Profil IT Executive Kisah Arifin Pranoto Tentang Astragraphia dan Perubahan Teknologi Dokumen dalam 30 Tahun

Kisah Arifin Pranoto Tentang Astragraphia dan Perubahan Teknologi Dokumen dalam 30 Tahun

Arifin Pranoto (Independent Director, Astragraphia). [Foto: Abdul Aziz/InfoKomputer]

Sebagai perusahaan yang bergerak di sektor document solution, Astragraphia merasakan betul perubahan yang terjadi dalam 30 tahun terakhir.

“Di era 1970 – 80an, perubahannya terasa lambat. Namun sejak era 1990-an, perubahannya cepat sekali,” ungkap Arifin Pranoto, Independent Director Astragraphia. Perubahan tersebut meliputi transisi dari teknologi analog ke digital, dari mesin copier ke multifungsi, dan juga dari dokumen monokrom ke warna.

Perubahan tersebut tentu saja melahirkan tantangan tersendiri bagi Astragraphia yang berdiri sejak tahun 1975 tersebut. “Transisi itu harus dilalui dengan cermat dan hati-hati,” tambah pria yang telah bekerja di Astragraphia lebih dari 30 tahun ini.

Arifin menunjuk contoh, dahulu jumlah order minimum pencetakan dokumen adalah 3.000 lembar. “Karena dulu untuk menciptakan file master-nya, kita butuh komputer yang besar dan software yang mahal sekali,” tukasnya. Namun kini, praktis semua orang bisa membuat dokumen. Alhasil, membatasi minimum order pun sudah tidak relevan lagi. “Sekarang mencetak satu dokumen saja bisa,” tambah Arifin.

Tuntutan konsumen juga berubah. “Dahulu, kalau mesin bisa beroperasi dengan baik, sudah tidak masalah,” ungkap Arifin. Namun saat ini, konsumen menuntut perangkat yang mendukung kebutuhan masa kini. “Contohnya, sekarang pengguna ingin bisa mencetak langsung dari smartphone-nya” kata Arifin.

Pengguna juga menuntut security atas dokumen yang ia cetak. “Mau tidak mau, semua perangkat yang kami miliki harus terintegrasi dengan yang lain” tambah Arifin.

Dengan semua perubahan tersebut, Arifin melihat dunia digital dan dokumen kini praktis sudah menyatu. Definisi kata “dokumen” pun akan meluas. “Makna dokumen tidak lagi cuma kertas, namun bisa berupa elektronic file, cloud, dan lain sebagainya,” lanjutnya.

Menyadari hal tersebut, Astragraphia saat ini terus mengembangkan diri. Hal ini bisa dilihat dari campaign Astragraphia di tahun 2017 yang mengusung tema Change. “Karena tidak ada abadi selain perubahan itu sendiri,” jawab Arifin ketika ditanya filosofi di balik tema ini.

Perubahan juga bisa dilihat dari produk dan solusi yang dimiliki Astragraphia. Di era cloud seperti sekarang, Astragraphia akan memperkenalkan solusi seputar penyimpanan dokumen di cloud storage.

Nantinya, mesin multifungsi Fuji Xerox bisa terhubung dengan layanan cloud storage seperti Box, Dropbox, atau Google Drive dengan single sign-on. Jadi ketika pengguna ingin mencetak sebuah dokumen, ia hanya perlu mengetikkan nama dokumen tanpa harus mengingat di layanan mana ia menyimpan file tersebut.

Inovasi lain adalah fasilitas scan translation. Saat pengguna memiliki dokumen dalam bahasa asing, mereka bisa memindai dokumen tersebut. Mesin multifungsi Fuji Xerox secara otomatis akan menerjemahkan dokumen tersebut dan menampilkan hasil terjemahannya di bawah tiap baris dokumen aslinya.

“Dan permintaan kami kepada Fuji Xerox Jepang juga sudah dipenuhi, yaitu menyediakan fasilitas scan translation untuk Bahasa Indonesia,” imbuh Arifin.

Ketika perubahan secara teknologi begitu cepat, bagaimana Astragraphia mempersiapkan diri? Arifin pun berbagi rahasia. “Yang paling penting adalah infrastruktur, khususnya di SDM,” tambah Arifin. Teknologi boleh saja cepat berubah, namun faktor manusia tetap memegang peranan penting. “Karena orang-lah yang menjembatani perubahan dari A ke B,” Arifin menceritakan filosofinya.

Tidak heran jika kemudian Astragraphia banyak melakukan pelatihan dan pengayaan pengetahuan kepada karyawannya. “Kami berikan pelatihan ini sebanyak mungkin, baik dari sisi Fuji Xerox maupun domestik,” ujar Arifin.

Faktor penting lainnya adalah menciptakan organisasi yang adaptif terhadap perubahan. Salah satunya dengan melakukan rotasi karyawannya secara rutin. “Karena ketika seseorang menghadapi tantangan baru, jiwa inovatif mereka akan muncul,” tutup Arifin.

Artikel ini merupakan bagian dari Cover Story spesial wawancara 30 tokoh TI nasional dalam rangka ulang tahun ke-30 InfoKomputer. Temukan artikel lengkapnya di sini dan di sini.

Comments

comments