Fitur Enterprise Belajar Hybrid Cloud dari Sinar Mas Land dan IBM

Belajar Hybrid Cloud dari Sinar Mas Land dan IBM

“Jangan pindah ke cloud jika people dan process-nya belum siap” Irvan Yasni (Chief Technical Officer Sinar Mas Land)

Apakah perusahaan harus mengadopsi cloud?

Menurut Irvan Yasni (CTO Sinar Mas Land), pertanyaan tersebut sudah tidak relevan lagi. “Menurut saya, mau tidak mau kita harus ke cloud,” ungkap Irvan. Ia mengatakan hal itu di depan puluhan peserta seminar “Modernize Your Storage Infrastructure with Hybrid and Cloud” yang diselenggarakan IBM bersama InfoKomputer.

Adopsi cloud menjadi pilihan karena berbagai tantangan yang muncul dari para stakeholder. Pemimpin perusahaan atau CEO menuntut CIO untuk mendukung inovasi bisnis dengan cepat. Sementara di sisi lain, CFO sering kali menanyakan RoI (Return on Investment) dari investasi IT yang harus dilakukan. Belum lagi tuntutan dari stakeholder lain, seperti technology principal yang terus mengurangi durasi support produknya, serta customer yang selalu membandingkan layanan kita dengan pengalaman mereka selama ini.

Dengan semua tuntutan tersebut, Irvan melihat adopsi cloud sebagai jawaban. Hal inilah yang menjelaskan mengapa Sinar Mas Land telah mengadopsi cloud sejak tahun 2015. Saat ini, sekitar 80% workload mereka sudah ada di cloud.

Pandai-pandai Menimbang

Wacana pindah ke cloud muncul ketika Sinar Mas Land menghadapi kekurangan kapasitas di data center-nya. “Kala itu kita dihadapkan pada dua pilihan: menambah kapasitas atau memindahkan sebagian ke cloud,” cerita Irvan. Irvan pun kemudian melakukan perhitungan dari dua pilihan tersebut.

Ketika menambah kapasitas, perusahaan akan mengeluarkan dana untuk membeli hardware. Namun perhitungan tidak cukup sampai situ. Perusahaan juga harus memperhitungkan biaya lain seperti facility cost. “Hal ini yang sering lupa dihitung oleh orang TI, padahal angkanya bisa 10% dari total opex (operating expenditure) kita,” ungkap Irvan.

Faktor lain yang harus diperhitungkan adalah cost ketika terjadi downtime. “Karena kita sama-sama tahu, mengelola data center tidak mudah, sehingga resiko terjadinya down selalu ada,” tambah Irvan.

Dari semua perhitungan tersebut, akhirnya cloud menjadi pilihan yang lebih efisien. “Dalam kasus kami, kira-kira nilai [untuk menambah kapasitas] sekitar 40% lebih tinggi.” Irvan menggambarkan perhitungannya.

Sedangkan saat memilih aplikasi mana yang pindah ke cloud, Irvan memiliki beberapa pertimbangan. Yang pertama adalah compliance. Karena sebagian unit mereka berada di industri yang highly-regulated, Sinar Mas Land harus memastikan workload di sektor tersebut tetap memenuhi standar.

Faktor lainnya adalah soal performa. “Jangan sampai ketika pindah ke cloud, performa aplikasi jadi menurun,” tambah Irvan.

Faktor lain yang tak kalah penting adalah harga. Salah satu kelebihan cloud adalah efisiensi, namun tidak semua workload cocok ke cloud. “Contohnya untuk virtual desktop, akan tiga kali lebih mahal jika dipindahkan ke cloud,” ungkap Irvan.

Namun Irvan juga mengingatkan, hitung-hitungan soal harga akan terus berubah mengingat persaingan di penyedia cloud yang dinamis. Artinya, jika hari ini lebih mahal di cloud, esok bisa jadi justru lebih murah dibanding ketika dipasang di on-premise.

People and Process

Setelah 1,5 tahun menjalani hybrid cloud, Irvan pun memiliki beberapa insight yang bisa dibagi. Yang pertama adalah perusahaan harus benar-benar selektif memilih penyedia cloud. “Karena ketika sudah pindah ke cloud, menarik balik data ke on-premise adalah painful process,” ungkap Irvan.

Perusahaan juga harus menyiapkan perubahan di sisi process maupun people. Contohnya secara operasional keseharian, visibility yang dimiliki tim Operations akan berkurang. “Mereka juga harus siap dengan adanya layer komunikasi baru, yaitu ke penyedia cloud,” tambah Irvan.

Fungsi konvensional seperti DC dan DRC juga tidak relevan lagi. “Yang muncul adalah fungsi-fungsi seperti backup system, restore system, dan DR-system yang cloud-ready,” ungkap Irvan.

Sedangkan di sisi security, Irvan juga melihat adanya perubahan. “Ketika kita on-premise, semua berada di kontrol kita. Sementara kalau di cloud, ada hal-hal yang harus kita pasrahkan [ke penyedia cloud],” ungkap Irvan.

Selain itu, Irvan juga mengingatkan para CIO kalau tidak semua lingkup security menjadi tanggung jawab penyedia cloud. “Cloud provider lebih bertanggung jawab terhadap security di sisi platform, seperti access control atau data sovereignity,” tambah Irvan.

Sementara untuk data security, tetap menjadi tanggung jawab perusahaan. Karena itu, perusahaan tetap harus melakukan langkah pengamanan, seperti memasang antivirus atau data encryption. “Sayangnya, hal ini biasanya tidak pernah dibicarakan penyedia cloud,” cerita Irvan. Karena itu, terkait security di cloud, Irvan menyarankan perusahaan menghitung risk apetite dari tiap workload. “Dari situ, kita tinggal cari jalan tengahnya,” tambah Irvan.

Meski memiliki banyak tantangan, Sinar Mas land sendiri akan terus menambah kapasitas di sisi cloud. Bahkan Irvan melihat, bukan tidak mungkin suatu hari semua infrastruktur mereka ada di cloud. “Ketika teknologi terus berkembang dan penyedia cloud bisa menyediakan fasilitas enterprise-grade, saya rasa semua infrastruktur akan pindah ke cloud,” tambah Irvan.

Siapkan Infrastruktur yang Tepat

“Agar bisa memanfaatkan cloud dengan optimal, perusahaan harus mulai dengan pendekatan Software-defined Data Center,” kata Craig McKenna (Director Asia Pacific Storage, IBM Systems for Cloud Platform).

Dari kacamata IBM sendiri, cloud pada dasarnya adalah perubahan platform untuk menghadirkan IT services. “Platform itu bisa ada di dalam maupun di luar data center perusahaan,” ungkap Craig McKenna (Director Asia Pacific Storage, IBM Systems for Cloud Platform).

Karena itu, Craig memandang pentingnya perusahaan untuk mengadopsi pendekatan software-defined data center (SDDC). Karena dengan pendekatan SDDC, perusahaan bisa menghasilkan IT services secara dinamis, baik dengan pendekatan on-premise, cloud, atau gabungan keduanya.

Konsep SDDC ini kian relevan di sektor storage seiring kemunculan teknologi flash dan meledaknya jumlah data.

Ketika flash storage semakin terjangkau, perusahaan kini memiliki opsi untuk memanfaatkan flash sebagai media penyimpan utamanya. Namun ketika data bertambah dengan kecepatan eksponensial, menyimpan sebagian data ke cloud demi efisiensi juga menjadi pilihan menarik.

Agar konfigurasi ini bisa optimal, dibutuhkan sistem storage yang memiliki kepandaian untuk menyimpan data pada media yang tepat.

IBM sendiri mengaku memiliki kemampuan itu melalui teknologi Easy Tier. “Data yang butuh akses cepat akan ditaruh di flash, sementara data yang “cold” akan ditaruh di cloud,” ungkap Benny Abrar (Country Manager, Storage Solution, IBM Indonesia). Selain itu ada juga teknologi Spectrum Scale yang bisa menurunkan biaya sampai 90% dengan cara menjalankan automatic policy untuk storage tiering.

Craig juga mengingatkan, ada perbedaan mendasar antara cloud computing dan cloud storage. “Memindahkan aplikasi bisa dibilang sederhana karena lebih melibatkan logic,” ungkap Craig.

Namun memindahkan aplikasi membutuhkan proses yang lebih rumit karena data tidak bisa begitu saja pindah dari on-premise ke cloud maupun sebaliknya. Karena itu, memiliki sistem storage yang cerdas adalah kunci kesuksesan adopsi hybrid cloud.

Comments

comments