Arsip Harian: Jul 2, 2017

Samsung Resmi Jual Galaxy Note 7 Versi Rekondisi, Berapa Harganya?

Galaxy Note 7 Tanpa Logo Samsung di Jepang 2

Samsung Electronics akan resmi menjual smartphone Galaxy Note 7 versi refurbished atau rekondisi) pada minggu ini. Samsung memastikan Galaxy Note 7 versi rekondisi itu dibuat dari smartphone Note 7 dengan baterai terbaru.

Sebelumnya, Samsung harus menarik kembali Galaxy Note 7 pada tahun lalu karena permasalahan baterai yang mudah overheat.

Samsung menamakan Galaxy Note 7 versi rekondisi itu sebagai Galaxy Note 7 Fan Edition (FE) dan akan masuk ke rak toko-toko di Korea Selatan pada 7 Juli mendatang seperti dikutip Reuters.

Rencananya, Samsung akan menjual Galaxy Note FE sebanyak 400.000 unit di Korea Selatan. Harganya, Galaxy Note FE dibanderol 699.000 won atau sekitar Rp8 juta di dalam negeri, jauh lebih rendah dari versi sebelumnya yang hampir menyentuh 1.000 dolar AS atau kisaran Rp13 juta.

Kebijakan recall itu membuat sekitar tiga juta handset Galaxy Note 7 dikembalikan ke perusahaan tersebut pada tahun lalu.

Insiden itu merugikan Samsung lebih dari 5 miliar dolar AS dari laba operasional dan merusak reputasi mereka, meskipun perusahaan telah pulih dengan kesuksesan peluncuran Galaxy S8.

Perusahaan itu juga berencana mengadakan acara peluncuran Galaxy Note 8 pada paruh kedua Agustus, kata seorang sumber kepada Reuters bulan lalu.

Terbukti, Perangkat Apple dan Samsung Paling Susah Diservis

Greenpeace dan iFixit mengungkapkan bahwa Apple, Microsoft dan Samsung memiliki perangkat paling susah diperbaiki dan sangat sulit untuk mengganti komponen.

Akibatnya, banyak pengguna yang langsung membuang perangkat-perangkat yang rusak sehingga menyebabkan permasalahan lingkungan.

Gary Cook (Analis TI Greenpeace USA) mengatakan para perusahaan teknologi harus memperbaiki kualitas perangkatnya sehingga pengguna akan tidak langsung membuang perangkat rusah ke tong sampah.

“Sejumlah produk dari Apple, Samsung dan Microsoft dirancang dengan cara sulit sehingga pengguna susah untuk memperbaikinya. Hasilnya, perangkat mereka akan menambah stok limbah eletktronik,” katanya seperti dikutip channelweb.

Laporan itu berdasarkan pengujian terhadap 40 smartphone, tablet, dan laptop dari 17 vendor yang diluncurkan antara tahun 2015 dan 2017. Skor diberikan berdasarkan kemudahan suatu produk unutuk diperbaiki.

Kedua iPhone ciptaan Appple mencetak skor masing-masing 7/10, tapi dua iPads hanya mencetak 2/10, dan dua MacBook mencetak 1/10. Tablet Microsoft Surface dan Surface Pro 5 hanya mencetak skor 5/10.

Pengujian juga menunjukkan bahwa tiga smartphone dan satu tablet Samsung mendapatkan skor 4/10.

Apple beralasan semua produknya dirancang daya tahan lama dan ramah lingkungan untuk mendaur ulang produk lama. “Desain-desain produk kami tidak hanya indah, tipis dan bertenaga, tetapi juga tahan lama sehingga bisa bertahan selama bertahun-tahun,” ucap Apple.

Bukan iPhone, Ini Perangkat Apple yang Akan Populer di Masa Depan

Ilustrasi Kacamta Pintar Apple

Analis Gene Munster mengungkapkan perangkat wearable Apple Glasses akan lebih populer dibandingkan dengan iPhone di masa depan.

Apple baru akan meluncurkan Apple Glass yang menggunakan teknologi Augmented Reality pada 2020 sekaligus mengakhiri masa puncak penjualan iPhone pada 2019.

Munster beralasan Apple Glasses akan menawarkan fungsi yang sama dengan iPhone, tanpa perlu pengguna memegang iPhone secara langsung.

Munster memprediksi keuntungan iPhone akan bertumbuh sebesar 15 persen pada fiskal 2018. Pertumbuhan itu akan memberikan kontribusi kepada keuntungan Apple sebesar 64 persen tahun 2018.

Namun, penjualan iPhone diprediksi akan mengalami penurunan dari tahun ke tahun pada tahun fiskal 2019. Penurunan penjualan iPhone itu disebabkan Apple akan meluncurkan Apple Glasses pada 2020 seperti dikutip Phone Arena.

Munster memprediksikan penjualan iPhone akan mengalami penurunan sebesar 3 hingga 4 persen dari pertahunnya antara tahun 2020 dan 2022.

Setelah peluncuran Apple Glasses, iPhone masih akan tetap diminati meskipun tidak lagi menjadi penyumbang keuntungan utama Apple.

Maret lalu, pengamat teknologi Robert Scoble mengaku mendapatkan informasi dari pegawai Carl Zeiss, bahwa Apple akan tertarik untuk menciptakan perangkat tersebut.

RTB House: Ingin Melengkapi Vendor Iklan Retargeting yang Sudah Ada

Sudah banyak perusahaan pemasaran digital di dunia yang menggarap pasar retargeting, termasuk di antaranya Facebook dan Google. Jika dibandingkan dengan kedua raksasa itu, RTB House memang terbilang “anak bawang” karena baru didirikan di Polandia pada tahun 2012. Namun, RTB House sangat percaya diri dengan kecanggihan sistem yang mereka bangun dan kembangkan sendiri.

“Keunggulan utama kami adalah algoritma sistem yang cerdas dan mampu membuat keputusan yang tepat,” kata Jakub Ratajczak (Managing Director APAC, RTB House).

[BACA: Mengenal Tren Retargeting dan Programmatic Advertising]

Sebagai informasi, retargeting adalah bagian dari programmatic advertising, otomatisasi proses jual beli inventori iklan digital lewat sebuah sistem yang mempertemukan penerbit (publisher) dan pemasang iklan.

Sistem tersebut menggunakan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) untuk melacak dan menganalisis perilaku para pengguna internet yang diperoleh dari jejak digital (cookie) pada peramban (browser). Dari hasil pembelajaran ini, sistem akan menargetkan iklan kepada pengguna-pengguna yang memiliki karakteristik sesuai keinginan pemasang iklan.

Nah, sebagian besar penempatan iklan yang dilakukan online menerapkan metode real-time bidding.

Begini mekanisme kerjanya: saat seorang pengguna berkunjung ke sebuah situs, situs itu bakal mengirim pesan kepada para perusahaan pemasaran digital bahwa suatu cookie atau peramban akan melihat sebuah artikel. Situs itu juga memberitahu bahwa dia memunyai sejumlah selot iklan yang siap dilelang dan dijual kepada penawar dengan harga tertinggi.

Artinya, perusahaan pemasaran digital hanya memiliki waktu sekian milidetik untuk menerima pesan itu, menganalisisnya, memproses apa yang mereka ketahui tentang pengguna itu (dari cookie-nya), menentukan harga yang tepat, mengajukan penawaran, menunggu pemenang lelang, dan jika mereka menang, mengirimkan materi iklan yang akan ditampilkan kepada orang itu.

Unggul di Algoritma

Kesulitan pada real-time bidding dalam programmatic advertising adalah menentukan penawaran harga yang tepat, tidak terlalu tinggi dan juga tidak terlampau rendah. Algoritma RTB House diklaim mampu menentukan sweet spot alias titik keseimbangan yang menghasilkan keuntungan paling optimal bagi pemasang iklan.

Akan tetapi, sadar dengan posisinya sebagai pemain baru, RTB House mengusung strategi khusus dalam kompetisi di pasar retargeting. Terlebih, di Indonesia, retargeting merupakan praktik standar pada pebisnis e-commerce dan mereka pun sudah merekrut penyedia jasa retargeting masing-masing.

“Filosofi kami bukan untuk mendepak vendor retargeting yang sudah dipakai klien, melainkan untuk berkolaborasi dan memberi nilai tambah di atas layanan mereka,” ungkap Ridzki Syahputra (Business Development Manager Indonesia, RTB House).

Ridzki memberi gambaran, apabila saat ini sebuah e-commerce menganggarkan US$5.000 untuk satu retargeter dan memperoleh 1.000 konversi (jumlah klik iklan yang berujung transaksi), bersama RTB House, e-commerce itu bisa tetap mengeluarkan dana US$5.000 kepada dua retargeter, tetapi memperoleh lebih dari 1.000 konversi.

Jakub Ratajczak (Managing Director APAC, RTB House).

Bagaimana cara RTB House melengkapi vendor retargeting yang sudah ada?

Prinsipnya sederhana, persaingan akan menghadirkan usaha yang lebih maksimal. Kedua retargeter itu bakal bersaing dalam menyajikan hasil yang terbaik bagi klien yang sama sehingga mereka akan mengoptimalkan sistemnya agar lebih agresif. Selain itu, merekrut retargeter tambahan dapat memperluas jaringan penerbit iklan dan memperbanyak jumlah audiensi yang bisa dicapai.

Lantas, bagaimana cara klien mengukur keberhasilan program retargeting-nya? “Di Asia, kebanyakan klien menggunakan parameter Return on Ad Spend (RoAS) atau seberapa besar pemasukan yang mereka peroleh dari anggaran yang dikeluarkan,” jawab Jakub. Parameter lain yang bisa digunakan antara lain cost per unique visitor, cost per order, ataupun cost per click.

Secara global, RTB House mengklaim mampu mencatat RoAS sebesar sebelas kali lipat dari biaya. Namun, tingkat RoAS ini pun berbeda-beda pada setiap jenis e-commerce, bergantung pada model bisnis dan produk yang dijualnya.

“Toko retail online biasanya mengharapkan RoAS setidaknya 30 kali lipat. Margin keuntungan penjualan produk elektronik misalnya, lebih kecil daripada produk busana,” imbuh Jakub.

Memuaskan Pelanggan Setia

Berbekal kecerdasan sistem dan keandalan kinerja, RTB House mampu berekspansi hingga ke negara-negara Eropa dan Asia. Hebatnya, tingkat retensi atau kemampuan mempertahankan klien di level global mencapai sembilan puluh persen.

Pada tahun 2017, RTB House menargetkan pertumbuhan pesat dari sisi skala bisnis dan jumlah karyawan, termasuk merekrut staf sales dan technical support lokal di Indonesia. Mereka mengaku telah memiliki sekitar dua belas klien di Indonesia, di antaranya Zalora dan SaleStock.

“Kami memang menyasar e-commerce besar, bukan yang dijalankan individual. Fokusnya pada e-commerce di bidang fashion, marketplace, general merchandise, classified, dan price comparison,” ujar Ridzki.

“Teknologi kami baru bermanfaat jika klien sudah mencapai skala operasi tertentu. Soalnya, kami perlu membangun model statistik dari hasil interaksi dalam jumlah tertentu supaya mesin kami bekerja optimal. Ini bukan syarat mutlak, tetapi minimal ada 100 ribu unique visitor atau 2.000 – 3.000 transaksi per bulan,” Jakub menjelaskan.

Sepuluh besar vendor retargeting di Indonesia {Sumber: Datanyze, Februari 2017)

Mark Shuttleworth: Otak di Balik Linux Ubuntu

Mark Shuttleworth (Pendiri Canonical).

Jika Windows identik dengan Microsoft, Ubuntu akan identik dengan Canonical. Sebagai tokoh yang berada di balik hadirnya Ubuntu, Mark Shuttleworks adalah pemilik perusahaan software Canonical dan telah membiayai pengembangan hingga dukungan terhadap Linux Ubuntu.

Mark Shuttleworth dilahirkan pada 18 September 1973 di Welkom, Afrika Selatan. Ia merupakan anak pasangan seorang ahli bedah dan guru taman kanak-kanak. Shuttleworth bersekolah di Rondebosch Boys High School, kemudian di Western Province Preparatory School. Ia lalu mengejar gelar ilmu bisnis di bidang keuangan pada Jurusan Finance and Information Systems di University of Cape Town.

Selama masa studinya, Shuttleworth tinggal di Smuts Hall yang merupakan tempat tinggal para pria di kampus yang terletak di bagian atas dari University of Cape Town. Shuttleworth mulai tertarik dengan komputer berkat permainan game komputer.

Ketertarikannya ini kemudian memuncak saat ia menjadi mahasiswa dengan kemunculan internet. Pada masa itu, Shuttleworth terlibat dalam pemasangan koneksi internet pertama di universitas tempatnya belajar.

Proyek Kemanusiaan

Saat mendekati masa akhir studi pendidikan di Universitas of Cape Town di tahun 1995, Shuttleworth mendirikan Thawte, perusahaan konsultan yang berfokus pada keamanan internet dan sertifikat digital. Thawte awalnya dijalankan di garasi milik orang tua Shuttleworth di Durbanville.

Sesuai rancangan awalnya, Thawte ditujukan untuk menciptakan server yang aman dan tidak terbelenggu oleh kriptografi. Thawte menggunakan server yang diadaptasi dari server Apache HTTP, yang diintegrasikan dengan server Stronghold. Dari sinilah ia mulai fokus pada kegiatan sertifikasi untuk situs-situs web.

Di tahun 1999, ia menjual perusahaan tersebut kepada VeriSign senilai U$575 juta. Melalui keuntungannya ini, ia mendirikan perusahaan venture capital “Here Be Dragons” (HBD) dan organisasi nirlaba dengan fokus khusus di bidang pendidikan di Afrika.

HBD menjadi perusahaan inovatif yang berinvestasi untuk perusahaan-perusahaan yang berbasis di Afrika Selatan dan memiliki potensi untuk melayani pasar global. HBD sendiri telah berinvestasi di beberapa perusahaan Afrika Selatan di berbagai sektor, seperti perangkat lunak, layanan farmasi, elektronik dan layanan ponsel.

Pada sekitar Maret 2004, Shuttleworth mendirikan Canonical Ltd. Melalui perusahaannya itu, Shuttleworth memimpin pengembangan Ubuntu, distribusi Linux berbasis Debian. Ubuntu merupakan sebuah proyek yang menciptakan sistem operasi gratis bagi pengguna komputer. Fokusnya adalah perluasan akses komputer pribadi di negara-negara berkembang. Pada tahun berikutnya, Shuttleworth mendirikan Linux Foundation.

Secara pelan namun pasti, Ubuntu menjadi sistem operasi alternatif dari Microsoft Windows. Ubuntu sangat dipengaruhi oleh Linux, GNU, dan ekosistem perangkat lunak. Ubuntu dimaksudkan untuk menggabungkan komunitas Linux (Debian, Fedora, Arch, Gentoo), serta dunia komersial dengan perangkat lunak tertutup seperti RHEL dan SLES/SLED.

“Ubuntu adalah panah bagi Debian, Debian adalah busur bagi Ubuntu,” ungkap Shuttleworth mengenai pandangannya tentang hubungan Ubuntu dan Debian.

Shuttleworth menjadi CEO Canonical selama lima tahun sebelum mengundurkan diri pada bulan Desember 2009  untuk memfokuskan diri kepada desain produk, kemitraan, dan pelanggan. Jane Silber yang sebelumnya menjabat sebagai COO perusahaan kemudian mengambil alih posisi CEO.

Nama Ubuntu sendiri berasal dari filosofi budaya Afrika Selatan yang berarti kemanusiaan kepada sesama. Oleh sebab itulah, Shuttleworth membuat Ubuntu dengan sumber terbuka untuk dipakai siapa pun secara bebas.

Agar mudah digunakan, Ubuntu dibuat dengan tampilan yang apik dan user friendly. Proyek Ubuntu meliputi pemenuhan kebutuhan sistem operasi untuk sekolah-sekolah dan penduduk dunia, serta industri tertentu (via Edubuntu dan Kubuntu).

Misi luar angkasa Mark Shuttleworth pada tahun 2002.

Ke Luar Angkasa

Sebelumnya, secara diam-diam, Shuttleworth memiliki ketertarikan dengan dunia antariksa. Hal itu dibuktikannya pada tahun 2001. Dengan biaya pribadinya senilai US$20 juta, Shuttleworth membeli kesempatan menjelajahi antariksa dengan pesawat Rusia dan mempersiapkan diri menjadi orang Afrika pertama yang melakukan misi ke luar angkasa.

Selama hampir satu tahun, ia mendapat pelatihan di Star City, Rusia dan Kazakhstan untuk menjalani misi menggunakan pesawat ulang alik Soyuz TM-34. Ia ditemani dua kosmonot, masing-masing komandan misi Yury Gidzenko dari Rusia dan insinyur penerbangan Roberto Vittori dari Italia. Mereka bertiga akan melakukan perjalanan ke International Space Station (ISS).

Pada 25 April 2002, Shuttleworth berangkat dari kosmodrom Baikonur di Kazakhstan dan berlabuh selama dua hari di ISS. Shuttleworth menjadi salah satu kosmonot Soyuz dalam misi TM34 dan menghabiskan delapan hari di stasiun luar angkasa, di mana mereka melakukan eksperimen ilmiah untuk Afrika Selatan. Ia kembali ke bumi dengan pesawat ulang alik Soyuz TM-33 pada 5 Mei 2002.

Sekembalinya dari misi antariksa, Shuttleworth yang gemar bepergian mulai kembali dengan aktivitasnya dan berbicara tentang antariksa untuk anak-anak sekolah di seluruh dunia. Ia kembali ke pekerjaannya di bidang teknologi dan pada 2004 mendirikan Ubuntu, seperti telah diuraikan sebelumnya.

Shuttleworth yang memiliki dua kewarganegaraan (Afrika Selatan dan Inggris) dan tinggal di Isle of Man ini memang telah mendermakan sejumlah besar uangnya untuk kemajuan dunia teknologi Informasi. Ia juga telah mendedikasikan waktu, ide, dan tenaganya dalam menciptakan sistem operasi yang gratis yang bisa dimanfaatkan seluruh umat manusia melalui filosofi Ubuntu.

Drone Aquila Sukses Mendarat dalam Uji Terbang Kedua

Drone Aquila Facebook 1

Facebook mengumumkan drone pemancar Internetnya Aquila telah sukses mendarat dalam uji terbang kedua. Facebook melakuka uji terbang kedua itu pada 22 Mei lalu di Yuma, sebuah padang gurun di Arizona, Amerika Serikat.

Dalam pengujian itu drone bernama Aquila tersebut berhasil terbang selama 1 jam 46 menit dan mengakhiri tes dengan pendaratan yang mulus.

Dalam uji terbang pertama pada Juni 2016 lalu, Aquila mengalami kecelakaan ketika akan mendarat dan mengalami kerusakan pada bagian sayap.

“Kami telah belajar dari kegagalan tes terbang Aquila yang pertama. Kami menambahkan beberapa komponen baru seperti spoiler pada kedua sayap yang menambah daya tarik dan bisa mengurangi dorongan ke atas saat pesawat mendarat,” kata Martin Luis Gomez (Direktur Platfom Aeronatika Facebook) seperti dikutip Reuters.

Drone Aquila Facebook 2

Facebook membuat dan mengembangkan Aquila untuk menyediakan Internet di tempat-tempat terpencil di dunia. Drone raksasa itu akan terbang memanfaatkan energi matahari dan berfungsi layaknya menara pemancar internet.

Facebook berambisi membangun sebuah armada drone yang mampu terbang sekaligus selama berbulan-bulan tanpa harus mendarat. Drone-drone itu akan berkomunikasi antara satu sama lain di udara dengan menggunakan laser.

WhatsApp Punya Fitur “Mode Malam” untuk Memotret di Cahaya Redup

Ilustrasi fitur night mode WhatsApp

WhatsApp akan meluncurkan fitur Night Mode atau “mode malam” dalam aplikasi pesan instannya untuk meningkatkan hasil tangkapan kamera WhatsApp di kondisi kurang cahaya.

Uniknya, fitur Night Mode itu mampu mendongkrak performa kamera smartphone. Berbeda dengan fitur night mode punya Twitter yang hanya mengubah tampilan antarmuka menjadi gelap sehingga mata tidak lelah.

Dengan fitur itu, kamera bawaan pada aplikasi WhatsApp akan memiliki tombol khusus untuk pemotretan di kondisi remang, seperti saat malam hari. Seperti diketahui, kualitas hasil foto kamera bawaan WhatsApp memiliki kualitas yang lebih rendah dibandingkan dengan aplikasi kamera utama.

Inovasi itu membuat WhatsApp dapat memenuhi permintaan konsumen untuk dapat memotret tanpa perlu mengkhawatirkan kondisi pencahayaan saat memotret.

Saat ini kamera bawaan WhatsApp hanya memiliki fitur zoom digital dan mengaktifkan LED flash tanpa adanya fitur autofokus seperti dikutip Phone Radar.

WhatsApp juga berencana untuk menghadirkan fitur Night Mode pada kamera videonya termasuk untuk video call. Sayanganya, Fitur Night Mode juga baru akan hadir pada iPhone terlebih dahulu, sebelum disebar ke platform Android.

Berkat S8, Samsung Kalahkan Apple dan Pimpin Pasar Smartphone

Samsung Galaxy S8 dan S8+.

Penjualan Samsung Galaxy S8 yang sukses dan melambung tinggi di pasar sukses membuat Samsung kembali bertahta sebagai raja pasar smartphone dunia.

Pencapaian itu juga membuat Samsung mengalahkan Apple yang sebelum berada di puncak.

Berkat Galaxy S8, Samsung kembali bangkit dan mampu mengapalkan 80 juta ponsel pada kuartal pertama tahun ini seperti dikutip Anzhuo.

Hal itu berdasarkan data lembaga riset Risingsun yang berbasis di Tiongkok. Risingsun mengungkapkan pengiriman smartphone global mencapai 351 juta pada kuartal pertama tahun ini. Sedangkan, pengapalan smartphone mencapai 333 juta pada kuartal yang sama pada tahun lalu.

Di bawah Samsung, ada Apple yang mengapalkan iPhone sebanyak 51 juta unit ke seluruh dunia. Setelah itu, pabrikan smartphone asal Tiongkok yang mendominasi penjualan smartphone global.

Huawei berada di posisi ketiga dengan pengapalan 35 juta ponsel, menyusul laris manisnya penjualan Mate 9, P9 dan V9. Oppo dan Vivo berturut-turut menduduki posisi keempat dan kelima yang masing-masing mengapalkan sebanyak 26 juta dan 19 juta unit ponsel ke pasar.

Di urutan keenam, ada Xiaomi yang mampu mengirimkan 15 juta ke berbagai negara,

Review Smartphone