Arsip Harian: Aug 6, 2017

Telkomtelstra Sabet Penghargaan Bergengsi Dbots

telkomtelstra berhasil meraih Best Innovation Award untuk kategori Delivery Robot (Dbots). Saat ini, Dbots memanfaatkan platform cloud milik telkomtelstra untuk mengotomatisasi layanan pengiriman untuk pelanggan Managed Network Service (MNS).

“Kami merasa bangga karena telah diakui oleh Asia Communication Awards, yang merupakan forum paling bergengsi di kawasan Asia untuk industri telekomunikasi,” kata Erik Meijer (Presiden Direktur Telkomtelstra) dalam siaran persnya, Minggu.

Jawdat Technology pertama kali mengembangkan Dbots pada Juni 2016 dan dikomersil pada Oktober 2016. Teknologi baru itu dapat meningkatkan kualitas pengiriman layanan, mengurangi masa aktivasi untuk Customer Premises Equipment (CPE) dan meminimalisasi kesalahan dalam proses konfigurasi perangkat jaringan secara otomatis.

Dbots menerapkan pendekatan baru dalam pengiriman layanan. Melalui Dbots, ribuan perangkat dapat melakukan staging, testing dan konfigurasi secara otomatis sehingga dapat meminimalisasi human error serta menciptakan efisiensi biaya dan waktu pada layanan proses pengiriman.

Agus F. Abdillah (Chief Product & Synergy Officer telkomtelstra) mengatakan Dbots adalah suatu peranti lunak robotik yang dapat mengurangi kesalahan pelaksanaan tugas regular dalam sistem managed network environment. telkomtelstra menggunakan peranti lunak pintar untuk menyederhanakan sistem operasi, mendorong efisiensi, meningkatkan sistem layanan dan menjaga harga agar tetap terjangkau bagi para pelanggan.

“Keuntungan utama dari teknologi Dbots antara lain pengiriman yang lebih cepat, keuntungan yang bertambah,alokasi modal proyek yang lebih sedikit, efisiensi biaya, dan pengurangan kompleksitas,” pungkasnya.

Hadir 2011, ACA adalah ajang bagi para pelaku bisnis untuk mengapresiasi kinerja dan inovasi dari operator telekomunikasi, penyedia layanan, operator, dan vendor terdepan di Asia. Penghargaan itu telah menjadi landasan penting untuk merayakan kontribusi inovatif terhadap evolusi industri telekomunikasi global.

Sambut 17 Agustus, Hadiah.ME Banjir Promo Menarik

Hadiah.ME sebagai penyedia cashback online shopping lokal di Indonesia menghadirkan inovasi-inovasi terbaru untuk menyambut hari kemerdekaan Indonesia pada Agustus ini.

Inovasi pertama, Hadiah.ME merubah tampilan logo sehingga lebih colorful. Ada kotak hadiah berbentuk segi empat dengan balutan pita di atasnya. Hadiah.ME memberikan fitur redeem dalam empat metode, yaitu: Cash, E-Money, Produk, Pulsa.

Inovasi kedua adalah Hadiah.ME menerapkan skema cashback baru yaitu berupa point. Jika sebelumnya para member mendapatkan cashback berupa rupiah maka mulai sekarang dan seterusnya mereka akan mendapatkan poin.

Poin-poin itu dapat ditukarkan dengan berbagai macam hadiah dari merchant-merchant yang sudah bekerjasama dengan Hadiah.ME dengan metode yang beragam.

Hal itu yang mendasari tagline baru Hadiah.ME yaitu “Easy Earning, Easy Redeem & Easy Shopping”. Easy Earning berarti para member dapat mendapatkan point yang kemudian dikumpulkan menjadi ME Point dari berbagai macam cara seperti referral, ikut berpartisipasi dalam game pada social media Hadiah.ME, berbelanja, dan lain lain.

Easy Redeem adalah kemudahan member untuk dapat meredeem dengan mudah dan cepat melalui berbagai metode. Kemudian Easy Shopping adalah para member dapat menemukan pilihan produk yang lebih banyak dan variatif melalui Hadiah.ME.

“Kami berharap dengan ME Point, member Hadiah.ME akan menjadi lebih semangat dalam berbelanja dan lebih cepat dalam mengumpulkan point. Kita sebagai consumer akan menjadi semakin pintar dalam berbelanja dan melakukan aktivitas online,” kata Steven Sentosa (Chief Technology Officer Hadiah.ME) dalam siaran persnya, Minggu.

Inovasi-inovasi itu dapat meningkatkan kepuasan dan loyalitas para member Hadiah.ME serta sebagai bukti komitmen Hadiah.ME untuk terus secara dinamis dan inovatif meningkatkan performa serta kualitas pelayanannya.

Sapa Indonesia, LinkedIn Lite Tawarkan Hemat Daya 80 Persen

Ilustrasi LinkedIn

LinkedIn, jaringan profesional terbesar di Internet hari ini mengumumkan ketersediaan LinkedIn Lite di lebih dari 60 negara di dunia termasuk negara-negara di Asia Tenggara seperti Indonesia, Filipina, dan Malaysia.

AkshayKothari (Country Managerand Head ofProduct, LinkedIn India) mengatakan LinkedIn berusaha menyediakan akses ke berbagai peluang ekonomi dan karier yang lebih luas bagi para anggota kami, mulai dari mendapatkan informasi terbaru seputar industri hingga pekerjaan baru.

“Akses ke berbagai peluang ekonomi menjadi tantangan besar bagi para pelajar dan profesional, terutama mereka yang terhalang oleh ketersediaan teknologi dan konektivitas internet yang baik,” katanya dalam siaran pernya, Minggu.

“Kami menyadari bahwa sebesar apapun manfaat yang ditawarkan oleh suatu produk, akan percuma jika tidak dapat diakses dan digunakan. Karena itu, kami mengembangkan LinkedIn Lite,” ujarnya.

LinkedIn Lite menawarkan fitur-fitur utama seperti newsfeed, profil, jaringan, pesan, dan notifikasi. LinkedIn Lite versi aplikasi Android juga tergolong sangat ringan, karena hanya berukuran kurang dari 1 Megabyte dan dapat memangkas konsumsi data hingga 80 persen.

LinkedIn Lite menawarkan pengalaman pengguna yang cepat dan sederhana sehingga mampu merangkul lebih banyak profesional dan pelajar di dunia. Saat ini, LinkedIn memiliki lebih dari 118 juta anggota di Asia Pasifik dan lebih dari 22 juta anggotanya tersebut berasal dari Asia Tenggara.

Asia Tenggara merupakan salah satu wilayah dengan pertumbuhan anggota tercepat di dunia dengan jumlah anggota yang mencapai lebih dari 8 juta di Indonesia, 4 juta di Filipina dan 3 juta di Malaysia.

Saat ini LinkedIn Lite dapat diakses melalui web serta aplikasi android.

Video Klip Ini Paling Populer di YouTube, Sudah Diputar 3 Miliar Kali

Apa video klip yang paling populer di YouTube? Bukan lagi See you Again dan Gangnam Style melainkan Despacito milik Luis Fonsi dan Daddy Yankee. Despacito sukses diputar 3 miliar kali di YouTube, mengalahkan klip musik See You Again milik Wiz Khalifa dan Charlie Puth dengan 2,99 miliar kali putar.

Video klip yang berbahasa Spanyol itu pertama kali diunggah pada 12 Januari 2017 dan membutuhkan waktu kurang dari enam bulan untuk memecahkan rekor tersebut.

Padahal, See You Again membutuhkan waktu dua tahun tiga bulan untuk merebut predikat video klip terpopuler dari Gangnam Style milik Psy. See You Again pertama kali diunggah pada 6 April 2015 dan menduduki nomor satu pada 12 Juli 2017.

Daddy Yankee mengirimkan ucapan terima kasihnya atas pemecahan rekor oleh Despacito tersebut lewat video.

“Terima kasih YouTube untuk kesuksesan Despacito. Saya menyadari pengaruh platform ini. Pemecahan rekor sangat mengharukan dan saya bahagia bisa menginspirasi orang lain untuk berbuat yang sama,” katanya seperti dikutip BBC.

Sebenarnya, Luis Fonsi mengunggah dua video musik Despacito di saluran resmi YouTube miliknya. Video lainnya kolaborasi bersama Justin Bieber tetapi para penonton lebih menyukai Despacito versi original.

Menurut BBC, 47 dari 50 video terpopuler di Youtube adalah video musik. Analisis dari Midia Research menyebutkan setiap kali sebuah video klip di Youtube diputar, pemilik video akan mendapat US$0,001.

Terinspirasi Snapchat, Google Bikin Fitur Stamp

Snapchat menjadi inspirator banyak perusahaan teknologi beberapa tahun terakhir. Setelah Facebook, kini Google juga mengembangkan sebuah fitur story yang mirip dengan fitur Discover pada Snapchat.

Seorang sumber mengatakan Google sedang mengembangkan proyek terbaru berbernama “Stamp” yang masih dalam tahap pengujian. Fitur Stamp akan menggabungkan berbagai desain ramah mobile dengan konten berupa foto, video maupun teks.

Google menamakan produk mereka “Stamp” dengan penekanan pada “St” yang berarti story. Ada kemungkinan posisi Stamp akan berada di bawah kotak pencarian yang selama ini berisi situs-situs maupun berita yang direkomendasikan bagi pengguna Android.

Google mengembangkan “Stamp” dengan menggunakan teknologi tampilan laman situs Accelerated Mobile Pages (AMP) mereka. Mengusung format AMP yang efisien dan mobile-friendly, “Stamp” akan menyasar para pengguna mobile. Meskipun, secara teknis, platform AMP juga dapat bekerja dengan baik dan dinilai cukup bagus untuk pengalaman kelas desktop.

Hal itu membuat Google memiliki potensi perluasan “lahan” di masa depan. Google pun telah berdiskusi dengan berbagai perusahaan media termasuk Vox Media, CNN, Mic, Washington Post dan Time untuk berpartisipasi dalam proyek tersebut.

Google, Snap dan Facebook berlomba-lomba mengembangkan berbagai alat penerbitan untuk perusahaan media dengan harapan aplikasi mereka bisa berisi banyak informasi tentang berita, hiburan, olahraga dan berbagai konten lainnya.

Perusahaan-perusahaan teknologi itu berusaha keras mengembangkan berbagai alat untuk membuat informasi tersebut lebih cepat dan mudah diakses dibandingkan di browser web sehingga dapat menciptakan pengalaman menarik bagi para pengguna.

Tentunya, Google enggan mengomentari laporan tersebut. “Kami tidak memiliki pengumuman apa pun saat ini, tapi kami berharap bisa segera berbagi,” kata Google dalam sebuah pernyataan seperti dikutip Reuters.

Pengguna Snapchat bisa mengakses Discover untuk mendapatkan berbagai informasi terbaru di seluruh dunia. Meskipun Stamp terdengar seperti menyasar para pengguna Snap, sebenarnya pesaing Stamp yang lebih besar akan datang dari Facebook yang sedang mengembangkan sendiri mesin pencari mereka.

Fitur Instant Article milik Facebook yang merupakan pesaing dari AMP Google dan pendekatan Facebook yang berpusat pada aplikasi untuk mengontrol bagaimana informasi, berita, dan hiburan disebarluaskan di Internet dalam jangka panjang bisa membunuh model bisnis Google yang berbasis web di komputer.

Hal yang sangat penting tentang “Stamp”, Google kemungkinan akan mengintegrasikannya langsung ke laman mesin pencarinya. Hal itu berpotensi meningkatkan adopsi fitur tersebut dengan cepat melebihi pesaingnya seperti “Discover” yang memerlukan penggunaan aplikasi tertentu.

Zeiss Berencana Beli Saham Leica

Zeiss, perusahaan optik asal Jerman berencana membeli 45 persen saham Leica di pasar saham dari perusahaan ekuitas privat bernama Blackstone Group. Blackstone Group sedang mencari pembeli potensial untuk menjual 45 persen sahamnya di pembuat kamera high-end dan sport optik Leica.

Sebelumnya, Blackstone Group telah membeli 45 persen saham Leica pada 2011 dengan nilai mencapai USD 179 juta. Nilai valuasi Leica mencapai USD 828 juta dengan proyeksi pemasukan sebesar USD 83 juta pada 2017.

Sebelum dibeli Blackstone Group, saham Leica dimiliki oleh Andreas Kaufmann (Chairman Leica) yang membeli 95 persen saham Leica senilai USD 85 juta pada 2004 seperti dikutip Reuters.

Tahun lalu, investor China CDH berminat membeli saham Blackstone di Leica, tetapi tak ada kesepakatan yang terwujud.

Namun Zeiss, hanya tertarik jika menjadi pemilik saham mayoritas Leica. Masalahnya, sisa saham Leica sebesar 55 persen masih dipegang oleh keluarga Kauffman yang tidak mau melepas kepemilikian sahamnya.

Kaufmann sendiri dan keluarganya memiliki rencana jangka panjang untuk kamera Leica terutama mengembangkan smartphone asli Leica, menyusul pergeseran tren dari kamera digital ke smartphone.

Sejauh ini Leica sudah bekerjasama dengan Huawei untuk mengembangkan kamera ganda smartphone.

Sayangnya, Huawei tidak tertarik untuk membeli saham Blackstone di Leica. Zeiss dan Huawei kabarnya menolak untuk memberikan komentar.

Review Smartphone