09 | June | 2017 | InfoKomputer Online

Arsip Harian: Jun 9, 2017

Empat Tahun Lagi, IoT Akan Kuasai Lebih dari Separuh Perangkat Internet

Foto: raconteur.net

Dalam empat tahun ke depan, lebih dari separuh perangkat internet di seluruh dunia akan memiliki kemampuan IoT (Internet of Things) dan saling berkomunikasi satu sama lain.

Menurut laporan Cisco Visual Networking Index (VNI), pada tahun 2021, akan ada 27,1 miliar perangkat yang terkoneksi ke internet atau naik 10 miliar perangkat dari tahun 2016. Sekitar 51 persen dari perangkat tersebut adalah perangkat-perangkat yang mendukung IoT dan komunikasi M2M (Machine-to-Machine), mulai di rumah, kendaraan, rumah sakit, sampai tempat publik.

Namun, koneksi IoT hanya akan mengonsumsi 5 persen dari total lalu lintas IP (Internet Protocol) pada tahun 2021. Porsi terbesar lalu lintas internet masih dikuasai streaming video sebesar 80 persen, meningkat dari 67 persen pada 2016, dengan durasi 3 triliun menit video baru per bulan.

Secara keseluruhan, lalu lintas internet bakal mengalami pertumbuhan tiga kali lipat selama tahun 2016 – 2021, dari 1,2 zettabyte menjadi 3,3 zettabyte per tahun.

Prediksi lain yang diungkapkan Cisco yaitu jumlah pengguna internet global akan bertambah dari 3,3 miliar pada 2016 menjadi 4,6 miliar pada 2021 atau sekitar 58 persen dari total populasi dunia. Sedangkan kecepatan internet broadband rata-rata juga meningkat hampir dua kali lipat, dari 27,5 Mbps menjadi 53,0 Mbps, seiring diperkenalkannya teknologi 5G.

Sementara itu, dari sisi ancaman keamanan, Cisco memproyeksikan peningkatan ukuran rata-rata serangan DDoS (Distributed Denial of Service) hingga mencapai 1,2 Gbps. Serangan sebesar ini cukup untuk memadamkan jaringan internet sebagian besar perusahaan.

Laporan Cisco VNI 2016 – 2021 selengkapnya bisa dibaca di sini.

Penjualan Headset Sony VR Tembus 1 Juta Unit

Sony akan meluncurkan perangkat virtual reality-nya yaitu PlayStation VR (PS VR), Oktober 2016.

Headset virtual reality (VR) mulai menunjukan taringnya di pasar, menyusul tingginya permintaan perangkat VR tersebut. Sony mengumumkan perangkat VR PlayStation telah terjual sebanyak 1 juta unit

“Salah satu faktor yang membuat PSVR sangat laku di pasar adalah harganya yang relatif terjangkau,” kata Atsushi Morita (Presiden Sony Interactive Entertaiment) seperti dilansir BBC.

Harga PSVR memang jauh lebih murah dibanding kompetitor lainnya seperti perangkat VR Oculus Rift, dan HTC Vive. Sony membanderol PSVR senilai US$399 atau sekitar Rp5,3 juta.

Sedangkan kompetitornya, Oculus Rift dibanderol Rp6,6 juta, itu pun belum termasuk controller senilai Rp1,3 juta. HTC Vive justru lebih mahal lagi dengan harga US$799 atau sekitar Rp10,6 juta.

Andrew House (Kepala Eksekutif Global Sony) mengatakan Sony menargetkan penjualan satu juta unit PSVR hingga pertengahan April 2017. Namun, angka penjualannya sudah mencapai 915 ribu unit pada Februari 2017.

“Angka ini di luar ekspektasi eksekutif Sony,” ujarnya.

Faktor kedua, penjualan PlayStation 4 dan PlayStation 4 Pro yang laris manis juga ikut mendongkrak penjualan PSVR. Saat ini pangsa pasar PS4 jauh lebih besar ketimbang rival utamanya Xbox One.

Faktor Ketiga, Sony juga rajin mengupdate konten game terbaru yang bisa dimainkan lewat VR. Salah satu game PSVR paling laris adalah Star Trek: Bridge Crew.

Meski demikian, penguasa pangsa pasar headset VR saat ini masih diduduki oleh Samsung dengan penjualan 5 juta unit Gear VR. Sementara itu, HTC Vive tertinggal di posisi ketiga dengan 420.000 unit dan Oculus Rift dengan 243.000 unit.

Meski lebih banyak terjual, Galaxy VR dan PlayStation VR jelas memiliki segmen yang beda. Sebagai pembanding, harga Galaxy VR hanya di kisaran Rp 1,5 juta, sementara PlayStation VR banderolnya mencapai Rp 6 jutaan.

Meski begitu Sony optimis penjualan PlayStation VR masih akan terus naik. Apalagi saat ini ada sebanyak 60 juta pemilik konsol PlayStation 4, sehingga potensinya masih sangat tinggi.

Cerita Richard Kartawijaya Mendorong Aplikasi Anak Bangsa ke Tingkat Dunia

Richard Kartawijaya. [Foto: Abdul Aziz/InfoKomputer]
Pada tahun 2001, Indonesia diundang mengikuti APICTA (Asia Pasifik ICT Alliance) Awards di Malaysia. Sebagai pengurus Aspiluki (Asosiasi Peranti Lunak Telematika Indonesia), Richard Kartawijaya langsung bergerak mencari aplikasi yang bisa mengikuti acara tersebut.

“Targetnya kita cari dua puluh [karya], lalu diseleksi sehingga bisa kita bawa lima sampai enam karya ke sana,” kenang Richard. Namun ternyata, hanya enam aplikasi yang bisa ditemukan. Setelah diseleksi pun, hanya dua yang layak untuk berangkat.

Cerita Richard tersebut sedikit banyak bisa menggambarkan dunia aplikasi Indonesia kala itu. Ketika dunia TI Indonesia belum berkembang, aplikasi buatan anak bangsa pun agak susah didapat.

Namun situasinya kini jauh berbeda. Berbagai lomba aplikasi muncul, termasuk INAICTA (lomba skala nasional yang pemenangnya akan dibawa ke APICTA Awards).

“Tahun 2012, jumlah karya yang masuk INAICTA 2100 buah, dan lebih dari 30 karya bisa kita bawa ke APICTA di Brunei,” cerita Richard. Hasilnya pun tidak mengecewakan. “Indonesia meraih dua Winner Award dan beberapa Merit Award,” kata dia.

Tidak cuma jumlah peserta yang meningkat, namun juga teknologi yang digunakan. “Tahun 2001, teknologinya masih sangat sederhana,” ujar Richard. Namun aplikasi generasi sekarang sudah menggunakan teknologi terbaru, seperti tim dari UGM yang membuat aplikasi untuk terapi disleksia menggunakan XBox Kinect.

Richard berharap, berbagai lomba aplikasi ini akan mendorong perkembangan dunia TI Indonesia lebih tinggi lagi. Apalagi, efektivitas lomba cukup terbukti.

Salah satu aplikasi yang dibawa ke Malaysia di tahun 2001 itu adalah Zahir, yang namanya kini menjulang di ranah TI Indonesia. Lulusan INAICTA yang lain, seperti Agate atau Pesona Edu, juga berhasil menancapkan eksistensinya di Indonesia.

“Karya-karya anak bangsa di dunia ICT perkembangannya luar biasa,” tutup Richard.

Boeing Siapkan Sistem Penerbangan Tanpa Pilot Untuk Pesawat Jet Komersial

aviationvoice.com

Ancang-ancang mengantisipasi kelangkaan pilot di masa depan, Boeing mulai mempelajari kemungkinan menerbangkan pesawat jet komersial dengan kontrol otomatis berbasis Artificial Intelligence.

Building block teknologi untuk autonomous flight sebenarnya sudah dibenamkan pada pesawat-pesawat masa kini. Misalnya, dalam penerbangan jarak jauh, pilot dapat memanfaatkan fungsi autopilot.

Fungsi auto-land mungkin jarang kita dengar, tetapi fungsi ini dapat digunakan pilot ketika visibilitas sangat rendah akibat cuaca buruk. Auto-land barangkali fungsi yang paling mendekati autonomous flight karena sistem bereaksi terhadap perubahan-perubahan di sekitarnya.

Fungsi auto-takeoff pun sebenarnya tersedia di jajaran pesawat Boeing, tapi pilot tidak diizinkan menggunakannya karena integritas sistem yang dianggap belum menyamai kemampuan pilot.

“Kalau ingin karier (pilot) berakhir, bisa saja pilot membawa (Boeing) 777 dan melakukan takeoff otomatis,” ujar Mike Sinnett, mantan Chief Engineer 787 Dreamliner dan saat ini menjadi Vice President untuk Future Innovative Technologies, Boeing, seperti dikutip dari situs The Seattle Times.

Sinnet mengungkapkan bahwa sistem penerbangan otomatis itu direncanakan memasuki tahap simulasi tahun ini. Tahun depan, sistem akan diujicoba di pesawat sungghan sebagai penerbangan eksperimental dengan membawa hanya pilot dan mekanik.

Dengan adanya rencana ini, akan terjadi sebuah transisi. Kalau dulu maskapai harus mencari penerbang atau pilot mahir untuk mengoperasikan si burung besi, di masa depan mereka membutuhkan sistem yang sanggup menerbangkan pesawat secara swakemudi.

“Jika kita dapat melakukannya dengan tingkat keamanan yang sama. That’s a really big if,” ujar Sinnet seperti dikutip dari situs ITWire.

Manfaatkan AI dan Machine Learning

Mike Sinnett menjelaskan bahwa syarat utama lolosnya pesawat jet komersial dalam proses sertifikasi saat ini adalah sistem yang bekerja secara deterministik. Artinya sistem penerbangan harus bisa memberikan hasil yang sama untuk satu set input yang diberikan.

Sebaliknya, mesin yang bersifat autonomous harus mampu merespon secara non deterministik atau bereaksi terhadap situasi yang mungkin tidak atau belum diprogram ke dalam sistemnya. “Oleh karena itu kami sedang melakukan eksplorasi awal terhadap machine learning dan artificial intelligence,” jelas Sinnett.

Ilustrasi Pabrik Boeing

Bayangkan ketika pesawat swakemudi menghadapi situasi seperti yang dialami Kapten Chesley Sullenberger di New York City pada tahun 2009. Pilot US Airways ini terpaksa mendarat darurat di Sungai Hudson setelah kedua mesin pesawat Airbus A320 yang ia terbangkan rusak akibat bertabrakan dengan sekelompok angsa.

“Rasanya kami belum cukup cerdas untuk melakukan pre-programming hal-hal semacam itu,” cetus Mike Sinnett. Membangun sistem atau mesin cerdas dan memiliki perilaku non-deterministik adalah tantangan terbesar yang dihadapi Boeing dalam rangka mewujudkan autonomous flight.

Jadi, jangan berharap pesawat jet komersial tanpa pilot segera hadir karena algoritmanya masih dibangun. Sistem perlu waktu untuk mempelajari berbagai macam skenario yang mungkin dihadapi dalam penerbangan sungguhan.

Autonomous flight dilirik Boeing setelah melihat tren kelangkaan pilot  secara global yang diramalkan akan semakin memburuk. Dalam kurun dua dekade, Boeing memprediksi adanya permintaan pesawat jet komersial baru sebanyak 40 ribu unit. “Dari mana memperoleh pilot berpengalaman sebanyak itu?” tutup Mike.

Data Center WhatsApp Pindah, IBM Kehilangan Pelanggan Besar

IBM akan segera kehilangan salah satu pelanggan public cloud terbesarnya, yaitu WhatsApp. Pasalnya, Facebook berencana memindahkan data center WhatsApp dari platform IBM SoftLayer ke data center pribadi milik mereka. Proses pemindahan kemungkinan dimulai pada akhir tahun ini.

Dikutip dari CNBC, alasan Facebook memindahkan data center WhatsApp adalah demi efisiensi.

Sekitar 63 miliar pesan dikirim oleh pengguna WhatsApp di seluruh dunia pada momen tersibuk, yaitu malam tahun baru, dan membutuhkan sumber daya komputasi yang sangat besar. Jika tetap dilayani dengan cloud computing, biaya yang dihabiskan akan lebih mahal ketimbang ditangani di infrastruktur sendiri.

Pemindahan ini pun sebetulnya bukan hal yang aneh dalam bisnis startup. Saat WhatsApp baru didirikan pada tahun 2009, tim engineer-nya mengandalkan layanan bare-metal cloud dari SoftLayer, sebelum perusahaan itu diakuisisi oleh IBM.

Tetapi, seiring pertumbuhan perusahaan dan melonjaknya jumlah pengguna WhatsApp sampai 1,2 miliar orang, layanan cloud dianggap kurang efisien. Apalagi setelah WhatsApp dibeli oleh Facebook yang sudah memiliki data center pribadi sejak tahun 2010.

Facebook sebetulnya ingin memindahkan data center WhatsApp lebih awal. Namun, pada saat membeli WhatsApp di tahun 2014, Facebook sedang berada di tengah proses pemindahan data center Instagram dari AWS yang saat itu lebih diprioritaskan. Jadilah pemindahan data center WhatsApp baru bisa terealisasi tahun ini.

Pukulan bagi IBM

Kehilangan WhatsApp dari portofolio pelanggan akan memberi pukulan bagi neraca bisnis IBM. Seorang sumber mengklaim bahwa WhatsApp adalah satu dari lima sumber pemasukan terbesar IBM Cloud dengan nilai mencapai US$2 juta per bulan.

Dalam sebuah studi kasus internal, IBM menyebutkan penggunaan sumber daya cloud oleh WhatsApp dapat mengonsumsi lebih dari 700 server kelas atas di dua data center milik IBM di San Jose dan Washington.

Di beragam acara, IBM pun kerap memamerkan WhatsApp sebagai pelanggan papan atas mereka, seperti halnya AWS membanggakan Airbnb dan Netflix atau Google membanggakan Snap dan Spotify.

“WhatsApp telah menjadi pelanggan yang hebat dari IBM Cloud karena mereka memanfaatkan kemampuan dan jejak global kami untuk memperluas bisnis mereka. Kami bangga IBM Cloud dapat berperan dalam kesuksesan mereka,” tukas IBM.

Pasar public cloud sendiri masih dikuasai oleh AWS, Microsoft, dan Google, meninggalkan pemain lainnya seperti IBM dan Oracle dengan pangsa pasar di bawah 10 persen.

Tiongkok Berangus Akun Gosip Selebritas di Media Sosial

Pemerintah Tiongkok memberangus sekitar 60 akun media sosial setempat yang berfokus memberitakan gosip-gosip terkait skandal dan gaya hidup selebritas.

Langkah ini ditempuh oleh Badan Administrasi Ruang Siber Tiongkok untuk menegakkan peraturan pemerintah yang membatasi dan memberi panduan diskusi online.

Dilaporkan oleh Reuters, sejumlah pemilik situs media sosial terkemuka Tiongkok, termasuk Tencent dan Baidu, dikumpulkan oleh Pemerintah dan diminta untuk mengendalikan akun-akun pengguna yang sering membicarakan gosip selebritas dan dunia hiburan.

“Pemilik situs harus… menerapkan cara yang efektif untuk mencegah diumbarnya skandal seks selebritas, pemberitaan soal gaya hidup mewah para pesohor, hanya demi melayani selera buruk masyarakat,” kata badan tersebut.

Selain itu, pemilik situs harus secara aktif menyebarkan nilai-nilai sosialisme dan menumbuhkan lingkungan diskusi publik yang sehat.

Badan tersebut juga menegaskan bahwa peraturan itu berlaku mulai 1 Juni 2017 dan melarang situs-situs media untuk mencemarkan nama baik atau mengorek hal-hal pribadi terkait individu. Jika ada akun pengguna yang melanggar peraturan, akun itu harus dicatat dan dilaporkan kepada pemerintah.

Sebelumnya, pada bulan Mei lalu, Pemerintah sudah menerbitkan peraturan yang mewajibkan pemilik situs untuk menugaskan staf editor khusus yang akan mengawasi dan menyensor seluruh konten dan layanan di situs tersebut.

Sejak dahulu, Tiongkok memang dikenal sebagai negara yang sangat ketat dalam membatasi pemberitaan di media massa dan sekarang, media sosial. Bahkan, situs-situs asing populer seperti Facebook, Google, dan Twitter pun diblokir di negara itu.

Demi Bayar Utang Judi, Pegawai Samsung Ini Nekat Curi 8.474 Ponsel

Ilustrasi Pabrik Samsung

Seorang karyawan pabrik Samsung bernama Lee nekat mencuri sebanyak 8.474 ribu unit ponsel Samsung untuk melunasi utang judinya senilai US$800 ribu atau sekitar Rp10,6 miliar.

Anehnya, aksi kriminalnya itu berlangsung di markas Samsung di Suwon, Gyeonggi, Korea Selatan selama dua tahun tanpa ketahuan.

Lee mampu mengakali keamanan gedung perusahaan berkat kursi roda yang ia gunakan. “Kekurangan fisik” itu justru dijadikan kesempatan oleh Lee untuk membawa hasil barang curiannya tanpa harus melalui alat metal detector.

Lee diperbolehkan untuk tidak melalui pemindaian karena merupakan penyandang disabilitas dan menggunakan kursi roda, seperti dikutip Digital Trends.

Lee pun mencuri ponsel-ponsel Samsung yang dipakai oleh para pengembang untuk mengetes pemutakhiran sistem dan fitur baru. Ia kemudian menjual ponsel curiannya dengan harga murah. Akibat pencurian itu, Samsung diperkirakan mengalami kerugian sekitar US$ 710 ribu, atau sekitar Rp 9,4 miliar.

Seiring berjalannya waktu, Samsung mengendus ada yang tidak beres ketika menemukan ada ponsel yang tidak semestinya dijual itu di Vietnam.

Samsung pun melaporkan kasus tersebut ke kepolisian pada Desember tahun lalu. Kemudian, polisi meringkus Lee ketika uutang judinya masih belum lunas.

Lee mulai bekerja di Samsung pada 2010. Lee diterima dalam program pegawai berkebutuhan khusus dan ditugaskan di bagian perawatan ponsel lama yang dipakai untuk menguji fitur baru atau pemutakhiran sistem.

Sepatu Apple Ini Dilelang Mulai Rp199 Juta, Siapa Mau?

Ilustrasi Sepatu Kets Apple

Tahukah Anda? Selain iPhone dan iPad, Apple pernah membuat sepatu kets. Ternyata, Apple pernah masuk ke dalam industri fesyen dan sepatu pada pertengahan tahun 1980-an sampai awal 1990-an.

Rumah lelang Heritage Auctions akan melelang sepatu kets Apple di eBay dengan banderol mulai dari US$15 ribu atau sekitar Rp199 juta pada 11 Juni 2017.

Heritage Auctions memprediksi sepatu kets itu akan terjual US$30 ribu atau sekitar Rp450 juta.

Uniknya, sepatu kets itu sangat limited edition karena Apple tidak pernah memproduksi sepatu kets itu secara massal, hanya sampai tahap prototipe dan diberikan kepada karyawan.

Sepatu kets berwarna putih itu menampilkan logo pelangi milik Apple, seperti dikutip dari The Next Web.

Sebelumnya, pada tahun lalu, perusahaan lelang lainnya pernah menjual jaket kulit milik Steve Jobs dengan banderol US$22 ribu atau sekitar Rp292 juta. The Marin School di California juga pernah menjual sepasang kartu nama resmi Steve Jobs seharga US$10 ribu.

Untuk para pencinta produk buatan Apple atau para kolektor, tentu harga bukanlah masalah untuk mendapatkan sebuah barang langka.

Startup Lokal Genjot Adopsi Cloud Computing di Indonesia

Ilustrasi kantor startup. [Foto: squarespace.com]
Pelan tapi pasti, perusahaan dan masyarakat mulai sadar akan pentingnya penggunaan cloud computing dalam bisnisnya.

Selain perusahaan berskala besar, kehadiran startup-startup lokal di Indonesia akan menjadi potensi pelanggan cloud computing yang besar dan mempercepat adopsi cloud computing di Indonesia.

Cornelius Hertadi (VP Sales and Marketing, Biznet GioCloud) mengatakan Indonesia memiliki bakat-bakat startup yang luar biasa banyak dan mereka lebih sadar serta ingin mengadopsi jasa layanan cloud computing lebih cepat.

Startup ingin bisnis dan pengembangan aplikasinya cepat running sehingga tidak ada waktu untuk membeli server, komputer, dan storage secara terpisah dan memakan waktu yang lama. Jadi, mereka lebih melirik menggunakan jasa layanan cloud computing yang simpel dan cepat,” katanya di Jakarta, Kamis (8/6).

Dengan adopsi cloud computing, perusahaan atau startup lebih menghemat bujet pengeluarannya dan bisa dialokasikan untuk kebutuhan lainnya.

Selain itu, layanan Biznet GioCloud menawarkan solusi Infrastructure as a Service (IaaS) secara menyeluruh dan terlengkap di Indonesia, meliputi pengadaan komputer, server, storage, dan network.

“Untuk membeli server skala ekonomi besar membutuhkan bujet sekitar Rp70 jutaan. Itu baru server, belum lagi UPS-nya jika mati lampu. Belum storage dan jaringannya. Terlalu banyak pengeluaran yang harus dikeluarkan perusahaan,” tukasnya.

Keunggulan lainnya, ketersediaan dan keandalan Sumber Daya Manusia (SDM) dari Biznet GioCloud yang mengurusi semua infrastruktur cloud computing.

“Kami memiliki tim yang standby 24 jam untuk memastikan layanan cloud computing terus berjalan,” ujarnya.

Biznet GioCloud Sebut Tiga Alasan Pilih Cloud Lokal daripada AWS

(Ki-Ka) Cornelius Hertadi, VP Sales and Marketing Biznet GioCloud – Dondy Bappedyanto, CEO Biznet GioCloud – Gitanissa Laprina, Brand Manager Biznet – Dedi Parinduri, Senior Manager Consumer Marketing

Saat ini era teknologi sudah memasuki era cloud computing atau komputasi awan. Masyarakat dan perusahaan mulai sadar pentingnya adopsi komputasi awan untuk menunjang bisnis.

Cloud computing pun menawarkan banyak sekali keuntungan dari sisi keamanan, penyediaan infrastrukturnya, dan harga layanannya yang sangat terjangkau sehingga bisa menghemat pengeluaran perusahaan.

Karena itu, banyak sekali perusahaan, baik lokal maupun internasional, yang menawarkan jasa cloud computing di Indonesia.

Umumnya, perusahaan-perusahaan di Indonesia lebih tertarik menggunakan jasa penyedia layanan cloud computing dari luar negeri seperti Amazon Web Services (AWS) yang terkenal dengan nama besarnya.

Padahal, penyedia layanan jasa cloud asal negeri sendiri seperti Biznet GioCloud diklaim memiliki kemampuan dan keuntungan yang jauh lebih baik daripada menggunakan jasa AWS.

Keunggulan pertama, Biznet GioCloud menawarkan layanan Infrastructure as a Service (IaaS) secara menyeluruh di Indonesia dan menawarkan local support yang sangat dibutuhkan perusahaan lokal.

“Tidak mungkin jika ada permasalahan, orang AWS langsung datang ke Indonesia. Anda pun harus saling mengirimkan e-mail untuk menanyakan permasalahan Anda. Berbeda dengan Biznet GioCloud yang sudah hadir di Indonesia dan bisa langsung berinteraksi dan menyelesaikan permasalahan pelanggannya,” kata Cornelius Hertadi (VP Sales and Marketing, Biznet GioCloud) di Jakarta, Kamis (8/6).

Kedua, Biznet GioCloud menawarkan local network di Indonesia. Biznet GioCloud memiliki data center yang berada di Indonesia sehingga menawarkan akses kecepatan jaringan yang lebih cepat daripada AWS yang data center-nya berada di luar negeri.

Ketiga, karena data center Biznet GioCloud yang berada di Indonesia membuat harga layanannya sangat murah dibanding AWS. Harga layanan termurah Biznet GioCloud adalah Rp112 per jam dengan kekuatan bandwidth tidak terbatas.

“Karena data center berada di Indonesia, otomatis kecepatan aksesnya jauh lebih cepat dan lebih murah,” ujarnya.

Review Smartphone