Profil Onno W. Purbo Bicara Sejarah 30 Tahun Dunia TI Indonesia

Onno W. Purbo Bicara Sejarah 30 Tahun Dunia TI Indonesia

Onno W. Purbo. [Foto: Brama Setyadi/InfoKomputer]

Mencoba meringkas perjalanan panjang sejarah TI negeri ini selama 30 tahun, Onno W. Purbo menyatakan bahwa dulu di tahun 1986 belum ada akses internet seperti sekarang.

“Saya waktu itu pertama kali nyoba pakai walkie talkie disambungkan ke komputer PC jangkrik (rakitan) untuk komunikasi pakai mode RTTY (Radio Teletype). Ini cuma bisa dari satu komputer ke komputer lain. Boro-boro nge-web dan lain-lain,” ujarnya.

Onno menambahkan bahwa di tahun 1993, pihaknya mencoba mengakses internet dengan walkie talkie berkecepatan 1,2 kbps. Ia menambahkan bahwa jika ingin mentransfer file sebesar satu megabyte diperlukan waktu satu malam waktu itu.

“Telkom [waktu] itu kecepatannya sebesar 64 Kbps udah rasanya kenceng banget, gak kebayang yang namanya fiber optik, gak kebayang bisa nelepon lewat internet, gak kebayang bisa dengerin lagu lewat internet, gak kebayang bisa nonton video/Youtube di internet,” ujarnya mengenang masa itu.

Aktif di Proyek TI Kerakyatan

Sebagai tokoh TI yang banyak terlibat dengan berbagai proyek TI berorientasi kerakyatan seperti VoIP Rakyat, Wajanbolic, serta OpenBTS, Onno menyatakan bahwa selama berkecimpung dalam aneka proyek itu, ada dua tantangan utama yang dijumpainya.

Tantangan pertama menurut Onno, UU yang ada di Indonesia tidak mengizinkan rakyat mengadakan suatu layanan. Semua layanan ini harus dilakukan oleh operator. “Akibatnya hampir semua yang kita kembangkan melanggar hukum,” ujarnya terkekeh.

Sementara tantangan kedua menurutnya adalah sukarnya menyebarkan ilmu ke masyarakat Indonesia yang berjumlah 250 juta penduduk secara murah.

Namun, di atas itu semua, ada nilai-nilai kebahagiaan yang bisa menyemangatinya tetap berkarya.

“Banyak sukanya ternyata. Karena banyak orang yang menjadi pinter, apalagi bisa hidup/dapat rezeki dari ilmu yang disebarkan,” ujarnya bersemangat. Sementara dukanya terutama muncul karena dari waktu ke waktu ada saja orang yang curhat alat-alatnya di-sweeping dan diambil oleh Balai Monitoring Kominfo.

Untuk membantu masyarakat yang mengalami tindakan sweeping itu, ia mencoba menyampaikan keluhan ke Kominfo. “Saya sudah sampaikan itu ke menterinya & dirjen-nya sejak zaman Pak Sofyan Djalil jadi menteri, sampai zaman sekarang Pak Rudiantara. Cuma ternyata gak ada efek juga ya. Maklum, saya cuma rakyat biasa kali ya?” ujarnya.

Harapan Onno

Sebagai penutup, terhadap generasi muda dan kaum millennial yang nantinya akan menjadi generasi pemimpin, Onno menyampaikan harapannya. Ia menyatakan bahwa generasi sekarang diharapkan bisa banyak membaca dan berbuat baik serta memberi manfaat bagi lingkungan sekitarnya.

“Pada akhirnya, nilai seseorang tidak akan ditentukan oleh banyaknya harta, banyaknya kekayaan, tingginya pangkat dan jabatan, tingginya gelar, banyaknya ilmu. Nilai seseorang akan lebih ditentukan oleh berapa besar/banyak umat manusia yang memperoleh manfaat dari seseorang tersebut,” tukasnya.

Artikel ini merupakan bagian dari Cover Story spesial wawancara 30 tokoh TI nasional dalam rangka ulang tahun ke-30 InfoKomputer. Temukan artikel lengkapnya di sini dan di sini.

Comments

comments

NO COMMENTS

Leave a Reply