Arsip Harian: Jun 5, 2017

Oppo F3 Reza Rahadian Dijual Terbatas, Hanya 600 Unit

Alinna Wen, Brand Manager OPPO Indonesia dan Aryo Meidianto, Media Engagement OPPO Indonesia, menyerahkan OPPO F3 Reza Rahadian Limited Edition kepada Jong Woon Kim, COO PT Erafone Artha Retailindo sebagai bentuk simbolis kemitraan penjualan perangkat tersebut

OPPO meluncurkan OPPO F3 edisi terbatas Reza Rahadian yang menawarkan kamera depan ganda untuk “Selfie Expert – Dual Selfie Camera”.

Smartphone itu hanya tersedia 600 unit dan tersedia dalam warna hitam saja.

Alinna Wenxin (Brand Manager OPPO Indonesia) mengatakan OPPO F3 Reza Rahadian Limited Edition memiliki warna hitam pekat dengan laser engraved tanda tangan Reza Rahadian pada bagian belakangnya.

“Kami menggandeng retailer modern, Erafone. Erafone akan memasarkan F3 Reza Rahadian Limited Edition melalui jaringan penjualan offline dan online,” katanya dalam siaran persnya, Minggu.

OPPO F3 memiliki kamera depan ganda, satu lensa dengan resolusi 16 megapixel untuk selfie dan satu lensa dengan resolusi 8 megapixel untuk group selfie dengan sudut lebar 120°. OPPO F3 mengusung prosesor octa-core, RAM 4GB dan penyimpanan internal sebesar 64 GB serta MicroSD hingga 128 GB.

Anda dapat melakukan pre-order OPPO F3 Reza Rahadian Limited Edition melalui 57 jaringan toko Erafone yang tersebar di Indonesia dan toko online Erafone.com terhitung tanggal 3-8 Juni 2017.

Jong Woon Kim (COO PT Erafone Artha Retailindo) mengatakan OPPO akan menjadi distribusi eksklusif produk terbaru OPPO yaitu OPPO F3 Reza Rahadian Phone.

“Kami yakin kerja sama ini akan membantu posisi OPPO di pasar smartphone Indonesia,” pungkasnya.

Oppo membanderol F3 Reza Rahadian Limited Edition dengan banderol Rp4.399.000. Setiap pembelian perangkat itu akan mendapatkan exclusive gift yang berisi collectible item Reza Rahadian.

Selain itu, OPPO juga memberikan kesempatan kepada 25 pembeli pertama untuk bertatap muka secara langsung dengan Reza pada acara buka puasa bersama OPPO dan Reza Rahadian nantinya.

Fitur BBM Ini Bisa Bandingkan Gaji Antar Perusahaan

Ilustrasi BBM Career

BBM meluncurkan fitur terbaru BBM Career yang memudahkan pengguna mencari kerja. BBM Career memungkinkan pengguna mendapatkan info lowongan pekerjaan serta saran dan kiat dalam berkarir.

“Fitur BBM Career ini bisa menjadi solusi perekrutan dan sumber daya manusia bagi perusahaan serta menjadi tempat terbaik bagi pencari kerja untuk meraih kesempatan baru ke depannya,” kata Mathew Talbot (CEO BBM) dalam siaran persya, Senin.

Dengan BBM Career, Anda juga bisa mencari informasi tentang kisaran gaji untuk berbagai macam pekerjaan di Indonesia. Bahkan, pengguna bisa membandingkan gaji mereka dengan gaji rekan kerja lain.

“Pengguna hanya perlu memasukkan data mengenai lama bekerja di pekerjaan saat ini, jabatan, serta industri yang digeluti. Fitur ini bisa menjadi patokan bagi pengguna dalam meminta kenaikan gaji atau mengajukan gaji saat melamar pekerjaan,” ujarnya.

BBM Career akan memberikan kisaran gaji yang sesuai dengan jabatan dan lokasi berdasarkan riset pasar. Anda pun dapat menggunakan hasil tersebut untuk memastikan gaji yang diterima sesuai.

Selain itu, BBM Career juga dapat membantu pengguna mencari lowongan pekerjaan terbaik – mulai dari perusahaan konstruksi, produk konsumen, pendidikan, keuangan, asuransi, manufaktur, media, farmasi, ritel, teknologi, hingga telekomunikasi, dan banyak lagi.

Saat ini BBM memiliki puluhan juta pengguna aktif di Indonesia. Secara demografis, kebanyakan pengguna adalah profesional yang sedang berada di awal karir.

Alasan Adobe Scan Lebih Canggih daripada Aplikasi Scanner

Ilustrasi Adobe Scan

Adobe Scan meluncurkan aplikasi Adobe Scan secara gratis untuk Android dan iOS. Adobe Scan itu memudahkan pengguna untuk mengubah dokumen fisik menjadi dokumen digital.

Adobe Scan adalah pemindai dokumen fisik yang memiliki Optical Character Recognition (OCR) dan bisa mengedit dokumen lewat format PDF.

Dengan Adobe Scan, Anda bisa memindai kertas standar dan barang seperti nota belanja, kartu nama, slide PPT saat rapat bahkan tulisan di papan tulis.

Fitur Adobe Scan itu juga memiliki kemampuan Adobe Sensei yang mengusung kecerdasan buatan (A.I). Sensei dapat melakukan deteksi border, cropping otomatis, capture, koreksi perspektif, dan auto-clean untuk menghilangkan bayangan.

Aplikasi Adobe Scan juga dapat bekerja secara optimal di aplikasi Adobe Acrobat dan memiliki integrasi dengan Adobe Document Cloud serta memiliki fungsionalitas baru bernama Adobe Sign.

Cara pakainya, Anda cukup memotret dokumen melalui aplikasi itu dan save menjadi PDF. Setelah itu, Anda bisa mengubah teks fisik itu menjadi digital.

Dengan Adobe Scan, Anda bisa mengarsipkan catatan dari ruang rapat, kartu nama dari rekan baru, bukti pembayaran untuk keperluan perusahaan serta beberapa hal lainnya.

Perketat Standar Iklan, Google Luncurkan Ad Blocker di Chrome

Sundar Pichai, senior vice president of Chrome and Apps at Google Inc., speaks during the Google I/O conference in San Francisco, California, U.S., on Thursday, June 28, 2012. Google Inc., owner of the world’s most popular search engine, unveiled a cloud-computing service for building and running applications to help woo customers and challenge Amazon.com Inc.’s Web Services. Photographer: David Paul Morris/Bloomberg via Getty Images

Saat ini Google sedang mengembangkan sebuah ad blocker atau pemblokir iklan terbaru untuk peramban Chrome terbarunya.

Sridhar Ramaswamy (Senior Vice President Ads and Commerce Google) mengatakan Google akan memblokir semua iklan yang tidak sesuai standar.

“Kami mendorong iklan yang lebih baik, yang bisa diterima oleh publisher dan pengunjung,” katanya seperti dikutip Venture Beat.

Google pun telah bergabung dengan Coalition for Better Ads, sebuah koalisi yang menawarkan standar spesifik agar industri memperbaiki layanan iklan bagi konsumen.

Koalisi itu mengungkapkan ada beberapa jenis iklan yang dilarang seperti iklan yang menutup satu halaman penuh dan iklan yang memutar suara secara tiba-tiba atau video secara otomatis.

“Dalam diskusi dengan Koalisi dan kelompok industri lainnya, kami merencanakan Chrome terbaru berhenti menampilkan iklan (termasuk iklan yang dimiliki atau dilayani oleh Google di situs web yang tidak sesuai dengan standar iklan mulai awal 2018,” ujarnya.

Mulai tahun depan, Chrome akan berhenti menayangkan iklan yang tidak sesuai dengan standar. Google pun akan menggunakan peramban Chrome untuk memotong pendapatan iklan dari situs yang menyajikan iklan berkualitas rendah dan tidak sesuai standar.

Google mengakui kehadiran pemblokir iklan akan berefek buruk bagi penerbit (publisher) yang membuat konten gratis bahkan berpotensi mengancam keberlanjutan ekosistem web.

Meskipun, pendapatan Google paling besar dari iklan, kehadiran pemblokir iklan akan menghambat iklan pop-up. Google akan memberikan tenggat waktu setengah tahun kepada publisher untuk mempersiapkan diri dari alat blokirnya.

Bos Perusahaan Teknologi Kembali Hujat Kebijakan Trump Terkait Iklim

HEMPSTEAD, NY – SEPTEMBER 26: Republican presidential nominee Donald Trump waves after the Presidential Debate with Democratic presidential nominee Hillary Clinton at Hofstra University on September 26, 2016 in Hempstead, New York. The first of four debates for the 2016 Election, three Presidential and one Vice Presidential, is moderated by NBC’s Lester Holt. (Photo by Drew Angerer/Getty Images)

Beberapa pemimpin perusahaan teknologi terkemuka di dunia mengutuk kebijakan Donald Trump (Presiden Amerika Serikat) yang membuat AS keluar dari Perjanjian Iklim Paris. Padahal, perubahan iklim adalah nyata dan kebijakan AS yang keluar dari perjanjian tersebut akan memperparah situasi.

Trump memutuskan mencabut keikutsertaan Amerika dalam Perjanjian Iklim Paris karena perjanjian itu membatasi gerak pertumbuhan ekonomi AS dan mengabaikan dampak nyata dari perubahan iklim akibat emisi karbon.

Tak hanya itu, Trump pun menampik permintaan para pemimpin perusahaan Teknologi untuk tetap berada di dalam Perjanjian Iklim Paris.

Sebelumnya, Tim Cook (CEO Apple) mengirim surat kepada Trump untuk membatalkan kebijakan keluar dari Perjanjian Paris karena Apple sangat memperhatikan keramahan lingkungan dalam produknya seperti memperhatikan emisi karbon.

“Kami beroperasi hampir seluruhnya menggunakan energi terbarukan karena akan memberikan kebaikan bagi planet dan bisnis. Apple berkomitmen untuk melawan perubahan iklim dan kami tidak akan pernah bimbang,” kata Cook seperti dikutip BBC.

Selain Cook, Mark Zuckerberg (Pendiri dan CEO Facebook) menegaskan Facebook berkomitmen menggunaan energi terbarukan dalam layanannya.

“Kebijakannya (Trump) akan berdampak buruk bagi lingkungan, ekonomi, dan menempatkan anak-anak kita dalam bahaya,” ujar Zuckerberg.

Brad Smith (Presiden Microsoft) pun telah berusaha melobi pemerintah AS untuk mengikuti perjanjian iklim Paris karena akan memberikan keuntungan dalam bisnis

Sundar Pichai (CEO Google) menyampaikan perasaan serupa terkait keputusan Trump tersebut.

“Saya kecewa dengan keputusan (Trump) hari ini. Google akan tetap bekerja keras untuk lebih bersih untuk masa depan yang lebih sejahtera untuk semua,” kata Pichai.

Jack Dorsey (Pendiri dan CEO Twitter) mengkritik keras keputusan Trump yang menarik AS dari kesepakatan iklim Paris.

“Ini adalah mundur oleh pemerintah federal. Kami berada di dunia ini bersama – sama dan perlu saling bekerja bersama – sama,” tutur Dorsey melalui akun Twitter pribadinya.

Bahkan, Elon Musk (CEO Tesla dan SpaceX) pun kecewa dan langsung keluar dari dewan penasihat Trump lantaran AS keluar dari Perjanjian Iklim Paris.

“Saya meninggalkan dewan penasihat presiden. Perubahan iklim nyata. Meninggalkan (Perjanjian) Paris tidak baik untuk Amerika atau dunia,” tulis Musk di akun Twitter.

Tak hanya Musk, Rober Iger (CEO Disney) juga akan keluar dari tim penasihat Trump.

Perjanjian Iklim Paris dihadiri oleh 195 negara, termasuk Indonesia untuk meredam emisi karbon serta dampaknya bagi Bumi. Ada sekitar 148 negara yang meratifikasinya saat ini.

Bocoran Keunggulan dan Spesifikasi Speaker Pintar Siri

Ilustrasi Speaker Pintar Apple Siri

Apple akan meluncurkan speaker pintar Siri dalam ajang Worldwide Developers Conference (WWDC) pada pekan ini sekaligus menjadi produk speaker pintar pertama Apple yang akan menantang Amazon Echo dan Google Home di pasar.

“Orang-orang sangat familiar dengan gosip masalah ini,” kata Bloomberg yang memprediksi Apple baru akan mengirimkan speaker pintar Siri pada akhir tahun ini.

Spesifikasinya, speaker pintar itu berukuran ramping dan mengusung teknologi suara berbasis virtual Siri. Hebatnya, speaker pintar Apple itu bisa terintegrasi dengan line-up produk Apple.

Menurut sumber, Apple merancang speaker pintar Siri untuk lebih bagus dari kompetitornya terutama ketika menghasilkan suara. Speaker itu memiliki sensor yang dapat mengukur ukuran suara di dalam ruangan dan mengatur suara yang akan dikeluarkan secara otomatis.

Supaya bisa bersaing dengan Amazon dan Google, speaker pintar Siri itu juga dapat berfungsi sebagai Apple HomeKit untuk rumah pintar.

Saat ini perangkat Apple HomeKit baru Apple TV dan iPad yang mampu menjalankan fungsi rumah pintar seperti mengunci pintu dan mengatur perangkat lainnya.

Kehadiran speaker pintar Apple itu dapat meyakinkan pelanggan Apple Music untuk membeli produk tersebut, mengingat penjualan iPhone yang meredup. Layanan Apple Music memiliki biaya langganan senilai $10 atau sekitar Rp13 ribu perbulan dan dapat meningkatkan pendapatan Apple.

Apalagi, speaker pintar Amazon Echo atau Google Home juga mendukung Apple Music seperti dikutip arstechnica.

Sayangnya, Apple masih bungkam terhadap desain dan harga speaker pintar Apple tersebut. Sumber Bloomberg mengatakan speaker pintar Apple itu tidak memiliki layar sehingga desainnya mirip dengan Echo atau Google Home.

Enam CIO Indonesia Ungkap Inisiatif Transformasi Digital di Perusahaan Mereka

 

Ilustrasi transformasi digital. [Kredit: progressivegrocer.com]
Sebagai negara dengan jumlah penduduk yang besar, ekonomi Indonesia sangat dipengaruhi sektor konsumsi masyarakat. Dalam hal ini, kita layak merasa optimistis. Dua lembaga riset, AC Nielsen dan Danareksa Research Institute, memaparkan kalau indeks kepercayaan masyarakat di tahun ini menunjukkan sentimen positif.

Survei Nielsen, misalnya, menunjukkan Indeks Kepercayaan Konsumen (IKK) Indonesia naik terus pada tahun 2016 dan menembus angka 122 pada kuartal ketiga. Indeks ini menduduki posisi tiga terbaik di Asia Pasifik, hanya kalah dari India dan Filipina. Tak mengherankan jika Bappenas memperkirakan, perekonomian Indonesia bisa tumbuh antara 5,1 – 5,3% di tahun ini.

Sinyal positif ini tentu saja menjadi kabar bagus bagi perusahaan Indonesia. Meski begitu, bukan berarti tantangan menjadi lebih mudah. Tsunami teknologi digital membuat setiap perusahaan kini harus memiliki strategi yang tepat dan cepat untuk menjawab persaingan. Jika tidak, perusahaan-perusahaan era digital akan lebih gesit dalam menangkap peluang yang ada.

Hal inilah yang menjelaskan mengapa para CIO yang kami wawancarai menunjuk inisiatif terkait digital yang makin dalam pada tahun ini. Salah satu contohnya adalah Kalbe Farma yang menggunakan pendekatan bimodal agar bisa cepat menjawab dinamika pasar. Contoh lain adalah PT KAI yang akan berencana memberikan layanan lebih beragam bagi konsumennya yang kian digital-minded.

Pendek kata, digital akan menjadi bagian penting dari setiap gerak perusahaan saat ini. Pertanyaan besarnya, siapkah perusahaan Anda melakukan transformasi digital yang lebih dalam?

Dino Bramanto, Corporate IT Director, PT Kalbe Farma Tbk. Foto : Abdul Aziz

Dino Bramanto (Corporate IT Director, PT Kalbe Farma Tbk.)

Industri Farmasi Hadapi Tantangan Produktivitas dan Efisiensi  

Memasuki tahun 2017, Dino Bramanto (Corporate IT Director, PT Kalbe Farma Tbk.) melihat pengelolaan biaya atau cost masih menjadi tantangan besar bagi industri farmasi di Indonesia. Pasalnya, meskipun industri farmasi Indonesia tercatat sebagai yang terbesar di Asia Tenggara dan tahun lalu menduduki peringkat 23 besar di tingkat dunia, presentase impor bahan baku obatnya masih cukup tinggi.

Untuk mengimbanginya, perusahaan farmasi, termasuk Kalbe Farma tentu harus mampu meningkatkan efisiensi dan produktivitas di segala lini. Menurut Dino Bramanto, di sinilah teknologi informasi (TI) berperan.

“Kalbe terus melakukan upaya-upaya tersebut dengan secara berkelanjutan melakukan pembenahan dan implementasi dan roll out ERP (enterprise resource planning) dan aplikasi-aplikasi pendukung dalam business process yang ada di seluruh grup perusahaan. Ini adalah bagian dari IT Blue Print Group Kalbe,” papar pria yang telah menghabiskan lebih dari dua puluh tahun kariernya di bidang teknologi itu.

Dino dan timnya juga berupaya meningkatkan efisiensi dan produktivitas dengan mendukung mobilitas karyawan. Pertumbuhan perusahaan dan jumlah karyawan pada umumnya mengharuskan perusahaan menambah atau memperluas area kerja.

“Guna mengurangi pertambahan space kantor, di tahun 2017 ini kami mencoba menerapkan konsep mobility untuk beberapa divisi sebagai uji coba,” ujar Dino menjawab tantangan tersebut.

Selain itu, teknologi juga diharapkan dapat membantu bisnis memperoleh informasi yang akurat dalam rangka pengambilan keputusan strategis maupun untuk menunjang aktivitas operasional perusahaan. Untuk itu, pengembangan analytics dan business intelligence masih akan tercantum di agenda TI PT Kalbe Farma Tbk.

Tantangan lain yang tak kalah pentingnya bagi Dino Bramanto adalah memanfaatkan peluang dan momentum dari e-commerce. “Tahun lalu, Kalbe Group mulai secara khusus memisahkan bisnis konvensional dan bisnis berbasis digital. Kami melakukan kerjasama dengan pihak-pihak yang kami anggap dapat memberikan nilai tambah dan sinergi dalam hal ini,” jelas Dino.

Pada tahun ini, Kalbe Group akan melakukan relaunching bisnis berbasis digital dengan harapan bisnis digital dapat memberikan kontribusi positif dan meningkatkan bisnis perusahaan. Untuk itu, dari sisi TI, Kalbe juga memisahkan antara tim TI  digital dan nondigital (konvensional).

“Agar kami bisa lebih gesit dan responsif. Istilahnya, kita bergerak dengan cara ‘bimodal‘. Kalbe juga memanfaatkan teknologi cloud dalam mendukung inisiatif ini sehingga kecepatan dan fleksibilitas juga bisa didapat,” tandas pria penyuka fotografi ini.

Tantangan yang lebih umum, menurut Dino, adalah kejahatan maya atau cybercrime. Ia memastikan Kalbe Group akan terus mengembangkan kemampuan untuk mengantisipasi adanya gangguan keamanan yang datang dari dunia maya, terutama karena berbagai gangguan itu yang makin hari makin bervariasi wujudnya.

Debbie Nova (IT Director, Coca-Cola Amatil Indonesia). Foto: Shinta Meliza

Debbie Nova (IT Director, Coca-Cola Amatil Indonesia)

Meningkatkan Efisiensi dan Kolaborasi

Sebagai institusi bisnis yang telah beroperasi selama 25 tahun di Indonesia, Coca-Cola Amatil Indonesia (CCAI) sudah memahami betul mengenai kondisi pasar yang selalu dinamis.

“Kami terus berevolusi dan berkembang secara berkesinambungan dengan kemajuan pasar, selera konsumen, serta kemajuan teknologi,” ungkap Debbie Nova (IT Director Coca-Cola Amatil Indonesia). Hal itu diwujudkan dalam dua hal utama, yaitu pembangunan fasilitas seperti lini produksi dan mega distribution center serta pembangunan sumber daya manusia.

Dalam dua hal tersebut, Debbie melihat peran TI sangat besar. Di sisi fasilitas, misalnya, TI berperan untuk mendorong terciptanya efektivas dan efisiensi. “Utamanya sebagai enabler untuk revenue generator dalam menunjang pertumbuhan bisnis serta mengembangkan efisiensi,” tambah Debbie.

Saat ini, CCAI mengoperasikan 37 lini produksi di 8 pabrik dan 3 mega distribution center (Medan, Cibitung, dan Semarang). Mereka juga melayani 700 ribu outlet pelanggan, termasuk 350 ribu kulkas (display fridge) dalam berbagai model yang tersebar di berbagai titik di Indonesia.

Dengan cakupan yang masif tersebut, peran TI menjadi krusial dalam mendorong bisnis CCAI. Hal ini terlihat dari inisiatif CCAI di tahun ini dalam hal supply chain. “Kami akan melanjutkan memberikan visibility terhadap demand dan supply dari proses supply chain,” ungkap Debbie.

Hal lain yang menjadi fokus CCAI adalah melengkapi tim sales di lapangan dengan informasi yang cepat dan akurat. “Hal ini akan menunjang mereka dalam memberikan layanan kepada pelanggan dan pengambilan keputusan untuk pertumbuhan penjualan,” tambah Debbie.

Untuk menunjang kinerja perusahaan, CCAI pun sangat serius dalam mengembangkan potensi SDM. Yang menjadi salah satu fokus adalah memperluas connectivity yang menghubungkan semua karyawan di perusahaan lewat bantuan teknologi.

Sebagai bagian dari Coca-Cola Amatil Group yang tersebar di enam negara, CCAI melihat komunikasi antarkaryawan menjadi sangat penting. “Kami percaya engagement driven success dan keberagaman pasar, kultur, dan tantangan di Amatil Group merupakan peluang yang ingin kami manfaatkan,” tambah Debbie.

Perluasan connectivity ini dilakukan melalui penggabungan intranet yang tadinya terpisah-pisah per negara. Selain itu, Amatil Group sejak tahun lalu telah mengadopsi Workplace by Facebook—platform sosial khusus korporasi. Melalui platform ini, komunikasi serta kolaborasi bisa diwujudkan dalam media yang lebih luas dan akrab dengan pengguna.

Subhan Novianda (Group IT Head, PT Puninar SaranaRaya).

Subhan Novianda (Group IT Head, PT Puninar Sarana Raya)

Mewujudkan Logistics on Cloud

Kondisi ekonomi global dan beberapa faktor di luar negeri kemungkinan besar masih akan memengaruhi bisnis logistik Indonesia, terutama untuk logistik global. Namun kondisi di dalam negeri pun menghadirkan cukup banyak tantangan bagi pebisnis logistik, seperti Puninar Logistics.

Subhan Novianda (Group IT Head, PT Puninar Sarana Raya) menyebut layanan logistik telah mengalami “komoditasi”. “Maksudnya jasa logistik semakin murah karena semakin banyak perusahaan logistik [bermain di sana],” ujar Subhan. Tak pelak, sektor logistik pun menjadi kawasan red ocean alias sarat kompetisi, bahkan hiperkompetisi.  

Dalam persaingan bisnis, Puninar juga harus berhadapan dengan model-model bisnis baru yang ditawarkan logistics startup. “Di mana mereka melakukan on-demand logistics, seperti Go-Box, Kargoku, dan Kargo.co.id,” jelas Subhan, seraya menambahkan kondisi infrastruktur Indonesia menjadi salah satu dalam daftar tantangan yang harus dihadapi perusahan logistik di nusantara ini.  

Namun syukurlah perekonomian Indonesia terus tumbuh dan memutar roda bisnis logistik. Subhan juga melihat kini makin banyak perusahaan sudah menyadari keutungan mengalihkan logistics operation-nya ke pihak ketiga. “Selain mempermudah internal operation, [outsourcing logistic] juga dapat mengurangi biaya dan memindahkan resiko,” ujar Subhan memaparkan alasan perusahaan memilih layanan outsourcing logistik.

Bagaimana teknologi informasi menjawab tantangan maupun menjemput peluang tersebut? TI, menurut Subhan, membantu bisnis sebagai pendukung aktivitas operasional dan business enabler. Misalnya dengan melakukan otomatisasi proses, mengurangi biaya operasi, dan memudahkan kontrol serta monitoring terhadap aktivitas operasional. “Bahkan TI memungkinkan adanya sebuah layanan baru,” imbuh Subhan.

Namun secara umum, tugas TI Puninar saat ini adalah mendorong logistics business transformation. “Yang ujungnya bisa berupa proses baru yang lebih baik atau layanan baru yang diterima pelanggan,” tandas Subhan.

Salah satu wujud transformasi tersebut adalah merealisasikan “Logistics-on-Cloud”, yakni dengan mengimplementasikan ERP Cloud, Transportation Management System-on Cloud, dan Warehouse Management System-on-Private Cloud.

“Kami juga memindahkan data center ke private cloud,” jelas Subhan. Menurutnya, langkah beralih ke cloud ini akan membantu perusahaan meningkatkan kelincahan (agility), fleksibilitas, dan mengurangi biaya capital expenditure.

Dewi Aryani (Kepala Divisi Teknologi Informasi, PT Asuransi Jasa Indonesia (Persero)).

Dewi Aryani (Kepala Divisi Teknologi Informasi, PT Asuransi Jasa Indonesia (Persero))

Mengatasi Tantangan Integrasi

Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) optimis pertumbuhan premi asuransi umum akan tumbuh sebesar 10-15% pada tahun 2017, seiring optimisme Pemerintah RI yang memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia lebih tinggi, yakni 5-5,4%. Ini tentu menjadi peluang besar bagi perusahan asuransi umum, seperti PT Asuransi Jasa Indonesia (Jasindo) untuk mengembangkan pasar dan produk.

“Yang menjadi isu hangat adalah dukungan teknologi informasi untuk pencapaian target itu,” ujar Dewi Aryani (Kepala Divisi Teknologi Informasi, Jasindo). Menurut Dewi, hampir semua tender memprasyaratkan adanya aplikasi online untuk proses business-to-business-nya, terutama untuk mempemudah proses administrasi.

Artinya tim TI Jasindo harus menyiapkan infrastruktur, memastikan keandalan sistem, dan mengembangkan aplikasi. “Contohnya, AP1, AP2, dan ASDP sudah minta kami buatkan aplikasi untuk klaim. Bahkan Pegadaian menginginkan mulai dari proses akseptasi, mulai dari permintaan application form atau Surat Permintaan Penutupan Asuransi sudah by system,” jelas Dewi.

Tantangan integrasi sistem juga agaknya akan dihadapi oleh Jasindo. “Misalnya, kalau line of business kendaraan bermotor, maka kami harus siap mengintegrasikan sistem Jasindo dengan leasing dan mungkin buat aplikasinya juga,” imbuh Dewi Aryani.

Aturan skema gross split untuk bagi hasil pada kontrak kerja sama migas atau production sharing contract yang akan diterapkan SKK Migas juga sedikit banyak akan berpengaruh pada Jasindo, yang memiliki pangsa pasar cukup besar di sektor migas.

Lagi-lagi, Dewi dan timnya harus menyiapkan integrasi sistem yang andal ke setiap Kontraktor Kontrak Kerja Sama (K3S) Migas. “Kalau kami nggak bisa fulfil itu, kami nggak bisa dapat project-nya,” tandas Dewi.

Integrasi sistem juga menjadi perhatian utama jika isu strategis berupa pembentukan holding perusahan asuransi umum direalisasikan pada tahun ini. “Terutama di sistem ERP ketika kami harus mengonsolidasikan laporan, harus bisa ditarik semua,” jelas perempuan yang berpengalaman menangani bisnis di kantor cabang ini.

Menghadapi tantangan tersebut, Dewi Aryani bersyukur karena timnya telah melakukan re-engineering terhadap core application Jasindo sehingga lebih modular dan adaptif terhadap kebutuhan multiplatform.

“Kami sudah menggunakan ESB atau enterprise service bus sehingga nggak harus coding lagi ketika harus terhubung dengan platform yang berbeda,” papar Dewi seraya menyebutkan data warehouse dan implementasi CRM sebagai PR-nya di tahun ini.

M. Kuncoro Wibowo (Direktur Komersial & Teknologi Informasi, PT Kereta Api Indonesia/KAI). [Foto: Abdul Aziz/InfoKomputer]
Kuncoro Wibowo (Managing Director Commercial & Information Technology KAI)

TI Jadi Garda Terdepan KAI

Setelah melakukan transformasi teknologi informasi secara besar-besaran sehingga dapat menyuguhkan layanan yang modern dan aktivitas operasional yang efisien, PT Kereta Api Indonesia (KAI) terus menggeliat. Era digital kini menjadi perhatian perusahaan yang telah berusia 71 tahun itu.

“Tantangan kami tahun ini adalah penumpang yang mostly sudah digital. Keinginan mereka untuk mendapatkan tiket secara real time, keinginan mendapatkan layanan yang mungkin tidak pernah terpikirkan oleh kita sebelumnya,” ujar M. Kuncoro Wibowo (Direktur Komersial & Teknologi Informasi, PT KAI) seraya menyebut tantangan digitalisasi itu sebagai sangat luar biasa.

Kendati PT KAI merupakan satu-satunya penyelenggara layanan railway di Indonesia, persaingan dengan moda transportasi lain tetap menjadi tantangan. Gebrakan berupa layanan baru PT KAI yang mungkin belum pernah ada sebelumnya di sektor transportasi adalah door to door service. Kalau selama ini penumpang diantar kereta api dari stasiun ke stasiun, “Nantinya kami akan antar penumpang dari rumah ke rumah!” jelas Kuncoro penuh semangat.

Bagaimana caranya? Di sinilah teknologi informasi memainkan perannya. Melalui aplikasi, selain memesan tiket,  penumpang kereta api dapat melakukan pre order taksi, makanan, porter, hotel/akomodasi, bahkan pre order oleh-oleh. “Jadi istilahnya penumpang tinggal bawa badan,” imbuh Kuncoro.

Entertainment on train juga akan tersedia melalui pemasangan Wi-Fi hotspot di gerbong-gerbong kereta. “Harapan kami, perjalanan jarak jauh penumpang akan menyenangkan, nyaman, santai, dan cerita,” ujarnya.

Mengomandani divisi Komersial, Kuncoro Wibowo juga menghadapi tantangan di angkutan barang. Namun, kali ini PT KAI tidak perlu reinventing the wheel karena best practice dalam membuat sistem untuk angkutan penumpang dapat dijadikan acuan. Langkah yang akan ditempuh Kuncoro antara lain memudahkan tracking barang dengan menggunakan teknologi barcode.

“Kami juga akan membuat aplikasi angkutan barang untuk [pengangkutan] batubara di Sumatra Selatan. Saya rasa ini penting sekali untuk manajemen karena selama ini kami belum dapatkan data host to host,” jelas Kuncoro.  

Ada dua proyek TI yang cukup besar di tahun ini, yaitu membangun data warehouse untuk memenuhi kebutuhan data analytics; dan membangun data center kedua PT KAI yang rencananya akan berlokasi di Surabaya. Dengan dukungan TI, PT KAI berharap dapat merealisasikan target pendapatan 2017 sebesar Rp6,3 triliun dari angkutan barang dan Rp5,2 triliun dari angkutan penumpang.

Achmad Royhan, VP Information Technology, Citilink Indonesia.

Achmad Royhan (Vice President of Information Technology, Citilink)

Melanjutkan Peran Digital

Giatnya Pemerintah RI membangun infrastruktur, termasuk di sektor transportasi udara, membuka peluang tersendiri bagi industri penerbangan.

Hal ini diakui Achmad Royhan (Vice President of Information Technology, Citilink) yang menganggap infrastruktur dan transparansi dari regulator menjadi tantangan sekaligus peluang di tahun 2017 ini. “Bila regulator dan operator bekerjasama memperkecil gap tersebut, akan terjadi persaingan usaha yang kompetitif di industri ini,” ungkap pria lulusan Stikom Surabaya ini.

Untuk menjawab tantangan tersebut, Royhan menunjuk perlunya setiap stakeholder untuk duduk bersama. “Kita harus terbuka membahas potensi masa depan dari industri airline ini,” tambah Royhan. Setelah itu, semua strategi didokumentasikan dan dilacak perkembangannya. “Tentunya dengan melibatkan CIO, bukan hanya CEO atau COO,” tambah Royhan.

Selain di sisi strategi, Royhan juga melihat tantangan Citilink saat ini adalah melanjutkan strategi digital sebagai core of business. Ada tiga fokus utama Citilink di bidang digital, yaitu channel integration dan mobile-first, digital platform dan product, serta business intelligence (BI).

Tiga fokus ini yang kemudian membentuk prioritas tim TI Citilink di tahun 2017 ini. “Kami akan fokus pada perluasan distribution channel, customer experience, serta penggunaan data pada seluruh elemen kerja di Citilink,” pungkas Royhan.

Kisah Arifin Pranoto Tentang Astragraphia dan Perubahan Teknologi Dokumen dalam 30 Tahun

Arifin Pranoto (Independent Director, Astragraphia). [Foto: Abdul Aziz/InfoKomputer]
Sebagai perusahaan yang bergerak di sektor document solution, Astragraphia merasakan betul perubahan yang terjadi dalam 30 tahun terakhir.

“Di era 1970 – 80an, perubahannya terasa lambat. Namun sejak era 1990-an, perubahannya cepat sekali,” ungkap Arifin Pranoto, Independent Director Astragraphia. Perubahan tersebut meliputi transisi dari teknologi analog ke digital, dari mesin copier ke multifungsi, dan juga dari dokumen monokrom ke warna.

Perubahan tersebut tentu saja melahirkan tantangan tersendiri bagi Astragraphia yang berdiri sejak tahun 1975 tersebut. “Transisi itu harus dilalui dengan cermat dan hati-hati,” tambah pria yang telah bekerja di Astragraphia lebih dari 30 tahun ini.

Arifin menunjuk contoh, dahulu jumlah order minimum pencetakan dokumen adalah 3.000 lembar. “Karena dulu untuk menciptakan file master-nya, kita butuh komputer yang besar dan software yang mahal sekali,” tukasnya. Namun kini, praktis semua orang bisa membuat dokumen. Alhasil, membatasi minimum order pun sudah tidak relevan lagi. “Sekarang mencetak satu dokumen saja bisa,” tambah Arifin.

Tuntutan konsumen juga berubah. “Dahulu, kalau mesin bisa beroperasi dengan baik, sudah tidak masalah,” ungkap Arifin. Namun saat ini, konsumen menuntut perangkat yang mendukung kebutuhan masa kini. “Contohnya, sekarang pengguna ingin bisa mencetak langsung dari smartphone-nya” kata Arifin.

Pengguna juga menuntut security atas dokumen yang ia cetak. “Mau tidak mau, semua perangkat yang kami miliki harus terintegrasi dengan yang lain” tambah Arifin.

Dengan semua perubahan tersebut, Arifin melihat dunia digital dan dokumen kini praktis sudah menyatu. Definisi kata “dokumen” pun akan meluas. “Makna dokumen tidak lagi cuma kertas, namun bisa berupa elektronic file, cloud, dan lain sebagainya,” lanjutnya.

Menyadari hal tersebut, Astragraphia saat ini terus mengembangkan diri. Hal ini bisa dilihat dari campaign Astragraphia di tahun 2017 yang mengusung tema Change. “Karena tidak ada abadi selain perubahan itu sendiri,” jawab Arifin ketika ditanya filosofi di balik tema ini.

Perubahan juga bisa dilihat dari produk dan solusi yang dimiliki Astragraphia. Di era cloud seperti sekarang, Astragraphia akan memperkenalkan solusi seputar penyimpanan dokumen di cloud storage.

Nantinya, mesin multifungsi Fuji Xerox bisa terhubung dengan layanan cloud storage seperti Box, Dropbox, atau Google Drive dengan single sign-on. Jadi ketika pengguna ingin mencetak sebuah dokumen, ia hanya perlu mengetikkan nama dokumen tanpa harus mengingat di layanan mana ia menyimpan file tersebut.

Inovasi lain adalah fasilitas scan translation. Saat pengguna memiliki dokumen dalam bahasa asing, mereka bisa memindai dokumen tersebut. Mesin multifungsi Fuji Xerox secara otomatis akan menerjemahkan dokumen tersebut dan menampilkan hasil terjemahannya di bawah tiap baris dokumen aslinya.

“Dan permintaan kami kepada Fuji Xerox Jepang juga sudah dipenuhi, yaitu menyediakan fasilitas scan translation untuk Bahasa Indonesia,” imbuh Arifin.

Ketika perubahan secara teknologi begitu cepat, bagaimana Astragraphia mempersiapkan diri? Arifin pun berbagi rahasia. “Yang paling penting adalah infrastruktur, khususnya di SDM,” tambah Arifin. Teknologi boleh saja cepat berubah, namun faktor manusia tetap memegang peranan penting. “Karena orang-lah yang menjembatani perubahan dari A ke B,” Arifin menceritakan filosofinya.

Tidak heran jika kemudian Astragraphia banyak melakukan pelatihan dan pengayaan pengetahuan kepada karyawannya. “Kami berikan pelatihan ini sebanyak mungkin, baik dari sisi Fuji Xerox maupun domestik,” ujar Arifin.

Faktor penting lainnya adalah menciptakan organisasi yang adaptif terhadap perubahan. Salah satunya dengan melakukan rotasi karyawannya secara rutin. “Karena ketika seseorang menghadapi tantangan baru, jiwa inovatif mereka akan muncul,” tutup Arifin.

Artikel ini merupakan bagian dari Cover Story spesial wawancara 30 tokoh TI nasional dalam rangka ulang tahun ke-30 InfoKomputer. Temukan artikel lengkapnya di sini dan di sini.

Review Smartphone