Berita Sering Promo Produk Terselubung, Rihanna dan Para “Selebgram” Dapat Peringatan Keras

Sering Promo Produk Terselubung, Rihanna dan Para “Selebgram” Dapat Peringatan Keras

Rihanna

Para selebritis dan influencer di AS, seperti Rihanna dan Kim Kardashian, mendapat peringatan keras dari Pemerintah AS terkait seringnya mereka mempromosikan produk orang lain (endorse) secara terselubung di Instagram.

Badan Kepuasan Pelanggan di AS telah mengirimkan surat pemberitahuan kepada 90 tokoh dan perusahaan pemasaran terkait permasalahan tersebut. Ini pertama kalinya Pemerintah mengurus masalah tersebut. Grup advokasi pun menuding Instagram menjadi agen pemasangan iklan yang “menjijikkan”.

Komisi Persaingan Usaha AS menegaskan peraturan yang menyebut bahwa siapa pun yang meng-endorse suatu merek harus “jelas dan tegas” menyebutkannya. Jika produk endorse itu berbayar atau ada hubungan dengan bisnis atau keluarga, agen pemasaran yang harus mengurusnya.

Selama ini, peraturan di AS mengharuskan promosi produk di media sosial ditandai dengan tagar #ad atau #spon (sponsored). Tetapi, masih banyak orang yang mengabaikannya, menyembunyikan tagar itu di antara tagar-tagar lainnya, atau menaruh tagar itu di ujung keterangan foto yang sangat panjang.

Grup advokasi Public Citizen telah melakukan investigasi pada tahun lalu kepada 113 artis dan “selebgram” (istilah bagi tokoh-tokoh dengan banyak follower di Instagram) yang meng-endorse merek tanpa pemberitahuan.

“Instagram melakukan pemasaran yang liar dan mengincar anak muda, terutama perempuan,” kata grup advokasi tersebut, seperti dikutip BBC.

“Belum jelas apakah pengguna Instagram harus membayar ketika mem-posting sebuah produk endorsement. Karena itu, sebuah merek sering menggunakan influencer pemasaran untuk merangkul pelanggan muda,” ucap mereka.

Bagaimana di Indonesia?

Menariknya, kasus teguran Pemerintah AS ini juga pernah terjadi di Indonesia. Tetapi, masalahnya lebih terkait pada pajak penghasilan para “selebgram”.

Dikutip dari Kompas.com, Direktorat Jenderal Pajak ingin mengejar pajak bagi pengguna akun yang menjual jasa atau barang di media sosial. Salah satunya ialah selebriti yang menggunakan akun Instagram-nya untuk mempromosikan suatu produk.

Contoh selebgram Indonesia. [Kredit: Kompas.com]

“Kalau ada keuntungan, ya kena pajak, gitu aja. Tarifnya normal. Pajak penghasilan sesuai keuntungan,” ujar Dirjen Pajak Ken Dwijugiasteadi (Direktur Jenderal Pajak) di Jakarta, Rabu (12/10/2016).

Ditjen Pajak sudah melakukan berbagai langkah untuk mengejar pajak dari hasil menjual jasa atau barang di Instagram. Salah satunya dengan mengecek alamat selebriti tersebut. Setelah itu, Ditjen Pajak akan mengecek nomor pokok wajib pajak (NPWP) selebriti itu dan akan mengirimkan surat ke alamat yang tertera.

“Ini otomatis dan ini link ke database Ditjen Pajak,” kata Ken. Selain Instagram, Ditjen Pajak juga akan mengejar pajak di Facebook dan forum jual beli Kaskus.

Sebelumnya, Yon Arsal (Direktur Potensi Kepatuhan dan Penerimaan Pajak, Kemenkeu) mengatakan, pemerintah kemungkinan bisa mendapatkan pemasukan hingga 1,2 miliar dolar AS atau setara Rp 15,6 triliun jika bisa menarik pajak dari kegiatan di media sosial.

Leave a Reply

Komentari artikel ini

Notifikasi tentang
avatar
wpDiscuz