Profil IT Executive Budi Rahardjo Membedah Perkembangan 30 Tahun Bidang Sekuriti TI

Budi Rahardjo Membedah Perkembangan 30 Tahun Bidang Sekuriti TI

Budi Rahardjo (Praktisi dan ahli keamanan TI). [Foto: Abdul Aziz/InfoKomputer]

Menjadi administrator komputer di salah satu layanan komputer kampus di University of Manitoba, Computing Services, Kanada menjadi awal perkenalan Budi Rahardjo dengan dunia sekuriti.

Saat itu pada sekitar tahun 1989 – 1990, Budi bertugas mendeteksi akun yang seharusnya nonaktif tetapi masih, bahkan sedang, aktif.  “Sejak itu saya mulai terlibat dengan sekuriti, tetapi belum secara serius,” ujarnya.

Baru sekembalinya ke tanah air, yakni pada sekitar akhir 1997, Budi mulai menekuni dunia sekuriti secara serius dengan membantu mengamankan KPU di tahun 1999.

Seiring perkembangan dunia TI pada umumnya, sisi sekuriti pun mengalami perkembangan yang signifikan.

Ia lantas mencontohkan, saat komputer masih memiliki prosesor dan memori yang rendah, pengamanan menggunakan kriptografi juga sangat terbatas. Akibatnya, pengamanan pun hanya ada pada sistem yang membutuhkan pengamanan sangat tinggi, misalnya di bidang militer dan di sebagian lingkungan bisnis yang sangat besar.

Seiring dengan itu, ilmu matematika juga berkembang sehingga ditemukan algoritma-algoritma yang lebih secure dan efisien. “Sekarang algoritma seperti RSA dan ECC (Elliptic Curve Cryptosystem) sudah menjadi bagian dari kehidupan kita sehari-hari,” tutur Budi. Komputer pun kini berwujud lebih pribadi menjadi smartphone dan Internet of Things (IoT).

Tak ayal, keamanan pun menjadi sebuah kebutuhan. Budi mencontohkan, pada awal dikembangkannya WWW (sekitar awal tahun 1990-an), protokol yang dikembangkan adalah HTTP yang tidak memiliki proteksi, sehingga data dapat disadap dengan mudah. Untuk mengantisipasi masalah tersebut, dikembangkan algoritma HTTPS yang diyakini dapat melindungi data dari penyadapan.

Budi berpendapat, hal yang sama pun terjadi dengan smartphone. Perangkat pribadi yang tadinya tidak ada pengamanan kini mulai disisipi pengamanan. Akibatnya, kematangan ilmu dan teknologi sekuriti membuatnya menjadi kebutuhan sehari-hari yang “tidak terlihat”.

Demikian halnya dari sisi masyarakat dan bisnis, mulai ada pemahaman (awareness) tentang pentingnya keamanan. Jika dulu kebanyakan tidak peduli, kini sudah ada beberapa industri yang memahami hal tersebut dan mewajibkan penerapan pengamanan.

Menjamurnya jenis perangkat cerdas pun akan diikuti tantangan sekuriti yang lebih berat, khususnya dengan perangkat IoT.

“Di saat yang sama, akan lebih banyak sistem yang terhubung dengan internet, sehingga akan banyak orang-orang yang akan mencoba-coba untuk menarik keuntungan dari ini. Sementara itu, jumlah SDM security masih sangat terbatas dan perkembangannya pun lambat,” urai pria yang juga menjadi dosen Institut Teknologi Bandung ini.

Meski dunia sekuriti TI memiliki tantangan, karena sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, bidang ini menurut Budi juga berpotensi meningkatkan usaha/bisnis, pun menjadi gaya hidup.

Artikel ini merupakan bagian dari Cover Story spesial wawancara 30 tokoh TI nasional dalam rangka ulang tahun ke-30 InfoKomputer. Temukan artikel lengkapnya di sini dan di sini.

Comments

comments