Profil IT Executive Ongki Kurniawan: Ungkap Strategi LINE Jadi “Smart Portal”

Ongki Kurniawan: Ungkap Strategi LINE Jadi “Smart Portal”

Ongki Kurniawan (Managing Director, LINE Indonesia). [Foto: Abdul Aziz/InfoKomputer]

Persaingan aplikasi chatting sangat ketat di Indonesia. LINE Indonesia pun memiliki seribu satu cara untuk menjadi aplikasi chatting nomor satu untuk generasi millennial dan menjadi smart portal pada tahun 2019.

Ongki Kurniawan (Managing Director, LINE Indonesia) menjelaskan demografi pengguna LINE di Indonesia. Pengguna terdaftar LINE di Indonesia ada sebanyak 90 juta orang, naik 200 persen dari tahun 2014. Pengguna LINE paling banyak berada di kota-kota besar di Indonesia, mengingat sebaran smartphone sangat besar di kota-kota ini.

Sebanyak 80 persen pengguna LINE di Indonesia berusia di bawah 30 tahun dan terbukti aplikasi chatting LINE sangat digandrungi generasi millennial. Uniknya, sebanyak 55 persen pengguna LINE di Indonesia adalah perempuan dan hanya 45 persen yang laki-laki.

“Platform LINE memang fun youth centric. [Pengguna LINE] paling banyak perempuan karena perempuan lebih menyukai stiker-stiker LINE yang lucu-lucu, imut, dan menarik. Perempuan pun kerap menggunakan stiker untuk mengungkapkan emosinya daripada laki-laki,” katanya ketika menerima InfoKomputer di kantor pusat LINE Indonesia di Energy Building, Jakarta.

LINE pun memiliki keunikan dan ciri khas dibanding kompetitor, misalnya WhatsApp dan BlackBerry Messenger (BBM) yang menyasar para profesional dan pekerja. Aplikasi chatting LINE memang cenderung menyasar anak muda.

“Anak-anak yang masih duduk di bangku SMA dan kuliah, aplikasi chatting-nya pasti LINE. Ketika mereka pindah ke dunia kerja, baru pindah ke BBM dan WhatsApp,” ujarnya.

Smart Portal

Ongki pun bermimpi akan membawa LINE Indonesia menjadi smart portal nomor satu pada 2019. Targetnya, LINE tidak hanya menjadi aplikasi komunikasi, tetapi juga menjadi aplikasi yang memberikan berbagai informasi dan pengetahuan.

“Kami memiliki misi untuk menjadi smart portal nomor satu di Indonesia. [Portal ini] tidak hanya menjembatani para pengguna untuk saling terhubung, tetapi juga memberikan akses kepada ragam informasi dan servis di mana pun dan kapan pun,” katanya.

Smart portal LINE akan memberikan berbagai macam manfaat termasuk lifestyle digital, beli pulsa, mencari lowongan kerja. Kami ingin smart portal ini menjawab semua kebutuhan pengguna atau [menjadi] one stop solution,” ucapnya.

[BACA: Terobosan LINE Indonesia di Tahun 2017, Dari Stiker Lucu sampai Fitur Lowongan Kerja]

Ongki menjelaskan para penyedia layanan OTT/over the top lain saat ini juga berbuat hal yang sama, yakni melakukan konvergensi dengan menyediakan aneka layanan lain di samping servis utama. Ia mencontohkan Instagram yang kini masuk ke ranah messaging, juga Google yang belakangan merilis Allo. Karena itu, LINE harus melakukan inovasi serupa.

Smart portal akan membuat para pengguna LINE agar tetap bertahan memakai servis LINE, mulai dari chatting, mencari berita (LINE News), belanja (LINE Shopping), hingga membaca komik (LINE Webtoon) ataupun belanja online (LINE Shopping),” tuturnya.

Ongki kemudian menjelaskan hal-hal yang berbeda dari LINE Smart Portal.

Pertama, LINE Academy. Menurut Ongki, LINE Academy menyajikan soal try out ujian mata pelajaran untuk SD, SMP, SMA, dan SMK. Ia menambahkan bahwa LINE Indonesia menggandeng startup edukasi Ruangguru yang akan terus menyajikan try out ujian berupa soal ujian, kuis, pengetahuan umum, yang dilengkapi dengan ranking-nya. “Fitur LINE Academy ini sangat membantu dan edukatif, mengingat biaya bimbel sangat mahal saat ini,” ucapnya.

Selain itu, Ongki menyatakan bahwa LINE Smart Portal juga memiliki LINE Pay yang berfungsi sebagai metode pembayaran. Di Indonesia, LINE telah menggandeng Bank Mandiri dan BCA untuk mendukung LINE Pay.

Untuk segmen B2B, Ongki menambahkan bahwa LINE Indonesia sedang menjajaki kerja sama dengan maskapai Garuda Indonesia. LINE Pay pun telah menggandeng perusahaan food and beverage (F&B) seperti Starbucks, Baskin Robbins, dan Domino’s Pizza, serta bioskop seperti Blitz CGV.

Selain itu, LINE Indonesia menggandeng operator telekomunikasi seperti Telkomsel dan Indosat serta waralaba Alfamart. Ongki menambahkan bahwa LINE Indonesia telah berkolaborasi bersama Alfamart melalui promo JSM (Jumat, Sabtu, Minggu) Spesial serta kerja sama bersama Mie Sedaap sebagai #PenyelamatTanggalTua.

Ongki menyatakan bahwa portal LINE akan berfokus pada pembayaran karena industri fintech dan e-commerce sedang tumbuh di Indonesia.

“Penetrasi e-commerce masih di bawah satu persen. Sedangkan di luar, pertumbuhan e-commerce sudah 8-9 persen. Jadi peluangnya masih besar di Indonesia. Apalagi, operator telekomunikasi mempercepat pengadopsian 4G dan mendukung peningkatan smart portal,” ujarnya.

LINE Jobs adalah aplikasi layanan lowongan kerja berbasis chatting yang pertama di Indonesia. Ini mengingat kebutuhan pencari kerja sangat besar di Indonesia. “Kami telah meriset banyak buruh pabrik yang bekerja sebagai buruh kontrak di daerah-daerah dan kontraknya hanya dua tahun. Jadi mereka membutuhkan informasi lowongan pekerjaan,” ujarnya.

Ongki menyatakan bahwa LINE Jobs akan memverifikasi setiap lowongan pekerjaan yang masuk sehingga pengguna mendapatkan informasi pekerjaan yang benar tanpa ada penipuan. “Memasang lamaran di LINE Jobs, pengguna juga tidak perlu menggunakan amplop coklat untuk mengirimkan lamaran ke masing-masing perusahaan. Jadi lebih hemat dan efisien,” pungkasnya.

“Kami akan meyakinkan setiap lowongannya valid, ada 30 ribu listing dan 60 persen adalah lowongan pekerjaan yang banyak dibutuhkan seperti administrasi dan buruh pabrik,” ujarnya.

Ongki mengklaim bahwa LINE Indonesia turut membantu Pemerintah RI dalam memberantas berita hoax alias berita palsu. Ongki menambahkan bahwa LINE Indonesia selalu memfilter berita-berita yang ditayangkan dalam Line Today dan menandai berita-berita yang termasuk hoax. “Kita mengedukasi pembaca LINE Today tentang apa saja berita yang hoax. Setiap harinya ada 8 – 9 berita hoax yang terjaring,” ujarnya.

Andalan Utama

LINE Indonesia menyatakan mengandalkan stiker-stiker untuk meningkatkan penggunanya dan menjadi daya tarik tersendiri dibanding kompetitornya. Apalagi, LINE Indonesia mengklaim membuat stiker dengan cita rasa lokal dengan ide-ide yang unik serta bertema selebritas.

Ongki mengatakan LINE Indonesia selalu melibatkan cita rasa lokal, baik dari segi desain dan bahasa sehingga komunikasinya bisa terjalin dengan pengguna. Ia mengklaim bagaimana setelah memakai stiker LINE Indonesia, penggunanya menjadi jauh lebih fun dan ekspresinya jauh lebih baik lagi.

“Baru seminggu, stiker Tatan sudah diunduh 3 juta, lebih laku dari stiker selebritas,” ujarnya. “Apalagi, setelah ujian sekolah, banyak sekali anak-anak yang berkirim stiker,” ucapnya.

Ongki menyatakan bahwa LINE Indonesia juga menggandeng 60 ribu kreator lokal untuk membuat stiker. Menurutnya, LINE Indonesia pun sudah memiliki komunitas kreator untuk berbagi saran kreativitas. Uniknya, kreator konten LINE di Indonesia paling banyak berasal dari daerah-daerah di Indonesia. Hal itu menurut Ongki membuktikan pemerataan infrastruktur sudah merata di Indonesia.

Ongki Kurniawan (Managing Director, LINE Indonesia). [Foto: Abdul Aziz/InfoKomputer]

LINE Works dan Chatbot

LINE Jepang sudah menawarkan layanan LINE Works yang menyasar pasar korporasi di Jepang. Ongki mengatakan LINE Indonesia pun masih mengkaji prospek dan pasar layanan LINE Works di Indonesia, mengingat potensi layanan itu sangat besar di Indonesia.  

“Targetnya tahun ini, karena kami harus mempersiapkan terlebih dahulu pemasarannya termasuk tim marketing dan tim after sales-nya. Layanan ini juga ada paket-paket harganya tergantung produk layanannya,” ujarnya.

LINE Indonesia melihat chatbot akan booming dan memegang peran besar dalam aplikasi chatting karena pertumbuhan pengguna aplikasi pesan yang pesat. Ongki melihat posisi chatbot bisa menggantikan posisi customer service dan menjawab pertanyaan-pertanyaan dasar. Chatbot pun diklaim bisa meningkatkan efisiensi dan pengeluaran perusahaan.

“Satu bot dapat menangani 1.000 pelanggan dalam 4 menit sedangkan 1 agen orang sanggup melayani 1 orang dalam 7 menit. Bayangkan, berapa efisiensi yang bisa didapatkan perusahaan,” ujarnya.

Tantangannya menurut Ongki, perusahaan harus mengajarkan bot tentang bahasa Indonesia, mengingat kosakata bahasa Indonesia sangat beragam. “Kata ‘saya’ dalam bahasa Inggris cuma satu yaitu ‘I’, sedangkan di Indonesia sangat beragam bisa ‘gue’, ‘saya’, ‘aku’ dan lain-lain,” ujarnya.

BCA pun telah meminta LINE Indonesia untuk membuat chatbot Virtual Assistant Chat Banking BCA bernama VIRA yang memungkinkan pelanggan BCA bisa berinteraksi dengan chatbot.

Menurut Ongki, VIRA dapat diakses melalui beberapa aplikasi chat populer, yaitu: Facebook Messenger, LINE, dan Kaskus Chat. Saat ini, VIRA dapat membantu mengetahui informasi dan promosi seputar BCA kepada pengguna aplikasi chat tersebut. VIRA memiliki beragam fitur seperti info dan promo. Pengguna diklaim bisa mendapatkan informasi terkini mengenai informasi dan promo-promo yang ada di BCA serta mencari lokasi ATM BCA terdekat.

Tentunya, kehadiran bot dapat memberikan dampak buruk kepada keberlangsungan tenaga kerja karena semuanya bisa digantikan oleh robot dan mesin. “Kita harus fleksibel melihat perubahan teknologi dan harus bisa membuat diri kita lebih valuable,” ucapnya.

Dalam ajang Mobile World Congress (MWC) 2017, LINE juga telah menampilkan sebuah asisten digital dalam bentuk speaker pintar Clova yang berbasis kecerdasan buatan dan machine learning (AI). Clova yang merupakan kependekan dari Cloud Virtual Assistant akan terintegrasi ke dalam aplikasi utama berbagi pesan LINE. Clova juga memiliki pengeras suara pintar bernama Wave untuk bersaing dengan Echo dari Amazon dan Home milik Google.

LINE menggandeng Sony dan LG untuk mengembangkan Clova. Mirip dengan Amazon Alexa dan Google Home, LINE Clova bisa mengakses berita, cuaca, kalender, pembayaran online, menjawab pertanyaan rumit, bahkan mengenali wajah.

XL vs LINE

Awak media yang biasa meliput operator telekomunikasi pasti mengenal sosok Ongki Kurniawan yang pernah menjadi anggota direksi di operator telekomunikasi XL Axiata.

Ongki mengatakan ada perbedaan lingkungan dan tuntutan antara bekerja di XL Axiata dan LINE. “Kalau di XL, sistem kerjanya sangat struktural dan pola kerjanya sudah jelas, lebih intens berhubungan dengan pemerintah. Kalau di LINE, seperti bekerja di startup dan memulai sesuatu dengan bertahap karena pola kerjanya masih baru,” ujarnya.

“Kalau di XL, fokusnya pada revenue dan margin. Sedangkan LINE fokusnya pada user base. User base dulu baru kita monetize belakangan dan kalau user base-nya besar, monetisasinya ngga sulit,” tambahnya lagi.

Sebelum bergabung di LINE, Ongki memulai karier di Citibank dengan posisi terakhir sebagai Assistant Vice President. Setelah itu, dia melanjutkan karier sebagai Principal untuk The Boston Consulting Group (BCG), dengan pengalaman memimpin sejumlah proyek konsultasi strategis di bidang komunikasi di sejumlah negara Asia dan Eropa.

Pria sarjana teknik ITB itu kemudian berlabuh di PT XL Axiata Tbk (XL). Kiprah Ongki di XL dimulai dari Senior Vice President Corporate Strategy dan Business Development. Kemudian, di pengujung kariernya di XL, Ongki mengisi kursi Direksi/Chief Digital Services XL.

Comments

comments