Fitur Enterprise Enam Langkah Menjadi Digital Native Enterprise

Enam Langkah Menjadi Digital Native Enterprise

Sandra Ng (Group Vice President, Practice Group, IDC Asia Pacific), dalam acara VMware CIO Leadership Forum 2017 di Singapura. [Foto: Liana T/InfoKomputer]

SINGAPURA, InfoKomputer – Transformasi digital bukan sekadar mendigitalisasi korporasi. Transformasi digital adalah mengubah cara perusahaan dan organisasi beroperasi, berinteraksi, dan berinovasi. Dan satu-satunya cara untuk menjadi yang terdepan dalam transformasi digital adalah dengan menjadi digital native enterprise.

“Pada dasarnya, digital native adalah seseorang yang lahir dan dibesarkan di era teknologi digital, sehigga ia begitu akrab dengan komputer, internat, dan digital tool. Dan digital native enterprise adalah enterprise yang jajaran eksekutif maupun karyawannya memercayai, berpikir, dan bertindak seperti seorang digital native,” papar Sandra Ng (Group Vice President, Practice Group, IDC Asia Pacific).

Untuk menjadi sebuah digital native enterprise, karakter digital native harus tertanam dalam DNA perusahaan. Dan bertransformasi menjadi digital native enterprise disebut Sandra Ng sebagai cara untuk meraih posisi terdepan di era ekonomi digital. Bagaimana caranya?

Dalam acara CIO Leadership Forum 2017 yang digelar VMware di Singapura tanggal 3 – 4 Mei 2017 lalu, Sandra mengemukakan digital native enterprise framework yang dapat membantu perusahaan mengakselerasi perjalanan transformasi digitalnya.

[BACA: VMware Ingin Patahkan 5 Mitos di Dunia TI]

Framework yang disusun oleh IDC ini mencakup enam elemen. Elemen pertama mengharuskan perusahaan memahami perubahan model bisnis, “Ada perubahan business model dalam setiap digital disruption yang terjadi,” ungkap wanita yang telah berkecimpung selama 20 tahun di bidang konsultasi teknologi ini.

Sampai dengan tahun 2020 nanti, separuh dari top 1000 perusahaan di Asia akan menggantungkan kesuksesan bisnisnya pada kemampuan menciptakan produk, layanan dan pengalaman yang dimampukan (digitally-enabled) dan ditingkatkan secara digital (digitally-enhanced).

Elemen kedua adalah memahami strategi dan visi transformasi digital, serta mengukur tingkat kematangan organisasi dalam menjalankan transformasi digital.

Di bagian ini, Sandra Ng menyarankan para pemimpin TI memerhatikan sepuluh teknologi akselerator transformasi digital: cloud, mobility, big data analytics, social, IoT, next generation security, 3D printing, VR/AR, cognitive AI, dan robotics. Sementara dari sisi kemahiran, ada macam mastery yang sebaiknya dikembangkan: leadership mastery, relationship mastery, information mastery, operational mastery, dan talent mastery.

Elemen ketiga mengharuskan perusahaan memerhatikan struktur organisasi untuk mendukung transformasi digital. Idealnya, the dream team untuk transformasi digital harus mencakup CEO, CTO, CDO, COO, CIO, dan CFO.

Khususnya untuk CIO, Sandra menekankan bahwa perjalanan menuju digital native enterprise membutuhkan pemimpin TI yang mampu berpikir strategis. Strategic CIO tidak hanya mampu melakukan modernisasi terhadap departemen maupun lingkungan TI perusahaan, tetapi juga dapat menjadi penasihat bagi jajaran manajemen, khususnya tentang teknologi-teknologi terkini.

Inovasi adalah elemen penting dalam transformasi digital dan untuk menjadi digital native enterprise, perusahaan harus mampu menciptakan portofolio inovasi yang berimbang. Di era digital ini, inovasi seringkali diasosiasikan dengan disruptive innovation padahal ini yang paling susah diimplementasikan. Oleh karena itu Sandra menyarankan perusahaan untuk tidak hanya fokus pada inovasi disruptif.

Elemen keempat berbunyi perusahaan harus dapat menyeimbangkan antara inovasi yang bersifat incremental (optimalisasi atau peningkatan produk dan layanan yang sudah ada, dan pengalaman pelanggan); adaptif (inovasi untuk merespon perubahan yang datang dari pelanggan atau pasar); dan disruptif (inovasi untuk mengembangkan produk, layanan, dan pengalaman baru).

Mengenai elemen kelima, Sandra Ng mengatakan bahwa pengembangan produk atau product development juga harus dibenahi ketika sebuah perusahaan bercita-cita menjadi perusahaan berjiwa digital native. Dengan atribut yang berbeda antara pengembangan produk tradisional dan digital, proses tersebut akan sangat sangat berbeda.

Satu contoh saja, pengembangan produk tradisional mempertimbangkan fitur, harga dan ketersediaan sebagai fokus kompetitif. Sementara untuk produk digital, value untuk pelanggan menjadi lebih penting daripada tiga hal tersebut.

Elemen keenam adalah inisiatif dan storyboard bagi para CIO dalam memimpin transformasi digital. Ada lima langkah dalam storyboard tersebut. Dua langkah pertama sangat penting diperhatikan oleh para pemimpin TI: membuktikan departemen TI sebagai organisasi yang kredibel dalam mengelola TI dan menunjukkan kontribusi nyata departemen TI pada kinerja dan pertumbuhan bisnis

Comments

comments