Profil IT Executive Sri Widowati: Membuat Dunia Lebih Terhubung dengan Facebook

Sri Widowati: Membuat Dunia Lebih Terhubung dengan Facebook

Sri Widowati (Country Manager, Facebook Indonesia). [Foto: Dok. pribadi]

Berpindah bidang industri bukanlah satu hal yang unik bagi Sri Widowati. Meskipun memiliki latar belakang pendidikan di bidang finansial, wanita yang akrab dipanggil Wido ini memutuskan pindah ke dunia marketing saat bekerja di Unilever. “Hal itu terjadi 20 tahun yang lalu dan saya tidak menyesali keputusan tersebut,” ungkap Wido.

Ia pun menyambut dengan semangat ketika diminta menangani Unilever regional dan pindah ke Bangkok. “Pengalaman tersebut membuat saya terpapar pada segmen yang lebih luas dan belajar bagaimana bekerja dalam lingkungan multicultural,” tambah Wido.

“Petualangan” Wido pun kini berlanjut setelah ia dipercaya menjadi Country Manager Facebook di Indonesia. “Teknologi adalah industri yang dinamis dan cepat berubah. Saya rasa aspek ini membawa angin segar bagi karier saya,” ungkap Wido ketika ditanya mengapa ia bersedia mengambil posisi tersebut.

Wido juga melihat, posisinya sekarang memungkinkan dia membantu perusahaan kecil maupun besar di Indonesia. “Misi kami adalah membantu mitra kami menumbuhkan bisnis dan mencapai tujuan bisnis mereka,” tambah Wido. Hal itu bisa dicapai jika Facebook bisa menjadi wadah yang menghubungkan pengguna dengan hal-hal yang ia sukai. “Kekuatan dari komunitas Facebook bergantung dari keterhubungan dan percakapan yang otentik dan personal,” tambah Wido.

Wido pun memberikan tips bagi perusahaan yang ingin menjangkau calon customer melalui digital, utamanya Facebook. “Riset menunjukkan 71% orang Indonesia menggunakan mobile untuk mencari tahu produk tertentu sebelum melakukan pembelian,” ungkap Wido. Dengan begitu, setiap perusahaan harus berpikir mobile-first saat membangun aset digitalnya.

Tips lain adalah membuat kreativitas yang mampu menarik perhatian konsumen. Kreativitas tersebut juga harus dibarengi pesan yang tepat untuk setiap tahapan perjalanan berbelanja konsumen. Yang tak kalah penting adalah mengukur dampak dari setiap perjalanan tersebut dan mengkonsolidasikannya dalam satu tampilan. Dengan begitu, perusahaan bisa menganalisis mana tahapan yang efektif dan mana yang tidak.

Menangkal Hoax

Sebagai media sosial paling populer di dunia, Facebook memiliki posisi strategis sebagai penyebar informasi. Akan tetapi, gelombang berita bohong (hoax) yang belakangan membanjiri media sosial membuat posisi Facebook pun mendapat perhatian. Banyak pihak menganggap, Facebook seharusnya bisa berperan aktif dalam menghentikan gelombang hoax tersebut.

Menanggapi soal ini, Wido sepakat dengan anggapan tersebut. “Tujuan kami adalah menghubungkan orang-orang dengan berita yang bermakna bagi mereka (pengguna. red), dan kami memahami mereka menginginkan informasi yang akurat,” ungkap Wido. Karena itu, Facebook menyiapkan beberapa cara untuk mengatasi masalah hoax ini. Salah satunya adalah menyediakan mekanisme pelaporan yang lebih mudah bagi pengguna Facebook jika mendapati keberadaan berita bohong.

Cara lain adalah dengan melibatkan pihak ketiga untuk menentukan apakah sebuah berita itu bohong atau tidak. “Kami telah memulai sebuah program kerja sama dengan International Fact-Checking Network di Poynter,” tambah Wido. Posting yang dianggap hoax akan dikirimkan ke organisasi ini untuk dicek kebenarannya. Jika terbukti hoax, Facebook akan memberikan tautan ke artikel yang memberikan informasi sebenarnya.

Akan tetapi, Wido juga mengingatkan, masalah berita bohong ini kompleks dari sisi teknis maupun filosofis. “Kami menyakini pentingnya memberikan orang kemampuan untuk menyuarakan pendapat mereka,” ungkap Wido.

Jika menerapkan aturan yang terlalu ketat, Facebook khawatir pengguna akan enggan untuk berbagi pendapat atau melakukan kesalahan saat melakukan posting. “Tentunya kami tidak ingin menjadi penentu kebenaran,” ungkap Wido. Karena itulah Wido beranggapan pengguna Facebook maupun keterlibatan pihak ketiga akan membuat sistem penangkal hoax ini berjalan lebih adil.

Tantangan memang tidak mudah, namun Wido mengaku selalu mengingat salah satu ungkapan yang menjadi mantra di Facebook: the journey is only 1 % finished. ”Saya suka sekali ungkapan ini karena memberi karyawan rasa memiliki atas budaya perusahaan dan juga misi kami untuk membuat dunia lebih terbuka dan terhubung,” ujar Wido.

Cara Facebook Menangkis Hoax

  1. Proses Pelaporan yang Mudah. Facebook sedang mencoba beberapa cara untuk mempermudah pengguna melaporkan hoax. Salah satunya, pengguna Facebook bisa mengeklik sudut kanan atas sebuah posting jika menganggap berita itu palsu.
  2. Kerja Sama dengan Pihak Ketiga. Facebook akan melakukan kerja sama dengan International Fact-Checking Network di Poynter untuk mendeteksi kebenaran sebuah berita. Jika berita itu palsu, Facebook akan memberikan tanda khusus di posting itu dan memberikan tautan ke berita yang benar. Sementara untuk artikel yang kebenarannya diperdebatkan, pengguna akan mendapat tanda peringatan saat akan membagi artikel tersebut.
  3. Berbagi Informasi dengan Benar. Facebook mendapati pola bahwa ketika pengguna enggan membagikan (share) sebuah konten, itu karena karena konten tersebut dianggap menyesatkan dalam beberapa hal. Facebook akan menyempurnakan algoritmanya agar konten seperti itu ini tidak muncul di timeline pengguna.
  4. Memutus Insentif Finansial. Munculnya banyak berita palsu disinyalir memiliki motif finansial. Penyebar hoax menyamar sebagai organisasi media terkenal dan memuat hoax agar pengguna mengakses situs mereka (yang berisi iklan). Untuk motif seperti ini, Facebook akan mengeliminasi pembelian Facebook Ads untuk domain yang sifatnya menipu. Facebook juga akan menganalisis situs untuk mendeteksi tindakan yang bisa dilakukan agar tidak menjebak pengguna.

Leave a Reply

Komentari artikel ini

Notifikasi tentang
avatar
wpDiscuz