Profil Transformasi Evan Spiegel, Dari Remaja Bengal Menjadi Miliarder Termuda di Dunia

Transformasi Evan Spiegel, Dari Remaja Bengal Menjadi Miliarder Termuda di Dunia

Evan Spiegel dan Miranda Kerr. [Kredit: Mirror]

Miranda Kerr tersenyum cerah. Wajahnya berbinar-binar. Model terkenal Victoria Secret tersebut baru saja menerima lamaran dari tunangannya, Evan Spiegel, pendiri Snapchat dan CEO Snap Inc. Kerr memamerkan tanda pertunangannya, sebuah cincin berlian senilai Rp720 juta, melalui sebuah foto di akun Instagram-nya.

Foto tersebut dikombinasikan dengan karakter bitmoji yang menggambarkan Evan Spiegel sedang berlutut di hadapan Miranda Kerr, membawa cincin, serta mengucapkan “Marry me!” Oleh Kerr, foto Instagram itu sendiri diberi judul (caption) “I said yes!!!”.

 

Kisah pertunangan tersebut sengaja kami angkat sebagai pembuka karena keunikannya, relatif jarang pesohor dari dunia teknologi informasi bertunangan (bahkan sekadar berkencan) dengan selebritis dunia “gemerlap”.

Jadi, siapakah Evan Spiegel?

Terlahir dengan nama Evan Thomas Spiegel, dia adalah seorang pengusaha yang mendirikan Snapchat bersama dengan dua orang rekannya, yaitu Bobby Murphy and Reggie Brown. Snapchat sendiri dikenal sebagai sebuah aplikasi media sosial yang popularitasnya melesat dengan cepat, salah satunya berkat fitur penghapusan pesan foto secara otomatis yang dimilikinya.

Lahir dari Keluarga Pengacara

Evan Spiegel lahir pada tanggal 4 Juni 1990 di Los Angeles, California. Ayahnya bernama John W. Spiegel, berprofesi sebagai seorang pengacara, dan ibunya bernama Melissa Ann Thomas, seorang pengacara juga.

Kedua orangtua Evan Spiegel adalah pengacara jebolan sekolah hukum favorit dan keduanya memiliki rekam jejak yang cemerlang di dunia hukum. Tidak mengherankan bila keluarga Spiegel berlimpah secara materi. Bayangkan, ketika Evan Spiegel masih remaja, ia tinggal bersama ayah dan ibunya di sebuah rumah mewah bernilai 2 juta dollar AS, memiliki tiga buah mobil Lexus, sebuah mobil tua Mustang 1966 yang direstorasi, dan sebuah SUV mewah Cadillac Escalade.

Sayang sekali, kebahagiaan keluarga Spiegel harus berakhir ketika John dan Melissa bercerai pada tahun 2007, saat Evan masih berusia tujuh belas tahun.

Barangkali untuk menghibur diri, John membeli rumah yang jauh lebih mewah lagi, seharga 3,3 juta dollar AS. Tidak berhenti sampai di situ, John mempekerjakan ahli dekor dari serial televisi Friends untuk mengerjakan interiornya.

Evan remaja rupanya sudah memiliki kemampuan bernegosiasi dan berbisnis, walaupun saat itu dijalankan dengan cara kurang tepat. Memanfaatkan rasa bersalah ayahnya akibat perceraian itu, Evan meminta sebuah kamar dengan tempat tidur kulit berwarna putih berukuran king size, lemari yang dirancangnya sendiri, serta satu set komputer canggih yang terkoneksi dengan home theater di ruang bawah tanah (basement).

Sering Didenda

Dampak perceraian kedua orangtuanya tidak berhenti sampai di situ. Evan Spiegel menjadi remaja yang doyan berpesta. Masih untung dia tidak terjatuh ke dalam pelukan narkoba. Namun, tidak urung salah satu pesta yang diselenggarakannya membawa korban seorang gadis yang harus dilarikan ke rumah sakit dengan status darurat.

Pesta-pesta itu tentu membutuhkan biaya yang cukup besar sehingga Spiegel sering didenda oleh bank karena overdraft (menarik uang tunai yang melebihi saldo). Ketika ayahnya datang untuk menawarkan uang tunai agar terhindar dari denda overdraft, Evan Spiegel kembali mencoba “berbisnis” dengan ayahnya dan meminta sebuah mobil BMW baru, termasuk uang saku dua ribu dollar AS per bulan untuk biaya makan, pakaian, dan hiburan.

Kali ini rupanya Evan tidak berhasil memperdaya John yang menolak mentah-mentah permintaannya. Namun Evan membalas ayahnya dengan sebelas tagihan denda overdraft yang datang hanya dalam waktu beberapa hari. Kejadian ini menimbulkan pertengkaran hebat sehingga Evan kemudian memutuskan untuk tinggal dengan ibunya.

Entah bujuk rayu apa yang dilancarkan Evan pada ibunya, pada akhirnya sang ibu luluh dan membelikan Evan sebuah BMW yang diidamkannya. Meski demikian, Evan tidak menunjukkan sikap berterima kasih karena tak perlu waktu lama, dia sudah mendapatkan surat tilang karena mengebut dengan kecepatan 62 mph (sekitar 100 km per jam) pada zona 35 mph (sekitar 56 km per jam).

“Ketika pertama kali mengerjakan Snapchat pada tahun 2011, itu hanyalah sebuah mainan. Namun mengutip Eames: ‘Mainan tidaklah sepolos kelihatannya. Mainan dan games menjadi pembuka dari ide-ide yang serius’,” kata Evan Spiegel.

Kenakalan Evan Spiegel tersebut barangkali hanyalah ungkapan kekecewaan atas perceraian orangtuanya karena di balik itu sebenarnya dia adalah sosok pekerja keras. Ketika masih SMA, Evan mengambil kursus desain di Otis College of Art and Design dan melanjutkan kursus desain tersebut di  Art Center College of Design tepat sebelum memutuskan untuk kuliah di Stanford University. Masih di tingkat SMA, Evan juga sempat menjadi sales minuman energi Red Bull.

Ketika kuliah, Evan juga memanfaatkan waktu luangnya dengan beberapa kegiatan, seperti menjadi pekerja paruh waktu di sebuah perusahaan biomedis, menjadi instruktur di Cape Town, Afrika Selatan, dan juga bekerja di Intuit, Inc. Di sini Evan mengerjakan proyek yang disebut dengan txtWeb.

Kegiatan-kegiatan yang dilakoni oleh Evan tersebut membawanya mengenal Photoshop dan desain web, bekal penting yang kelak membawanya menuju kesuksesan.

Diawali Picaboo

Salah satu titik penting dalam hidupnya adalah ketika Evan bergabung ke dalam komunitas Kappa Sigma yang ada di Stanford University. Pada salah satu pesta yang diadakan oleh Kappa Sigma, Evan bertemu dengan Bobby Murphy dan Reggie Brown yang akhirnya mendirikan Snapchat.

Perusahaan yang tadinya bernama sama dengan aplikasi Snapchat tersebut akhirnya berganti nama menjadi Snap, Inc, supaya lebih luwes karena tidak harus selalu berasosiasi dengan Snapchat. Faktanya, Snap kini menaungi setidaknya dua produk populer, yaitu aplikasi Snapchat dan kacamata Spectacles.

Snapchat sebenarnya bukanlah aplikasi pertama yang dihasilkan oleh Evan Spiegel. Sebelumnya dia pernah mengembangkan aplikasi bernama Picaboo, sebuah aplikasi untuk berbagi foto yang akan otomatis menghapus foto tersebut dalam waktu sepuluh detik setelah dilihat oleh si penerima. Konsep yang sangat mirip dengan Snapchat, bukan?

Namun entah mengapa, meskipun mirip, aplikasi Picaboo ini bisa dibilang gagal total. Setelah konsepnya sedikit dipoles dan berubah menjadi Snapchat, barulah aplikasi ini meledak.

Demi terus memelihara dan mengembangkan Snapchat, Evan akhirnya memutuskan untuk meninggalkan kuliahnya di Stanford dan memilih berkonsentrasi sebagai CEO Snap. Ini merupakan sebuah keputusan yang berani meski akhirnya terbukti bahwa perusahaan yang didirikannya tersebut terus berkembang.

Evan bahkan juga berani menolak tawaran Facebook yang hendak mengakuisisi Snap dengan harga tiga miliar dolar AS. Evan meyakini bahwa Snap akan terus berkembang dan memiliki masa depan yang cerah.

Menurut Forbes, Evan pernah berstatus sebagai miliarder termuda di dunia dengan kekayaan bersih sebesar kurang lebih 2,1 miliar dollar AS. Namun, setelah Snap sukses melakukan IPO (Initial Public Offering/penawaran saham perdana) pada awal Maret silam, kekayaannya bertambah lebih dari dua kali lipat menjadi sekitar 5,2 miliar dollar AS.

Evan Spiegel dan Bobby Murphy, dua pendiri Snapchat.

Meskipun telah meraih kesuksesan, bukan berarti perjalanan karier Evan berjalan mulus. Beberapa masalah datang menerpa seiring dengan datangnya kesuksesan. Dua yang paling berat adalah ketika Reggie Brown mengajukan tuntutan hukum karena merasa disisihkan dengan paksa dan ketika kumpulan e-mail Evan semasa remaja, saat berada di Kappa Sigma, bocor ke publik.

Masalah yang pertama berhasil diselesaikan secara hukum dan Reggie Brown mendapatkan kompensasi yang besarnya tidak disebutkan. Sementara masalah yang kedua adalah bocornya surel pribadi Evan yang berisi nada pelecehan terhadap perempuan. Menanggapi hal ini, Evan mengatakan bahwa semasa remaja dia memang brengsek dan memohon maaf akan hal tersebut, sembari mengatakan bahwa kini dia telah berubah dan isi surel tersebut tak lagi menggambarkan sikapnya terhadap perempuan.

Dari Evan Spiegel, kita bisa belajar bahwa meski memiliki masa lalu yang kurang baik, namun sepanjang mau berubah dan bekerja keras, kesuksesan tetaplah bisa diraih.

Leave a Reply

Komentari artikel ini

Notifikasi tentang
avatar
wpDiscuz