Profil IT Executive Agus Honggo Ungkap Resep Transformasi Bisnis Distribusi TI di Metrodata

Agus Honggo Ungkap Resep Transformasi Bisnis Distribusi TI di Metrodata

Agus Honggo Widodo (Presiden Direktur, PT Synnex Metrodata Indonesia). [Foto: Abdul Aziz/InfoKomputer]

Ada masa ketika Metrodata menjual komputer seukuran lemari. Wang Computer, demikian namanya, adalah komputer di era awal 1980-an yang cuma bisa dibeli oleh perusahaan besar di Indonesia seperti Pertamina, Bank Indonesia, atau IPTN. “Kalau swasta belum bisa beli karena mahal sekali,” cerita Agus Honggo Widodo (Presiden Direktur, PT Synnex Metrodata Indonesia).

Akan tetapi munculnya Apple II, dan kemudian IBM Compatible PC, mengubah hal ini. Berkat ukurannya yang lebih kecil dan harga yang relatif lebih terjangkau, komputer generasi “baru” tersebut bisa dimiliki perusahaan maupun konsumen perorangan.

Hal inilah yang kemudian mengubah Metrodata menjadi perusahaan distribusi seperti kita kenal saat ini. “Karena begitu komputer itu menjadi portabel, jumlahnya semakin banyak. Di situlah muncul kebutuhan distribusi,” ujar Agus.

Agus ingat betul bagaimana Apple II, IBM PC, dan printer Epson dulu menjadi primadona karena begitu mudah dijual. Baru di awal 1990-an, persaingan menjadi lebih ketat ketika pabrikan Taiwan seperti Acer dan Asus mulai muncul.

Makin populernya komputer juga mendorong Metrodata membuat cabang di lima kota. “Sebelumnya kami cuma beroperasi di Jakarta. Namun di tahun 1986, kami membuka di Surabaya, Bandung, Yogya, Medan, dan Makassar. Karena kebutuhannya ada di sana,” tutur Agus.

Ketika komputer menjadi komoditas, pola bisnis pun juga berubah. “Dulu terbeli satu, untungnya satu. Sekarang terbeli seratus, untungnya paling cuma tiga,” ungkap Agus sambil tertawa lebar. Namun Agus melihat hal ini sebagai kewajaran. “Karena jumlahnya demikian besar, model bisnisnya juga berbeda,” imbuhnya.

Hadapi Perubahan Zaman

Saat ini, perkembangan teknologi pun terus mendorong Metrodata untuk bertransformasi. Software yang dulu harus diantarkan secara fisik dalam bentuk disk, misalnya, kini bisa langsung diunduh via internet. Munculnya cloud juga membuat kebutuhan computing power tidak lagi memerlukan bentuk fisik.

Agus melihat, perusahaan distribusi seperti Metrodata harus memiliki platform digital distribution. “Jika tidak, bisnis kami hanya terbatas pada distribusi perangkat fisik,” ungkapnya.

Karena itulah sejak dua tahun lalu, Metrodata telah mempersiapkan kanal digital distribution-nya. Melalui kanal ini, konsumen dapat memilih semua solusi TI yang dimiliki Metrodata, baik yang berbentuk hardware maupun software.

Untuk produk hardware, reseller kini bisa langsung melihat inventori yang dimiliki Metrodata. Mereka pun bisa berjualan produk tanpa harus menyetok barang. “Sebelumnya, mereka harus beli dulu baru bisa jualan,” kata Agus.

Sementara untuk software, Metrodata akan membuat portal yang menyediakan solusi berbasis cloud yang ditawarkan penyedia teknologi. “Jadi ibarat one-stop shopping,” tambah Agus.

Jika dianalogikan, portal yang dibangun Metrodata ini mirip seperti meteran listrik yang ada di tiap rumah. Pengguna tidak perlu tahu dari mana listrik berasal, yang harus mereka lakukan hanyalah membayar biaya sesuai tagihan. “Nah, ‘meteran’ inilah yang kami buat,” ungkap Agus. Pengguna hanya perlu berhubungan dengan Metrodata dan Metrodata yang akan mengatur semua proses dengan penyedia cloud.

Agus mengakui, konsumen sebenarnya bisa saja membeli langsung dari penyedia cloud tanpa harus melalui Metrodata. Namun Agus yakin, konsumen tetap membutuhkan pilihan. “Jika saya bisa menampilkan pilihan yang lebih banyak, pengguna tentu akan lebih mudah memilih solusi yang diinginkan,” ujarnya.

Metrodata juga akan memberikan added-value berupa local support yang akan membantu konsumen ketika dibutuhkan. Agus yakin, pendekatan ini akan membuat Metrodata kembali bisa menjawab perubahan zaman.

Satu hal yang Agus ingat adalah perkataan dari salah satu principal cloud yang menjadi mitra bisnis Metrodata. “Jika ada konsumen Indonesia yang membeli langsung ke kami padahal ada Metrodata yang memiliki jalur distribusi lengkap, berarti ada yang salah dengan Metrodata,” ungkap Agus menirukan perkataan mitranya tersebut.

Dengan kata lain, Metrodata harus memiliki value yang bisa ditawarkan ke konsumen. “Value itulah yang akan kami bangun,” pungkas Agus.

Artikel ini merupakan bagian dari Cover Story spesial wawancara 30 tokoh TI nasional dalam rangka ulang tahun ke-30 InfoKomputer. Temukan artikel lengkapnya di sini dan di sini.

Comments

comments