11 | July | 2017 | InfoKomputer Online

Arsip Harian: Jul 11, 2017

Azure Stack Jadi Jawaban Microsoft untuk Kebutuhan Solusi Hybrid Cloud

Satya Nadella (CEO, Microsoft) di panggung Microsoft Inspire 2017.

Microsoft meluncurkan platform Azure Stack sebagai jawaban bagi kebutuhan pasar terhadap solusi hybrid cloud sekaligus mendahului dua pesaing utamanya di industri cloud, Amazon dan Google.

Azure Stack diperkenalkan dalam acara Microsoft Inspire 2017 di Washington, AS, pada Senin (10/7). Solusi ini memungkinkan perusahaan untuk menjalankan layanan cloud Azure di server dan data center milik pribadi (on-premise). Dengan demikian, perusahaan dapat merasakan kelebihan public cloud sambil tetap menjaga keamanan data dan aplikasi mereka.

Untuk penawaran perdana, Microsoft akan memasarkan layanan Azure Stack mulai September 2017 melalui kerja sama dengan Dell EMC, Lenovo, dan Hewlett Packard Enterprise (HPE). Cisco dan Huawei dijanjikan bakal segera menyusul.

Nantinya, para pelanggan dapat membeli server terintegrasi berbasis Azure Stack dari vendor-vendor tersebut, menghubungkannya dengan data center pribadi, dan langsung bisa mengakses layanan Azure publik.

Seperti layanan public cloud pada umumnya, biaya berlangganan pun dihitung fleksibel berdasarkan waktu pemakaian dan sumber daya komputasi yang dikonsumsi (di luar harga server). Dikutip dari VentureBeat, biaya langganan Azure Stack dipatok mulai 0,8 sen per vCPU/jam dan 0,6 sen per GB storage/jam.

Pilihan lainnya, pelanggan dapat mengunduh Azure Stack Development Kit (ASDK) secara gratis dan memasangnya di server yang sudah ada untuk keperluan uji coba dan proof of concept.

“Salah satu kunci perbedaan Azure dan dua kompetitor cloud lainnya adalah kemampuan kami mendukung solusi hybrid cloud seutuhnya,” kata Judson Althoff (Executive VP, Worldwide Commercial Business, Microsoft) kepada Reuters.

Sebagai informasi, Amazon Web Services (AWS) dan Google Cloud Platform (GCP) saat ini belum memiliki solusi hybrid cloud sendiri. Mereka masih harus menggandeng pihak ketiga, masing-masing dengan VMware dan Nutanix.

Contoh Penggunaan Azure Stack

“Azure Stack adalah kepanjangan dari platform Azure dan bukan pengganti private cloud yang sudah ada,” ujar Julia White (Corporate VP, Cloud and Infrastructure, Microsoft).

Julia White (Corporate VP, Cloud and Infrastructure, Microsoft) di panggung Microsoft Inspire 2017.

Julia mencontohkan penggunaan Azure Stack di institusi perbankan dan pemerintah yang ingin memanfaatkan layanan public cloud tetapi terhadang regulasi yang melarang penyimpanan data-data di luar data center lokal.

Azure Stack juga cocok dipakai oleh perusahaan yang punya kantor cabang di lokasi-lokasi terpencil dengan koneksi internet yang tidak stabil. Contoh lain pengguna potensial Azure Stack yaitu perusahaan-perusahaan yang belum percaya sepenuhnya memindahkan data dan aplikasi penting ke luar dari data center milik mereka.

Inisiatif Azure Stack sebetulnya pertama kali diumumkan Microsoft pada tahun 2015. Pada saat itu, Azure Stack direncanakan bisa dipasang di server merek apa pun dengan spesifikasi yang kompatibel.

Namun, pada 2016, Microsoft mengubah konsep itu dan memutuskan untuk bermitra dengan vendor-vendor hardware tertentu, hingga akhirnya resmi dirilis tahun ini.

Peneliti Kaspersky Lab Bagaikan Ahli Paleontologi

Eugene Kaspersky (Chairman dan CEO, Kaspersky Lab, paling kanan), Stephan Neumeier (Managing Director, Kaspersky Lab, APAC, kedua dari kanan), dan Vitaly Kamluk (Director of Global Research & Analysis Team, Kaspersky Lab, APAC, ketiga dari kanan) berfoto bersama ketiga pembicara lain seusai Palaeontology of Cybersecurity Conference yang diadakan Kaspersky Lab di Singapura awal Juli lalu.

Dibanding masa lampau, kini jumlah malware sudah bertumbuh pesat. Bila sebelumnya diperlukan sekitar 20 tahun bagi Kaspersky Lab untuk mengumpulkan 1 juta malware, belakangan dalam satu minggu saja di tahun 2016, Kaspersky Lab bisa menemukan 2,2 juta malware baru. “Dari 86 sampai 2006 terdapat satu juta malicious code yang unik maupun berbeda di koleksi kami. Dua puluh tahun untuk mengumpulkan satu juta. Sekarang satu minggu dua juta,” ujar Eugene Kaspersky (Chairman dan CEO, Kaspersky Lab).

Untuk bisa melawan aneka malware baru yang bermunculan ini tentu kita harus tahu seluk beluk setiap malware itu terlebih dahulu, barulah kemudian menerapkan proteksi yang tepat. Nah, di Palaeontology of Cybersecurity Conference yang berlangsung pada 6 Juli 2017 lalu di Singapura, Kaspersky Lab menekankan peran penting dari para peneliti maupun penganalisa dalam mengetahui dan memahami seluk beluk dari aneka malware tersebut.

Mengapa mengambil kata palaeontology atau paleontologi dalam bahasa Indonesia? Karena proses yang dilakukan para peneliti dan penganalisa yang di Kaspersky Lab masuk pada Global Research and Analysis Team (GReAT) ini, mirip dengan proses yang dilakukan palaeontologist atau ahli paleontologi. Seperti ahli paleontologi yang mencari dan mempelajari banyak fosil untuk mengetahui dan memahami karakteristik dari suatu organisme (misalnya salah satu dinosaurus), begitu pula dengan GReAT. Mereka mencari dan mempelajari berbagai jejak yang tertinggal untuk mengetahui dan memahami seluk beluk dari suatu malware, termasuk cara kerjanya, targetnya, asalnya, dan pembuatnya.

“Kami biasanya melihat beberapa serpihan dari tulang-tulang yang rusak dari monster yang membentuk suatu kerangka. Tapi bagi kami kerangka ini kadang kala menimbulkan pertanyaan. Pertanyaan yang kami tanyakan ke diri kami sendiri adalah apakah ini adalah sebuah indikator, sebuah artefak dari monster yang sudah ada di cyberspace. Jadi kami perlu untuk mengidentifikasi milik siapakah dia dan bagaimana dia digunakan,” sebut Vitaly Kamluk (Director of Global Research & Analysis Team, Kaspersky Lab, APAC).

Salah satu contoh “monster” yang berhasil ditemukan oleh Kaspersky Lab di masa lampau adalah Regin. Target yang menjadi sasaran dari Regin antara lain adalah perusahaan telekomunikasi. Tujuanya seperti untuk mendengarkan “pembicaraan” antar perangkat telekomunikasi. Dengan ditemukannya Regin ini, Kaspersky Lab kemudian meningkatkan kesadaran akan Regin dan mengedukasi berbagai pihak yang menjadi sasaran. Kaspersky Lab juga menerbitkan laporan yang terbuka untuk umum. Proteksi yang ada pun bisa ditingkatkan.

Kaspersky Lab turut meresmikan kantor barunya di Singapura setelah sebelumnya menempati kantor sementara selama sekitar dua tahun. Kantor baru yang dipimpin oleh Stephan Neumeier (Managing Director, Kaspersky Lab, APAC) ini merupakan kantor pusat Kaspersky Lab di APAC (Asia Pacific).

Tak hanya untuk urusan bisnis, kantor Kaspersky Lab tersebut juga ditujukan untuk menjadi basis dari tim R&D APAC yang dipimpin oleh Vitaly Kamluk. Dengan kata lain, kantor baru itu akan turut membantu Kaspersky Lab mengenal dan memahami aneka malware yang bermunculan di dunia, termasuk tentunya Asia Pacific yang mencakup Indonesia. “Hal ini menunjukkan bahwa Kaspersky Lab sekarang benar-benar ingin untuk mencari berbagai fakta yang lebih relevan untuk Asia Pacific,” tegas Vitaly Kamluk.

Uber Berhenti Operasi Sementara di Finlandia

Ilustrasi Uber hentikan operasi di Finlandia

Uber menghentikan layanan UberPop di Helsinki, Finlandia mulai 15 Agustus mendatang untuk menunggu regulasi terbaru pemerintah Finlandia terkait taksi online.

Namun, penghentian layanan tersebut tidak akan berlangsung selamanya karena Uber akan kembali hadir di Helsinki pada musim panas 2018 mendatang.

“Uber menjamin penggunaan aplikasi Uber tidak akan mengganggu mitra pengemudi atau pegawai. Layanan ini adalah cara terbaik agar perusahaan terfokus pada masa depan,” kata Joel Jarvinen (Country Manager Uber Finlandia) seperti dikutip CNET.

Sementara itu Uber akan tetap mengoperasikan layanan premiumnya UberBlack di Helsinksi. Uber pun berkomitmen mendukung ratusan mitra pengemudi yang tidak lagi memperoleh penghasilan melalui UberPop.

Tidak hanya Finlandia, UberPop juga mengalami sejumlah permasalahan hukum di negara lainnya akibat mengizinkan pengemudi tanpa izin dan tidak terikat peraturan untuk beroperasi di platform tersebut.

Layanan UberPop juga dilarang di sejumlah kota di Eropa, termasuk Paris, Brussels, dan Berlin. Bahkan, layanan Uber sama sekali tidak tersedia di Frankfurt, Hamburg, Dusseldorf sejak 2015.

Di Finlandia, Uber merupakan badan usaha legal yang menggandeng mitra pengemudi dengan izin taksi sah. Sayangnya, Uber menjadi target investigasi polisi dan menuduh Uber tidak memiliki izin taksi yang legal.

Apa Saja Keunggulan Fitur Spotify Driving Mode?

Ilustrasi Spotify

Layanan music streaming Spotify sedang menguji coba fitur terbaru Driving Mode yang memungkinkan penggunanya mendengarkan lagu sambil mengendarai mobil.

Dalam kondisi mengemudi, pengguna tidak akan leluasa mengotak-atik lagu karena harus berkonsentrasi mengendari mobil. Permasalah itu akan dipecahkan oleh
Spotify melalui fitur Driving Mode.

Pengguna Spotify dapat melihat lambang mobil di sudut kiri bawah keterangan lagu untuk mengaktifkan Driving Mode. Ketika pengguna mengaktifkan fitur itu, maka muncul sebuah user interface baru termasuk ukuran tombol forward dan backward yang lebih besar serta muncul sebuah microphone.

Pengguna bisa menggunakan perintah suara untuk memutar lagu melalui microphone tersebut seperti dikutip The Verge.

Namun penampakan fitur Driving Mode yang diumbar oleh Chris54721 lewat screenshot itu masih bisa saja berubah karena masih banyak pengujian yang dilakukan Spotify sebelum benar-benar resmi diluncurkan.

Selama ini Spotify memang menguji banyak fitur tetapi tidak semuanya berakhir di perangkat pengguna. Namun kemungkinan besar Driving Mode akan dirilis karena banyak orang gemar mendengarkan musik sambil berkendara.

SoundCloud Harus Pecat 173 Karyawan dan Tutup Kantor

Ilustrasi kantor SoundCloud

Perusahaan layanan streaming musik SoundCloud telah merumahkan sebanyak 173 karyawan atau sekitar 40 persen dari total karyawannya. Tak hanya itu, SoundCloud juga menutup dua kantor di London dan San Francisco sebagai upaya efisiesi perusahaan.

SoundCloud masih akan melanjutkan operasional di Berlin dan New York. Saat ini SoundCloud memiliki basis pengguna sebanyak 175 juta pengguna di 190 negara. Namun, jumlah pelanggannya mulai tergerus oleh Spotify, Apple Music, Amazon Prime, dan Pandora.

“Dengan mengurangi biaya dan melanjutkan pertumbuhan pendapatan, kami berada di jalur menuju profitabilitas dan mengendalikan masa depan SoundCloud,” kata Alexander Ljung (CEO SoundCloud) dalam emailnya kepada para staff seperti dikutip TechCrunch.

SoundCloud memang sedang menghadapi masalah pelik yaitu masalah profit, model bisnis, ketersediaan akun premium dan perusahaan sering menggunakan fasilitas mahal, termasuk kantor mewah di dunia. Belum lagi, SoundCloud tidak memiliki cukup dana untuk menutup utang-utang di periode sebelumnya.

SoundCloud sendiri telah melakukan banyak hal untuk menjaring keuntungan. Saat ini, mereka berfokus pada pelanggan yang mengakses konten premium dan memiliki tingkatan khusus untuk pencipta konten dan iklan.

Sayangnya, SoundCloud tidak mengungkapkan berapa banyak pengguna premium atau seberapa besar iklan berkontribusi untuk perusahaan. Sebenarnya, Twitter dan Spotify berencana mengakuisisi SoundCloud tetapi sayang proses itu tidak kunjung rampung.

Spotify sendiri memiliki 140 juta pengguna, 50 juta di antaranya membayar langganan, dan Apple Music memiliki 27 juta pengguna berbayar. Amazon tidak melaporkan berapa banyak orang yang menggunakan layanan “Prime Music“-nya.

Ada 4 Tipe Pengguna Facebook, Anda Termasuk yang Mana?

Ilustrassi Perilaku Pengguna Facebook

Saat ini Facebook memiliki pengguna aktif sekitar 2 miliar setiap bulannya dan rata-rata pengguna menghabiskan waktu sekitar 35 menit perharinya untuk membuka Facebook.

Brigham Young University melakukan survei kepada pengguna Facebook untuk menanyakan alasan mereka ingin menggunakan Facebook dan mengapa Facebook menjadi media sosial yang paling berpengaruh.

Akhirnya, Brigham Young University menyimpulkan ada empat tipe perilaku pengguna Facebook yaitu Relationship Builder, Town Criers, Selfie, dan Window Shoppers. Berikut masing-masing penjelasannya seperti dikutip Mirror:

Relationship Builder

Perilaku Relationship Builder adalah pengguna yang menggunakan Facebook untuk komunikasi antar rekan, kerabat keluarga dan orang-orang terdekat. “Mereka menggunakan Facebook sebagai alat komunikasi untuk menjalin hubungan,” kata Tom Robinson (Salah satu Pimpinan Riset).

Town Criers & Selfies

Town Criers adalah tipe pengguna Facebook yang lebih suka berbagi informasi tentang peristiwa yang sedang terjadi. “Mereka (Town Criers) selalu berbagi informasi terbaru dan mengumumkan acara-acara yang sedang berlangsung. Mereka tidak suka sharing tentang informasi pribadi,” ucapnya.

Selfies

Perilaku Selfies adalah pengguna Facebook yang sering mengunggah foto selfie-nya. “Perilaku pengguna selfies fokus untuk mendapatkan perhatian seperti “likes” dan “comments“. Mereka beranggapan. ‘Semakin sering mendapatkan notifikasi, berarti saya diterima di lingkungan pertemanan (Facebook) saya,” ucapnya.

Window Shoppers

Tipe Window Shoppers jarang sekali mengunggah posting atau mengupdate halaman Facebooknya. “Mereka lebih suka melihat aktivitas orang lain di Facebook, semacam silent reader. Namun mereka memahami apa yang sedang berlangsung, lebih peka dengan isu-isu,” pungkasnya

Mengintip Willow Campus, Kompleks Perkantoran Facebook yang Supermewah

Ilustrasi Denah Willow Campus 1

Facebook akan membuat kompleks perkantoran terbaru di Melo Park, California yang mengusung konsep “mixed-use village” dengan menggabungkan kombinasi shopping mall, apartemen, hotel dan taman perkantoran di “kampus” atau “Willow Campus” tersebut.

Hebatnya, Facebook pun akan membangun apartemen yang terdiri 1.500 unit kamar untuk tempat tinggal karyawan. Facebook telah membeli lahan kompleks perkantoran seluas 56 hektar itu dengan banderol USD 400 juta.

“Lima belas persen atau sebanyak 200 unit akan disewakan di bawah harga pasar,” kata Facebook seperti dikutip Business Insider.

Facebook sengaja menghadirkan perumahan dengan harga terjangkau untuk mendekatkan diri dengan penduduk lokal. Dalam beberapa tahun terakhir, penduduk lokal kerap melancarkan protes pada perusahaan teknologi yang bermarkas di wilayah tersebut.

Alasannya, warga sekitar melihat kehadiran banyak kantor pusat perusahaan teknologi membuat harga sewa maupun beli rumah melonjak tinggi. Bahkan, tak jarang karyawan yang bekerja di perusahaan teknologi itu tidak mampu menyewa atau membeli tempat tinggal di wilayah tersebut.

“Bagian dari visi kami adalah menciptakan pusat tempat tinggal yang menyediakan layanan komunitas yang sudah lama didambakan,” ujar John Tenanes (Wakil Presiden Facebook untuk Fasilitas Global).

Ilustrasi Denah Willow Campus 1

Kompleks perkantoran Willow Campus itu juga akan menyediakan toko bahan makanan dan apotek untuk menjual berbagai aneka macam kebutuhan hidup di kompleks kantor baru. Facebook sudah menyiapkan ruang pertokoan seluas 11.000 meter persegi dan ruang kantor seluas 160.000 meter persegi.

Facebook baru akan mengajukan rencana pembangunan Willow Campus ke pemerintah setempat bulan ini dan proses perizinannya akan memakan waktu dua tahun.

Jika sudah mendapatkan ijin, Facebook akan membangun Willow Campus secara bertahap mulai dari bagian ritel, housing, dan perkantoran yang semuanya akan rampung pada 2021.

Facebook mengharapkan kompleks perkantorannya dapat membantu lalu lintas di sekitar San Fransisco menuju kota di sekitarnya, menyusul opsi transportasi publik yang terbatas dan kemacetan yang kerap menjadi masalah penduduk di San Fransisco.

Ilustrasi Denah Willow Campus 1

Saat ini Facebook telah sukses membentuk komunitas online dengan jumlah pengikut dua miliar di seluruh dunia. Facebook sendiri telah menghabiskan US$10.000 atau setara Rp134 juta untuk para pegawainya agar tinggal lebih dekat dengan kantor utama mereka.

Sayangnya, cara-cara yang ditempuh belum membuahkan hasil memuaskan karena harga tempat tinggal yang mahal dan ketersediannya minim sehingga banyak yang lebih memilih mencari alternatif rumah di daerah yang lebih jauh.

“Masalahnya di Silicon Valley adalah suplai (tempat tinggal) yang ada tidak sebanding dengan permintaannya,” ujar Sam Khater (Kepala Ekonom dari perusahaan Riset CoreLogic).

Sebelum Facebook, Google sudah duluan melakukan hal serupa. Hanya saja, Google melakukannya dalam skala lebih kecil dengan membeli 300 unit apartemen untuk tempat tinggal karyawan mereka.

Review Smartphone