13 | June | 2017 | InfoKomputer Online

Arsip Harian: Jun 13, 2017

Tantangan Adopsi IoT di Indonesia, dari Biaya hingga Regulasi

Internet of Things (IoT)

Cepat atau lambat Indonesia akan segera mengadopsi Internet of Things (IoT) dan membuat setiap perangkat elektronik bisa terhubung satu sama lain. Tentunya, adopsi IoT memberikan banyak manfaat kepada perusahaan dan pengguna.

Sayangnya, implementasi teknologi IoT tidak semudah membalikan telapak tangan.

Septiawan Wawan (Kepala Jaringan dan Komunikasi IT Grup Samudera Indonesia) mengakui pengadopsian teknologi IoT akan meningkat efisiensi dan membuat kinerja lebih efektif.

“Kita harus transformasi (IoT) atau mati. Bisnis IoT lebih efektif, sustain dan efisien,” katanya di Jakarta, Selasa.

Wawan melihat ada tantangan terbesar dalam pengadopsian IoT di Indonesia adalah ketersediaan infrastruktur, regulasi, biaya dan kompleksitas.

“Tantangan IoT juga terletak pada cost karena perusahaan ingin sesuatu yang barangnya terlihat dan bisa berdampak langsung kepada bisnis. Berbeda dengan IoT, yang barangnya tidak terlihat,” ujarnya.

Hendra Johari (Kepala Operasi TIK Siloam Hospitals) mengatakan setiap perusahaan teknologi memiliki standarisasi IoT yang berbeda-beda.

“Apple, Xiaomi dan Fitbit memiliki standar IoT yang berbeda-beda. Tugas kita, bagaimana kita menyamakan standar masing-masing device,” pungkasnya.

Selain itu, Hendra melihat pengadopsian IoT menyisakan masalah kepada regulasi dan sistem keamanannya karena perangkat layanan kesehatan sangat rentan terhadap serangan siber.

Device healtcare sangat mudah dihack jadi sistem keamanannya harus ditingkatkan lagi karena bagi rumah sakit data pasien sangat penting dan kami tidak mau data pasien bocor,” ucapnya.

“Masalah lainnya, regulasi mewajibkan rumah sakit menyimpan data pasien di Indonesia. Tapi, perusahaan penyedia cloud dari Internasional menyimpan server-nya di Singapura dan Amerika Serikat (AS),” pungkasnya.

Alibaba Cloud Bangun Data Center di Indonesia, Dibuka Tahun 2018

Pada tahun 2015, raksasa internet Tiongkok, Alibaba, pernah sesumbar bahwa mereka akan mengambil alih tampuk pimpinan di pasar public cloud dari Amazon Web Services (AWS) dalam empat tahun. Untuk mewujudkannya, Alibaba berinvestasi US$1 miliar pada bisnis Alibaba Cloud (Aliyun).

Pada tahun ini, ambisi itu masih berada di jalur yang benar, meski masih cukup jauh dari sasaran. Dikutip dari TechCrunch, Alibaba Cloud sekarang masih berada di posisi keenam dalam pangsa pasar layanan infrastruktur cloud global, di bawah AWS, Microsoft, Google, IBM, dan Salesforce. Namun, bisnis mereka terus berkembang hingga tiga digit setiap tahun.

Alibaba Cloud juga terlihat lebih agresif mendekati pasar-pasar regional yang belum dijamah serius oleh AWS, Microsoft, dan Google. Contohnya pasar Asia. Hal ini terbukti dari rencana Alibaba Cloud membangun data center di Malaysia, India, dan juga Indonesia pada tahun ini.

Data center Alibaba Cloud di Indonesia berlokasi di Jakarta dan dijadwalkan akan dibuka pada tahun fiskal ini yang berakhir pada 31 Maret 2018.

“Saya percaya Alibaba Cloud memosisikan diri secara unik dengan keuntungan budaya dan kontekstual untuk menyediakan inovasi data intelijen dan kemampuan komputasi kepada pengguna di Asia. Membangun data center di Indonesia dan India akan memperkuat posisi kami di area ini dan juga secara global,” kata Simon Hu (Senior Vice President of Alibaba Group dan President, Alibaba Cloud).

Dengan tiga data center terbaru ini, Alibaba Cloud akan menambah total data center menjadi 17 lokasi, melingkupi Tiongkok, Australia, Jerman, Jepang, Hong Kong, Singapura, Arab Saudi, dan Amerika Serikat.

Alibaba Cloud juga akan meningkatkan sumber komputasi di Asia secara signifikan sehingga memberi dukungan untuk pebisnis UKM di wilayah ini dengan kemampuan cloud yang kuat, terukur, hemat biaya, dan aman.

Alibaba Cloud akan menjadi perusahaan pemimpin cloud computing global pertama yang membangun data center di Indonesia dan siap menanggapi inisiatif Gerakan 1.000 Startup Digital yang diluncurkan Pemerintah Indonesia tahun lalu.

BPT Hadirkan Solusi Managed Service untuk Wujudkan Smart City yang Mudah dan Murah

Ilustrasi smart city. [kredit: blog.cedrotech.com]
Lembaga riset Citiasia mencatat empat kendala dalam proses pengembangan konsep smart city, yaitu masalah pembiayaan yang menempati posisi teratas, diikuti dengan masalah regulasi, sumber daya manusia, dan infrastruktur.

Kendala serupa juga dirasakan daerah yang sudah menerapkan konsep tersebut. Lembaga riset IDC menyebutkan sebanyak 90% kota di Indonesia berpotensi gagal memanfaatkan data smart city dan aset digitalnya lantaran kurangnya pendanaan, proses, manajemen proyek, dan keterampilan manajemen perubahan.

Blue Power Technology (BPT), anak perusahaan CTI Group, mencoba menjawab tantangan tersebut dengan menawarkan program managed service di bidang smart city melalui solusi Government Interactive Response Center (GIRC). Program ini diklaim dapat mewujudkan proyek kota cerdas yang hemat biaya dan mudah.

“Kami menyadari bahwa masalah utama investasi smart city adalah biaya dan kompleksitas. Melalui program managed service GIRC ini, pelanggan tidak dibebani oleh biaya yang besar untuk proyek smart city mereka karena pembayaran dilakukan hanya untuk operasional, yaitu setiap bulan selama kontrak berlangsung atau tiga tahun,” kata Lugas M Satrio (Presiden Direktur, PT Blue Power Technology) dalam rilis pers.

“Pelanggan juga tidak perlu pusing melakukan implementasi, mengelola aplikasi, maupun monitoring operasional harian mengingat proses ini cukup kompleks. Kami memiliki tim ahli khusus yang dapat mengambil alih tugas tersebut sehingga pelanggan dapat fokus meraih goal dari proyek smart city serta melakukan hal strategis lainnya,” Lugas menambahkan.

President Director, Blue Power Technology, Lugas M. Satrio.

Keunggulan GIRC

GIRC merupakan solusi smart city berbasis Intelligent Operations Center (IOC) milik IBM yang diluncurkan oleh BPT pada awal 2015 untuk membantu pemerintah daerah dalam mengelola wilayah dan memonitor performa seluruh aparat agar dapat memberikan pelayanan lebih baik terhadap warga.

Solusi ini memadukan perangkat Emergency Management, sensor, CCTV, dan video analytics yang memungkinkan penerimaan informasi dan data serta pengambilan tindakan secara real time terhadap keadaan darurat. Melalui solusi ini, pemerintah dapat menyelesaikan permasalahan di satu kota, berinteraksi dengan warga, meningkatkan responsifitas terhadap keluhan warga, dan memantau kinerja aparat.

Untuk solusi GIRC, BPT menyediakan produk lengkap mencakup hardware dan software berikut layanan implementasi sampai purnajual kepada pelanggan.

Program ini didukung oleh para profesional TI berpengalaman dan bersertifikat internasional yang akan memonitor data dan informasi yang masuk, memberikan analisis guna mengantisipasi terjadinya masalah seperti kemacetan, kriminalitas, banjir, pemborosan energi, dan insiden tertentu yang berpotensi mengganggu keamanan dan kenyamanan warga.

Fenox VC Cari Startup Lokal yang Layak Jadi “Juara Dunia” di Startup World Cup 2018

Fenox Venture Capital (VC) menggandeng Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF) untuk menggelar ajang Startup World Cup 2018 di Indonesia. Acara ini merupakan bagian dari kompetisi tingkat global di 30 wilayah di Asia, Australia, Amerika Utara, Amerika Selatan, Eropa, dan Afrika. Para pemenang akan diadu pada Grand Finale di San Francisco, AS, pada bulan Mei 2018.

Melalui kompetisi ini, Fenox ingin memberi kesempatan bagi para pebisnis startup asal Indonesia untuk berkembang dan bertarung di Silicon Valley.

“Kami percaya bahwa semangat kewirausahaan sedang berkembang dan ada potensi besar bagi para pelaku usaha. Dukungan, arahan, dan kesempatan yang tepat yang kami tawarkan, diharapkan akan meningkatkan ekosistem startup dan secara signifikan berdampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi, khususnya di Indonesia,” kata Chris Abshire (Executive Director, Startup World Cup 2018) dalam keterangan pers.

Rangkaian program Startup World Cup 2018 di Indonesia akan meliputi roadshow mulai 16 Juli sampai dengan 12 Agustus 2017 di delapan kota, yakni Bandung, Medan, Yogyakarta, Surabaya, Balikpapan, Bali, Makassar, dan Batam. Kota-kota ini mewakili semua industri kreatif dan startup di Indonesia dari barat ke timur.

Pada tahun lalu, Startup World Cup telah memboyong Ahlijasa sebagai runner-up ke final kompetisi global di Silicon Valley.

“Startup World Cup adalah pengalaman yang indah bagi tim kami. Ini adalah kesempatan bagus untuk mendapatkan masukan mengenai model bisnis kami dengan berbicara kepada begitu banyak juri dan investor berpengalaman,” tukas Jayawijaya Ningtyas (CEO, Ahlijasa).

“Kami berhasil melakukan benchmark terhadap bisnis kami dan bertukar ide dengan para pemula lainnya di tingkat nasional dan internasional. Paparan yang kami terima juga telah membuka banyak pintu bagi kami. Kami diperkenalkan dengan begitu banyak calon mitra bisnis dan investor,” imbuh Jayawijaya.

Suasana penjurian Startup World Cup 2017 di Indonesia.

Komitmen Investasi Fenox

Retno Dewati (SEA Regional Manager, Fenox VC) mengatakan bahwa sejak investasi pertamanya pada 2014, Fenox telah berinvestasi di lebih dari 25 perusahaan di Asia Tenggara dengan 70 persen dari Indonesia. Salah satu investasi Fenox adalah terciptanya program akselerator yang akan membantu pengusaha Indonesia tumbuh dan mengembangkan bisnis mereka.

“Kami telah melakukan 12 investasi dari dua gelombang akselerator dan sekarang membuka gelombang ketiga untuk menemukan 6 – 10 perusahaan lain untuk diinvestasi dan mendapat pelatihan intensif oleh Fenox. Kami berharap bisa mencapai setidaknya 10 kesepakatan pada tahun ini,” ujar Dewati.

Triawan Munaf (Kepala BEKRAF) menambahkan bahwa jumlah pelaku startup di Indonesia terus meningkat seiring dengan pertumbuhan penetrasi digital dan internet. Dari sudut pandang BEKRAF, kompetisi ini merupakan peluang bagi industri kreatif untuk berkembang.

“Melalui Startup World Cup, saya percaya bahwa bersama Fenox, kami dapat menemukan calon wirausahawan dan membawa mereka ke tingkat berikutnya. Untuk semua pengembang dan pelaku startup di Indonesia, jaga semangat Anda tetap tinggi, tetaplah bersikap positif dan tetap kreatif. Percaya pada kemampuan kita sendiri untuk mendapatkan kepercayaan dari masyarakat global,” Triawan berpesan.

Facebook Bakal “Gusur” Kantor Yahoo di San Francisco

Gedung San Francisco Chronicles. [Kredit: Dion Hinchcliffe/Flickr.com]
Facebook dikabarkan bakal “menggusur” ruang kantor yang sedang ditempati Yahoo di kota San Francisco, AS.

Saat ini, Yahoo masih menyewa ruang kantor di gedung milik harian San Francisco Chronicle. Tetapi, masa sewa itu akan berakhir pada tahun 2018. Selain itu, dalam waktu dekat Yahoo juga akan segera bergabung dengan AOL di bawah bendera Oath dan memberhentikan sekitar 2.000 karyawannya.

Sementara itu, Facebook sekarang memang belum memiliki kantor cabang di San Francisco. Salah satu alasannya, markas besar Facebook yang berada di Menlo Park jaraknya hanya sekitar 48 kilometer dari kota di pesisir barat Amerika Serikat ini.

Namun, seperti dilansir San Francisco Business Times, Facebook sedang mempertimbangkan untuk membuka kantor pertama di San Francisco dan membidik lokasi kantor Yahoo ini.

Gedung lainnya yang juga diincar Facebook yaitu 181 Fremont, tetapi lokasi ini bakal dipakai untuk menempatkan sekitar 100 karyawan Instagram.

Jika Facebook jadi berkantor di gedung ini, langkah ini akan memperkuat posisi Facebook sebagai perusahaan media, bukan lagi perusahaan teknologi, karena San Francisco Chronicle adalah salah satu media tertua di AS dan sudah berusia 152 tahun.

Wall Street Journal baru-baru ini juga memberitakan bahwa Facebook akan memperkenalkan fitur baru terkait pemberitaan, yaitu menawarkan layanan berlangganan untuk penerbit-penerbit tertentu dengan sejumlah biaya bulanan. Fitur ini sudah diminta sejak lama oleh para penerbit online, terutama mereka yang menerapkan sistem paywall atau pemberitaan berbayar.

Sumber WSJ memperkirakan fitur tersebut bakal diluncurkan pada akhir tahun ini.

Nilai Tukar Bitcoin Anjlok 500 Dollar AS dalam Satu Hari, Kenapa?

Bitcoin

Nilai tukar mata uang digital bitcoin tercatat mengalami penurunan drastis pada hari Senin (12/6), setelah satu hari sebelumnya mencapai angka tertinggi di atas US$3.000.

Dikutip dari CNBC, CoinDesk melaporkan bahwa kurs bitcoin sempat melemah hingga 16 persen menjadi US$2.532,87. Padahal, hanya satu hari sebelumnya (Minggu, 11/6), kurs bitcoin sudah meroket ke nilai tertinggi sekaligus melampaui titik psikologis US$3.000, senilai US$3.041,36, atau terus tumbuh di atas titik US$2.000 yang baru saja dicapai kurang dari satu bulan lalu.

Meski demikian, pada Senin malam, kurs bitcoin sedikit membaik ke angka US$2.721. Angka ini pun masih terbilang tinggi jika dibandingkan kurs tahun lalu dengan peningkatan sebesar lebih dari 150 persen.

Pergerakan nilai tukar yang begitu dinamis ini menunjukkan betapa rentannya mata uang digital seperti bitcoin terhadap faktor eksternal.

Penyebab naik turunnya nilai tukar bitcoin dalam satu hari diawali dari kabar baik yang datang dari Tiongkok, saat sejumlah tempat penukaran bitcoin kembali menawarkan penarikan uang setelah satu bulan tutup. Tetapi, nilai tukar ini langsung anjlok sebagai dampak dari menurunnya harga saham sejumlah perusahaan elektronik di bursa saham Amerika Serikat.

Para analis pun menyampaikan kekhawatiran bahwa bitcoin terlalu cepat tumbuh ke tingkat yang kurang berkelanjutan untuk jangka panjang.

“Kita melihat keserakahan yang dipertunjukkan secara terbuka. Hal ini tidak baik bagi ekosistem. Pada akhirnya, nilai tukar yang lebih normal yang akan bertahan,” kata William Mougayar (Penulis “The Business Blockchain: Promise, Practice, and Application of the Next Internet Technology).

Popularitas bitcoin juga mengundang ancaman baru dari para penjahat siber. Setidaknya dua tempat penukaran bitcoin besar, Coinbase dan BTC-e, melaporkan serangan DDoS dalam satu hari yang mengganggu layanan mereka.

Coinbase diperkirakan berkontribusi hampir 17 persen terhadap total volume perdagangan bitcoin dengan denominasi US Dollar, sedangkan BTC-e menyumbang sekitar 6 persen lainnya.

Server HPE ProLiant Gen10 Lebih Aman dan Simpel untuk Lingkungan Hybrid IT

Keluarga server HPE ProLiant Gen10.

Hewlett Packard Enterprise (HPE) memperkenalkan server generasi terbaru, HPE ProLiant Gen10, yang diklaim sebagai server paling aman di standar industri saat ini.

Pertama kali diluncurkan pada acara HPE Discover 2017 di Las Vegas, pekan lalu, HPE ProLiant Gen10 telah dibekali “silicon root of trust”, sistem keamanan terintegrasi yang mampu melindungi bukan hanya hardware, melainkan juga firmware.

Hal ini dimungkinkan berkat penggabungan chip custom buatan HPE dan firmware HPE Integrated Lights Out (iLO) yang tidak mengizinkan eksekusi kode firmware yang sudah disusupi malware. Rancangan sistem ini menciptakan sidik jari digital yang tidak bisa diubah pada silikon. Apabila firmware mendeteksi sidik jari digital yang sudah dimodifikasi, otomatis server tidak akan dapat menyala.

“Banyak server sudah dilengkapi perlindungan keamanan di level hardware. Tetapi, baru HPE yang membuat perlindungan keamanan firmware yang dikaitkan dengan chip custom buatan mereka sendiri,” kata Patrick Moorhead (President and Principal Analyst, Moor Insights & Strategy).

HPE mengembangkan “silicon root of trust” karena berdasarkan temuan Information Systems Audit and Control Association (ISACA), pada tahun 2016 lebih dari 50 persen profesional keamanan siber pernah melaporkan sedikitnya satu kejadian firmware yang diinfeksi malware. Ini membuktikan modus serangan siber kian canggih dan menyasar celah keamanan pada firmware.

Pengalaman Komputasi yang Baru

Selain dari sisi keamanan, server HPE ProLiant Gen10 juga digadang-gadang lebih simpel, mudah, dan lincah karena pengoperasian yang serbaotomatis serta dukungan terhadap software-defined infrastructure.

Aplikasi HPE OneView 3.1 siap menghadirkan kemampuan composable storage dan peningkatan manajemen firmware, sedangkan HPE Intelligent System Tuning menawarkan pengalaman terbaik berdasarkan beban kerja dan varian prosesor Intel Xeon Scalable yang tertanam.

Sementara itu, HPE Synergy for Gen10 adalah modul komputasi yang mampu meningkatkan kinerja untuk beban kerja yang menitikberatkan pada data dan perhitungan rumit, seperti pemodelan keuangan. HPE Scalable Persistent Memory adalah solusi storage terintegrasi dengan kecepatan in-memory computing hingga satuan terabyte.

Yang menarik, platform server HPE ProLiant Gen10 dan ekosistem pendukungnya dapat dinikmati pelanggan dengan model berlangganan pay-as-you-go, seperti layaknya menggunakan layanan cloud.

“Pelanggan menginginkan server generasi selanjutnya yang bisa membuat hybrid IT menjadi lebih sederhana, infrastruktur server yang lebih aman, dan fleksibilitas konsumsi TI dari capex ke opex. Kami mendengarkan mereka dan mengembangkan server HPE ProLiant Gen10 selama dua tahun untuk memenuhi kebutuhan itu,” papar Alain Andreoli (Senior VP and General Manager, Data Center Infrastructure Group, HPE).

Server HPE ProLiant Gen10 dan produk-produk yang diperkuatnya akan hadir di pasaran mulai musim panas 2017 atau sekitar bulan Juli tahun ini.

Saat Kecerdasan Buatan Menjadi Sahabat Perusahaan

Ilustrasi kecerdasan buatan.

Jika ada kesempatan menggunakan speaker cerdas Amazon Echo, cobalah memintanya menyanyikan sebuah lagu. Lalu, jika tidak puas, cobalah “mengolok-oloknya” dengan mengatakan “Alexa, you’re very stupid”. Anda mungkin akan terkejut bahwa perangkat ini akan menjawab dengan beberapa cara, salah satunya dengan mengatakan “That’s not a very nice thing to say”. Jawaban yang cukup cerdas bukan?

“Kecerdasan” speaker cerdas semacam Amazon Echo dan Google Home merupakan bukti bahwa penerapan kecerdasan buatan (artificial intelligence) sudah kian meluas.

Di Google, yang setiap saat kita gunakan untuk mencari informasi, khususnya dengan memanfaatkan fitur speech recognition, teknologi kecerdasan buatan telah diterapkan sejak lama. Demikian pula ketika Anda ingin mencocokkan sebuah gambar dengan Google Images, kecepatan dan keakuratan hasil pencarian dimungkinkan berkat kecerdasan buatan.

Kalahkan Manusia

Di sektor jasa asuransi misalnya, kecerdasan buatan bisa menghemat proses penghitungan klaim bagi nasabah, yang selama ini masih dilakukan oleh manusia, walaupun dibantu oleh peranti lunak khusus.

Sementara itu, International Business Machine (IBM) makin serius mengembangkan komputer super Watson. Hingga kini, IBM mengklaim telah meningkatkan kemampuan Watson di tingkatan kuantum yang dapat diakses oleh publik di website mereka.

Google juga sedang mengembangkan DeepMind, sistem kecerdasan buatan yang pengerjaannya dilakukan sejak tahun 2014. Pada Maret 2016, DeepMind dengan peranti lunak AlphaGo mengalahkan Lee Sedol dalam lima putaran permainan Go, catur klasik Cina. Kompleksitas game ini diklaim melebihi permainan catur biasa. Lee Sedol adalah pemain Go profesional peringkat ke-9 dunia asal Korea Selatan.

Nah, seiring meningkatnya penggunaan kecerdasan buatan di berbagai bidang, kali ini kami akan memaparkan beberapa perusahaan atau lembaga yang telah menerapkan sistem kecerdasan buatan secara nyata.

Mengingat jumlahnya sangat banyak, kami meringkasnya berdasarkan tingkat kemenonjolannya dalam beberapa kategori industri.

Penerapan di Media Massa

Kecerdasan buatan sangat efektif diterapkan di bidang media massa untuk meningkatkan kecepatan dan keakuratan berita bagi audiensi. Pada 6 September 2016, France Info, perusahaan yang menaungi Radio France bekerja sama dengan Dataminr untuk melakukan itu.

Dataminr mendapatkan data dari 500 juta status pengguna Twitter dan sumber informasi lainnya yang disaring berdasarkan topik, waktu, dan wilayah. Data itu secara otomatis terkirim kepada klien secara real time. Dengan cara itu, pengelola France Info mampu memberikan informasi secara lebih akurat, relevan, dan lebih awal kepada audiensinya.

Ilustrasi mekanisme pengunaan Dataminr di industri media massa.

Contoh penerapan konkretnya adalah ketika terjadi badai gurun yang menghantam sebagian wilayah Timur Tengah termasuk pantai barat India pada 6 April 2015.

Hindustan Times yang menggunakan layanan Dataminr, mendapatkan informasi awal itu dari status Twitter seorang pelancong yang kebetulan berada di tengah-tengah badai menggunakan angkutan umum. Menggunakan layanan peta di Dataminr, redaksi Hindustan Times mendapati bahwa pelancong tersebut sedang di wilayah Rajasthan, India. Dari pelancong itu pulalah redaksi mendapatkan foto-foto eksklusif peristiwa tersebut.

Dataminr didirikan pada tahun 2009 di New York Amerika serikat oleh Ted Bailey, Jeff Kinsey, dan  Sam Handel. Pada 2014, CNBC menobatkan Dataminr sebagai salah satu dari lima puluh perusahaan dunia paling disruptif, sebab memiliki kelebihan dan keunikan algoritma dalam mencari dan mengumpulkan data (dibandingkan dengan Google, IBM, dan Salesforce.com).

Penerapan di Bidang Analisis Keuangan

Pada November 2014, Goldman Sachs memutuskan menggelontorkan dana investasi sebesar US$15 juta kepada Kensho, sebuah perusahaan rintisan di Amerika Serikat yang didirikan oleh Daniel Nadler.

Alasannya sederhana yakni Kensho memproduksi peranti lunak cerdas Warren yang mampu menampilkan informasi lengkap dan akurat seputar peristiwa keuangan terkini, termasuk analisis dan prediksi. Goldman Sachs, CIA, JP Morgan Chase, Bank of America dan CNBC adalah tiga perusahaan dari sekian banyak perusahaan yang menjadi klien Kensho.

Ilustrasi mekanisme aplikasi Kensho Warren di bidang analisis keuangan.

Daniel Nadler mendapatkan ide pembuatan Warren, ketika pada tahun 2013 ia menjadi mahasiswa magang di Boston Federal Reserve. Di sana ia mendapati bahwa beragam peristiwa yang terjadi saat ini dan di masa lalu menjadi faktor penentu sangat besar bagi seseorang dan perusahaan untuk memutuskan langkah-langkah investasi yang tepat. Peristiwa ini misalnya fluktuasi harga minyak di Timur Tengah dan pemilihan umum di Eropa.

Dari sana timbul pertanyaan: “Kapan pertama kali peristiwa itu terjadi?” atau “Bagaimana dampak peristiwa itu terhadap pasar?” Warren menjawab pertanyaan-pertanyaan itu dengan jawaban yang eksak, tidak seperti hasil pencarian mesin pencari biasa yang menampilkan hasil analisis yang sudah ada sebelumnya.

Warren mampu menjawab hingga 65 juta pertanyaan dengan menganalisis keterkaitan di antara lebih dari 90 ribu data yang meliputi data bencana alam, perkembangan politik, performa keuangan perusahaan, peluncuran produk baru, hingga keputusan-keputusan yang diambil lembaga pemerintahan.

 

Kepada Warren, Anda dapat mengetikkan beragam pertanyaan-pertanyaan yang sangat kompleks (natural languange) dengan jawaban yang eksak.

Misalnya (dalam bahasa Inggris): which cement stocks go up the most when a Category 3 hurricane hits Florida? (jawaban: Texas Industries), which defense stocks go up when North Korea fires a test missile? (jawaban: Raytheon, General Dynamics, Lockheed Martin), atau which Apple supplier’s share price goes up the most when the company releases a new iPad? (jawaban: OmniVision).

Penerapan di Bidang Manajemen

Pada 22 Desember 2016, Bridgewater Associates mengumumkan pengembangan peranti lunak untuk memenuhi kebutuhan manajemen, seperti rekrutmen karyawan dan keperluan pembuatan keputusan strategis.

Bridgewater Associates menilai bahwa dengan kehadiran kecerdasan buatan itu, karyawan lain bertugas untuk menetapkan kriteria apa saja yang dimasukkan ke dalam algoritma peranti lunak tersebut, termasuk, tentu saja mengawasi pelaksanaannya.

Tim pembuat program, yang sejak awal 2015 dibentuk, dikepalai oleh David Ferrucci yang juga terlibat dalam pengembangan IBM Watson. Program awal itu dinamakan PriOS. Tujuannya, membuat sekitar ¾ keputusan manajemen yang dapat digunakan hingga lima tahun mendatang.

Kemampuan ini dapat membantu perusahaan merekrut karyawan yang tepat untuk bidang pekerjaan khusus. Hasil pemeringkatan kemudian dikaji kembali oleh beberapa anggota tim, jika terdapat ketidaksetujuan tentang cara-cara untuk memprosesnya.

Pembuatan program ini dianggap sebagai langkah yang tepat untuk menghindari ketidaktepatan manusia saat mengambil keputusan, yang tidak jarang dipengaruhi oleh kondisi hati dan kejiwaanya. Bagi Bridgewater Associates, sebagai perusahaan terkait pengelolaan keuangan terbesar di dunia, keputusan yang keliru sangat menentukan keberlangsungan kinerja perusahaan.

Perusahaan konsultan Huge, yang pernah melayani Nike, Google, dan Gedung Putih, merasa perlu membuat Dakota. Untuk memenuhi kebutuhan tertentu, Dakota membantu Huge untuk memilih karyawan yang tepat yang akan melakukan presentasi.

Dakota memeriksa terlebih dahulu pangkalan data yang berisikan dokumen riwayat hidup para karyawan, lalu menginformasikan siapa saja yang cocok bertemu calon klien, termasuk materi–materi yang patut dipresentasikan.

Dakota juga bisa mencari profil tentang rekanan yang cocok digandeng untuk sebuah proyek. Huge sedang mengembangkan Dakota agar tidak sekadar menerima perintah teks melalui SMS, tetapi bisa mengenali perintah suara, dan tampilan visual.

Penerapan di Bidang Pemasaran

Netflix pun tak ingin tertinggal dan mencoba melibatkan kecerdasan buatan agar mereka bisa benar-benar memahami kebutuhan pengguna. Sebelumnya, untuk mengukur minat penggguna, Netflix mengandalkan sistem rating, berbasis banyaknya bintang yang diberikan pengguna kepada setiap film yang disukainya. Itulah yang dijadikan rujukan analisis dan prediksi tentang pengguna.

Masalah pun muncul ketika tidak semua orang ingin menonton film dengan rating lima bintang. Seorang pengguna barangkali memberikan lima bintang pada film The Godfather dan memberikan tiga bintang pada film serial Friends, tetapi lebih tertarik untuk menonton Friends.

Dengan kecerdasan buatan, Netflix mengumpulkan data dari 83 juta pengguna, berupa jumlah play, pause, klik, dan penelusuran. Peranti lunak mempelajari data ini dan menggabungkan dengan kesamaan ciri antarpengguna dan kelompok pengguna untuk mencari pola tertentu, kemudian membuat sebuah prediksi.

Fitur Discovery di Spotify berbasis kecerdasan buatan untuk mengenali selera musik pengguna.

Di lain pihak, pada Mei 2016, Spotify mengumumkan keberhasilannya dalam menerapkan fitur Discovery Weekly Playlists, yang mencapai 40 juta pengguna aktif. Sejak diluncurkan pada Juli 2016, jumlah track lagu yang tersedia di sini mencapai lima juta dengan jumlah penayangan mencapai 1,5 miliar. Jumlah pengguna unik itu melebihi separuh dari jumlah anggota Spotify yang kini mencapai 70 juta.

Menerapkan kecerdasan buatan dengan algoritma yang lebih rumit berbanding Netflix, Spotify menganalisis riwayat musik yang telah dimainkan, tetapi difokuskan pada musik yang didengar paling akhir.

Katakanlah Anda sedang mendengarkan lagu Burn karya Deep Purple. Sistem kemudian mencari lagu lain yang mirip (baik dari segi nama penyanyi, judul, genre dan subgenre) di antara jutaan playlist yang dibuat oleh pengguna lainnya.

Setelah ditemukan dan cocok dengan profil akun Anda, lagu tersebut secara otomatis dimasukkan ke dalam playlist Anda sebagai lagu yang belum pernah Anda dengar sebelumnya, tetapi berpeluang besar untuk Anda dengarkan.  

Penerapan di Bidang Kesehatan

Selain mampu mengindentifikasi perawatan penyakit kanker dan menang pada kuis Jeopardy, IBM Watson juga mampu membantu penelitian baru, yaitu neuroscience.

Pada Desember 2016, IBM mengumumkan keberhasilannya dalam menemukan lima gen yang terkait dengan ALS (amyotrophic lateral sclerosis). Ini merupakan sebuah penyakit degeneratif, di mana sel yang mengontrol pertumbuhan otot berada dalam kondisi mati. Ini yang membuat penderitanya lumpuh bahkan meninggal dunia.

Hasil kerja sama IBM dengan Barrow Neurological Institute itu “melatih” Watson dengan cara mempelajari semua literatur ALS yang ada selama ini dan mengenali lebih jauh jenis protein tertentu. Protein ini dicurigai memiliki hubungan erat dengan penyebab ALS.

Asisten Suara IBM Havyn yang Berbasis IBM Watson

IBM Watson kemudian memeringkat sekitar 1.500 data gen manusia dan menganalisisnya untuk memastikan apakah protein ini memang terkait dengan ALS. Hasilnya adalah sebanyak 8 dari 10 gen terkait ALS sedangkan 5 gen lainnya tidak terkait sama sekali. Hasil positif ini sangat membantu peneliti dan dokter dalam memberikan perawatan yang tepat bagi penderita.

Tanpa IBM Watson, penelitian serupa bisa berlangsung bertahun-tahun. IBM Watson di lain pihak mampu melakukannya hanya dalam beberapa bulan.

Penerapan di Bidang Manajemen Peralatan

Teknologi canggih lainnya yang menggunakan kecerdasan buatan adalah teknologi digital twin yang dikembangkan secara ambisius oleh General Electric (GE).

Digital twin adalah peranti lunak khusus untuk melakukan fungsi manajemen peralatan, khususnya pengendalian dan pengawasan yang dapat dilakukan secara virtual. Katakanlah Anda merupakan seorang manajer pabrik yang sedang berada di luar kota. Namun, bawahan Anda sangat memerlukan pertimbangan Anda tentang pipa turbin yang mengalami keretakan, yang kemungkinan besar menghambat proses produksi.

Daripada sekadar mengirimkan informasi tersebut dalam bentuk teks dan foto, dengan digital twins, Anda dapat “mengunjungi” pabrik melalui laptop atau komputer tablet. Dari sana, informasi lebih lengkap dapat dilihat, mulai dari informasi terkini dalam bentuk teks, gambar asli, dan gambar keretakan virtual secara 3D.

Tidak hanya itu, dengan suara, Anda dapat memerintahkan digital twins untuk mencari beragam rekomendasi pemecahan masalah yang mungkin bisa dijadikan acuan, termasuk perkiraan berapa lama masalah tersebut dapat diselesaikan, lengkap dengan anggaran biayanya. Semua itu dijawab layaknya Anda berbicara dengan orang lain. Jikalau ingin mengintegrasikannya dengan kacamata virtual, itu tidak menjadi masalah.

Ilustrasi digital twins dari GE.

Kecanggihan digital twins, khususnya tentang pencarian solusi atas masalah, dimungkinkan dengan “melatih” peranti lunak dengan jutaan data yang dimiliki perusahaan atau sumber data yang lain yang terkait.

Terdapat tiga aspek mendasar di balik digital twins: pertama, See, data (jenis dan suku cadang alat, dan lain-lain, termasuk sensor yang ditempatkan pada alat secara langsung) yang dijadikan pembuatan model, lalu solusi. Hal itu dilakukan dengan cara memutakhirkan (update) data dan metode pembelajaran.

Kedua, Think, di mana peranti lunak mencari rasionalisasi (reasoning) yang paling masuk akal atas sebuah masalah lalu mengoptimalkannya. Ketiga, Do, memprosesnya menjadi informasi (teks,suara, dan gambar).

Masa Depan di Tangan Mesin

Kecerdasan buatan mampu meningkatkan kompetisi bisnis perusahaan dan membuatnya memenangkan pasar. Namun, di sisi lain muncul kekhawatiran baru terhadap meningkatnya jumlah pengangguran. Pasalnya, perusahaan tidak perlu lagi merekrut karyawan tambahan.

Menurut laporan Gartner pada tahun 2014, pada tahun 2029 nanti, sepertiga profesi manusia akan digantikan oleh peranti lunak, robot, dan mesin cerdas. Di tahun yang sama, seperti yang diungkapkan Ray Kurzweil (Director of Engineering Google), tingkat kecerdasan buatan akan menyamai kecerdasan manusia. Selain itu, peningkatan kemampuan komputer kuantum pada beberapa dekade mendatang akan mengubah lanskap peradaban manusia seutuhnya, khususnya untuk menguak misteri alam semesta.

Kamera Sony A9 Tawarkan Autofokus 693 Titik dan Rekam Video 4K

Kamera terbaru dari Sony, α9

Akhirnya, Sony Indonesia memperkenalkan kamera full-frame mirrorless terbarunya Sony A9 dan tiga lensa Sony G terbaru yang melengkapi jajaran lensa profesional di Indonesia.

Kamera yang mengadopsi sensor 35mm full frame itu merupakan penerus dari seri Alpha 7.

“Sony Alpha hadir dengan sensor full frame terbaru yang memungkinkan fotografer mengambil gambar dengan cepat dan tanpa suara. Ditambah 693 titik autofokus,” Kazuteru Makiyama (Presiden Direktur Sony Indonesia) dalam siaran persnya, Selasa.

Sony A9 memiliki desain bodi yang sangat mirip dengan A7 dan sensornya mampu mengambil video 4K yang merupakan hasil downsampling dari 6K. Kamera full-frame itu juga memiliki port ethernet, dua slot SD Card, dan baterai yang mampu bertahan lebih lama.

Hebatnya, Sony A9 mampu mengambil gambar di 20 fps sebanyak 241 file RAW atau 362 file JPEG sekaligus. Kemampuan Sony A9 itu mampu mengalahkan kemampuan kamera DSLR khusus untuk olahraga seperti Canon 1DX Mark II dan Nikon D5. Canon 1DX Mark II sendiri hanya mampu mengambil gambar di 14 fps.

Sony A9 juga memiliki shutter elektronik yang mampu memotret hingga 1/32000 detik dan teknologi 4D Focus, termasuk sistem AF 693 point.

Rahasia kecanggihan Sony A9 terletak pada sensor dan prosesor gambarnya. Sony A9 mengusung sensor CMOS full-frame beresolusi 24,2 megapixel dan prosesor gambar BIONZ X terbaru yang kemampuan kerjanya 20 kali lebih kencang dari kamera Sony A7. BIONZ X juga menghasilkan rentang ISO dari 100 sampai 51.200, dan dapat diperluas hingga 204.800.

Sony memastikan kehadiran Sony A9 tidak akan mematikan pasar kamera Sony A7 karena Sony A9 memiliki segmentasi pengguna yang berbeda. Jika A7 fokus ke resolusi gambar (A7R Series) dan tingkat sensitivitas sensor (A7S Series), A9 lebih fokus kepada kecepatan.

“Kamera ini tidak akan menjadi pesaing A7 karena A9 lebih mengutamakan kecepatan. Kamera (A9) ini tidak hanya untuk kalangan profesional, tetapi juga menyasar mereka yang hobi dengan fotografi,” ujarnya.

Sony baru akan menjual Sony A9 di Indonesia pada Juli-Agustus mendatang. Sayang, Sony Indonesia masih belum mau membocorkan harga kamera ini.

Distributor Apple Jual Data Pengguna di Pasar Gelap, Rp100 Ribuan Saja

Salah satu tersangka pencurian data pengguna Apple sedang diinterogasi polisi Tiongkok.

Apple sangat menjunjung tinggi nilai privasi penggunanya termasuk informasi dan data pengguna layanannya. Namun justru, rekanan perangkat Apple sendiri yang berada di Tiongkok menjual data pelanggan mereka untuk meraup miliaran dolar.

Data pengguna menjadi salah satu komoditi terpanas di pasaran saat ini, karena teknologi terus menembus kehidupan di seluruh dunia, dan mengetahui bagaimana orang berperilaku menjadi sumber berharga di berbagai spektrum bisnis.

Kepolisian Zhejiang, Tiongkok berhasil menangkap 22 tersangka yang mencuri dan menjual data pengguna dari database Apple ke pasar gelap. Ironisnya, para pelaku adalah distributor Apple dari pihak ketiga yang memiliki akses ke data pengguna iPhone, seperti nomor telepon dan ID Apple.

Data-data pengguna itu dijual antara 10-80 Yuan atau sekitar Rp 19 – 156 ribu perdata dan total angka penjualan data curiannya mencapai 50 juta Yuan atau sekitar US$ 7,36 juta atau setara Rp98 miliar seperti dikutip Phone Arena.

Sayangnya, tak jelas berapa banyak pengguna iPhone yang terdampak pencurian data pribadi tersebut. Apple pun belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait kasus kriminal tersebut.

Polisi Tiongkok itu menyelidiki kasus tersebut sejak Januari dan mulai menjaring tersangka pada 3 Mei. Polisi itu menangkap para tersangka di Provinsi Guangdong, Jiangsu dan Fujian serta menyita komputer, ponsel dan kartu kredit selama penggrebekan.

Akibat perbuatannya, para tersangka akan dikenakan pasal penjualan informasi ilegal.

Sekadar informasi, penjualan data di Tiongkok sudah bukan hal yang baru karena Tiongkok memiliki pasar gelap untuk mendapatkan informasi yang diperoleh secara ilegal, baik yang diperoleh dari database perusahaan atau pemerintah.

Peretas dan spesialis pencurian data menargetkan pengguna iPhone, sebagai upaya pemeresan atau mendapatkan akses data sensitif di Cloud.

Review Smartphone