Profil Danny Oei Wirianto: Mengubah Pola Pikir Tanpa Ingin Menggurui

Danny Oei Wirianto: Mengubah Pola Pikir Tanpa Ingin Menggurui

Danny Oei Wirianto. [Foto: Abdul Aziz/InfoKomputer]

Salah satu ciri orang sukses adalah selalu berpikir kreatif. Maka, tak mengherankan jika orang-orang yang tergolong sukses adalah yang menyandang status sebagai entrepreneur.

Dari Indonesia sendiri, ada nama Danny Oei Wirianto yang sudah malang melintang di industri kreatif digital selama lebih dari satu dekade. Nama Danny bisa dibilang mulai dikenal orang sebagai salah satu pendiri Kaskus, forum komunitas maya terbesar di Indonesia. Bahkan Danny juga turut membantu me-rebranding Kaskus yang awalnya dikenal sebagai situs dewasa menjadi forum komunitas seperti sekarang.

Jika melihat pencapaian Danny, tentu tak akan terpikirkan masa lalu Danny yang penuh liku. Kondisi itulah yang lantas mendorong pria kelahiran Jakarta ini untuk hijrah ke negeri Paman Sam dan melanjutkan kuliah di sana.

Office Boy yang Menjadi Entrepreneur

Di Amerika Serikat, Danny merasakan perjuangan. Sambil berkuliah di jurusan seni rupa, Danny juga bekerja sebagai office boy. Rupanya, Danny juga menyimpan bakat untuk mengajari orang, dan uniknya banyak yang ingin diajari olehnya. Danny lantas lebih memilih untuk berfokus mengajar dibanding meneruskan pekerjaan sambilannya sebagai office boy.

Setelah lulus kuliah, Danny yang kala itu juga mendapat penghargaan dari universitasnya, memutuskan untuk melamar pekerjaan. Namun, Danny mendapatkan tantangan. Sebagai lulusan seni, tentu saja ia wajib mengirimkan pula portofolio karya-karyanya. Masalahnya adalah, untuk mencetak karyanya diperlukan biaya yang cukup besar.

Sebagai orang kreatif, Danny pun mendapat ide untuk membuat situs yang berisi portofolio karya-karyanya sehingga perusahaan maupun klien dapat menilai sendiri karya-karyanya. Nasib baik pun menghampiri Danny. Ia mendapat telepon dari perusahaan desain terkemuka Adobe yang kemudian merekrutnya sebagai direktur seni.

Dari pengalaman inilah, Danny akhirnya melahirkan beberapa startup, seperti SemutApi Colony, Kaskus, MindTalk, dan masih banyak lagi. Beberapa pendiri startup, seperti Urbanesia, Tiket.com, dan lainnya merupakan aneka talent yang mendapatkan tutorial dari Danny.

Dari pengalaman itu pula, Danny tak menampik jika ia cukup kesulitan mencari talent. “Dilema talent-talent Indonesia adalah mindset-nya yang salah,” tutur Danny.

Pria yang mendapat anugerah Top 3 Best Mentor in Asia dari Founder Institute dan Top 10 Young Entrepreneur Awards dari Jawa Pos ini juga membeberkan jika salah satu kelemahan berbagai talent Indonesia adalah takut salah.

“Kalau di sini takut bikin salah, takut dihina, padahal ketika otak dibentuk [jika] 1% saja dipakai untuk memikirkan hal jelek, apa yang terjadi? Yang 99% bisa terpengaruh,” ujar Danny. Ia pun menganalogikan pikiran ibarat kopi hitam yang berubah warnanya ketika diberi setetes susu.

Menulis Buku

Latar belakang itu pula yang lantas mendorong Danny untuk menulis sebuah buku motivasi berjudul “Think Fresh!” pada tahun 2016

Danny menyebut jika latar belakang dirinya menulis buku itu adalah karena ia sudah berulang kali memberi “mantra-mantra” kepada karyawan-karyawan yang ia latih. “Di perusahaan saya, semua orang harus merasa bodoh, karena dari situ kita bisa belajar. Kalau tidak merasa bodoh ibaratnya seperti gelas yang penuh,” ujarnya.

Danny Oei Wirianto. [Foto: Abdul Aziz/InfoKomputer]

Mengenai buku yang ia tulis, Danny menuturkan bila fokusnya terletak pada keunggulan diri kita sendiri. Melalui buku pertamanya ini pula, Danny ingin sekaligus membantu menyebarkan kebaikan melalui positive mindset kepada masyarakat yang lebih luas.

Ia menyebut jika tantangan menulis buku ini adalah dalam pemilihan kata-kata, agar tidak terkesan menggurui seperti buku motivasi pada umumnya. Ia juga mendesain buku tersebut sedemikian rupa agar yang membaca pun tidak merasa cepat bosan.

Menariknya, hasil penjualan buku yang ia kerjakan selama tiga tahun ini ia sumbangkan kepada yang membutuhkan. Ia menyebut, langkah ini ia ambil sebagai wujud rasa syukur atas kesempatan yang telah ia raih selama ini. Di masa depan, Danny menuturkan masih ingin menulis buku lanjutan.

Saat ditanya soal tren perusahaan digital di Indonesia, Danny mengungkapkan jika perusahaan tetaplah perusahaan. Hal yang membuatnya berbeda bahkan tetap eksis adalah “isi”-nya. “Fokus pada creating the messages,” pungkas Danny.

Comments

comments