Berita Hanya 4 dari 100 Sopir Uber yang Betah Bekerja Lebih dari Satu...

Hanya 4 dari 100 Sopir Uber yang Betah Bekerja Lebih dari Satu Tahun

Ilustrasi sopir Uber. [Kredit: Dallasnews.com]

Uber terus menghadapi masalah dengan para sopirnya–atau yang mereka lebih suka sebut sebagai mitra pengemudi.

Ternyata, dari perhitungan statistik, hanya 4 dari 100 sopir Uber yang betah bekerja di penyedia aplikasi pemesanan transportasi itu. The Information melaporkan bahwa hanya 4 persen orang yang mendaftar sebagai sopir Uber tercatat masih bekerja di perusahaan itu pada tahun berikutnya.

Kenapa sopir-sopir itu meninggalkan Uber? Alasan utama adalah kurangnya penghasilan yang mereka peroleh dari Uber. Banyak sopir Uber yang mengeluhkan ketidakadilan tarif untuk perjalanan jarak jauh dan tidak adanya kesempatan menerima tips dari penumpang.

Hal ini berbeda dengan Lyft, saingan utama Uber di AS, yang memungkinkan penumpang menambahkan tips kepada sopirnya. Di lingkup Indonesia, praktik serupa dilakukan oleh Go-Jek apabila penumpang memberi rating 5 bintang kepada pengemudi. Sedangkan Grab dan Uber masih memungkinkan penumpang memberi tips berupa uang tunai.

Menanggapi hal tersebut, juru bicara Uber menyatakan, “Kami memahami kebutuhan untuk memperbaiki hubungan dengan mitra pengemudi dan pengalaman mereka menggunakan Uber. Kami sedang meningkatkan produk, kebijakan, layanan pelanggan, dan cara komunikasi kami.”

Seperti dilansir CNBC, Uber sedang mempertimbangkan untuk memberi bonus yang lebih tinggi kepada sopir dan menambahkan fitur pemberian tips agar sopir-sopir mereka lebih puas dan setia terhadap Uber.

Cara Curang Uber

Pada pekan lalu, publik sempat dihebohkan dengan penemuan cara curang yang sempat dipakai Uber untuk mengelabui penumpang dan sopirnya. Uber dituduh melakukan manipulasi tarif oleh salah satu sopirnya di Los Angeles, Sophano Van.

[BACA: Begini Cara Ilegal Uber untuk Kurangi Pemasukan Sopir]

Sophano mengklaim bahwa ketika penumpang Uber memesan mobil, ia akan disuguhi tarif di muka berdasarkan rute perjalanan yang lebih jauh dan durasinya lebih lama. Di sisi lain, sopir Uber akan diberikan tarif berdasarkan rute dan durasi perjalanan yang lebih pendek dan singkat. Walhasil, tarif yang diberikan kepada penumpang akan lebih mahal daripada tarif kepada sopir, tanpa sepengetahuan kedua belah pihak.

Dengan demikian, Uber menerima pemasukan dari penumpang lebih tinggi daripada komisi yang mereka bayarkan kepada sopir. Tidak jelas ke mana Uber mengalokasikan selisih tarif ini.

Sophano pun mengklaim Uber melakukan pelanggaran kontrak, penipuan, persaingan tidak sehat, dan tindakan memperkaya diri sendiri secara ilegal.

Comments

comments

NO COMMENTS

Leave a Reply