August | 2017 | InfoKomputer Online
Beranda 2017 August

Arsip Bulanan: August 2017

Lenovo dan Disney Luncurkan Game Star Wars: Jedi Challenges

 

Penggemar Star Wars, bersiaplah untuk beradu light saber.

Lenovo bekerjasama dengan Disney dan Lucas Film telah merilis game augmented reality berjudul Star Wars: Jedi Challenges. Ini adalah sebuah game yang memungkinkan Anda melawan Kylo Ren yang bisa dimainkan dengan menggunakan headset Lenovo Mirage AR, sensor gerak (tracking beacon), dan controller berbentuk Lightsaber. Lenovo Mirage AR sendiri bisa dipasangkan dengan iPhone dan Android yang kompatibel (daftarnya bisa dilihat di jedichallenges.com/app).

Inilah tiga perangkat yang dibutuhkan untuk memainkan game Star Wars: Jedi Challenges, yaitu Lenovo Mirage AR, tracking beacon, serta controller Lighsaber

Untuk memainkan game ini, pengguna mengunduh terlebih dulu game Star Wars di Apps Store atau Google Play. Kemudian masukkan smartphone ke dalam Lenovo Mirage AR serta tempatkan tracking beacon di lantai (tracking beacon ini berfungsi mendeteksi gerakan pengguna saat bermain game). Sedangkan a�?pedanga�? Lightsaber ini berfungsi sebagai controller berisi dua tombol untuk aksi adu Lightsaber sekaligus pointer dalam memilih menu.

Game Star Wars: Jedi Challenges sendiri akan memiliki tiga jenis gameplay. Yang pertama pemain bisa beradu Light Saber, kedua adu strategi dengan menjadi pimpinan pasukan Rebel, dan yang ketiga adalah bermain game khas Star Wars, Holochess. Lenovo mengklaim game Jedi Challenges ini memiliki gameplay untuk durasi permainan berjam-jam dan akan terus dikembangkan game untuk smartphone pada umumnya.

a�?Selama bertahun-tahun penggemar Star Wars sudah bermimpi bisa merasakan pengalaman seperti di Star Wars, mulai dari hologram sampai Lightsabera�? ungkap Matt Bereda, VP Global Consumer Marketing, PC and Smart Devices Lenovo. a�?Dan kini perkembangan teknologi memungkinkan impian tersebut untuk terwujuda�? tambah Matt.

Lightsaber ini terbuat dari plastik dengan lampu berpendar di ujung atasnya

InfoKomputer sendiri berkesempatan melihat bentuk fisik headset, tracking beacon, dan pedang Lighsaber ini saat konferensi pers yang diadakan di Berlin, Jerman. Pedangnya sendiri terbuat dari plastik dengan lampu di ujung atasnya. Lampu tersebut akan menyala sesuai level game, namun tidak berpendar dan membentuk pedang seperti yang kita lihat di film.

Headset, tracking beacon, dan controller Lightsaber sendiri akan dijual di dalam satu paket dengan harga mulai dari US$299.

May the force be with you!

Update ke Android 8.0 Oreo Mulai Dirilis

Android 8.0 Oreo

Setelah secara resmi meluncurkan sistem operasi Android terbaru yaitu Android 8.0 Oreo pada minggu lalu, Google kini mulai merilis pembaruan sistem operasi tersebut ke penggunanya.

Jika kamu pengguna smartphone keluaran Google seperti lini Pixel atau Nexus, Google telah merilis pembaruan sistem operasi Android 8.0 Oreo ke smartphone Pixel dan Nexus di beberapa daerah.

Daftar perangkat Google yang menerima pembaruan Android 8.0 Oreo adalah sebagai berikut:

  • Pixel
  • Pixel XL
  • Pixel C
  • Nexus 6P
  • Nexus 5X
  • Nexus Player

Selain merilis pembaruan Android 8.0 Oreo secara over-the-air (OTA), Google juga telah menyediakan file factory image sistem operasi tersebut. Jadi, kalau misalnya kamu tidak sabar untuk menunggu notifikasi pembaruan tersebut muncul di smartphone kamu, kamu bisa melakukan flashing sistem operasi tersebut sendiri. Namun perlu diingat bahwa melakukan flashing sistem operasi memerlukan keterampilan lebih lanjut dan memiliki risiko yang cukup fatal jika kamu melakukan kesalahan.

Xiaomi Tingkatkan RAM Redmi 4A Jadi 3 GB

Xiaomi Redmi 4A

Xiaomi dikabarkan akan melakukan penyegaran spesifikasi bagi salah satu smartphone-nya yaitu Redmi 4A.

Xiaomi Redmi 4A adalah sebuah smartphone kelas entry-level. Saat ini, Xiaomi Redmi 4A yang beredar di pasaran memiliki spesifikasi cip (chip) Qualcomm Snapdragon 425, RAM 2 GB, penyimpanan 16 GB, kamera 13 megapixel, layar 5 inci 720 x 1280 pixel, dan baterai sebesar 3.120 mAh.

Untuk pembaruan pada smartphone tersebut, Xiaomi meningkatkan kapasitas RAM menjadi 3 GB. Selain itu, kapasitas memori penyimpanan internalnya juga diperbesar menjadi 32 GB. Selebihnya, tak ada yang berbeda dari Redmi 4A versi sebelumnya.

Xiaomi Redmi 4A versi baru ini rencananya akan mulai diedarkan di India. Harganya pun tidak jauh berbeda dari Redmi 4A versi awal, yaitu sekitar 1,5 juta rupiah. Belum ada informasi lebih lanjut apakah Xiaomi Redmi 4A versi baru ini akan hadir juga di negara lain, termasuk Indonesia.

Binus University, Nvidia, dan Kinetica Bangun Pusat Litbang AI Pertama di Indonesia

Ilustrasi machine learning. [kredit: Shutterstock]
Teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) memiliki peran yang sangat besar di masa depan, mengingat AI adalah inovasi terdepan di dalam bidang teknologi informasi.

Teknologi AI merupakan kunci digital di masa depan yang mampu menjawab semua tantangan data yang kompleks. Binus University, Nvidia, dan Kinetica mendirikan AI Research and Development Center (AI R&D Center) atau pusat litbang kecerdasan buatan yang pertama dan satu-satunya di Indonesia.

Nvidia mampu menghadirkan GPU, aplikasi Deep Learning yang terakselerasi, mengikuti kualitas ilmiah tertinggi, nilai dan standar etika dalam aktivitasnya.

Binus University sadar sebagai institusi pendidikan tinggi sangat penting untuk berkolaborasi dengan industri dan pusat riset adalah salah satu hasil nyata dari visi Bina NusantaraA�untuk terus membina dan memberdayakan masyarakat dalam membangun dan melayani bangsa.

“Inisiatif ini bisa membantu perguruan tinggi di Indonesia untuk memperkuat jaringannya secara lokal maupun mancanegara,” kata Bernard Gunawan (CEO, Bina Nusantara) dalam siaran persnya.

Sedangkan Kinetica akan menyediakan database yang terakselerasi yang dijalankan oleh server berbasis GPU.

AI R&D Center itu berlokasi di Kampus Anggrek, Binus University lengkap dengan fasilitas teknologi mutakhir dan lingkungan kerja yang kondusif untuk melakukan riset.

Joseph Lee (Vice President APAC, Kinetica) mengatakan para peneliti dunia sedang menerobos batasan-batasan kecerdasan buatan dan menghasilkan banyak hal yang berimbas ke seluruh dunia untuk membuat hidup semua orang menjadi lebih baik. GPU milik Kinetica, sebuah database terakselesari yang dibangun dengan tujuan mendukung perkembangan mesin pembelajaran kecerdasan buatan.

“Kami mengedepankan riset fundamental, pengembangan universitas, dan bekerja sama dengan Binus University dalam pembuatan lab untuk menyimpan semua pionir AI lebih dahulu. Kinetica bangga mendukung Binus University dalam mempersembahkan AI R&D Center yang pertama di Indonesia,” ujarnya.

Dilema Penerapan Komputasi Awan, Apakah Hybrid Cloud Jadi Jawaban?

Hampir satu dekade ini, InfoKomputer mengulas topik cloud computing. Teknologi, bisnis, dan implementasinya makin solid dan menuju keniscayaan. Akan tetapi, para pemimpin TI Indonesia masih menghadapi beberapa ganjalan.

Dengan semakin besarnya porsi public cloud di ranah enterprise, strategi hybrid akan menjadi pilihan organisasi bisnis, tentu saja bagi perusahaan yang sudah memiliki infrastruktur on premise dan atau private cloud.

Survei RightScale 2017 The State of Cloud Report menemukan bahwa 85 persen respondennya telah menerapkan strategi multi cloud (menggunakan beberapa private atau public cloud), dan 58 persen di antaranya menjalankan hybrid.

Strategi hybrid rupanya bukan lagi sesuatu yang asing bagi para pemimpin TI Indonesia. Dalam acara InfoKomputer CIO Forum yang digelar bersama Multipolar dan HPE pada medio Juli lalu, terungkap bahwa penerapan cloud dan strategi hybrid telah dilakukan pemimpin TI beberapa perusahaan dalam berbagai tingkatan.

Misalnya Bank Muamalat. Selain mengandalkan sumber daya komputasi yang bersumber dari data center, bank yang ingin memasang target menjadi The Best Islamic Bank dan Top 10 Bank di Indonesia ini juga menggunakan public cloud, khususnya untuk area development.

Dengan cloud, menurut Saladin Effendi (CIO, Bank Mualamat), ia dpat menyediakan sepuluh lingkungan yang berbeda untuk sepuluh product development dengan cepat. A�a�?Ngapain saya beli mesin development? Ngapain saya beli lisensi? Penyedia layanan yang lakukan refresh dan sebagainya, kami tinggal pakai. Begitu lambat tinggal komplain,a�? ujar Saladin.

Perusahaan asuransi Tokio Marine, juga sudah menerapkan komputasi awan. a�?Personally, kami juga punya cloud, tapi untuk development,a�? tutur Anton Pranayama (GM IT & BPM, PT Asuransi Tokio Marine Indonesia). Ia beralasan, karena workload development yang cukup tinggi, perusahaan memilih untuk tidak investasi pada hardware yang ujung-ujungnya idle.

Dari sektor finansial lainnya, PT Suzuki Finance Indonesia (SFI), mengaku juga sudah memanfaatkan cloud meskipun baru di area aplikasi non critical. a�?Misalnya website dan mobile system yang dipakai internal dan rekanan dealer kami. Masih manageable secara sekuriti tapi kami bisa dapatkan efisiensi dari infrastruktur mobile system ini. Saat peak, kami tinggal on the fly request ke (cloud) provider untuk dinaikkan,a�? papar Budi Pranoto (GM IT, PT Suzuki Finance Indonesia).

Atma Jaya yang bergerak di bidang pendidikan dan kesehatan malah sudah meletakkan 60 – 70 persen workload komputasinya di cloud. A�a�?Saya nggak terlalu percaya pada teknologi on premise maupun full public cloud, jadi saya ambil jalan tengah, yaitu hybrid,a�? Danny Natalies (Chief Information Officer, Atma Jaya) mengungkapkan strategi yang ia pilih.

Bagaimana pembagiannya? Infrastruktur dan sistem on premise masih ia andalkan untuk menyimpan data-data yang berkategori sensitif dan menjalankan A�transaksi yang sifatnya idle. Sedangkan semua layanan yang bisa diakses melalui internet dan jumlah user-nya cukup besar akan ia a�?lempara�? ke cloud.

Sebelum memanfaatkan cloud, Atma Jaya terbiasa belanja computing power berdasarkan asumsi kebutuhan sumber daya tertinggi. a�?Termasuk future computing power yang kami butuhkan,a�? cerita Danny. Namun kini, Danny akan menghitung computing power di level idle-nya saja dan selisih deltanya ia taruh semua di cloud.

Sebagai perusahaan berlabel low cost carrier, biaya tentu menjadi faktor penting dalam operasional maskapai penerbangan AirAsia. Dengan cost efficiency sebagai salah satu tawarannya, bisa ditebak jika maskapai yang dikomandani Tony Fernandez ini pun menerapkan komputasi awan.

a�?Semua server kami ada di Malaysia, dan di sna pun sudah kami tempatkan di Azure dan AWS. Namun untuk Indonesia, kami masih gunakan on premise, data center di Jakarta dan DRC di Denpasar, Bali,a�? cerita Reza Sugiarto (ICT Network A�& Security Manager, PT AirAsia Indonesia).

Namun tahun ini, menurut Reza, AirAsia akan memindahkan Disaster Recovery Center-nya ke cloud. Meski data center utama tetap on premise, langkah ini setidaknya mengurangi kompleksitas berbagai aspek pekerjaan TI, A�misalnya dalam hal maintenance dan menjaga availability.

Di barisan organisasi bisnis yang sudah mengaplikasikan cloud computing juga ada PT Eka Bogainti. Beberapa kali server DNS mati sehingga melumpuhkan kerja situs web dan mobile app Hoka-Hoka Bento, Johan Sutrisno (Head of IT, PT Eka Bogainti) memutuskan untuk beralih ke cloud.

a�?Cloud memang tidak bisa dihindari, jadi perlahan-lahan kami pindahkan ke cloud, kalau cost-nya masih manageable dan reasonable,a�? tutur Johan yang juga memindahkan SMTP server ke cloud.

Ganjalan Keamanan Sampai Reliabilitas Koneksi

Perjalanan ke a�?awana�? sudah dimulai, tetapi untuk sepenuhnya memercayai clouda��apalagi public clouda��para pemimpin TI Indonesia agaknya belum a�?sampai hatia�?. Ganjalan apa yang mereka hadapi?

Di awal perkenalannya, cloud diganjal isu keamanan. Ternyata hingga kini pun, keamanan data masih menjadi pertanyaan utama (calon) pengguna cloud, ditambah isu regulasi dan kedaulatan data. PT Asuransi Tokio Marine Indonesia masih enggan menggunakan cloud untuk menopang aktivitas production sebelum benar-benar aman dari sisi teknologi dan regulasi.

Alasan regulasi juga diungkapkan oleh Budi Pranoto. a�?Untuk core system kami agak susah bergerak karena ada regulasi yang memastikan data harus ada di Indonesia. Namun bertahap kami akan lihat situasi dari sisi regulasi seberapa fleksibel,a�? jelas Budi.

Bagi Saladin Effendi, infrastruktur teknologi sebenarnya ibarat jalanan, yang di mana-mana materialnya sama. Platform teknologi informasi untuk perbankan, otomotif, manufaktur, dan sebagainya tentu tidak jauh berbeda. A�a�?Semua menjadi commonality. Namun kami harus tetap berdiskusi dengan supervisor kami, dalam hal ini OJK. Sambil saya memilah-milah mana yang bisa di-cloud-kan,a�? jelasnya.

Saladin Effendi (CIO, Bank Mualamat).

Bahkan di antara perusahaan startup yang umumnya penganut berat cloud pun, ada yang tetap memercayai infrastruktur on premise. a�?Semakin besar perusahaan, kami juga ternyata membutuhkan on premise, karena kalau ada something wrong dengan yang di luar, perusahaan kami kan nggak mungkin tutup,a�? ujar Halga Tamici (Chief Technology Officer, Rajamobil.com).

Menurutnya, dari hasil observasi terhadap arsitektur teknologi perusahaan, minimal database Rajamobil.com harus berada di Indonesia.

Tantangan lain yang dihadapi organisasi bisnis terkadang datang dari jajaran manajemen. a�?Again perubahan baru akan terjadi kalau ada keputusan. Dan yang harus berani mendobrak itu ya C-levelnya,a�? cetus Pardjo Yap (Head of IT, ACA). Urusan dengan top management ini biasanya menyangkut hitung-hitungan investasi.

Sejak awal, cloud digadang-gadang mampu meningkatkan efisiensi biaya. Namun setiap perusahaan harus berhitung cermat dulu untuk bisa meraih manfaat tersebut. a�?Karena pertimbangan benefit dan risk, A�pro dan cons dari cloud, Enseval lebih milih on premise. Soalnya dari sisi cost effective-nya, cloud belum terlihat lebih tinggi dibanding on premise. Dan belum ada kebutuhan juga,a�? jelas Gunawan (DBA & Infrastructure Manager IT, PT Enseval Putra Mega Trading).

Gunawan menambahkan bahwa hanya 2 – 3 persen dari workload Enseval yang ada di cloud. Namun ia tak menampik fakta bahwa tren saat ini dan ke depan mengarahkan organisasi bisnis A�ke komputasi awan.

Hoka-Hoka Bento pun sempat mempertimbangkan mengalihkan Contact Center-nya ke cloud untuk menjamin reliabilitas, kecepatan, dan pertumbuhan data. Namun apa daya hasil hitung-hitungan biayanya, menurut Johan Sutrisno, sulit mendapat lampu hijau dari jajaran manajemen.

a�?Hal itu yang menjadi obstacle saya dalam arti untuk pindah ke teknologi cloud. Tapi juga menjadi tantangan bagi saya agar bagaimana caranya agar Contact Center tetap reliable dalam segala kondisi,a�? imbuhnya.

Pertimbangan lain yang dipikirkan perusahaan, khususnya di Indonesia adalah masalah koneksi internet. a�?Mungkin cloud dijamin reliabilitasnya. Tapi begitu kita ngomong koneksi internet, bisa ada yang kepacul dan sebagainya, itu tidak ada jaminana�? tanda Johan. Dengan kata lain, Johan melibat masalah reliabilitas di cloud menyangkut banyak sisi yang harus tetap dipertimbangkan.

Pendekatan Holistik

Sedangkan IBS Group (perusahaan broker asuransi) sudah mempertimbangkan implementasi cloud sejak empat tahun lalu. Namun setelah mempertimbangkan banyak hal, pendekatan on-premise dianggap masih lebih tepat.

a�?Concern kami adalah segala sesuatu yang di cloud seharusnya Zero IT intervention,a�? ungkap Faisal Yahya (Head of Information Technology IBS Group). Hal ini menjadi sulit bagi IBS Group yang memiliki banyak aplikasi legacy yang butuh pengelolaan tersendiri.

Dari pengalaman itu, Faisal memberi saran bagi para CIO untuk melihat arsitektur TI perusahaan dengan seksama sebelum beralih ke cloud. a�?Aplikasi yang rigid atau legacy, sebaiknya ditaruh di on-premise, sementara yang lebih portable dipindah ke cloud,a�? ujar Faisal. Implementasi cloud juga jangan dilihat semata-mata karena faktor cost. a�?Kita juga harus memperhitungkan cost dan risk,a�? tambah Faisal.

Saran yang sama juga diutarakan Gunawan (Enseval). a�?Kami melihat secara holistik terkait kebutuhan on-premise dan clouda�? A�ungkap Gunawan.A�Soal pengurangan capex yang digadang-gadang menjadi keunggulan cloud, misalnya, harus dihitung lebih detail. a�?Karena bukan berarti dalam lima tahun, uang yang keluar akan lebih murah [ketika menggunakan cloud],a�? ujar Gunawan.

Model aplikasi juga jadi bahan pertimbangan Gunawan. Jika load dari aplikasi itu bisa diprediksi dan penambahannya tidak signifikan, Gunawan lebih menyarankan on-premise. a�?Kalau selisih 30%, seharusnya bisa diatasi. Jika tidak, berarti sizing di awal kurang tepata�? tambah Gunawan.

Namun bukan berarti Enseval tidak tertarik ke cloud. a�?Kalau kita bisa manage dan maintain teknologi, sumber daya, mengoptimalisasi aplikasi, apalagi aplikasi sendiri yang tahu kita sendiri, on-premise lebih masuk akala�? tambah Gunawan. Baru ketika tidak ada kemampuan di sana, Enseval akan mulai mengadopsi cloud.

Sedangkan Reza Sugiarto memilih menyiapkan terlebih dulu langkah yang diperlukan. Salah satunya adalah menyiapkan people dan juga ITIL. a�?Sebelum saya jalankan ITIL, saya harus inspeksi dulu secara COBIT itu bagaimanaa�? ungkap Reza. Hal ini untuk mengantisipasi ketika ada kendala implementasi di cloud. a�?Karena ketika semua managed service atau cloud, dalam 1, 3, atau 4 tahun ke depan pasti ada masalaha�? tambah Reza.

Sedangkan Pardjo Yap (ACA) mengingatkan, adopsi cloud bisa jadi muncul akibat kefrustrasian perusahaan terhadap tim TI. a�?Mengurus orang in-house-nya bikin sakit kepala, time delivery-nya pun lama,a�? Pardjo mencontohkan. Ketika kemudian muncul managed service atau cloud, perusahaan memiliki opsi teknis untuk mengatasi masalah internal yang sebenarnya nonteknis. a�?Jadi sebenarnya people yang menjadi kunci,a�? tambah Pardjo.

Sebelum Melangkah ke Cloud

Dari diskusi seru di InfoKomputer CIO Forum, ada tiga kesimpulan utama yang bisa ditarik, yaitu:

1. Ke Arah Hybrid Cloud

Semua CIO yang hadir di acara ini sepakat, cloud adalah pilihan menarik. Akan tetapi, tidak semua aplikasi atau workload yang cocok untuk pindah ke cloud. Hal inilah yang membuat komposisi hybrid cloud akan lebih mendominasi

2. Kendala Menuju Cloud

Bagi institusi keuangan, tantangan terbesar untuk mengadopsi cloud adalah soal regulasi. Sementara bagi industri lain, masalah security, legacy application, serta availability koneksi menjadi pertimbangan tersendiri.

3. Sebelum Melangkah ke Awan

Pastikan perusahaan memiliki pandangan 360 derajatA�atas infrastruktur TI-nya terlebih dahulu. Semua faktor harus diperhitungkan, mulai dari perhitungan biaya, jenis aplikasi yang cloud-ready, kematangan framework, sampai kesiapan people. Dan karena karakteristik setiap perusahaan berbeda, sebenarnya tidak ada yang benar atau salah dalam melangkah menuju cloud.

Para peserta InfoKomputer CIO Forum bersama Multipolar dan HPE.

Strategi Menuju Hybrid Cloud

Meski menawarkan berbagai keuntungan, solusi cloud sebenarnya tidak untuk semua perusahaan. Pada beberapa kasus, memiliki infrastruktur on-premise justru lebih menjawab kebutuhan perusahaan.

Pendapat ini diungkapkan Chew Eng Lai (Director Data Center Hybrid Cloud, HPE). Eng Lai mengambil contoh salah satu customer HPE yang memutuskan memindahkan infrastruktur TI-nya dari cloud ke on-premise. a�?Perusahaan tersebut memindahkan 138 VM dari cloud ke on-premise dalam waktu dua bulana�? ungkap pria asal Malaysia ini.

Transisi tersebut dilakukan setelah melakukan banyak pertimbangan. Salah satunya adalah pengalaman down-nya layanan cloud yang mengakibatkan terhentinya layanan. Dengan mengadopsi on-premise, setidaknya kontrol penuh terhadap infrastruktur TI bisa dilakukan.

Pertimbangan penting lain adalah soal biaya. Ketika mengadopsi cloud, biaya yang dikeluarkan tidak cuma soal infrastruktur TI, namun juga bandwidth. Belum lagi jika memperhitungkan penurunan harga hardware untuk data center yang selalu terjadi. a�?Setiap kuartal, harga storage selalu turun 5 – 15%,a�? Eng Lai mencontohkan.

Ketika perusahaan memiliki memiliki data center on-premise, penurunan harga itu bisa langsung dirasakan. Namun ketika menggunakan cloud, hal itu menjadi kurang terasa karena penyedia layanan cloud jarang memberikan penurunan harga.

Dua faktor di atas, ditambah alasan nonteknisa��seperti data sovereignty dan securitya��yang membuat Eng Lai yakin on-premise akan tetap diadopsi banyak perusahaan.

Lebih Fleksibel

Ketika pendekatan on-premise dan cloud sama-sama menawarkan kelebihan, perusahaan sebenarnya bisa mendapatkan manfaat optimal dengan menggabungkan keduanya. Hal inilah yang menjelaskan mengapa hybrid cloud kini menjadi pilihan menarik. Lembaga riset IDC memperkirakan, 70% perusahaan di Asia Tenggara akan mengambil pendekatan hybrid.

Pertanyaan besarnya adalah, bagaimana mewujudkan infrastruktur hybrid yang ideal? Salah satu langkah yang bisa dilakukan adalah membangun private cloud terlebih dahulu. Private cloud ini memiliki kemudahan dan kecepatan layaknya seperti public cloud. Private cloud juga memiliki workload yang dengan mudah dipindahkan ke cloud.

Yohan Gunawan (Group Head Infrastructure Hardware, Multipolar).

Menurut Multipolar, mewujudkan private cloud bisa dilakukan dengan menggunakan hyperconverged infrastructure. a�?Hyperconverged adalah solusi yang menggabungkan computing power, storage, hypervisor, dan manajemen,a�? ungkap Yohan Gunawan (Group Head Infrastructure Hardware, Multipolar). Karena datang dalam satu perangkat siap pakai, hyper-converged menawarkan kecepatan implementasi dan kemudahan pengelolaan.

a�?Contohnya untuk deploy sebuah virtual machine, kita cuma butuh lima klik dalam satu menita�? ungkap Yohan mencontohkan. Begitu pula untuk update firmware. Berbeda dengan data center tradisional yang dibayang-bayangi isu interoperability, update firmware di hyperconverged relatif bisa dilakukan dengan cepat tanpa rasa was-was. Kelebihan lain dari hyperconverged adalah di sisi people. a�?Hyperconverged cukup dikelola orang TI dengan kemampuan generalist, bukan specialist,a�? tambah Multipolar.

Ketika faktor kecepatan, manajemen, dan people tersebut disatukan, hyperconverged diklaim akan menurunkan biaya. Yang tak kalah penting, hyperconverged menawarkan infrastruktur on-premise yang memiliki karakter seperti public cloud. Kalaupun kemudian kebutuhan terus meningkat dan perusahaan memutuskan untuk menggunakan public cloud, workload yang ada di hyperconverged bisa langsung dipindahkan.

Contohnya adalah Helion CloudSystem yang memudahkan workload yang ada di hyperconverged untuk berpindah ke public cloud seperti Microsoft Azure atau AWS (dan sebaliknya). a�?Intinya kami ingin menyediakan infrastruktur yang berada di on-premise namun dengan fleksibilitas untuk pindah ke cloud,a�? ungkap Eng Lai.

Jadi Investor, Toyota Akan Pasang Alat Perekam di Mobil Sewa Grab

Sebagian armada Taksi Putra, mitra GrabTaxi, yang bodi mobilnya sudah ditempeli stiker co-branding Grab.

Pabrikan raksasa otomotif asal Jepang, Toyota Motor Corp melalui Toyota Tsusho Corp ikut membiayai perusahaan penyedia transportasi online Grab..

Toyota memiliki kepentingan terbesar dalam penggalangan dana Grab yang dipimpin oleh investor China, Didi Chuxing dan SoftBank Group Corp dari Jepang.

Perusahaan-perusahaan besar mulai mengincar pertumbuhan bisnis di negara-negara berkembang besar, menyusul jumlah demografi penduduk muda yang akrab dengan teknologi.

Toyota Motor Corp pun berencana memasang alat perekam pada mobil Grab yang berbasis di Singapura. Hal itu akan dilakukan pada 100 mobil sewaan Grab dalam waktu dekat.

Alat itu atau TransLog memungkinkan Grab menganalisis pola berkendara dan menawarkan akses yang lebih baik untuk meningkatkan layanan kepada pelanggan.

Sebagai informasi, Didi dan SoftBank sudah menjadi investor di Grab dan layanan penyewaan lainnya di seluruh dunia. Pada Juli lalu, Grab mengatakan Didi dan SoftBank akan menambahkan investasi senilai US$2 miliar atau sekitar Rp33,4 triliun.

Nilai pendanaan itu menjadi yang terbesar di Asia Tenggara. Dengan penggalangan dana baru tersebut, total kapitalisasi perusahaan Grab akan menjadi US$6 miliar seperti dikutip Reuters.

Grab juga memiliki pangsa pasar 95 persen dalam penjualan taksi pihak ketiga dan 72 persen untuk kendaraan pribadi di Asia Tenggara.

Uber Tersandung Kasus Suap di AS

Ilustrasi Uber hentikan operasi di Denmark

Uber Technologies akan bersikap kooperatif dalam investigasi awal pelanggaran undang-undang suap yang dipimpin Departemen Kehakiman. Kasus suap adalah permasalahan baru dari serangkaian kasus hukum yang melilit Uber.

Departemen Kehakiman melakukan penyelidikan apakah manajer-manajer Uber melanggar UU di AS. Uber diduga menyogok para pejabat asing supaya bisa beroperasi di negara-negara tempat Uber beroperasi, seperti dikutip Venture Beat.

Belum jelas, apakah Departemen Kehakiman AS akan fokus pada satu negara atau beberapa negara dimana Uber beroperasi. Jika benar, maka Uber melakukan pelanggaran Undang-Undang AS tentang Praktik Korupsi di Negara Lain.

Uber yang bermarkas di San Francisco menyatakan tunduk dalam penyelidikan itu. Dara Khosrowshahi (CEO Uber) tidak bersedia memberikan komentar atas kasus suap tersebut.

Pada awal tahun ini, pemerintah AS juga menyelidiki dugaan kecurangan Uber terkait pengembangan perangkat lunak rahasia berjuluk Greyball yang memungkinkan mereka beroperasi di wilayah yang dilarang.

Cara kerjanya, adalah program itu bisa mengenali pejabat badan transportasi yang berpura-pura sebagai pemesan Uber sehingga pengemudi bisa menolak mereka.

Wah, Berbagi Smartphone Bisa Hilangkan Data

(www.kaspersky.com)

Menurut laporan Kaspersky Lab yang berjudul My Precious Data: Stranger Danger, pengguna yang berbagi datanya dengan orang lain cenderung mengalami kesulitan dalam kehidupan digitalnya. Contoh, hampir separuh pengguna yang berbagi datanya secara online mengalami kehilangan data di smartphone mereka (47%).

Kemungkinan kehilangan data ini menurut laporan tersebut relatif lebih kecil terjadi pada pengguna yang tidak berbagi datanya dengan orang lain. Ini terbukti dari hanya tiga belas persen pengguna yang kehilangan data dari smartphone-nya.

Risiko berbagi bahkan lebih tinggi bagi pengguna yang berbagi informasi dengan orang tidak dikenal. Terbukti, sebanyak 59% pengguna smartphone yang telah berbagi data dengan orang tidak dikenal mengaku telah kehilangan data-datanya.

Pengguna yang berbagi data berharga mereka secara digital juga melaporkan berbagai masalah pada perangkatnya. Di smartphone, masalah yang paling umum terjadi adalah iklan yang mengganggu (51%, dibandingkan dengan 25% pengguna yang tidak berbagi), masalah daya baterai (41%, dibandingkan dengan 17% orang yang tidak berbagi), aplikasi yang beroperasi pada perangkat mereka tanpa persetujuan (19%, dibandingkan dengan 6% pengguna yang tidak berbagi) dan infeksi malware (14%, dibandingkan dengan 4% orang yang tidak berbagi).

Menurut Kaspersky, temuan ini menggambarkan hubungan yang kuat antara permasalahan berbagi dengan perangkat. Pengguna yang berbagi data cenderung mengalami kehidupan digital yang bermasalah daripada yang tidak berbagi.

Selain itu, penelitian ini menunjukkan korelasi yang sama terhadap pengguna yang menempatkan perangkat fisiknya ke orang lain. Hal ini misalnya terjadi saat pengguna memperbolehkan smartphone-nya digunakan oleh orang lain dalam jangka waktu tertentu, meletakkan perangkatnya tidak terkunci di tempat umum, memberikan nomor PIN dan sebagainya.

Pengguna ini juga cenderung mengalami kehilangan data. Misalnya, lebih dari separuh (65%) yang berbagi smartphone-nya dengan orang lain mengalami kehilangan data di smartphone tersebut, dibandingkan dengan 34% pengguna yang tidak melakukannya.

a�?Penelitian kami menunjukkan bahwa ketika pengguna berbagi data secara digital, mereka cenderung menghadapi permasalahan pada perangkat dan kehilangan data, membuat kehidupan digital mereka menjadi lebih sulit,” komentar Andrei Mochol (Head of Consumer Business di Kaspersky Lab).

Masalah ini diperparah saat pengguna berbagi perangkat digital mereka dengan orang lain, atau dengan orang tidak dikenal. Kaspersky tahu bahwa pengguna tidak mungkin berhenti membagikan data berharga yang mereka sukai dengan orang lain secara onlineA� Ini adalah salah satu keistimewaan dunia online. Tapi itu sebabnya sangat penting bagi setiap orang untuk lebih waspada terhadap potensi bahaya yang mereka tempatkan terhadap data dan perangkat mereka.

Kaspersky mendesak pengguna untuk memilih perlindungan yang sesuai dengan kebutuhan mereka, apa pun lingkungannya. Pendekatan ini untuk mengidentifikasi ancaman yang kompleks dan ditargetkan dan menawarkan pengguna saran yang membantu untuk mengurangi potensi kerusakan pada data dan perangkat mereka. Walhasil, pengguna dapat menikmati semua hal yang dunia online tawarkan.

Kaspersky Lab menyatakan bahwa My Precious Data: Stranger Danger didasarkan pada survei online yang dilakukan oleh firma riset Toluna dan Kaspersky Lab pada bulan Januari 2017. Survei tersebut menilai sikap 16.250 pengguna internet berusia di atas 16 tahun, dari 17 negara di seluruh dunia.

Tantang iPhone, BlackBerry Bikin Smartphone Layar Sentuh dan Tahan Air

BlackBerry DTEK60

BlackBerry akan meluncurkan smartphone terbarunya yang mengusung layar sentuh, tahan air, dan berbasis Android untuk menantang kedigdayaanA�smartphoneA�premium iPhone dan Galaxy S8.

Saat ini smartphone premium wajib memiliki fitur antiair (waterproof) dan anti debu atau memiliki sertifikasi IP 67 yang berarti smartphone itu bisa bertahan di air sedalam 1 meter selama 30 menit.

Smartphone baru BlackBerry itu akan menghilangkan ciri khas papan ketik QWERTY dan layar sentuh seperti ponsel-ponsel Android lain. Selain itu, smartphone BlackBerry itu memiliki baterai yang bisa bertahan mencapai 26 jam dengan beragam skenario penggunaan.

Francois Mahieu (Kepala Penjualan Global TCL) mengatakan smartphone BlackBerry terbaru nanti akan mengusung fitur antidebu dan air pada Oktober serta akan sepadan dengan iPhone dan Samsung Galaxy S Series.

TCL adalah perusahaan Tiongkok yang kini bertanggung jawab memproduksi ponsel-ponsel bermerek BlackBerry untuk pasar di seluruh dunia, seperti dikutip CNET.

“Kami hadir di pasar ini untuk bermain. Hanya saja kami bermain dengan kartu lain,” katanya yang mengacu pada fitur baterai, sekuriti, dan durability yang menjadi nilai jualan smartphone BlackBerry terbaru tersebut.

Sebelumnya, BlackBerry sudah pernah meluncurkan smartphone BlackBerry dengan layar sentuh yaitu Z10, DTEK 50 dan 60 serta BlackBerry Priv yang menjadi handset Android pertama BlackBerry, tapi ponsel yang satu itu punya keyboard QWERTY tipe slider.

Nantinya, platform Android yang dijual TCL akan memiliki kemampuan sistem keamanan DTEK. BlackBerry juga turut menyertakan pembaruan keamanan software yang lebih cepat dari yang dilakukan Google.

Selama ini BlackBerry terus berusaha dalam mempertahankan eksistensinya di pasar smartphone, menyusul BlackBerry telah kehilangan pangsa pasarnya sejak kepopuleran smartphone berbasis Android.

IFA 2017: Lenovo Kian Serius di Augmented Reality

Smart Vest, salah satu smart device yang disiapkan Lenovo

Berlin, InfoKomputer – Lenovo berhasil mencatat pendapatan US$1 billion pada kuartal pertama 2017. Angka ini setara dengan pendapatan tahun sebelumnya (YoY), namun naik US$110 juta jika dibandingkan kuartal sebelumnya. Hal tersebut disampaikan David Roman (Chief Marketing Officer Lenovo) di Berlin, Jerman, jelang pagelaran IFA 2017.

Menurut David, pencapaian ini banyak disebabkan keberhasilan Lenovo di segmen notebook. Meski pasar PC mengalami penurunan secara global, Lenovo masih bisa meningkatkan pendapatan maupun keuntungan di segmen ini. a�?Kami terdepan di industri dalam profit margin di angka 4,2%,a�? ungkap David.

Unit smartphone juga mencatat pencapaian menggembirakan di dua pasar penting, yaitu Amerika Latin (naik 56,4%) dan Eropa Barat (136,7%).

Sedangkan untuk segmen enterprise, David menyebut Lenovo mengalami perkembangan menjanjikan. David menyebut Lenovo mulai berhasil menembus pasar di AS dan Eropa yang merupakan pasar paling besar di dunia data center.

Produk data center Lenovo juga mencatat prestasi impresif di sektor customer satisfaction, reliability, dan performance menurut lembaga independen seperti TBR dan ITIC. Karena itu tak heran jika David menyebut unit data center akan menyumbang pendapatan dua tahun lagi.

Ke depan, Lenovo akan melangkah ke area yang menjadi rebutan semua perusahaan teknologi saat ini, yaitu artificial intelligence (AI) dan augmented reality (AR). Dengan menggabungkan device, infrastuktur, dan AI, Lenovo berharap bisa menghadirkan produk inovatif ke pasar.

Beberapa di antaranya sudah ditunjukkan pada Lenovo Tech World di Shanghai beberapa waktu lalu, seperti SmartCast+ (smart speaker dengan AR), Smart Vest (kaos untuk mendeteksi detak jantung), sampai daystar (AR untuk interaksi dengan benda fisik).

Lenovo juga baru saja menunjuk Dr. Rui Yong, salah satu ahli di bidang AI, sebagai Chief Technology Officer. Dr. Rui Yong, yang pernah bekerja selama 18 tahun di Microsoft, dipercaya memimpin tim riset Lenovo untuk mengembangkan intelligence device, AI, dan teknologi lain yang berkaitan dengan gaya hidup.

Dengan semua langkah tersebut, Lenovo yakin dapat tetap relevan dengan perubahan landscape bisnis saat ini. a�?Kami merasa telah melangkah ke arah yang kami inginkana�? ungkap David.

Review Smartphone