi Apple.

Saat ini, Apple mengandalkan robot daur ulang Liam untuk membongkar iPhone lama dan memisahkan komponen-komponen di dalamnya agar dapat digunakan kembali. Namun, Liam hanya sanggup membongkar 2,4 juta iPhone per tahun, masih jauh dari jumlah iPhone yang dijual Apple.

[BACA: Liam, Robot Daur Ulang Apple]

Di samping itu, Apple telah memulai penggunaan aluminium daur ulang dari iPhone 6 bekas untuk membuat Mac Mini yang dipasang di pabrik perakitan iPhone serta memanfaatkan 100 persen timah daur ulang pada logic board di iPhone 6s.

Ilustrasi data center Apple.

Di luar masalah daur ulang, Apple mencontohkan penggunaan energi terbarukan, mencakup energi matahari, air, dan angin, pada bangunan-bangunan miliknya.

Contohnya, Apple Park–markas baru Apple yang sedang dibangun di Cupertino, AS–disebut sebagai kantor pusat perusahaan paling “hijau” di dunia. Kantor ini akan menyertai lima data center Apple di AS yang beroperasi dengan mengandalkan energi terbarukan.

Apple juga sedang membangun data center baru di Denmark dan Irlandia yang masing-masing memakai energi limbah pertanian dan energi gelombang laut. Di Denmark, panas yang dihasilkan dari data center Apple malah bakal digunakan ulang sebagai sumber pemanas rumah-rumah di sekitarnya.

Video Liam, robot daur ulang Apple:

https://www.youtube.com/watch?v=AYshVbcEmUc

Mastercard Uji Coba Kartu Kredit dengan Sidik Jari

Ilustrasi kartu kredit dengan sidik jari

Saat ini penggunaan pemindai sidik jari sudah menjadi hal umum. Sistem biometrik itu bisa untuk membuka smartphone, laptop, bahkan kartu kredit.

Penggunaan terakhir sedang diujicoba oleh perusahaan teknologi pembayaran Mastercard yang baru-baru ini meluncurkan kartu biometrik generasi terbaru yang mengombinasikan antara teknologi chip dan sidik jari.

Mastercard memilih Afrika Selatan sebagai negara pertama uji coba teknologi sidik jari pada kartu kreditnya serta menggandeng Barclays Africa dan supermarket Pick n Pay sebagai peserta uji coba.

Ajay Bhalla (President, Enterprise Risk and Security, Mastercard) mengatakan penggunaan sidik jari pada kartu akan memberikan kenyamanan dan keamanan bagi pengguna.

“Konsumen kami akan semakin nyaman dan aman dengan kehadiran sidik jari,” katanya seperti dikutip SlashGear.

Mastercard mengatakan kehadiran pemindai sidik jari pada kartu kredit memudahkan verifikasi pengguna kartu bahwa yang menggunakan kartu tersebut merupakan pemegang kartu asli.

Ilustrasi kartu kredit dengan sidik jari

Kartu kredit itu memiliki dua lapis sistem autentikasi. Jadi, daripada mengetik password yang sangat berisiko, lebih aman dan simpel dengan menempelkan sidik jari.

Tentu saja, sebelumnya pemilik harus mendaftarkan sidik jari kepada Mastercard terlebih dahulu agar data sidik jarinya tersimpan dalam database Mastercard.

Dalam uji coba di Afrika Selatan, para pemegang kartu dapat melakukan transaksi seperti biasa. Saat verifikasi, pemegang kartu hanya perlu mencocokkan sidik jari pada sensor yang disiapkan. Jika berhasil, transaksi akan terkonfirmasi dan sukses.

Selanjutnya, Mastercard berencana melakukan uji coba sejenis di Eropa dan Asia Pasifik.

Keren! Layar Galaxy S8 Tidak Mempan Dibakar

Ilustrasi Galaxy S8 Dibakar

Tahun ini, banyak smartphone-smartphone flagship bermunculan yang menawarkan bodi tangguh berlapis kaca seperti Galaxy S8, LG G6, dan HTC U Ultra.

Smartphone flagship Samsung Galaxy S8 tidak hanya mengandalkan kecanggihan dan kemewahan semata tetapi juga ketangguhan.

Salah satu channel YouTube yang “doyan menyiksa” JerryRigEverything memakan korban baru yaitu Galaxy S8 seperti dikutip SlashGear.

Samsung Galaxy S8 akan melewati berbagai tahap “penyiksaan”. Seberapa tangguhkan Galaxy S8 menahan siksaan?

Pada test pertama, JerryRigEverything menggores layar Galaxy S8 dengan koin atau kunci mobil. Hasilnya, layar Galaxy S8 tetap terlihat mulus berkat perlindungan Gorilla Glass 5 pada bagian layar lengkungnya.

Ketika menggores body belakang, baru terlihat beberapa goresan halus disana. Sayangnya, bingkai kamera dan sensor sidik jari mudah sekali tergores. Kemudian, layar Galaxy S8 itu sangat mudah tergores dengan cutter baik di layar dan belakang.

Hebatnya, layar AMOLED Galaxy S8 tidak mempan di dibakar walaupun ada noda hitam di layarnya. Noda hitam itu akan hilang secara otomatis.

Samsung Galaxy S8+ Versi Snapdragon 835 Kalah Bersaing dengan Versi Exynos 8895

Samsung resmi meluncurkan “duet maut” smartphone flagship Samsung Galaxy S8 dan S8+ dalam acara bertajuk Galaxy Unpacked 2017 di David Gaffen Hall, Lincoln Center, New York, Amerika Serikat (AS).

Sesuai jadwal, Samsung Galaxy S8 dan S8+ telah resmi dipasarkan di berbagai negara mulai hari ini, 21 April 2017.

Di kampung halamannya, Korea Selatan, Galaxy S8 dilaporkan mencatat lebih dari 1 juta pemesanan selama masa pre-order. Antusiasme juga dirasakan di Amerika Serikat dengan komentar-komentar positif dari analis.

“Ponsel ini nyaman digenggam.. ini yang membuatnya sangat berbeda,” kata Bob O’Donnell (Pendiri dan Chief Analyst, Techanalysis) kepada CNBC. “Ponsel ini bisa dianggap sebagai ponsel generasi selanjutnya. Kualitasnya sangat baik. Banyak hal yang sudah diperbaiki [dari seri sebelumnya],” ujar Daniel Yoo (Head of Global Strategy, Kiwoom Securities).

Beberapa pengguna memang sempat mengeluhkan layar Galaxy S8 yang berwarna merah muda. Namun, Samsung menjawab bahwa masalah itu bisa diatasi dengan mengatur setelan layar.

Secara keseluruhan, Samsung menargetkan penjualan Galaxy S8 dan S8+ bisa mencapai 60 juta unit, melebihi rekor penjualan Galaxy S7 tahun lalu sebesar 48 juta unit.

Membandingkan Kinerja Galaxy S8 Versi Global dan Versi AS

Yang menarik, GSMArena mengungkapkan bahwa Samsung Galaxy S8+ yang dipasarkan di AS ternyata memiliki kinerja lebih rendah daripada Galaxy S8+ versi global.

Seperti diketahui, Samsung memasarkan dua varian Galaxy S8 dengan perbedaan prosesor. Galaxy S8 yang dijual di AS diotaki prosesor Snapdragon 835, sedangkan Galaxy S8 versi global diperkuat prosesor Exynos 8895. Sebetulnya, masih ada satu varian lagi, yaitu Galaxy S8 dengan prosesor Exynos 8895, RAM 6 GB, dan ROM 128 GB. Tetapi, varian itu hanya tersedia di Tiongkok.

[BACA: Ini Keunggulan Prosesor Exynos 8895 pada Samsung Galaxy S8]

Sebagai informasi, chipset Snapdragon 835 terdiri dari delapan inti Kryo 280; empat inti bekerja pada kecepatan 2,35 dan empat inti lainnya 1,9 GHz, didukung kartu grafis Adreno 540. Sementara itu, chipset Exynos 8895 memuat empat inti M1 “Mongoose” V2 2,3 GHz dan empat inti Cortex-A53 1,7 GHz, ditambah kartu grafis Mali-G71 MP20.

GSMArena pun mencoba membandingkan performa Galaxy S8+ versi AS dan global dengan mengadakan sejumlah uji benchmark populer, mencakup Geekbench, AnTuTu, GFX, dan Basemark.

Pada pengujian kinerja CPU dengan Geekbench 3 dan 4, Galaxy S8+ versi global unggul tipis di semua tes, kecuali Geekbench 3 single-core. Begitu pula dengan tes AnTuTu 6 di mana Galaxy S8+ versi global mencatat skor lebih tinggi ketimbang versi AS.

Sedangkan pada pengujian kinerja grafis dengan GFX 3.1 dan Basemark X/ES 3.1, keunggulan Galaxy S8+ versi global cukup jauh melampaui Galaxy S8+ versi AS.

Secara keseluruhan, Galaxy S8+ versi global berhasil unggul di hampir semua pengujian, kecuali Geekbench 3 single-core dan AnTuTu 5. Dengan catatan, keduanya merupakan benchmark versi lawas.

Mantan Bos Microsoft Ungkap Pengelolaan APBN Pemerintah AS Lewat Situs Ini

Steve Ballmer

Banyak tuntutan yang mengharuskan pemimpin negara untuk transparan terkait pengeluaran anggaran pengeluaran dan belanja negara (APBN).

Steve Ballmer (Mantan CEO Microsoft) telah menghabiskan dana sekitar US$10 juta atau sekitar Rp133 miliar untuk membuat database yang mengungkap alokasi APBN Pemerintah Amerika Serikat, mencakup anggaran pengeluaran negara dari penerimaan pajak pemerintah federal, negara bagian, dan pemerintah lokal.

Data tersebut kemudian dipublikasikan lewat situs USA Facts, seperti dilansir The New York Times.

Situs USA Facts memungkinkan warga AS untuk membandingkan data pengeluaran di beberapa kota atau negara bagian. Misalnya, warga bisa melihat jumlah personel kepolisian di suatu wilayah dan dibandingkan dengan jumlah kasus kriminal di daerah tersebut, atau mengecek angka penerbitan tiket parkir di sebuah kota dan pemasukan parkir di kota itu.

Situs USA Facts.

Ballmer berinisiatif membuat situs ini setelah ia pensiun dari Microsoft pada tahun 2014. Saat itu, ia menolak untuk menjadi filantropi (miliuner yang menyumbangkan dana bagi tujuan kemanusiaan) karena merasa sudah membayar pajak kepada pemerintah untuk didermakan.

Namun, Ballmer kemudian bertanya-tanya ke manakah pengeluaran dana pemerintah saat ini yang diambil dari uang pajaknya. Karena itu, Ballmer bekerjasama dengan Universitas Pennsylvania untuk membuat proyek ini.

Tentunya, inisiatif Ballmer dalam mendorong transparansi anggaran negara bukanlah yang pertama terjadi di AS.

Sebelumnya, Sunlight Foundation pernah menggunakan big data untuk menganalisis anggaran belanja Pemerintah AS.

Ada pula DATA Act, regulasi yang mewajibkan bendahara negara dan instansi pemerintah lainnya mengungkap alokasi pengeluarannya kepada publik. Pada tahun 2018, informasi ini akan tersedia di laman USA Spending agar bisa diperiksa setiap warga AS.

Synology Luncurkan NAS DS1517+ dan DS1817+ untuk UKM dan Startup

NAS Synology DiskStation DS1517+ cocok untuk pebisnis UKM dan startup.

Dalam bisnis skala kecil dan menengah (UKM) dan perusahaan startup, penggunaan NAS (Network Attached Storage) untuk pengelolaan dan penyimpanan data perlu dilakukan untuk mencapai keseimbangan antara biaya dan keuntungan yang didapat. Tak hanya itu, solusi ini juga bisa mendorong produktivitas kerja dan mobilitas karyawan.

Namun, karena keterbatasan modal, banyak UKM dan startup yang masih menggunakan hard drive eksternal untuk menyimpan data. Padahal, sebenarnya hard drive lebih cocok untuk penggunaan pribadi, bukan bisnis. Pasalnya, hard drive semacam ini biasanya tidak memiliki kemampuan backup otomatis, mudah terkena virus karena berbagi pakai, dan tidak dapat diakses banyak pengguna secara bersamaan.

Melihat kendala itu, Synology menghadirkan solusi NAS yang andal dalam menangani kebutuhan bisnis, tetapi juga memiliki harga terjangkau bagi UKM dan startup. Solusi itu adalah NAS Synology DS1517+ dan DS1817+ yang hadir bersama Expansion Unit DX517.

“NAS DS1517+ dan DS1817+ dari Synology menawarkan opsi penyimpanan yang lebih lengkap bagi para pelaku teknologi dan pebisnis UKM dengan kinerja luar biasa untuk tugas-tugas data yang berat,” kata Jason Fan (Product Manager, Synology Inc.) dalam keterangan pers.

“DS1517+ dan DS1817+ merupakan dua NAS pertama dari Synology yang sudah mendukung M.2 SSD, dirancang untuk mengatasi masalah bottleneck kinerja dalam pekerjaan dengan beban berat dan dapat secara signifikan mengurangi latency I/O,” imbuh Jason.

Spesifikasi dan Fitur

NAS Synology DS1517+ dan DS1817+ menggunakan prosesor Intel Atom empat inti berkecepatan 2,4 GHz dengan dua opsi memori standar 2 GB dan 8 GB yang dapat ditingkatkan hingga 16 GB.

NAS Synology DS1817+.

Selain empat portal jaringan built-in 1GbE, tersedia selot PCIe yang mampu menampung 10GbE network interface card opsional, menawarkan dua portal 10GbE untuk memaksimalkan bandwidth. Jika dipasangkan dengan dual channel memory dan 10GbE network interface opsional, kecepatan transfer data real antara server dan client dapat mencapai 1,179 MB/s untuk baca dan 542 MB/s untuk tulis.

Karena dapat ditambahkan dengan kartu adapter PCIe Synology M2D17, NAS DS1517+ dan DS1817+ dapat menggunakan dual M.2 SATA SSD sebagai cache sehingga kinerjanya dapat ditingkatkan secara signifikan tanpa menggunakan drive bay yang ada di muka untuk keperluan penyimpanan.

Kedua NAS DS1517+ dan DS1817+ juga dapat dihubungkan ke unit expansion DX517 hingga dua buah sehingga pengguna dapat menambahkan hingga 10 drive bay tambahan dan meningkatkan kapasitas penyimpanan secara on-the-fly. Volume RAID dapat diperbesar tanpa perlu format ulang hard disk, memastikan proses peningkatan kapasitas bisa dilakukan tanpa risiko downtime.

DS1517+ dan DS1817+ dipercanggih dengan DiskStation Manager (DSM) 6.1, sistem manajemen operasi yang intuituf dan serbaguna dengan macam-macam fungsi, seperti: backup, pengelolaan jaringan, dan produktivitas. Hebatnya lagi, kedua NAS ini didukung garansi 3 tahun dan opsi tambahan sampai 5 tahun.

Sayangnya, Synology tidak mengungkapkan harga resmi kedua NAS ini. Sebagai gambaran, dua NAS versi sebelumnya, DS1515+ dan DS1815+, dipasarkan dengan kisaran harga masing-masing Rp15.900.000 dan Rp17.500.000.

Inilah Deretan Fitur Google Earth Terbaru, Nomor 3 Paling Keren

Ilustrasi fitur Google Earth terbaru

Google baru saja meluncurkan aplikasi Google Earth versi anyar dengan tiga fitur terbaru yang lebih interaktif dan sosial. Tujuannya agar meningkatkan layanan Google Earth sehingga mampu menampilkan permukaan bumi secara detail.

Apa saja ketiga fitur baru Google Earth tersebut?

Pertama, Google Earth memiliki fitur Voyager atau layanan pemandu wisata interaktif pada Google Earth yang menyajikan beragam informasi dari suatu tempat secara jelas.

Fitur itu akan menawarkan lebih dari 50 perjalanan wisata interaktif dari banyak lokasi di seluruh dunia melalui Google Earth dan menampilkan konten dan komentar dari situs-situs berita.

Kedua, Google Earth memiliki fitur terbaru I’m Feeling Lucky. Dengan menekan sebuah tombol “I’m Feeling Lucky,” Anda akan diarahkan ke tempat-tempat unik yang mungkin belum Anda ketahui di antara lebih dari 20.000 lokasi acak di Google Earth.

Di tempat itu, ada sejumlah beragam penjelasan seperti fakta, sejarah, hingga rekomendasi tempat lainnya. Anda bisa mengeklik pada Knowledge Card untuk mempelajari lebih lanjut tentang hal-hal menarik itu dan melihat lebih banyak gambar.

Ketiga, Google Earth memiliki fitur 3D Maps yang memungkinkan Anda melihat suatu tempat dalam bentuk 3D dan membantu Anda mengetahui bangunan apa saja yang ada di sana.

Anda bisa memeriksa lokasi dari berbagai sudut dan Anda bisa mengirim kartu pos visual untuk teman-teman dan keluarga berisi tempat tertentu.

Fitur-fitur terbaru Google Earth ini sudah tersedia pada peramban Google Chrome dan Android, seperti dikutip dari Venture Beat. Google pun berjanji akan membawa fitur tersebut ke lebih banyak platform pada tahun ini.

Review Smartphone