Profil IT Executive Nav Sooch: Percaya Diri dengan Lampu LED Pintar Ketra

Nav Sooch: Percaya Diri dengan Lampu LED Pintar Ketra

Nav Sooch (CEO, Ketra).

Ketika mempersiapkan kantor baru, perusahaan iklan R/GA bertanya kepada karyawannya mengenai perbaikan fasilitas yang ingin disediakan di kantor. Ada dua fasilitas yang paling banyak diminta, yaitu area kerja berdiri dan paparan cahaya natural.

Permintaan pertama relatif mudah dipenuhi, namun permintaan kedua menjadi dilema. Meski mengganti seluruh fasad gedung dengan kaca, cahaya natural tidak mungkin menjangkau seluruh kantor yang memiliki ukuran sebesar lapangan sepakbola.

Namun dilema tersebut berhasil diatasi setelah sang arsitek bertemu startup asal Austin, Texas, bernama Ketra. Ketra memang tidak bisa memantulkan cahaya matahari ke seluruh kantor, namun mereka bisa membuat pencahayaan layaknya sinar natural. Bahkan, lampu Ketra secara dinamis bisa mengatur pencahayaannya sesuai kondisi matahari di luar sana.

Berawal dari Iseng

Ada alasan tersendiri mengapa pencahayaan menjadi bagian penting dari kehidupan manusia. “Peradaban manusia dibentuk dari dua sumber cahaya: matahari dan api,” ungkap Nav Sooch (CEO Ketra).

Di siang hari, manusia akan merasa bersemangat ketika mendapat cahaya putih yang cemerlang seperti yang diberikan matahari. Namun di malam hari, kita akan merasa lebih nyaman ketika mendapatkan cahaya yang putih hangat seperti cahaya dari api. “Hal inilah yang kami lakukan di Ketra: menghasilkan cahaya yang mengikuti pola natural tersebut,” tambah Nav.

Kedengarannya memang biasa, namun ada alasan tersendiri mengapa kemampuan lampu LED Ketra menjadi istimewa. Berbeda dengan lampu neon biasa, lampu LED memiliki sejumlah kekurangan. Yang utama adalah warna lampu yang tidak konsisten meski dalam satu spektrum warna. Selain itu, cahaya yang dihasilkan cenderung berubah seiring waktu pemakaian.

Hal ini dirasakan sendiri oleh David Knapp, salah satu pendiri Ketra. Di tahun 2009, David Knapp menemani istrinya berbelanja ke sebuah toko lampu di Austin, Texas. Di sanalah ia mendapati lampu LED yang kala itu memang masih produk baru. Soal LED, Knapp adalah jagonya. Perusahaan pertama Knapp adalah pionir dalam penggunaan fiber optik LED untuk perangkat multimedia mobil.

Namun ketika ingin membeli lampu tersebut, sang penjual tidak merekomendasikannya. “Lampu LED itu jelek,” ungkap sang penjual. Knapp pun penasaran. Ia membeli semua lampu LED yang dijual di toko tersebut dan mencoba menemukan solusi dari jeleknya kualitas lampu LED.

Setelah meneliti selama delapan tahun dibantu sahabatnya, Horace Ho, Knapp pun menemukan solusinya. Yaitu, lampu LED yang bisa “menilai” tingkat cahayanya sendiri.

Secara teknis, LED tidak cuma bisa bisa mengeluarkan cahaya, namun juga menangkap cahaya. Pada lampu LED Ketra, sebagian besar LED akan mengeluarkan cahaya, namun sebagian kecil disisakan untuk menerima informasi cahaya, seperti panas dan color output.

Informasi ini kemudian diteruskan ke chip. Jika terjadi perubahan dari cahaya seharusnya, chip ini akan mengubah arus listrik sehingga cahaya kembali ke warna sesungguhnya. Pengambilan data ini dilakukan tiap detik, sehingga lampu LED bisa mempertahankan konsistensi cahaya yang diinginkan.

Lampu LED Ketra pun kemudian dikembangkan lebih lanjut. Lampu tersebut bisa diatur agar secara otomatis menyerupai sinar matahari dari pagi sampai malam. Chip tersebut juga dilengkapi kemampuan frekuensi radio, sehingga bisa “berbicara” dengan lampu lain dan diatur secara wireless.

Keberhasilan Knapp dan Ho pun menarik perhatian Nav Sooch yang kemudian memberikan dukungan modal. Awalnya, Knapp dan Ho berniat menjual teknologinya ini kepada pabrikan LED raksasa di Korea dan Tiongkok. Akan tetapi, pabrikan ini tidak bisa menangkap kecanggihan lampu LED ini.

“Mereka jelas tidak memahami teknologi ini, dan di saat itulah terbetik ide untuk membuat semuanya sendiri,” jelas Knapp. Di bawah kepemimpinan Sooch, Ketra pun kemudian menjadi konsultan untuk solusi pencahayaan.

Klien pertama Ketra adalah Sean O’Connor, desainer pencahayaan yang terbiasa menangani gedung kelas atas seperti Beverly Hills Hospital. Ketra seperti menjadi dewa penolong Sean yang selama ini harus bergulat dengan kualitas LED yang tidak konsisten.

Kesuksesan Ketra pun terdengar oleh David Thurm, COO dari Art Institute of Chicago. Institusi yang memiliki banyak lukisan Monet tersebut pun kemudian mendapati lampu LED Ketra dapat menyelesaikan masalah.  

Lampu LED Ketra telah dipercaya berbagai brand ternama, seperti DKNY.

Mungkinkah Bertahan?

Untuk implementasi, R/GA kabarnya mengeluarkan dana lebih dari US$1 juta. Ini adalah proyek terbesar yang pernah diterima Ketra. Namun rekor ini sepertinya tidak akan bertahan lama.

Ketra saat ini sedang mengerjakan kantor pusat perusahaan pembayaran online Stripe dengan luas 300 ribu meter persegi. Ditambah portofolio mereka yang telah dipercaya berbagai perusahaan ternama seperti Apple, Facebook, Google, dan Buzzfeed, Ketra saat ini memang sedang menikmati masa keemasannya.

Meski diliputi kesuksesan, Ketra tetap memiliki tantangan di masa depan. Masalah utama industri lampu LED adalah lampu tersebut bisa awet digunakan selama bertahun-tahun. Agak sulit mempertahankan model bisnis ketika konsumen membeli lampu setiap lima belas tahun sekali.

Hal itulah yang menjelaskan mengapa perusahaan lampu raksasa—seperti GE, Philips, dan Osram—memutuskan untuk melakukan spin-off divisi lampunya karena bayangan penurunan keuntungan di masa depan.

Kemampuan Ketra mempertahankan kualitas lampu LED memang menjadi keuntungan tersendiri, namun keunggulan ini pun mulai terancam. Pabrikan lampu LED perlahan berhasil menemukan cara untuk memperbaiki konsistensi pencahayaan lampu LED produksi mereka. Perbaikan kualitas ini memang belum menjawab kebutuhan museum atau hotel kelas atas, namun sudah memadai untuk memenuhi kebutuhan kelas di bawahnya.

Dan ketika harga lampu LED Ketra mencapai US$100 per buah, akan sulit bagi orang kebanyakan untuk memiliki lampu Ketra.

Akan tetapi, Sooch menyakini harga lampu LED Ketra perlahan akan lebih terjangkau. Mirip Tesla, Ketra akan pelan-pelan memperbesar segmen pasarnya. “Produk awal Tesla adalah mobil sport yang cuma bisa dimiliki kalangan terbatas. Namun kini mereka memiliki Model 3 yang lebih terjangkau,” ujar Sooch memberikan analogi. Apalagi, Ketra tidak pernah menutup kemungkinan teknologi LED-nya, yang telah mendapatkan tiga puluh paten, digunakan oleh pabrikan lampu LED lain.

Dan ketika itu terjadi, bisa jadi Ketra akan membuat kita lebih menghargai arti setitik cahaya.

Comments

comments