Fitur RTB House: Ingin Melengkapi Vendor Iklan Retargeting yang Sudah Ada

RTB House: Ingin Melengkapi Vendor Iklan Retargeting yang Sudah Ada

Sudah banyak perusahaan pemasaran digital di dunia yang menggarap pasar retargeting, termasuk di antaranya Facebook dan Google. Jika dibandingkan dengan kedua raksasa itu, RTB House memang terbilang “anak bawang” karena baru didirikan di Polandia pada tahun 2012. Namun, RTB House sangat percaya diri dengan kecanggihan sistem yang mereka bangun dan kembangkan sendiri.

“Keunggulan utama kami adalah algoritma sistem yang cerdas dan mampu membuat keputusan yang tepat,” kata Jakub Ratajczak (Managing Director APAC, RTB House).

[BACA: Mengenal Tren Retargeting dan Programmatic Advertising]

Sebagai informasi, retargeting adalah bagian dari programmatic advertising, otomatisasi proses jual beli inventori iklan digital lewat sebuah sistem yang mempertemukan penerbit (publisher) dan pemasang iklan.

Sistem tersebut menggunakan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) untuk melacak dan menganalisis perilaku para pengguna internet yang diperoleh dari jejak digital (cookie) pada peramban (browser). Dari hasil pembelajaran ini, sistem akan menargetkan iklan kepada pengguna-pengguna yang memiliki karakteristik sesuai keinginan pemasang iklan.

Nah, sebagian besar penempatan iklan yang dilakukan online menerapkan metode real-time bidding.

Begini mekanisme kerjanya: saat seorang pengguna berkunjung ke sebuah situs, situs itu bakal mengirim pesan kepada para perusahaan pemasaran digital bahwa suatu cookie atau peramban akan melihat sebuah artikel. Situs itu juga memberitahu bahwa dia memunyai sejumlah selot iklan yang siap dilelang dan dijual kepada penawar dengan harga tertinggi.

Artinya, perusahaan pemasaran digital hanya memiliki waktu sekian milidetik untuk menerima pesan itu, menganalisisnya, memproses apa yang mereka ketahui tentang pengguna itu (dari cookie-nya), menentukan harga yang tepat, mengajukan penawaran, menunggu pemenang lelang, dan jika mereka menang, mengirimkan materi iklan yang akan ditampilkan kepada orang itu.

Unggul di Algoritma

Kesulitan pada real-time bidding dalam programmatic advertising adalah menentukan penawaran harga yang tepat, tidak terlalu tinggi dan juga tidak terlampau rendah. Algoritma RTB House diklaim mampu menentukan sweet spot alias titik keseimbangan yang menghasilkan keuntungan paling optimal bagi pemasang iklan.

Akan tetapi, sadar dengan posisinya sebagai pemain baru, RTB House mengusung strategi khusus dalam kompetisi di pasar retargeting. Terlebih, di Indonesia, retargeting merupakan praktik standar pada pebisnis e-commerce dan mereka pun sudah merekrut penyedia jasa retargeting masing-masing.

“Filosofi kami bukan untuk mendepak vendor retargeting yang sudah dipakai klien, melainkan untuk berkolaborasi dan memberi nilai tambah di atas layanan mereka,” ungkap Ridzki Syahputra (Business Development Manager Indonesia, RTB House).

Ridzki memberi gambaran, apabila saat ini sebuah e-commerce menganggarkan US$5.000 untuk satu retargeter dan memperoleh 1.000 konversi (jumlah klik iklan yang berujung transaksi), bersama RTB House, e-commerce itu bisa tetap mengeluarkan dana US$5.000 kepada dua retargeter, tetapi memperoleh lebih dari 1.000 konversi.

Jakub Ratajczak (Managing Director APAC, RTB House).

Bagaimana cara RTB House melengkapi vendor retargeting yang sudah ada?

Prinsipnya sederhana, persaingan akan menghadirkan usaha yang lebih maksimal. Kedua retargeter itu bakal bersaing dalam menyajikan hasil yang terbaik bagi klien yang sama sehingga mereka akan mengoptimalkan sistemnya agar lebih agresif. Selain itu, merekrut retargeter tambahan dapat memperluas jaringan penerbit iklan dan memperbanyak jumlah audiensi yang bisa dicapai.

Lantas, bagaimana cara klien mengukur keberhasilan program retargeting-nya? “Di Asia, kebanyakan klien menggunakan parameter Return on Ad Spend (RoAS) atau seberapa besar pemasukan yang mereka peroleh dari anggaran yang dikeluarkan,” jawab Jakub. Parameter lain yang bisa digunakan antara lain cost per unique visitor, cost per order, ataupun cost per click.

Secara global, RTB House mengklaim mampu mencatat RoAS sebesar sebelas kali lipat dari biaya. Namun, tingkat RoAS ini pun berbeda-beda pada setiap jenis e-commerce, bergantung pada model bisnis dan produk yang dijualnya.

“Toko retail online biasanya mengharapkan RoAS setidaknya 30 kali lipat. Margin keuntungan penjualan produk elektronik misalnya, lebih kecil daripada produk busana,” imbuh Jakub.

Memuaskan Pelanggan Setia

Berbekal kecerdasan sistem dan keandalan kinerja, RTB House mampu berekspansi hingga ke negara-negara Eropa dan Asia. Hebatnya, tingkat retensi atau kemampuan mempertahankan klien di level global mencapai sembilan puluh persen.

Pada tahun 2017, RTB House menargetkan pertumbuhan pesat dari sisi skala bisnis dan jumlah karyawan, termasuk merekrut staf sales dan technical support lokal di Indonesia. Mereka mengaku telah memiliki sekitar dua belas klien di Indonesia, di antaranya Zalora dan SaleStock.

“Kami memang menyasar e-commerce besar, bukan yang dijalankan individual. Fokusnya pada e-commerce di bidang fashion, marketplace, general merchandise, classified, dan price comparison,” ujar Ridzki.

“Teknologi kami baru bermanfaat jika klien sudah mencapai skala operasi tertentu. Soalnya, kami perlu membangun model statistik dari hasil interaksi dalam jumlah tertentu supaya mesin kami bekerja optimal. Ini bukan syarat mutlak, tetapi minimal ada 100 ribu unique visitor atau 2.000 – 3.000 transaksi per bulan,” Jakub menjelaskan.

Sepuluh besar vendor retargeting di Indonesia {Sumber: Datanyze, Februari 2017)

Comments

comments