Profil Mark Shuttleworth: Otak di Balik Linux Ubuntu

Mark Shuttleworth: Otak di Balik Linux Ubuntu

Mark Shuttleworth (Pendiri Canonical).

Jika Windows identik dengan Microsoft, Ubuntu akan identik dengan Canonical. Sebagai tokoh yang berada di balik hadirnya Ubuntu, Mark Shuttleworks adalah pemilik perusahaan software Canonical dan telah membiayai pengembangan hingga dukungan terhadap Linux Ubuntu.

Mark Shuttleworth dilahirkan pada 18 September 1973 di Welkom, Afrika Selatan. Ia merupakan anak pasangan seorang ahli bedah dan guru taman kanak-kanak. Shuttleworth bersekolah di Rondebosch Boys High School, kemudian di Western Province Preparatory School. Ia lalu mengejar gelar ilmu bisnis di bidang keuangan pada Jurusan Finance and Information Systems di University of Cape Town.

Selama masa studinya, Shuttleworth tinggal di Smuts Hall yang merupakan tempat tinggal para pria di kampus yang terletak di bagian atas dari University of Cape Town. Shuttleworth mulai tertarik dengan komputer berkat permainan game komputer.

Ketertarikannya ini kemudian memuncak saat ia menjadi mahasiswa dengan kemunculan internet. Pada masa itu, Shuttleworth terlibat dalam pemasangan koneksi internet pertama di universitas tempatnya belajar.

Proyek Kemanusiaan

Saat mendekati masa akhir studi pendidikan di Universitas of Cape Town di tahun 1995, Shuttleworth mendirikan Thawte, perusahaan konsultan yang berfokus pada keamanan internet dan sertifikat digital. Thawte awalnya dijalankan di garasi milik orang tua Shuttleworth di Durbanville.

Sesuai rancangan awalnya, Thawte ditujukan untuk menciptakan server yang aman dan tidak terbelenggu oleh kriptografi. Thawte menggunakan server yang diadaptasi dari server Apache HTTP, yang diintegrasikan dengan server Stronghold. Dari sinilah ia mulai fokus pada kegiatan sertifikasi untuk situs-situs web.

Di tahun 1999, ia menjual perusahaan tersebut kepada VeriSign senilai U$575 juta. Melalui keuntungannya ini, ia mendirikan perusahaan venture capital “Here Be Dragons” (HBD) dan organisasi nirlaba dengan fokus khusus di bidang pendidikan di Afrika.

HBD menjadi perusahaan inovatif yang berinvestasi untuk perusahaan-perusahaan yang berbasis di Afrika Selatan dan memiliki potensi untuk melayani pasar global. HBD sendiri telah berinvestasi di beberapa perusahaan Afrika Selatan di berbagai sektor, seperti perangkat lunak, layanan farmasi, elektronik dan layanan ponsel.

Pada sekitar Maret 2004, Shuttleworth mendirikan Canonical Ltd. Melalui perusahaannya itu, Shuttleworth memimpin pengembangan Ubuntu, distribusi Linux berbasis Debian. Ubuntu merupakan sebuah proyek yang menciptakan sistem operasi gratis bagi pengguna komputer. Fokusnya adalah perluasan akses komputer pribadi di negara-negara berkembang. Pada tahun berikutnya, Shuttleworth mendirikan Linux Foundation.

Secara pelan namun pasti, Ubuntu menjadi sistem operasi alternatif dari Microsoft Windows. Ubuntu sangat dipengaruhi oleh Linux, GNU, dan ekosistem perangkat lunak. Ubuntu dimaksudkan untuk menggabungkan komunitas Linux (Debian, Fedora, Arch, Gentoo), serta dunia komersial dengan perangkat lunak tertutup seperti RHEL dan SLES/SLED.

“Ubuntu adalah panah bagi Debian, Debian adalah busur bagi Ubuntu,” ungkap Shuttleworth mengenai pandangannya tentang hubungan Ubuntu dan Debian.

Shuttleworth menjadi CEO Canonical selama lima tahun sebelum mengundurkan diri pada bulan Desember 2009  untuk memfokuskan diri kepada desain produk, kemitraan, dan pelanggan. Jane Silber yang sebelumnya menjabat sebagai COO perusahaan kemudian mengambil alih posisi CEO.

Nama Ubuntu sendiri berasal dari filosofi budaya Afrika Selatan yang berarti kemanusiaan kepada sesama. Oleh sebab itulah, Shuttleworth membuat Ubuntu dengan sumber terbuka untuk dipakai siapa pun secara bebas.

Agar mudah digunakan, Ubuntu dibuat dengan tampilan yang apik dan user friendly. Proyek Ubuntu meliputi pemenuhan kebutuhan sistem operasi untuk sekolah-sekolah dan penduduk dunia, serta industri tertentu (via Edubuntu dan Kubuntu).

Misi luar angkasa Mark Shuttleworth pada tahun 2002.

Ke Luar Angkasa

Sebelumnya, secara diam-diam, Shuttleworth memiliki ketertarikan dengan dunia antariksa. Hal itu dibuktikannya pada tahun 2001. Dengan biaya pribadinya senilai US$20 juta, Shuttleworth membeli kesempatan menjelajahi antariksa dengan pesawat Rusia dan mempersiapkan diri menjadi orang Afrika pertama yang melakukan misi ke luar angkasa.

Selama hampir satu tahun, ia mendapat pelatihan di Star City, Rusia dan Kazakhstan untuk menjalani misi menggunakan pesawat ulang alik Soyuz TM-34. Ia ditemani dua kosmonot, masing-masing komandan misi Yury Gidzenko dari Rusia dan insinyur penerbangan Roberto Vittori dari Italia. Mereka bertiga akan melakukan perjalanan ke International Space Station (ISS).

Pada 25 April 2002, Shuttleworth berangkat dari kosmodrom Baikonur di Kazakhstan dan berlabuh selama dua hari di ISS. Shuttleworth menjadi salah satu kosmonot Soyuz dalam misi TM34 dan menghabiskan delapan hari di stasiun luar angkasa, di mana mereka melakukan eksperimen ilmiah untuk Afrika Selatan. Ia kembali ke bumi dengan pesawat ulang alik Soyuz TM-33 pada 5 Mei 2002.

Sekembalinya dari misi antariksa, Shuttleworth yang gemar bepergian mulai kembali dengan aktivitasnya dan berbicara tentang antariksa untuk anak-anak sekolah di seluruh dunia. Ia kembali ke pekerjaannya di bidang teknologi dan pada 2004 mendirikan Ubuntu, seperti telah diuraikan sebelumnya.

Shuttleworth yang memiliki dua kewarganegaraan (Afrika Selatan dan Inggris) dan tinggal di Isle of Man ini memang telah mendermakan sejumlah besar uangnya untuk kemajuan dunia teknologi Informasi. Ia juga telah mendedikasikan waktu, ide, dan tenaganya dalam menciptakan sistem operasi yang gratis yang bisa dimanfaatkan seluruh umat manusia melalui filosofi Ubuntu.

Comments

comments