Profil IT Executive Johar Alam Bercerita Soal Perjalanan 30 Tahun Internet Indonesia yang Luar Biasa

Johar Alam Bercerita Soal Perjalanan 30 Tahun Internet Indonesia yang Luar Biasa

Johar Alam (Chairman, IDC Indonesia). [Foto: Abdul Aziz/InfoKomputer]

Masyarakat kerap mengeluhkan akses internet di Indonesia yang lambat dan mahal. Namun, Johar Alam siap melayani keluhan itu dengan aneka data dan fakta yang menunjukkan bahwa sebenarnya, perkembangan internet di Indonesia tergolong luar biasa.

Menurut Johar, Indonesia adalah satu dari sedikit negara di Asia Pasifik yang sudah punya local internet exchange, yaitu IIX (Indonesia Internet eXchange), yang dikelola APJII (Asosiasi Pengelola Jasa Internet Indonesia) sejak tahun 1996.

“Pertimbangan membuat local exchange itu harga. Di industri internet tahun 1994 – 1997, satu ISP berlangganan bandwidth 1 MB ke AS itu harganya US$88 ribu/bulan. Kalau Radnet mau kirim e-mail ke Indonet, harus lewat jalur luar negeri, baru kembali ke Indonesia. Jaraknya jauh, jadi lambat,” Johar berkisah.

“Kalau kita punya local exchange, Radnet ke Indonet nggak usah lewat luar negeri. Artinya, bisa hemat US$88 ribu. Kalau semua ISP di Indonesia tersambung ke exchange ini dengan traffic 3 MB saja, jadinya hemat US$270 ribuan per bulan,” lanjutnya.

Hingga sekarang, Singapura dan Australia belum punya, sedangkan Malaysia dan Filipina baru punya local exchange dalam 2 – 3 tahun terakhir. Itu pun dibantu oleh tim ahli dari Indonesia. “Jadi, kita bisa punya IIX itu achievement tersendiri yang negara lain pun belum bisa lakukan,” tukasnya.

Johar pun menceritakan proses lahirnya IIX. Di tengah rapat APJII, Johar dan dua rekannya, Marcellus Adiwinata dan Sentot, rehat ke toilet. Di ruang itu, mereka mengobrolkan konsep IIX yang ternyata sangat simpel. “Jadi, IIX itu lahirnya di WC pria kantor CBN, sambil merokok,” ucapnya sambil tergelak.

Pada perkembangannya, Johar dan rekan-rekan mendirikan OpenIXP, local exchange yang ditujukan agar pemilik jaringan non-ISP bisa ikut terhubung. OpenIXP diluncurkan tahun 2005 dan saat ini ada 722 jaringan yang tersambung di dalamnya, termasuk 90 ISP yang bergabung di IIX. Menurut data, OpenIXP adalah local exchange terbesar ketiga di dunia.

Hebatnya lagi, karena IIX dan OpenIXP dibangun dengan tujuan mulia untuk memperluas akses internet yang terjangkau, semua ISP dan pemilik jaringan yang terhubung tidak ditarik biaya sama sekali.

“Sekarang total traffic internet di Indonesia mencapai 1,277 TB per bulan. Kalau setiap 1 MB dihargai US$100, artinya negara ini kami ‘gratiskan’ akses internet senilai US$127 juta per bulan,” kata Johar.

Johar juga menyebutkan bahwa sejak tahun 1998, Indonesia termasuk satu dari lima negara di Asia Pasifik yang dianggap APNIC mampu mengatur IP address sendiri. Artinya, posisi Indonesia sejajar dengan Jepang, Tiongkok, Korea Selatan, dan Taiwan.

Tak lupa, Johar menyoroti pertumbuhan pengguna internet dan traffic yang terus melesat. “Pada tahun 2000, jumlah pengguna internet kita 500 ribu dengan traffic lokal 3 MB. Sedangkan pada 2016, pengguna internet 100 juta dan traffic lokal bisa mencapai 277 GB,” paparnya.

Pada akhirnya, Johar ingin menggarisbawahi bahwa perjalanan internet Indonesia, sejak diperkenalkan oleh Jos Luhukay dan Bagio Budiardjo pada tahun 1983 di Universitas Indonesia sampai era 4G saat ini, sangatlah patut diapresiasi.

“Sayang, orang Indonesia kurang bisa sedikit saja bangga atas apa yang sudah bangsa ini lakukan. Kita sudah take it for granted kalau akses internet lokal lebih cepat daripada ke luar negeri. Padahal, di balik itu, prosesnya panjang sekali,” pungkasnya.

Artikel ini merupakan bagian dari Cover Story spesial wawancara 30 tokoh TI nasional dalam rangka ulang tahun ke-30 InfoKomputer. Temukan artikel lengkapnya di sini dan di sini.

Comments

comments