Profil IT Leader Leonardo Koesmanto: Memperluas Jaringan Bank DBS dengan Cabang “Tak Kasatmata”

Leonardo Koesmanto: Memperluas Jaringan Bank DBS dengan Cabang “Tak Kasatmata”

Leonardo Koesmanto (Head of Digibank, DBS Indonesia). [Foto: Abdul Aziz/InfoKomputer]

Mencari pekerja dengan wawancara? Itu sudah biasa. Yang tidak biasa adalah mencari pekerja dengan menyelenggarakan hackathon alias lomba membuat aplikasi. Hal itu dilakukan DBS Singapura untuk menjaring seratus tenaga kerja potensial di bank terbesar di Asia Tenggara tersebut. Mereka yang berhasil membuat aplikasi menarik dan inovatif bisa langsung bergabung sebagai karyawan DBS.

Kisah di atas bisa menjadi contoh keseriusan DBS dalam melakukan transformasi ke dunia digital. Dalam konteks yang lebih luas, keseriusan DBS bisa dilihat dari pembentukan entitas baru yang disebut Digital Bank (atau sering disebut Digibank). Di Indonesia, Digibank dipimpin Leonardo Koesmanto, sosok yang memiliki perjalanan panjang di dunia teknologi dan perbankan.

Dalam implementasinya secara global, DBS mengambil beberapa pendekatan terkait Digibank. Di beberapa negara, Digibank berfungsi lebih sebagai e-channel dari layanan perbankan DBS yang telah ada. Namun di beberapa negara lain, Digibank menjadi perusahaan sendiri yang siap bersaing dengan perbankan lain, termasuk DBS sendiri. Sementara di Indonesia, Digibank menjadi divisi tersendiri namun didukung oleh organisasi yang ada di DBS Indonesia.

Meski memiliki beberapa bentuk, Digibank sebenarnya mewakili satu pesan: DBS siap melakukan transformasi. “CEO kami (Piyush Gupta. red) ingin mentransformasikan bank ini menjadi digital,” ungkap pria yang akrab dipanggil Leo ini.

Hal ini tidak lepas dari arah masa depan perbankan yang mengarah ke digital. Kompetitor DBS pun bukan lagi bank-bank konvensional, namun perusahaan teknologi yang memiliki data. “Jadi kompetitor kita ke depan adalah perusahaan non-bank seperti Google atau Alibaba,” tambah pria yang memimpin tiga puluh orang di dalam timnya tersebut.

Inilah yang menjelaskan mengapa output yang diharapkan dari Digibank bukan sekadar produk, melainkan lebih kepada perubahan kultur perusahaan. “Produk bisa dibilang efek dari perubahan kultur dan mindset itu,” jelas Leo. Ketika cara berpikirnya sudah digital, Leo yakin produk yang dihasilkan pun akan sarat dengan nuansa digitalnya.

Menjawab Keinginan

Perubahan mindset tersebut bisa dilihat dari pendekatan Digibank dalam membuat produk atau layanan. “Di Digibank, kami mendesainnya berbasis customer centric dan menggunakan pendekatan jobs to be done,” cerita Leo.

Prosesnya diawali dengan melihat apa yang ingin dicapai konsumen, lalu Digibank akan melihat bagaimana kebutuhan tersebut bisa dijawab dengan teknologi digital. “Jadi pola berpikirnya bukan bagaimana saya bisa save cost dengan melakukan digitalisasi,” tambah Leo.

Perubahan mendasar lain juga bisa dilihat dari strategi DFNO (Design for No Ops) yang dilakukan Digibank. “Jadi saat mendesain sebuah produk atau solusi, kami sengaja merancangnya agar scalable dan tidak membutuhkan tenaga operasional,” ujar Leo.

Otomatisasi ini menjadi penting mengingat skalabilitas tidak mungkin terjadi ketika sebuah produk membutuhkan tenaga operasional untuk berfungsi. “Karena ketika customer tambah banyak, kita harus menambah orang,” ujar Leo mengungkapkan alasannya.

Untuk produk sendiri, Digibank menyesuaikan dengan perkembangan yang ada. Ketika saat ini eranya mobile apps, Digibank pun merilis apps untuk platform iOS maupun Android. Melalui apps ini, nasabah bisa melakukan transfer dana, pembayaran, pengaturan anggaran, sampai penyimpanan di deposito.

Yang juga menarik adalah keberadaan fasilitas Virtual Assistant. Fasilitas berbasis machine learning ini memungkinkan nasabah meminta bantuan terkait layanan perbankan, seperti mengurus permohonan deposito atau mengingatkan untuk membayar tagihan tiap bulannya. “Fasilitas ini juga bisa menjadi customer service karena 80% pertanyaan nasabah pada dasarnya sama,” ungkap Leo.

Di masa depan, berbagai teknologi pun siap ditanamkan di mobile apps ini. Sekarang ini, Digibank sedang menimbang kemungkinan penggunaan biometrik, seperti sidik jari atau retina mata, sebagai sarana autentikasi nasabah. Mulai dipikirkan pula cara nasabah melakukan transaksi hanya dengan mengetikkan pesan di media sosial atau messaging apps.

Pendek kata, berbagai fitur bisa ditambahkan di mobile apps tersebut. Namun proses itu akan dilakukan secara bertahap karena Digibank mengambil pendekatan incremental ala startup. “Ketika launch, produk kita mungkin tidak 100% seperti yang kita inginkan. Namun secara reguler, kita akan terus melakukan perbaikan,” ungkap Leo.

Pendekatan bertahap ini diyakini sesuai dengan perilaku konsumen digital saat ini yang terbiasa dengan konsumsi model bite size.

“Sekarang ini penetrasi telepon seluler di Indonesia sudah lebih dari 100%. Jika layanan perbankan kami sudah mencapai handphone, kami pun bisa mencapai masyarakat yang lebih luas,” ungkap Leo.

Perubahan Menyeluruh

Ketika layanan sudah mengarah ke digital, peluang DBS menggapai konsumen pun kian meluas.

“Sekarang ini penetrasi telepon seluler di Indonesia sudah lebih dari 100%. Jika layanan perbankan kami sudah mencapai handphone, kami pun bisa mencapai masyarakat yang lebih luas,” ungkap Leo dengan yakin. Apalagi, masyarakat Indonesia tergolong terbuka dalam menjajal hal-hal baru seputar teknologi. Jika suka, mereka akan terus menggunakannya.

“Jadi tantangan bagi kami lebih kepada memastikan konsumen mau mencoba dan menyukai produk kita,” tambah Leo. Tantangan lain adalah memastikan layanan digital tersebut aman digunakan mengingat keamanan menjadi isu penting di industri perbankan.

Selain di sisi konsumen, tantangan juga harus dihadapi DBS secara internal. Dengan sebaran di tujuh belas negara di dunia, DBS harus memastikan seluruh organisasi memiliki gerak seragam dalam melakukan transformasi digital. Untuk mencapai hal tersebut, DBS pun menerapkan kebijakan transformasi secara menyeluruh. “Jadi secara end-to-end, kita konversi ke digital,” ungkap Leo.

Salah satunya contohnya adalah pelatihan ke karyawan tidak cuma terkait perbankan seperti risk management atau credit management, namun juga soal blockchain dan agile. Pelatihan berbasis komputer (computer-based training) pun mulai dialihkan ke mobile apps dengan pendekatan bite size. “Jadi kalau hari ini belajar satu paragraf, besok bisa lanjut satu paragraf lagi,” lanjut Leo.

Dengan semua transformasi digital yang dilakukan, Leo berharap DBS bisa dikenal sebagai pionir di dunia digital perbankan. Bank pun menjadi sesuatu yang tak kasatmata atau invisible karena berada di belakang dari kegiatan perbankan yang dilakukan nasabah. “Jadi ‘bank’ adalah sesuatu yang kita lakukan, bukan sebuah tempat kita pergi,” ungkap Leo menceritakan mimpi besarnya.

Comments

comments