Profil IT Executive Betti Alisjahbana Bicara Isu Kesetaraan Gender di Dunia TI

Betti Alisjahbana Bicara Isu Kesetaraan Gender di Dunia TI

Betti Alisjahbana (Founder, Owner, dan Komisaris QB International). [Foto: Dok. pribadi]

Isu gender diversity atau kesetaraan gender di bidang teknologi masih sesekali terdengar. Namun, Betti Alisjahbana yakin bahwa saat ini makin banyak perempuan berkiprah dan sukses di bidang teknologi, khususnya teknologi informasi (TI).

Apalagi jika dibandingkan dengan situasi pada 32 tahun lalu, saat pertama Betti mulai menggeluti bidang TI, “Belum banyak perempuan berkiprah di sana,” cetus wanita pertama yang menjabat Presiden Direktur IBM Indonesia itu.

Pernyataan Betti Alisjahbana tentu selaras dengan fakta yang ada, bahwa perempuan menjadi pemuncak kepimpinan di dunia teknologi bukanlah hal baru lagi. Betti menyebut sederet nama srikandi teknologi sebagai contohnya, seperti Dian Siswarini (CEO, XL Axiata) dan Ita Yuliati (Presiden Direktur, PT Alita Praya Mitra).

Sedangkan di luar negeri, ada nama-nama seperti Ginni Rometty (CEO, IBM), Meg Whitman (CEO, Hewlett Packard Enterprise), Safra Catz (CEO, Oracle), Susan Wojcicki (CEO, YouTube), dan Sheryl Sandberg (COO, Facebook).

[BACA: Perempuan Mulai Mendominasi Lingkungan Kerja TI di Indonesia]

Masih berkecimpung di dunia akademis sebagai Ketua Majelis Wali Amanat di Institut Teknologi Bandung (ITB), Betti melihat sendiri betapa kemampuan perempuan di bidang teknologi tidak kalah dengan pria.

Sebagai ilustrasinya, ia memamparkan, dari sebanyak 3.682 mahasiswa baru yang lolos pada seleksi penerimaan mahasiswa yang sangat ketat, pada tahun akademik 2015 – 2016, sebanyak 1.493 orang atau 40,54 % adalah perempuan. “Padahal di ITB sebagian besar program studinya adalah di bidang Sains dan Teknologi, bidang yang biasanya lebih dekat dengan laki-laki,” ujarnya.

Dalam hal predikat kelulusan, berdasarkan data wisuda pada bulan Oktober 2015, sebanyak lebih dari empat puluh persen wisudawan program sarjana dan magister yang lulus dengan predikat cum laude adalah perempuan. “Sementara untuk program Doktor, dari 19 yang lulus dengan predikat Cum Laude, sebelas di antaranya, atau 57,8 persen, adalah perempuan. Sungguh luar biasa!” tutur Betti bersemangat.

Menurut Betti, teknologi adalah bidang karier yang tepat bagi kaum perempuan. Teknologi kini telah merasuk ke berbagai sendi kehidupan, dan dapat digunakan untuk hal-hal yang produkif maupun negatif. “Perempuan perlu memainkan peranannya agar teknologi dimanfaatkan secara positif di berbagai sendi kehidupan, termasuk di dalam keluarga,” anjur wanita yang kini membangun bisnis sendiri.

[BACA: Perempuan Lulusan Bidang Sains dan Teknologi Lebih Cepat Dapat Pekerjaan]

“Mungkin yang perlu diperhatikan bagi perempuan adalah bagaimana menjaga keseimbangan antara karier dan keluarga. Tetapi menurut saya dengan kiat-kiat khusus, hal ini dapat diatasi,” imbuh penulis buku Perempuan Pemimpin: Inspirasi 10 CEO Membangun Keluarga, Karir dan Masyarakat yang membahas kiat-kiat khusus tersebut.

Berkat teknologi pula, kian besar peluang perempuan untuk masuk ke dunia kerja tanpa mengorbankan keluarga. “Dengan kemajuan di bidang TI dan telekomunikasi, kini perempuan bisa bekerja kapan saja dan dari mana saja,” ujar Betti.

Leave a Reply

Komentari artikel ini

Notifikasi tentang
avatar
wpDiscuz