Arsip Harian: Jul 1, 2017

Ford Bikin Divisi AI dan Robotika

Uji coba mobil otonom Ford.

Pabrikan mobil Ford akan membuat divisi kecerdasan buatan (AI) dan robotika untuk mengeksplorasi kecerdasan buatan di luar mobil otonomos. Sebelumnya, Ford telah mengumumkan akan memproduksi mobil tanpa sopir pada 2021.

“Ini adalah langkah selanjutnya dalam gagasan otomasi Ford. Kami siap melaju ke masa depan dengan memperluas otomatisasi produk dan layanan mobilitas,” kata Ken Washington (CTO Ford) seperti dikutip Venture Beat.

Divisi itu akan fokus mengembangkan kecerdasan buatan dan robot karena startup kecerdasan buatan Argo.ai kini memimpin pengembangan mobil otonomos generasi pertama Ford.

Pada Februari 2017, Ford akan mengucurkan dana investasi senilai US$ 1 miliar di Argo.ai selama lima tahun ke depan untuk mewujudkan mobil tanpa sopir.

Investasi itu menjadikan Ford sebagai pemegang saham terbesar di startup yang berbasis di Pittsburgh tersebut. Argo.ai sendiri merupakan sebuah startup yang didirikan oleh mantan karyawan Google dan Uber.

“Divisi ini akan fokus mengevaluasi teknologi sensor terbaru, metode machine learning, persyaratan teknis untuk masuk ke pasar global, dan pengembangan perangkat mobilitas pribadi, pesawat nirawak, dan robotika udara lainnya,” ujarnya.

Jerman Sahkan Hukum Denda untuk Facebook Jika Telat Hapus Konten Kebencian

Parlemen Jerman telah mengesahkan sebuah undang-undang yang mengatur tentang sanksi perusahaan media-media sosial yang tidak bersedia atau telat menghapus ujaran- ujaran kebencian dalam layanannya.

Angela Merkel (Kanselir Jerman) menekan perusahaan teknologi untuk bersikap tegas terhadap konten-konten terorisme dan ujaran kebencian. Para politikus pun khawatir sistem demokrasi yang sudah mapan akan dirusak oleh kampanye propaganda yang menyebar melalui Internet.

Pemerintah Jerman pun akan mendenda maksimal sebesar 57 juta dolar Amerika Serikat atau sekitar Rp769 miliar kepada Facebook, Twitter, atau Instagram jika tidak menghapus konten yang berisi ujaran kebencian atau ilegal dalam waktu 24 jam.

Network Enforcement Act, yang juga dikenal dengan nama “hukum Facebook” disahkan oleh Bundestag, badan parlement Jerman pada hari Jumat. Peraturan ini akan mulai berlaku pada Oktober mendatang.

Dalam undang-undang Jerman yang termasuk sebagai ujaran ilegal adalah penyangkalan terhadap Holocaust (pembersihan etnis Yahudi pada era Perang Dunia II oleh Hitler), ujaran kebencian, ujaran rasialis dan anti-semit.

Pemerintah Jerman pun memberikan waktu seminggu kepada perusahaan media sosial untuk menganalisa dan menghapus konten-konten lainnya yang menyinggung tetapi tidak termasuk dalam kategori ilegal.

“Ancaman pembunuhan dan penghinaan, ujaran kebencian, atau penyangkalan Holocaust bukan bagian dari kebebasan berpendapat, tetapi serangan terhadap kebebasan berpendapat orang lain,” kata Heiko Maas (Menteri Kehakiman Jerman) seperti dikutip The Verge.

Kehadiran regualasi itu akan mendorong perusahaan media sosial melakukan sensor sepihak tanpa analisis yang komprehensif.

“Undang-undang Jerman ini akan memaksa perusahaan internet untuk melakukan sensor secara besar-besaran,” kata Susan Benesch (Ilmuwan Universitas Harvard) yang meneliti tentang ujaran kebencian dalam media sosial.

Sementara juru bicara Twitter menolak untuk berkomentar.

Mengenal Retargeting, Cara Iklan Digital Membuntuti Pengguna Internet

Ilustrasi programmatic advertising.

Pernahkah Anda mengunjungi suatu situs belanja online untuk mencari barang yang Anda inginkan, memasukkannya ke keranjang belanja untuk mengetahui harga totalnya, tetapi kemudian meninggalkan situs itu tanpa melakukan transaksi?

Jika pernah, Anda tidak sendirian melakukan hal yang dikenal dengan istilah shopping cart abandonment itu. Menurut sebuah riset, tingkat cart abandonment yang dialami pengusaha e-commerce secara global bisa mencapai 75%. Artinya, 3 dari 4 konsumen membatalkan transaksi belanja online-nya saat sudah sampai di ujung proses.

Data itu menjadi masalah bagi para pemilik e-commerce, tetapi juga merupakan peluang bisnis. Alasannya, para pengunjung yang urung bertransaksi itu sebenarnya sudah memiliki ketertarikan dengan situs dan produk tertentu. Artinya, mereka termasuk basis pengguna yang bisa dikonversi menjadi pelanggan. Inilah yang mendasari lahirnya metode retargeting di dunia periklanan dan pemasaran digital.

Mengenal Retargeting dan Programmatic Advertising

Pada dasarnya, retargeting adalah bagian dari programmatic advertising, otomatisasi proses jual beli inventori iklan digital lewat sebuah sistem yang mempertemukan penerbit (publisher) dan pemasang iklan.

Sistem tersebut menggunakan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) untuk melacak dan menganalisis perilaku para pengguna internet yang diperoleh dari jejak digital (cookie) pada peramban (browser). Dari hasil pembelajaran ini, sistem akan menargetkan iklan kepada pengguna-pengguna yang memiliki karakteristik sesuai keinginan pemasang iklan.

Nah, retargeting biasanya digunakan oleh pemilik e-commerce untuk menyasar para pengguna yang pernah mengunjungi situs mereka, tapi tidak melakukan pembelian. Caranya dengan menampilkan iklan produk yang pernah mereka cari, lalu menggiring mereka untuk kembali ke situs supaya merampungkan transaksi.

Tantangan berikutnya bagi pemilik e-commerce, dalam hal ini pemasang iklan, yaitu bagaimana memasang iklan yang tepat, kepada orang yang tepat, dengan biaya yang tepat, agar menghasilkan aksi yang tepat (terjadinya transaksi).

Sebagian besar penempatan iklan online yang dilakukan oleh penerbit menerapkan metode real-time bidding.

Begini mekanisme kerjanya: saat seorang pengguna berkunjung ke sebuah situs, situs itu bakal mengirim pesan kepada para perusahaan pemasaran digital bahwa suatu cookie atau peramban akan melihat sebuah artikel. Situs itu juga memberitahu bahwa dia memunyai sejumlah selot iklan yang siap dilelang dan dijual kepada penawar dengan harga tertinggi.

Artinya, perusahaan pemasaran digital hanya memiliki waktu sekian milidetik untuk menerima pesan itu, menganalisisnya, memproses apa yang mereka ketahui tentang pengguna itu (dari cookie-nya), menentukan harga yang tepat, mengajukan penawaran, menunggu pemenang lelang, dan jika mereka menang, mengirimkan materi iklan yang akan ditampilkan kepada orang itu.

“Inilah yang disebut dynamic ad karena iklan yang ditampilkan bagi setiap orang akan berbeda-beda. Dan semua proses itu terjadi sesaat setelah Anda mengeklik sebuah link sampai sebelum halaman link itu terbuka. Mungkin lebih cepat daripada kedipan mata,” kata Jakub Ratajczak (Managing Director APAC, RTB House).

Contoh iklan retargeting.

Peran AI dalam Programmatic Advertising

Sebuah proses lelang selot iklan yang melibatkan ratusan sampai ribuan pihak dan terjadi dalam hitungan milidetik tentu saja tidak mungkin dikerjakan oleh tenaga manusia. Di sinilah teknologi otomatisasi dan AI mengambil peran yang amat penting.

AI bertugas untuk mengumpulkan data dari ribuan atau bahkan jutaan pengguna internet, lalu mencerna informasi yang berguna tentang demografi, selera, dan kebiasaan masing-masing di internet. Perusahaan pemasaran digital dan pemasang iklan dapat memanfatakan analisis informasi ini untuk membuat materi dan perencanaan iklan digital yang lebih fokus dan menyasar golongan pengguna tertentu, baik berupa iklan display, media sosial, maupun video.

“AI dan teknik predictive modeling dapat mendorong efektivitas kampanye iklan digital dengan mempercepat proses pengambilan keputusan mengenai iklan apa yang cocok ditampilkan kepada pengguna tertentu, format apa yang sebaiknya dipakai, dan kapan waktu terbaik untuk beriklan,” ujar Tomer Sade (CEO, Wise Data Media) seperti dilansir Real-Time Daily.

Dengan kemampuan memproses big data dalam waktu singkat, AI bisa memperkaya pemahaman pengiklan terhadap perilaku konsumen. AI juga bisa membantu membedakan antara pengguna yang prospektif dan tidak. Walhasil, pengiklan dapat menghasilkan kampanye iklan yang lebih relevan bagi pengguna, optimal dalam mendatangkan pemasukan, dan efektif dalam anggaran.

Terbentur Masalah Privasi

Di satu sisi, kapabilitas programmatic advertising dalam melacak jejak digital pengguna memang terlihat menguntungkan. Sayangnya, di sisi lain, keberadaan iklan online kerap dianggap mengganggu dan memperlambat tampilan situs. Selain itu, sebagian pengguna juga merasa privasinya terancam.

Oleh karena itu, dewasa ini muncullah tantangan terbaru bagi perusahaan iklan digital yakni makin populernya penggunaan ad blocker (peranti lunak pemblokir iklan) dan pembersihan cache (tempat penyimpanan cookie). Tujuannya untuk melenyapkan tampilan iklan display dan menghalau pelacakan oleh pengiklan. Data teraktual bahkan menyebutkan, sedikitnya 600 juta perangkat atau sekitar 11% dari seluruh pengguna internet di dunia telah memasang ad blocker.

Jakub Ratajczak tidak menampik fenomena ini dan menyatakan bahwa penggunaan ad blocker atau pembersih cache adalah pilihan pribadi. Namun, ia berpendapat bahwa ad blocker muncul karena pengguna internet gerah disodori iklan-iklan yang bersifat intrusive dan tidak relevan. Praktik retargeting justru berupaya memperbaiki masalah itu dengan menghadirkan iklan-iklan yang mungkin lebih relevan bagi pengguna.

“Saya rasa, tidak ada cara untuk menghindari iklan di internet, kecuali Anda mau membayar konten. Pada kenyataannya, banyak orang lebih memilih konten gratis. Jadi, menyajikan iklan yang relevan akan berdampak positif bagi pengguna dan industri periklanan,” papar Jakub.

Mekanisme metode retargeting.

Tren Baru di Periklanan Digital

Di luar hambatan soal privasi, tidak bisa dimungkiri bahwa retargeting dan programmatic advertising kian menunjukkan tajinya dalam tren periklanan digital.

Dari hasil survei OwnerIQ, sebanyak 96% pengiklan mengaku telah menggunakan programmatic untuk membeli selot iklan display. Pada tahun 2015, 55% dari iklan display total di Amerika Serikat dibeli secara programmatic dengan nilai US$14,88 miliar. Angka ini diprediksi akan meningkat dua kali lipat pada tahun 2017 dan lebih dari tiga kali lipat pada tahun 2019.

Di kawasan lainnya, sebanyak sembilan puluh persen pengiklan di Eropa dan Timur Tengah berencana meningkatkan anggaran programmatic mereka, sedangkan pengiklan di Tiongkok telah menyiapkan dana US$3,3 miliar pada tahun 2017 untuk membeli iklan secara programmatic.

Platform retargeting sendiri makin dianggap penting oleh para pengiklan. Sebanyak 1 dari 5 pengiklan mengaku sudah mengalokasikan anggaran khusus untuk retargeting dan 50% pengiklan akan menambah anggaran retargeting mereka dalam enam bulan ke depan.

Mengapa demikian? Pasalnya, retargeting telah terbukti ampuh dalam mencapai target yang dipatok pemasang iklan. Torehan hasilnya pun jauh lebih baik ketimbang metode pemasaran digital lainnya, seperti e-mail/newsletter, iklan display konvensional, dan search engine marketing. Sebesar 56% pengiklan memakai retargeting dengan tujuan mengakuisisi pelanggan baru, 42% bertujuan membangun brand awareness, dan 11% ingin merebut pelanggan dari kompetitor.

Data statistik menyimpulkan bahwa rata-rata click through rate (CTR) untuk iklan display biasa hanya 0,07%, sedangkan iklan retargeting dapat menghasilkan CTR 0,7% atau sepuluh kali lebih tinggi. Selain itu, 26% pengguna yang menjadi target iklan retargeting akan kembali mengunjungi situs tersebut dan ada 70% kemungkinan pengguna itu bakal merampungkan transaksi.

Untuk menyimpulkan, Joshua Spanier (Marketing Director for Global Media, Google) pernah berkata, “Programmatic adalah pasar US$15 juta yang nilainya akan terus tumbuh setiap tahun karena cara ini memungkinkan perusahaan untuk menyampaikan iklan yang lebih relevan dan manusiawi kepada para pengguna internet.”

Ternyata Keringat Manusia Bisa “Charge” Smartphone

Ilustrasi Pengisian Daya

Saat ini banyak ilmuwan dan insinyur yang sedang mengembangkan dan mencari energi alternatif atau terbarukan. Para ilmuwan University of California sedang menguji keringat manusia untuk mengisian sumber daya pada smartphone.

Joseph Wang (Ilmuwan University of California, San Diego, AS) mengatakan tim riset akan menciptakan sebuah plester yang dapat tertempel pada kulit manusia. Saat berkeringat, plester akan menyerap cairan sebagai pasokan utama sumber daya.

“Plester ini akan menyerap enzim yang berfungsi sebagai pengantar metal seperti baterai konvensional pada umumnya. Asam laktat yang ada di keringat manusia bisa menjadi media yang paling sesuai untuk mengisi daya sebuah perangkat,” kata Wang seperti dikutip Mirror.

Wang mengatakan metode pengisian baterai itu akan mempermudah pengguna ponsel pintar untuk mengisi baterai. Selain itu, alat ini juga dapat menjaga manusia agar tetap bugar.

“Manusia tidak perlu repot lagi untuk mengisi baterai. Manusia hanya perlu berlari, atau melakukan kegiatan yang gampang berkeringat. Setelah itu, plester yang ditempelkan ke kulit bisa dihubungkan langsung ke ponsel,” ucapnya.

Di masa depan, para ilmuwan akan mengembangkan keringat manusia sebagai sumber utama untuk mengisi daya perangkat dalam skala lebih besar seperti radio, tablet, hingga memperkuat koneksi nirkabel.

Saat ini, para ilmuan masih mengembangkan plester tersebut. Jika teknologi ini berhasil diproduksi secara masal, maka penggunaan gadget akan berubah sangat drastis.

Fitur Ini Mampu Blokir Komentar Miring dan Menyinggung pada Instagram

Banyak pengguna tidak sadar bahwa media sosial adalah ranah publik dan menggunakannya untuk menyebarkan komentar menyinggung dan berita hoax.

Tak heran, banyak masyarakat yang gerah dengan banyaknya hate speech atau ujaran kebencian di berbagai media sosial, salah satunya Instagram.

Instagram meluncurkan fitur baru “Hide Offensive Comment” yang berbasis algoritma dan machine learning. Fitur itu memungkinkan pengguna untuk memblokir komentar menyinggung dan mengandung unsur kekerasan secara otomatis.

Untuk saat ini, fitur baru bisa beroperasi untuk fitur yang berbahasa Inggris. Tentunya, Instagram akan memperluas kemampuan filter spam-nya untuk mendukung delapan bahasa lain, yaitu Spanyol, Portugis, Arab, Perancis, Jerman, Rusia, Jepang dan Tiongkok.

Masih belum ada informasi mengenai penambahan filter untuk bahasa lainnya, termasuk Indonesia.

Instagram pun akan meningkatkan kemampuan algoritma dan machine learning pada fitur tersebut seiring berjalannya waktu, seperti dikutip The Verge.

Fitur Hide Offensive Comments ini sudah tersedia di Android dan iOS. Untuk mengaktifkannya, penggunanya hanya harus masuk ke bagian Settings > Comments dan aktifkan toggle Hide Offensive Comments.

Kini Semua Pengguna Facebook Bisa Akses Fitur “Find Wi-Fi”

Ilustrasi fitur Facebook Find Wi-Fi

Facebook memasang fitur terbaru “Find Wi-Fi” pada aplikasi mobile-nya untuk Android dan iOS.

Fitur itu akan membantu para pengguna mencari jaringan Wi-Fi di tempat umum dan sangat berguna bagi pengguna yang sering bepergian, terutama saat berada di area yang data selulernya tidak bisa diandalkan.

Inisiasi pencari Wi-Fi dari Facebook itu merupakan langkah lain agar penggunanya lebih sering membuka aplikasinya, setelah Facebook merilis inisiasi Internet.org di negara-negara berkembang beberapa tahun lalu.

Sebelumnya, Facebook telah menguji coba fitur itu pada perangkat Android dan iOS di negara tertentu saja tahun lalu. Namun, kini fitur “Find Wi-Fi” sudah tersedia di seluruh dunia seperti dikutip TechCrunch.

Di negara-negara berkembang, fitur “Find Wi-Fi” berguna bagi mereka yang memiliki paket data terbatas atau saat berada di area blankspot tidak ada sinyal.

Selain itu para pengguna mungkin mulai beralih ke Facebook untuk menemukan kedai kopi terdekat dengan Wi-Fi, dan bukan dengan Google Maps.

Anda bisa menemukan fitur tersebut pada Tab More di aplikasi mobile Facebook dan pengguna harus mengaktifkan fitur ini terlebih dahulu untuk memakainya.

Setelah itu, Facebook akan menampilkan peta yang menunjukkan titik hotspot terdekat dalam radius tertentu beserta detail informasi penyedia Wi-Fi gratis tersebut.

Selain itu, Anda harus mengedit dan mengklaim jaringan Wi-Fi terlebih dulu sehingga bisa tampil pada peta Wi-Fi Facebook.

Inilah 5 Grup Hacker Paling Berbahaya di Dunia

Kejahatan di dunia maya tidak akan pernah ada usai, selagi pertumbuhan ekonomi dan teknologi yang terus bertingkah. Para hacker pun dituding sebagai satu-satunya pelaku yang bertanggung jawab terhadap aksi kejahatan di dunia maya.

Dalam infiltrasinya, para hacker kerap bekerja secara individual atau berkelompok tergantung kepada sasaran dan besar nilai keuntungannya. Mereka pun memiliki seribu cara untuk memperdaya korban supaya masuk ke dalam perangkapnya.

Berikut 5 grup hacker paling berbahaya di dunia seperti dikutip Fortune :

Ilustrasi Fancy Bear dan Cozy Bear

1. Fancy Bear dan Cozy Bear

Fancy Bear dan Cozy Bear mulai terkenal ketika sukses membobol data sistem Democratic National Committee selama pemilihan presiden Amerika Serikat tahun lalu. Tak hanya AS, Fancy Bear, yang merupakan lulusan FRU, badan intelijen Rusia itu juga ‘ikut campur’ dalam proses pemilihan di beberapa negera Eropa.

Sementara itu, Cozy Bear yang mewakili FSB juga pernah menyerang organisasi yang melakukan berbagai penelitian dan advokasi mengenai topik seperti kebijakan sosial, strategi politik, ekonomi, militer, teknologi, dan budaya di AS.

Ilustrasi Lazarus Group

2. Lazarus Group

Lazarus Group memiliki hubungan yang kuat dengan Korea Utara dan bertanggung jawab atas aksinya meretas laman AS dan Korea Selatan dengan serangan denial-of- service atau DoS pada 2009.

Lazarus Group juga diduga meretas Sony Pictures Entertainment pada 2014 dan merampok uang senilai US$ 81 juta dari bank Sentral Bangladesh pada 2016. Terakhir, Lazarus terindikasi dalam serangan ransomware WannaCry pada Mei 2017.

Equation Group

3. Equation Group

Equation Group memiliki hubungan erat dengan Badan Keamanan Nasional (NSA) AS. Meskipun, banyak pihak yang mengklaim Equation Group termasuk white hat hacker tetapi beberapa ahli percaya Equation Group menyerang program nuklir Iran.

4. Comment Crew

Comment Crew merupakan salah satu grup hacker ternama yang disponsori pemerintah Tiongkok bahkan grup hacker itu telah menjadi bagian People Liberation Army. Comment Crew memiliki ciri khas untuk menyembunyikan komentar pengguna di laman web.

Tim forensik siber Mandiant menduga Comment Crew terlibat dalam aksi penyusupan yang terjadi pada perusahaan besar seperti Coca-Cola, RSA, dan Lockheed Marthin. Aksi jahatnya mulai menurun ketika Barack Obama (Mantan Presiden AS) dan Xi Jinpin (Presiden Tiongkok) bersepakat untuk tidak melancarkan serangan siber tahun lalu.

Ilustrasi Sandworm

5. Sandworm

Sandworm memiliki keterkaitan erat dengan Rusia bahkan Sandworm kerap meretas orang-orang yang memiliki hubungan dengan NATO dan pemerintah Ukraina untuk mengumpulkan data-data intelijen. Tahun lalu, Sandworm menutup jaringan listrik di Ukraina.

Liu Qiangdong: Pendiri Raksasa E-Commerce Tiongkok yang Rendah Hati

Liu Qiangdong (Pendiri dan CEO, JD.com). [Foto: scmp.com]
Adalah hal yang luar biasa bila rapat pimpinan perusahaan besar sampai dihadiri oleh salah satu pelanggannya. Bahkan rapat tersebut sampai harus terlambat dimulai karena sang pelanggan ternyata datang untuk mengeluhkan layanan kurang memuaskan yang dialaminya.

Padahal masalah yang dikeluhkan oleh pelanggan tersebut tergolong sepele. Dia memesan es krim yang dijual secara online oleh perusahaan tersebut dan ketika es krim tiba, kekhawatirannya terbukti karena es krim tersebut sudah sedikit meleleh.

Agenda rapat tersebut kemudian berubah menjadi pembahasan tentang cara pengiriman es krim yang tepat agar saat tiba ke pelanggan, es krim tersebut masih beku dan dengan demikian tidak mengecewakan sang pelanggan.

Cerita di atas bukanlah cerita fiksi karena benar-benar terjadi pada rapat eksekutif perusahaan JD.com, salah satu perusahaan e-commerce terbesar di Tiongkok. Dan siapakah pelanggan yang sampai berani-beraninya mengganggu rapat petinggi JD.com yang pastinya tertutup bagi mereka yang tidak berkepentingan? Ternyata orang tersebut tak lain dan tak bukan adalah Liu Qiangdong alias Richard Liu, Pendiri sekaligus CEO JD.com.

Bagaimana ceritanya hingga Liu bisa menjadi pelanggan di perusahaan miliknya sendiri? Ternyata Liu memiliki prinsip bahwa untuk mengontrol kualitas layanan perusahaan, dia harus menjadi pelanggan bagi perusahaannya sendiri, bahkan pelanggan setia.

Dalam sebuah wawancara kepada Forbes Asia, Liu menyatakan bahwa sebagai seorang CEO perusahaan e-commerce yang selalu mengatakan bahwa pelanggan harus diutamakan, terlebih dahulu Anda harus menjadi pelanggan paling setia dan merasakan sendiri bagaimana layanan perusahaan Anda dari waktu ke waktu. “Jika tidak, bisa jadi nilai-nilai perusahaan hanya akan dianggap slogan kosong dalam bentuk kata mutiara yang digantung di dinding,” ujarnya.

Bagi Liu, kejadian di atas sebenarnya bukanlah hal yang luar biasa karena setiap hari dia selalu menyempatkan diri untuk memesan satu atau dua item barang dari toko online miliknya sendiri untuk memeriksa kelayakan pengirimannya.

Dalam rapat perusahaan yang akhirnya membahas tentang pengiriman es krim tersebut, Liu mengatakan kepada jajaran pimpinan JD.com bahwa dia akan menunda perluasan bisnis kelontong di JD.com sampai masalah pengiriman benar-benar teratasi. Khusus untuk masalah pengiriman es krim tersebut, akhirnya diputuskan bahwa JD.com akan menambahkan ice pack lebih banyak lagi ke dalam container untuk menjaga suhu tetap rendah.

Manajer strategi perusahaan, Laura Xiong (yang baru saja bergabung dengan JD.com beberapa bulan sebelumnya setelah 23 tahun bekerja di Procter & Gamble) mengaku sangat terkejut dengan “ulah” boss barunya itu. “Dia adalah seorang yang sangat perfeksionis dan begitu memperhatikan hal-hal kecil,” imbuhnya memuji Liu Qiangdong.

Anak Pebisnis

Liu Qiangdong alias Richard Liu lahir pada tanggal 14 Februari 1974 di daerah Suqian, Provinsi Jiangsu, China. Orang tuanya memiliki usaha pengiriman batu bara dari bagian utara Tiongkok ke Selatan. Jadi jelaslah dari mana asalnya darah bisnis yang mengalir di tubuh Liu.

Semasa mudanya, Liu tertarik akan politik. Ketertarikannya akan politik tersebut membawanya berkuliah di Departemen Sosiologi, Universitas Renmin (dahulu bernama Universitas Rakyat Tiongkok atau People’s University of China). Alasan Liu memilih universitas tersebut adalah karena adanya koneksi yang kuat ke elit politik di Tiongkok.

Dalam perjalanan studinya, Liu menyadari bahwa dengan meraih sarjana sosiologi, masa depannya tidaklah begitu terjamin. Karena itu, di sela-sela waktu luangnya, Liu belajar pemrograman komputer dan berbekal keterampilan pemrogramannya tersebut, Liu berhasil mendapatkan penghasilan tambahan. Berbekal penghasilannya sebagai seorang programmer ditambah modal dari keluarganya, Liu membuka sebuah restoran. Namun sayangnya, usahanya ini hanya bertahan selama beberapa bulan saja.

Ketika akhirnya lulus dan menjadi sarjana di tahun 1996, Liu melanjutnya studinya ke China Europe International Business School dan mendalami ilmu bisnis. Pada saat bersamaan, Liu juga bekerja di Japan Life, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang produk kesehatan. Di Japan Life, Liu bekerja sebagai direktur komputer, direktur bisnis, dan supervisor logistik.

Membuka Usaha Sendiri

Pada tahun 1998, tepatnya di bulan Juni, Liu memutuskan untuk membuka usaha sendiri yang dinamainya Jingdong. Lokasinya adalah di Zhongguancun High-tech Industrial Park, Beijing. Bentuk usahanya adalah distributor alat-alat optik-magnetik.

Kali ini usahanya cukup berhasil. Terbukti, hingga tahun 2003, Liu berhasil membuka dua belas cabang di berbagai daerah. Namun lagi-lagi ujian menerpa usaha Liu. Pada tahun 2003, penyakit SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome atau Sindrom Pernapasan Akut Berat) mewabah di China dan menyebabkan banyak orang tidak bisa bekerja, entah karena dirawat di rumah sakit atau karena terpaksa bertahan di rumah supaya tidak tertular.

Namun Liu tidak menyerah dan terus memikirkan jalan keluar bagi kelangsungan usahanya. Akhirnya dia memutuskan untuk mengganti model bisnisnya yang masih konvensional ke model bisnis online. Di tahun 2004, toko online-nya mulai beroperasi. Pada akhir tahun yang sama, secara resmi berdirilah JD.com. Huruf JD pada nama domain JD.com merupakan singkatan dari Jingdong. Pada tahun 2005, Liu menutup seluruh toko fisik yang masih dimilikinya dan benar-benar berfokus ke bisnis e-commerce.

Jingdong berkembang cukup pesat hingga menjadi salah satu perusahaan e-commerce terbesar di China. Pada bulan Januari 2014, Liu mendaftarkannya untuk go public. Saat IPO JD.com pada tanggal 22 Mei 2014, nilai sahamnya meroket sebesar lima belas persen.

Keteguhan hati Liu untuk “memanjakan” konsumen, sebagaimana telah disinggung di awal tulisan ini, ternyata memakan ongkos yang cukup mahal. Untuk kota-kota besar, Liu bahkan menjanjikan barang yang dibeli akan dikirimkan pada hari yang sama jika pemesanan dilakukan sebelum pukul 11.00. Itu berarti Liu harus banyak berinvestasi pada pembuatan gudang yang besar serta jumlah kurir yang banyak. Akibatnya, pada tahun pertama setelah IPO, JD.com belum mendapatkan keuntungan, malahan mengalami kerugian hingga $1,4 miliar dan nilai sahamnya anjlok sebesar dua puluh persen.

Namun Liu berhasil meyakinkan para investor bahwa badai akan segera berlalu dan JD.com pasti akan segera menjadi perusahaan yang menguntungkan.

Keyakinan Liu ternyata terbukti karena pelan tapi pasti kinerja keuangan JD.com makin membaik dan kini telah menjadi salah satu yang terbesar di Tiongkok, bersaing ketat dengan Alibaba. Dalam beberapa aspek, JD.com malahan menjadi favorit pelanggannya berkat kebijakan yang dicanangkan oleh Liu. Setelah makin mantap di negeri sendiri, JD.com kini mulai melebarkan sayap ke beberapa negara, termasuk di antaranya Indonesia melalui situs dengan domain JD.id.

Tetap Sederhana

Kesuksesan Jingdong membawa Liu menjadi orang terkaya ke-16 di Tiongkok. Meski demikian, Liu tetap rendah hati.

Dalam kesehariannya, Liu tetap berpakaian sederhana. Bahkan untuk acara yang relatif penting seperti wawancara dengan wartawan, Liu hanya mengenakan kemeja kasual dan jelana panjang kain biasa. Warna favoritnya adalah kemeja biru terang dan celana panjang coklat. Bahkan ID perusahaan juga terkalung di lehernya, seolah dia hanyalah karyawan biasa.

Liu Qiangdong dan istrinya, Zhang Zetian.

Popularitas Liu ternyata tidak hanya bergaung di kalangan pengusaha saja karena dia juga menjadi selebriti internet, khususnya di media sosial. Pasalnya, dia menikahi seorang gadis yang sangat populer di Weibo, media sosial Tiongkok pengganti Twitter.

Gadis tersebut bernama Zhang Zetian yang terkenal sebagai “Sister Milk Tea” di Weibo. Apalagi usia mereka berdua terpaut sembilan belas tahun, sehingga makin hebohlah kalangan netizen Tiongkok.

Sebelum menikah dengan Zhang Zetian, Liu telah mengalami dua kali kegagalan cinta. Cinta pertama Liu adalah sesama mahasiswa Universitas Rakyat Tiongkok, yaitu Gong Xiaojing. Kombinasi nama Gong Xiaojing dan Liu Qiangdong inilah yang menginspirasi nama Jingdong. Sayangnya, mereka berdua berbeda prinsip dalam menjalankan usaha dan akhirnya berpisah. Liu tetap melanjutkan usahanya, sedangkan Gong menjadi pegawai pemerintah.

Cinta kedua Liu adalah seorang staf senior di JD.com, yaitu Zhuang Jia. Liu dan Zhuang Jia sebenarnya tidak membuka status relasi mereka ke publik. Namun status mereka berdua akhirnya “bocor” ketika tak sengaja mereka mengunggah foto tomat di Weibo dalam selisih waktu sebelas menit saja. Follower keduanya menduga itu tomat yang sama dan berada di kebun rumah Liu.

Mereka akhirnya terpaksa mengaku telah menjalin relasi selama tiga tahun. Sayangnya, tak lama kemudian Zhuang meninggalkan JD.com sekaligus berpisah dengan Liu, tanpa meninggalkan penjelasan bagi publik.

Review Smartphone